BEBASKAN BU DOTIK ATAU BIDAN DESA BOIKOT KB JPS

Seorang dokter obgin mengatakan pada pasiennya bahwa perforasi uterus yang dideritanya karena bidan salah dalam memasang IUD, dan menyuruh pasien untuk melaporkan kepada ke polisi

Hari ini Selasa, 25 Nopember 2008 si bidan desa TRETEK KECAMATAN PARE KABUPATEN KEDIRI yang bernama

Bu Dotik

dijebloskan ke penjara, padahal setelah melalui pemeriksaan seluruh prosedur pemasangan IUD, POGI Jatim menyatakan benar dan tidak ada yang salah, dan satu-satunya kesalahan si bidan tidak memiliki sertifikat CTU.

Kalau anda bidan yang tidak memiliki sertifikat CTU maka hentikan seluruh aktifitas anda dalam memberikan alat kontrasepsi kepada klien anda atau anda akan masuk penjara !!!! Biarkan dokter obgin yang melakukannya

karena secara hukum anda tidak berhak… camkan itu…

Jangan pernah memberikan alat kontrasepsi kepada klien anda karena anda tidak berhak,

boikot program KB terutama untuk JPS

karena anda tidak akan mendapatkan apapun atas resiko yang anda tanggung


Jika anda setuju dengan saya pasang baner ini di web site anda
bu_dotik2

Ereksi Saat Mimpi Seks (Mimpi Basah)

Hampir semua pria pernah mengalami mimpi seks atau mimpi basah. Dimulai sejak usia 14 atau 15 tahun sampai umur 50 tahun. Pada saat tidur, pria biasanya bermimpi sedang berciuman, berpelukan dan kemudian berusaha melakukan koitus, dan tiba-tiba mencapai puncaknya dan terjadi ejakulasi yang kemudian terbangun dan merasa celananya basah.

Frekuensi mimpi seks (wetdream) tidak sama pada setiap orang dan setiap usia. Ada yang satu kali dalam dua hari atau satu kali dalam tiga hari, umumnya paling sedikit satu kali seminggu.

Pria usia muda sangat sering bermimpi seks. Makin bertambah usia seorang pria makin jarang dia bermimpi seks. Apalagi jika masturbasi cukup sering dilakukan misalnya sekali dalam dua hari, biasanya sehabis melakukan masturbasi malamnya tidak bermimpi seks lagi. Tetapi besoknya kemungkinan besar akan mendapat mimpi seks lagi.

Pada pria yang sudah menikah, mimpi seks bisa terjadi jika dalam 3 hari tidak melakukan hubungan seks. Ada yang mengalami lebih jarang dan ada yang lebih sering. Keadaan itulah tanda yang sehat seksual.

Didalam mimpi, penis dirasakan ereksi, tetapi seberapa kuat ereksi penis saat mimpi sulit diketahui. Waktu mimpi seks sangat singkat antara bercumbu koitus dalam mimpi. Lagi pula pada waktu bermimpi orang sedang tidur, hanya dalam mimpi terasa ereksi lalu koitus dan ejakulasi. Tetapi berapa kuat ereksinya, tidak pernah benar-benar bisa disadari pada waktu itu. semua pria menikmati mimpi seks karena itu sesuatu kenikmatan yang tinggi dan kadang-kadang sesuatu hiburan bila kebetulan tidak mempunyai pasangan. (NL Tobing)

Minilaparotomi Anestesi Lokal Dengan Teknik Rizani (Rebate’s Technique)

Pendahuluan

Tindakan operatif diagnostik atau klinik terapeutik dengan melakukan sayatan kecil atau minilaparotomi (1,5–3 sentimeter) pada dinding perut, bukan merupakan hal yang baru. Prosedur ini menjadi tindakan yang umum bila dikaitkan dengan kemajuan teknik bedah laparoskopik.

Pada 1961, Uchida dan Rumah Sakit Kanazawa di Jepang mengaplikasikan teknik bedah minilaparotomi sub-umbilikal untuk melakukan tubektomi pasca-persalinan. Pada 1972, para pakar bedah di Amerika Serikat, yaitu Saunders dan Muresick dari Fakultas Kedokteran Universitas New Mexico dan John Lyle dari Hitchcock Medical Center, menggunakan minilaparotomi dengan anestesi umum untuk melaksanakan tubektomi masa interval. Di tahun yang sama, Frank Stubbs dari Rumah Sakit Texas melakukan tubektomi masa interval dengan minilaparotomi anestesi lokal dan peralatan kauter sehingga waktu kerja menjadi lebih singkat dan dapat dilakukan pada rawat jalan. Baru pada 1973, Vitoon Osathanondh dari Thailand, melengkapi teknik tubektomi minilaparotomi anestesi lokal (T-MAL) dengan peralatan elevator uterus agar saluran telur (tuba fallopii) lebih mudah ditampilkan dan dicapai.

Minilaparotomi untuk T-MAL disebut pula dengan mini-pfannenstiel. Untuk tubektomi masa interval, sayatan dilakukan di bagian

tengah dinding perut bawah, sepanjang 2,5–3 sm, transversal, setinggi 2–2,5 sm dari tepi atas simfisis osium pubis. Sedangkan untuk tubektomi pascapersalinan, sayatan tersebut dilakukan di daerah lengkung sub-umbilikus dengan bentuk semilunaris.

Minilaparotomi pada Prosedur Tubektomi

Sebelum teknik minilaparotomi berkembang pesat, prosedur tubektomi dilakukan melalui laparotomi dengan anestesi umum. Data menunjukkan bahwa morbiditas atau mortalitas prosedur tubektomi sebagian besar (60%) disebabkan oleh komplikasi anestesi. Jarang sekali terjadi komplikasi berat (fatal) yang berkaitan langsung dengan aspek teknik pada prosedur tubektomi. Selain itu, prosedur anestesi umum dan laparotomi juga memerlukan fasilitas ruang operasi dan peralatan medis yang lengkap.

Beberapa ahli bedah obstetri kemudian mencoba mengembangkan prosedur tubektomi (terutama cara membuka dinding perut) yang lebih sederhana. Upaya ini mengacu pada pengalaman pengembangan bedah apendiktomi, yang semula membutuhkan sayatan panjang pada dinding perut, ternyata kemudian dapat diupayakan menjadi lebih kecil, aman, dan efektif. Hal yang sama juga dilakukan sebagai upaya untuk mencapai dan melakukan tindakan oklusi saluran telur melalui sayatan kecil (minilaparotomi) pada dinding perut.

Setelah melalui berbagai penyempurnaan maka teknik minilaparomi menjadi pilihan untuk melakukan oklusi tuba (tubektomi). Pilihan tersebut berdasarkan pada adanya berbagai keuntungan, yaitu:

  1. Sayatan kecil untuk tubektomi, sama efektif tetapi relatif lebih aman dari berbagai aspek jika dibandingkan dengan sayatan yang panjang dan lebar.
  2. Ukuran yang kecil memungkinkan penerapan prosedur anestesi lokal secara lebih efektif.
  3. Komplikasi dan efek samping lebih rendah, ringan, dan segera dikenal.
  4. Tidak memerlukan ruang operasi khusus dan peralatan canggih.
  5. Dapat dirancang secara rawat jalan, baik untuk masa interval maupun pasca-persalinan.
  6. Waktu pemulihan yang singkat dan cukup memuaskan bagi klien.
  7. Dengan kompetensi keterampilan klinik dan teknik yang baik, sayatan kecil dianggap memadai untuk melakukan prosedur tubektomi dengan aman dan dalam waktu yang relatif singkat.

Prosedur Klinik Tubektomi

Perkembangan teknik laparatomi menjadi minilaparatomi pada tubektomi berkaitan dengan prinsip umum obstetri-ginekologi operatif, yaitu melakukan tindakan minimal operasi untuk hasil yang maksimal. Sebelumnya, tindakan mengikat/reseksi sebagian saluran telur dilakukan dengan laparatomi dengan cara anestesi umum. Penguasaan aspek topografi, pengembangan langkah klinik, dan instrumen bedah, memungkinkan sayatan yang lebar dapat diperkecil. Ini hanya memerlukan penggunaan anestesi lokal.

Secara teknik, berbagai langkah dan prosedur tubektomi yang telah disusun adalah untuk mengatur cara memanipulasi alat serta organ melalui keterpaduan psikomotor dan kognitif untuk mengikat tuba melalui celah yang kecil (mini) pada dinding perut. Acuan dasar penyusunan langkah klinik adalah aman, efektif, dan mampu laksana.

Walaupun telah dikembangkan berbagai teknik operatif tubektomi-minilaparatomi, banyak di antaranya menggunakan instrumen yang canggih dan langkah yang rumit. Dengan demikian, teknik tersebut hanya mungkin dilaksanakan pada fasilitas pelayanan kesehatan yang cukup lengkap. Padahal, tujuan pengembangan teknik T-MAL adalah untuk mendapatkan pelayanan ini ke seluruh lapisan masyarakat yang membutuhkan. Teknik tubektomi anestesi lokal (T-MAL) memungkinkan prosedur ini dilaksanakan secara rawat jalan.

Penyederhanaan prosedur T-MAL membawa dampak pada kelonggaran persyaratan tempat pelayanan dan tingkat sumber daya. Dengan demikian, pendekatan pelayanan T-MAL bagi masyarakat yang membutuhkan dapat diwujudkan melalui koordinasi dari institusi kesehatan, lembaga keluarga berencana, dan organisasi penyelenggara. Di Indonesia, Perkumpulan Kontrasepsi Mantap Indonesia (PKMI) mendapat mandat dari Departemen Kesehatan untuk melakukan pengelolaan pelayanan upaya pengawasan dan penelitian kontrasepsi mantap (Surat Edaran Menteri Kesehatan RI No. 185/Menkes/ENN/1991). Surat Keputusan Menteri Kesehatan pada 27 Januari 2000 telah menurunkan level fasilitas pelayanan untuk prosedur T-MAL.

Faktor Keamanan

Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa faktor keamanan menjadi acuan utama dalam menyusun langkah klinik tubektomi. Aman dalam pengertian tidak banyak menimbulkan dampak yang merugikan/fatal bagi klien serta baiknya kinerja tenaga pelaksana. Kinerja sangat berkaitan dengan keterampilan klinik dan kognitif.

Kompetensi kinerja memberikan keamanan bagi klien. Jaminan keamanan tidak saja ditujukan pada dampak manipulasi instrumen dan organ (minimalisasi efek samping dan komplikasi), tetapi juga jumlah penggunaan anestesi lokal. Bila disebutkan bahwa hampir 50% komplikasi berat yang disebabkan oleh anestesi umum maka dengan meniadakan prosedur ini, komplikasi fatal dapat dikurangi hingga setengahnya. Apabila kelalaian yang berkaitan dengan faktor teknik prosedur dapat ditanggulangi dan digabungkan dengan aplikasi prosedur anestesi lokal yang benar, maka minimalisasi morbiditas dan mortalitas dapat diwujudkan.

Faktor Efektivitas

Langkah klinik disusun agar setiap langkah yang dijalankan berjalan dan memberi hasil yang cukup efektif. Efektif dalam pengertian teknis adalah baik, benar, dan efisien. Hasil efektif adalah tercapainya tujuan prosedur tubektomi yang mengikat atau mengangkat (reseksi) sebagian saluran telur (tuba).

Selain efektif dalam langkah demi langkah untuk mencapai dan mengikat tuba, hasil dari prosedur tersebut juga memberi kehandalan hasil kerja. Pengangkatan sebagian saluran telur melalui langkah-langkah yang telah disusun dapat mencegah pertemuan ovum

dengan sperma. Dengan kata lain, prosedur tersebut dapat menghasilkan suatu efek kontrasepsi seperti yang diinginkan. Kecuali ada kesalaban proses identifikasi atau rekanalisasi spontan dan tuba maka fertilitas dapat dihentikan secara permanen.

Faktor Mampu Laksana

Selain efektif, langkah klinik yang telah disusun harus sederhana (tidak rumit) sehingga dapat dilaksanakan oleh tenaga kesehatan terlatih. Penyusunan langkah yang mengacu pada kesempurnaan dan standar yang tinggi merupakan idaman dari setiap profesional. Yang harus diperhatikan adalah jenjang atau tingkatan petugs kesehatan yang akan dilatih sebagai tenaga pelaksana. Salah satu strategi pengembangan dalam pelayanan kontrasepsi mantap adalah pendekatan pelayanan bagi masyarakat. Dengan demikian, petugas kesehatan yang dipilih harus berasal dari fasilitas pelayanan kesehatan yang ada di tengah masyarakat. Tingkatan fasilitas kesehatan terdepan, yang mungkin dijadikan alat kontrasepsi mantap adalah pusat kesehatan masyarakat dengan dukungan dari rumah sakit kabupaten.

Langkah Klinik Tubektomi

Melalui serangkaian kajian, pengembangan dan ujicoba di lapangan, PKMI telah memilih minilaparatomii dengan anestesi lokal dengan elevator serta teknik “Rizani” (tanpa elevator) untuk tubektomi. Secara garis besar, prosedur tersebut telah disusun menjadi T-MAL masa interval dan pascapersalinan. Walaupun digolongkan menjadi 2 jenis, tetapi langkah pokoknya tetap sama. Tahapan langkah klinik tubektomi adalah sebagai berikut:

  1. Persiapan (instrumen dan medika mentosa, petugas, klien)
  2. Prosedura septik-antiseptik
  3. Anestesi lokal dan membuka dinding perut
  4. Mencapai dan mengikat tuba
  5. Menutap dinding perut
  6. Pencegahan infeksi
  7. Perawatan dan nasihat pascatindakan

Membuka Dinding Perut pada Prosedur Tubektomi

Arah sayatan pada dinding perut bawah dan sub-umbilikus dilakukan secara transversal dan semilunaris serta mengikuti garis kulit (Langer’s line). Hal ini dilakukan karena lebih fisiologis, gaya regang dinding perut paling rendah, memudahkan penarikan dinding perut pada lokasi insisi, jaringan parut lebih halus, aspek kosmetik yang lebih baik.

Waktu pelaksanaan tubektomi sangat menentukan lokasi insisi pada dinding abdomen karena mengacu pada posisi tuba pada saat-saat tertentu. Sedangkan jenis sayatan berkaitan dengan ukuran insisi untuk mencapai dan tindakan oklusi tuba. Secara umum, waktu untuk prosedur tubektomi adalah:

Minilaparatomi teknik “Rizani” memiliki penyederhanaan langkah dalam membuka dinding perut untuk menghindari perdarahan pada lemak subkutis. Lapisan ini tidak disayat atau digunting secara tajam. Pemisahan secara tajam terhadap lemak atas dan bawah dari garis insisi, akan memotong cabang-cabang pembuluh darah secara langsung. Dengan alasan tersebut, lapisan lemak ini dipisahkan secara tumpul dengan klem atau bagian punggung bilah gunting. Setelah timbul celah antara lemak, pemisahan dilanjutkan dengan bilah retraktor hingga dapat menampakkan lapisan fascia secara jelas.

Fascia disayat secukupnya hingga memungkinkan ujung klem atau gunting dimasukkan untuk memperlebar insisi. Pelebaran insisi ini juga dimaksudkan agar kedua ujung bilah retraktor dapat masuk dan memperlebar bukaan fascia sehingga operator dapat dengan mudah mencapai lapisan dalam.

Setelah lapisan otot dipisahkan secara tumpul maka sambil menegangkan lapisan tipis (fiascia transversus abdominalis dan peritoneum), dindnig perut diangkat menjauhi kavum pelvis. Tekankan ujung pean pada lapisan tipis tadi dan lakukan gerakan membuka pean, sehingga peritoneum terbuka. Cara ini merupakan salah satu langkah pengembangan teknik “Rizani.”

Perasat ini merupakan upaya yang cukup aman untuk membuka lapisan peritoneum. Peritoneum diangkat (bersamaan dengan dinding perut) menjauhi kavum pelvis untuk memberi jarak yang cukup aman terhadap organ dalam pelvis. Penekanan lapisan peritoneum dengan ujung pean/gunting merupakan tindakan invasif yang sangat minimal. Selain itu, membuka lapisan peritoneum dengan tekanan ringan akan mendorong organ lain (misalnya: usus yang mungkin berada di bawah lapisan perintoneum).

Teknik ini jauh lebih aman daripada menjepit peritoneum dan mengguntingnya. Upaya untuk menjepit peritoneum sendiri bukanlah pekerjaan yang mudah. Perlu prosedur jepit-lepas berulangkali, kemudian diikuti dengan pemeriksaan tidak ada organ lain yang terjepit (dengan meraba atau transluminasi). Hampir sebagian besar waktu dalam prosedur tubektomi tersita untuk identifikasi dan membuka lapisan peritoneum.

Mencapai Tuba pada Prosedur Tubektomi

Uterus normal mempunyai 2 tuba, di mana pangkal kedua tuba tersebut masing-masing terletak di bagian komu kanan dan kiri uterus. Pangkal tuba berjarak sekitar 1,5 hingga 2 sm dari fundus (bila dibuat garis imajiner yang sejajar dengan garis transversal yang melalui puncak fundus). Kecuali tubektomi masa interval, untuk besar uterus yang dapat ditentukan melalui pemeriksaan palpasi maka lokasi insisi pada dinding perut mengacu pada asumsi tersebut di atas.

Pada masa interval, umumnya uterus berada pada kondisi normal (besar dan posisi). Oleh sebab itu, uterus dan adneksa berada di dalam kavum pelvis sehingga dengan sayatan suprapubik sulit untuk melihat uterus dan tuba secara langsung. Dengan demikian, diperlukan teknik atau perasat (maneuver) khusus untuk

mencapai tuba. Teknik tersebut dapat berupa:

  1. Posisi Trendelenburg
  2. Pemasangan tampon vagina
  3. Penggunaan elevator uterus (manipulator uterus). Teknik ini dikembangkan oleh Vitoon Osathanondh dari Thailand dengan menggunakan instrumen berupa gabungan sonde dengan piring serviks. Cedera dapat terjadi akibat prosedur yang salah (false route) atau perforasi saat manipulasi elevator. Penggunaan elevator uterus akan membawa dampak, yaitu tambahan tenaga untuk menampilkan fundus dan tuba. Hal lain yang menjadi pertimbangan adalah pada kasus-kasus dimana klien yang digolongkan sebagai potensial ternyata tidak ditapis secara baik. Klien ternyata hamil dan tidak terdiagnosis pada saat elevator dipasang dan dimanipulasi. Keadaan ini dapat menyebabkan perdarahan atau abortus pascatubektomi. Kondisi seperti ini akan sangat menyulitkan bagi klien maupun tim mediktubektomi.
  4. Menampilkan tuba dengan jariPada masa sebelum ini, para klinisi belum sependapat untuk menggunakan jari dalam prosedur tubektomi. Hal tersebut diakibatkan oleh belum adanya bukti-bukti kimia tentang angka morbiditas dan langkah tersebut dan juga sebagai upaya profilaksis dari kejadian infeksi.

Rizani Amran mengembangkan Rebate’s Technique yang pada intinya menggunakan jari telunjuk untuk mengangkat dan menentukan posisi uterus serta menampilkan tuba dengan baik. Setelah posisi tuba dapat ditentukan, baru diambil dengan pinset anatomis atau klem pean. Bila dengan teknik tersebut tuba dapat ditampilkan dengan baik maka dapat diambil langsung dengan klem Babcock. Bila uterus berada jauh dari jangkauan jari telunjuk (jatuh ke arah kavum Douglas), maka dilakukan pendorongan ke atas melalui vagina (vaginal toucher). Teknik ini dikembangkan sejak 1986 dan telah

dilakukan pada lebih dari 12.000 kasus dengan hasil yang cukup memuaskan. Fokus utama teknik ini adalah mengurangi langkah-langkah pemasangan elevator dan tidak diperlukannya posisi ginekologis bagi akseptor serta membuka dinding perut bawah sehingga disebut dengan penyederhanaan (rebate).

Data deskriptif yang dimiliki Rizani Amran menunjukkan bahwa angka kejadian infeksi (perpanjangan penyembuhan luka insisi) hanya sebesar 2%, cedera kandung kemih hanya 5 : 12.000, dan cedera usus 1 : 12.000. Komplikasi tersebut berkaitan dengan Teknik Rizani semata dan tidak spesifik dengan penggunaan jari sebagai upaya menampilkan tuba. Yang menarik adalah tidak adanya kejadian perforasi dinding uterus dan infeksi pelvis atau peritonitis. Hal ini menyokong pendapat bahwa prinsip sterilitas dan waktu kerja yang singkat menjadi penentu tinggi-rendahnya komplikasi.

Menutup Dinding Perut pada Prosedur Tubektomi

Jauh sebelum kontroversi tentang perlu tidaknya lapisan peritoneum dijahit, teknik “Rizani” telah menyebutlan bahwa lapisan ini tidak perlu dijahit. Kesimpulan ini diperoleh setelah mengamati bahwa setelah retraktor diangkat dan fascia didekatkan, lapisan peritoneum akan saling melekat dan menutup secara spontan. Hasil pengamatan ini dijadikan dasar untuk tidak melakukan penjahitan pada lapisan peritoneum. Fokus utama penutupan dinding perut adalah pertautan fascia secara kuat. Lapisan subkutis dan kulit ditautkan sekaligus dengan posisi sebaik mungkin.

Pilihan Terhadap Teknik “Rizani” (Rebate’s Technique)

Prosedur tubektomi yang dikembangkan oleh Rizani Amran tidak hanya terfokus pada mencapai dan mengikat tuba. Pengembangan teknik ini dimulai pada 1985. Setelah melalui serangkaian observasi dan perbaikan, sejak 1986 teknik ini diujicobakan pada klien, baik melalui pelayanan statis maupun mobil. Pelayanan mobil diselenggarakan dalam usaha mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Teknik “Rizani” diseminarkan pada pertemuan tahunan PKMI di Puncak (Jawa Barat) pada 1988. Hasil observasi pelayanan dan pelatihan keterampilan klinik tubektomi dengan menggunakan elevator, memberi petunjuk tentang adanya bebempa komplikasi yang disebabkan oleh aspek teknis. Dari hasil pengamatan ini pula diketahui bahwa apabila elevator digunakan dengan baik, akan sangat membantu operator.

Kunci keberhasilan teknik “Rizani” adalah kemampuan petugas pelaksana (provider) dalam memposisi sehingga tuba dapat dicapai dengan mudah. Jari yang dimasukkan melalui luka insisi akan mencapai dan mengidentifikasi fundus, kemudian mengangkat korpus uteri ke depan. Setelah posisi anteversi tercapai, diupayakan agar uterus tertopang oleh organ dalam (usus, omentum) pada posisi yang diinginkan. Hal ini akan dengan sangat mudah dilaksanakan apabila pasien disiapkan dengan baik (usus tidak menggembung dan klien tidak mengedan). Bila jari operator sulit mencapai uterus yang sangat retroversi, maka asisten akan membantu dengan mendorong korpus uteri ke depan melalui vaginal toucher.

Hampir semua langkah yang dilakukan di atas tidak menggunakan tindakan manipulatif dengan instrumen. Dengan demikian, kemungkinan terjadinya cedera yang diakibatkan oleh manipulasi instrumen dalam tahapan tersebut dapat diabaikan.

Fundus dan tuba yang dapat dilihat secara langsung akan sangat mudah diidentifikasi dan diambil dengan pinset. Pengambilan tuba kanan dan kiri dapat dilakukan secara simultan. Apabila ternyata tuba tidak dapat dilihat secara langsung maka masih banyak terdapat perasat alternatif, di antaranya:

  1. Menggunakan pengait tuba.
  2. Mengikuti dataran fundus dan komu.
  3. Identifikasi tuba dengan jari dan pengambilan dengan pean.
  4. Identifikasi komu dan mengambil tuba dengan ujung pean.
  5. Menggunakan kasa gulung untuk mempresentasikan fundus dan tuba.

Apapun upaya untuk identifikasi dan mengambil tuba, dengan teknik “Rizani” tidak dianjurkan untuk melepas salah satu tuba yang dapat diidentifikasi. Tindakan melepas tuba setelah pengikatan, di samping tidak perlu juga menghilangkan kesempatan untuk tetap dapat mengontrol posisi uterus. Pada umumnya, pengguna teknik “Rizani” akan selalu berupaya untuk mendapatkan kedua tuba sekaligus, setelah salah satu tuba dapat dicapai/diambil. Pengambilan kedua tuba sekaligus, di samping mempersingkat waktu operasi, juga mengurangi manipulasi dalam rongga pelvis secara berulang kali.

Keterampilan yang perlu dimatangkan dalam mencapai dan mengambil kedua tuba adalah kepekaan dalam topografi dan identifikasi fundus uteri dan tuba. Keterampilan lain yang juga akan sangat menentukan adalah bagaimana cara memanfaatkan tuba pada satu sisi sebagai alat bantu atau pemandu untuk mencapai tuba pada sisi yang lain.

Rangkuman

Teknik “Rizani” sudah diujicobakan melalui pelayanan statis di rumah sakit maupun pelayanan mobil di fasilitas kesehatan yang dikategorikan sebagai klinik kontrasepsi mantap. Teknik “Rizani” telah dikonversi menjadi langkah klinik yang juga telah diujicobakan pada pelatihan klinik T-MAL yang dilakukan oleh Pusdilitbang PKMI Sumsel, PKMI Pusat di RST Serang dan RSU Pandeglang, PKMI cabang Bengkulu, serta PKMI cabang Lampung.

Untuk pelayanan tim mobil, bekerja sama dengan BKKBN provinsi, telah dilakukan di Propinsi Sumsel, Lampung, Bengkulu, Kalbar, Kalsel, NTB, dan Maluku. Mempertimbangkan aspek keamanan, efektivitas, dan mampu laksana, teknik “Rizani” telah disahkan sebagai teknik standar tubektomi tanpa elevator bagi provider (tenaga pelaksana) yang dikelola oleh Perkumpulan Kontrasepsi Mantap Indonesia). Teknik ini telah dibukukan dalam pusat pelatihan klinik T-MA PKMI Pusat Jakarta, April 2000.

Daftar Pustaka

  1. Allyn DP et al: Presterilization counseling and woman’s regret about having been sterilized, J. Reprod Med 1986; 33: 1027
  2. Adriaansz G: Pelayanan tubektomi melalui program tim layar di Provinsi Maluku (1993-1994), Tim medis Mobbil RSU Ternate, Ternate-Maluku Utara, 1994
  3. Amran R.: Pengalaman penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan kontrasepsi mantap di Sumatera Selatan; Lokakarya penyelenggaraan pendidikan, pelatihan, dan pelayanan kontrasepsi mantap, Puncak Jawa Barat, 1990
  4. Amran R.Irawan: Perbandingan efektivitas dan keamanan prosedur tubetomi standar PKMI dan Rebate’”R” Technique, Skripsi, Pusdiklitbang PKMI Sumsel, 1998
  5. Asmanu R, Lesmana JM: Buku Modul Konseling KB, PKMI Pusat, Jakarta 1995
  6. AVSC: Minilaparotomy underlocal anaesthesia: A curiculum for doctors and nurses. Trainer’s manual, New York, 1993
  7. Azwar A. dkk: Pengetahuan Umum Konselor Kontrasepsi Mantap, PKMI Pusat, Jakarta, 1995
  8. Azwar A: Program menjaga mutu pelayanan kontrasepsi mantap, PKMI Pusat, Jakarta; 1994
  9. Bhiwardiwala PP, Mumford SD, Peldblum PJ: Menstrual pattern chases following laparoscopic sterilizatian with different technique in 24, 439 procedures. Am J Obstet Gynecol 1983; 145: 684
  10. Bhiwardiwala PP, Mumford SD, Kennedy Kl: Comparison of the safety of open and conventional laparoscopic sterilization. Obstet Gynecol 1986; 66:393
  11. Bishop E, Nelms WF: QA simple method of tuba sterilization, NY, State J Med, 1980; 30:124
  12. Cunningham FG, Mac Donald PC, Leveno KJ et al: Williams Obstetrics, ed. 19, Narwalk, CT, Apleton & Lange, 1993; 1354
  13. DeStefiano et al: Complications of interval laparoscopic sterilization tubal sterilization. Obstet Gynecol 1983;61:153
  14. Dobson MB: Anesthesia at the district hospital, WHO & World Federation of societies of Anaesthesiologist, Geneva 1988:39-40
  15. Emens JM, Olive JE: Timing of female steritization, Br Med J 1978; 2:1126
  16. Escobedo LG, Petersom HB, Grubb GS, et al: Case fatality rates for tubal sterilization in US Hospitals, 1970 to 1980. Am J Obstet Gynecol 1989, 160: 147
  17. Grimes DA et al: Sterilization attributable deaths in Bangladesh. Int J Gynecol Obstet 1982; 20: 149
  18. Grimes DA, Saterthwaite AP, Rochat RW, et al: Deaths from contraseptive steritization in Bangladesh: rates, causes, and prevention. Obstet Gynecol 1985; 66:784
  19. Handa VL, Berlin M, Washington AE: A comparisson of local and general anesthesia for laparoscopic tubal sterilization. J Woman’s Health 1994; 3: 135
  20. Hatcher RA, Rinehart W, Blackbum R. Geller J: The essential of contraseptive technology. A hand book for clinic staff, Jhon Hopkins Population Information Program, Baltimore 1997, chapter 9.
  21. Blumenthal PD, Mcintosh N: Pocket guide for family planing service providers, 2nd Ed, JHPIEGO Co, Baltimore, 1996-1998:201-212
  22. JHPIEGO: Minilaparotomy course handbook: Guide for trailers Baltimore, 1993
  23. JHPIEGO: Pelatihan berbagai cara kontrasepsi: Uji coba periodik bagi tutor dan petugas kesehatan di Puskesmas; Jakarta, 1996
  24. Khairullah Z, Huber DH, Gonzales: Declining mortality in International Sterilization Services. Int J Gynaecol Obstet 1992;39:41-50
  25. Moeloek FA dkk: Panduan Pelayanan Tubektomi, PKMI Pusat, Jakarta, 1998
  26. NRC-JNPK: Buku acuan pelayanan kontrasepsi, Pusat Dokumen Nasional, POGl Depkes, BKKBN, IBl JHPIEGO, Jakarta, 1996
  27. Pati S, Carignan C, Pollack A: Whats new with female sterilization: an up date, contemporary Obsgyn, 1988; 91-117
  28. PKMl: Pelatihan tubektomi: Buku Panduan Pelatih, Jakarta, 1995
  29. PKMl: Muktamar Perkumpulan Kontrasepsi Mantap Indonesia, Bandung, 1995
  30. Rachimhadi T. dkk: Panduan pelayanan tubektomi: untuk pelaksana pelayanan, PKMI Pusat Jakarta, 1994
  31. Word Federation of Health Agencies for the advancement of voluntary surgical Contraception, Safe and Voluntary Surgical Contraception: Guideline for service Program, “New York, 1988, Chapter 6

Perencanaan Keluarga

Perencanaan Keluarga

dr. Budi Iman Santoso, SpOG (K)

  • Seorang perempuan telah dapat melahirkan, segera setelah ia mendapat haid yang pertama (menarche)

  • Kesuburan seseoarang perempuan akan terus berlangsung sampai mati haid (menopause)

  • Kehamilan dan kelahiran terbaik, artinya risiko paling rendah untuk ibu dan anak, adalah antara 20 – 35 tahun

  • persalinan pertama dan kedua paling rendah resikonya

  • Jarak antara dua kelahiran sebaiknya 2 – 4 tahun

Dari faktor-faktor di atas maka kita dapat

membuat perencanaan keluarga seperti berikut.

Konsultasikan pilihan cara kontrasepsi

dengan dokter atau bidan Anda

dr. Asri. Profesional dibidang pemasangan & pencabutan Implan dan IUD, Vasektomi Tanpa Pisau (VTP)

Efek Pil KB, Mitos atau Fakta?

Efek Pil KB, Mitos atau Fakta?

- Jawaban - Begitu banyak mitos berkembang seputar pil KB (Keluarga Berencana). Bahkan di negara maju seperti Amerika Serikat (AS) pun masih diliputi mitos seperti pil KB menyebabkan kegemukan, atau bikin kandungan kering. Survei Women’s Health di AS menyatakan 61 persen responden yakin pil KB menaikkan berat badan. Faktanya, tidak semua pil KB menyebabkan timbangan badan meningkat. Survei itu membuktikan jumlah yang sama untuk perempuan yang kelebihan berat badan dan yang menurun berat badannya.

Sementara data Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) menunjukkan ada peningkatan hanya dua kilogram dalam siklus pemakaian pil KB selama 36 bulan (tiga tahun). Kenaikan berat badan itu yang benar-benar ditimbulkan dari pil tersebut, bukan karena makan. Ada juga mitos kandungan kering, lantaran meminum pil itu menstruasi menjadi lebih sedikit dan lebih pendek. Faktanya, pil KB bekerja sedemikian rupa hingga hormonnya diatur agar siklus berjalan seperti itu. “Itu termasuk mitos yang banyak dihembuskan,” ungkap Wakil Ketua II PKBI, Sarsanto dalam perbincangan mengenai kegemukan dan kandungan kering dengan SH di Jakarta belum lama ini.


Termasuk mitos pil KB sebagai pencetus kanker payudara. Menurut Sarsanto, ternyata perbandingannya sama antara orang yang minum pil kena kanker dan yang tidak minum pil. Hal yang serupa dilansir oleh National Cancer Institute yang menunjukkan tidak ada peningkatan signifikan risiko terkena kanker payudara pada perempuan 35-64 tahun yang tengah ataupun pernah menggunakan pil KB. Malah institut itu membuktikan kontrasepsi oral ini dapat mengurangi risiko kanker ovarium. Pendapat yang serupa diungkapkan Sarsanto.

Dalam satu dekade belakangan telah berkembang pesat pil KB generasi ketiga. Di samping dampak kontrasepsi, pil KB generasi ketiga dipercaya memiliki keunggulan baik terhadap kulit. Efek kosmetik memang menjadi nilai jual tersendiri bagi pil yang semula diperuntukkan untuk mencegah kehamilan ini. “Dari hasil memang ada yang sampai 100 persen bisa berhasil. Ada juga yang 20-30 persen. Memang ada perbedaan dari beberapa macam pil. Kalau dilihat dari hasil penelitian yang ada, dampaknya karena pil itu bekerja dari dalam, dan dalam waktu 3-4 bulan akan kelihatan. Jerawatnya menghilang, kulitnya tidak berminyak dan rambut-rambut halus menghilang,” papar Sarsanto yang juga Dokter Spesialis Kandungan ini. Masalah pada pil KB generasi ketiga adalah biaya, lantaran relatif mahal. Tak heran bila pil yang mutakhir ini lebih banyak disediakan untuk kalangan menengah ke atas.

Pil merupakan alat KB yang paling populer. Menurut data PKBI, pil KB menduduki peringkat pertama dengan nilai rata-rata 38,74 persen. Sedang data nasional di Indonesia hingga Februari 2003, pil KB menduduki tempat kedua sebanyak 34,57 persen dari 652.562 peserta KB. “Pil dari dulu orang senang. Hanya satu yang kita tidak suka kalau lupa. Jadi bagaimana caranya mengajar ibu-ibu agar tidak lupa. Terus terang angka kegagalan yang paling kecil yaitu pil ini, kalau diminum teratur, hanya 0,1 persen. Sebetulnya kalau kita bisa mengajari dan menyediakan pil yang terjangkau, ini bisa menjadi satu anjuran,” cetus Sarsanto. Selain itu pil unggul untuk menunda kehamilan, imbuhnya. Apalagi kalau belum pernah punya anak. “Metode yang lain akan mengurangi kesuburan. Seperti suntik, mengurangi kesuburan 6-12 bulan. Kalau pil, haidnya menjadi teratur, begitu lupa satu lupa minum satu pil, kemungkinan gagalnya empat persen. Jadi kalau mau punya anak, tinggal stop, bulan berikutnya sudah subur. Kadang-kadang pil dianjurkan untuk mengobati yang tidak punya anak kalau siklusnya tidak teratur. Jadi salah satu untuk infertility,” jelas Sarsanto.


Pandangan mengenai pemakaian pil berbahaya, tambahnya, adalah (hormon) esterogen yang terdapat dalam pil kombinasi. Menurut dokter Spesialis Kandungan ini, sekarang kandungan esterogen sudah sangat kecil. “Kalau dulu dibatasi lima tahun, harus diganti. Sekarang dilepas sampai umur 40 tahun. Tapi dianjurkan untuk tidak lebih dari 40 tahun,” saran Sarsanto lagi. Meski efek sampingnya tidak begitu serius dan jarang ditemukan, namun ada beberapa kondisi perempuan yang dianjurkan tidak menggunakan kontrasepsi oral ini.

Konseling KB Berkualitas Belum Dipahami


Interaksi atau konseling yang berkualitas antara klien dan provider (tenaga medis) merupakan salah satu indikator yang sangat menentukan bagi keberhasilan program keluarga berencana (KB). Sangat mudah dimengerti jika hal itu membuat tingkat keberhasilan KB di Indonesia menurun.

Klien yang mendapatkan konseling dengan baik akan cenderung memilih alat kontrasepsi dengan benar dan tepat. Pada akhirnya hal itu juga akan menurunkan tingkat kegagalan KB dan mencegah terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan.

Untuk meraih keberhasilan tersebut, tentunya sangat diperlukan tenaga-tenaga konselor yang profesional. Mereka bukan hanya harus mengerti seluk-beluk masalah KB, tetapi juga memiliki dedikasi tinggi pada tugasnya serta memiliki kepribadian yang baik, sabar, penuh pengertian, dan menghargai klien.

Dengan demikian, konseling akan benar-benar menghasilkan keputusan terbaik seperti yang diinginkan oleh klien, bukan sekadar konsultasi yang menghabiskan waktu dan biaya.

Demikian benang merah diskusi bertema “Sudahkah Peserta KB Diperlakukan sebagai Klien?” yang diselenggarakan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan John Hopkins University melalui Program KB dan Kesehatan Reproduksi (Starh) di Jakarta, Kamis (26/6).

Hadir antara lain Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN Dr Siswanto Agus Wilopo PhD, Direktur PKBI Pusat Dr Zarfiel Tafar, Koordinator Nasional Starh dr Rusdi Ridwan MPH, dan staf Komunikasi dan Advokasi Starh Dian Rosdiana.

Siswanto mengatakan, di Indonesia, konseling yang berkualitas masih sangat minim dan bahkan sulit sekali menemukan klinik yang secara khusus menyediakan jasa konseling yang benar-benar memenuhi standar. Selain itu, ia menambahkan, ketidakseimbangan antara jumlah klien dan tenaga medis yang bertugas sebagai konselor juga akan mempengaruhi keberhasilan konseling.

Selain itu, ia juga menuturkan bahwa keberhasilan konseling sangat ditentukan oleh kemahiran konselor dalam memerankan tugasnya. Ketika menghadapi klien, ia melanjutkan, seorang konselor hendaknya tidak beranggapan dialah yang terhebat sementara si klien tidak tahu apa-apa. Hal itu, justru akan memunculkan jarak dengan klien sehingga akan sulit terjalin interaksi yang sebenarnya sangat diperlukan dalam konseling.

Berkaitan dengan hal itu, Starh dan BKKBN memperkenalkan alat bantu pengenalan KB berupa flipchart dilengkapi dengan buku panduan bagi konselor. Dalam waktu dekat alat bantu dan buku panduan yang dirancang lebih interaktif itu akan diluncurkan dan disebarluaskan ke seluruh Indonesia.

Bidan Lebih Baik

Menurut Dian Rosdiana, dengan panduan tersebut diharapkan konseling akan benar-benar menjadi gerbang pertama yang dapat mengantar klien untuk memahami dan memilih alat kontrasepsi yang paling tepat. Ia juga mengatakan, selama ini belum banyak tenaga medis yang menyadari, kegagalan konseling juga berawal dari buruknya layanan para tenaga medis (konselor) itu sendiri.

Berdasarkan hasil penelitian Starh tahun 2002 diketahui dari 373 klinik di Indonesia ternyata hanya tiga yang dapat dikategorikan memenuhi standar konseling. Salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur standar itu adalah kecakapan konselor dalam “melayani” klien, termasuk berinteraksi dan mengorek sebanyak mungkin masalah yang disembunyikan klien.

Zarfiel Taffal juga sependapat jika dalam konseling, klien cenderung akan menyembunyikan masalah sehingga kelihaian konselor akan menjadi penentu berkualitas tidaknya konseling itu. Namun, Zarfiel menekankan, konseling hendaknya tidak berorientasi pada efisiensi yang lebih mempertimbangkan faktor waktu, tetapi lebih kepada keefektifan yang mengutamakan pencapaian hasil terbaik.

“Karena itu dokter sebenarnya tidak cocok untuk menjadi konselor. Selain cenderung berorientasi pada efisiensi, dokter juga selalu menganggap klien yang datang kepadanya itu tidak tahu apa-apa. Yang lebih buruk lagi, dokter cenderung mendikte dan banyak menasehati klien sehingga pada akhirnya keputusan memilih alat kontrasepsi bukan atas kemauan klien tetapi karena saran dokter,” katanya.

Ia menambahkan, dibanding dokter sebenarnya bidan jauh lebih tepat untuk menjadi konselor. Meski harus diakui mereka pun masih memerlukan tambahan keahlian, terutama menyangkut pengetahuan psikologis, namun dalam banyak hal bidan memang memiliki kelebihan untuk memerankan tugas sebagai konselor.

“Di desa-desa terpencil biasanya hanya ada tenaga bidan yang bertugas di puskesmas. Masyarakat pun tampaknya memang lebih dekat dengan bidan. Selain lebih low profile, bidan juga lebih sabar dan mempunyai kedekatan yang baik dengan klien. Sepertinya, masih sulit menemukan dokter yang mampu menjadi konselor yang baik tanpa mempertimbangkan ‘jam terbang’ dan tarif konseling,” katanya. (HD/A-18)

MEMILIH KONTRASEPSI

MEMILIH KONTRASEPSI

Anda baru menikah dan ingin menunda mempunyai anak. Mengikuti program Keluarga Berencana adalah pilihannya. Di dalam program ini disediakan beragam pilihan kontrasepsi sesuai kebutuhan dan kondisi kesehatan akseptor.

Ada kontrasepsi hormonal semisal pil KB, suntik KB, dan susuk KB (implant). Atau kontrasepsi non hormonal seperti IUD dan kondom. Ada pula kontrasepsi jangka panjang atau dikenal dalam program KB sebagai Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP),yakni vasektomi dan tubektomi.

Mana yang akan anda pilih, tanyakan kepada dokter anda. Jika anda enggan memakai kontrasepsi, tidak dianjurkan menggunakan system kalender. Mengapa? Sebab, siklus haid yang belum teratur tidak menjamin system itu berjalan aman. Bisa-bisa gagal, dan keinginan anda untuk menunda memiliki anak, buyar.

Mari kita menengok sejenak profil masing-masing kontrasepsi itu. Pil KB dosis rendah adalah kontrasepsi yang aman untuk ibu menyusui karena mengandung hormon progesterone. Bila anda menginginkan kehamilan, penggunaan pil KB dapat dihentikan seketika.

Cuma, wanita pengguna pil KB harus taat waktu, yakni tidak boleh lupa meminum pil, setiap hari. Bila alpa, risikonya hamil. Karena itu, kontrasepsi ini kayaknya rada kurang diminati wanita aktif.

Maka, alternatif lain adalah menggunakan suntik KB. Sama-sama hormonal. Hanya saja suntik KB memiliki ‘masa suntik’ bervariasi. Ada per satu bulan. Ada pula per tiga bulan. Untuk KB suntik per satu bulan, wanita menyusui harus waspada: Jangan menggunakan!. Pasalnya, menurut dr Dwiana Ocviyanti SpOG (K), suntik KB satu bulan mengandung unsur estrogen.

Ada pula kontrasepsi hormonal yang aman untuk ibu menyusui karena mengandung progesteron, yakni susuk KB atau implant. Ini adalah kontrasepsi jangka panjang. Karena sekali ‘ditanam’ di bawah jaringan kulit, kontrasepsi ini akan berfungsi selama tiga tahun (satu batang), lima tahun (enam batang), dan tiga tahun (dua batang).

Kontrasepsi hormonal (progesteron) terkadang menimbulkan gangguan menstruasi. Meski penggunanya haid, darah yang keluar sedikit dan tidak teratur. Namun, dr Dwiana mengatakan, hal itu tidak berbahaya bagi kesehatan.

Bagi kaum wanita yang tidak ingin dibuat repot dan bertanya-tanya tentang efek samping kontrasepsi hormonal, kontrasepsi non hormonal bisa menjadi pilihan berikut. Dalam kelompok ini ada IUD. AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim) adalah sebutan lain IUD. Bentuk umum kontrasepsi ini adalah T.

Yang perlu diketahui, IUD dapat ‘ditanam’ di dalam rahim seorang ibu setelah enam minggu melahirkan. Bila belum menstruasi. Tak soal. IUD tetap dapat dipasang.

Kurang puas dengan IUD, ada pilihan lain, yaitu vasektomi (pria) dan tubekomi (wanita). Kontrasepsi ini digunakan oleh mereka yang benar-benar tidak menginginkan anak lagi, dengan batasan usia tertentu (di atas 40 tahun) atau sesuai anjuran dokter.

Secara awam, kontrasepsi ini dikenal sebagi pengikatan saluran sperma dan indung telur. Dengan memakai teknologi terkini, proses jalannya operasi (operasi kecil) vasektomi/ tubektomi hanya memakan waktu tak lebih dari 10 menit. Pasien bisa langsung pulang.

Meski ada system rekanalisasi (dibukanya ikatan pada saluran sperma atau indung telur), dunia medis belum begitu yakin kesuburan akan dapat pulih kembali. Karena itu, mereka yang menjatuhkan pilihan untuk menggunakan cara KB ini akan menjalani proses konsulatsi ketat.

Kontrasepsi yang beredar dan mudah didapat adalah kondom. Walaupun program KB belum sepenuh hati mengakui kondom sebagai bagian dari program, jenis kontrasepsi ini belakangan semakin dikenal oleh masyarakat luas, sebagai alat penangkal HIV/AIDS.

Selain disuluhkan sebagai cara menjarangkan kehamilan, kondom juga disosialisasikan sebagai alat mencegah penularan penyakit menular seksual, termasuk HIV/AIDS. Sayangnya, tujuan mulia Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menempatkan beberapa ‘Vending Machine Kondom” (semacam ATM Kondom) di beberapa tempat khusus, ditentang habis sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh agama. Karena dinilai melegalisasi seks bebas.

Sesungguhnya, selain manfaat di atas, keberadaan ATM Kondom ini sangat membantu mendongkrak peningkatan ‘sadar ber-KB’ bagi kaum pria. Maklum, pilihan kontrasepsi KB pria sangat terbatas. Hanya ada kondom dan vasektomi. Atau sanggama terputus (coitus interuptus) yang bukan menjadi bagian dari program KB. Selebihnya, tidak.

Tahun depan, pemerintah menargetkan pencapaian peserta KB pria 4,5 persen dari total jumlah akseptor di tahun 2007. Sebelumnya hanya ditargetkan 2 persen. Pertumbuhan kesertaan pria dalam KB memang berjalan alot. Celakanya, kondisi ini diikuti pula oleh semakin’dijauhinya’ program KB oleh masyarakat, belakangan ini.

Maka, adalah saatnya kini BKKBN kembali mendengung-dengungkan beragam manfaat ber-KB ke tengah khalayak luas. Mendengung-dengungkan kembali beragam keuntungan alat/obat kontrasepsi kepada sasaran pengguna. Ya, sebelum laju pertumbuhan penduduk menjadi sulit dikendalikan. (sara)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 113 pengikut lainnya.