Bidan Juga Manusia

Profesi bidan hingga kini tetap dibutuhkan walaupun terus tak diacuhkan. Ironis, memang. Padahal, peran bidan bagi negara amatlah besar, terutama di desa-desa, setidaknya untuk memberikan layanan kesehatan serta mengurangi angka kematian ibu dan bayi kala persalinan.

Sebagai catatan, angka kematian ibu (AKI) di Indonesia cukup tinggi. Malah, AKI di Indonesia adalah yang tertinggi dibandingkan dengan negara-negara di

ASEAN, yaitu 373 setiap 100.000 kelahiran pada tahun 1997, dan terus meningkat menjadi 391 setiap 100.000 kelahiran pada tahun 2002. Berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 1997, angka kematian bayi (AKB) adalah 52,2 per 1.000 kelahiran hidup. Di Jawa Barat, AKB yang tercatat adalah 43 kematian per 1.000 kelahiran. Selain itu, AKI pada saat melahirkan juga tinggi, yaitu 321 kematian per 100.000 kelahiran (Kompas, 9 juni 2005). Khusus di Kabupaten Bandung, AKB selama Januari 2006 sebanyak 14 dari 4.598 persalinan.

Menurut Kasubdin Kesehatan Keluarga Dinkes Kabupaten Bandung dr Hj Etty L Purnama, dibandingkan dengan AKB selama tahun 2004 dan 2005, jumlah 14 bayi meninggal termasuk tinggi. Selama tahun 2004, AKB hanya 101 dari 61.911 persalinan, sedangkan tahun 2005 ada 105 bayi meninggal dari 61.590 persalinan. Hal ini menyebabkan derajat kesehatan masyarakat Jawa Barat tidak pernah menempati peringkat sepuluh besar di antara provinsi-provinsi lainnya. Tahun 2005, peringkat derajat kesehatan Jawa Barat menempati posisi ke-17 dari 33 provinsi di Indonesia. Adapun penyebab utama AKI dan AKB, selain faktor medis yang meliputi pendarahan, eklamsia, dan infeksi, juga faktor manusia yang menangani kelahiran, dalam hal ini pasien dan keluarganya, dokter kandungan, bidan, dan dukun beranak (paraji, ma beurang, atau indung beurang). Khusus dalam dunia persalinan, peran bidan bisa dibilang paling penting.

Sebab, bidan-terutama di desa-desa-selain bertugas utama membantu ibu-ibu yang hendak melahirkan, juga menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan. Pelayanan bidan pun terasa lebih humanis ketimbang dokter kandungan karena melalui pendekatan kekeluargaan. Untuk masyarakat perkotaan, lepas dari faktor ekonomi, ibu-ibu hamil kiranya tidak terlalu mendapat kendala yang berarti. Sebab, di kota- kota terbilang banyak bidan yang siap siaga menangani pada masa dan pascapersalinan. Sementara itu, di desa-desa, apalagi di desa-desa yang terpencil, untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik susahnya bukan main. Belum memiliki Di Kabupaten Bandung, umpamanya, sebanyak 30 desa hingga kini belum memiliki bidan desa. Desa-desa itu tersebar di Kecamatan Rongga, Gununghalu, dan Cipongkor.

Untuk Cipongkor, dari delapan desa, baru ada tiga desa yang memiliki bidan desa. Seorang ibu hamil yang akan melahirkan, apalagi mengalami komplikasi, maka pertolongannya terbilang jauh, misalnya di RSU Soreang. Karena kurangnya keberadaan bidan di desa-desa, terlebih di desa- desa yang jauh dari kota kecamatan atau kota kabupaten, maka ketika masa hamil, persalinan, dan perawatan pascapersalinan, tak ada pilihan lain bagi para ibu kecuali meneruskan tradisi leluhurnya, yakni memercayakan sepenuhnya kepada jasa dukun beranak atau yang lebih dikenal dengan paraji, ma beurang, indung beurang atau apa pun namanya. Yang jelas sistem yang dikembangkan oleh paraji hingga kini umumnya menggunakan metode-metode tradisional. Bukan saya sangsi akan kualitas paraji, tapi dari segi kesehatan dan kehatian-kehatian kala menangani ibu hamil, umumnya mereka menggunakan metode yang sama atau sesuai dengan yang mereka dapatkan dari leluhurnya, walaupun kendala atau jenis penyakit dari tahun ke tahun tentu beragam dan bertambah. Kita tentu masih ingat akan kasus aborsi yang terjadi tahun lalu.

Lia Yulianti, warga Desa/Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, tewas seketika saat ditangani seorang paraji. Menurut pengakuan tersangka, proses mengeluarkan janin dari tubuh korban diawali dengan memijat bagian dada dan perut korban. Tak berselang lama, korban terkulai lemas dan akhirnya meningal dunia seketika. Itu hanya sepenggal kisah nyata salah satu akibat kurangnya keberadaan bidan di desa. Padahal, kesadaran masyarakat desa akan pentingnya kesehatan kini sudah meningkat. Masyarakat sudah lebih mengetahui pentingnya perawatan yang baik selama masa hamil, persalinan, dan pascapersalinan. Mereka pun sudah menyadari kurang baiknya pelayanan kesehatan dengan cara-cara lama yang dipraktikkan paraji. Kesadaran masyarakat itu bukan tak mungkin merupakan hasil sosialisai para pelaku kesehatan di negeri ini, termasuk kaum bidan dan kalangan mahasiswa.

Fasilitas minim Lalu, mengapa para bidan enggan turun ke desa-desa? Untuk menjawab pertanyaan ini tentu dibutuhkan penelitian yang sistematis dan persiapan ekstra khusus. Namun, diakui atau tidak, seperti profesi lainnya, guru umpamanya, kurangnya minat bidan turun ke desa salah satunya dikarenakan minimnya fasilitas yang diberikan pemerintah. Sebab, bidan juga manusia. Mereka butuh kesejahteraan yang mencukupi. Alumnus sekolah kebidanan tidak lantas bisa diterima menjadi pegawai negeri karena untuk menjadi PNS mereka mesti melanjutkan kuliah lagi. Dalam catatan Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia (PP IBI) Wastidar Mubir, bidan di desa sering mengalami keterlambatan gaji.

Tingkat kemampuan warga desa pun tak cukup untuk membayar para bidan. Selain itu, bidan di desa-desa pun kerap berhadapan dengan paraji. Mereka seolah merasa tersaingi. Lahan usaha menjadi lebih sempit sehingga terjadilah persaingan yang tidak sehat. Alhasil, keberadaan bidan di desa harus ekstra prihatin. Makanya, alumnus sekolah kebidanan pun mesti berpikir beberapa kali jika akan terjun ke desa. Padahal, bila pemerintah memberi perhatian lebih pada bidan dan para bidan rukun gawe dengan paraji, bukan tak mungkin baik AKB maupun AKI bisa diminimalisasi.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 113 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: