Sebab Sunsang

Jika kondisi ini terjadi pada kehamilan Anda, maka jangan buru-buru panik. Asalkan usia kandungan masih di bawah 32 minggu maka si kecil dalam perut masih bisa dikembalikan pada posisi normal kok.

Posisi sungsang, posisi janin memanjang dengan kepala di bagian atas rahim dan bokongnya ada di bagian bawah, tergolong sebagai kelainan letak janin. Kondisi ini biasanya sudah terdekteksi saat kehamilan memasuki trimester kedua. Biasanya Anda akan merasakan kandungan terasa penuh di bagian atas dengan gerakan janin terasa lebih banyak di bagian bawah.

Mengapa bisa sungsang?

  1. Bobot janin relatif rendah. Hal ini mengakibatkan janin bebas bergerak. Ketika menginjak usia 28-34 minggu kehamilan, berat janin makin membesar, sehingga tidak bebas lagi bergerak. Pada usia tersebut, umumnya janin sudah menetap pada satu posisi. Kalau posisinya salah, maka disebut sungsang.
  2. Rahim yang sangat elastis. Hal ini biasanya terjadi karena ibu telah melahirkan beberapa anak sebelumnya, sehingga rahim sangat elastis dan membuat janin berpeluang besar untuk berputar hingga minggu ke-37 dan seterusnya.
  3. Hamil kembar. Adanya lebih dari satu janin dalam rahim menyebabkan terjadinya perebutan tempat. Setiap janin berusaha mencari tempat yang nyaman, sehingga ada kemungkinan bagian tubuh yang lebih besar (yakni bokong janin) berada di bagian bawah rahim.
  4. Hidramnion (kembar air). Volume air ketuban yang melebihi normal menyebabkan janin lebih leluasa bergerak walau sudah memasuki trimester ketiga.
  5. Hidrosefalus. Besarnya ukuran kepala akibat kelebihan cairan (hidrosefalus) membuat janin mencari tempat yang lebih luas, yakni di bagian atas rahim.
  6. Plasenta previa. Plasenta yang menutupi jalan lahir dapat mengurangi luas ruangan dalam rahim. Akibatnya, janin berusaha mencari tempat yang lebih luas yakni di bagian atas rahim.
  7. Panggul sempit. Sempitnya ruang panggul mendorong janin mengubah posisinya menjadi sungsang.
  8. Kelainan bawaan. Jika bagian bawah rahim lebih besar daripada bagian atasnya, maka janin cenderung mengubah posisinya menjadi sungsang.

Bagaimana cara mendeteksi sungsang?

  1. Melakukan perabaan perut bagian luar. Cara ini dilakukan oleh dokter atau bidan. Janin akan diduga sungsang bila bagian yang paling keras dan besar berada di kutub atas perut. Perlu diketahui bahwa kepala merupakan bagian terbesar dan terkeras dari janin.
  2. Melalui pemeriksaan bagian dalam menggunakan jari. Cara ini pun hanya bisa dilakukan oleh dokter atau bidan. Bila di bagian panggul ibu lunak dan bagian atas keras, berarti bayinya sungsang.
  3. Cara lain adalah dengan ultrasonografi (USG).

Tindakan apa yang harus dilakukan?
Selain upaya yang dilakukan dokter, maka Andapun bisa mengupayakan sendiri agar janin kembali ke posisi semula.

  1. Anda dianjurkan untuk melakukan posisi bersujud (knee chest position), dengan posisi perut seakan-akan menggantung ke bawah. Cara ini harus rutin dilakukan setiap hari sebanyak 2 kali, misalnya pagi dan sore. Masing-masing selama 10 menit. Bila posisi ini dilakukan dengan baik dan teratur, kemungkinan besar bayi yang sungsang dapat kembali ke posisi normal. Kemungkinan janin akan kembali ke posisi normal, berkisar sekitar 92 persen. Dan posisi bersujud ini tidak berbahaya karena secara alamiah memberi ruangan pada bayi untuk berputar kembali ke posisi normal.
  2. Usaha lain yang dapat dilakukan oleh dokter adalah mengubah letak janin sungsang menjadi normal dengan cara externalcephalic versin/ECV. Metode ini adalah mengubah posisi janin dari luar tubuh sang ibu. Cara ini dilakukan saat kandungan mulai memasuki usia 34 minggu. Sayangnya, cara ini menimbulkan rasa sakit bahkan kematian janin, akibat kekurangan suplai oksigen ke otaknya.

Apa yang terjadi saat persalinan?
Posisi janin sungsang tentunya dapat memengaruhi proses persalinan. Proses persalinan yang salah, jelas menimbulkan risiko, seperti janin mengalami pundak patah atau saraf di bagian pundak tertarik (akibat salah posisi saat menarik bagian tangannya ke luar), perdarahan otak (akibat kepalanya terjepit dalam waktu yang lama), patah paha (akibat salah saat menarik paha ke luar), dan lain-lain. Untuk itu biasanya dokter menggunakan partograf, alat untuk memantau kemajuan persalinan. Jika persalinan dinilai berjalan lambat, maka harus segera dilakukan operasi bedah sesar.

sumber: conectique.com

Varises Vagina Saat Hamil

Pada ibu hamil, varises tak hanya menyerang bagian kaki tapi juga vagina dan anus. Jika tidak diwaspadai, kondisi ini bisa menjadi berbahaya karena dapat menghambat proses persalinan secara normal atau pervaginam.

Agar lebih waspada terhadap varises sebaiknya kenali gejala dan cara menghindarinya

Apakah varises itu?
Varises adalah pembuluh darah balik di bawah kulit atau selaput lendir (mukosa) yang melebar dan berkelok atau melingkar akibat kelainan katup dalam pembuluh darah tersebut. Biasanya varises terjadi pada tangan dan kaki, namun pada beberapa orang dapat terjadi di tempat-tempat lain seperti pada lambung, rektum (usus besar dekat anus), vagina, skrotum, dan vulva (bibir kemaluan). Gatal-gatal atau perubahan warna kulit menjadi kebiruan adalah ciri-ciri varises yang paling mudah dikenali.

Gejala varises vagina

  • Biasanya si ibu atau dokter mendeteksi dengan cara meraba vagina, jika terasa ada tonjolan maka bisa dipastikan ibu hamil mengalai varises vagina.
  • Ibu hamil mengeluh cepat lelah dan pucat.

Mengapa ibu hamil mengalaminya?
Sekitar 20-30% ibu hamil mengalami varises. Umumnya varises terjadi di daerah panggul dan anggota gerak bagian bawah. Hal ini karena pembuluh-pembuluh darah di daerah inilah yang berhubungan erat dengan rahim. Selain itu, kehamilan menyebabkan perempuan mengalami perubahan hormonal, terutama peningkatan hormon progesteron. Nah, perubahan hormonal inilah yang membuat elastisitas dinding pembuluh darah makin bertambah, sehingga dinding pembuluh darah (baik arteri maupun vena) makin lentur. Akibatnya, pembuluh darah jadi tambah besar dan melebar.

Pelebaran pembuluh darah ini perlu untuk memenuhi kebutuhan janin, agar aliran darah dan volume darah yang memang makin meningkat pada wanita hamil dapat tersuplai dengan baik, hingga pertumbuhan janin pun berlangsung normal.

Faktor risiko
Ada banyak faktor risiko (bukan penyebab) yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya varises selama kehamilan yaitu faktor keturunan, kegemukan (obesitas), sikap tubuh yang salah misalnya terlalu lama duduk atau lama berdiri, penggunaan pil KB atau pengobatan dengan estrogen, pemilihan pakaian hamil yang salah, misalnya terlalu ketat. Hamil lebih dari dua kali serta kehamilan di atas usia 40 tahun.

Pengaruh pada proses persalinan
Ibu hamil yang mengalami varises vagina, masih dapat melalui persalinan normal. Namun apabila varises pada vagina yang diderita cukup berat, biasanya dokter menyarankan tindakan operasi sesar untuk meminimalisasikan risiko pecahnya dinding pembuluh darah akibat trauma/laserasi jalan pada saat bayi lahir. Varises vagina jika lambat terdekteksi dapat mengakibatkan perdarahan yang menyebabkan kematian si ibu.

Tindakan pencegahan
Hingga saat ini belum ada alat khusus untuk mencegah varises vagina pada ibu hamil. Namun bila ibu hamil rajin mengangkat kaki dengan cara menaruhnya di atas bantal kala tidur-tiduran atau membaca buku, sedikit banyak bisa membantu melancarkan aliran darah. Cara ini terbukti dapat mengurangi beban yang harus ditopang kaki. Hindari penggunaan sepatu, sebaiknya dengan hak maksimal 2 cm agar aliran darah tak terhambat. Kemudian saat tidur, usahakan jangan berbaring hanya dalam satu posisi untuk menghindari tekanan pada pembuluh darah di satu tempat.

conectique.com

Kehamilan


RUMUS TAKSIRAN PERSALINAN ( HUKUM NAEGLER )

Rumus : HPHT = tanggal + 7, bulan –3 dan tahun tambah 1 bila bulan dikurang 3 hasilnya positif atau nol untuk siklus 28 hari.

Sedangkan untuk siklus 35 hari : tanggal + 14, seterusnya sama.

Contoh : HPHT 11-05-2001, taksirannya ( 11+7, 05-3, 2001+1 )

= 18 – 02 – 2002 (siklus 28 hari)

RUMUS TAKSIRAN BERAT BADAN JANIN PADA SAAT KALA 1

Rumus : tinggi fundus ( cm ) – N x 155

N = 13 bila kepala belum melewati PAP

N = 12 bila kepala berada diatas spina isciadika

N = 11 bila kepala berada dibawah spina isciadika

RUMUS PERHITUNGAN OVULASI PADA WANITA

Menstruasi…………14 hari………..menstruasi berikutnya ( siklus 28 hari )

Menstruasi…………21 hari………..menstruasi berikutnya ( siklus 35 hari )

RUMUS MENGHITUNG UMUR KEHAMILAN

( Mc DONALD)

Tinggi fundus ( cm ) = / bulan

3, 5

Contoh : tinggi fundus 24 cm maka umur kehamilan

=24 / 3,5 = 6,8 bulan = 27 minggu

RUMUS MENGHITUNG DENYUT JANTUNG JANIN

Hitung selama 5 detik selang 5 detik hitung lagi 5 detik selang 5 detik lalu hitung lagi 5 detik. Hasilnya teratur bila angka ke 1 dan 3 sama.

KETUBAN PECAH DINI

Ketuban pecah dini (“early rupture of the membrane”) : ada bermacam-macam batasan / teori / definisi.

Ada teori yang menghitung berapa jam sebelum in partu, misalnya 2 atau 4 atau 6 jam sebelum in partu.
Ada juga yang menyatakan dalam ukuran pembukaan serviks pada kala I, misalnya ketuban yang pecah sebelum pembukaan serviks 3 cm atau 5 cm, dan sebagainya.

Prinsipnya adalah ketuban yang pecah “sebelum waktunya”.

Masalahnya : Kapan selaput ketuban pecah (spontan) pada persalinan normal ?

Normal selaput ketuban pecah pada akhir kala I atau awal kala II persalinan. Bisa juga belum pecah sampai saat mengedan, sehingga kadang perlu dipecahkan (amniotomi).

KETUBAN PECAH DINI BERHUBUNGAN ERAT DENGAN
PERSALINAN PRETERM DAN INFEKSI INTRAPARTUM

Patofisiologi

Banyak teori, mulai dari defek kromosom, kelainan kolagen, sampai infeksi.
Pada sebagian besar kasus ternyata berhubungan dengan infeksi (sampai 65%).
High virulence : bacteroides. Low virulence : lactobacillus.

Kolagen terdapat pada lapisan kompakta amnion, fibroblas, jaringan retikuler korion dan trofoblas.
Sintesis maupun degradasi jaringan kolagen dikontrol oleh sistem aktifitas dan inhibisi interleukin-1 (IL-1) dan prostaglandin.
Jika ada infeksi dan inflamasi, terjadi peningkatan aktifitas IL-1 dan prostaglandin, menghasilkan kolagenase jaringan, sehingga terjadi depolimerisasi kolagen pada selaput korion / amnion, menyebabkan selaput ketuban tipis, lemah dan mudah pecah spontan.

Faktor risiko / predisposisi ketuban pecah dini / persalinan preterm

1. kehamilan multipel : kembar dua (50%), kembar tiga (90%)
2. riwayat persalinan preterm sebelumnya : risiko 2 – 4x
3. tindakan sanggama : TIDAK berpengaruh kepada risiko, KECUALI jika higiene buruk, predisposisi terhadap infeksi
4. perdarahan pervaginam : trimester pertama (risiko 2x), trimester kedua/ketiga (20x)
5. bakteriuria : risiko 2x (prevalensi 7%)
6. pH vagina di atas 4.5 : risiko 32% (vs. 16%)
7. servix tipis / kurang dari 39 mm : risiko 25% (vs. 7%)
8. flora vagina abnormal : risiko 2-3x
9. fibronectin > 50 ng/ml : risiko 83% (vs. 19%)
10. kadar CRH (corticotropin releasing hormone) maternal tinggi misalnya pada stress psikologis, dsb, dapat menjadi stimulasi persalinan preterm

Strategi pada perawatan antenatal

- deteksi faktor risiko
- deteksi infeksi secara dini
- USG : biometri dan funelisasi
Trimester pertama : deteksi faktor risiko, aktifitas seksual, pH vagina, USG, pemeriksaan Gram, darah rutin, urine.
Trimester kedua dan ketiga : hati-hati bila ada keluhan nyeri abdomen, punggung, kram di daerah pelvis seperti sedang haid, perdarahan per vaginam, lendir merah muda, discharge vagina, poliuria, diare, rasa menekan di pelvis.

Jika ketuban pecah : jangan sering periksa dalam !! Awasi tanda-tanda komplikasi.

Komplikasi ketuban pecah dini

1. infeksi intra partum (korioamnionitis) ascendens dari vagina ke intrauterin.
2. persalinan preterm, jika terjadi pada usia kehamilan preterm.
3. prolaps tali pusat, bisa sampai gawat janin dan kematian janin akibat hipoksia (sering terjadi pada presentasi bokong atau letak lintang).
4. oligohidramnion, bahkan sering partus kering (dry labor) karena air ketuban habis.

Keadaan / faktor-faktor yang dihubungkan dengan partus preterm

1. iatrogenik : hygiene kurang (terutama), tindakan traumatik
2. maternal : penyakit sistemik, patologi organ reproduksi atau pelvis, pre-eklampsia, trauma, konsumsi alkohol atau obat2 terlarang, infeksi intraamnion subklinik, korioamnionitis klinik, inkompetensia serviks, servisitis/vaginitis akut, KETUBAN PECAH pada usia kehamilan preterm.
3. fetal : malformasi janin, kehamilan multipel, hidrops fetalis, pertumbuhan janin terhambat, gawat janin, kematian janin.
4. cairan amnion : oligohidramnion dengan selaput ketuban utuh, ketuban pecah pada preterm, infeksi intraamnion, korioamnionitis klinik.
5. placenta : solutio placenta, placenta praevia (kehamilan 35 minggu atau lebih), sinus maginalis, chorioangioma, vasa praevia.
6. uterus : malformasi uterus, overdistensi akut, mioma besar, desiduositis, aktifitas uterus idiopatik.

Persalinan preterm (partus prematurus) : persalinan yang terjadi pada usia kehamilan antara 20-37 minggu.
Tanda : kontraksi dengan interval kurang dari 5-8’, disertai dengan perubahan serviks progresif, dilatasi serviks nyata 2 cm atau lebih, serta penipisan serviks berlanjut sampai lebih dari 80%.
Insidens rata-rata di rumahsakit2 besar di Indonesia : 13.3% (10-15%)

(persalinan preterm – ada kuliahnya sendiri)

INFEKSI INTRAPARTUM

Infeksi intrapartum adalah infeksi yang terjadi dalam masa persalinan / in partu.

Disebut juga korioamnionitis, karena infeksi ini melibatkan selaput janin.

Pada ketuban pecah 6 jam, risiko infeksi meningkat 1 kali. Ketuban pecah 24 jam, risiko infeksi meningkat sampai 2 kali lipat.

Protokol : paling lama 2 x 24 jam setelah ketuban pecah, harus sudah partus.

Patofisiologi

1. ascending infection, pecahnya ketuban menyebabkan ada hubungan langsung antara ruang intraamnion dengan dunia luar.
2. infeksi intraamnion bisa terjadi langsung pada ruang amnion, atau dengan penjalaran infeksi melalui dinding uterus, selaput janin, kemudian ke ruang intraamnion.
3. mungkin juga jika ibu mengalami infeksi sistemik, infeksi intrauterin menjalar melalui plasenta (sirkulasi fetomaternal).
4. tindakan iatrogenik traumatik atau higiene buruk, misalnya pemeriksaan dalam yang terlalu sering, dan sebagainya, predisposisi infeksi.

Kuman yang sering ditemukan : Streptococcus, Staphylococcus (gram positif), E.coli (gram negatif), Bacteroides, Peptococcus (anaerob).

Diagnosis infeksi intrapartum

1. febris di atas 38oC (kepustakaan lain 37.8oC)
2. ibu takikardia (>100 denyut per menit)
3. fetal takikardia (>160 denyut per menit)
4. nyeri abdomen, nyeri tekan uterus
5. cairan amnion berwarna keruh atau hijau dan berbau
6. leukositosis pada pemeriksaan darah tepi (>15000-20000/mm3)
7. pemeriksaan penunjang lain : leukosit esterase (+) (hasil degradasi leukosit, normal negatif), pemeriksaan Gram, kultur darah.

Komplikasi infeksi intrapartum

1. komplikasi ibu : endometritis, penurunan aktifitas miometrium (distonia, atonia), sepsis CEPAT (karena daerah uterus dan intramnion memiliki vaskularisasi sangat banyak), dapat terjadi syok septik sampai kematian ibu.
2. komplikasi janin : asfiksia janin, sepsis perinatal sampai kematian janin.

Prinsip penatalaksanaan

1. pada ketuban pecah, terminasi kehamilan, batas waktu 2 x 24 jam
2. jika ada tanda infeksi intrapartum, terminasi kehamilan / persalinan batas waktu 2 jam.
3. JANGAN TERLALU SERING PERIKSA DALAM
4. bila perlu, induksi persalinan
5. observasi dan optimalisasi keadaan ibu : oksigen !!
6. antibiotika spektrum luas : gentamicin iv 2 x 80 mg, ampicillin iv 4 x 1 mg, amoxicillin iv 3 x 1 mg, penicillin iv 3 x 1.2 juta IU, metronidazol drip.
7. uterotonika : methergin 3 x 1 ampul drip
8. pemberian kortikosteroid : kontroversi. Di satu pihak dapat memperburuk keadaan ibu karena menurunkan imunitas, di lain pihak dapat menstimulasi pematangan paru janin (surfaktan). Di RSCM diberikan, bersama dengan antibiotika spektrum luas. Hasil cukup baik.

Ibu hamil dengan risiko tinggi

Apakah yang dimaksud Ibu hamil dengan risiko tinggi ?

Yaitu Ibu Hamil yang mengalami risiko atau bahaya yang lebih besar pada waktu kehamilan maupun persalinan, bila dibandingkan dengan Ibu Hamil yang normal.

Siapakah yang termasuk Ibu Hamil dengan Risiko Tinggi ?

- Ibu dengan tinggi badan kurang dari 145 cm.

- Bentuk panggul ibu yang tidak normal.

- Badan Ibu kurus pucat.

- Umur Ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun

- Jumlah anak lebih dari 4 orang.

- Jarak kelahiran anak kurang dari 2 tahun.

- Adanya kesulitan pada kehamilan atau persalinan yang lalu.

- Sering terjadi keguguran sebelumnya.

- Kepala pusing hebat.

- Kaki bengkak.

- Perdarahan pada waktu hamil.

- Keluar air ketuban pada waktu hamil.

- Batuk-batuk lama.

Bahaya apa saja yang dapat ditimbulkan akibat Ibu hamil dengan risiko tinggi ?

- Bayi lahir belum cukup bulan.

- Bayi lahir dengan berat kahir rendah (BBLR).

- Keguguran (abortus).

- Persalinan tidak lancar / macet.

- Perdarahan sebelum dan sesudah persalinan.

- Janin mati dalam kandungan.

- Ibu hamil / bersalin meninggal dunia.

- Keracunan kehamilan/kejang-kejang.

Apakah kehamilan risiko tinggi dapat dicegah ?

Kehamilan risiko tinggi dapat dicegah bila gejalanya ditemukan sedini mungkin sehingga dapat dilakukan tindakan perbaikinya.

Bagaimana pencegahan kehamilan risiko tinggi dapat dilakukan ?

- Dengan memeriksakan kehamilan sedini mungkin dan teratur ke Posyandu, Puskesmas, Rumah Sakit, paling sedikit 4 kali selama masa kehamilan.

- Dengan mendapatkan imunisasi TT 2X.

- Bila ditemukan kelainan risiko tinggi pemeriksaan harus lebih sering dan lebih intensif.

- Makan makanan yang bergizi yaitu memenuhi 4 sehat 5 sempurna.

Apa yang dapat dilakukan seorang Ibu untuk menghindari bahaya kehamilan risiko tinggi ?

- Dengan mengenal tanda-tanda kehamilan risiko tinggi.

- Segera ke Posyandu, Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat bila ditemukan tanda-tanda kehamilan risiko tinggi.

PLUS-MINUS HAMIL DI USIA TUA

sumber: http://yuwielueninet.wordpress.com

Benarkah hamil anak pertama tak boleh lebih dari usia 35 tahun? Apa saja bahayanya? Bagaimana peran pasangan dalam hal ini?

“Saya sering ditanya saudara dan kenalan, apa enggak takut melahirkan di usia menjelang 40 tahun? Habis, mau bagaimana lagi? Menikahnya juga baru ‘kemarin’. Ya, dijalani saja sambil terus berdoa supaya selamat,” tutur seorang calon ibu berusia 37 tahun.

Memang, kebanyakan wanita diliputi kekhawatiran kala kehamilan baru dialami setelah usia meninggi. Tapi jika itu yang terjadi pada Anda, tak perlu cemas. Sekarang ini makin banyak wanita melahirkan di atas usia 35 tahun. Bahkan, tak jarang melahirkan bayi pertama di usia empat puluhan.

Menurut dr. Agustinus Gatot, Sp.OG, dari RS Mitra Keluarga, siap-tidaknya seorang ibu yang hamil di usia tua, lebih karena faktor si ibu sendiri. “Adakalanya justru ibu yang memulai kehamilan di usia ini, jauh lebih mantap. Sebab, biasanya telah mempersiapkan segalanya dengan matang sejak memulai pernikahan,” terang Gatot. Sebaliknya, ibu yang tak siap mental, lebih disebabkan ia merasa tak percaya diri menghadapi kehamilannya. “Ia merasa sudah tua sehingga menganggap dirinya tak mampu.”

BERISIKO TINGGI

Dalam ilmu kedokteran, terang Gatot, usia reproduksi sehat untuk hamil antara 25-30 tahun. Sehingga, dari segi kesehatan reproduksi, sebetulnya risiko pertama dari usia ini adalah tak dapat hamil karena telah berkurangnya kesuburan. Jadi, bila si wanita usianya telah melewati usia reproduksi sehat untuk hamil ternyata kemudian hamil, berarti risiko itu telah terlewati.

Hanya saja, seperti diakui Gatot, usia ini memang tergolong berisiko tinggi dalam kehamilan. Yakni, melahirkan bayi dengan sindroma down, yang berciri khas berbagai tingkat keterbelakangan mental, ciri wajah tertentu, berkurangnya tonus otot, dan sebagainya. “Risiko ini akan meningkat sesuai dengan usia ibu, yakni 6-8 per mil untuk usia 35 sampai 39 tahun dan 10-15 per mil untuk usia di atas 40 tahun,” jelas Gatot.

Kelainan kromoson dan lainnya yang diperkirakan karena sel telur sudah berusia lanjut, terkena radiasi, terpengaruh obat-obatan, infeksi, dan sebagainya, diduga merupakan penyebab sindroma down.

Untuk mencermati adanya sindroma ini, dapat dilakukan pemeriksaan amniosentesis. Pada pemeriksaan ini cairan ketuban diambil melalui alat semacam jarum yang dimasukkan melalui perut ibu. Bisa juga dilakukan dengan cara kordosentesis. “Bedanya, jika amniosentesis mengambil cairan ketuban, pada kordosentesis diambil sampel darah janin dari tali pusat,” jelas Gatot.

Pemeriksaan itu sendiri bisa dilakukan setelah kehamilan memasuki usia 16-20 minggu. Jika ditemukan kelainan, dokter akan menyerahkan keputusan pada pasangan suami-istri. Apakah akan meneruskan kehamilan atau menggugurkannya. “Pemeriksaan ini jarang dilakukan mengingat biayanya yang masih cukup tinggi,” ujar Gatot. Umumnya ibu memasrahkan segalanya pada Yang Kuasa.

Kecuali melahirkan bayi dengan sindroma down, makin tinggi usia ibu main tinggi pula risiko untuk melahirkan. Hal ini dapat berisiko bagi kesehatan ibu sendiri. Bahkan, risiko kematian pun meningkat.

Ada beberapa hal yang perlu diwaspadai oleh ibu hamil usia ini, seperti perdarahan postpartum (sesudah melahirkan), hipertensi, dan eklampsia.

PERAWATAN TERBAIK

Kendati demikian, pada dasarnya menjalani kehamilan pada usia di atas 35 tahun, tak berbeda dengan usia lain. Yang terpenting dan pertama ialah kesiapan ibu menjalani kehamilan itu. Nah, dengan perawatan pralahir yang baik, maka ibu hamil berisiko pun bisa mengurangi risiko tersebut.

Apa saja perawatan pralahir itu? “Salah satunya tentu dengan pemeriksaan rutin oleh dokter atau bidan,” ujar Gatot. Dengan demikian, jika ada gangguan atau kelainan akan bisa segera diketahui dan ditangani. Bahkan, menjelang kehamilan, calon ibu harus menyiapkan diri dengan pemeriksaan untuk berbagai infeksi, seperti TORCH (toksoplasmosis, rubella, citomegalovirus, dan sebagainya).

Juga amat perlu senantiasa menjaga menu makanan. “Ibu harus melakukan diet yang baik. Artinya, mengkonsumi makanan cukup gizi. Bukan cuma untuk si ibu, tapi juga demi si janin.” Dengan menjalani diet, lanjut Gatot, si ibu sekaligus bisa mencapai berat badan ideal (tak lebih dan tak kurang) sehingga ibu bisa terhindar dari berbagai komplikasi seperti sakit gula, tekanan darah tinggi, varises, wasir, berat lahir bayi yang rendah, atau kesulitan persalinan karena ukuran bayi yang terlalu besar.

Selain itu, bergaya pola hidup sehat seperti menjauhi rokok, alkohol, dan obat-obatan yang tak perlu, juga akan sangat membantu. Dengan demikian risiko calon ibu menjadi berkurang dan si ibu pun bisa menjalani kehamilan serta persalinan dengan lancar. Jadi, tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.

Riesnawiati Soelaeman

Menghadapi Kehamilan Beresiko Tinggi

Kehamilan adalah proses normal untuk dialami, bukan penyakit yang harus diobati. Tapi jika kehamilan Anda berisiko tinggi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pasangan suami-istri di mana istri menghadapi kehamilan dengan risiko tinggi.

* Rasa Cemas

Anda berdua mungkin akan dipenuhi rasa cemas setelah mengetahui risiko yang mungkin dialami. Yang lebih parah, Anda berdua mungkin tak berharap terlalu banyak terhadap kondisi janin.

Tapi Anda berdua tak boleh larut dalam kecemasan. Apalagi kehamilan yang disertai kecemasan sangat tak baik pengaruhnya bagi si ibu maupun janin.

* Marah

Kemarahan juga kerap melanda wanita yang menjalani kehamilan berisiko. Misalnya ketika harus bed rest, ia merasa dibelenggu oleh aturan yang tak biasanya karena sebelumnya ia termasuk tipe wanita enerjik. Jadi, aturan itu terasa begitu menyiksanya.

Tak perlu berkecil hati. Jalani saja dengan santai. Ingat, semua itu demi Anda dan janin di kandungan.

* Merasa Tertekan

Karena banyak anjuran dan larangan, si ibu akan terus-menerus mengingatnya. Ia takut untuk berbuat sesuatu di luar itu. Sehingga tiap kali akan berbuat sesuatu, selalu dimulai dengan pertanyaan, “Bolehkah saya melakukan ini? Apakah ini tak akan bertambah membahayakan bayi saya?”

Menghilangkan sama sekali rasa tertekan itu memang agak mustahil. Berbagilah dengan pasangan, agar perasaan itu sedikit berkurang.

* Merasa Bersalah

Di sisi lain, wanita dengan kehamilan berisiko tinggi juga bisa merasa bersalah, karena ia tak bisa menjalani kehamilan seperti kebanyakan wanita lain. Misalnya, dokter banyak memberi obat-obatan, larangan, dan anjuran.

Ia merasa, dirinyalah yang menyebabkan semua itu. Padahal, tentu saja bukan. Pasangannya pun akan diliputi rasa bersalah, karena ia menganggap dirinya yang menyebabkan istrinya “menderita”. Padahal, kenyataannya tidaklah demikian.

* Menganggap Diri Kurang

Seorang wanita yang tak memiliki kehamilan “normal” juga bisa menganggap dirinya tak mampu atau kurang. Harus diingat, ada banyak hal yang di luar kekuatan dan kemampuan kita. Tapi, percayalah, jika kita menjalaninya dengan ikhlas, segalanya akan berjalan lancar.

Riesnawiati

Pengalaman Berharga

Lily, seorang karyawati bank swasta hamil untuk pertama kalinya ketika usianya sudah memasuki 38 tahun. “Saya memang menikah di usia yang sudah enggak muda lagi, 36 tahun,” akunya. Karena itu, Lily dan suaminya sudah tahu bahwa mereka tergolong pasangan yang “terlambat” untuk hamil.

“Tapi sebelum hamil, saya berkonsultasi dulu dengan dokter,” tutur Lily. Ia pun melakukan pemeriksaan cukup lengkap, termasuk TORCH. “Saya ingin menjalani kehamilan dengan tenang. Apalagi saya sudah tahu bahwa kehamilan saya berisiko karena usia saya,” lanjutnya. Bahkan, ia mengaku sampai melakukan pemeriksaan rutin ke dokter tiap dua minggu sekali. “Sebetulnya, sih, dokter enggak meminta demikian. Saya sendiri yang menginginkannya, agar bisa lebih yakin,” terangnya.

Dalam menjalani kehamilannya, Lily merasa tak berbeda seperti wanita lain yang kehamilannya tak berisiko. Misalnya, pada trimester pertama, ia mengalami mual-mual hebat, yang lalu menghilang di trimester kedua. “Cuma, saya sering kesemutan,” katanya.

Kendati demikian, ia tak mengurangi kegiatannya. Ia tetap bekerja seperti biasa. Ia pun sangat menjaga mutu makanannya. Hanya makanan terbaik buat janin di rahimnya yang boleh masuk ke mulutnya. “Sampai-sampai saya diledekin teman-teman, tapi saya enggak peduli. Pokoknya, yang boleh masuk ke mulut saya hanyalah makanan sehat penuh gizi. Bahkan, saya sama sekali tidak makan makanan instan,” tuturnya.

Ketika kehamilannya mencapai usia 17 minggu, dokter menyarankannya untuk menjalani tes amniosentesis. “Saya berdiskusi cukup lama tentang hal itu. Saya menimbang baik buruknya. Saya pun berdoa memohon petunjuk,” katanya. Akhirnya, ia bersama suami memutuskan untuk meneruskan kehamilan tanpa menjalani tes itu. “Saya pasrah pada Yang Kuasa. Saya yakin kehamilan ini yang terbaik buat saya,” katanya lagi.

Hasilnya, memang sesuai harapan. Lily melahirkan normal, seorang bayi laki-laki yang sehat dengan berat 3,45 kg dan panjang 51 cm. “Cukup satu saja. Usia saya sekarang sudah di atas 40,” katanya, mantap

Risiko hamil pada usia tua



DUA faktor utama perlu diberi perhatian, usia anda dan jarak kelahiran anda. Usia anda memasuki 40 tahun dikaitkan dengan peningkatan risiko berikut (berbanding kehamilan anda terdahulu):

- Risiko penyakit berkaitan usia seperti kencing manis dan darah tinggi.

- Risiko berkaitan kehamilan seperti uri bawah (plasenta previa), uri lekang (plasenta abruptio) dan anemia (kekurangan darah).

- Risiko berkaitan janin seperti sindrom down serta sindrom ketidaknormalan kromosom lain

Selain itu, anda juga mungkin lebih mudah berasa letih sejak kehamilan. Anda mungkin memerlukan lebih banyak rehat. Tahap pemakanan lazimnya tidak berkaitan dengan usia.

Jarak kelahiran yang jauh membolehkan tubuh anda kembali pulih selepas kelahiran terdahulu dan mengurangkan kejadian anemia. Namun, jarak kelahiran jauh mungkin menyebabkan anda berasa seolah-olah sama seperti kehamilan anak pertama, malah anda mungkin berasa ia seperti pengalaman pertama hamil.

Teruskanlah pengambilan pil asid folik sebanyak lima miligram setiap malam. Pengambilan pil vitamin pula seeloknya jenis yang khusus untuk wanita hamil.

Saya harap anda memulakan antenatal bagi pemeriksaan tekanan darah, berat badan, ujian air kencing, ultrabunyi mengesahkan tarikh dan usia kandungan, bilangan janin (wanita berusia lebih berisiko mendapat kehamilan kembar), pengukuran nuchal translucency janin dan menjalani ujian saringan darah (paras hemoglobin, hepatitis, VDRL dan HIV).

Berbincanglah lebih lanjut dengan doktor anda mengenai masalah di atas. Doktor anda mungkin menawarkan ujian darah saringan risiko sindrom down atau terus kepada ujian kepastian melalui ujian chorionic villous sampling atau CVS bagi mengetahui DNA janin. Ujian saringan darah bagi penyakit kencing manis juga mungkin turut dilakukan.

sumber:http://wmelayu.blogspot.com/2008/04/risiko-hamil-pada-usia-tua.html

Hamil Usia Tua

Menurut *dr. Agustinus Gatot, Sp.OG*, dari RS Mitra Keluarga, siap-tidaknya
seorang ibu yang hamil di usia tua, lebih karena faktor si ibu sendiri.
"Adakalanya justru ibu yang memulai kehamilan di usia ini, jauh lebih
mantap. Sebab, biasanya telah mempersiapkan segalanya dengan matang sejak
memulai pernikahan," terang Gatot. Sebaliknya, ibu yang tak siap mental,
lebih disebabkan ia merasa tak percaya diri menghadapi kehamilannya. "Ia
merasa sudah tua sehingga menganggap dirinya tak mampu."

BERISIKO TINGGI

Dalam ilmu kedokteran, terang Gatot, usia reproduksi sehat untuk hamil
antara 25-30 tahun. Sehingga, dari segi kesehatan reproduksi, sebetulnya
risiko pertama dari usia ini adalah tak dapat hamil karena telah
berkurangnya kesuburan. Jadi, bila si wanita usianya telah melewati usia
reproduksi sehat untuk hamil ternyata kemudian hamil, berarti risiko itu
telah terlewati.

Hanya saja, seperti diakui Gatot, usia ini memang tergolong berisiko tinggi
dalam kehamilan. Yakni, melahirkan bayi dengan sindroma *down*, yang berciri
khas berbagai tingkat keterbelakangan mental, ciri wajah tertentu,
berkurangnya tonus otot, dan sebagainya. "Risiko ini akan meningkat sesuai
dengan usia ibu, yakni 6-8 per mil untuk usia 35 sampai 39 tahun dan 10-15
per mil untuk usia di atas 40 tahun," jelas Gatot.

Kelainan kromoson dan lainnya yang diperkirakan karena sel telur sudah
berusia lanjut, terkena radiasi, terpengaruh obat-obatan, infeksi, dan
sebagainya, diduga merupakan penyebab sindroma down.

Untuk mencermati adanya sindroma ini, dapat dilakukan pemeriksaan
amniosentesis. Pada pemeriksaan ini cairan ketuban diambil melalui alat
semacam jarum yang dimasukkan melalui perut ibu. Bisa juga dilakukan dengan
cara kordosentesis. "Bedanya, jika amniosentesis mengambil cairan ketuban,
pada kordosentesis diambil sampel darah janin dari tali pusat," jelas Gatot.

Pemeriksaan itu sendiri bisa dilakukan setelah kehamilan memasuki usia 16-20
minggu. Jika ditemukan kelainan, dokter akan menyerahkan keputusan pada
pasangan suami-istri. Apakah akan meneruskan kehamilan atau menggugurkannya.
"Pemeriksaan ini jarang dilakukan mengingat biayanya yang masih cukup
tinggi," ujar Gatot. Umumnya ibu memasrahkan segalanya pada Yang Kuasa.

Kecuali melahirkan bayi dengan sindroma down, makin tinggi usia ibu main
tinggi pula risiko untuk melahirkan. Hal ini dapat berisiko bagi kesehatan
ibu sendiri. Bahkan, risiko kematian pun meningkat.

Ada beberapa hal yang perlu diwaspadai oleh ibu hamil usia ini, seperti
perdarahan *postpartum* (sesudah melahirkan), hipertensi, dan eklampsia.

PERAWATAN TERBAIK

Kendati demikian, pada dasarnya menjalani kehamilan pada usia di atas 35
tahun, tak berbeda dengan usia lain. Yang terpenting dan pertama ialah
kesiapan ibu menjalani kehamilan itu. Nah, dengan perawatan pralahir yang
baik, maka ibu hamil berisiko pun bisa mengurangi risiko tersebut.

Apa saja perawatan pralahir itu? "Salah satunya tentu dengan pemeriksaan
rutin oleh dokter atau bidan," ujar Gatot. Dengan demikian, jika ada
gangguan atau kelainan akan bisa segera diketahui dan ditangani. Bahkan,
menjelang kehamilan, calon ibu harus menyiapkan diri dengan pemeriksaan
untuk berbagai infeksi, seperti TORCH (toksoplasmosis, rubella,
citomegalovirus, dan sebagainya).

Juga amat perlu senantiasa menjaga menu makanan. "Ibu harus melakukan diet
yang baik. Artinya, mengkonsumi makanan cukup gizi. Bukan cuma untuk si ibu,
tapi juga demi si janin." Dengan menjalani diet, lanjut Gatot, si ibu
sekaligus bisa mencapai berat badan ideal (tak lebih dan tak kurang)
sehingga ibu bisa terhindar dari berbagai komplikasi seperti sakit gula,
tekanan darah tinggi, varises, wasir, berat lahir bayi yang rendah, atau
kesulitan persalinan karena ukuran bayi yang terlalu besar.

Selain itu, bergaya pola hidup sehat seperti menjauhi rokok, alkohol, dan
obat-obatan yang tak perlu, juga akan sangat membantu. Dengan demikian
risiko calon ibu menjadi berkurang dan si ibu pun bisa menjalani kehamilan
serta persalinan dengan lancar. Jadi, tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.

*Menghadapi Kehamilan Beresiko Tinggi*

**

Kehamilan adalah proses normal untuk dialami, bukan penyakit yang harus
diobati. Tapi jika kehamilan Anda berisiko tinggi, ada beberapa hal yang
perlu diperhatikan pasangan suami-istri di mana istri menghadapi kehamilan
dengan risiko tinggi.

** Rasa Cemas*

Anda berdua mungkin akan dipenuhi rasa cemas setelah mengetahui risiko yang
mungkin dialami. Yang lebih parah, Anda berdua mungkin tak berharap terlalu
banyak terhadap kondisi janin.

Tapi Anda berdua tak boleh larut dalam kecemasan. Apalagi kehamilan yang
disertai kecemasan sangat tak baik pengaruhnya bagi si ibu maupun janin.

** Marah*

Kemarahan juga kerap melanda wanita yang menjalani kehamilan berisiko.
Misalnya ketika harus bed rest, ia merasa dibelenggu oleh aturan yang tak
biasanya karena sebelumnya ia termasuk tipe wanita enerjik. Jadi, aturan itu
terasa begitu menyiksanya.

Tak perlu berkecil hati. Jalani saja dengan santai. Ingat, semua itu demi
Anda dan janin di kandungan.

** Merasa Tertekan*

Karena banyak anjuran dan larangan, si ibu akan terus-menerus mengingatnya.
Ia takut untuk berbuat sesuatu di luar itu. Sehingga tiap kali akan berbuat
sesuatu, selalu dimulai dengan pertanyaan, "Bolehkah saya melakukan ini?
Apakah ini tak akan bertambah membahayakan bayi saya?"

Menghilangkan sama sekali rasa tertekan itu memang agak mustahil. Berbagilah
dengan pasangan, agar perasaan itu sedikit berkurang.

** Merasa Bersalah*

Di sisi lain, wanita dengan kehamilan berisiko tinggi juga bisa merasa
bersalah, karena ia tak bisa menjalani kehamilan seperti kebanyakan wanita
lain. Misalnya, dokter banyak memberi obat-obatan, larangan, dan anjuran.

Ia merasa, dirinyalah yang menyebabkan semua itu. Padahal, tentu saja bukan.
Pasangannya pun akan diliputi rasa bersalah, karena ia menganggap dirinya
yang menyebabkan istrinya "menderita". Padahal, kenyataannya tidaklah
demikian.

** Menganggap Diri Kurang*

Seorang wanita yang tak memiliki kehamilan "normal" juga bisa menganggap
dirinya tak mampu atau kurang. Harus diingat, ada banyak hal yang di luar
kekuatan dan kemampuan kita. Tapi, percayalah, jika kita menjalaninya dengan
ikhlas, segalanya akan berjalan lancar.

*Pengalaman Berharga*

**

Lily, seorang karyawati bank swasta hamil untuk pertama kalinya ketika
usianya sudah memasuki 38 tahun. "Saya memang menikah di usia yang sudah
enggak muda lagi, 36 tahun," akunya. Karena itu, Lily dan suaminya sudah
tahu bahwa mereka tergolong pasangan yang "terlambat" untuk hamil.

"Tapi sebelum hamil, saya berkonsultasi dulu dengan dokter," tutur Lily. Ia
pun melakukan pemeriksaan cukup lengkap, termasuk TORCH. "Saya ingin
menjalani kehamilan dengan tenang. Apalagi saya sudah tahu bahwa kehamilan
saya berisiko karena usia saya," lanjutnya. Bahkan, ia mengaku sampai
melakukan pemeriksaan rutin ke dokter tiap dua minggu sekali. "Sebetulnya,
sih, dokter enggak meminta demikian. Saya sendiri yang menginginkannya, agar
bisa lebih yakin," terangnya.

Dalam menjalani kehamilannya, Lily merasa tak berbeda seperti wanita lain
yang kehamilannya tak berisiko. Misalnya, pada trimester pertama, ia
mengalami mual-mual hebat, yang lalu menghilang di trimester kedua. "Cuma,
saya sering kesemutan," katanya.

Kendati demikian, ia tak mengurangi kegiatannya. Ia tetap bekerja seperti
biasa. Ia pun sangat menjaga mutu makanannya. Hanya makanan terbaik buat
janin di rahimnya yang boleh masuk ke mulutnya. "Sampai-sampai saya
diledekin teman-teman, tapi saya enggak peduli. Pokoknya, yang boleh masuk
ke mulut saya hanyalah makanan sehat penuh gizi. Bahkan, saya sama sekali
tidak makan makanan instan," tuturnya.

Ketika kehamilannya mencapai usia 17 minggu, dokter menyarankannya untuk
menjalani tes amniosentesis. "Saya berdiskusi cukup lama tentang hal itu.
Saya menimbang baik buruknya. Saya pun berdoa memohon petunjuk," katanya.
Akhirnya, ia bersama suami memutuskan untuk meneruskan kehamilan tanpa
menjalani tes itu. "Saya pasrah pada Yang Kuasa. Saya yakin kehamilan ini
yang terbaik buat saya," katanya lagi.

Hasilnya, memang sesuai harapan. Lily melahirkan normal, seorang bayi
laki-laki yang sehat dengan berat 3,45 kg dan panjang 51 cm. "Cukup satu
saja. Usia saya sekarang sudah di atas 40," katanya, mantap.

Pengertian Senam Hamil

disadur dari http://creasoft.wordpress.com

Senam hamil adalah suatu bentuk latihan guna memperkuat dan mempertahankan elastisitas dinding perut, ligament-ligament, otot-otot dasar panggul yang berhubungan dengan proses persalinan (FK. Unpad, 1998).

Tujuan Senam Hamil

Mochtar (1998) membatasi tujuan senam hamil menjadi tujuan secara umum dan khusus, tujuan tersebut dijabarkan sebagai berikut :

Tujuan umum senam hamil adalah melalui latihan senam hamil yang teratur dapat dijaga kondisi otot-otot dan persendian yang berperan dalam mekanisme persalinan, mempertinggi kesehatan fisik dan psikis serta kepercayaan pada diri sendiri dan penolong dalam menghadapi persalinan dan membimbing wanita menuju suatu persalinan yang fisiologis.

Tujuan khusus senam hamil adalah memperkuat dan mempertahankan elastisitas otot-otot dinding perut, otot-otot dasar panggul, ligamen dan jaringan serta fasia yang berperan dalam mekanisme persalinan, melenturkan persendian-persendian yang berhubungan dengan proses persalinan, membentuk sikap tubuh yang prima sehingga dapat membantu mengatasi keluhan-keluhan, letak janin dan mengurangi sesak napas, menguasai teknik-teknik pernapasan dalam persalinan dan dapat mengatur diri pada ketenangan.

Manfaat Senam Hamil

Esisenberg (1996) membagi senam hamil menjadi empat tahap dimana setiap tahapnya mempunyai manfaat tersendiri bagi ibu hamil. Tahap dan manfaat senam hamil yaitu:

Senam Aerobik

Merupakan aktifitas senam berirama, berulang dan cukup melelahkan, dan gerakan yang disarankan untuk ibu hamil adalah jalan-jalan. Manfaat dari senam aerobik ini adalah meningkatkan kebutuhan oksigen dalam otot, merangsang paru-paru dan jantung juga kegiatan otot dan sendi, secara umum menghasilkan perubahan pada keseluruhan tubuh terutama kemampuan untuk memproses dan menggunakan oksigen, meningkatkan peredaran darah, meningkatkan kebugaran dan kekuatan otot, meredakan sakit punggung dan sembelit, memperlancar persalinan, membakar kalori (membuat ibu dapat lebih banyak makan makanan sehat), mengurangi keletiham dan menjadikan bentuk tubuh yang baik setelah persalinan.

Kalestenik

Latihan berupa gerakan-gerakan senam ringan berirama yang dapat membugarkan dan mengembangkan otot-otot serta dapat memperbaiki bentuk postur tubuh. Manfaatnya adalah meredakan sakit punggung dan meningkatkan kesiapan fisik dan mental terutama mempersiapkan tubuh dalam menghadapi persalinan.

Relaksasi

Merupakan latihan pernapasan dan pemusatan perhatian. Latihan ini bisa dikombinasikan dengan katihan kalistenik. Manfaatnya adalah menenangkan pikiran dan tubuh, membantu ibu menyimpan energi untuk ibu agar siap menghadapi persalinan.

Kebugaran Panggul (biasa disebut kegel)

Manfaat dari latihan ini adalah menguatkan otot-otot vagina dan sekitarnya (perinial) sebagai kesiapan untuk persalinan, mempersiapkan diri baik fisik maupun mental.

Dalam perkembangannya, senam hamil banyak menimbulkan kontroversi. Hal ini disebabkan dalam kalangan masyarakat dahulu (dan mungkin masih, ada sampai sekarang) yang terjebak mitos bahwa seorang ibu hamil tidak boleh bekerja, tidak boleh banyak bepergian, tidak boleh makan ikan dan masih banyak “tidak boleh” yang lain .

Hal ini tentunya akan sangat merugikan mengingat besarnya manfaat senam hamil jika diterapkan pada semua ibu hamil agar kehamilan dan persalinannya dapat berjalan secara fisiologis. Untuk menciptakan kondisi tersebut sangat dibutuhkan peningkatan pengetahuan ibu hamil. Dengan meningkatnya pengetahuan ibu hamil maka ibu akan semakin merasakan pentingnya senam hamil bagi kesehatan diri dan janinnya. Munculnya kesadaran ini akan memberikan dampak pada ibu untuk dapat melaksanakan secara teratur.

Hamil via Internet

Berita hangat (agak basi) dari manca

BBC memberitakan bahwa sebagian remaja China menggunakan internet sebagai media komunikasi s3ksual. Tanpa pendidikan yang memadai dari orang tua dan para ahli, bisa diduga komunikasi antar remaja tersebut berbuah kehamilan. Parahnya, menurut survey seorang dokter di Shanghai, para pria menghilang begitu si remaja putri mengaku hamil. Walah … (

Bagaimana di Indonesia ?
Sejauh ini penelitian sejenis masih musiman. Kalaupun ada yang mengadakan penelitian, hanya hangat sesaat kemudian hilang tertimpa isu lain. Langkah nyata untuk menanggulanginya terbentur pada kultur antara tabu dan tidak tabu, pun perbedaan pandangan dari sisi keyakinan. Batasanpun menjadi kabur.

Tak heran jika sebagian warga kita tak mengenal anatomi dan fungsi organ vitalnya sendiri (pakai cermin sambil mesam-mesem ?), bahkan setelah menikah sekalipun. Belum lagi tarik ulur perlu tidaknya pendidikan s3ksual sejak dini.

Boleh jadi para orang tua (berlandaskan keyakinan atau apapun) merasa berhasil memaksa anaknya tidak mengucapkan alat k3lamin ketika di dalam rumah. Kenyataannya (walaupun malu-malu) para remaja akan mencari tahu melalui komunikasi antar teman (yang sama-sama dalam masa pencarian) atau media lain. Buktinya kita mampu menyebutkan alat k3lamin (dengan berbagai nama) lelaki maupun perempuan.
Apa ada yang gak tahu kalo pines (maksudnya p3nisun) itu adalah jimat para lelaki ? Sebaliknya, apa ada yang tidak tahu kalo vaginun itu adalah k3lamin perempuan ?
Walau hanya di dalam hati, jika ditunjukkan skrinsyutnya dijamin ngerti kan?
Darimana kita tahu ?

Pendidikan s3ksual, bukan berarti membicarakan masalah hubungan k3lamin doang, melainkan pendidikan bertahap (sesuai umur) dan berkelanjutan.
Tahap awal dapat dilakukan sejak dini oleh para orang tua dengan memanfaatkan keseharian, misalnya saat mandi si lelaki kecil sudah diperkenalkan bahwa tonjolan di bawah pusar tempat keluarnya kencing bernama p3nis, demikian pula sebaliknya.

Sejauh ini penulis beberapa kali diminta menyampaikan pengenalan “reproduksi sehat” bagi para remaja di sekolah-sekolah.
Untuk remaja setingkat SLTP / Madrasah Tsanawiyah, penulis memperkenalkan organ vital, tanda-tanda baligh dan proses menstruasi (menggunakan animasi flash). Tentu bergambar dong (bu gurunya juga ikutan lho). Gak mungkin kan, menjelaskan p3nis ( pangeran kecil ™ ) tanpa gambar, ntar yang terbayang malah pisang atau halo-halo.
Parn0 ? Tergantung sudut pandang ;) . Toh suka atau tidak seseorang sebenarnya menyentuh alat k3lamin setiap hari, misalnya saat mandi atau cebok. Apa ada saat sabunan gak nyabuni k3lamin ? Atau, apa ada lelaki yang gak megang p3nisnya saat kencing ? *emange pake jepitan P *

Akhirnya, keputusan memberikan pendidikan s3ksual dalam konteks bertahap dan berkesinambungan atau tidak, kembali kepada masing-masing.

:: :: :: trims konfs dinihari :: :: :: *lirik pemrakarsa*

Posting asli : cakmoki Blog

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 109 pengikut lainnya.