Perimenopause, Masa Transisi Menuju Menopause

Perimenopause, Masa Transisi Menuju Menopause
Rabu, 26-Maret-2008 19:39:57
Oleh : Rahmi

Istilah perimenopause memang masih terasa awam di telinga, tetapi setiap wanita pasti akan mengalaminya. Sebelum mencapai usia menopause, seorang wanita akan mengalami beberapa perubahan fisik dan gejala hormonal, termasuk menstruasi yang tidak teratur.

Perimenopause adalah masa di mana tubuh mulai bertransisi menuju menopause. Masa ini bisa terjadi selama dua hingga delapan tahun, ditambah satu tahun di akhir periode menuju menopause. Gejala ini alamiah, karena merupakan tanda dan proses berhentinya masa reproduksi.

Pada periode ini, umumnya tingkat produksi hormon estrogen dan progesteron berfluktuasi, naik dan turun tak beraturan. Siklus menstruasi pun bisa tiba-tiba memanjang atau memendek. Biasanya, masa perimenopause ini terjadi di usia 40-an, tapi banyak juga yang mengalami perubahan ini saat usianya masih di pertengahan 30-an.

TANDA & GEJALA

1. Menstruasi tidak teratur.
Intervalnya dapat memanjang atau memendek, sedikit dan berlimpah, bahkan Anda mungkin akan melewatkan beberapa periode menstruasi. Ovulasi menjadi tidak teratur, rendahnya kadar progesteron dapat membuat Anda mengalami periode menstruasi yang lebih panjang.

2. Gangguan tidur dan hot flashes.
Sekitar 75-85 persen wanita mengalami hot flashes selama perimenopause. Hot flashes adalah gelombang panas tubuh yang datang tiba-tiba, akibat perubahan kadar estrogen yang menyerang tubuh bagian atas dan muka. Serangan ini ditandai dengan munculnya kulit yang memerah di sekitar muka, leher dan dada bagian atas, detak jantung yang kencang, badan bagian atas berkeringat, termasuk gangguan tidur.

3. Perubahan Psikologis.

Beberapa wanita mengalami depresi, tetapi perubahan psikologis ini akibat terjadinya gangguan tidur.

4. Organ intim mengering.
Vagina mulai mengalami kekurangan cairan dan elastisitas, sehingga hubungan intim dapat menyakitkan.

5. Kesuburan berkurang.

Ovulasi atau pelepasan sel telur menjadi tidak teratur, sehingga kemungkinan bertemunya sel telur dengan sperma menjadi lebih rendah walau masih mungkin untuk hamil.

6. Perubahan fungsi seksual.
Selama perimenopause, keinginan untuk berhubungan intim dapat berubah, tetapi pada banyak wanita akan mengalami masa-masa menyenangkan sebelum masa menopause tiba dan biasanya berlanjut sampai melewati masa perimenopause.

7. Osteoporosis.
Pengeroposan tulang ini terjadi sebagai akibat berkurangnya hormon estrogen.

8. Perubahan kadar kolesterol.
Berkurangnya estrogen akan merubah kadar kolesterol dalam darah dan meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) yang mengakibatkan risiko terkena penyakit jantung. Sedangkan HDL atau kolesterol baik, menurun sesuai pertambahan usia.

FAKTOR RESIKO

Menopause adalah fase normal dalam kehidupan seorang wanita, meski waktunya tidak akan sama. Selain faktor gaya hidup dan genetik yang menentukan cepat atau lambatnya menopause, faktor lainnya adalah:

- Sejarah keluarga.
Masa menopause seorang wanita cenderung di usia yang sama, saat ibu atau saudara perempuan lainnya mengalami menopause. Tapi pernyataan ini masih dapat diperdebatkan.

- Tidak pernah melahirkan.
Beberapa penelitian menunjukkan, wanita yang belum atau tidak pernah melahirkan, akan mengalami menopause lebih awal.

- Kondisi jantung.
Sakit jantung sering dikaitkan dengan menopause dini, diperkirakan berkaitan dengan meningkatnya kadar kolesterol dan tekanan darah tinggi.

- Terapi kanker masa kecil.
Terapi kanker di usia anak-anak, seperti kemoterapi dan radiasi pelvic juga dikaitkan dengan menopuse dini.

- Histerektomi.
Pengangkatan rahim biasanya tidak berakibat menopause dini, meski ovarium tetap akan melepas sel telur. Hanya saja, operasi ini biasanya akan mempercepat datangnya menopause.

DIAGNOSA

Perimenopause umumnya berlangsung secara bertahap, meski tidak ada alat atau tes yang bisa mendeteksi perimenopause. Dokter hanya akan memberi beberapa pertanyaan, sebelum menyimpulkan apa yang tengah Anda alami. Tes yang mungkin dilakukan, salah satunya pemeriksaan kadar hormon.

Dengan memonitor siklus menstruasi dan mengamati gejala perubahan tubuh selama beberapa waktu, Anda akan dapat memahami dan berkonsultasi dengan dokter.

KEMUNGKINAN KOMPLIKASI

Meski tak ada yang perlu dikhawatirkan, namun waspadalah bila ada hal-hal yang mencurigakan sebagai berikut:

A) Menstruasi yang hebat, sehingga Anda harus mengganti pembalut setiap jam.
B) Menstruasi panjang yang berlangsung hingga lebih dari 8 hari.
C) Siklus menstruasi yang terlalu pendek, seperti kurang dari 21 hari.

PENANGANAN

Pil kontrasepsi dianggap tepat untuk mengatasi gejala perimenopause, walaupun sedang tidak mengatur kelahiran. Konsumsi dosis rendah yang teratur, akan mengurangi efek hot flashes dan kekeringan vagina.

Hidup sehat adalah pilihan terbaik untuk mengatasi gejala perimenopause. Caranya dengan:

* Konsumsi nutrisi yang cukup.
Osteoporosis dan risiko terkena penyakit jantung akan meningkat seiring bertambahnya usia. Konsumsilah makanan berkadar lemak rendah dan kaya serat, seperti buah-buahan, sayuran dan kacang-kacangan. Dianjurkan juga untuk mengkonsumsi makanan kaya kalsium atau suplemen. Hindari alkohol dan kafein yang dapat memicu hot flashes.

* Olah raga teratur.
Olah raga teratur sedikitnya 30 menit sehari, akan menjaga berat badan dan meningkatkan kualitas tidur.

* Mengurangi stres.
Kurangi stres dengan berpasrah diri dan mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Atau Anda dapat melakukan yoga yang sangat membantu melewati masa transisi menuju menopause.

(Nazz/MC)

Andropause

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face {font-family:PMingLiU; panose-1:2 2 3 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-alt:新細明體; mso-font-charset:136; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 137232384 22 0 1048577 0;} @font-face {font-family:”Trebuchet MS”; panose-1:2 11 6 3 2 2 2 2 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face {font-family:”\@PMingLiU”; panose-1:2 2 3 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:136; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 137232384 22 0 1048577 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:PMingLiU;} h1 {mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0cm; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; mso-outline-level:1; font-size:24.0pt; font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:293412777; mso-list-template-ids:-1904673980;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Symbol;} @list l1 {mso-list-id:392777268; mso-list-template-ids:134481564;} @list l2 {mso-list-id:525599925; mso-list-template-ids:-1917531804;} @list l2:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Symbol;} @list l3 {mso-list-id:1236235632; mso-list-template-ids:972875728;} @list l3:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Symbol;} @list l4 {mso-list-id:1522477222; mso-list-template-ids:134481564;} @list l5 {mso-list-id:1700620463; mso-list-template-ids:-1969880322;} @list l5:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Symbol;} @list l6 {mso-list-id:1851096144; mso-list-template-ids:-1717170140;} @list l6:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Symbol;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Ingin Tahu ??

Pada saat mencapai usia diatas 50 tahun, pria mengalami fenomena yang hampir mirip menopause pada wanita, dan disebut andropause. Pada wanita, masa menopause memiliki batas yang jelas, yakni berhentinya haid sebagai tanda perubahan dari masa reproduksi menuju masa senja, sedangkan pada pria batas tersebut tidak jelas. Namun demikian, keduanya sama-sama mengalami penurunan kadar hormon seks. Pada wanita, yang menurun adalah kadar estrogen, sedangkan pada pria kadar testosteronnya. Penurunan kadar steroid seks tersebut menyebabkan perubahan-perubahan, yang akan disertai dengan berubahnya sikap dan emosi, kelelahan, berkurangnya energi, menurunnya libido dan ketangkasan fisik. Berbeda dengan menopause yang secara umum terjadi pada wanita di usia 45-55 tahun, maka masa perubahan andropause pada pria ini mungkin lebih panjang dan secara bertahap.
Definisi andropause (andro = laki-laki, pause = berhenti) adalah berhentinya fungsi maskulin (kelaki-lakian) akibat hilangnya fungsi testis (buah zakar) dan/atau kelenjar anak ginjal (adrenal) dalam memproduksi hormon testosteron, yang ditandai dengan sekumpulan gejala. Sebagian pakar beranggapan bahwa istilah andropause secara biologis kurang tepat, karena di sini tidak terjadi penghentian fungsi dalam arti sesungguhnya. Produksi spermatozoa terus berlangsung meski dalam jumlah lebih sedikit. Fungsi seksual maupun fertilitas masih terjadi, hanya memang menurun. Pada andropause tidak terjadi penghentian proses biologis tertentu, melainkan hanya kemunduran fungsi sejumlah organ tubuh, termasuk fungsi seksual. Istilah andropause tersebut lebih ditujukan untuk sindrom klinis yang ditandai perubahan fisik dan emosional pada pria yang dihubungkan dengan proses penuaan dan menurunnya kadar hormon steroid seks secara bermakna.

Penyebab

Andropause disebabkan oleh menurunnya jumlah hormon seks tertentu dalam tubuh seiring proses penuaan, terutama testosteron. Mulai sekitar umur 30-an, kadar testosteron menurun sekitar 10% tiap 10 tahun. Pada saat yang sama, faktor lain dalam tubuh yang disebut globulin pengikat hormon seks (sex hormone binding globulin atau SHBG) meningkat. SHBG mengikat lebih banyak testosteron yang beredar dalam darah dan membuat testosteron tidak dapat mengeluarkan pengaruhnya pada jaringan-jaringan tubuh. Akibatnya testosteron bebas yang tersisa (bioavailable testosterone) semakin sedikit untuk menjalankan fungsi-fungsinya.
Manfaat testosteron
Testosteron merupakan hormon yang berdampak unik terhadap tubuh pria secara keseluruhan. Testosteron dihasilkan dari testis dan kelenjar adrenal. Pada pria hormon ini sama seperti estrogen pada wanita.
Aktivitas biologis testosteron bersifat androgenik (berkhasiat pada organ reproduksi) dan anabolik (berkhasiat pada organ somatik). Oleh karena itu, penurunan kadar testosteron akan mempengaruhi semua metabolisme yang terkait dengannya seperti otot, tulang, susunan saraf pusat, prostat, sumsum tulang dan fungsi seksual.
Testosteron juga membantu pembentukan protein dan sangat penting untuk aktivitas seksual normal dan menghasilkan ereksi. Testosteron juga berdampak pada banyak aktivitas metabolik seperti menghasilkan sel-sel darah pada sumsum tulang, pembentukan tulang, metabolisme lemak, metabolisme karbohidrat, fungsi hati dan pertumbuhan kelenjar prostat.
Jika testosteron yang tersedia kurang untuk menjalankan fungsinya, tanggapan organ-sasaran testosteron menurun, dan menyebabkan banyak perubahan. Seiring dengan proses penuaan, setiap pria akan mengalami penurunan jumlah testosteron bebas, tetapi kadangkala pada beberapa pria kadarnya lebih rendah dibanding lainnya. Bilamana hal ini terjadi maka pria tersebut akan mengalami gejala-gejala andropause.
Gejala-gejala tersebut dapat mengganggu kualitas hidup dan dapat memajankan mereka pada gangguan kesehatan lain, akibat dari pengaruh jangka panjang testosteron rendah. Diperkirakan 30% pria di usia 50-an akan mempunyai kadar testosteron cukup rendah yang dapat memunculkan gejala-gejala atau membuat mereka berisiko.

Gejala-gejala

Penurunan kadar testosteron pada akhirnya akan terjadi pada semua pria, dan belum ada cara untuk menduga siapakah yang akan mengalami gejala-gejala andropause cukup parah sehingga perlu bantuan. Juga tidak dapat diduga pada usia berapakah gejala-gejala tersebut akan muncul pada individu tertentu. Gejala-gejala yang dialami setiap pria dapat berbeda-beda.
Beberapa gejala-gejala khas andropause adalah:

  1. Penurunan libido (gairah seksual) dan impotensi (gagal ereksi)
  2. Perubahan suasana hati (mood ), disertai penurunan aktivitas intelektual, kelelahan, depresi, dan mudah tersinggung.
  3. Menurunnya kekuatan otot dan massa otot
  4. Lemah dan kurang energi
  5. Perubahan emosional, psikologis dan perilaku (misalnya depresi)
  6. Berkeringat dan gejolak panas di sekitar leher (hot flash ), yang terjadi secara bertahap
  7. Pengecilan organ-organ seks dan kerontokan rambut di sekitar daerah kelamin dan ketiak
  8. Peningkatan lemak di daerah perut dan atas tubuh
  9. Osteoporosis (keropos tulang) dan nyeri punggung
  10. Risiko penyakit jantung

Risiko osteoporosis
Pada individu yang sehat, jaringan tulang secara konstan rusak dan dibentuk kembali. Pada pasien osteoporosis, pembentukan kembali jaringan tulang tidak secepat jaringan tulang yang rusak sehingga lebih banyak jaringan tulang yang rusak dibanding yang terbentuk kembali.
Pada pria, testosteron juga berperan untuk menjaga keseimbangan otot dan tulang. Dengan bertambahnya usia dan menurunnya kadar testosteron, kemampuan pembentukan kembali jaringan tulang semakin menurun sehingga pria akan menunjukkan pola yang mirip pada risiko osteoporosis. Sekitar 1 dari 8 pria di atas usia 50 tahun menderita osteoporosis.
Selain itu, antara usia 40-70 tahun densitas tulang pria menurun hingga 15%. Densitas tulang yang rendah menyebabkan risiko patah tulang lebih sering, dan disertai nyeri. Pergelangan, pinggang, tulang punggung, dan tulang rusuk adalah bagian yang paling sering berisiko patah. Kejadian patah tulang pinggang pada pria usia lanjut meningkat eksponensial, sama seperti yang terjadi pada wanita. Pada pasien osteoporosis, patah tulang pinggang dapat membahayakan jiwa atau dapat menyebabkan 1/3 pasien tidak dapat bergerak lagi seperti semula.
Risiko penyakit jantung
Telah lama diketahui bahwa risiko wanita terkena aterosklerosis (pengerasan pembuluh darah) cenderung meningkat setelah menopause. Fenomena yang hampir sama juga terjadi pada pria karena kadar testosteronnya menurun sejalan dengan proses penuaan. Meskipun penelitian yang dilakukan belum selengkap seperti yang dilakukan pada wanita, tetapi temuan klinis menunjukkan adanya hubungan antara kadar testosteron rendah dan peningkatan faktor risiko penyakit jantung pada pria. Hubungan sebab-akibatnya masih belum diketahui pada percobaan klinis dalam jumlah kasus yang besar dan masih diperlukan penelitian klinis lanjutan pada kajian bidang ini.

Pemeriksaan

Dahulu andropause sering kurang terdiagnosis karena gejala-gejalanya tidak jelas dan beragam antara satu pria dengan pria lain. Bahkan, beberapa pria sulit untuk mengakui bahwa mereka mengalami masalah. Sering para dokter tidak menduga kadar testosteron yang rendah sebagai penyebab masalah, sehingga faktor-faktor ini sering mengarahkan dokter untuk mengambil kesimpulan bahwa gejala-gejala itu berhubungan dengan keadaan penyakit lain (misalnya depresi) atau hanya berhubungan dengan penuaan, sehingga sering mendorong pasien untuk menerima kenyataan bahwa mereka tidak muda lagi.
Kini, penentuan diagnosis lebih mudah dilakukan dengan cara peneraan hormon steroid seks untuk memastikan gejala-gejala andropause. Pemeriksaan itu mencakup:

  • mengukur kadar testosteron bebas dalam darah, atau
  • menghitung indeks androgen bebas (free androgen index, FAI) = total testosteron x 100/SHBG

Kadar normal androgen

Rata-rata

Rentang

Testosteron bebas (pria)

700 ng/dL

300 – 1100 ng/dL

Testosteron bebas (wanita)

40 ng/dL

15 – 70 ng/dL

Indeks androgen bebas

70 – 100 %< 50%

muncul gejala andropause

Pengobatan

Pengobatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi andropause adalah pemberian hormon testosteron, yang lebih dikenal sebagai pengobatan sulih hormon (hormone replacement therapy, HRT) dengan testosteron. Seperti halnya pengobatan sulih hormon estrogen pada wanita menopause, sulih hormon testosteron pada pria andropause juga efektif dan bermanfaat, serta tidak menimbulkan rasa sakit. Namun pengobatan ini tidak diberikan kepada semua pria, karena pada pria dengan gejala-gejala andropause, mungkin juga mengidap masalah kesehatan lain yang dapat menimbulkan gejala-gejala tersebut.
Terdapat beberapa keadaan yang tidak mengizinkan pria andropause diberikan pengobatan sulih hormon, yaitu:

  • Kanker payudara (pada pria)
  • Kanker prostat

Pada beberapa kasus lain, pengobatan sulih hormon ini bahkan mungkin tidak tepat. Bilamana terdapat keadaan berikut ini, pengobatan sulih hormon testosteron perlu dipertimbangkan apakah akan menjadi pilihan terbaik.

  • Penyakit hati
  • Penyakit jantung atau pembuluh darah
  • Edema (pembengkakan muka, tangan, kaki, telapak kaki)
  • Pembesaran prostat
  • Penyakit ginjal
  • Diabetes mellitus (penyakit gula, kencing manis)

Guna menentukan rencana pengobatan yang terbaik untuk Anda, dokter perlu diberitahukan apakah Anda:

  • Pernah alergi terhadap androgen atau steroid anabolik
  • Berencana memiliki anak lagi, karena dosis tinggi androgen dapat menyebabkan infertilitas.
  • Menderita penyakit yang menyebabkan terpaksa di tempat tidur terus.
  • Sedang meminum obat lainnya, terutama antikoagulasi (peluruh darah).

Pengobatan sulih hormon testosteron dapat berupa pil atau kapsul yang diminum, suntikan, implan (susuk dalam tubuh), krim dan patch (tempelan di kulit). Sebelum pemberian obat, perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui secara pasti kadar hormon masing-masing dalam tubuh, agar dokter dapat menentukan jenis pengobatan hormonal yang dibutuhkan, berikut dosisnya. Selama pengobatan, peran dokter sangat besar, karena pengobatan hormon sangat mungkin menimbulkan penyulit (komplikasi) yang merepotkan. Oleh karena itu, selama pengobatan periksa ke dokter secara teratur diperlukan untuk memantau perkembangan dan kesehatan Anda secara keseluruhan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum pengobatan sulih hormon testosteron:

  1. Pemeriksaan fisik lengkap. Pria usia lanjut harus mempunyai indikasi jelas untuk diberikan testosteron.
  2. Pemeriksaan laboratorium untuk profil lemak darah, hemoglobin, dan kadar hormon.
  3. Penderita hipogonadisme yang diduga disebabkan oleh kelainan pada hipofisis/hipotalamus harus diperiksa menyeluruh.
  4. Pemeriksaan fungsi hati.
  5. Pemeriksaan colok dubur dan antigen spesifik-prostat (prostate specific antigen , PSA).
  6. Penderita dengan gejala gangguan saluran kemih bawah tidak boleh diberikan pengobatan sulih hormon testosteron
  7. Kanker prostat merupakan kontraindikasi mutlak untuk pemberian testosteron.
  8. Pemberian testosteron dianjurkan dalam bentuk ester injeksi, oral, atau tempelan di kulit.
  9. Respons klinis merupakan petunjuk terbaik untuk menentukan dosis yang dibutuhkan.

Manfaat pengobatan sulih hormon testosteron
Pengobatan ini bermanfaat untuk mengatasi gangguan fisik andropause akibat berkurangnya libido dan kemampuan ereksi. Dari beberapa kajian klinis pada pria dengan kadar testosteron rendah telah dilaporkan adanya tanggapan positif terhadap testosteron, yaitu;

  • Emosi dan rasa penghargaan diri membaik
  • Energi secara fisik dan mental meningkat
  • Kemarahan, mudah tersinggung, kesedihan, kelelahan dan rasa gugup berkurang
  • Kualitas tidur membaik
  • Libido dan kemampuan seksual meningkat
  • Massa tubuh meningkat, dan lemak berkurang
  • Kekuatan otot bertambah (genggaman tangan, ekstremitas atas dan bawah)
  • Penurunan risiko penyakit jantung

Dengan pemberian testosteron diperoleh perubahan-perubahan berikut: perilaku membaik, harga diri dan percaya diri kembali, energi meningkat baik di rumah maupun di lingkungan sosial. Banyak pria yang merasa lebih kuat, selain itu terjadi peningkatan pada emosi, konsentrasi, pengenalan, libido, kegiatan seksual, dan secara keseluruhan merasa baik. Pengaruh ini biasanya dirasakan dalam kurun 3-6 minggu.
Manfaat lainnya adalah menjaga atau meningkatkan densitas tulang, meningkatkan komposisi tubuh, massa dan kekuatan otot, serta meningkatkan daya penglihatan-ruang.


Keseimbangan hidup

Seringkali sulit untuk menyadari bahwa perubahan-perubahan yang terjadi pada andropause berhubungan lebih dari sekedar keadaan eksternal karena semua itu terjadi ketika para pria mulai mempertanyakan nilai-nilai, pencapaian harapan dan tujuan hidupnya, atau yang juga dikenal sebagai krisis usia pertengahan. Krisis usia pertengahan dan andropause yang dialami para pria sering mempengaruhi aspek kejiwaan (psikis)nya, sehingga penanggulangannya perlu dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas hidup pasien agar dapat tetap melakukan hal yang bermanfaat dan menyenangkan. Pengobatan andropause harus mencakup aspek psikis dan fisik. Tanpa kombinasi keduanya, maka hasil pengobatan tidak akan optimal. Pendekatan spiritual dapat membantu seseorang menjadi lebih realistis menerima fakta kehidupan dan menganggap setiap kekurangan sebagai tantangan. Pada kasus-kasus tertentu seperti depresi berat atau yang menjurus pada gangguan jiwa diperlukan pertolongan ahli jiwa (psikolog) atau dokter spesialis jiwa (psikiater).
Setiap kiat yang dijalankan untuk mengurangi gejala-gejala dan risiko andropause tersebut harus digabungkan dengan pendekatan gaya hidup yang baik seperti diet yang optimal, olahraga teratur, pengelolaan cekaman (stress) dan menghentikan minum alkohol dan merokok.

MENOPAUSE & KLIMAKTERIK

Menopause

MENOPAUSE & KLIMAKTERIK
Menopause adalah haid terakhir pada wanita, yang juga sering diartikan sebagai berakhirnya fungsi reproduksi seorang wanita. Oleh karena itu, tidak jarang seorang wanita takut menghadapi saat menopausenya. Kehidupan menjelang dan setelah menopause inilah yang sering disebut sebagai ‘masa senja’ atau masa klimakterium.
Istilah menopause seringkali disalah-artikan dengan klimakterium.

  1. Klimakterium adalah masa peralihan dalam kehidupan normal seorang wanita sebelum mencapai senium, yang mulai dari akhir masa reproduktif dari kehidupan sampai masa non-reproduktif.
  2. Masa klimakterium meliputi pramenopause, menopause, dan pascamenopause. Pada wanita terjadi antara umur 40-65 tahun.
  3. Klimakterium prekoks adalah klimakterium yang terjadi pada wanita umur kurang dari 40 tahun.
  4. Pramenopause adalah masa 4-5 tahun sebelum menopause, keluhan klimakterik sudah mulai timbul, hormon estrogen masih dibentuk. Bila kadar estrogen menurun maka akan terjadi perdarahan tak teratur.
  5. Menopause adalah henti haid yang terakhir yang terjadi dalam masa klimakterium dan hormon estrogen tidak dibentuk lagi, jadi merupakan satu titik waktu dalam masa tersebut. Umumnya terjadi pada umur 45-55 tahun.
  6. Pascamenopause adalah masa 3-5 tahun setelah menopause, dijumpai hiper-gonadotropin (FSH dan LH), dan kadang-kadang hipertiroid.
  7. Sindrom klimakterik klinis adalah keluhan-keluhan yang timbul pada masa pramenopause, menopause, dan pascamenopause.
  8. Sindrom klimakterik endokrinologis adalah penurunan kadar estrogen, peningkatan kadar gonadotropin (FSH dan LH). Disebut juga sebagai sindrom defisiensi estrogen.

Beberapa penulis menyatakan bahwa masa klimakterik adalah masa penyesuaian dari seorang wanita terhadap menurunnya produksi hormon-hormon yang dihasilkan ovarium dan dampaknya terhadap poros hipotalamus-hipofisis dan organ sasaran. Sudah lama diketahui bahwa hampir semua wanita menopause hidup dalam keadaan defisiensi estrogen. Kekurangan hormon ini menyebabkan menurunnya fungsi organ tubuh yang bergantung pada estrogen, seperti ovarium, uterus (rahim) dan endometrium. Kekuatan serta kelenturan vagina dan jaringan vulva menurun, dan akhirnya semua jaringan yang bergantung pada estrogen akan mengalami atrofi (mengkerut). Cepat atau lambat gangguan akibat kekurangan estrogen pasti akan muncul, yaitu berupa peningkatan kadar kolesterol dan trigliserida, pengurangan jaringan tulang yang menjurus ke osteroporosis, gangguan psikis, kelelahan dan depresi. Keluhan-keluhan ini perlu dikenal agar dapat dilakukan penanganan yang tepat.
Sebagian pakar kesehatan berpendapat bahwa menopause merupakan peristiwa alamiah dan bukan diakibatkan oleh penyakit khusus (penyakit defisiensi hormon), sehingga tidak memerlukan pengobatan tetapi hanya membutuhkan pengertian dari keluarga, lingkungan dan dirinya sendiri. Namun banyak pula yang menganggap proses ini sebagai kelainan yang memerlukan pengobatan tersendiri.
Agar kehidupan usia senja ini berlangsung dalam kepuasan dan kebahagiaan, maka setiap wanita perlu mengadakan persiapan untuk menghadapinya. Salah satu persiapan yang penting adalah mengetahui organ tubuh kita sendiri dan fungsinya, serta mengenal bagaimanakah sebenarnya kejadian masa klimakterik itu.

Gejala-gejala sindrom klimakterik
Penurunan fungsi ovarium dapat berlangsung cepat pada sebagian wanita dan lebih lambat pada yang lainnya. Sebagian wanita menghasilkan estrogen endogen yang cukup sehingga tetap tanpa gejala, sedangkan yang lain memperlihatkan beragam gejala semasa klimakterium.
Gejala-gejalanya dapat dikelompokkan menjadi :

  1. Gangguan neurovegetatif (vasomotorik-hipersimpatikotoni) yang mencakup: · gejolak panas (hot flushes)
    · keringat malam yang banyak
    · rasa kedinginan
    · sakit kepala
    · desing dalam telinga
    · tekanan darah yang goyah
    · berdebar-debar
    · susah bernafas
    · jari-jari atrofi
    · gangguan usus (meteorismus)
  2. Gangguan psikis · mudah tersinggung
    · depresi
    · lekas lelah
    · kurang bersemangat
    · insomania atau sulit tidur
  3. Gangguan organik · infark miokard (gangguan sirkulasi)
    · atero-sklerosis (hiperkolesterolemia)
    · osteoporosis
    · gangguan kemih (disuria)
    · nyeri senggama (dispareunia)
    · kulit menipis
    · gangguan kardiovaskuler

PERUBAHAN-PERUBAHAN ORGANIK PADA MASA KLIMAKTERIK TD {font-family:Verdana;font-size:12}

Organ sasaran Bentuk perubahan Akibatnya
Urogenital Atrofi vulva, vagina, uterus, vesika
urinaria
Elastisitas menurun, mengecil, kering,mudah cedera, mudah infeksi
Hemodinamik Gangguan pembuluh darah tepi Infark miokard
Metabolisme Hiperkolesterolemia,kekurangan kalsium,gangguan metabolisme karbohidrat Aterosklerosis, osteoporosis,adipositas
Endokrin Hiperfungsi hipofisis,disfungsi tiroid, peningkatan androgen Hipertiroid, defeminisasi,virilisasi
Vegetatif Hipersimpatikotonik,ataksi Labil, gangguan somatik

Penyebab dan gangguan hormonal klimakterium
Perkembangan dan fungsi seksual wanita secara normal dipengaruhi oleh sistem poros hipotalamus-hipofisis-gonad yang merangsang dan mengatur produksi hormon-hormon seks yang dibutuhkan. Hipotalamus menghasilkan hormon gonadotropin releasing hormone (GnRH) yang akan merangsang kelenjar hipofisis untuk menghasilkan follicle stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH). Kedua hormon FSH dan LH ini yang akan mempersiapkan sel telur pada wanita. FSH dan LH akan meningkat secara bertahap setelah masa haid dan merangsang ovarium untuk menghasilkan beberapa follicle (kantong telur). Dari beberapa kantong telur tersebut hanya satu yang matang dan menghasilkan sel telur yang siap dibuahi. Sel telur dikeluarkan dari ovarium (disebut ovulasi) dan ditangkap oleh fimbria (organ berbentuk seperti jari-jari tangan di ujung saluran telur) yang memasukkan sel telur ke tuba fallopii (saluran telur). Apabila sel telur dibuahi oleh spermatozoa maka akan terjadi kehamilan tetapi bila tidak, akan terjadi haid lagi. Begitu seterusnya sampai mendekati masa klimakterium, dimana fungsi ovarium semakin menurun.
Masa pramenopause atau sebelum haid berhenti, biasanya ditandai dengan siklus haid yang tidak teratur. Pramenopause bisa terjadi selama beberapa bulan sampai beberapa tahun sebelum menopause. Pada masa ini sebenarnya telah terjadi aneka perubahan pada ovarium seperti sklerosis pembuluh darah, berkurangnya jumlah sel telur dan menurunnya pengeluaran hormon seks. Menurunnya fungsi ovarium menyebabkan berkurangnya kemampuan ovarium untuk menjawab rangsangan gonadotropin. Hal ini akan mengakibatkan interaksi antara hipotalamus-hipofisis terganggu. Pertama-pertama yang mengalami kegagalan adalah fungsi korpus luteum. Turunnya produksi steroid ovarium menyebabkan berkurangnya reaksi umpan balik negatif terhadap hipotalamus. Keadaan ini akan mengakibatkan peningkatan produksi dan sekresi FSH dan LH. Peningkatan kadar FSH merupakan petunjuk hormonal yang paling baik untuk mendiagnosis sindrom klimakterik.
Secara endokrinologis, klimakterik ditandai oleh turunnya kadar estrogen dan meningkatnya pengeluaran gonadotropin. Pada wanita masa reproduksi, estrogen yang dihasilkan 300-800 ng, pada masa pramenopause menurun menjadi 150-200 ng, dan pada pascamenopause menjadi 20-150 ng. Menurunnya kadar estrogen mengakibatkan gangguan keseimbangan hormonal yang dapat berupa gangguan neurovegetatif, gangguan psikis, gangguan somatik, metabolik dan gangguan siklus haid. Beratnya gangguan tersebut pada setiap wanita berbeda-beda bergantung pada:

  1. Penurunan aktivitas ovarium yang mengurangi jumlah hormon steroid seks ovarium. Keadaan ini menimbulkan gejala-gejala klimakterik dini (gejolak panas, keringat banyak, dan vaginitis atrofikans) dan gejala-gejala lanjut akibat perubahan metabolik yang berpengaruh pada organ sasaran (osteoporosis).
  2. Sosio-budaya menentukan dan memberikan penampilan yang berbeda dari keluhan klimakterik
  3. Psikologik yang mendasari kepribadian wanita klimakterik itu, juga akan membe-rikan penampilan yang berbeda dalam keluhan klimakterik.

Keluhan-keluhan
Sekitar 40-85% dari semua wanita dalam usia klimakterik mempunyai keluhan. Gejala yang tetap dan tersering adalah gejolak panas dan keringat banyak. Gejolak panas merupakan sensasi seperti gelombang panas yang meliputi bagian atas dada, leher, dan muka. Keluhan ini biasanya diikuti oleh gejala-gejala psikologik berupa rasa takut, tegang, depresi, lekas marah, mudah tersinggung, gugup dan jiwa yang kurang mantap.
Keluhan lain dapat berupa sakit kepala, sukar tidur, berdebar-debar, rasa kesemutan di tangan dan kaki, serta nyeri tulang dan otot. Keringat malam hari merupakan keluhan yang sangat mengganggu, sehingga menimbulkan lelah dan kesukaran bangun pagi. Semua keluhan ini kurang menggembirakan bagi seorang wanita, dan mendorong penderita mencari pengobatan.
Atrofi epitel genital dapat mengakibatkan vaginitis senilis. Gejala-gejalanya mencakup: iritasi, rasa terbakar, pruritus, leukorea, dispareunia, perdarahan vaginal, penurunan sekresi vaginal, penipisan epitel dan mudah kena trauma, pemendekan dan pengurangan kelenturan vagina. Kebanyakan masalah seksual dialami oleh wanita pascamenopause adalah karena status fisis dari mukosa vagina, yang harus memelihara kelembaban protektif yang cukup dan memberikan pelumas selama sanggama. Setelah menopause, perubahan atrofik dapat menyebabkan dispareunia, vaginitis, vaginismus, tak-nyaman fisis, dan hilang minat seksual.
Kulit wanita banyak dipengaruhi oleh estrogen sehingga menimbulkan kulit kehilangan elastisitasnya, berkerut, kering dan menjadi lebih tipis. Hal tersebut mengurangi kecantikan seorang wanita, sehingga wanita merasa kurang percaya diri lagi (dan dapat menambah ketidakseimbangan emosi wanita tersebut).
Gangguan psikogenik, ini mencakup : peningkatan rasa gelisah, depresi, mudah cemas, insomnia, dan sakit kepala. Keadaan lain yang dapat diperberat oleh gejala menopause mencakup : masalah psikosomatik yang telah ada yang diperkuat oleh gejolak panas, pola tidur yang diganggu oleh keringat malam, penurunan libido karena vaginitis atrofikans yang mengakibatkan dispareunia.
Osteoporosis adalah gangguan tulang yang terutama menyerang tulang trabekular, menyebabkan pengurangan kuantitas tulang sehingga mengakibatkan tulang keropos. Meskipun kedua jenis kelamin mengalami kehilangan massa tulang dengan proses menua, jarang bagi pria mengalami gejala osteoporosis sebelum usia 70.

Pengobatan menopause

  1. Penatalaksanaan umum Merupakan pendapat umum yang salah bahwa semua masalah klimakterik dan menopause dapat dihilangkan dengan hanya pemberian estrogen saja. Tujuan pengobatan dengan estrogen bukanlah memperlambat terjadinya menopause, melainkan memudahkan wanita-wanita tersebut memasuki masa klimakterium. Hubungan pribadi yang baik, saling percaya antara suami-istri, maupun antara dokter-penderita akan memberikan harapan yang besar akan kesembuhan. Pemberian obat-obat penenang bukanlah cara pengobatan yang terbaik. Psikoterapi superfisial oleh dokter keluarga sering sekali menolong.
  2. Pengobatan hormonal Menopause merupakan suatu peristiwa fisiologis dari keadaan defisiensi estrogen. Sindrom klimakterik pada umumnya terjadi akibat kekurangan estrogen, sehingga dengan sendirinya pengobatan yang tepat adalah pemberian estrogen, meski bukan tanpa risiko.
    Pada masa lalu, estrogen diberikan untuk selang waktu yang singkat dan kemudian berangsur-angsur dikurangi sehingga gejolak panas sirna. Konsep ini tidak berlaku lagi. Seorang wanita yang mengalami gejala-gejala menopause telah mengidap defisiensi estrogen dan akan tetap begitu sepanjang hayatnya. Defisiensi estrogen jangka panjang dapat menyebabkan berkembangnya osteoporosis, penyakit jantung aterosklerotik, dan mungkin perwujudan psikogenik.
    Program yang seimbang dari pengobatan estrogen-pengganti yang dikombinasikan dengan progestogen siklik merupakan pengobatan terbaik, karena tujuan nyata dari estrogen-pengganti adalah tidak hanya untuk meredakan gejala-gejala vasomotor melainkan juga untuk mencegah akibat metabolik seperti osteoporosis dan ateroskletosis.
    Pengobatan terpilih untuk vaginitis atrofikans adalah estrogen lokal dalam bentuk krim vaginal (misalnya Ovestin), yang diserap dengan baik ke dalam mukosa vagina. Pemakaian harian perlu diberikan untuk 1-2 minggu, kemudian 3 kali seminggu lazimnya cukup untuk dosis pemeliharaan.
    Pengobatan sistemik secara oral atau secara lain biasanya dimulai serentak. Pengobatan vaginal lokal terkadang dapat dihentikan setelah beberapa bulan, atau pengobatan krim vaginal mungkin dibutuhkan selain estrogen sistemik. Gejala iritatif cepat mereda dengan krim vaginal tetapi pemulihan aliran darah vaginal yang normal membutuhkan waktu hingga satu tahun.
    Lebih jauh, epitel vulva juga menjadi tipis dan dapat teriritasi atau mudah terinfeksi. Keadaan ini umumnya menunjukkan respons terhadap pemakaian krim estrogen vaginal, tetapi krim testosteron 1-2% mungkin diperlukan untuk kraurosis vulva atau kondisi vulva atrofik atau leukoplakik lain. Gatal (pruritus) vulva terkadang membutuhkan krim hidrokortison 1% atau krim kortikosteroid lain untuk memulihkan sebagai tambahan bagi krim estrogen atau testosteron.
    Keutuhan mukosa traktus urinarius bawah bergantung pada estrogen. Oleh karena itu defisiensi estrogen dapat menghasilkan gejala-gejala iritatif, seperti: nyeri berkemih (disuria), rasa terbakar ketika berkemih, radang kandung kemih (sistitis), karunkula uretra, dan uretritis nir-gonokokus. Keadaan ini berespons paling baik terhadap pemakaian lokal krim estrogen vaginal serentak dengan pemulaan pengobatan estrogen oral.

Persyaratan pemakaian sulih estrogen
Sebelum pemberian estrogen dimulai, perlu diketahui persyaratan-persyaratan :

  1. apakah tekanan darah normal,
  2. adalah kelainan atau keganasan pada serviks dan payudara,
  3. apakah uterus membesar,
  4. apakah hati dan kelenjar tiroid normal,
  5. apakah terdapat varises.

Bila terdapat kelainan pada keadaan seperti ini, maka estrogen tidak dapat digunakan.
Pemberian estrogen secara oral dapat menimbulkan gejala gastrointestinal seperti mual dan muntah. Selain itu estrogen akan dihancurkan di hati, sehingga akan memicu pembentukan renin dalam jumlah besar. Renin ini meningkatkan tekanan darah. Atas dasar ini, para ilmuwan lebih menyukai pemberian estrogen dengan cara lain seperti krim atau yang dapat ditempelkan pada kulit.
Pada pemberian oral, sebaiknya dimulai dengan estrogen lemah (estriol) dan dengan dosis rendah yang efektif. Setiap penggunaan estrogen kuat (etinil-estradiol, estrogen konjugasi) sebaiknya selalu digabungkan dengan progesteron. Pemberian progesteron bertujuan mencegah terjadinya keganasan pada endometrium dan payudara. Pemberian siklik adalah pemberian selama 21 hari dengan 7 hari tanpa hormon (istirahat) atau pemberian estrtogen selama 14 hari, kemudian diikuti pemberian progesteron selama 7 hari.
Pemberian estrogen lemah tidak dapat menghilangkan gejala sistemik dan tidak begitu baik digunakan untuk pencegahan penyakit jantung koroner dan osteoporosis. Estrogen lemah sangat efektif untuk menghilangkan keluhan urogenital, yang paling banyak dianjurkan penggunaannya adalah estrogen alamiah (estrogen konjugasi) maupun progesteron alamiah (MPA, didrogestron). Estrogen dan progesteron jenis ini tidak terlalu membebani hati.
Cara yang paling mudah adalah pemberian pil KB. Pemberian secara siklik memberikan keuntungan karena pengobatan estrogen yang malar (terus-menerus) dapat memacu proliferasi jaringan dan perdarahan uterus yang atipik. Pemberian estrogen dan progesteron (atau pil KB) pada wanita pramenopause selain dapat mengurangi keluhan, juga dapat mengatur siklus haid dan mencegah kehamilan, sedangkan pemberian estrogen dan progesteron pada masa pascamenopause selain dapat mengurangi keluhan, juga merupakan pencegahan terhadap terjadinya osteroporosis dan infark miokard.
Pemberian secara topikal berupa krim atau pessarium hanya dilakukan jika ada perubahan pada vagina yang menyebabkan dispareunia atau bila tidak memungkinkan pemberian secara oral. Meskipun diberikan secara topikal, ternyata sejumlah kecil estrogen dapat diserap ke dalam darah, sehingga perlu juga ditambahkan progesteron. Perlu diketahui bahwa pemakaian ke dalam vagina dapat pula mengenai suami ketika melakukan sanggama. Penanaman susuk (implant atau pellet) subkutan tidak boleh dilakukan pada wanita yang masih memiliki uterus karena dapat terjadi perdarahan hebat dan sulit diatasi. Cara ini paling baik digunakan pada wanita yang telah diangkat rahimnya.
Pemberian transdermal (ditempelkan pada kulit) merupakan cara terbaru dan sudah banyak dipakai di beberapa negara maju. Keuntungan utama cara ini adalah bahwa estrogen langsung masuk ke sirkulasi darah tanpa harus melalui hati. Pemberian cara ini sangat baik untuk mencegah osteoporosis serta tidak meningkatkan kadar renin, aldosteron, maupun lipid.

Pemberian hormon
Lama pemberian hormon steroid seks
Lama pemberian hormon steroid seks selama 6 bulan tidak cukup, karena begitu obatnya dihentikan maka keluhannya segera timbul kembali. Pada umumnya keluhan akan hilang bila pengobatan berlangsung 18-24 bulan. Bila perlu estrogen dapat diberikan selama 8-10 tahun, bahkan dapat sampai 30-40 tahun. Selama pemakaiannya dikombinasikan dengan progesteron, jarang sekali terjadi keganasan. Yang terpenting adalah kepada semua wanita diberikan keterangan yang cukup dan jelas.
Risiko pemberian estrogen
Telah lama diketahui bahwa pemberian estrogen pada wanita menopause merupakan cara yang tepat. Banyak ahli berpendapat bahwa estrogen dapat menimbulkan keganasan pada wanita. Pendapat ini akhirnya membuat banyak wanita takut dan ragu-ragu menggunakan estrogen. Padahal bila estrogen digunakan bersamaan dengan progesteron kemungkinan terjadinya keganasan adalah sangat kecil. Keganasan akan timbul bila memang wanita itu memiliki faktor risiko untuk terkena keganasan. Risiko tersebut dapat berupa obesitas, diabetes mellitus, siklus haid tak teratur, anovulasi, dan infertilitas, perokok, dan peminum alkohol.
Selama penggunaan estrogen, setiap wanita diharuskan kontrol secara teratur. Usaha ini merupakan jaminan yang terbaik bagi kesehatan wanita tersebut. Perdarahan yang tak teratur, jumlahnya banyak, defekasi dan miksi bercampur darah merupakan hal yang perlu dicurigakan terhadap keganasan. Hal-hal seperti ini tidak perlu menimbulkan kekhwatiran yang berlebih-lebihan, tetapi merupakan suatu alasan untuk mau berkonsultasi dengan dokter.
Setiap wanita di atas usia 40 tahun diharuskan memeriksakan diri ke dokter paling sedikit 2 kali setiap tahun. Dengan pemeriksaan yang sederhana saja seperti uji Pap (Pap smear) dan perabaan payudara karena dapat mengetahui adanya kegasanaan pada stadium dini.

Masalah Psikologis
Semua gejala psikologis yang timbul pada masa pubertas maupun pada masa klimakterik seperti rasa takut, tegang, rasa sedih, mudah tersinggung dan depresi sebenarnya sangat bergantung pada perubahan hormonal tubuh wanita itu sendiri. Pemberian estrogen dengan dosis rendah dapat mengatasi masalah tersebut. Walaupun ini tidak berarti bahwa semua gejala psikis hanya disebabkan oleh berkurangnya hormon estrogen saja.
Ada penyebab lain yang menimbulkan gangguan psikis. Seorang ibu rumah tangga yang memusatkan kehidupannya hanya untuk membesarkan anak-anaknya lebih mudah mengalami gangguan psikis. Umumnya wanita ini diliputi rasa takut untuk hidup sendiri kelak. Takut karena anak-anaknya nanti akan pergi meninggalkannya seorang diri. Lain lagi halnya bagi seorang wanita yang bekerja di luar rumah. Kesibukan yang dihadapinya di tempat kerja dengan sendirinya akan melupakan keluhan. Tetapi ada juga di antara wanita tersebut justru dengan bekerja keluhan-keluhannya bertambah berat. Mereka takut tidak dapat bekerja dengan baik lagi, takut kehilangan pekerjaannya. Kesemua ini menjadi beban tambahan yang berat, sehingga untuk mengatasi hal ini mereka tidak jarang menggunakan obat-obat penenang atau minum alkohol. Mereka lupa, bahwa obat-obat penenang akan membuat ketergantungan yang terus menerus. Padahal konsultasi dengan seorang dokter saja sudah cukup dapat mengatasi masalah yang dihadapi.
Disfungsi seksual pada wanita menopause, lama dianggap oleh ahli psikologi dan ahli psikoterapi sebagai gangguan psikogenik, telah menunjukkan respons terhadap pengobatan hormonal. Penyembuhan dapat dilakukan dengan estrogen, meliputi krim estrogen vaginal, untuk keluhan seperti vagina kering dan dispareunia dan dengan androgen untuk keluhan kehilangan gairah seksual.
Penting dicatat bahwa wanita pascamenopause telah kehilangan hingga separo dari produksi androgen. Walaupun kebanyakan wanita pascamenopause menunjukkan repons yang baik terhadap pengobatan estrogen-progestogen, beberapa membutuhkan tambahan androgen. Wanita yang diobati dengan substitusi estrogen-androgen adalah lebih composed, elated, dan energetik daripada yang diobati dengan estrogen saja. Penambahan androgen memperkuat gairah seksual dan meningkatkan frekuensi khayal seksual bilamana dibandingkan dengan estrogen saja atau plasebo. Pada Yale Mid-Life Study Program, androgen tidak rutin diberikan kecuali ada defisiensi pada kadar testosteron total atau bebas.
Kehidupan seks pada masa klimakterium Banyak wanita yang berpendapat bahwa hubungan seks tidak mungkin dilakukan lagi pada masa klimakterium. Pendapat seperti ini tidak dapat dibenarkan lagi. Hubungan seks tetap dapat dilakukan meskipun usia telah lanjut.
Akibat kekurangan estrogen, vagina menjadi kering dan mudah cedera sehingga terasa sakit sewaktu bersanggama. Rasa sakit ini dapat dihilangkan hanya dengan pemberian hormon berupa tablet estrogen oral maupun berupa krem vagina. Berkonsultasi dan meminta nasihat dokter tetap merupakan cara terbaik. Masalah utama yang menyebabkan seorang wanita tidak mau melakukan hubungan seks adalah faktor psikis wanita tersebut. Mereka takut, gelisah, tegang, sehingga sulit untuk melakukannya. Keadaan serupa terkadang juga ditemukan pada suami. Istri dan suami mengeluh bahwa mereka sudah tua, kulit sudah keriput dan badan lemah. Untuk apa melakukan hubungan seks lagi. Sekali lagi ditekankan di sini bahwa pendapat tersebut tidak dapat dibenarkan.
Hubungan seks sangat berperan pada keserasian hubungan suami istri. Setiap masalah yang timbul akan menyebabkan ke-retakan dalam rumah tangga. Untuk memecahkan masalah-masalah seperti ini, perlu dicari orang ketiga untuk mengemukakan semua masalah tersebut, dan cara yang sederhana ini acapkali mampu menyelesaikan masalah yang ada.

Pencegahan beberapa dampak masa klimakterium

  1. Pencegahan kehamilan
    Banyak wanita 40-50 tahun menjadi gelisah bila haidnya tiba-tiba berhenti atau menjadi tidak teratur. Hal yang pertama sekali dipikirkan tentu hamil atau tidak. Tetapi ada juga wanita yang berpendapat, bahwa bila usia sudah di atas 40 tahun dan haid tidak teratur pasti tidak mungkin hamil lagi. Perkiraan seperti ini sudah tidak dapat dibenarkan lagi. Haid yang tidak teratur hanya menunjukkan bahwa pematangan ovum tidak terjadi lagi secara siklis, tetapi bukan berarti tidak dapat terjadi pembuahan. Pencegahan kehamilan harus tetap dilakukan. Kehamilan pada usia ini mempunyai risiko baik bagi ibu yang hamil maupun bagi janinnya.
    Semua jenis kontrasepsi alamiah seperti pantang berkala, pencatatan suhu basal badan, maupun bentuk lainnya sebaiknya tidak dipakai. Cara ini hanya dapat digunakan pada wanita yang siklus haidnya masih teratur.
    Penggunaan pil sebagai kontrasepsi, selain dapat mengatur siklus haid juga sekaligus dapat menghilangkan keluhan klimakterik. Kerugiannya adalah bahwa dengan siklus haid yang teratur tidak dapat ditentukan saat wanita tersebut memasuki menopause. Bila sudah tidak haid lagi dua belas bulan berturut-turut, sudah pasti wanita itu memasuki usia menopause, sehingga kehamilan sudah tidak mungkin terjadi.
  2. Pencegahan osteoporosis
    Pencegahan osteoporosis pascamenopause bukan hanya bergantung pada estrogen, karena pengobatan dengan progestogen juga efektif dalam mencegah kehilangan tulang (bone loss). Penambahan progestogen ke pengobatan estrogen mungkin penting dalam mencegah osteoporosis tetapi mungkin penting dalam mengobati penderita yang telah mengalami osteoporosis.
    Sementara kebanyakan kajian menunjukkan bahwa pengobatan estrogen menghambat penyerapan kalsium dari tulang, sangat mungkin dengan memulihkan kadar kalsitonin yang turun setelah menopause, sekurang-kurangnya 3 kajian telah memperli-hatkan bahwa kombinasi pengobatan estrogen-progestogen sesungguhnya meningkatkan massa tulang dengan memajukan pembentukan tulang baru.
    Dalam kajian prospektif tersamar ganda 10 tahun, terlihat perbedaan bermakna antara penderita yang memperoleh pengobatan estrogen-progestogen siklik dan kelompok yang diberikan plasebo. Pada wanita yang diberikan pengobatan kombinasi estrogen-progestogen kurang dari 3 tahun setelah awitan menopause, densitas tulang secara nyata meningkat. Meskipun ada beberapa demineralisasi pada pemakai estrogen-progestogen bilamana pengobatan dimulai lebih lama daripada 3 tahun setelah menopause, kehilangan massa tulang secara bermakna lebih rendah daripada pada kedua kelompok plasebo. Kajian itu menekankan pentingnya memulai substitusi estrogen-progestogen secara dini pada menopause, tetapi ini juga menunjukkan bahwa hormon-hormon ini bermanfaat untuk wanita osteoporotik, tanpa memandang usia. Patut dicatat bahwa es-trogen konjugasi 2,5 mg sehari merupakan dosis yang digunakan pada kajian ini.
    Pada kajian silang yang membandingkan khasiat pengobatan estrogen-progesteron dengan plasebo, kandungan mineral tulang meningkat selama 3 tahun pengobatan hormon kombinasi tetapi terus menurun pada kelompok yang diberikan plasebo. Bilamana beberapa penderita dalam kelompok estrogen-pro-gestogen ditukar ke plasebo, densitas tulang menurun. Massa tulang juga meningkat pada wanita yang diberikan plasebo setelah ditukar ke pengobatan hormon aktif.
    Kelompok lain membandingkan khasiat estrogen saja dengan kombinasi estrogen-progestogen terhadap parameter metabolik dari kehilangan tulang : (a) kalsium plasma, (b) nisbah kal-sium/kreatinin urin, dan (c) hidroksiprolin. Semua nilai berkurang dengan pengobatan estrogen dan menurun lebih lanjut bilamana progestogen ditambahkan ke estrogen.
  3. Pencegahan penyakit jantung koroner
    Beberapa kajian terbaru menyarankan bahwa estrogen dapat memberikan khasiat protektif terhadap penyakit kardiovasku-ler, terutama bilamana dipakai estrogen alamiah dosis rendah yang cukup untuk memulihkan gejala menopause. Penurunan 63% pada harapan kematian akibat penyakit jantung diamati pada 1.000 wanita yang dibati dengan estrogen yang diawasi selama 15 tahun. Pada wanita yang diobati selama 25 tahun yang diawasi selama 25 tahun dan dibandingkan dengan yang tidak pernah memakai estrogen, ditemukan penurunan bermakna pada : (a) penyakit arterikoroner, (b) gagal jantung kongestif, (c) penyakit kardiovaskuler aterosklerotik, dan (d) hipertensi.
    The Nurses’ Heart Study memastikan bahwa :

    1. pemakaian estrogen pascamenopause secara bermakna mengurangi penyakit jantung koroner.
    2. pemakaian sekarang mengurangi risiko bahkan lebih rendah.
    3. manfaat ini diperoleh setelah penyesuaian terhadap faktor-faktor seperti : – merokok
      – hipertensi
      – diabetes
      – kolesterol tinggi
      – riwayat infark miokard pada orangtua
      – riwayat pemakaian kontrasepsi oral
      – obesitas

Pada suatu kohort dari 2.270 wanita dari The Lipid Re-search Clinics yang diikuti selama 8 tahun, terdapat 44 ke-matian dikarenakan penyakit kardiovaskuler diantara 1.677 bukan pemakai estrogen dan 6 kematian dalam 593 pemakai estrogen. Kajian ini menyimpulkan bahwa khasiat protektif dari estrogen diperatarai oleh kadar HDL yang meningkat.
Suatu kajian epidemiologik menunjukkan suatu pengurangan bermakna pada laju kematian infark miokard akut diantara pe-makai estrogen. Suatu pengurangan laju perawatan (hospitalization) untuk penyakit arteri koroner juga diamati pada pemakai estrogen dibandingkan bukan pemakai estrogen.
Hampir setiap kajian lain telah memastikan khasiat protektif pemakaian estrogen terhadap aterosklerosis koroner bahkan setelah penyesuaian untuk usia, merokok, diabetes, kolesterol dan hipertensi. Kadar HDL yang lebih tinggi dian-tara pemakai estrogen mungkin menunjukkan mekanisme biologik, yang dengan cara ini pemakaian estrogen pascamenopause merendahkan risiko oklusi koroner. Hanya satu kajian yang gagal memastikan khasiat yang berguna dari estrogen terhadap penyakit jantung. The Framingham Heart Study memastikan perbaikan bermakna pada pemakai estrogen bilamana dibanding-kan dengan bukan pemakain pada : kolesterol HDL, LDL, nisbah kolesterol terhadap kolesterol HDL. Kajian ini menyimpulkan bahwa pemakaian estrogen menghasilkan pola lipid yang lebih menguntungkan, tetapi mortalitas kardiovaskuler tidak ber-beda antara pemakai estrogen dan kontrol.

Keseimbangan pada masa klimakterium
Pada kenyataannya sebagian wanita klimakterik hidup tanpa keluhan, sedangkan sebagian lagi hidup bertahun-tahun dengan keluhan. Kontroversi belum seluruhnya terungkap secara jelas. Dahulu penelitian bidang reproduksi berpusat pada masalah menars (haid yang pertama). Dewasa ini menopause telah menarik perhatian para ilmuwan untuk diteliti. Dengan kemajuan teknologi dan makin meningkatnya taraf kehidupan, maka usia harapan hidup wanita di Indonesia. Keadaan ini akan menimbulkan masalah medis yang memerlukan penanganan.
Pengalaman menunjukkan bahwa wanita yang hidup hanya memikirkan kemajuan anaknya akan sangat mudah mendapat gangguan dalam usia klimakterik. Keluhan-keluhan ini akan bertambah berat begitu si anak pergi untuk mencari kehidupan sendiri, meninggalkan sang ibu yang merasa kesepian. Seorang wanita pekerja memasuki usia klimakterik dapat lebih mudah atau kadang-kadang lebih berat. Lebih berat karena ia harus dapat meningkatkan kemampuannya untuk dapat bekerja sebaik-baiknya, atau takut kehilangan tempat kerjanya. Lebih mudah, karena ia dapat berhubungan dengan dunia luar dan disibukkan oleh pekerjaannya. Ia memiliki kesempatan untuk membicarakan masalah yang dihadapi dengan teman-teman di tempat ia bekerja.

  • Wanita yang hidup dengan keluhan klimakterik dapat mencoba mengubah sendiri keadaan tersebut. Ada beberapa cara yang dapat digunakan, seperti :
    • makanan yang bergizi cukup, dan pengaturan diet terutama diet tinggi kalsium dan rendah lemak
    • menghindari peningkatan berat badan dan bila sudah terlanjur gemuk berat badan perlu diturunkan.
    • Olahraga dan tidur yang teratur, mengurangi kenaikan tekanan darah dan obstipasi.
    • Carilah ketenangan dengan lebih banyak mendekatkan diri kepada Tuhan.
    • Jauhkanlah diri dari pekerjaan yang menjemukan.
    • Pendekatan dengan dokter keluarga atau orang ketiga lain yang dianggap sesuai untuk membicarakan masalah yang sedang dihadapi.
      Klimakterium bukanlah akhir dari segala-galanya. Memang masa muda telah berlalu, tetapi bukan berarti kita hanya hidup untuk memikirkan nilai yang berguna untuk masyarakat. Senja di usia tidaklah berarti senja di kehidupan.
  • FAQ (Frequently Ask Question) tentang Menopause

    FAQ (Frequently Ask Question)

    1. Apakah itu menopause?
    2. Bagaimanakah gejala-gejala menopause?
    3. Bagaimanakah terapi menopause?
    4. Apakah itu fitoestrogen?
    5. Apakah Nutrafor Balance?
    6. Manfaat NUTRAFOR BALANCE?
    7. Apa kelebihan NUTRAFOR BALANCE?
    8. Bagaimana tips untuk wanita tetap fit dan aktif di usia 40 an?
    9. Bagaimana komposisi,indikasi, dosis, efek samping, kontra indikasi, kemasan Nutrafor Balance?

    10. Bila saya menginginkan informasi lebih lanjut, ke mana saya harus menghubungi?

    Apakah itu menopause?

    Menopause adalah suatu fase alamiah yang akan dialami oleh setiap wanita yang biasanya terjadi diatas usia 40 tahun. Ini merupakan suatu akhir proses biologis dari siklus menstruasi yang terjadi karena penurunan produksi hormon Estrogen yang dihasilkan Ovarium (indung telur ). Seorang wanita dikatakan mengalami menopause bila siklus menstruasinya telah berhenti selama ± 12 bulan. Berhentinya haid tersebut akan membawa dampak pada konsekuensi kesehatan baik fisik maupun psikis.

    Bagaimanakah gejala-gejala menopause?

    Gejala-gejala yang timbul dan dirasakan mengganggu pada setiap wanita usia menjelang dan semasa menopause berupa haid tidak teratur, hot flushes (semburan panas didaerah dada, leher, yang menyebar ke wajah sampai kulit kepala), night sweat, jantung berdebar-debar, sakit kepala / migren, vertigo, insomnia (susah tidur), nyeri sendi, nyeri otot, cepat letih, gairah sex yang menurun, sampai pada perubahan emosi seperti cemas, depresi, dan mudah tersinggung.
    Akibat jangka panjang yang harus diperhatikan pada wanita menopause adalah osteoporosis (tulang keropos), penyakit jantung koroner, stroke, dan pikun.

    Bagaimanakah terapi menopause?

    Terdapat bermacam-macam terapi untuk mengatasi gejala-gejala menopause, baik terapi hormonal maupun non hormonal. Meskipun demikian terdapat kekhawatiran dari wanita pasca menopause mengingat adanya resiko timbulnya kanker payudara pada penggunaan Terapi Sulih Hormon (TSH) lebih dari 5 tahun (*). Kini ada alternatif lain yang alamiah yaitu dengan menggunakan fitoestrogen.

    (*) Sumber : Risk & Benefits of Estrogen plus Progestin in Healthy Postmenopauseal Women , Journal of the American Association (JAMA), July, 17, 2002, vol 288.no 3.

    Apakah itu fitoestrogen?

    Fitoestrogen merupakan estrogen alamiah yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, mengandung senyawa isoflavon yang memiliki khasiat seperti hormon estrogen. Tumbuhan yang merupakan sumber fitoestrogen adalah tumbuh-tumbuhan kacang-kacangan, bengkuang, kedelai, Red Clover dan Black Cohosh . Wanita yang banyak mengkonsumsi fitoestrogen, dijumpai angka kejadian patah tulang dan penyakit jantung koroner yang rendah.

    Apakah Nutrafor Balance?

    NUTRAFOR BALANCE adalah food supplement dengan kandungan isoflavon berasal dari bahan-bahanalami (ekstrak Red Clover dan Black Cohosh ). Diformulasikan untuk membantu mengatasi gejala-gejala menopause seperti hot flushes, night sweats dan lainnya dan juga untuk mengurangi resiko terjadinya penyakit jantung dan penyakit lainnya yang disebabkan oleh kelebihan tingkat kolesterol dalam darah. Formula Nutrafor Balance diperkaya dengan Calcium dan Vitamin D3 , yang bermanfaat untuk mempertahankan massa tulang sehingga mengurangi resiko osteoporosis. Nutrafor Balance dapat mengatasi keluhan menjelang dan semasa menopause dan mengembalikan aktivitas sehari-hari seperti sedia kala.

    Manfaat NUTRAFOR BALANCE?

    Ekstrak Red Clover, merupakan sumber fitoestrogen dari tumbuhan Trifolium pratense yang berfungsi untuk mengurangi keluhan yang timbul seperti hot flushes, menghambat aktifitas sel-sel perusak tulang, menstabilkan kadar kholesterol darah, mencegah pengerasan pembuluh darah, dan menghambat pertumbuhan sel-sel kanker. Selain itu ekstrak Red Clover juga kaya akan berbagai macam vitamin dan mineral sehingga dapat meningkatkan stamina tubuh. Tumbuhan Red Clover memiliki 4 macam senyawa Isoflavon (genistein, daidzein, formononetin, dan biochanin A) yang diperlukan untuk mengatasi keluhan menopause, dengan kadar isoflavon 10 – 20 kali lipat dibandingkan sumber Isoflavon lainnya sehingga mempunyai daya kerja yang lebih optimal.

    Ekstrak Black Cohosh, merupakan sumber fitoestrogen dari tanaman Cimicifuga racemosa, bermanfaat mengatasi gejala-gejala menopause seperti hot flushes, depresi, perubahan emosi, dan vagina yang kering.

    Calcium dan Vitamin D3, bermanfaat untuk mempertahankan massa tulang sehingga dapat mengurangi resiko osteoporosis.

    Apa kelebihan NUTRAFOR BALANCE?

    1. Merupakan kombinasi fitoestrogen yang terdiri dari Red Clover dan Black Cohosh, sehingga total kandungan isoflavon lebih lengkap dan bekerja secara sinergis dalam mengatasi keluhan menjelang dan semasa menopause.
    2. Nutrafor Balance dilengkapi dengan kalsium dan vitamin D3 untuk mempertahankan massa tulang dan gigi dan mengurangi resiko terjadinya osteoporosis.

    Bagaimana tips untuk wanita tetap fit dan aktif di usia 40 an?

    • mengkonsumsi makanan seimbang yaitu makanan yang rendah lemak, makanan yang berkadar garam rendah dan mengandung sedikit gula, perbanyak sayuran, buah-buahan, vitamin dan mineral
    • olahraga secara teratur seperti jogging, berenang, naik sepeda, ataupun berdansa untuk mempertahankan kebugaran. Dengan berolahraga, dapat menyehatkan jantung dan tulang, mengatur berat badan, menyegarkan tubuh, dan dapat memperbaiki suasana hati
    • selalu berpikiran positif, melakukan aktivitas sosial dan tetap beribadah.

    Bagaimana komposisi,indikasi, dosis, efek samping, kontra indikasi, kemasan Nutrafor Balance?

    Komposisi :
    Red Clover Ekstrak : 112,5 mg
    Black Cohosh Ekstrak : 20 mg
    Calcium Phosphate : 258 mg    (setara dengan Calcium 100 mg)
    Cholecalciferol (Vitamin D3) : 100 IU

    Indikasi :
    – membantu mengatasi gejala menopause pada wanita menjelang dan selama masa menopause
    – mengurangi resiko terjadinya osteoporosis dan resiko penyakit jantung koroner

    Dosis :
    1 kapsul 2 kali sehari, pagi dan sore
    Biasanya manfaat mulai terasa sesudah pemakaian 1 bulan, namun ada yang lebih cepat. Untuk hasil optimal gunakan selama 6 bulan berturut-turut.
    Aman untuk penggunaan jangka panjang.

    Efek Samping :
    Relatif aman, gejala hipersensitif dan gangguan gastrointestinal jarang terjadi.

    Kontra Indikasi :
    Wanita hamil dan menyusui.

    Kemasan :
    Box, isi 6 blister @ 10 kapsul

    No.Reg. POM SD 021 302 771

    Bila saya menginginkan informasi lebih lanjut, ke mana saya harus menghubungi?

    Anda dapat menghubungi telepon (021) 535 5888, 7200981 ext. 340

    Tips Menoupuse ; Manfaat NUTRAFOR BALANCE ?

    Manfaat NUTRAFOR BALANCE ?

    • Ekstrak Red Clover, merupakan sumber fitoestrogen dari tumbuhan Trifolium pratense yang berfungsi untuk mengurangi keluhan yang timbul seperti hot flushes, menghambat aktifitas sel-sel perusak tulang, menstabilkan kadar kholesterol darah, mencegah pengerasan pembuluh darah, dan menghambat pertumbuhan sel-sel kanker. Selain itu ekstrak Red Clover juga kaya akan berbagai macam vitamin dan mineral sehingga dapat meningkatkan stamina tubuh. Tumbuhan Red Clover memiliki 4 macam senyawa Isoflavon (genistein, daidzein, formononetin, dan biochanin A) yang diperlukan untuk mengatasi keluhan menopause, dengan kadar isoflavon 10 – 20 kali lipat dibandingkan sumber Isoflavon lainnya sehingga mempunyai daya kerja yang lebih optimal.
    • Ekstrak Black Cohosh, merupakan sumber fitoestrogen dari tanaman Cimicifuga racemosa, bermanfaat mengatasi gejala-gejala menopause seperti hot flushes, depresi, perubahan emosi, dan vagina yang kering.
    • Calcium dan Vitamin D3, bermanfaat untuk mempertahankan massa tulang sehingga dapat mengurangi resiko osteoporosis.

    Apa kelebihan NUTRAFOR BALANCE ?

    1. Merupakan kombinasi fitoestrogen yang terdiri dari Red Clover dan Black Cohosh, sehingga total kandungan isoflavon lebih lengkap dan bekerja secara sinergis dalam mengatasi keluhan menjelang dan semasa menopause.
    2. Nutrafor Balance dilengkapi dengan kalsium dan vitamin D3 untuk mempertahankan massa tulang dan gigi dan mengurangi resiko terjadinya osteoporosis.

    Tips untuk wanita tetap fit dan aktif di usia 40 an :

    • mengkonsumsi makanan seimbang yaitu makanan yang rendah lemak, makanan yang berkadar garam rendah dan mengandung sedikit gula, perbanyak sayuran, buah-buahan, vitamin dan mineral
    • olahraga secara teratur seperti jogging, berenang, naik sepeda, ataupun berdansa untuk mempertahankan kebugaran. Dengan berolahraga, dapat menyehatkan jantung dan tulang, mengatur berat badan, menyegarkan tubuh, dan dapat memperbaiki suasana hati
    • selalu berpikiran positif, melakukan aktivitas sosial dan tetap beribadah.

    Bahan dan cara kerja; Menopause

    Bahan dan cara kerja

    Kasus yang datang ke Poli Menopause Osteoporosis di UPT Makmal Terpadu Imunoendokrinologi FKUI, usia antara >45-70 tahun dibagi dalam 2 kelompok; kelompok premenopause osteopenia-osteoporosis yang masih mempunyai keluhan klinis defisiensi estrogen (gejolak panas, berdebar-debar, nyeri tulang belakang, pemarah, pelupa, lekas lelah, vagina kering sakit saat berhubungan , rambut rontok) terjadi pada usia ≥ 45 ≤ 50 tahun dengan tulang osteopenia maupun osteoporosis, kelompok post menopause osteoporosis pada usia >50-70 tahun dengan keluhan defisiensi estrogen yang mengganggu dan densitometer Lunar menyatakan osteoporosis . Pasien tidak minum obat-obat TSH lain atau telah bebas minum obat-obat TSH lebih dari 3 bulan. Dua kelompok pasien diberikan gabungan red clover dan black cohosh, 2 kapsul sehari ditambah kalsium 400 mg+senam beban, diikuti keluhan-keluhan klinis defisiensi estrogen setiap bulan dan densitas tulang bagi yang didiagnosis osetoporosis sesudah 6 bulan dan 1 tahun pemberian.
    Keluhan klinis yang hilang, dicatat dalam formulir keluhan yang dibuat khusus untuk pasien, yang dikontrol oleh tim peneliti setiap kali habis minum obat perbulan. Beberapa kasus dinilai perubahan kadar HDL, LDL setelah 6 bulan dan 1 tahun pemberian. Penilaian densitas tulang dilakukan dengan densitometer LUNAR dinyatakan osteoporosis, apabila 2 tulang dan 3 tulang yag diperiksa (lumbal 1-4, femur neck dan radius) dinyatakan osteoporosis.

    Hasil

    Selama kurun ± 15 bulan, terkumpul 203 kasus yang terdiri dari 109 kasus menopause premenopause dengan keluhan klinis defisiensi estrogen jelas dan 94 kasus post menopause dengan osteoporosis. Tampak dari 109 kasus premenopause ditemukan 45 kasus dengan osteoporosis dan 64 kaus dengan osteopenia. Sedangkan dari 94 kasus post menopause semua kasus dengan osteoporosis (Tabel 1).

    Tabel 1. 183 kasus penelitian, keluhan klinsi defisiensi estrogen dan osteoporosis

    Keluhan klinis/
    hasil pemeriksaan
    Premenopause Post menopause
    osteoporosis
    Jumlah
    kasus
    Osteopenia Osteoporosis
    Jumlah kasus
    64
    45
    94
    203
    Keluh klinis defisiensi estrogen
    A TA
    A TA
    A TA
    Gejolak panas
    49 15
    42 3
    7 87
    Berdebar-debar
    47 17
    36 9
    94 -
    Nyeri tulang belakang
    64 -
    45 -
    94 -
    Pemarah
    64 -
    45 -
    94 -
    Pelupa
    64 -
    45 -
    94 -
    Lekas lelah
    64 -
    45 -
    94 -
    Vagina kering (SC)
    38 26
    42 3
    94 (-)
    Rambut rontok
    17 47
    9 36
    29 65
    Kulit kasar
    12 52
    21 24
    73 21
    Sulit menahan kencing
    - 64
    3 42
    31 63
    Laboratorium
    T N R
    T N R
    T N R
    HDL
    - 48 14
    - 12 33
    - 4 90
    LDL
    12 52 -
    29 16 -
    92 2 -
    Estradiol (pg) ml
    >100 40-100 <40
    >100 40-100 <40
    >100 40-100 <40
    25 38 1
    - 3 42
    - 7 87
    Hasil densitometer LUNAR
    ON OS N
    ON OS N
    ON OS N
    Lumbal (1-4)
    64 - -
    - 45 -
    - 94 -
    Femur neck
    49 - 15
    16 29 -
    9 75 10
    Radius
    64 - -
    - 45 -
    - 94 -

    Keterangan: A= Ada; TA= Tidak ada; T= Tinggi; N= Normal; R= Rendah; ON= Osteopenia;
    OS= Osteoporosis; SC = Sakit saat coitus

    Tampak pada tabel satu, kadar HDL rendah pada kasus premenopause osteopenia 14 kasus (21,9%) dan post menopause osteoporosis 33 kasus (73,3%), sedangkan kadar LDL tinggi pada premenopause osteopenia 12 kasus (18,8%) dan pada post menopause osteoporosis 29 aksus (64,5%), kadar HDL rendah pada post menopause osteoporosis 90 kasus (95,7%) dan LDL tinggi pada post menopause osteoporosis 92 kasus (97,9%). Tampak rendahnya kadar estradiol < 40 pg/ml berhubungan dnegan makin menurunnya kadar HDL dan meningkatnya kadar LDL. Demikian juga tampak pada 64 kasus premenopause osteopenia, ditemukan kadar E2 mulai rendah pada 38 kasus dengan 64 kasus osteopenia, sedangkan pada 54 kasus premenopause osteoporosis ditemukan kadar estradiol rendah < 40 pg/ml sebanyak 42 kasus dan pada 94 kasus post menopause osetoporosis ditemukan 87 kasus dengan kadar estradiol < 40 pg/ml. Sedangkan asupan kalsium yang rendah sebagai penyebab rendahnya densitas tulang diduga berperan.

    Pengobatan kasus dibagi dua kelompok gabungan fitoestrogen dengan kalsium 400 mg dan senam beban, didapat dari 203 kasus penelitian, 2 kasus (0,98%) menghentikan pemakaian karena reaksi alergi (kulit gatal, muntah dan bengkak-bengkak), sehingga hanya 201 kasus (98,9%) yang meneruskan penelitian ini sampai 1 tahun (Tabel 2).

    Tabel 2. Jumlah kasus alergi dan dari 203 kasus penelitian

    Jumlah kasus Reaksi alergi        % Meneruskan penelitian    %
    203
    2 (0,98)
    201 (99,02)

    Tampak setelah pemberian obat-obat gabungan fitoestrogen + kalsium + senam beban, keluhan defisiensi estrogen klinis dari 109 kasus premenopause osteopenia dan osteoporosis hilang pada pemberian ke 3-4, sedangkan pada 94 kasus post menopause osteoporosis tampak keluhan defisiensi estrogen mulai lenyap pada bungkus ke 4-5 pemberian. Hal ini disebabkan perbedaan ikatan isoflavon pada reseptor estrogen, reaksi klinis yang ditimbulkan berbeda dalam tingkat tertentu dan jelas ada hal-hal lain yang (Tabel 2 dan 3) harus diteliti lebih lanjut. Setelah 6 bulan pemberian tampak pada HDL dan LDL menjadi normal sebanyak 77,4-78,3% pada premenopause osteoporosis dan post menopause osteoporosis kadar HDL dan LDL menjadi normal sebanyak 65,6-71,7%. (Tabel 3 dan tabel 4)

    Tabel 3. Hasil pengobatan gabungan fitoestrogen+kalsium dan senam beban
    pada 109 kasus pre-menopause osteopenia – osteoporosis

    Jenis keluhan klinis Awal Premenopause osteopenia – osteoporosis
    Bulan –bulan pengobatan FE + KA + SB
    1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
    GP 91 70 12 4 2 1 - - -
    DBR 83 52 7 - - - - - -
    NTB 109 42 4 - - - - - -
    Pemarah 109 83 11 9 6 4 3 3 1(k)
    Pelupa 109 97 20 8 3 2 2 2 1
    Lekas lelah 109 42 12 4 1 - - - -
    Vagina kering (SC) 80 60 47 22 9 5 2 - -
    Rambut rontok 26 20 14 - - - - - -
    Kulit kasar 23 23 18 14 14 14 10 12 9
    Sulit menahan kencing - - -
    Laboratorium
    HDL (R) 97 61
    (37,1%)
    N 12
    (74,5% N)
    LDL ( T ) 31 24
    (22,4%)
    N 22
    (46,3% N)

    Tabel 4. Hasil pengobatan gabungan fitoestrogen+kalsium+senam beban
    pada 92 post meno-pause osteoporosis

    Jenis keluhan klinis Awal Premenopause osteopenia – osteoporosis
    Bulan –bulan pengobatan FE + KA + SB
    1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
    GP 49 46 32 17 3 1 - - -
    DBR 92 83 61 23 - - - - -
    NTB 92 72 59 32 2 - - - -
    Pemarah 92 80 61 29 17 12 2 2 2
    Pelupa 92 83 60 27 12 6 4 3 2
    Lekas lelah 92 70 43 16 - - - - -
    Vagina kering (SC) 92 90 89 72 62 42 29 4 2
    Rambut rontok 29 24 20 15 12 9 2 1 -
    Kulit kasar 43 43 40 36 30 26 22 29 16
    Sulit menahan kencing 31 29 29 24 11 9 6 - -
    Laboratorium
    HDL (R) 90 43
    (52,2% N)
    N 12
    (86,7% N)
    LDL ( T ) 92 67
    (27,2% N)
    N 3
    (66,3% N)

    Penilaian densitas tulang dilakukan sebelum pengobatan dan sesudah pengobatan 6 bulan dan 1 tahun baik pada kasus premenopause osteoporosis dan post menopause osteoporosis. Didapat peningkatan densitas tulang pada pasien-pasien premenopause osteoporosis sebagai berikut:

    6 bulan 1 tahun
    Lumbal (1-4) 2,9 – 5,1% 3,2 – 6,1%
    Femur (N) 2,4 – 5,9% 4,8 – 6,4%
    Radius 2,2 – 4,2% 3,4 – 6,8%

    Pada kasus post menopause osteoporosis didapat peningkatan densitas tulang sbb :

    6 bulan 1 tahun
    Lumbal (1-4) 2,8 – 4,2% 3,1 – 5,9%
    Femur (N) 2,1 – 4,8% 2,8 – 6,8%
    Radius 2,0 – 4,0% 2,2 – 6,4%

    Tabel 5. Peningkatan densitas mineral tulang setelah 6 bulan dan 1 tahun pengobatan
    pada kasus osteoporosis premenopause dan osteoporosis post menopause

    Densito-meter Sebelum
    pengobatan
    Sesudah pengobatan Sesudah pengobatan
    6 bulan % 1 tahun %
    Premenopause Lumbal 0,749-0,753 0,751-0,756 2,9-5,1 0,752-0,757 3,2-6,1
    Femur (N) 0,412-0,422 0,4129-0,4244 2,4-5,9 0,4139-0,4247 4,8-6,4
    Radius 0,237-0,259 0,2375-0,260 2,2-4,2 0,2378-0,2607 3,4-6,8
    Post meno-pause Lumbal 0,632-0,724 0,6337-0,727 2,8-4,2 0,6339-0,7282 3,1-5,9
    Femur (N) 0,397-0,435 0,3978-0,437 2,1-4,8 0,3981-0,9379 2,8-6,8
    Radius 0,246-0,251 0,2464-0,2511 2,0-4,0 0,2465-0,2526 2,2-6,4

    Diskusi

    Pengobatan gabungan fitoestrogen, dalam hal ini gabungan red clover + black cohosh dan senam beban tampaknya menyembuhkan keluhan defisiensi klinis estrogen yang cukup meyakinkan pada ibu-ibu di Jakarta. Didapat penurunan keluhan-keluhan klinis defisiensi estrogen yang mulai membaik setelah bungkus ke 2, dan hilang secara meyakinkan setelah bungkus ke 3 pada kasus-kasus premenopause osteoporosis dan post menopause osteoporosis dan bungkus ke 4 pada kasus-kasus post menopause osteoporosis. Hal ini tentu sangat mengembirakan karena secara teori pemberian diteruskan untuk jangka panjang, karena terbukti bahwa gabungan isoflavon dari red clover dan black cohosh, walau mengikat reseptor estrogen α dan reseptor β tetapi affinitas reaksi klinis tampaknya condong lebih kuat ke reseptor β yang mana hal ini harus diteliti lebih lanjut.
    Kemampuan gabungan red clover dan black cohos dalam menormalkan metabolisme lemak, khususnya kadar HDL yang menjadi normal pada premenopause 74,5% dan post menopause osteoporosis 86,7%, sedangkan kadar LDL pada premenopause 46,3% dan post menopause osteoporosis 66,3%. Peningkatan densitas tulang yang berarti tampak pada radius, kemudian menyusul femur dan lumbal. Hal ini juga dihubungkan dengan reaksi ikatan gabungan isoflavon red clover dan black cohos terhadap reseptor estrogen α dan reseptor β serta aktifitas ibu mengikuti senam beban secara teratur.
    Disimpulkan gabungan fitoestrogen (red clover + black cohos) dengan senam beban dan kalsium memberikan hasil yang sempurna untuk wanita post menopasue osteoporosis. Perlu penelitian lanjutan (yang saat ini sedang berjalan) dengan pemeriksaan laboratorium, petanda osteoblas, osteoklas serta faktor pemicu osteoblas dan osteoklas saat pemberian gabungan fitoestrogen ini.

    Apakah Nutrafor Balance?

    NUTRAFOR BALANCE adalah food supplement dengan kandungan isoflavon berasal dari bahan-bahanalami (ekstrak Red Clover dan Black Cohosh ). Diformulasikan untuk membantu mengatasi gejala-gejala menopause seperti hot flushes, night sweats dan lainnya dan juga untuk mengurangi resiko terjadinya penyakit jantung dan penyakit lainnya yang disebabkan oleh kelebihan tingkat kolesterol dalam darah. Formula Nutrafor Balance diperkaya dengan Calcium dan Vitamin D3 , yang bermanfaat untuk mempertahankan massa tulang sehingga mengurangi resiko osteoporosis. Nutrafor Balance dapat mengatasi keluhan menjelang dan semasa menopause dan mengembalikan aktivitas sehari-hari seperti sedia kala.

    Mengapa Masalah Osteoporosis Pasca Menopause Akhir-Akhir Ini Menjadi Masalah ?

    Mengapa Masalah Osteoporosis Pasca Menopause Akhir-Akhir Ini Menjadi Masalah ?

    • Menghadapi tahun 2010-an terjadi peningkatan harapan hidup wanita sampai usia 70 tahun dan
    • Pada usia 2000- an peningkatan penduduk indonesia diatas usia 65 tahunan 15,75 % dibandingkan dengan negara tetangga Singapura 23,67% , Korea selatan 13,32%, Cina 18,17% , Jepang 30,22 % , Thailand 19,04 %, Vietnam 14,58 % dan Philipina 21,05 %

    Jelas meningkatnya usia dan osteoporosis merupakan suatu yang akan terjadi, sedangkan bahaya fraktur osteoporosis jelas akan meningkat yang sangat merugikan kualitas kehidupan ibu dalam usia-usia lanjut ini. Terjadinya fraktur osteoporosis yang terjadi di daerah pangkal paha, tulang belakang, dan lengan. Walaupun fraktur osteoporosis dapat diatasi dengan operasi tetapi apabila tidak diobati untuk osteoporosis terjadi lagi patah tulang kedua dan bahaya perawatan post operasi pada wanita tua meningkatnya kejadian “stroke”.

    Osteoporosis

    Tulang adalah jaringan yang kuat dan tangguh yang memberi bentuk pada tubuh , menunjang berat badan, melindungi organ-organ vital serta dapat menyebabkan pergerakan tubuh karena sebagai tempat melekat otot-otot.
    Pada wanita pertumbuhan tulang mencapai puncaknya pada usia 30 tahunan, tulang terdiri dari matriks kolagen tulang, bahan-bahan organik dan mineral tulang.

    Mineral tulang berfungsi merekatnya serat-serat kolagen matriks tulang satu dengan lainnya dan juga sebagai cadangan isi calsium di tubuh. Selain itu tulang mengalami metabolik aktif berupa proses remodelling yaitu proses perusakan osteoclast dan proses pembentukkan osteoblast tulang yang terutama terjadi pada tulang yang sudah tua diganti dengan jaringan yang baru. Menurunnya hormon estrogen menyebabkan penurunan aktivitas osteoblast dan osteoclast meningkat sehingga terjadi osteoporosis primer, bukan osteoporosis sekunder yang disebabkan oleh penyakit-penyakit lain. Kejadian osteoporosis primer pada wanita selain pengaruh penurunan hormon esterogen, juga dipengaruhi asupan kalsium, aktivitas, paparan UV singkat dan matahari, gaya hidup ( merokok + alkohol) dan obat-obat lain yang menurunkan massa tulang. Pada penurunan hormon estrogen menyebabkan meningkatnya resiko osteoporosis karena ibu jadi pemalas, asupan kalsium menurun, paparan matahari menurun, aktivitas menurun.

    Pada pria lebih cenderung terjadi osteoporosis sekunder, oleh sebab penyakit diabetes melitus dll. Pada usia 70 –75 tahun pada laki-laki kadar testoteron menurun demikian juga dengan kadar estrogen menurun (testis juga membentuk estrogen), densitas tulang mulai menurun pada masa andropause.
    Dengan ditemukannya reseptor estrogen pada osteoblast maka laki-laki hormon estrogen yang ada dan perubahan hormon testoteron ke 17 Beta estrogen yang berpengaruh pada tulang. Penurunan dan rendahnya massa tulang disebut osteopenia. Apabila mencapai ambang patah tulang dan penurunan kekuatan tulang disebut osteoporosis. Osteoporosis primer ini lebih sering pada wanita ( 6-8 kali lebih banyak ) kejadiannya daripada pria. Hal ini dihubungkan dengan kelainan hormonal secara biologik dan diteruskan ke masa presenium dan senium.

    Diperkirakan 75 juta manusia di USA , eropa dan jepang menderiata osteoporosis. Patah tulang lumbal berhubungan dengan rasa sakit dan berkurangnya tinggi, sedangkan patah tulang femur (tungkai) berhubungan dengan ketidakmampuan atau berhubungan dengan immobilisasi yang sangat panjang samapi kematian.

    Christiansen menyatakan:

    • Satu dari dua wabita pada usia 70 tahun mengalami patah tulang.
    • Dua dari tiga wanita usia 80 tahun mengalami patah tulang.

    Disimpulkan osteoporosis dapat dinyatakan sebagai penyakit yang mempunyai karakteristik:

    • Massa tulang yang sangat berkurang
    • Perubahan mikro arsitektur tulang yang sebabkan kerapuhan tulang.
    • Meningkatkan resiko terjadinya patah tulang dan penurunan kekuatan tulang.

    Diagnosis Osteoporosis

    Diagnosis osteoporosis umumnya secara klinis sulit dinilai, karena tidak ada rasa nyeri pada tulang saat osteoporosis terjadi walau osteoporosis lanjut. Khususnya pada wanita-wanita menopause dan pasca menopause, rasa nyeri di daerah tulang dan sendi dihubungkan dengan adanya nyeri akibat defisiensi estrogen. Masalah rasa nyeri jaringan lunak (wallaca tahun1981) yang menyatakan rasa nyeri timbul setelah bekerja, memakai baju, pekerjaan rumah tangga, taman dll. Jadi secara anamnesa mendiagnosis osteoporosis hanya dari tanda sekunder yang menunjang terjadinya osteoporosis seperti :

    • Tinggi badan yang makin menurun.
    • Obat-obatan yang diminum.
    • Penyakit-penyakit yang diderita selama masa reproduksi, klimakterium.
    • Jumlah kehamilan dan menyusui.
    • Bagaimana keadaan haid selama masa reproduksi.
    • Apakah sering beraktivitas di luar rumah , sering mendapat paparan matahari cukup.
    • Apakah sering minum susu? Asupan kalsium lainnya.
    • Apakah sering merokok, minum alkohol?

    Diagnosis atau penegakan diagnosis saat ini adalah

    • Densitometer (luncr)
    • Densitometer – USG
    • Laboratorium pemeriksaan:
      – Osteokalsin
      – Dioksipiridinolin

    Dari pengalaman klinis, setelah memasyarakatkan keilmuan klimakterium dan menopause serta osteoporosis pasca menopause ini banyak pasien yang datang dengan keluhan gejolak panas, nyeri otot dan pinggang yang sebelumnya pasien hanya datang berobat karena gangguan haid.
    Penilaian pengobatan hormonal pengganti (estrogen + progesteron) telah banyak memberikan hasil yang baik pada wanita menopause. Adanya laporan WHI (Woman Health Interative) mengenai peningkatan keganasan payudara 26 % , stroke 38 %, masalah kardiologi 23 % masih meragukan banyak pihak, karena masalah merokok, alkohol dan pemakaian pil KB lama yang tinggi tidak disingkirkan. Penelitian di Indonesia pemberian hormon pengganti TSH (Terapi Sulih Hormon ) sangat meningkatkan kualitas hisup wanita pasca menopause.

    Pencegahan Dan Pengobatan Osteoporosis

    Tujuan pengobatan : perbaiki massa tulang yang akan mencegah patah tulang.
    Pencegahan :

    1. pencegahan pertama ditujukan agar jangan terjadi kehilangan massa tulang yang tinggi dibantu dengan diet, kegiatan olahraga beban, kerja.
    2. Pencegahan kedua ditujukan untuk mencegah kehilangan massa tulang sesudah menopause dengan cara-cara:
      • TSH (Terapi Sulih Hormon) dengan memberikan hormon estrogen alamiah dosis rendah dengan progesteron alamiah dosis rendah. Memberikan hasil yang baik dalam menghilangkan keluhan defisiensi estrogen, sehingga kualitas hidup wanita meningkat serta densitas tulang meningkat ( 5 %).
      • Biphosphonat, obat-obat yang menghambat penyerapan tulang terbukti memberikan hasil yang sangat baik seperti golongan Actonel, yang menghasilkan tulang selama 1 tahun pengobatan sampai 5-6 % serta menormalkan HDL dan LDL 40 %.
      • Gabungan TSH + Biphosphonat , sangat bermanfaat karena terjadi peningkatan kualitas hidup ibu serta peningkatan densitas tulang sampai 7-7.5 % pertahun dan normalnya kadar HDL dan LDL yang mencapai 70-80 % sehingga ancaman terjadinya gangguan jantung menurun.
      • Gabungan SERM (Selective Estrogen Receptor Modulator) bukan hormon, bekerja pada reseptor estrogen beta, meningkatkan kekuatan tulang sangat bermanfaat untuk pasien-pasien dengan keganasan payudara.
      • Golongan Fitoestrogen : Estrogen dari tumbuh-tumbuhan. Saat ini sedang diteliti bermanfaat untuk atasi keluhan-keluhan menopause, tidak menyebabkan perdarahan pervaginam serta keganasan payudara.

    Pengobatan bukan obat-obatan

    • Kalsium
    • Vitamin D (Vitamin D3 dari kulit dan vitamin D 2 dari makanan adalah bahan dasar kalsitriol)
    • Senam beban (senam pencegahan osteoporosis dan senam Osteoporosis)

    Bagaimanakah gejala-gejala menopause?

    Bagaimanakah gejala-gejala menopause?

    Turunnya fungsi ovarium (sel telur) mengakibatkan hormon terutama estrogen dan progesteron sangat berkurang di dalam tubuh kita. Kekurangan hormon estrogen ini menyebabkan keluhan-keluhan:

    Keluhan vasomotorik

    • Gejolak panas (hot flashes)
    • Vertigo
    • Keringat banyak

    Keluhan Konstitusional

    • Berdebar-debar
    • Migrain
    • Nyeri otot, nyeri pinggang
    • Mudah tersinggung

    Keluhan Psikiastenik dan neurotik

    • Merasa tertekan
    • Lelah psikis, lelah somatik
    • Susah tidur
    • Merasa ketakutan
    • Konflik keluarga , gangguan di tempat kerja

    Keluhan lain – lain

    • Sakit waktu bersetubuh
    • Gangguan haid
    • Keputihan, gatal pada vagina
    • Susah kencing
    • Libido menurun
    • Keropos tulang (osteoporosis)
    • Gangguan sirkulasi (miocard infark)
    • Kenaikkan kolesterol , adepositas (kegemukan –gangguan metabolisme KH)

    Keluhan-keluhan diatas tidak sama pada semua wanita. Hal ini disebabkan efek biologik di jaringan hormon estrogen melalui reseptor estrogen yang di dalam tubuh didapat reseptor estrogen alpha dan beta. Jumlah reseptor estrogen alpha dan beta yang tidak sama pada setiap wanita dan adanya reaksi individual akibat rendahnya estrogen menyebabkan gejala menopause yang berbeda. Umumnya gejolak panas, susah tidur, gelisah, lekas marah, pelupa, nyeri tulang belakang dirasakan pada hampir sebagian besar wanita menopause.

    Akibat jangka panjang yang harus diperhatikan pada wanita menopause adalah osteoporosis (tulang keropos), penyakit jantung koroner, stroke, dan pikun.
    Kalau kondisi ini dibiarkan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup wanita.

    Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Gejala-Gejala Menopause

    Faktor Psikis
    Perubahan-perubahan psikologis maupun fisik ini berhubungan dengan kadar estrogen , gejala yang menonjol adalah berkurangnya tenaga dan gairah, berkurangnya konsentrasi dan kemampuan akademik, timbulnya perubahan emosi seperti mudah tersinggung, susah tidur, rasa kekurangan, rasa kesunyian, ketakutan keganasan, tidak sabar lagi dll. Perubahan psikis ini berbeda-beda tergantung dari kemampuan si wanita untuk menyesuaikan diri.

    Sosial ekonomi
    Keadaan sosial ekonomi mempengaruhi faktor fisik, kesehatan dan pendidikan. Apabila faktor-faktor di atas cukup baik, akan mengurangi beban fisiologis, psikologis. Kesehatan akan faktor klimakterium sebagai faktor fisiologis.

    Budaya dan lingkungan
    Pengaruh budaya dan lingkungan sudah dibuktikan sangat mempengaruhi wanita untuk dapat atau tidak dapat menyesuaikan diri dengan fase klimakterium dini.

    Faktor Lain
    Wanita yang belum menikah, wanita karier baik yang sudah atau belum berumah tangga, menarch yang terlambat berpengaruh terhadap keluhan-keluhan klimakterium yang ringan.

    Perubahan-Perubahan Organik Pada Masa Klimakterium

    Perubahan pada organ reproduksi

    Uterus (kandungan)
    Uterus mengecil , selain disebabkan atrofi endometrium juga disebabkan hilangnya cairan dan perubahan bentuk jaringan ikat intertesial. Serabut otot miometrium menebal, pembuluh darah miometrium menebal dan menonjol.

    Tuba Falopii (saluran Telur)
    Lipatan – lipatan tuba menjadi lebih pendek, menipis dan mengkerut, endosalpingo menipis mendatar dan silia menghilang.

    Serviks (mulut rahim)
    Serviks akan mengkerut sampai terselubung oleh dinding vagina, kripta servikal menjadi atropik, kanalis servikalis memendek, sehingga menyerupai ukuran serviks fundus saat masa adolesen.

    Vagina (liang kemaluan)
    Terjadinya penipisan vagina menyebabkan hilangnya rugae berkurangnya vaskularisasi, elastistik yang berkurang, sekret vagina menjadi encer, indeks kario piknotik menurun. Ph vagina meningkat karena terhambatnya pertumbuhan basil Donderlein yang menyebabkan glikogen seluler meningkat, sehingga memudahkan terjadinya infeksi.
    Uretra ikut memendek dengan pengerutan vagina, sehingga meatus eksternus melemah timbul uretritis dan pembentukkan karankula.

    Dasar pinggul
    Kekuatan dan elastistik menghilang, karena atrofi dan lemahnya daya sokong disebabkan prolapsus utero vaginal.

    Perineum dan anus
    Lemak subcutan menghilang, atrofi otot sekitarnya menghilang yang menyebabkan tonus spincter melemah dan menghilang. Sering terjadi inkontinensia alvi vagina.

    Vesica Urinaria (kandung kencing)
    Tampak aktivitas kendali spincter dan detrusor hilang, sehingga sering kencing tanpa sadar.

    Kelenjar payudara
    Diserapnya lemak subcutan , atrofi jaringan parenkim, lobulus menciut, stroma jaringan ikat fibrosa menebal. Puting susu mengecil kurang erektil , pigmentasi berkurang , sehingga payudara menjadi datar dan mengendor.

    Perubahan diluar organ reproduksi

    Adipositas (penimbunan lemak)
    Penyebaran lemak ditemukan pada tungkai atas, pinggul, perut bawah dan lengan atas.
    Ditemukan 29 % wanita klimakterium memperlihatkan kenaikkan berat badan yang sedikit dan 20 % kenaikkan yang menyolok. Diduga ada hubungan dengan turunnya estrogen dan gangguan pertukaran zat dasar metabolisme lemak.

    Hipertensi (tekanan darah tinggi)
    Adanya gejolak panas terjadi suatu peningkatan tekanan darah baik sistole maupun diastole. Diketahui bahwa 2/3 penderita hipertensi esential primer adalah wanita antara 45-70 tahun yang diketahui permulaan peningkatan tensi paling banyak terjadi salama masa klimakterium. Peningkatan tekanan darah pada usia klimakterium terjadi secara bertahap, kemudian menetap dan lebih tinggi dari tensi sebelumnya.

    Hiperkolesterolnemia (kolesterol tinggi)
    Penurunan atau hilangnya kadar estrogen menyebabkan peningkatan kolesterol. Peningkatan kadar kolestrol pada wanita terjadi 10-15 tahun lebih lambat pada laki-laki. Peningkatan kadar kolesterol yang merupakan faktor utama dalam penyebab arterosklerosis.

    Aterosklerosis (perkapuran dinding pembuluh darah)
    Adanya hipertensi dan peningkatan kadar kolesterol menyebabkan meningkatkan faktor resiko terhadap terjadinya aterosklerosis. Khususnya mengenai sklerosis primer koroner dan infark miocard akan terjadi 1-2 kali lebih sering setelah kadar estrogen menurun.

    Virilisasi (pertumbuhan rambut-rambut halus)
    Turunnya estrogen dalam darah adanya efek androgen menyebabkan tanda-tanda diferensiasi dari defeminisasi dan maskulinisasi. Hal ini berhubungan dengan ovarium sendiri membentuk estron yang bersifat androgen.

    Osteoporosis (keropos tulang)
    Dengan turunnya kadar estrogen, maka proses osteoblast yang berfungsi membentuk tulang baru terhambat dan fungsi osteoclast merusak tulang meningkat. Akibat tulang tua diserap dan dirusak osteoclast tetapi tidak dibentuk tulang baru oleh osteoblast, sehingga tulang menjadi osteoporosis.

    Bagaimanakah terapi menopause?

    Prinsip pengobatan menopause adalah memberikan estrogen dari luar atau dikenal dengan Hormone replacement therapy (HRT) atau istilahnya dalam bahasa indonesia adalah terapi sulih hormon (TSH).
    Prinsip dasar pemberian TSH:

    1. wanita yang masih memiliki uterus, maka pemberian estrogen harus selalu dikombinasikan dengan progesterone. Tujuan penambahan progesterone adalah untuk mencegah kanker endometrium.
    2. wanita tanpa uterus, maka cukup pemberian estrogen saja dan estrogen diberikan secara kontinue (tanpa istirahat)
    3. pada wanita perimenopause yang masih haid dan masih tetap menginkan haid, TSH diberikan secara sekuensial. Wanita pasca menopause yang masih ingin haid diberikan secara sekuensial, kecuali jika tidak terjadi haid diberikan secara kontinue. Sedangkan yang tidak ingin haid diberikan kontinue.
    4. jenis estrogen yang digunakan adalah estrogen alamiah dan progesterone juga yang alamiah.
    5. pemberian selalu dimulai dengan dosis rendah
    6. dapat dikombinasi dengan androgen atau diberikan dengan TSH yang memiliki sifat androgenic.

    Cara pemberian TSH:

    • Oral
    • Trasdermal
    • Semprot hidung
    • Implan (susuk)
    • Pervaginam (krem vagina)
    • Sublingual
    • Intramuskular

    Efek samping pemberian TSH
    Hal ini sebagian besar diakibatkan karena dosis estrogen yang tinggi.

    1. Nyeri payudara
    2. Peningkatan berat badan
    3. Keputihan dan sakit kepala
    4. Perdarahan

    Pemberian hormon estrogen sebagai terapi sulih hormon, untuk menggantikan hormon estrogen yang kurang, telah diteliti dan menghilangkan keluhan defisiensi estrogen klinis dengan baik setelah 2-3 minggu yang pemberian pada dosis estrogen yang tinggi dan 4-5 minggu pemberian pada dosis estrogen rendah. Peningkatan densitas tulang pada pemberian estrogen+progesteron alamiah+kalsium+vit. D, akan meningkatkan 4,1-5,8% menurut penelitian Rachman IA, tidak berbeda banyak dengan penelitian PEPI (Post Menopause Estrogen/Progesteron Investigator) yaitu 4-5%. Selain itu pemberian estrogen/progesteron alamiah memperbaiki metabolisme lemak, yang meningkatkan kadar HDL (kolesterol yang baik) dan menurunkan kadar LDL (kolesterol yang jahat) sampai ± 70%, serta menekan terjadinya fraktur tulang antara 40-60%.

    Di dunia saat ini pemberian hormon estrogen+progesteron dibatasi 5 tahun dengan kontrol yang ketat, karena penelitian di Amerika oleh WHI (Woman Health Initiative) menemukan keganasan payudara 33,8%, stroke 49,1%, tromboemboli 125,3%, masalah kardiologi 34,4%. Walau sisi baiknya menghilangkan keluhan-keluhan defisiensi estrogen, cegah kejadian keganasan usus besar 32,8%, cegah osteoporosis 17,4% dan patah tulang osteoporosis 29,3%. Kehebatan obat estrogen+progesteron sebagai TSH memperbaiki keluhan-keluhan defisiensi estrogen klinis yang mengganggu kehidupan ibu usia lanjut telah terbukti, sehingga terjadinya peningkatan kualitas hidup ibu usia lanjut yang prima, tetapi pembatasan pemberian 5 tahun (ada yang mengusulkan 7 tahun) merupakan masalah tersendiri yang harus dicari pengganti obat ini. Obat-obat lain seperti gabungan bisfosfonat, golongan SERM jelas memperbaiki dan meningkatkan densitas tulang, tetapi tidak perbaiki kualitas ibu secara penuh walau diikuti dengan senam beban yang hanya mengurangi keluhan klinis defisiensi estrogen ini. Untuk ini para peneliti, memulai mencari pengganti estrogen alamiah yang dianggap dapat mengambil alih posisi estrogen sebagai TSH , namun aman tak menyebabkan keganasan, pendarahan tetapi meningkatkan densitas tulang dan kualitas hidup ibu adalah golongan fitoestrogen (estrogen dari tumbuh-tumbuhan) yang rumus kimianya mirip estradiol) , yang saat ini dianggap sebagai suplemen.

    Saat ini golongan fitoestrogen telah diteliti di seluruh dunia termasuk Indonesia, karena fitoestrogen terdapat di kacang kedele, kulit buah bangkwang yang warnanya kecoklat-coklatan. Di dunia terkenal dari gabungan tanaman red clover yang mengandung 4 isoflavon (genestein, daidzein, formononetin, dan biochanin A) dan black cohosh yang dapat tumbuh baik di Mexico dengan kadar isoflavon cukup tinggi. Saat itu beberapa peneliti di Indonesia mencoba menanamnya di Indonesia.

    Fitoestrogen sebagai Alternatif lain pengobatan menopause

    Mengingat banyaknya kendala dalam pemakaian TSH seperti takut terkena kanker payudara, harus digunakan jangka panjang, banyaknya efek samping dan harga yang relatif mahal maka perlu dicari alternatif lain sebagai penganti TSH yang dapat memenuhi criteria alami, murah , berasal dari tanaman, efektif dan dapat diterima oleh wanita menopause. Alternatif lain itu adalah fitoestrogen.
    Fito artinya tanaman sedangkan estrogen maksudnya memiliki struktur kimia dan khasiat biologik menyerupai estrogen.
    Struktur kimia fitoestrogen sebagian besar bukan steroid sedangkan estrogen umumnya adalah steroid.
    Fitoestrogen terdiri dari :

    • isoflavon (genistein, daidzein dan glycetein)
    • coumestan (coumesterol)
    • lignan (matairesinol, secoisolariciresinol, enteroldiol)

    Isoflavon banyak ditemukan dalam

    • legumes (tumbuhan polong terutama kedelai dengan produk olahannya susu, tofu, tempe dan miso)
    • lignan dalam buah-buahan, sayuran, biji-bijian (sereal)
    • comestan dalam Redclover dan tauge

    Selain itu pasien menolak menggunakan TSH karena takut timbul kanker payudara akibat estrogen.

    Menopause

    Menopause adalah haid terakhir pada wanita, yang juga sering diartikan sebagai berakhirnya fungsi reproduksi seorang wanita. Oleh karena itu, tidak jarang seorang wanita takut menghadapi saat menopausenya. Kehidupan menjelang dan setelah menopause inilah yang sering disebut sebagai ‘masa senja’ atau masa klimakterium.

    Istilah menopause seringkali disalah-artikan dengan klimakterium.

    1. Klimakterium adalah masa peralihan dalam kehidupan normal seorang wanita sebelum mencapai senium, yang mulai dari akhir masa reproduktif dari kehidupan sampai masa non-reproduktif.
    2. Masa klimakterium meliputi pramenopause, menopause, dan pascamenopause. Pada wanita terjadi antara umur 40-65 tahun.
    3. Klimakterium prekoks adalah klimakterium yang terjadi pada wanita umur kurang dari 40 tahun.
    4. Pramenopause adalah masa 4-5 tahun sebelum menopause, keluhan klimakterik sudah mulai timbul, hormon estrogen masih dibentuk. Bila kadar estrogen menurun maka akan terjadi perdarahan tak teratur.
    5. Menopause adalah henti haid yang terakhir yang terjadi dalam masa klimakterium dan hormon estrogen tidak dibentuk lagi, jadi merupakan satu titik waktu dalam masa tersebut. Umumnya terjadi pada umur 45-55 tahun.
    6. Pascamenopause adalah masa 3-5 tahun setelah menopause, dijumpai hiper-gonadotropin (FSH dan LH), dan kadang-kadang hipertiroid.
    7. Sindrom klimakterik klinis adalah keluhan-keluhan yang timbul pada masa pramenopause, menopause, dan pascamenopause.
    8. Sindrom klimakterik endokrinologis adalah penurunan kadar estrogen, peningkatan kadar gonadotropin (FSH dan LH). Disebut juga sebagai sindrom defisiensi estrogen.

    Beberapa penulis menyatakan bahwa masa klimakterik adalah masa penyesuaian dari seorang wanita terhadap menurunnya produksi hormon-hormon yang dihasilkan ovarium dan dampaknya terhadap poros hipotalamus-hipofisis dan organ sasaran. Sudah lama diketahui bahwa hampir semua wanita menopause hidup dalam keadaan defisiensi estrogen. Kekurangan hormon ini menyebabkan menurunnya fungsi organ tubuh yang bergantung pada estrogen, seperti ovarium, uterus (rahim) dan endometrium. Kekuatan serta kelenturan vagina dan jaringan vulva menurun, dan akhirnya semua jaringan yang bergantung pada estrogen akan mengalami atrofi (mengkerut). Cepat atau lambat gangguan akibat kekurangan estrogen pasti akan muncul, yaitu berupa peningkatan kadar kolesterol dan trigliserida, pengurangan jaringan tulang yang menjurus ke osteroporosis, gangguan psikis, kelelahan dan depresi. Keluhan-keluhan ini perlu dikenal agar dapat dilakukan penanganan yang tepat.

    Sebagian pakar kesehatan berpendapat bahwa menopause merupakan peristiwa alamiah dan bukan diakibatkan oleh penyakit khusus (penyakit defisiensi hormon), sehingga tidak memerlukan pengobatan tetapi hanya membutuhkan pengertian dari keluarga, lingkungan dan dirinya sendiri. Namun banyak pula yang menganggap proses ini sebagai kelainan yang memerlukan pengobatan tersendiri.

    Agar kehidupan usia senja ini berlangsung dalam kepuasan dan kebahagiaan, maka setiap wanita perlu mengadakan persiapan untuk menghadapinya. Salah satu persiapan yang penting adalah mengetahui organ tubuh kita sendiri dan fungsinya, serta mengenal bagaimanakah sebenarnya kejadian masa klimakterik itu.

    USIA MUDA PUN BISA MENOPAUSE

    USIA MUDA PUN BISA MENOPAUSE

    Tak perlu cemas bila menopause datang lebih awal. Dengan terapi hormon, kita bisa tetap aktif berkarya.

    Kendati menopause merupakan proses biologis yang alami dan pasti akan dialami setiap wanita, tapi tak sedikit yang merasa ngeri menghadapinya. Bukankah menopause berarti dimulainya proses menjadi tua? “Celaka”nya, menopause yang umumnya terjadi di usia 45-55 tahun, ternyata bisa datang lebih awal, entah di usia 30, 25, atau bahkan 20 tahun. Kebayang, kan, apa yang akan terjadi bila di usia 20 tahun sudah mengalami proses penuaan?

    Menopause yang terjadi lebih awal atau dikenal dengan istilah menopause dini, menurut Dr. Med.Ali Baziad dari Klinik Menox, Jakarta, dialami oleh wanita dengan kondisi tertentu, yakni: kedua indung telur diangkat karena operasi, terkena penyakit infeksi seperti tumor, atau terkena radiasi semisal akibat dilakukannya sinar X di daerah rahim.

    Selain itu, bisa juga karena ada kelainan bawaan sejak kecil, yaitu jumlah sel telurnya tak banyak. Misal, hanya 100 ribu sel. Padahal, normalnya sekitar 400-500 ribu. “Namun kasus ini jarang terjadi. Yang tersering, sel telur tak berproduksi lagi karena indung telurnya terkena penyakit, entah

    HORMON ESTROGEN MENURUN

    Seperti diketahui, menopause berarti tak mendapat haid lagi untuk seterusnya. Ini berarti pula kemampuan wanita untuk bereproduksi telah berakhir, lantaran sel telurnya tak ada lagi. Namun sebelum masa menopause tiba, wanita akan memasuki premenopause atau klimakterium. Secara bertahap, produksi hormon estrogen yang berperan penting terhadap hadirnya haid- akan mengalami penurunan hingga berhenti sama sekali.

    Kebanyakan wanita mengalami gejala menopause 5 tahun sebelum sampai pada tahap menopause. Gejala yang sering dialami: merasa panas di muka, muka merah, berkeringat di waktu malam, sulit tidur, jantung berdebar-debar, nyeri kepala, perubahan emosi seperti gelisah, mudah marah dan tersinggung, mudah lupa, sulit berkonsentrasi, merasa tertekan (depresi), dan mudah lelah.

    Pada sebagian wanita terjadi pula penurunan gairah seksual, rasa nyeri saat berhubungan intim karena vagina kering, sering kencing, kulit kering dan menipis, serta rambut kering dan mudah rontok. Semua gejala itu disebabkan hormon estrogen yang makin berkurang.

    “Penurunan estrogen juga menurunkan mekanisme penyerapan kalsium oleh tulang, yang membuat kepadatan tulang menurun hingga memungkinkan tulang mudah keropos dan risiko patah tulang pun meningkat, terutama pada tulang belakang, pergelangan tangan, dan pinggul,” terang Ali lebih lanjut.

    Itu sebab, pengaruh jangka panjang pada wanita yang telah mengalami menopause biasanya osteoporosis atau penipisan tulang. “Di usia 40 tahun biasanya tercapai puncak kepadatan tulang, setelah itu terjadi penipisan tulang secara bertahap pada wanita maupun pria. Namun pada wanita, terutama setelah menopause.”

    Selain itu, wanita menopause juga mudah terkena serangan jantung dan stroke. Hingga, risiko serangan jantung pada wanita di usia ini sama tingginya dengan lelaki. Tak hanya itu, kanker usus dan pikun pun merupakan dampak menopause. Di samping, metabolisme tubuh jadi lambat. Makanya, wanita menopause amat dianjurkan menjalankan diet seimbang dan berolahraga teratur agar badan selalu bugar.

    PEMERIKSAAN HORMON

    Jadi, bila haid mulai keluar sedikit-sedikit lalu berhenti sama sekali, sebaiknya diwaspadai sebagai tanda-tanda menopause. Meskipun, terang Ali, penyebab berhenti haid bisa saja lantaran mengkonsumsi obat-obatan diet, baik obat kurus maupun gemuk.

    “Obat-obatan ini memang tak menyebabkan rusak total. Hingga, bila pemakaiannya dihentikan, biasanya haid lancar kembali.” Namun begitu, bisa juga sampai masuk ke menopause dini.

    Itu sebab, Ali menyarankan agar segera ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan hormon (dari darah si wanita). Bila hasilnya menunjukkan kadar estrogennya di bawah 20 dan FSH (Follicle Stimulating Hormone) di atas 35, berarti sudah masuk menopause, sekalipun usianya belum mencapai 40 tahun.

    Selain pemeriksaan hormon, dokter juga melakukan pemeriksaan kepekatan tulang dengan bone densitometer, dan uji pap smear untuk melihat ada-tidak gejala kanker rahim. Bukankah makin usia meningkat, kemungkinan wanita mendapatkan penyakit keganasan akan meningkat pula?

    TERAPI HORMON

    Bila menopause terjadi di usia 30-an, jelas Ali lebih lanjut, maka di usia 40, bisa jadi si wanita sudah seperti nenek-nenek. Soalnya, menopause membuat wanita mengalami proses penuaan lebih cepat. Untuk itu, perlu dilakukan terapi hormon atau pemberian hormon (HRT/Hormone Replacement Therapy).

    Adapun hormon yang diberikan, utamanya adalah hormon estrogen. Bukankah wanita menopause mengalami penurunan hormon estrogen? Kecuali pada menopause dini, selain diberikan hormon estrogen, juga hormon progesteron yang bisa didapat dari pil KB. Namun setelah usia 40, tak boleh lagi menggunakan pil KB, melainkan harus HRT karena pil KB itu hormon sintetis sedangkan HRT hormon alami.

    Pasalnya, wanita usia lanjut disertai berbagai keluhan seperti kolesterol, jantung, atau hipertensi, hingga tak mungkin diberikan hormon sintetis yang banyak kontraindikasinya. Beda dengan yang alami, komposisinya dibuat persis sama dengan komposisi hormon yang dihasilkan tubuh, hingga kontraindikasinya amat kecil. Hormon ini dibuat dari tumbuhan, akar-akaran, dan kacang kedelai.

    Sementara pemberian hormon progesteron, demi mengurangi akibat pengobatan yang hanya mengunakan estrogen, yaitu tak teraturnya haid dan kemungkinan kanker endometrium. “Kecuali pada wanita yang telah diangkat rahimnya tak memerlukan hormon lain, hingga hanya diberikan hormon estrogen. Bukankah mereka tak memerlukan haid lagi? Yang mereka perlukan pencegahan pengeroposan tulang.”

    Jika ada masalah pada vagina saat berhubungan intim atau hilang gairah, biasanya disertai juga dengan pemberian hormon androgen. Namun hal ini jarang dilakukan karena menimbulkan efek maskulinisasi, seperti tumbuh kumis, suara berubah, dan lainnya.

    JUMLAHNYA TAK SAMA

    Pemberian hormon bisa dilakukan dengan berbagai cara: melalui oral (ditelan), kulit (berupa koyo/plester atau jeli), vagina (berupa krim atau tablet). “Yang kita sarankan pil dan koyo. Koyo dipakai seminggu sekali sedangkan pil diminum tiap hari,” tutur Ali.

    Namun jumlah hormon yang diberikan tak akan sama pada tiap orang. “Jumlah yang dibutuhkan akan diketahui saat dilakukan pengukuran komposisi hormonal pasien pada pemeriksaan awal.” Itu sebab, pengukurannya dilakukan secermat mungkin. Kalau tidak, bisa mengakibatkan kegagalan terapi. Sebaliknya, jika terapi berhasil, semua keluhan akibat menopause akan hilang. Misal, kulit kembali mulus, mata tak kabur lagi, tulang tak rapuh lagi, sakit kepala dan depresi lenyap, daya ingat pun kembali normal.

    Pengobatannya juga tak sekaligus, melainkan didasarkan pada keluhan pasien, hingga bentuk terapinya tak selalu sama. Misal, terapi untuk mengencangkan kulit tentu berbeda dengan mereka yang menderita jantung berdebar. Itu sebab, lama pengobatan juga tak selalu sama pada tiap pasien. Faktor usia pasien pun ikut menentukan. Soalnya, makin tua usia, makin banyak kadar hormon yang berkurang, hingga jumlah hormon yang diberikan pun makin besar. Otomatis, waktu terapi makin panjang.

    Selain itu, atas dasar keluhan pasien, pemberian hormon kadang tak secara terus-menerus. Artinya, bila keluhan hilang dalam beberapa hari, setelah dilakukan kontrol kembali, pengobatan dapat dihentikan. Ini berarti, perlu dilakukan monitor lewat kontrol secara berkala sesuai anjuran.

    Terapi hormon bisa diberikan pada semua wanita, sejak masa klimakterium hingga menopause. Selain itu, tak ada pantangan khusus dalam melakukannya. “Hanya cara pengobatannya yang akan disesuaikan. Misal, ibu yang sedang mengalami gangguan pencernaan, ia dapat memilih hormon topikal, seperti krim.”

    JADI BERGAIRAH DAN BUGAR

    Dengan pemberian hormon, otomatis haid akan muncul lagi. Namun bukan berarti si wanita bisa bereproduksi kembali, lo. Soalnya, haid itu berasal dari hormon yang diberikan, jadi sifatnya palsu. Lagi pula, bukankah sel telurnya juga sudah tak ada?

    Tujuan pemberian hormon, terang Ali, semata demi meningkatkan kualitas hidup si wanita. Sebab, dengan kembalinya masa haid, akan membuat si wanita lebih bergairah dan segar kembali. Terlebih pada usia menopause, wanita biasanya masih aktif berkarya di bidang masing-masing. “Kasihan, kan, kalau ia lantas merasa tak nyaman dengan berbagai gangguan yang ada.”

    Jadi, dengan pemberian hormon, segala keluhan akibat menopause bisa diatasi. Hingga proses penuaan tetap berjalan, tapi tua yang bugar. “Ia tak patah tulang, tak keriput, tak pikun, tak ngompol, dan lainnya. Ia dapat memasuki hari tua dengan lebih sehat dan nyaman.”

    Umumnya, sebulan setelah pemberian hormon, keluhan seperti panas-dingin, sakit kepala, jantung berdebar-debar, mata rabun, dan kulit keriput, akan hilang. Sedangkan kekeringan vagina akan kembali normal setelah 3-4 bulan pengobatan. “Hanya penyembuhan tulang yang makan waktu bertahun-tahun baru bisa normal kembali.”

    Tentang efek samping pemberian hormon, menurut Ali, hampir tak ada. “Sebab, sebelum memberikan terapi hormon, kami sudah melakukan kontrol hormonal yang tepat. Artinya, dalam memberikan terapi tak sembarangan. Pemberian kadar hormon yang dimasukkan pun harus persis sama dengan jumlah hormon yang dibutuhkan.”

    Duh, lega rasanya, ya, Bu, karena menopause bukan berarti hidup telah berakhir.
    NS : Indah Mulatsih

    Perubahan Yang Terjadi Menjelang Menopause

    * Perubahan kejiwaan: merasa tua; tak menarik lagi; rasa tertekan karena takut menjadi tua; mudah tersinggung; mudah kaget hingga jantung berdebar; takut tak bisa memenuhi kebutuhan seksual suami; takut suami akan menyeleweng; merasa tak berguna dan tidak menghasilkan sesuatu.

    * Perubahan fisik: lemak bawah kulit berkurang hingga kulit jadi kendur; kulit mudah terbakar sinar matahari dan menimbulkan pigmentasi atau mudah hitam; otot bawah kulit muka mengendur hingga jatuh dan lembek; kelenjar kulit kurang berfungsi hingga kulit jadi kering dan keriput; terjadi perubahan metabolisme tubuh yang ditandai menurunnya pengeluaran hormon insulin dan tiroksin, pembakaran, dan keperluan tubuh (bila pola makan tak diatur, kelebihan nutrisi akan disimpan dalam bentuk lemak dan gula, hingga terjadi kegemukan); kerja usus halus dan besar jadi lambat akibat menurunnya estrogen, hingga kemampuan menyerap sari makanan jadi berkurang dan kerap menimbulkan gangguan BAB atau sembelit; perubahan sistem jantung dan pembuluh darah karena ada perubahan metabolisme, menurunnya estrogen dan pengeluaran hormon paratiroid; rasa panas di wajah, leher, dan tengkuk atau hot flues karena ada pelebaran pembuluh darah; liang sanggama terasa kering, lapisan sel liang sanggama menipis hingga mudah terjadi infeksi; kepuasan berkemih dan BAB makin berkurang, seolah-olah masih terdapat sisa; tulang mengalami pengapuran (dekalsifikasi) karena rendahnya hormon estrogen dan hormon paratiroid.

    Perubahan Hormonal Wanita

    Tubuh wanita akan mengalami siklus hormonal sebagai berikut:

    Bayi: ada pengaruh hormon estrogen progesteron dari sang ibu.

    • 1.Anak (7-12): pancaindra belum berpengaruh.
    • 2.Pubertas (13-17): pancaindra berperan; siklus menstruasi berjalan,
    • 3.pincang/tanpa ovulasi; hormon estrogen dominan dan pertumbuhan seks
    • sekunder baik
    • 4.Reproduksi (17-45): pancaindra berperan baik; siklus menstruasi teratur
    • 26-36 hari; menstruasi dengan ovulasi; tanda seks sekunder matang dan
    • siap untuk berfungsi
    • 5.Klimakterium/premenopause (46-50): fungsi ovarium turun; estrogen dan
    • progesteron berfluktuasi hingga menstruasi tak teratur.
    • 6.Menopause (50-55): ovarium tak berfungsi; kadar estrogen makin turun.
    • 7.Pasca menopause (di atas 55 atau 2 tahun setelah menopause): kadar
    • estrogen sangat rendah
    • 8.Senium (di atas 60): beradaptasi terhadap hidup tanpa estrogen,
    • biasanya gejala psikosomatik menonjol.
    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.

    Bergabunglah dengan 112 pengikut lainnya.