Prolaktin (hormon yang menghasilkan ASI)

Prolaktin (hormon yang menghasilkan ASI)

Hormon Prolaktin dihasilkan oleh kelenjar hipofisa bagian depan yang ada di dasar otak. Prolaktin merangsang kelenjar susu untuk memproduksi ASI, sedangkan rangsangan pegeluaran prolaktin ini adalah pengosongan ASI dari gudang ASI (Sinus Lactiferus). Semakin banyak ASI yang dikeluarkan dari payudara maka semakin banyak ASI yang diproduksi, sebaliknya apabila bayi berhenti menghisap atau sama sekali tidak memulainya, maka payudara akan berhenti memproduksi ASI.

Setiap isapan bayi pada payudara ibunya akan merangsang ujung saraf di sekitar payudara. Rangsangan ini diantar ke bagian depan kelenjar hipofisa untuk memproduksi prolaktin. Prolaktin dialirkan oleh darah ke kelenjar payudara dan akan merangsang pembuatan ASI. Jadi, pengosongan gudang ASI merupakan rangsangan diproduksinya ASI.

Kejadian dari perangsangan payudara sampai pembuatan ASI disebut refleks Produksi ASI atau Refleks Prolaktin, dan semakin sering ibu menyusui bayinya, akan semakin banyak pula produksi ASI-nya. Semakin jarang ibu menyusui, maka semakin berkurang jumlah produksi ASI-nya.

Pada efek lain prolaktin, prolaktin mempunyai fungsi penting lain, yaitu menekan fungsi indung telur (Ovarium), dan akibatnya dapat memperlambat kembalinya fungsi kesuburan dan haid, dengan kata lain ASI eksklusif dapat menjarangkan kehamilan. (Roesli, 2001).

Oksitosin (hormon yang menghasilkan ASI)

Hormon oksitosin berasal dari bagian belakang kelenjar hipofisa yang terdapat di dasar otak. Sama halnya dengan hormon proaktin, hormon oksitosin diproduksi bila ujung saraf sekitar payudara dirangsang oleh isapan bayi. Oksitosin masuk ke dalam darah menuju payudara, membuat otot-otot payudara mengerut disebut hormon oksitosin. Kejadian ini disebut refleks pengeluaran ASI, refleks oksitosin atau let down refleks.

Reaksi bekerjanya hormon oksitosin dapat dirasakan pada saat bayi menyusu pada payudara ibu. Kelenjar payudara akan mengerut sehingga memeras ASI untuk keluar. Banyak wanita dapat merasakan payudaranya terperas saat menyusui, itu menunjukkan bahwa ASI mulai mengalir dari pabrik susu (alveoli) ke gudang susu (Ductus Lactiferous).

Bayi tidak akan mendapatkan ASI cukup apabila hanya mengandalkan reflek prolaktin saja, dan harus dibantu oleh refleks oksitosin. Bila reflek ini tidak bekerja, maka bayi tidak akan mendapatkan ASI yang memadai, walaupun produksi ASI cukup. Refleks oksitosin lebih rumit dibandingkan refleks prolaktin, karena refleks ini berhubungan langsung dengan kejiwaan atau sensasi ibu. Perasaan ibu dapat meningkatkan dan menghambat produksi ASI. (Roesli, 2001).

Berdasarkan pernyataan di atas maka, refleks oksitosin itu juga dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya yaitu lingkungan dimana ibu dan bayi tinggal. Ketidakpedulian akan ketenangan ibu dan bayi akan membuat ibu frustasi yang akibatnya ibu merasa sedih, bingung, kesal dan marah sebagai dampak kejiwaan sehingga mempengaruhi kerja hormon oksitosin. Hal tersebut menuntut lingkungan terdekat yaitu keluarga untuk berperan dalam menciptakan suasana ketenangan dan kenyamanan ibu dan bayi.

Adapun dalam pemeliharaan laktasi terdapat dua faktor penting yaitu:

1. Rangsangan

Bayi yang minum air susu ibu perlu sering menyusu, terutama pada hari neonatal awal. Penting bahwa bayi’difiksasi’ pada payudara dengan posisi yang benar apabila diinginkan untuk meningkatkan rangsangan yang tepat. Rangsangan gusi bayi sebaiknya berada pada kulit areola, sehingga tekanan diberikan kepada ampulla yang ada di bawahnya sebagai tempat tersimpannya air susu. Dengan demikian bayi minum dari payudara, dan bukan dari papilla mammae.

Sebagai respons terhadap pengisapan, prolaktin dikeluarkan dari grandula pituitaria anterior, dan dengan demikian memacu pembentukan air susu yang lebih banyak. Apabila karena suatu alasan tertentu bayi tidak dapat menyusu sejak awal, maka ibu dapat memeras air susu dari payudaranya dengan tangan atau menggunakan pompa payudara. Tetapi pengisapan oleh bayi akan memberikan rangsangan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan kedua cara tersebut.

2. Pengosongan payudara secara sempurna

Bayi sebaiknya mengosongkan satu payudara diberikan payudara yang lain. Apabila bayi tidak mengosongkan payudara yang kedua, maka pada pemberian air susu yang berikutnya payudara yang kedua ini yang diberikan pertama kali, atau bayi mungkin sudah kenyang dengan satu payudara, maka payudara yang kedua digunakan pada pemberian air susu berikutnya. Apabila diinginkan agar bayi benar-benar puas (kenyang), maka bayi perlu diberikan baik air susu pertama (fore-milk) maupun air susu kedua (hind-milk) pada saat sekali minum. Hal ini hanya dapat dicapai dengan pengosongan sempurna pada satu payudara.

KUNCI SUKSES ASI EKSKLUSIF

Kemauan kuat untuk memberikan ASI harus dibarengi dengan proses yang benar. Niscaya, keberhasilan menyusui secara eksklusif dapat tercapai.

ASI sedikit atau payudaran bengkak? Keluhan-keluhan seperti ini tentu meyurutkan motivasi ibu untuk memberikan ASI. Padahal sebetulnya, memberikan ASI bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan asalkan ibu tahu cara yang benar dalam manajemen laktasi.

Nah, 10 kunci sukses ASI eksklusif dipaparkan berikut ini oleh dr. Utami Roesli, Sp.A, IBCLC. Beliau adalah Konsultan Laktasi dari Lembaga Peningkatan Penggunaan ASI RS St. Carolus, Jakarta. Setelah mengetahui kesepuluh kunci sukses menyusui ini, diharapkan ibu bisa memberikan ASI secara eksklusif kepada si buah hati hingga usianya 6 bulan.

POSISI TEPAT

Posisi ibu dan bayi yang benar penting sekali untuk keberhasilan menyusui. Kesalahan dalam posisi bisa menyebabkan puting lecet, karena bayi bukannya mengisap areola mammae (daerah gelap sekitar puting), tapi hanya bagian puting saja. Tak heran bila puting jadi mudah lecet.

Lecet bisa juga disebabkan kesalahan teknik melepaskan puting dari mulut bayi usai menyusu. Yang sering terjadi, ibu melepas puting dari mulut bayi dengan cara menariknya. Jika mulut bayi masih kuat mengatup di puting ibu, tarikan itu bisa membuat puting jadi lecet. Harusnya ibu melepaskan puting dari mulut bayi dengan cara memasukkan jari kelingking ke mulut bayi melalui sudut mulut atau menekan dagu bayi ke bawah.

Jika puting sedang lecet, disarankan istirahat dulu dari kegiatan menyusui selama 24 jam. Susui bayi dengan payudara sebelahnya yang sehat. Kalau ternyata ASI dari payudara yang lecet itu sudah penuh, sebaiknya keluarkan dengan cara dipompa. ASI hasil pompa ini dapat diminumkan ke bayi dengan cara disendoki.

Salah posisi saat menyusui juga bisa menyebabkan peradangan pada payudara karena bayi hanya mengisap udara sehingga ASI tidak keluar. Sementara, untuk mencegah punggung yang pegal akibat posisi selama menyusui, disarankan agar mengganjal punggung dengan bantal. Begitu juga tangan yang menyangga si kecil.

TIDAK MEMBUANG KOLOSTRUM

Adanya mitos bahwa ASI hari pertama harus dibuang, membuat bayi hilang kesempatan memperoleh kolostrum. Padahal, ASI yang keluar pada hari pertama sampai hari ke-5 atau ke-7 mengandung zat putih telur (protein) yang kadarnya tinggi, terutama kandungan zat anti infeksi yang merupakan sumber daya tahan tubuh (imunoglobulin). Sedangkan kadar laktosa (hidrat arang) dan lemaknya rendah sehingga mudah dicerna. Yang terjadi, bila kolostrum atau susu jolong berwarna jernih kekuningan ini dibuang, bayi tak akan mendapatkan zat-zat yang melindunginya dari infeksi.

Lagi pula, jika bayi diberi kesempatan menyusu sejak awal, dijamin ia akan “pintar” mengisap puting. Tahukah Anda, refleks mengisap bayi yang paling kuat, justru terjadi pada jam-jam pertama setelah dilahirkan. Maka yang terbaik adalah segera setelah jalan napas bayi dibersihkan dan ditentukan nilai APGAR-nya, bayi harus segera diberikan kepada ibu untuk disusui.

MEMBERI MAKANAN PENDAMPING TEPAT WAKTU

Bayi yang diberi minuman dan makanan lain selain ASI pada masa eksklusif akhirnya akan malas menyusu. Korelasinya, bila bayi jadi jarang menyusu karena sudah kekenyangan terlebih dulu, akibatnya rangsangan pada payudara ibu berkurang. Selanjutnya, malah mengurangi produksi ASI.

Jangan khawatir bayi akan kelaparan atau kurus jika hanya minum ASI selama 6 bulan. Bayi yang mendapatkan ASI dengan benar umumnya malah lebih besar dibandingkan dengan yang mendapatkan susu formula atau PASI, terutama pada 6 bulan pertama. Jadi, teruskan pemberian ASI eksklusif sampai usia 6 bulan.

TIDAK TERPAKU PADA JADWAL

Ibu mungkin punya patokan yang dibuat sendiri tentang waktu menyusui. Ada yang bilang setiap 2 jam, ada pula yang mengatakan setiap 3 jam. Padahal, menurut Utami, yang terbaik adalah memberikan ASI sesuai kebutuhan yang disebut dengan istilah on demand. Ingat, prinsip ASI adalah semakin sering dikonsumsi, semakin bagus produksinya. Anak tak bakal kekurangan makanan terbaik ini.

Artinya, bayi dapat disusui kapan saja dan penting bagi orang tua untuk memahami tanda-tanda bayi ingin disusui. “Ia akan memainkan mulut, lidah atau memainkan tangannya di mulut.” Tentu, orang tua harus belajar mengasah kepekaannya untuk menerjemahkan bahasa tubuh buah hatinya.

Mulai sekarang, tak perlu terpaku pada jadwal karena hanya akan membuat si bayi frustrasi. “Setiap kali bayi menginginkan, sebaiknya segera disusui. Penting diketahui, ASI lebih mudah diserap sehingga lambung akan lebih cepat kosong.” Jangan khawatir ibu pasti bisa memenuhi kebutuhan ASI. Yang penting, perhatikan asupan gizi ibu dan ciptakan kondisi yang dapat membuat ASI lancar keluar. Salah satunya dengan menyusui secara benar.

MENYENDAWAKAN BAYI

Menyendawakan bayi merupakan bagian penting dari proses menyusui. Selain dapat menghindarkan bayi dari kemungkinan tersedak yang bisa menyebabkan muntah, juga menghindarkannya dari kembung. Saat menyusu, ungkap Utami, kemungkinan ada sedikit udara yang terisap oleh bayi. Oleh karena pencernaannya belum bekerja dengan baik, maka udara yang terisap itu bisa menyebabkan perutnya kembung. Akibatnya bayi jadi rewel. Namun bersendawa sebaiknya dilakukan bukan hanya sesudah bayi menyusu, tapi juga di antara waktu-waktu selama menyusu.

TETAP MENYUSUI KETIKA IBU SAKIT

Ibu yang sakit tetap bisa menyusui anaknya, karena dalam ASI terkandung antibodi untuk melawan penyakit yang bersangkutan. Yang tak dianjurkan menyusui hanya ibu HIV positif.

Jadi, berhenti menyusui saat sakit karena takut menulari bayi, adalah tindakan yang salah. Justru risiko tertular akan lebih besar bila ibu malah buru-buru mengganti ASI dengan susu dan makanan/minuman lain dibandingkan bila bayi terus menyusu ASI meski ibu sedang sakit.

Prinsipnya, ASI adalah yang terbaik buat bayi sehingga setiap bayi berhak mendapatkan ASI. Toh, kemungkinan penularan penyakit lewat ASI juga sangat kecil. Yang justru harus diperhatikan, infeksi atau penyakit ibu sebenarnya lebih sering ditularkan melalui tangan, udara, atau percikan darah. Bukan dari ASI langsung. Makanya, bila ibu sedang pilek, pakailah masker dan cuci tangan yang bersih sebelum memegang bayi untuk disusui.

Ibu juga tak perlu berhenti menyusui hanya karena sedang minum obat-obatan untuk sakitnya, seperti obat flu atau diare. Bukankah obat-obatan yang dijual bebas dengan berbagai merek banyak yang aman untuk ibu menyusui. Aman atau tidaknya bagi ibu menyusui bisa dibaca dalam keterangannya. Nah, pilih saja yang aman!

MERAWAT PAYUDARA

Asal tahu saja, puting lecet dan infeksi bukan melulu akibat salah posisi dalam menyusui. Adakalanya, infeksi pada puting disebabkan jamur yang berkembang biak lantaran ibu kurang menjaga kebersihan payudara. Ingat, ibu harus memberikan ASI secara higienis! Oleh karena itu, ibu harus selalu menjaga kebersihan payudara.

Membersihkan payudara dapat dilakukan setiap kali mandi atau usai pemijatan. Saat mandi, gunakan sabun yang mengandung pelembap tinggi untuk mencegah kulit jadi kering.

Gosok lembut saat membersihkan daerah payudara. Hindari menggosok puting terlalu keras agar tak lecet. Bilas sampai bersih supaya tak ada sisa sabun di situ.

Lakukan pemijatan payudara secara rutin, minimal satu kali sehari untuk menjaga agar “pabrik” susu tetap berfungsi baik. Tiap kali usai pemijatan dengan baby oil, seka payudara dengan kompres air hangat dan air dingin bergantian. Lalu, bersihkan puting dengan menggunakan kapas bersih yang sudah dibasahi air hangat.

Penting pula untuk memilih bra dengan ukuran yang tepat selama menyusui. Simpan dulu bra lama sebelum hamil karena payudara pasti membesar saat menyusui. Pilihlah yang berbahan katun sehingga nyaman dipakai dan mudah menyerap keringat. Pilih bra dengan tali yang lebar agar dapat menyangga payudara dengan baik. Untuk menjaga puting tetap kering, bila perlu gunakan breast pad (bantalan puting) guna menyerap ASI yang menetes.

Yang juga penting, cuci tangan sampai bersih sebelum menyusui, perah sedikit ASI, lalu oleskan ke sekeliling puting sampai areola. Selain untuk membersihkan, fungsinya untuk menyebarkan aroma ASI sehingga dapat tercium bayi demi membangkitkan seleranya.

HINDARI DOT

Umumnya ibu bekerja menganggap dot sebagai pengganti puting. Susu hasil perahan disimpan dalam botol susu untuk selanjutnya diberikan kepada bayi dengan menggunakan dot, padahal, cara yang tepat adalah berikan ASI perah dengan menggunakan sendok.

Banyak bayi mengalami bingung puting karena setelah diajari minum lewat dot ia menolak puting itu dengan cara mendorong atau mengeluarkannya memakai lidah. Bingung puting terjadi karena proses menyusu yang berbeda. Dengan dot, susu sudah bisa keluar walau hanya diisap bagian ujungnya saja. Sementara kalau menyusu pada ibu, bayi harus membuka mulut lebar-lebar. Nah, kalau menyusu pada ibu dilakukan dengan cara seperti mengisap dot, maka ASI tak bisa keluar dengan baik. Bayi akan merasa tak puas, frustrasi, dan menolak disusui langsung. Itulah sebabnya, bila ibu absen menyusui, minta pengasuhnya untuk tidak menggunakan dot, tetapi sendok.

Penting dipahami, esensi keberadaan ASI adalah proses pemberiannya, yaitu proses menyusui, dimana pada saat itulah terjalin komunikasi langsung antara ibu-anak. Proses inilah yang akan hilang bila ASI ibu diperas dan kemudian diberikan ke bayi mungilnya via botol dot. Oleh karena itulah, bila ibu bekerja sudah kembali ke rumah, susukan langsung ASI lewat payudara, bukan dari botol susu.

BERPIKIR POSITIF TENTANG ASI

Bila kegagalan memberikan ASI terjadi, ibu jangan lekas putus asa. Harus dipahami, kegagalan biasanya disebabkan teknik dan posisi menyusui yang kurang tepat, bukan karena produksi ASI-nya yang sedikit. ASI sendiri sebenarnya tak pernah kurang, karena produksinya akan disesuaikan dengan kebutuhan bayi. Bahkan, ada ibu yang produksi ASI-nya bisa sampai 2 liter per hari.

Selalu berpikir negatif tentang ASI, semisal ASI tak cukup, repot memberikan ASI karena harus bekerja, takut bentuk payudara berubah gara-gara ASI, atau badan jadi gemuk, dan lainnya, akan memberi pengaruh psikologis yang sangat besar terhadap produksi ASI. Justru karena pikiran-pikiran ‘jelek’ ini, maka seringkali proses menyusui tidak berhasil. Padahal mungkin tadinya ibu yakin dirinya dapat menyusui.

Perlu diketahui, untuk menghasilkan ASI, diperlukan kerja gabungan antara hormon dan refleks. Sewaktu bayi mengisap susu dari payudara ibu, dihasilkan dua refleks pada ibu yang disebut refleks prolaktin dan refleks oksitosin. Keduanya sangat menentukan produksi dan distribusi ASI dalam jumlah tepat sesuai kebutuhan bayi.

Penjelasannya, bayi tak akan mendapatkan cukup ASI bila hanya mengandalkan refleks pembentukan ASI (prolaktin) saja. Untuk itu dibutuhkan refleks oksitosin agar ASI dapat mengalir. Proses munculnya refleks oksitosin lebih rumit dibandingkan refleks prolaktin karena sangat dipengaruhi pikiran dan perasaan ibu.

Prolaktin sebetulnya merupakan hormon yang memicu refleks pembuatan ASI. Sedangkan oksitosin adalah hormon yang merangsang otot saluran ASI agar berkontraksi sehingga ASI dalam kelenjar susu bisa keluar ke ujung salurannya. Nah, kalau ibu selalu berpikir negatif tentang ASI atau kondisi emosinya menurun, maka pengeluaran ASI justru dapat benar-benar terhambat. Itulah sebabnya, oksitosin disebut love hormone, karena produksinya 60% dipengaruhi oleh kondisi psikis si ibu.

MELIBATKAN PERAN SUAMI

Mengingat faktor psikis sangat menentukan produksi ASI, suami dan istri harus sama-sama memahami betapa pentingnya dukungan terhadap ibu yang sedang menyusui. Di sini memang belum populer apa yang disebut breastfeeding father. Bukan ayah yang menyusui, tapi ayah yang sangat mendukung ibu yang menyusui. Kenyataannya memang, kehadiran sang ayah saat ibu menyusui bayinya, membantu refleks oksitosin meningkat, sehingga ASI yang keluar banyak dan lancar.

Agar ayah paham bagaimana memberikan dukungan kepada ibu, aktiflah belajar tentang ASI. Ibu juga seharusnya mampu memompa semangat ayah. Saat memasuki kehamilan, mulailah belajar tentang penatalaksanaan ASI yang salah satunya menegaskan peran suami. Nah, kedua belah pihak harus banyak menyerap informasi soal ASI ini agar kualitas ASI tetap prima.

Jelas, keberhasilan ASI eksklusif adalah juga keberhasilan suami sekaligus ayah. Ibu tak perlu malu atau risih menyusui di depan suami. Ukuran payudara dan puting yang membesar, serta areola yang melebar dan bertambah gelap bukan halangan untuk dapat berbangga hati karena bisa memenuhi hak bayi atas ASI. Ayah, karena tahu manfaat ASI bagi si buah hati, pasti tak akan menganggap perubahan bentuk payudara sebagai sesuatu yang buruk. Lagi pula yang mengubah bentuk payudara adalah kehamilan, bukan menyusui.

SUMBER :http://www.tabloid-nakita.COM

Menyusui

Menyusui

Artikel ini adalah mengenai proses menyusui air susu ibu untuk bayi manusia. Untuk hewan menyusui, lihat Mamalia

Menyusui adalah proses pemberian susu kepada bayi atau anak kecil dengan air susu ibu (ASI) dari payudara ibu. Bayi menggunakan refleks menghisap untuk mendapatkan dan menelan susu.

Bukti eksperimental menyimpulkan bahwa air susu ibu adalah gizi terbaik untuk bayi[1]. Para pakar masih memperdebatkan seberapa lama periode menyusui yg paling baik [2] dan seberapa jauh risiko penggunaan susu formula [3][4]

Seorang bayi dapat disusui oleh ibunya sendiri atau oleh wanita lain. ASI juga dapat diperah dan diberikan melalui alat menyusui lain seperti botol susu, cangkir, sendok, atau pipet. Susu formula juga tersedia untuk para ibu yang tidak bisa atau memilih untuk tidak menyusui, namun para ahli sepakat bahwa kualitas susu formula tidaklah sebaik ASI [5]. Di banyak negara, pemberian susu formula terkait dengan tingkat kematian bayi akibat diare [6], tetapi apabila pembuatannya dilakukan dengan hati-hati menggunakan air bersih, pemberian susu formula cukup aman.[3]

Pemerintah dan organisasi internasional sepakat untuk mempromosikan menyusui sebagai metode terbaik untuk pemberian gizi bayi setidaknya tahun pertama dan bahkan lebih lama lagi, antara lain WHO[7], Akademi Dokter Anak Amerika (American Academy of Pediatrics}[8], dan Departemen Kesehatan.

Laktasi

Ketika bayi menghisap payudara, hormon yang bernama oksitosin membuat ASI mengalir dari dalam alveoli, melalui saluran susu (ducts/milk canals) menuju reservoir susu {sacs} yang berlokasi di belakang areola, lalu ke dalam mulut bayi

Ketika bayi menghisap payudara, hormon yang bernama oksitosin membuat ASI mengalir dari dalam alveoli, melalui saluran susu (ducts/milk canals) menuju reservoir susu {sacs} yang berlokasi di belakang areola, lalu ke dalam mulut bayi

Proses produksi, sekresi, dan pengeluaran ASI dinamakan laktasi.

Pengaruh Hormonal

Mulai dari bulan ketiga kehamilan, tubuh wanita memproduksi hormon yang menstimulasi munculnya ASI dalam sistem payudara:

  • Progesteron: mempengaruhi pertumbuhan dan ukuran alveoli. Tingkat progesteron dan estrogen menurun sesaat setelah melahirkan. Hal ini menstimulasi produksi secara besar-besaran[9]
  • Estrogen: menstimulasi sistem saluran ASI untuk membesar. Tingkat estrogen menurun saat melahirkan dan tetap rendah untuk beberapa bulan selama tetap menyusui[9]. Karena itu, sebaiknya ibu menyusui menghindari KB hormonal berbasis hormon estrogen, karena dapat mengurangi jumlah produksi ASI.
  • Follicle stimulating hormone (FSH)
  • Luteinizing hormone (LH)
  • Prolaktin: berperan dalam membesarnya alveoil dalam kehamilan.
  • Oksitosin: mengencangkan otot halus dalam rahim pada saat melahirkan dan setelahnya, seperti halnya juga dalam orgasme. Setelah melahirkan, oksitosin juga mengencangkan otot halus di sekitar alveoli untuk memeras ASI menuju saluran susu. Oksitosin berperan dalam proses turunnya susu let-down / milk ejection reflex.
  • Human placental lactogen (HPL): Sejak bulan kedua kehamilan, plasenta mengeluarkan banyak HPL, yang berperan dalam pertumbuhan payudara, puting, dan areola sebelum melahirkan.

Pada bulan kelima dan keenam kehamilan, payudara siap memproduksi ASI. Namun, ASI bisa juga diproduksi tanpa kehamilan (induced lactation).

Laktogenesis I

Pada fase terakhir kehamilan, payudara wanita memasuki fase Laktogenesis I. Saat itu payudara memproduksi kolostrum, yaitu berupa cairan kental yang kekuningan. Pada saat itu, tingkat progesteron yang tinggi mencegah produksi ASI sebenarnya. Tetapi bukan merupakan masalah medis apabila ibu hamil mengeluarkan (bocor) kolostrum sebelum lahirnya bayi, dan hal ini juga bukan indikasi sedikit atau banyaknya produksi ASI sebenarnya nanti.

[sunting] Laktogenesis II

Saat melahirkan, keluarnya plasenta menyebabkan turunnya tingkat hormon progesteron, estrogen, dan HPL secara tiba-tiba, namun hormon prolaktin tetap tinggi. Hal ini menyebabkan produksi ASI besar-besaran yang dikenal dengan fase Laktogenesis II.

Apabila payudara dirangsang, level prolaktin dalam darah meningkat, memuncak dalam periode 45 menit, dan kemudian kembali ke level sebelum rangsangan tiga jam kemudian. Keluarnya hormon prolaktin menstimulasi sel di dalam alveoli untuk memproduksi ASI, dan hormon ini juga keluar dalam ASI itu sendiri. Penelitian mengindikasikan bahwa level prolaktin dalam susu lebih tinggi apabila produksi ASI lebih banyak, yaitu sekitar pukul 2 pagi hingga 6 pagi, namun level prolaktin rendah saat payudara terasa penuh.[10]

Hormon lainnya, seperti insulin, tiroksin, dan kortisol, juga terdapat dalam proses ini, namun peran hormon tersebut belum diketahui. Penanda biokimiawi mengindikasikan bahwa proses laktogenesis II dimulai sekitar 30-40 jam setelah melahirkan, tetapi biasanya para ibu baru merasakan payudara penuh sekitar 50-73 jam (2-3 hari) setelah melahirkan. Artinya, memang produksi ASI sebenarnya tidak langsung setelah melahirkan.

Kolostrum dikonsumsi bayi sebelum ASI sebenarnya. Kolostrum mengandung sel darah putih dan antibodi yang tinggi daripada ASI sebenarnya, khususnya tinggi dalam level immunoglobulin A (IgA), yang membantu melapisi usus bayi yang masih rentan dan mencegah kuman memasuki bayi. IgA ini juga mencegah alergi makanan [11]. Dalam dua minggu pertama setelah melahirkan, kolostrum pelan pelan hilang dan tergantikan oleh ASI sebenarnya[9].

Laktogeneses III

Sistem kontrol hormon endokrin mengatur produksi ASI selama kehamilan dan beberapa hari pertama setelah melahirkan. Ketika produksi ASI mulai stabil, sistem kontrol autokrin dimulai. Fase ini dinamakan Laktogenesis III.

Pada tahap ini, apabila ASI banyak dikeluarkan, payudara akan memproduksi ASI dengan banyak pula[12][13]. Penelitian berkesimpulan bahwa apabila payudara dikosongkan secara menyeluruh juga akan meningkatkan taraf produksi ASI[14]. Dengan demikian, produksi ASI sangat dipengaruhi seberapa sering dan seberapa baik bayi menghisap, dan juga seberapa sering payudara dikosongkan.

Produksi ASI yang rendah adalah akibat dari:

  • Kurang sering menyusui atau memerah payudara
  • Apabila bayi tidak bisa menghisap ASI secara efektif, antara lain akibat:
    • Struktur mulut dan rahang yang kurang baik
    • Teknik perlekatan yang salah
  • Kelainan endokrin ibu (jarang terjadi)
  • Jaringan payudara hipoplastik
  • Kelainan metabolisme atau pencernaan bayi, sehingga tidak dapat mencerna ASI
  • Kurangnya gizi ibu

Menyusui setiap dua-tiga jam akan menjaga produksi ASI tetap tinggi. Untuk wanita pada umumnya, menyusui atau memerah ASI delapan kali dalam 24 jam akan menjaga produksi ASI tetap tinggi pada masa-masa awal menyusui, khususnya empat bulan pertama[8]. Bukanlah hal yang aneh apabila bayi yang baru lahir menyusui lebih sering dari itu, karena rata-ratanya adalah 10-12 kali menyusui tiap 24 jam, atau bahkan 18 kali. Menyusui on-demand adalah menyusui kapanpun bayi meminta (artinya akan lebih banyak dari rata-rata) adalah cara terbaik untuk menjaga produksi ASI tetap tinggi dan bayi tetap kenyang [7]. Tetapi perlu diingat, bahwa sebaiknya menyusui dengan durasi yang cukup lama setiap kalinya dan tidak terlalu sebentar, sehingga bayi menerima asupan foremilk dan hindmilk secara seimbang [15]

Refleks turunnya susu

Keluarnya hormon oksitosin menstimulasi turunnya susu (milk ejection / let-down reflex). Oksitosin menstimulasi otot di sekitar payudara untuk memeras ASI keluar. Para ibu mendeskripsikan sensasi turunnya susu dengan berbeda-beda, beberapa merasakan geli di payudara dan ada juga yang merasakan sakit sedikit, tetapi ada juga yang tidak merasakan apa-apa. Refleks turunnya susu tidak selalu konsisten khususnya pada masa-masa awal. Tetapi refleks ini bisa juga distimulasi dengan hanya memikirkan tentang bayi, atau mendengar suara bayi, sehingga terjadi kebocoran. Sering pula terjadi, payudara yang tidak menyusui bayi mengeluarkan ASI pada saat bayi menghisap payudara yang satunya lagi. Lama kelamaan, biasanya setelah dua minggu, refleks turunnya susu menjadi lebih stabil.

Refleks turunnya susu ini penting dalam menjaga kestabilan produksi ASI, tetapi dapat terhalangi apabila ibu mengalami stres. Oleh karena itu sebaiknya ibu tidak mengalami stres.

Refleks turunnya susu yang kurang baik adalah akibat dari puting lecet, terpisah dari bayi, pembedahan payudara sebelum melahirkan, atau kerusakan jaringan payudara. Apabila ibu mengalami kesulitan menyusui akibat kurangnya refleks ini, dapat dibantu dengan pemijatan payudara, penghangatan payudara dengan mandi air hangat, atau menyusui dalam situasi yang tenang.

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Menyusui

Pijat Bayi

1.PENDAHULUAN

Anak memiliki nilai yang sangat tinggi untuk keluarga dan bangsa. Setiap orang tua mengharapkan anaknya dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sehingga dapat menjadi sumber daya manusia yang berkualitas dan tangguh. Tercapainya pertumbuhan dan perkembangan yang optimal merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang saling berkaitan, yaitu faktor genetik, lingkungan, perilaku, dan rangsangan atau stimulasi yang berguna. (Dasuki, 2003).

Ikatan batin yang sehat (secure attachment) sangat penting bagi anak terutama dalam usia 2 tahun pertama yang akan menentukan perkembangan kepribadian anak selanjutnya. Selain faktor bawaan yang dianugerahkan Tuhan sejak lahir, stimulus dari luar juga berperan bagi pertumbuhan fisik dan perkembangan emosional anak. (Mayke, 1999)

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 900/MENKES/SK/VII/2002 tentang Registrasi dan Praktek Bidan menyebutkan bahwa bidan berwenang memantau tumbuh kembang bayi melalui deteksi dini dan stimulasi tumbuh kembang. Salah satu bentuk stimulasi yang selama ini dilakukan oleh masyarakat adalah dengan pijat bayi.

Pijat bayi adalah terapi sentuh tertua dan terpopuler yang dikenal manusia. Pijat bayi telah lama dilakukan hampir di seluruh dunia termasuk di Indonesia dan diwariskan secara turun temurun. (Roesli, 2001).

Sentuhan dan pijat pada bayi setelah kelahiran dapat memberikan jaminan adanya kontak tubuh berkelanjutan yang dapat mempertahankan perasaan aman pada bayi. Laporan tertua tentang seni pijat untuk pengobatan tercatat di Papyrus Ebers, yaitu catatan kedokteran zaman Mesir Kuno. Ayur-Veda buku kedokteran tertua di India (sekitar 1800 SM) yang menuliskan tentang pijat, diet, dan olah raga sebagai cara penyembuhan utama masa itu. Sekitar 5000 tahun yang lalu para dokter di Cina dari Dinasti Tang juga meyakini bahwa pijat adalah salah satu dari 4 teknik pengobatan penting. (Roesli, 2001).

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, para pakar telah membuktikan bahwa terapi sentuh dan pijat menghasilkan perubahan fisiologis yang menguntungkan berupa peningkatan pertumbuhan, peningkatan daya tahan tubuh, dan kecerdasan emosi yang lebih baik. (Roesli, 2001).

Ilmu kesehatan modern telah membuktikan secara ilmiah bahwa terapi sentuhan dan pijat pada bayi mempunyai banyak manfaat terutama bila dilakukan sendiri oleh orang tua bayi. Penelitian tentang pengaruh pijat bayi terhadap kenaikan berat badan bayi memperoleh hasil bahwa pada kelompok kontrol kenaikan berat badan sebesar 6,16% sedangkan pada kelompok yang dipijat 9,44%. (Dasuki, 2003). Dewasa ini penelitian di Australia yang diungkapkan oleh Lana Kristiane F. Flores membuktikan bahwa bayi yang dipijat oleh orang tuanya akan mempunyai kecenderungan peningkatan berat badan, hubungan emosional dan sosial yang lebih baik. (Roesli, 2001). Namun Ilmu Kedokteran tentang pijat bayi masih belum banyak diketahui oleh masyarakat. (Sari, 2004)

Di Indonesia pelaksanaan pijat bayi di masyarakat desa masih dipegang peranannya oleh dukun bayi. Selama ini pemijatan tidak hanya dilakukan bila bayi sehat tetapi juga pada bayi sakit atau rewel dan sudah menjadi rutinitas perawatan bayi setelah lahir. (Sari, 2004).

2. PENGERTIAN

Roesli (2001) menyatakan bahwa pijat bayi adalah seni perawatan kesehatan dan pengobatan yang dikenal sejak awal manusia diciptakan di dunia serta telah dipraktekkan sejak berabad-abad tahun silam secara turun temurun oleh dukun bayi. Yang disebut bayi adalah anak yang berumur 0-12 bulan.

Sentuhan dan pandangan mata antara orang tua dan bayi mampu mengalirkan kekuatan jalinan kasih sayang diantara keduanya yang merupakan dasar komunikasi untuk memupuk cinta kasih secara timbal balik, mengurangi kecemasan, meningkatkan kemampuan fisik serta rasa percaya diri. (Sutcliffe, 2002).

3. MANFAAT

Menurut Roesli (2001), manfaat pijat bayi adalah :

a). Meningkatkan berat badan bayi; b) Meningkatkan pertumbuhan; c). Meningkatkan daya tahan tubuh; d) Meningkatkan produksi ASI; e) Memperbaiki sirkulasi darah dan pernapasan; f) Mengurangi kembung dan kolik yang diakibatkan karena mengkonsumsi susu formula; dan g) Mengurangi depresi pada bayi

4. WAKTU DAN PERSIAPAN

Pijat bayi dapat dimulai segera setelah lahir, kapan saja sesuai keinginan orang tua. (Roesli, 2001).

a. Persiapan Sebelum Memijat antara lain :

1) Tangan bersih dan hangat

2) Hindari goresan pada kulit bayi akibat kuku dan perhiasan

3) Ruang hangat dan tidak pengap

4) Bayi sudah selesai makan atau bayi sedang tidak lapar

5) Menyediakan waktu khusus yang tidak diganggu oleh hal lain minimum 15 menit untuk melakukan seluruh tahapan pemijatan

6) Duduklah dengan posisi nyaman dan tenang

7) Baringkanlah bayi di atas permukaan kain yang rata, lembut, dan bersih

8) Siapkan handuk, popok, baju ganti, dan minyak atau baby oil/lotion

9) Minta izin pada bayi sebelum melakukan pemijatan dengan cara membelai wajah dan kepala bayi sambil mengajak bicara

Gunakan minyak ketika memijat untuk menghindari luka akibat gesekan yang dapat terjadi karena kontak dengan kulit. Minyak yang cocok adalah minyak zaitun, minyak telon, atau baby oil. Jangan menggunakan minyak aromaterapi karena terlalu keras untuk kulit bayi. (Williams, 2003).

b. Hal-hal yang dilakukan selama pemijatan berlangsung :

1) Pandang mata bayi selama pemijatan berlangsung

2) Bernyanyilah atau putarkan lagu-lagu yang tenang atau lembut untuk menciptakan suasana tenang selama pemijatan.

3) Awali pemijatan dengan sentuhan ringan, kemudian secara bertahap tambahkan tekanan pada sentuhan tersebut, terutama bila anda sudah yakin bahwa bayi mulai terbiasa dengan pijatan yang sedang dilakukan.

4) Tanggaplah pada isyarat yang diberikan bayi. Bila bayi menangis cobalah untuk menenangkannya sebelum melanjutkan pemijatan. Bila bayi menangis lebih keras, hentikanlah pemijatan, karena mungkin bayi minta digendong, disusui, atau sudah mengantuk dan ingin tidur.

5) Mandikan bayi segera setelah pemijatan berakhir agar bayi merasa segar dan bersih setelah terlumuri minyak atau baby oil/lotion.

6) Lakukan konsultasi pada dokter atau perawat untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut tentang pemijatan bayi.

7) Hindarkan mata bayi dari percikan atau lelehan minyak atau baby oli/lotion.

Jika suatu saat bayi tampak merasa tidak nyaman segera hentikan pemijatan. Dalam memijat kita harus membangun toleransi dengan mulai beberapa gerakan, sedikit demi sedikit dengan durasi waktu yang bertahap dari 2-3 menit hingga 5-10 menit. (Hogg, 2002)

c. Tindakan yang tidak dianjurkan selama pemijatan:

1) Jangan memijat bayi langsung setelah bayi selesai makan

2) Jangan membangunkan bayi khusus untuk pemijatan

3) Jangan memijat pada saat bayi dalam keadaan tidak sehat

4) Jangan memijat bayi pada saat bayi tak mau dipijat

5) Jangan memaksakan posisi pijat tertentu pada bayi

5. CARA MEMIJAT UNTUK BERBAGAI KELOMPOK UMUR :

a. Bayi umur 0-1 bulan

Gerakan yang lebih mendekati usapan-usapan halus. Sebelum tali pusat bayi lepas sebaiknya tidak dilakukan pemijatan di daerah perut.

b. Bayi umur 1-3 bulan

Gerakan halus disertai tekanan ringan dalam waktu yang lebih singkat.

c. Bayi umur 3 bulan – anak umur 3 tahun

Seluruh gerakan dilakukan dengan tekanan dan waktu yang makin meningkat. Total waktu pemijatan disarankan sekitar 15 menit.

Lumurkan sesering mungkin minyak atau baby oil atau lotion yang lembut sebelum dan selama pemijatan. Setelah itu, lakukan gerakan pembukaan berupa sentuhan ringan di sepanjang sisi muka bayi atau usaplah rambutnya. Gerakan pembuka ini untuk memberitahukan bahwa waktu pemijatan akan segera dilakukan padanya.

Pemijatan sebaiknya dimulai dari kaki bayi, sebab umumnya bayi lebih menerima apabila dipijat pada daerah kaki. Permulaan seperti ini akan memberi kesempatan pada bayi untuk membiasakan dipijat sebelum bagian lain disentuh. Itu sebabnya urutan pemijatan bayi dianjurkan dimulai dari bagian kaki, kemudian perut, dada, tangan, muka, dan diakhiri pada bagian punggung.

6. URUTAN PIJAT BAYI

a. Kaki

1) Perahan cara India

Pegang kaki bayi pada pangkal paha seperti memegang pemukul softball, kemudian gerakkan tangan ke pergelangan kaki secara bergantian seperti memerah susu. Atau dengan arah yang sama, gunakan kedua tangan secara bersamaan, mulai dari pangkal paha dengan gerakan memeras, memijat, dan memutar kedua kaki bayi secara lembut.

2) Perahan cara Swedia

Peganglah kaki bayi pada pergelangan kaki, gerakkan tangan secara bergantian dari pergelangan kaki ke pangkal paha. Atau gunakan kedua tangan secara bersamaan ke arah yang sama dimulai dari pergelangan kaki, dengan gerakan memeras, memijat, dan memutar lembut kaki bayi.

3) Telapak kaki

Urutlah telapak kaki bayi dengan kedua ibu jari secara bergantian, dimulai dari tumit kaki menuju ke jari. Atau buatlah lingkaran-lingkaran kecil dengan kedua ibu jari secara bersamaan pada seluruh telapak kaki dimulai dari tumit.

4) Jari

Pijatlah jari-jari kaki satu per satu dengan gerakan memutar menjauhi telapak kaki dan diakhiri dengan tarikan lembut pada setiap ujung jari.

5) Punggung kaki

Dengan kedua ibu jari, buatlah lingkaran di sekitar kedua mata kaki sebelah dalam dan luar. Kemudian urutlah seluruh punggung kaki dengan kedua ibu jari secara bergantian dari pergelangan kaki ke arah jari. Atau buatlah gerakan yang membentuk lingkaran-lingkaran kecil dengan kedua ibu jari secara bersamaan, dari daerah mata kaki ke jari kaki.

6) Gerakan menggulung

Pegang pangkal paha dengan kedua tangan anda, kemudian gerakkan menggulung dari pangkal paha menuju pergelangan kaki.

7) Gerakan akhir

Rapatkan kedua kaki bayi, lalu letakkan kedua tangan anda secara bersamaan pada pangkal paha, kemudian usap dengan halus kedua kaki bayi dari atas ke bawah.

b. Perut

Untuk pemijatan di bagian perut hindari pemijatan pada tulang rusuk atau ujung tulang rusuk.

1) Mengayuh pedal sepeda

Lakukan gerakan pada perut bayi seperti mengayuh pedal sepeda, dari atas ke bawah perut, bergantian dengan tangan kanan dan kiri.

2) Menekan perut

Tekuk kedua lutut kaki bersamaan dengan lembut ke permukaan perut bayi. Dapat juga secara bergantian, dimulai dengan lutut kanan dan dilanjutkan dengan lutut kiri.

3) Bulan-matahari

Buat lingkaran dengan ujung-ujung jari tangan kanan mulai dari perut sebelah kanan bawah (daerah usus buntu) sesuai arah jarum jam, kemudian kembali ke daerah kanan bawah (seperti bentuk bulan), diikuti oleh tangan kiri yang selalu membuat bulatan penuh (seperti bentuk matahari).

4) Jam

Cara lain adalah dengan membayangkan ada gambar jam pada perut bayi. Perut bayi bagian paling atas dianggap jam 12, bagian bawah perut dianggap jam 6, lalu buat gerakan berikut : Buat lingkaran searah jarum jam dengan tangan kanan anda dibantu tangan kiri dimulai pada jam 8 (di daerah usus buntu)

5) Gerakan I Love You

”I” : Pijatlah perut bayi mulai dari bagian kiri atas ke bawah dengan menggunakan jari-jari tangan kanan seolah membentuk huruf ”I”.

”LOVE” : Bentuklah huruf ”L” terbalik, dengan melakukan pemijatan dari kanan atas perut ke kiri atas kemudian dari kiri atas ke kiri bawah.

”YOU” : Bentuklah huruf ”U” terbalik, dimulai dari kanan bawah (daerah usus buntu) ke atas kemudian ke kiri, ke bawah, dan berakhir di perut kiri bawah.

6) Gelembung

Letakkan ujung-ujung jari pada perut bayi di bagian kanan bawah dan buatlah gerakan dengan tekanan sesuai arah jarum jam dari kanan ke kiri bawah guna memindahkan gelembung-gelembung udara. Dengan kedua telapak tangan buatlah gerakan dari tengah dada ke samping luar seolah sedang meratakan kertas pada buku tua.

c. Dada

1) Jantung besar

Buatlah gerakan yang membentuk gambar jantung dengan meletakkan ujung-ujung jari kedua tangan anda di ulu hati. Setelah itu buat gerakan ke atas sampai di bawah leher, kemudian ke samping di atas tulang selangka, lalu ke bawah ke ulu hati seolah membuat gambar jantung.

2) Kupu-kupu

Gerakan dilanjutkan dengan membuat gambar kupu-kupu. Dimulai dengan tangan kanan yang memijat menyilang dari ulu hati ke arah bahu kanan, dan kembali ke ulu hati, kemudian dengan tangan kiri ke bahu kiri, dan kembali ke ulu hati.

3) Jantung kecil

Buatlah gerakan seperti gambar jantung kecil di sekitar puting susu.

4) Burung Kecil

Buatlah gerakan seolah membuat gambar jantung besar hingga ke tepi selangka. Kemudian dengan jari-jari tangan yang diregangkan buatlah gerakan seolah membuat gambar sayap burung kecil, dimulai dari samping dada ke atas.

d. Tangan

1) Perahan cara India

Perahan cara India bermanfaat untuk relaksasi otot dan arahnya menjauhi tubuh. Peganglah lengan bayi dengan kedua telapak tangan mulai dari pundak, seperti memegang pemukul softball. Gerakkan tangan kanan dan kiri ke bawah secara bergantian dan berulang-ulang seolah memerah susu sapi. Atau dengan kedua tangan lakukan gerakan memeras, memijat, dan memutar secara lembut pada lengan bayi mulai dari pundak ke pergelangan tangan.

2) Perahan cara Swedia

Pijatan dimulai dari pergelangan tangan ke arah badan untuk mengalirkan darah ke jantung dan ke paru-paru. Gerakkan tangan kanan dan kiri secara bergantian, mulai dari pergelangan ke arah pundak. Atau dengan kedua tangan lakukan gerakan memeras, memutar, dan memijat secara lembut pada lengan bayi mulai dari pergelangan tangan ke pundak.

3) Telapak tangan

Dengan kedua ibu jari, pijatlah telapak tangan seolah membuat lingkaran-lingkaran kecil dari pergelangan tangan ke arah jari-jemari. Sedangkan keempat jari lainnya memijat punggung tangan.

4) Jari

Pijat jari bayi satu per satu menuju ujung jari dengan gerakan memutar. Akhiri gerakan ini dengan tarikan pada tiap ujung jari.

5) Gerakan menggulung

Peganglah lengan bayi bagian atas/bahu dengan kedua telapak tangan. Bentuklah gerakan menggulung dari pangkal lengan menuju pergelangan tangan/jari-jari.

6) Gerakan akhir

Sama seperti gerakan akhir yang dilakukan pada pemijatan kaki.

e. Muka

1) Membasuh muka

Tutuplah wajah bayi dengan kedua telapak tangan anda dengan lembut sambil bicara pada bayi secara halus. Gerakkan kedua tangan anda ke samping pada kedua sisi wajah bayi seperti gerakan membasuh muka.

2) Dahi : menyetrika dahi

Letakkan jari-jari kedua tangan anda pada pertengahan dahi. Tekankan jari-jari anda dengan lembut mulai dari tengah dahi bayi ke arah samping kanan dan kiri seolah menyetrika dahi. Setelah itu gerakkan ke bawah ke daerah pelipis dan buatlah lingkaran-lingkaran kecil di pelipis kemudian gerakkan ke arah dalam melalui daerah pipi di bawah mata.

3) Alis : menyetrika alis

Letakkan kedua ibu jari anda di antara kedua alis mata. Lalu pijat bagian atas mata/alis mulai dari tengah ke samping seperti menyetrika alis.

4) Hidung : senyum pertama

Letakkan kedua ibu jari anda di antara kedua alis. Tekankanlah ibu jari anda dari pertengahan kedua alis turun melalui tepi hidung ke arah pipi kemudian gerakkan ke samping dan ke atas seolah membuat bayi tersenyum.

5) Rahang atas : senyum kedua

Letakkan kedua ibu jari anda pada pertengahan rahang atas atau di atas mulut di bawah sekat hidung. Gerakkan kedua ibu jari anda dari tengah ke samping dan ke atas ke daerah pipi seolah membuat bayi tersenyum.

6) Dagu/rahang bawah : senyum ketiga

Letakkan kedua ibu jari anda di tengah dagu. Tekankan dua ibu jari pada dagu, lalu gerakkan dari tengah ke samping kemudian ke atas seolah membuat bayi tersenyum.

7) Belakang telinga

Dengan tekanan lembut gerakkan jari-jari kedua tangan anda dari belakang telinga kanan dan kiri ke tengah dagu. Atau dengan tekanan lembut gerakkan kedua tangan anda dari belakang telinga membentuk lingkaran-lingkaran kecil ke seluruh kepala.

f. Punggung

1) Gerakan maju mundur : kuda goyang

Tengkurapkan bayi melintang di depan anda dengan kepala di sebelah kiri dan kaki di sebelah kanan anda. Pijatlah dengan gerakan maju mundur menggunakan kedua telapak tangan di sepanjang punggung bayi, dari bawah leher sampai ke pantat bayi.

2) Gerakan menyetrika

Lakukan usapan dengan telapak tangan kanan anda, menyerupai gerakan menyetrika dimulai dari pundak ke bawah sampai ke pantat.

DAFTAR PUSTAKA

Dasuki, Mohammad Shoim, 2003. Pengaruh Pijat Bayi terhadap Kenaikan Berat Badan Bayi Umur 4 Bulan. Tesis Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Gizi dan Kesehatan. UGM, Yogyakarta.

Hogg, Tracy, 2002. Secrets Of The Baby Whisperer-Cara Efektif Menenangkan dan Berkomunikasi dengan Bayi Anda. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Keputusan Menteri Kesehatan No. 900/MENKES/SK/VII/2002 tentang Registrasi dan Praktek Bidan.

Pudjiadi, Solihin, 2001. Bayiku Sayang. FKUI, Jakarta.

Purnomo Sari, Ita, 2007. Efektivitas Ceramah Dan Demonstrasi Untuk Meningkatkan Pengetahuan Ibu Tentang Pijat Bayi Di Dusun Banyusumurup Girirejo Imogiri Bantul Tahun 2007, KTI, Yogyakarta

Roesli, Utami, 2001. Pedoman Pijat Bayi. Trubus Agriwidya, Jakarta.

Roesli, U,tami, 2001. Pedoman Pijat Bayi Prematur dan Bayi Usia 0-3 Bulan. Trubus Agriwidya, Jakarta.

Sari, Anggrita, 2004. Pengaruh Penyuluhan Pijat Bayi Terhadap Pengetahuan dan Sikap Ibu Tentang Pijat Bayi di Dusun Dukuh Desa Sidokarto Godean Sleman, Skripsi Program Pendidikan D-IV Kebidanan. UGM, Yogyakarta.

Sutcliffe, J, 2002. Baby Bonding-Membentuk Ikatan Batin Dengan Bayi –Berikan Permulaan Yang Aman Untuk Awal Kehidupan Bayi Anda. Taramedia Restuf Agung, Jakarta.

Williams, Frances, 2003. Babycare-Pedoman Merawat Bayi. Erlangga, Jakarta.

sumber : http://midwivesari.blogspot.com/

PERUBAHAN DALAM MASA NIFAS

PERUBAHAN DALAM MASA NIFAS

Masa nifas (postpartum/puerperium) berasal dari bahasa latin yaitu dari kata “Puer” yang artinya bayi dan “Parous” yang berarti melahirkan. Masa nifas dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, biasanya berlangsung selama 6 minggu atau 42 hari, namun secara keseluruhan akan pulih dalam waktu 3 bulan.

Selama hamil, terjadi perubahan pada sistem tubuh wanita, diantaranya terjadi perubahan pada sistem reproduksi, sistem pencernaan, sistem perkemihan, sistem musculoskeletal, sistem endokrin, sistem kardiovaskuler, sistem hematologi, dan perubahan pada tanda-tanda vital. Pada masa postpartum perubahan-perubahan tersebut akan kembali menjadi seperti saat sebelum hamil. Adapun perubahannya adalah sebagai berikut :

Involusi Uterus

Involusi Uterus atau pengerutan uterus merupakan suatu proses dimana uterus kembali ke kondisi sebelum hamil dengan bobot hanya 60 gram. Proses involusio uterus adalah sebagai berikut :

- Autolysis

Merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi di dalam otot uterine. Enzim proteolitik akan memendekkan jaringan otot yang telah mengendur hingga panjangnya 10 kali panjang sebelum hamil dan lebarnya 5 kali lebar sebelum hamil yang terjadi selama kehamilan.

- Terdapat polymorph phagolitik dan macrophages di dalam system vascular dan system limphatik

- Efek oksitosin (cara bekerjanya oksitosin)

Oksitosin menyebabkan terjadinya kontraksi dan retraksi otot uterin sehingga akan menekan pembuluh darah yang mengakibatkan berkurangnya suplai darah ke uterus. Proses ini membantu untuk mengurangi situs atau tempat implantasi plasenta serta mengurangi perdarahan.

Waktu

Bobot Uterus

Diameter Uterus

Palpasi Serviks

Pada akhir persalinan

900 gram

12,5 cm

Lembut/lunak

Akhir minggu ke-1

450 gram

7,5 cm

2 cm

Akhir minggu ke-2

200 gram

5,0 cm

1 cm

Akhir minggu ke-6

60 gram

2,5 cm

Menyempit

b. Lokia

Dengan adanya involusi uterus, maka lapisan luar dari desidua yang mengelilingi situs plasenta akan menjadi necrotic (layu/mati). Desidua yang mati akan keluar bersama dengan sisa cairan. Campuran antara darah dan desidua tersebut dinamakan lokia, yang biasanya berwarna merah muda atau putih pucat.

Lokia adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas dan mempunyai reaksi basa/alkalis yang dapat membuat organisme berkembang lebih cepat dari pada kondisi asam yang ada pada vagina normal. Lokia mempunyai bau yang amis (anyir) meskipun tidak terlalu menyengat dan volumenya berbeda-beda pada setiap wanita. Lokia mengalami perubahan karena proses involusi. Pengeluaran lokia dapat dibagi berdasarkan waktu dan warnanya, seperti pada tabel berikut ini:

Lokia

Waktu

Warna

Ciri-ciri

Rubra

1-3 hari

Merah kehitaman

Terdiri dari sel desidua, verniks caseosa, rambut lanugo, sisa mekoneum dan sisa darah

Sanginolenta

3-7 hari

Putih bercampur merah

Sisa darah bercampur lendir

Serosa

7-14 hari

Kekuningan/ kecoklatan

Lebih sedikit darah dan lebih banyak serum, juga terdiri dari leukosit dan robekan laserasi plasenta

Alba

>14 hari

Putih

Mengandung leukosit, selaput lendir serviks dan serabut jaringan yang mati.

c. Laktasi

Laktasi dapat diartikan dengan pembentukan dan pengeluaran air susu ibu (ASI), yang merupakan makanan pokok terbaik bagi bayi yang bersifat alamiah. Bagi setiap ibu yang melahirkan akan tesedia makanan bagi bayinya, dan bagi si anak akan merasa puas dalam pelukan ibunya, merasa aman, tenteram, hangat akan kasih sayang ibunya. Hal ini merupakan faktor yang penting bagi perkembangan anak selanjutnya.

Produksi ASI masih sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan, ibu yang selalu dalam keadaan tertekan, sedih, kurang percaya diri dan berbagai ketegangan emosional akan menurunkan volume ASI bahkan tidak terjadi produksi ASI. Ibu yang sedang menyusui juga jangan terlalu banyak dibebani urusan pekerjaan rumah tangga, urusan kantor dan lainnya karena hal ini juga dapat mempengaruhi produksi ASI. Untuk memproduksi ASI yang baik harus dalam keadaan tenang.

Ada 2 refleks yang sangat dipengaruhi oleh keadaan jiwa ibu, yaitu :

1 ) Refleks Prolaktin

Pada waktu bayi menghisap payudara ibu, ibu menerima rangsangan neurohormonal pada putting dan areola, rangsangan ini melalui nervus vagus diteruskan ke hypophysa lalu ke lobus anterior, lobus anterior akan mengeluarkan hormon prolaktin yang masuk melalui peredaran darah sampai pada kelenjar-kelenjar pembuat ASI dan merangsang untuk memproduksi ASI.

2 ) Refleks Let Down

Refleks ini mengakibatkan memancarnya ASI keluar, isapan bayi akan merangsang putting susu dan areola yang dikirim lobus posterior melalui nervus vagus, dari glandula pituitary posterior dikeluarkan hormon oxytosin ke dalam peredaran darah yang menyebabkan adanya kontraksi otot-otot myoepitel dari saluran air susu, karena adanya kontraksi ini maka ASI akan terperas ke arah ampula.

PERUBAHAN SISTEM PENCERNAAN

Biasanya ibu mengalami obstipasi setelah persalinan. Hal ini disebabkan karena pada waktu melahirkan alat pencernaan mendapat tekanan yang menyebabkan kolon menjadi kosong, pengeluaran cairan yang berlebihan pada waktu persalinan (dehidrasi), kurang makan, haemoroid, laserasi jalan lahir. Supaya buang air besar kembali teratur dapat diberikan diet/makanan yang mengandung serat dan pemberian cairan yang cukup. Bila usaha ini tidak berhasil dalam waktu 2 atau 3 hari dapat ditolong dengan pemberian huknah atau glyserin spuit atau diberikan obat yang lain.

PERUBAHAN SISTEM PERKEMIHAN

Dinding kandung kencing memperlihatkan oedem dan hyperemia. Kadang-kadang oedema trigonum, menimbulkan abstraksi dari uretra sehingga terjadi retensio urine. Kandung kencing dalam puerperium kurang sensitif dan kapasitasnya bertambah, sehingga kandung kencing penuh atau sesudah kencing masih tertinggal urine residual (normal + 15 cc). Sisa urine dan trauma pada kandung kencing waktu persalinan memudahkan terjadinya infeksi.

Dilatasi ureter dan pyolum normal dalam waktu 2 minggu. Urine biasanya berlebihan (poliurie) antara hari kedua dan kelima, hal ini disebabkan karena kelebihan cairan sebagai akibat retensi air dalam kehamilan dan sekarang dikeluarkan. Kadang-kadang hematuri akibat proses katalitik involusi. Acetonurie terutama setelah partus yang sulit dan lama yang disebabkan pemecahan karbohidrat yang banyak, karena kegiatan otot-otot rahim dan karena kelaparan. Proteinurine akibat dari autolisis sel-sel otot.

PERUBAHAN SISTEM MUSCULOSKELETAL

Ligamen, fasia, dan diafragma pelvis yang meregang pada waktu persalinan, setelah bayi lahir, secara berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih kembali sehingga tidak jarang uterus jatuh ke belakang dan menjadi retrofleksi, karena ligamen rotundum menjadi kendor. Stabilisasi secara sempurna terjadi pada 6-8 minggu setelah persalinan.

Sebagai akibat putusnya serat-serat elastik kulit dan distensi yang berlangsung lama akibat besarnya uterus pada saat hamil, dinding abdomen masih lunak dan kendur untuk sementara waktu. Pemulihan dibantu dengan latihan.

PERUBAHAN SISTEM ENDOKRIN

a. Hormon plasenta

Hormon plasenta menurun dengan cepat setelah persalinan. Human Chorionic Gonadotropin (HCG) menurun dengan cepat dan menetap sampai 10% dalam 3 jam hingga hari ke-7 postpartum dan sebagai onset pemenuhan mamae pada hari ke-3 postpartum

b. Hormon pituitary

Prolaktin darah meningkat dengan cepat, pada wanita tidak menyusui menurun dalam waktu 2 minggu. FSH dan LH meningkat pada fase konsentrasi folikuler pada minggu ke-3, dan LH tetap rendah hingga ovulasi terjadi.

c. Hipotalamik Pituitary Ovarium

Untuk wanita yang menyusui dan tidak menyusui akan mempengaruhi lamanya ia mendapatkan menstruasi. Seringkali menstruasi pertama itu bersifat anovulasi yang dikarenakan rendahnya kadar estrogen dan progesteron. Diantara wanita laktasi sekitar 15% memperoleh menstruasi selama 6 minggu dan 45% setelah 12 minggu. Diantara wanita yang tidak laktasi 40% menstruasi setelah 6 minggu, 65% setelah 12 minggu dan 90% setelah 24 minggu. Untuk wanita laktasi 80% menstruasi pertama anovulasi dan untuk wanita yang tidak laktasi 50% siklus pertama anovulasi.

PERUBAHAN TANDA-TANDA VITAL

a. Suhu Badan

Satu hari (24jam) postprtum suhu badan akan naik sedikit (37,5°C – 38°C) sebagai akibat kerja keras waktu melahirkan, kehilangan cairan dan kelelahan. Apabila keadaan normal suhu badan menjadi biasa. Biasanya pada hari ketiga suhu badan naik lagi karena adanya pembentukan ASI, buah dada menjadi bengkak, berwarna merah karena banyaknya ASI. Bila suhu tidak turun kemungkinan adanya infeksi pada endometrium, mastitis, tractus genitalis atau sistem lain.

b. Nadi

Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80 kali permenit. Sehabis melahirkan biasanya denyut nadi itu akan lebih cepat.

c. Tekanan darah

Biasanya tidak berubah, kemungkinan tekanan darah akan rendah setelah ibu melahirkan karena ada perdarahan. Tekanan darah tinggi pada postpartum dapat menandakan terjadinya preeklampsi postpartum.

d. Pernafasan

Keadaan pernafasan selalu berhubungan dengan keadaan suhu dan denyut nadi. Bila suhu nadi tidak normal, pernafasan juga akan mengikutinya, kecuali apabila ada gangguan khusus pada saluran nafas.

PERUBAHAN SISTEM KARDIOVASKULER

Selama kehamilan volume darah normal digunakan untuk menampung aliran darah yang meningkat, yang diperlukan oleh plasenta dan pembuluh darah uterin. Penarikan kembali esterogen menyebabkan diuresis terjadi, yang secara cepat mengurangi volume plasma kembali pada proporsi normal. Aliran ini terjadi dalam 2-4 jam pertama setelah kelahiran bayi. Selama masa ini ibu mengeluarkan banyak sekali jumlah urin. Hilangnya progesteron membantu mengurangi retensi cairan yang melekat dengan meningkatnya vaskuler pada jaringan tersebut selama kehamilan bersama-sama dengan trauma selama persalinan.

Pada persalinan pervaginam kehilangan darah sekitar 300 – 400 cc. Bila kelahiran melalui seksio sesarea, maka kehilangan darah dapat dua kali lipat. Perubahan terdiri dari volume darah (blood volume) dan hematokrit (haemoconcentration). Bila persalinan pervaginam, hematokrit akan naik dan pada seksio sesaria, hematokrit cenderung stabil dan kembali normal setelah 4-6 minggu.

Setelah persalinan, shunt akan hilang dengan tiba-tiba. Volume darah ibu relatif akan bertambah. Keadaan ini akan menimbulkan beban pada jantung, dapat menimbulkan decompensation cordia pada penderita vitum cordia. Keadaan ini dapat diatasi dengan mekanisme kompensasi dengan timbulnya haemokonsentrasi sehingga volume darah kembali seperti sediakala, umumnya hal ini terjadi pada hari 3-5 postpartum.

PERUBAHAN SISTEM HEMATOLOGI

Selama minggu-minggu terakhir kehamilan, kadar fibrinogen dan plasma serta faktor-faktor pembekuan darah meningkat. Pada hari pertama postpartum, kadar fibrinogen dan plasma akan sedikit menurun tetapi darah lebih mengental dengan peningkatan viskositas sehingga meningkatkan faktor pembekuan darah. Leukositosis yang meningkat dimana jumlah sel darah putih dapat mencapai 15000 selama persalinan akan tetap tinggi dalam beberapa hari pertama dari masa postpartum. Jumlah sel darah putih tersebut masih bisa naik lagi sampai 25000 atau 30000 tanpa adanya kondisi patologis jika wanita tersebut mengalami persalinan lama. Jumlah hemoglobine, hematokrit dan erytrosyt akan sangat bervariasi pada awal-awal masa postpartum sebagai akibat dari volume darah, volume plasenta dan tingkat volume darah yang berubah-ubah. Semua tingkatan ini akan dipengaruhi oleh status gizi dan hidrasi wanita tersebut. Kira-kira selama kelahiran dan masa postpartum terjadi kehilangan darah sekitar 200-500 ml. Penurunan volume dan peningkatan sel darah pada kehamilan diasosiasikan dengan peningkatan hematokrit dan hemoglobine pada hari ke 3-7 postpartum dan akan kembali normal dalam 4-5 minggu postpartum.

sumber: http://midwivesari.blogspot.com/

Bayi ASI Eksklusif=Bayi Dengan Gold Medal

BAYI ASI EKSKLUSIF = BAYI DENGAN GOLD MEDAL

Berikan bayi Anda hanya makanan dengan “standar emas”

Setiap tahun, tepatnya tanggal 1-7 Agustus, kita merayakan Pekan ASI Dunia. Tahun ini, karena bersamaan dengan pelaksanaan Olimpiade Beijing 2008, maka Dewan World Breastfeeding Week mengangkat tema dengan semangat olimpiade tersebut, yakni Mother Support: Going for The Gold.

Ibu menyusui dianggap sebagai seorang atlet. Bila seorang atlet ingin memenangkan pertandingan dan mendapatkan medali emas, maka harus ada tim yang mendukungnya, dari pelatih, promotor, bagian konsumsi, dan sebagainya. Begitu pula dengan ibu menyusui bila hendak mendapatkan “medali emas” dalam artian standar emas makanan bagi bayinya.

Nah, “medali emas” tersebut akan diperoleh apabila ibu melakukan 3 hal berikut:

1. Pemberian ASI eksklusif pada bayinya selama 6 bulan. Didahului dengan melakukan inisiasi menyusu dini, yaitu memberikan ASI sesegera mungkin setelah bayi lahir.

2. Pemberian makanan pendamping ASI, yaitu makanan keluarga secara bertahap, setelah bayi berusia 6 bulan.

3. Disamping pemberian makanan keluarga, ASI tetap diberikan sampai anak berusia 2 tahun atau lebih.

DUKUNGAN SEMUA PIHAK

Dengan ibu memberikan “standar emas” makanan pada anak, akan menghasilkan anak-anak yang memiliki potensi kecerdasan inteligensi, emosional dan spiritual yang baik. Nah, untuk itu Ibu tentu perlu dukungan dari semua pihak, antara lain:

* Pusat pelayanan kesehatan.

Hendaknya memungkinkan seorang ibu melahirkan melakukan inisiasi dini, rawat gabung antara bayi dengan ibunya dan tidak memisahkannya. Dokter atau bidan yang menanganinya pun turut mendukung ibu memberikan ASI eksklusif.

* Peran masyarakat.

Lingkungan keluarga yang mendukung pemberian ASI eksklusif, seperti peran suami, orangtua dan orang-orang di sekitar ibu menyusui. Selain itu, organisasi kemasyarakatan, lembaga-lembaga swadaya, peran media massa dan sebagainya dengan penyelenggaraan kampanye, promosi atau event-event yang terkait dengan ibu menyusui.

* Perusahaan/tempat bekerja.

Hendaknya perusahaan memiliki kebijakan bagi ibu menyusui. Apakah dengan memberi kesempatan pada Ibu untuk memerah ASI di sela-sela jam kerja, memberikan cuti yang memadai (misal, begitu ibu melahirkan maka masa cuti menyusuinya berlaku), dan lainnya.

* Pemerintah.

Dapat memberi dukungan pada ibu menyusui lewat kebijakan peraturan-peraturan yang memberikan perlindungan bagi ibu menyusui, serta turut membantu mempromosikan pemberian ASI eksklusif pada bayi.

Tentunya, semua pihak juga harus tetap memberikan dukungan pada ibu menyusui saat kondisi darurat, semisal bencana alam. Janganlah memberikan susu formula kepada bayi-bayi di daerah bencana tersebut. Tanpa pengetahuan yang betul, pemberian susu formula tersebut malah akan membahayakan. Jadi, berilah bantuan pada ibunya agar ia bisa tetap memberikan ASI eksklusifnya.

Narasumber:

dr. Utami Roesli, SpA., MBA., IBCLC.,

Ketua Klinik Laktasi Indonesia

AWALNYA INISIASI MENYUSU DINI

Inisiasi menyusu dini (IMD) meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif 6 bulan dan lama menyusu sampai dua tahun.

IMD adalah bagian dari proses persalinan dimana bayi-bayi yang lahir dalam 1 jam pertama kehidupannya (tanpa dimandikan) langsung ditengkurapkan di atas perut ibunya dan dibiarkan berjuang mencari puting sang ibu untuk menyusu. Jadi, setelah tali pusat bayi dipotong, ia akan dikeringkan, lalu ditaruh di dada ibu untuk mengisap puting (kontak dini). Bayi akan merangkak ke arah payudara dan menyusu sendiri (the breast crawl).

Umumnya, pada usia 50 menit dan tanpa bantuan, bayi berhasil menemukan payudara (dengan insting penciumannya) dan mengisap puting. Setelah itu, proses IMD masih berlanjut dengan membiarkan bayi menyusu minimal selama setengah jam. Barulah kemudian bayi dipisahkan dari ibunya untuk ditimbang, dicap, dan dibersihkan.

Pada dasarnya, setiap ibu yang melahirkan normal dengan kondisi bayi normal (tidak prematur atau berat lahirnya tidak rendah) dapat melakukan IMD. Bahkan, pada bayi yang lahir sesar pun IMD bisa dilakukan, tapi memang teorinya 50% yang akan berhasil. Yang penting ibu harus percaya diri. Ayah juga harus mendukung sehingga memungkinkan ibu sukses menjalaninya.

Langkah-Langkah IMD

1. Begitu lahir, bayi diletakkan di perut ibu yang sudah dialasi kain kering.

2. Keringkan seluruh tubuh bayi termasuk kepala secepatnya kecuali kedua tangannya.

3. Tali pusat dipotong lalu diikat.

4. Vernix (zat lemak putih) yang melekat di tubuh bayi sebaiknya tidak dibersihkan karena zat ini membuat nyaman kulit bayi.

5. Tanpa dibedong, bayi langsung ditengkurapkan di dada atau perut ibu dengan kontak kulit bayi dan kulit ibu. Ibu dan bayi diselimuti bersama-sama. Jika perlu, bayi diberi topi untuk mengurangi pengeluaran panas dari kepalanya. Usah khawatir bayi akan kedinginan karena kulit ibu bersifat termoregulator atau thermal sinchrony bagi suhu bayi. Jika bayinya kedinginan, suhu kulit ibu otomatis naik dua derajat untuk menghangatkan bayi. Sebaliknya jika bayi kepanasan, suhu kulit ibu otomatis turun satu derajat untuk mendinginkan bayinya.

KOMPOSISI ASI

Produksi ASI disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing bayi.

BERBEDA DARI HARI KE HARI

ASI adalah cairan “hidup” yang komposisinya lengkap dan menyesuaikan dengan kebutuhan bayi dari hari ke hari. Pada hari ke-1 sampai kurang lebih hari ke-4 disebut susu jolong atau kolostrum, banyak mengandung protein untuk daya tahan tubuh. Pada hari ke-3 hingga kurang lebih hari ke-10 disebut ASI transisi, kadar proteinnya berkurang sementara kadar karbohidrat dan lemak meningkat. Volumenya pun makin banyak sesuai kebutuhan menyusu bayi yang semakin tinggi. Kemudian di hari ke-10 dan selanjutnya disebut ASI mature, yaitu susu padat untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembang bayi.

FOREMILK & HINDMILK

Komposisi ASI juga berbeda dari setiap semburan yang keluar. Semburan pertama, yang keluar pada 5-10 menit pertama, disebut foremilk. Susu ini lebih cair/encer dengan kadar lemak lebih rendah. Semburan berikutnya (di atas 10 menit) disebut hindmilk, adalah adalah susu yang komposisinya lebih kental dengan kandungan protein, lemak dan karbohidrat lebih padat. Jadi, secara alamiah memang sudah disiapkan, semburan pertama berkomposisi lebih ringan untuk menyiapkan pencernaan bayi sebelum menerima ASI dengan lemak yang lebih tinggi.

BERSIFAT INDIVIDUAL

ASI diproduksi sesuai dengan kebutuhan bayi yang dilahirkan pada masing-masing usia kehamilan. Jadi, ASI pada ibu yang melahirkan cukup bulan memang diperuntukkan bagi kebutuhan bayi yang lahir di usia kehamilan tersebut. Begitu pun ASI pada ibu yang melahirkan di usia kurang bulan, diperuntukkan hanya bagi bayinya. Bahkan, meski dua ibu melahirkan pada hari, tanggal, dan jam yang sama serta di usia kehamilan yang sama pula, produksi ASI-nya juga akan berbeda sesuai dengan kebutuhan bayi masing-masing. Selain itu, bakteri yang terdapat di dalam ASI berbeda-beda.

Misal, ibu A pernah kena demam berdarah selagi hamil, maka bayinya sudah terlindung dari virus demam berdarah setelah mendapatkan ASI. Tapi bila bayi ibu A disusui oleh ibu B yang belum pernah kena demam berdarah, maka bayi ibu A tidak terlindungi dari virus tersebut.

Keunggulan ASI Tak Tersaingi

Bagaimanapun, tak ada susu yang dapat melebihi keunggulan ASI. Banyak sekali keunggulan ASI, di antaranya adalah:

1. Terdiri lebih dari 200 biofactors system (nutrisi yang terintegrasi dalam jumlah dan perbandingan yang tepat, sehingga menghasilkan nutrisi tumbuh kembang dan perlindungan/daya tahan tubuh yang optimal. Bandingkan dengan susu formula yang hanya berkisar 30-40 biofactors.

2. Mencegah kekurangan suplai imunitas terbaik, karena di dalam ASI terkandung imunitas yang sangat diperlukan bayi untuk melawan banyak penyakit.

3. Terbukti dapat menurunkan risiko terserang penyakit akut dan kronis, seperti meningitis bakterialis (peradangan selaput otak yang disebabkan bakteri), infeksi saluran urogenitalis (infeksi pada organ reproduksi dan saluran kemih), otitis media (peradangan telinga), sepsis (infeksi dalam darah), botulism (keracunan akibat makanan/minuman yang diawetkan secara tidak benar), diare, serangan alergi, diabetes di usia dini, penyakit pembuluh darah koroner (coronary artery disease), serangan radang paru-paru, dan ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas), limphoma maligna (salah satu penyakit ganas di organ limfa).

4. Dari berbagai penelitian terbukti, anak yang mendapatkan ASI umumnya memiliki kecerdasan lebih dibanding anak yang tak diberi ASI eksklusif.

BREASTFEEDING FATHER

Bukan ayah yang menyusui, tapi ayah yang sangat mendukung

Sebetulnya proses menyusui bukan hanya antara ibu dan bayi, tetapi ayah juga memiliki peran yang sangat penting dan dituntut keterlibatannya. Sayangnya, dalam benak masyarakat luas, yang namanya menyusui dan mengasuh bayi adalah urusan ibu saja. Padahal sebenarnya tidaklah demikian. Keberhasilan menyusui dan mengasuh anak merupakan hasil kerja sama antara ibu, bayi, dan ayah.

Jadi, agar proses menyusui lancar, diperlukan breastfeeding father yaitu ayah membantu ibu agar bisa menyusui dengan nyaman sehingga ASI yang dihasilkan maksimal. Ada banyak hal praktis yang dapat dilakukan seorang breastfeeding father dalam mengasuh bayinya sehari-hari. Di antaranya membantu menggendong bayi dan memberikannya kepada ibu saat ingin menyusu, kemudian membantu bayi bersendawa setelahnya. Ayah membantu memandikan, mengganti popok, dan memijat bayi setiap hari, serta mengajaknya bermain. Ayah juga diharapkan membantu pekerjaan rumah tangga.

Dengan demikian, ibu bisa beristirahat cukup karena hatinya senang dan pikirannya pun tenang, yang akhirnya berdampak pada produksi ASI jadi lebih banyak. Ketahuilah, produksi ASI 80-90%-nya ditentukan oleh bagaimana keadaan emosi sang ibu. Di sinilah posisi ayah yang besar peranannya sebagai breastfeeding father. Nah, agar ayah semakin paham bagaimana memberikan dukungan kepada ibu, dianjurkan untuk aktif belajar tentang ASI.

Dengan pola asuh yang juga melibatkan peran ayah ini, akan memberikan jalinan kasih yang sangat baik antara ibu, ayah, dan bayi. Si kecil pun akan tumbuh sehat, kuat, dan cerdas.

PERSIAPAN MENYUSUI

Persiapan mental dan fisik yang cukup membuat proses menyusui menjadi mudah dan menyenangkan.

Selain mengonsumsi makanan bergizi dan menjalani pola hidup sehat, ada 3 hal penting yang perlu dilakukan ibu agar sukses menyusui, yaitu:

1. Tumbuhkan Niat

Niat adalah kunci sukses untuk memberikan ASI eksklusif bagi sang buah hati. Niat ini harusnya sudah tertanam kuat jauh hari sebelumnya, yakni sejak si kecil masih berada dalam kandungan ibu. Ibu harus bertekad akan memberikan makanan yang terbaik bagi bayinya. Dengan niat bulat, ibu akan berpikir optimis. Dari situ terbentuk energi positif yang akan memengaruhi kesiapan semua organ-organ menyusui sehingga ASI pun mengalir lancar. Jika ibu yakin bisa menyusui, ASI yang keluar pasti banyak.

2. Hilangkah Stres

Buang jauh-jauh semua pikiran negatif tentang ASI dan menyusui. Yakinlah, setiap ibu pasti bisa menyusui dan bayi tak akan pernah kekurangan ASI. Di sisi lain, ibu juga tak boleh terlalu bersemangat untuk memberikan ASI, karena sikap berlebihan ini (euforia) akan mengganggu sistem metabolisme produksi susu sehingga ASI yang keluar justru jadi sedikit. Bila ada masalah, ibu dianjurkan berkonsultasi ke klinik laktasi.

3. Lakukan Pijat Payudara

Pemijatan pada payudara dapat meningkatkan volume ASI, lakukan dua kali sehari saat mandi pagi dan sore. Berikut panduannya:

a. Cuci tangan sampai bersih, keringkan, lalu tuangkan minyak ke telapak tangan. Sokong payudara kiri dengan tangan kiri. Buatlah gerakan melingkar kecil-kecil dengan dua atau tiga jari tangan kanan, dari pangkal payudara dan berakhir di daerah puting susu dengan gerakan spiral. Puting tak perlu dipijat karena tak berkelenjar. Kemudian, buat gerakan memutar sambil menekan dari pangkal payudara dan berakhir pada puting susu di seluruh bagian payudara. Lakukan hal sama untuk payudara kanan.

b. Letakkan kedua telapak tangan di antara dua payudara. Urut dari tengah ke atas sambil mengangkat kedua payudara dan lepaskan kedua payudara secara perlahan-lahan. Lakukan gerakan ini kurang lebih 30 kali.

c. Sangga payudara kiri dengan kedua tangan, ibu jari di atas dan empat jari lain di bawah. Peras dengan lembut payudara sambil meluncurkan kedua tangan ke depan ke arah puting susu. Lakukan hal yang sama pada payudara kanan.

d. Kemudian lakukan gerakan tangan dengan posisi paralel. Sangga payudara dengan satu tangan, sedangkan tangan lain mengurut payudara dengan sisi kelingking dari arah pangkal payudara ke arah puting susu. Lakukan gerakan ini kurang lebih 30 kali.

e. Letakkan satu tangan di sebelah atas dan satu lagi di bawah payudara. Luncurkan kedua tangan secara bersamaan ke arah puting susu dengan cara memutar tangan. Ulangi gerakan ini sampai semua bagian payudara terkena urutan.

f. Selanjutnya puting dibersihkan dengan menggunakan kapas dan minyak. Minyak berguna untuk melenturkan dan melembapkan puting agar saat menyusui puting tak gampang lecet. Bersihkan dengan kapas bersih yang dicelup ke dalam air hangat.

g. Usai pemijatan, lakukan pengompresan. Sediakan dua baskom sedang yang masing-masing berisi air hangat dan air dingin. Dengan menggunakan waslap, kompres kedua payudara bergantian dengan air dingin, masing-masing selama satu menit. Selanjutnya, kompres bergantian selama 3 kali berturut-turut dan akhiri dengan kompres air hangat. Bersihkan dengan handuk hingga kering.

h. Usai dipijat, ketuk-ketuklah payudara memakai ujung jari atau ujung ruas jari. Gunanya agar sirkulasi darah bekerja lebih baik.

POSISI MENYUSUI

Saat menyusui, perhatikan benar posisinya agar hasilnya maksimal.

1. Ambil posisi menyusui yang nyaman dan serelaks mungkin agar tak melelahkan. Caranya, duduklah tegak dengan punggung tersangga baik. Peluk bayi dengan seluruh badannya menghadap payudara. Posisinya harus lurus searah, dari kuping, hidung, dan badannya. Perut bayi menempel pada perut ibu atau payudara bagian bawah. Dagunya menempel di payudara ibu.

2. Jika bayi menyusu pada payudara kiri, letakkan kepalanya di siku lengan kiri ibu, sementara lengan kanan bayi memeluk belakang punggung ibu. Lengan kiri bayi ke arah bebas ke payudara. Pundak bayi dan kaki dalam posisi segaris.

3. Letakkan ibu jari tangan Anda di atas puting dan keempat jari di bawah puting untuk menopang payudara. Jangan meletakkan jemari dalam posisi “menggunting” karena akan menghambat keluarnya ASI.

4. Posisi tubuh ibu yang paling tepat adalah duduk dan tidur. Ibu yang menjalani persalinan dengan operasi dan perutnya masih luka, bisa memegang bayi dengan posisi badan bayi agak ke atas dan kepalanya ke arah payudara.

Tip Penting

* Sebelum menyusui, oleskan puting dengan susu pertama yang keluar agar aromanya mengundang selera bayi untuk menyusu.

* Susui bayi setiap kali ia menginginkannya dan selama yang ia mau.

* Usai menyusui, lepaskan puting dengan memasukkan jari kelingking ibu ke mulut bayi melalui sudut mulut atau menekan dagu bayi ke bawah. Jangan langsung menariknya selagi masih berada di dalam mulut bayi karena akan membuat puting lecet.

* Bila puting lecet, lakukan kompres es di payudara dan tetaplah menyusuinya. Usai menyusui, keringkan, lalu usapkan tetesan ASI untuk perlindungan. Jika ada obat dari dokter bisa digunakan asal dibersihkan kembali kala akan menyusui.

BILA ASI SEDIKIT

Secara teoritis, ASI sebenarnya tak pernah kurang, karena produksinya akan disesuaikan dengan kebutuhan bayi. Apa sebab dan solusinya?

FAKTOR PSIKOLOGIS

Ibu selalu berpikir negatif tentang ASI, semisal ASI tak cukup, repot memberikan ASI karena harus bekerja, takut bentuk payudara berubah gara-gara ASI, atau badan jadi gemuk, dan lainnya, akan memberi pengaruh psikologis yang sangat besar terhadap produksi ASI. Pikiran-pikiran “jelek” ini sering kali membuat proses menyusui tidak berhasil, padahal mungkin tadinya ibu yakin dirinya dapat menyusui. Begitu pun bila ibu mengalami post-partum blues atau kesedihan pascapersalinan.

Solusi:

Ibu mesti berpikir positif dan tenang. Ketahuilah, saat bayi mengisap ASI, terjadi dua refleks, yaitu refleks prolaktin (refleks pembentukan ASI) dan refleks oksitosin untuk mengalirkan ASI. Nah, pikiran yang positif dan tenang akan meningkatkan “kerja” refleks oksitosin, sehingga ASI dapat dialirkan sesuai dengan kebutuhan bayi. Dukungan keluarga, terutama pasangan, sangat dibutuhkan untuk membuat ibu selalu berpikir positif dan berada dalam kondisi senang/bahagia.

POSISI MENYUSUI KURANG TEPAT

Bila mulut dan dagu bayi tidak menempel pada payudara ibu dan perut bayi juga tidak menempel sehingga lehernya berputar, maka areolanya juga tidak akan masuk ke dalam atau hanya di bibir bawah bayi. Akibatnya, bayi mengisap susu hanya sebentar-sebentar, gelisah atau malah menolak menyusu karena ia tidak mendapat ASI yang cukup. Kalau sudah begitu, bayi gampang rewel karena kurang kenyang.

Solusi:

Perhatikan posisi menyusui yang benar (lihat h.11). Pastikan aerola ibu masuk ke mulut bayi, sementara dagu bayi menempel pada payudara dan perut bayi menempel pada perut ibu. Bila posisinya tepat, bayi akan terlihat santai dan senang mengisap ASI secara perlahan, sementara ibu tidak merasakan nyeri pada putingnya.

KURANG RANGSANGAN

Pada dasarnya, produksi ASI sudah disesuaikan dengan kebutuhan. Dalam hal ini refleks oksitosin yang membuat ASI lancar mengalir dari “gudang susu” yang terdapat pada areola. Refleks ini bekerja

sebelum dan saat menyusui. Isapan bayi akan menghasilkan rangsangan sensorik dari puting yang selanjutnya menghasilkan hormon oksitosin dalam darah. Pada saat yang sama terjadi pula rangsang sensorik dari puting yang menghasilkan hormon prolaktin dalam darah. Prolaktin inilah yang bertugas memberi perintah langsung kepada “pabrik susu” untuk kembali memproduksi ASI. Jadi, ASI akan berkurang bila tidak langsung diisap atau diperah. Jika payudara tetap penuh akan terbentuk PIF (Prolactin Inhibiting Factor), yakni zat yang menghentikan pembentukan ASI.

Solusi:

Susui bayi setiap kali bayi menginginkannya dan tanpa kenal waktu (on demand). Pada ibu bekerja, susui bayi langsung dari payudara setelah ibu kembali ke rumah, jangan berikan lagi ASI perah. Semakin sering bayi menyusu, maka produksi ASI pun akan semakin berlimpah.

Tip Agar ASI Lancar

Ibu pun perlu melakukan hal-hal berikut ini agar produksi ASI-nya lancar:

* Konsumsi makanan bergizi seimbang, beragam, dan bervariasi.

* Cukup istirahat.

* Pijat payudara secara rutin. Lakukan minimal satu kali sehari untuk menjaga agar “pabrik” susu tetap berfungsi baik.

* Lakukan pijat bayi. Sentuhan pada kulit bayi berupa pijatan lembut mampu meningkatkan nafsu makan bayi, sehingga bayi jadi sering menyusu.

Bila ASI Banjir

Bila ASI ibu banyak dan berlimpah, ini pertanda ibu sangat sehat. Tentu bagus jika produksi ASI banyak apalagi sampai berlimpah. Hanya saja, bila pancarannya terlalu deras, bayi jadi gelagapan sehingga membuatnya tersedak. Akibatnya, bayi jadi enggan menyusu,

Solusi:

* Sebelum menyusui, pompa/perah dulu beberapa cc fore milk-nya. Dengan begitu, saat bayi menyusu tidak terlalu penuh lagi sehingga ASI tidak memancar terlalu deras. Nantinya foremilk yang dikeluarkan tersebut tetap diberikan pada bayi dengan cara disendokkan agar bayi tidak kurang cairan.

* Bila ASI memancar deras karena pengaruh gravitasi bumi, hindari menyusui bayi dalam posisi duduk karena akan membuat bayi “gelagapan”, lalu batuk, tersedak, perutnya menjadi kembung, dan sering gumoh. Sebaiknya ambil posisi tidur sehingga secara tak langsung payudara akan rata pada permukaan.

* Bisa juga ibu tidur telentang dengan posisi bayi di atas badan ibu. Dengan begitu, ASI ditarik oleh gravitasi bumi hingga ia tidak keluar memancar.

BILA IBU SAKIT

Tetaplah menyusui, kecuali penyakitnya tergolong berat.

Ibu yang sakit tetap bisa menyusui anaknya, karena dalam ASI terkandung antibodi untuk melawan penyakit yang bersangkutan. Jadi, berhenti menyusui saat sakit karena takut menulari bayi adalah tindakan yang salah. Justru risiko tertular akan lebih besar bila ibu malah buru-buru mengganti ASI dengan susu dan makanan/minuman lain dibandingkan bila bayi terus menyusu ASI meski ibu sedang sakit.

Jadi, kalau hanya sekadar sakit batuk-pilek dan diare, pemberian ASI tak jadi masalah. Lagi pula, jenis penyakit ini ditularkan bukan lewat ASI, melainkan udara atau anggota tubuh yang tak bersih. Karenanya, pemberian ASI tak perlu dihentikan, asal saat menyusui ibu menggunakan masker dan sebelum memegang bayi agar cuci tangan dulu hingga bersih. Ibu juga tak perlu berhenti menyusui hanya karena sedang minum obat-obatan flu, batuk, atau diare ringan. Bukankah obat-obatan yang dijual bebas dengan berbagai merek banyak yang aman untuk ibu menyusui? Tapi bila ibu ragu-ragu, sebaiknya hubungi ahli kebidanan atau dokter anak langganan agar ibu lebih mantap sebelum mengonsumsi obat.

Lain hal bila penyakitnya tergolong berat semisal ibu harus menjalani pengobatan kanker, disarankan menghentikan pemberian ASI. Obat-obatan antikanker bersifat sitostatik yang prinsipnya mematikan sel. Jika obat-obatan ini sampai terserap ASI lalu diminumkan ke bayi, dikhawatirkan mengganggu pertumbuhan sel-sel bayi. Padahal, bayi tengah berada dalam masa pertumbuhan yang sangat cepat. Begitu pun dengan ibu penderita sakit jantung yang berat, hepatitis yang parah, maupun pengidap positif HIV/AIDS, sebaiknya tidak menyusui bayinya.

Bagaimana dengan ibu pengidap TBC aktif? Tetap boleh menyusui karena kuman TBC tak ditularkan melalui ASI. Tapi tentu ibu harus berobat secara benar dan saat menyusui harus menggunakan masker untuk mencegah penularan. Selain itu, bayi jangan diberi imunisasi BCG dulu. Setelah masa pengobatan ibu selesai dan ibu sudah tidak menularkan lagi, maka bayi diuji lewat tes Mantoux. Bila hasilnya negatif, bayi dapat diberi vaksinasi BCG.

RELAKTASI

Jika pemberian ASI sempat terputus, ibu dapat melakukan relaktasi sehingga si kecil bisa mendapatkan ASI-nya kembali.

Tidak sedikit ibu ingin kembali memberikan ASI kepada bayinya setelah sempat terputus selama beberapa waktu. Hal ini tetap dimungkinkan kok. Namun tentunya dibutuhkan semangat yang tinggi dari ibu, disamping dukungan dari semua pihak dan teknik menyusui yang benar. Pasalnya, selama masa “istirahat” dari kegiatan menyusui, produksi ASI akan jauh berkurang atau bahkan terhenti.

LANGKAH-LANGKAH RELAKTASI

Nah, agar ibu dapat memberikan ASI-nya kembali kepada si buah hati, berikut yang perlu dilakukan:

* Berkonsultasilah ke klinik laktasi karena ibu tentu membutuhkan arahan dan dukungan dari ahlinya.

* Di awal menyusui biasanya ibu membutuhkan alat bantu berupa lactation aid yang terdiri atas botol plastik berisi ASI donor atau susu formula. Botol plastik ini diposisikan dengan mulut terbalik, lalu dari tutup botol dialiri 2 buah selang kecil yang ditempelkan pada kedua puting ibu. Dengan demikian, sewaktu bayi mengisap payudara layaknya menyusu, ia akan mendapat asupan susu dari botol. Atau modifikasi berupa spuit dan selang nasogastric tube yang halus. Dengan cara ini, selain bayi mendapatkan nutrisi dari ASI donasi atau susu formula, isapan bayi pada puting akan memberi manfaat berupa stimulasi pada organ produksi ASI yang berada di bawah puting dan aerola.

* Dalam tenggang waktu yang bersamaan, ibu juga dianjurkan mengonsumsi obat-obatan yang mengandung oksitosin guna merangsang produksi ASI-nya. Disamping, meningkatkan konsumsi makanan bergizi seimbang, beragam, dan bervariasi.

* Stimulasikan payudara dan organ-organ produksi ASI dengan cara dipompa/diperah dan pemijatan.

* Ajarkan kembali si kecil bagaimana cara menyusu di payudara ibu. Susui bayi secara teratur dan sesering mungkin.

* Usahakan ibu relaks saat menyusui dan jangan pernah memaksa anak menyusu. Jika si kecil menolak atau kelelahan tentu akan mengganggu proses jalannya relaktasi. Jika terus dipaksakan bisa-bisa anak trauma sementara ibu frustrasi.

ASI “BAGUS” BERKAT MAKANAN BERGIZI

Makanan yang dikonsumsi ibu di masa menyusui sangat berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas ASI.

Kebutuhan gizi ibu menyusui lebih besar dari kebutuhan ibu hamil, terutama pada 6 bulan pertama pascapersalinan. Selain karena ibu perlu energi ekstra untuk memulihkan kondisi kesehatannya setelah persalinan, juga untuk aktivitasnya sehari-hari dan terlebih lagi untuk produksi pembentukan ASI-nya, baik dalam hal kualitas maupun kuantitas. Nah, berikut ini adalah zat-zat gizi yang harus menjadi asupan ibu setiap hari. Semua zat gizi itu penting, tak ada yang lebih diutamakan, karena masing-masing memiliki fungsi berbeda-beda. Jadi, semua zat gizi di bawah ini harus ada dalam makanan ibu menyusui.

KARBOHIDRAT

Kekurangan karbohidrat takkan berpengaruh pada produksi ASI, karena ASI akan terus diproduksi dengan mengambil cadangan si ibu sehingga ibu akan kekurangan tenaga. Namun kalau kelebihan akan menyebabkan kegemukan pada ibu karena kelebihannya disimpan jadi lemak. Makanan sumber karbohidrat atau sumber tenaga antara lain: nasi, kentang, roti, ubi, mi atau jagung.

PROTEIN

Pada 6 bulan pascapersalinan, ibu butuh tambahan protein sebesar 16 gram dari keadaan normal sebesar 51 gram, dan 6 bulan selanjutnya sebesar 12 gram. Protein bisa diperoleh dari tempe, tahu dan jenis kacang-kacangan untuk protein nabati. Untuk protein hewani didapat dari daging, telur, hati, dan ikan. Bila tubuh kelebihan protein akan diubah jadi lemak dalam tubuh. Sedangkan bila kekurangan, dalam batas-batas tertentu, akan berpengaruh pada produksi ASI yang sedikit serta kualitas ASI yang rendah. Tentunya akan berpengaruh pula pada perkembangan otak dan pertumbuhan bayi.

LEMAK

ASI yang berkualitas membutuhkan zat-zat lemak tak jenuh ganda untuk perkembangan otak dan retina mata bayi. Asam lemak tak jenuh ganda dalam ASI akan terbentuk bila ibu mengonsumsi bahan makanan seperti minyak jagung atau minyak biji kapas dan ikan dari perairan laut dalam, seperti haring atau salmon yang mengandung asam lemak tak jenuh. Lemak berfungsi untuk daya tahan tubuh, selain sebagai pelumas (semisal pelumas kulit, sendi-sendi, dan lainnya), dan bahan pembuat hormon-hormon. Sebagai sumber energi, lemak kalau dibakar dalam tubuh akan jadi karbohidrat. Bila ibu menyusui kekurangan lemak, bisa membuat kurus, daya tahan turun, kulit keriput, dan produksi hormon terganggu. Bila kelebihan, dapat menyebabkan kegemukan.

VITAMIN & MINERAL

Meski yang dibutuhkan hanya sedikit sekali sehingga pertambahannya pun bagi ibu menyusui tak begitu menonjol, namun bukan berarti boleh diabaikan mengingat fungsinya untuk melancarkan metabolisme tubuh. Vitamin dan mineral dapat diperoleh dari aneka sayur dan buah.

Kalori/Energi

Kebutuhan kalori per hari terdiri atas 60-70% karbohidrat, 10-20% protein, dan 20-30% lemak. Pada 6 bulan pascapersalinan, ibu butuh tambahan 700 kalori dari keadaan normal sebesar 2.200 kalori, dan 6 bulan selanjutnya sebesar 500 kalori. Sebagai sumber energi, kalori berguna untuk metabolisme tubuh, kerja organ tubuh seperti untuk aktivitas fisik sehari-hari, dan proses pembentukan ASI. Kelebihan kalori menyebabkan kegemukan pada ibu, bila kekurangan menyebabkan kurang gizi. Dalam batas-batas tertentu, kekurangan gizi pada ibu akan berpengaruh pada kualitas dan kuantitas ASI, yang tentunya akan berdampak pula pada bayi.

Cairan

Cairan berfungsi sebagai pelarut zat gizi dalam proses metabolisme tubuh. Kebutuhan cairan pada ibu menyusui setiap harinya minimal 2 liter, lebih banyak lebih baik. Kelebihan cairan tak bermasalah karena tubuh punya mekanisme untuk pembuangannya. Namun bila kekurangan bisa menyebabkan ibu mengalami dehidrasi. Dianjurkan mengonsumsi juga cairan yang mengandung gizi, semisal air sayuran, air kacang-kacangan, sari buah-buahan, atau susu terutama susu khusus ibu menyusui dengan kandungan AA & DHA (penting untuk perkembangan otak bayi), kolin (dibutuhkan untuk pertumbuhan organ, terutama sels-sel otak bayi), serta omega 3 dan omega 6 (untuk perkembangan otak bayi).

PERSIAPAN IBU BEKERJA

Meski bekerja, ibu tetap dapat memberikan ASI eksklusif pada bayinya. Solusinya adalah ASI peras/perah.

KAPAN MULAI MENYETOK ASI?

Jawabannya tergantung dari ketersediaan tempat penyimpanan ASI yang ada. Jika ibu memiliki lemari es, maka bisa dilakukan penyetokan dua minggu sebelum bekerja. Bila lemari esnya memiliki freezer, maka bisa menyetok ASI sejak dari ibu melahirkan, karena ASI bisa bertahan sampai 3 bulan. ASI perah yang disimpan dapat diberikan pada bayi ketika ibu tidak berada di rumah.

PERSIAPAN MEMERAH

Waktu yang paling tepat untuk memerah ASI ketika payudara sedang penuh, bisa diulang kembali sekitar 3-4 jam. Sebelumnya, minumlah satu gelas air/sari buah/susu/secangkir sup atau kacang hijau. Jangan lupa, alat-alat yang akan digunakan untuk memerah harus disetrilisasi lebih dulu.

Ibu pun harus mencuci tangannya dengan sabun dan air tiap kali hendak mulai memerah, sedangkan payudara cukup dicuci dengan air. Jangan gunakan sabun atau apa pun pada puting.

TEKNIK MEMERAH

Ibu bisa memerah dengan tangan/jari ataupun menggunakan alat bantu perah, seperti pompa ASI elektrik. Ibu tinggal pilih, manakah yang lebih nyaman. Bila menggunakan alat bantu, ikuti petunjuk yang tertera di kemasannya.

Bila ibu memilih memerah dengan tangan, berikut panduannya:

1. Duduklah dengan nyaman dan santai. Perah sedikit ASI, lalu oleskan ASI tersebut ke puting susu dan sekitarnya sebelum memerah.

2. Letakkan wadah untuk menampung ASI yang telah disiapkan di depan puting.

3. Letakkan jari telunjuk dan jari tengah di posisi pukul 06.00, serta ibu jari di posisi pukul 12.00 pada aerola. Kemudian lakukan penekanan ke arah dada ibu tegak lurus dan pijat ke arah luar tanpa mengubah posisi jari. Ulangi gerakan seperti ini sampai selesai, kemudian ganti posisi ibu jari pada pukul 09.00, dan jari telunjuk serta jari tengah pada posisi pukul 03.00. Kedua posisi yang berbeda perlu dilakukan untuk memastikan bahwa ASI terperah dari semua segmen.

Dengan cara yang tepat, selain tidak menimbulkan rasa nyeri/sakit, jumlah ASI yang diperah pun bisa banyak dan kesterilannya juga tetap terjaga. Prosedur persiapan dan pemerahan ASI dengan tangan membutuhkan waktu kurang lebih 20-30 menit. Bila pasokan ASI sudah baik, patokan waktu dapat diabaikan. Batasan waktu bermanfaat bila ASI hanya keluar sedikit atau bahkan belum keluar sama sekali.

MENYIMPAN ASI PERAH

ASI perah harus disimpan dengan baik agar dapat bertahan lama. Caranya, simpan dalam wadah penyimpan khusus ASI atau gunakan botol steril, plastik higienis, lalu tutup rapat-rapat. Cantumkan jam dan tanggal ASI ketika diperah pada label, rekatkan ke wadah ASI. Bila disimpan di udara terbuka, ASI perah bisa tahan 6-8 jam, tapi dimasukkan ke dalam termos dan diberi es batu, akan tahan kira-kira 1×24 jam. Sedangkan bila dimasukan di lemari es, bisa tahan 2×24 jam, dan akan tahan lebih lama lagi yaitu 3 bulan bila bila dimasukkan dalam freezer. Hanya saja, bila dimasukkan ke dalam freezer, ASI akan mengalami perubahan dalam hal jumlah imunoglobulin (protein molekul yang berfungsi sebagai daya tahan tubuh) karena ada yang mati akibat kedinginan.

MENGHANGATKAN ASI

Bila ASI disimpan dalam freezer, sehari sebelum diminumkan, keluarkan ASI dan simpan di kulkas pendingin agar mencair. Sebelum diberikan pada bayi hangatkan ASI lebih dulu dengan meletakkan botol berisi ASI ke dalam mangkuk yang telah diisi air hangat suhu kamar (26-27°C), tidak boleh panas mendidih karena dapat merusak zat kekebalan tubuh yangter kandung dalam ASI. Jangan panaskan ASI langsung di atas api/microwave sebab dapat merusak komposisi dan kandungan gizinya.

BERIKAN ASI PAKAI SENDOK

Suapkan ASI suam-suam kuku dengan menggunakan sendok atau pipet plastik agar bayi tidak mengalami “bingung puting” (kesulitan untuk kembali menyusu dengan benar pada payudara ibu). Mengenai pemberian ASI pakai sendok/pipet plastik ini, boleh saja ibu melatihnya lebih dahulu sebelum masa cuti berakhir, akan tetapi tidak perlu dijadwalkan waktunya dan bisa dilakukan kapan saja. Satu hal yang pasti, pemberian ASI pakai sendok/pipet plastik hanya pada saat ibu bekerja atau ketika tidak bersama bayi. Jadi, setelah ibu kembali ke rumah, bayi harus tetap diberikan ASI secara langsung.

PANDUAN MEMILIH POMPA ASI

Pompa ASI bisa menjadi alternatif karena praktis dan hemat waktu.

* Bila sering bepergian, pilih pompa yang ringan atau berukuran kecil dan memiliki wadah yang praktis untuk dibawa-bawa.

* Bila waktu Anda terbatas karena aktivitas kantor yang padat, pilihlah pompa elektrik. Bila perlu, pilihlah yang memiliki 2 corong sekaligus agar lebih praktis.

* Alat pompa harus dapat dicuci semua bagiannya, kecuali tempat baterai/listriknya. Juga mudah dibongkar pasang, mengingat setiap bagian pompa harus disterilisasi setiap usai digunakan.

* Hendaknya pompa tidak mengeluarkan suara terlalu bising yang dapat memengaruhi konsentrasi saat memerah dan pada akhirnya memengaruhi jumlah perahan ASI.

* Pilih pompa yang memiliki pengaturan kekuatan menyedot sehingga dapat disetel sesuai keinginan dan kenyamanan Anda. Bahkan beberapa pompa ASI manual memiliki setelan kekuatan memompa.

* Pastikan corong pompa memiliki ukuran yang sesuai dengan ukuran payudara Anda.

* Beberapa pompa ASI dilengkapi sistem pengoperasian ganda.

Maksudnya, dapat digunakan secara manual sekaligus elektrik. Bahkan beberapa pompa dilengkapi pula dengan baterai cadangan sehingga bila sewaktu-waktu listrik mati atau ingin memompa di tempat yang tidak ada listrik, pompa ASI tetap dapat digunakan.

PLUS-MINUS

Pompa Manual

Pompa Elektrik

Plus Lebih praktis, karena tidak perlu baterai atau listrik sehingga dapat dibawa ke mana pun ibu pergi dan umumnya lebih tahan lama dibandingkan dengan yang elektrik. Tenaga listrik/baterai memungkinkan pemerahan dilakukan dengan konstan sehingga dapat lebih memaksimalkan pengosongan ASI pada payudara dan membuat produksi ASI tetap maksimal.
Minus “Tenaga” untuk memerahnya tidak konstan. Ketika tangan mulai lelah, tekanan pada pompa pun berkurang sehingga berdampak pada ASI yang dikeluarkan. Dapat rusak jika perangkatnya dipaksa bekerja terus karena kemungkinan menjadi aus pada komponen peralatannya lebih besar dan perlu tersedia baterai/listrik.

PERLENGKAPAN MENYUSUI

Agar aktivitas menyusui bisa berlangsung lancar dan nyaman, tentu ibu membutuhkan perlengkapan pendukungnya. Beberapa di antaranya adalah:

Harmony BreastpumpHarga: Rp519.000 Koleksi: B&A Mother & Babycare, Perkantoran Plaza Pacific Blok B2 No. 25, Kelapa Gading, Jakarta Timur, Telp.(021) 452 2249 Sterilisasi botolHarga: Rp382.000 Koleksi: Lavie Baby House, Pertokoan Puri Indah Blok 1/38, Jakarta Barat, Telp. (021) 581 8341). Cooling BagUntuk menyimpan ASI perah. Harga: Rp140.000 Koleksi: http://www.babyonstore.com, telp. (021) 914 73782 – 0815 8844056 Baby WarmerUntuk menghangatkan ASI perah. Harga: Rp145.000

JANGAN PERCAYA MITOS

Ketahuilah, salah satu kendala bagi ibu menyusui adalah kepercayaannya pada mitos. Padahal, yang namanya mitos tak dapat dibuktikan kebenarannya. Jadi, jangan percaya mitos ya, Bu! Nah, berikut ini sejumlah mitos yang kerap “menghantui” para ibu menyusui.

* ASI hari pertama harus dibuang.

Justru tak boleh dibuang, karena ASI yang keluar pada hari pertama sampai hari ke-7 (disebut kolostrum/susu jolong) mengandung zat putih telur (protein) yang kadarnya tinggi, terutama kandungan zat antiinfeksi/daya tahan tubuh (imunoglobulin). Sedangkan kadar laktosa (hidrat arang) dan lemaknya rendah sehingga mudah dicerna. Jadi, jika kolostrum yang berwarna jernih kekuningan ini dibuang, bayi tidak atau kurang mendapatkan zat-zat yang melindunginya dari infeksi.

* ASI belum keluar pada hari pertama sehingga perlu ditambah cairan lain.

Banyak ibu mengalami kesulitan menyusui di hari pertama dan mengeluhkan ASI-nya tidak bisa keluar. Namun tak perlu cemas karena di hari pertama, sebenarnya bayi belum memerlukan cairan sehingga tidak perlu diberikan cairan lain sebelum ASI “keluar”.

* Tiap kali hendak menyusui di waktu pagi (setelah bangun tidur), semburan pertama harus dibuang karena dianggap basi.

Tak ada istilah ASI basi selama ASI ada di payudara ibu. Cairan ASI sama halnya seperti darah yang mengandung mikroorganisme hidup. Lain hal bila berada di udara terbuka lebih dari 8 jam, makhluk hidup ini akan mati, yang menyebabkan ASI menjadi basi dan tak layak lagi dikonsumsi. Tapi selama masih ada di payudara ibu, kapan pun ibu akan memberikan, ASI selalu tetap steril dan segar.

* ASI semburan pertama harus dibuang seusai bepergian ke luar rumah.

ASI selalu bersih dan steril, sekalipun ibu baru selesai melakukan kegiatan membersihkan rumah atau berjalan-jalan di mal, misal. ASI terus memperbarui dirinya sendiri sehingga jika ASI tak terminum, akan terserap oleh tubuh dan akan terbentuk ASI baru yang diberikan pada si kecil.

* Banyak istirahat bisa menambah produksi ASI.

Yang betul, makin sering ASI diberikan, makin banyak pula ASI dihasilkan. Produksi ASI meningkat seiring dengan gerakan mengisap. Sebaliknya, jika dihentikan, lambat laun produksi ASI pun berkurang. Itulah mengapa, berikan ASI atau pompalah secara teratur.

* ASI yang seperti santan lebih bagus.

Soal warna dan kejernihan, jangan harapkan ASI sama putih dan bagusnya seperti susu kaleng. Jadi, bila ASI encer, keruh dan kuning, bukan berarti kualitasnya jelek. Warna ASI tergantung pula dari apa yang dimakan ibu. Jika ibu banyak makan protein, maka warnanya agak sedikit keruh, tapi tak apa-apa.

* ASI membuat bayi jadi obesitas.

Memang, bayi yang mendapatkan ASI dengan benar, umumnya lebih besar, terutama pada 6 bulan pertama, tapi bukan berarti ia mengalami kegemukan atau malah obesitas. Jadi, tetaplah memberikan ASI eksklusif sampai usia 6 bulan. Pemberian ASI dapat diteruskan hingga anak berusia 2 tahun. Ketahuilah, memberikan ASI sampai usia anak 2 tahun mampu memenuhi 1/3 kebutuhan kalori, 1/3 kebutuhan protein, 45% kebutuhan vitamin A dan 90% kebutuhan vitamin C.

* Susui bayi pada masing-masing payudara selama 15-30 menit secara bergantian.

Seperti sudah dijelaskan di atas, tak masalah jika bayi maunya hanya menyusu pada satu payudara. Namun boleh saja jika ibu ingin menawarkan bayi menyusu pada payudara yang belum diisapnya, asalkan tidak dengan memaksa.

Dalam hal waktu, juga tak ada batasannya. Biarkan bayi yang menentukan berapa lama ia menyusu. Usah khawatir si kecil tak akan terpenuhi kebutuhannya lantaran hanya menyusu sebentar. Bisa saja bayi haus dan tidak lapar. Bukankah yang tahu lapar atau haus hanya ia sendiri? Jika haus ia akan menyedot sebentar, tapi kalau memang lapar ia akan menyusu sampai mendapatkan hindmilk yang lebih banyak kandungan lemak dan karbohidratnya sehingga mengenyangkan.

* ASI bisa merusak kulit bayi.

Pada bayi memang ada penyakit kulit atopik dermatitis atau sering disebut milk dermatitis. Biasanya menyerang daerah pipi, tapi penyebabnya bukanlah ASI atau hasil kontak kulit dengan cairan susu, melainkan memang sudah ada kelainan kulit pada si bayi tersebut. Kelainan kulit ini berkaitan dengan kepekaan bawaan bayi yang disebut atopi. Biasanya terjadi pada anak yang berasal dari keluarga yang memiliki riwayat eksim dan alergi di hidung yang ditandai sering bersin (rinitis). Bila tak segera diobati, kulit akan menghitam dan mengeras.

* Tetesan ASI pada penis bayi dapat menyebabkan impoten.

Hal ini sama sekali tak benar, karena ASI adalah cairan yang sangat berharga untuk bayi dan tetap yang paling baik. ASI tak akan menimbulkan penyakit atau kendala apa pun bagi si bayi. Di negara-negara maju, pada saat menyusui, bayi justru dianjurkan bertelanjang supaya kulitnya dapat bersentuhan langsung dengan kulit ibu. Ibu dianjurkan mengelus-elus seluruh tubuh bayi, terutama panca indranya untuk melatih sensitivitas indra-indra tersebut. Penelitian menunjukkan, ibu yang menyusui sambil mengelus-elus tubuh bayinya, tanpa disambi mengerjakan hal lain, hanya terfokus pada bayi, dapat meningkatkan antibodi si kecil sampai 80%.

* ASI tak bisa memuaskan bayi “rakus’’.

ASI bisa mencukupi semua kebutuhan asupan makanan dan minuman bayi hingga bayi berusia 6 bulan. Rata-rata kebutuhan cairan bayi pada minggu pertama sekitar 80-100 ml/kg per hari, dan meningkat menjadi 140-160 ml/kg pada usia 3-6 bulan. Semua itu cukup dipenuhi hanya dengan ASI. Bahkan bagi bayi superrakus sekalipun.

* Bayi harus disusui pada kedua payudara.

Sebetulnya tak masalah jika bayi hanya mengisap satu payudara. Malah, umumnya bayi memilih salah satu payudara. Hanya saja, buat si ibu, secara kosmetik jadi enggak bagus karena payudara yang sering diisap akan menjadi lebih besar. Untuk mengatasinya, payudara yang jarang diisap bayi harus diperas dengan baik sehingga keduanya jadi sama-sama bekerja atau digunakan

sumber :http://www.tabloid-nakita.com/Khasanah/khasanah10488-03.htm

Let Down Reflex2

Keluarnya hormon oksitosin menstimulasi turunnya susu (milk ejection /
let-down reflex). Oksitosin menstimulasi otot di sekitar payudara
untuk memeras ASI keluar. Para ibu mendeskripsikan sensasi turunnya
susu dengan berbeda-beda, beberapa merasakan geli di payudara dan ada
juga yang merasakan sakit sedikit, tetapi ada juga yang tidak
merasakan apa-apa. Refleks turunnya susu tidak selalu konsisten
khususnya pada masa-masa awal. Tetapi refleks ini bisa juga
distimulasi dengan hanya memikirkan tentang bayi, atau mendengar suara
bayi, sehingga terjadi kebocoran. Sering pula terjadi, payudara yang
tidak menyusui bayi mengeluarkan ASI pada saat bayi menghisap payudara
yang satunya lagi. Lama kelamaan, biasanya setelah dua minggu, refleks
turunnya susu menjadi lebih stabil.

Refleks turunnya susu ini penting dalam menjaga kestabilan produksi
ASI, tetapi dapat terhalangi apabila ibu mengalami stres. Oleh karena
itu sebaiknya ibu tidak mengalami stres.

Refleks turunnya susu yang kurang baik adalah akibat dari puting
lecet, terpisah dari bayi, pembedahan payudara sebelum melahirkan,
atau kerusakan jaringan payudara. Apabila ibu mengalami kesulitan
menyusui akibat kurangnya refleks ini, dapat dibantu dengan pemijatan
payudara, penghangatan payudara dengan mandi air hangat, atau menyusui
dalam situasi yang tenang.

sumber :

http://keluargasehat.wordpress.com/2008/09/06/let-down-reflek-3/

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 112 pengikut lainnya.