Hidrosefalus, Si Kepala Besar

“Water in the brain” Hypocrates, 5 BC

Penyakit ini semakin populer saja. Berita seorang anak yang menderita kelainan otak ini tak jarang menghias di berbagai media di Tanah Air. Kondisi fisik penderita memang sangat memprihatinkan dan menyentuh hati nurani, terlebih penyakit ini banyak diderita oleh orang yang berasal dari keluarga yang tidak mampu. Akibatnya, penanganan penderita sering terlambat dan tidak memungkinkan lagi dilakukan tindakan bedah.

SECARA anatomi, di dalam ruang tengkorak, selain terdapat jaringan otak, juga terdapat struktur pembuluh darah dan cairan otak. Cairan otak terletak di dalam ruang khusus yang disebut sebagai ventrikel dan diproduksi oleh sel-sel dalam ventrikel yang dikenal sebagai pleksus khoroideus. Jumlah produksi cairan tersebut pada manusia adalah 0,35 mililiter (ml) setiap menit atau 500 ml sehari. Cairan itu secara teratur diproduksi dan mengalir dari ventrikel satu ke yang lain, ke luar di sekitar otak, rongga sumsum tulang belakang kemudian di serap ke pembuluh darah balik. Sirkulasi, produksi, dan penyerapan cairan otak pertama kali diteliti oleh Cotugno pada tahun 1764.

Lalu apa manfaat cairan otak?

Pertama, cairan otak dapat bertindak sebagai shock absorber, yakni mengurangi efek trauma dari luar. Tak jauh berbeda dengan fungsi pegas kendaraan.

Kedua, cairan otak sebagai buoyancy yang membuat otak terapung sehingga dapat mengurangi beban otak dari 1.400 gram menjadi 50 gram. Hal itu penting untuk mengurangi penekanan atau geseran dasar otak dengan permukaan dasar ruang tengkorak yang tidak rata.

Berikutnya, cairan otak berfungsi seperti air kencing, yakni membuang produk sisa, termasuk obat-obatan yang berbahaya. Terakhir, cairan otak pula menjadi media transportasi hormon-hormon dan nutrisi yang diperlukan oleh sel-sel otak.

Hidrosefalus adalah jenis penyakit yang terjadi akibat gangguan aliran cairan di dalam otak (cairan serebro spinal). Gangguan itu menyebabkan cairan tersebut bertambah banyak yang selanjutnya akan menekan jaringan otak di sekitarnya, khususnya pusat-pusat saraf yang vital.

PATOGENESA gangguan aliran cairan otak-berdasarkan riset dari lembaga National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS), Amerika Serikat-ada tiga jenis, yakni yang pertama gangguan aliran adanya hambatan sirkulasi, contoh tumor otak yang terdapat di dalam ventrikel akan menyumbat aliran cairan otak. Kedua, aliran cairan otak tidak tersumbat, sebaliknya cairan itu diproduksi berlebihan, akibatnya cairan otak bertambah banyak, contoh: tumor ganas di sel-sel yang memproduksi cairan otak.

Kemudian, yang ketiga, bila cairan otak yang mengalir jumlahnya normal dan tidak ada sumbatan, tetapi ada gangguan dalam proses penyerapan cairan ke pembuluh darah balik. Sehingga otomatis, jumlah cairan akan meningkat pula. Misalnya, bila ada cairan nanah (meningitis atau infeksi selaput otak) atau darah (akibat trauma) di sekitar tempat penyerapan.

Ketidakseimbangan antara produksi dan penyerapan, dapat perlahan atau progresif, menyebabkan ventrikel-ventrikel tersebut melebar, kemudian menekan jaringan otak sekitarnya. Tulang tengkorak bayi di bawah dua tahun yang belum menutup akan memungkinkan kepala bayi membesar.

Pembesaran kepala merupakan salah satu petunjuk klinis yang penting untuk mendeteksi hidrosefalus. Menurut peneliti Milrohat TH (1982), Paine RS (1967), dan Brett EM (1983), upaya pengukuran lingkar kepala secara serial dan teratur sangat penting dalam deteksi dini penyakit ini.

Perkembangan lingkar kepala normal pada bayi cukup bulan adalah 2 cm per bulan untuk 3 bulan pertama, 1 cm per bulan untuk 3 bulan kedua, dan 0,5 cm per bulan untuk 6 bulan berikutnya. Nellhaus pada tahun 1968 menciptakan diagram persentil lingkar kepala yang masih digunakan hingga sekarang.

Manifestasi klinis lain antara lain ialah ubun-ubun besar bayi akan melebar dan menonjol, pembuluh darah di kulit kepala makin jelas, gangguan sensorik-motorik, gangguan penglihatan (buta), gerakkan bola mata terganggu (juling), terjadi penurunan aktivitas mental yang progresif, bayi rewel, kejang, muntah-muntah, panas badan yang sulit dikendalikan, dan akhirnya gangguan pada fungsi vital akibat peninggian tekanan dalam ruang tengkorak yang berupa pernapasan lambat, denyut nadi turun dan naiknya tekanan darah sistolik.

Untuk menunjang dan melengkapi diagnosis, diperlukan pemeriksaan tambahan mulai dari yang sederhana, seperti foto polos kepala dan disusul dengan pemeriksaan ultrasonografi. Pemeriksaan dengan sonografi menjadi data minimal untuk menilai pelebaran ventrikel dan ketebalan jaringan otak. Jika ketebalan kurang dari 2 cm, maka dinilai tindakan bedah tidak bermanfaat lagi.

Sedangkan pencitraan yang mampu melihat detail ruang tengkorak dan jaringan otak, dipilih pemeriksaan computerized tomography scan (CT scan) atau magnetic resonance imaging (MRI) karena dapat mendeteksi struktur anatomi otak, dan penyebab hidrosefalus, misalnya tumor dalam rongga ventrikel yang semua itu berkaitan dengan strategi penanganan hidrosefalus.

NINDS menyebutkan bahwa kategori penanganan hidrosefalus adalah life saving and life sustaining” yang berarti penyakit ini memerlukan diagnosis dini yang dilanjutkan dengan tindakan bedah secepatnya. Keterlambatan akan menyebabkan kecacatan dan kematian penderita. Tindakan bedah pada hidrosefalus sesungguhnya telah dirintis sejak beberapa abad yang silam oleh Ferguson pada tahun 1898 berupa membuat shunt atau pintasan untuk mengalirkan cairan otak di ruang tengkorak yang tersumbat ke tempat lain dengan menggunakan alat sejenis kateter berdiameter kecil.

Cara mekanik ini terus berkembang, seperti Matson (1951) menciptakan pintasan dari rongga ventrikel ke saluran kencing (ventrikulo ureter), Ransohoff (1954) mengembangkan pintasan dari rongga ventrikel ke rongga dada (ventrikulo-pleural). Selanjutnya, Holter (1952), Scott (1955), dan Anthony J Raimondi (1972) memperkenalkan pintasan ke arah ruang jantung atria (ventrikulo-atrial) dan ke rongga perut (ventrikulo-peritoneal) yang alirannya searah dengan menggunakan katup pengaman.

Teknologi pintasan terus berkembang dengan ditemukan bahan-bahan yang inert seperti silikon yang sebelumnya menggunakan bahan polietilen. Hal itu penting karena selang pintasan itu ditanam di jaringan otak, kulit, dan rongga perut dalam waktu yang lama bahkan seumur hidup penderita sehingga perlu dihindarkan efek reaksi penolakan oleh tubuh. Produk selang pintasan kini semakin canggih, contoh ada yang dilengkapi dengan klep sehingga dapat diatur tekanan aliran cairan otak, ada juga dilapisi dengan bahan antibakteri dan ada campuran materi khusus sehingga selang lebih awet, lentur, dan tidak mudah putus.

Tindakan bedah pemasangan selang pintasan dilakukan setelah diagnosis dilengkapi dan indikasi serta syarat dipenuhi. Tindakan dilakukan terhadap penderita yang telah dibius total, ada sayatan kecil di daerah kepala dan dilakukan pembukaan tulang tengkorak dan selaput otak yang selanjutnya selang pintasan ventrikel di pasang, disusul kemudian dibuat sayatan kecil di daerah perut, dibuka rongga perut lalu ditanam selang pintasan rongga perut antara kedua ujung selang tersebut dihubungkan dengan sebuah selang pintasan yang ditanam di bawah kulit sehingga tidak terlihat dari luar.

Tindakan bedah harus septik-aseptik untuk menghindari komplikasi infeksi karena tindakan ini adalah menanam benda asing, yaitu selang pintasan dalam tubuh manusia sama halnya dengan pemasangan klep jantung buatan. Malah dianjurkan untuk kamar bedah beserta isinya, termasuk sarung tangan, harus free latex untuk mencegah reaksi jaringan.

Pada dekade terakhir, selain teknik bedah dengan menggunakan selang pintasan, pada kasus tertentu juga dipilih teknik neuroendoskopi dalam penanganan hidrosefalus. Endoskopi dapat digunakan sebagai alat diagnosis dan sekaligus tindakan bedah. Mixter pada tahun 1923 membuat pionir yang menggunakan alat endoskopi. Teknologi lensa dan digital yang makin berkembang pesat sangat pula mempengaruhi penemuan alat endoskopi.

VRIES pada tahun 1978 mengembangkan endoskopi yang canggih, yakni sebuah selang fiber-optik yang dilengkapi dengan peralatan bedah mikro dan sinar laser. Dengan demikian, melalui sebuah lubang di kepala, selang dipandu dengan layar televisi, dioperasikan alat bedah untuk membuka tumor yang menyumbat rongga ventrikel.

Hydrocephalus Association adalah sebuah organisasi non-profit yang didirikan oleh penderita dan keluarga penderita hidrosefalus di Amerika Serikat. Organisasi yang berdiri pada tahun 1983 dan berkantor di San Francisco itu memiliki ratusan anggota dan kegiatannya antara lain ialah penyuluhan dan konsultasi dengan para pakar, rekreasi bersama, serta pemberian beasiswa dan kesempatan bekerja bagi penderita hidrosefalus.

Mereka memiliki home page http://www.hydroassoc.org yang dapat diakses setiap saat.

Oleh:

Eko Prasetyo Ahli Bedah Saraf di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Manado

MENGENAL TANDA LAHIR BAYI

Sesuai dengan sebutannya tanda lahir, maka keberadaannya di tubuh bayi sudah ada semenjak ia lahir. Berbahayakah tanda lahir ini dan apakah bisa menghilang saat si kecil beranjak dewasa kelak?

Oh untung saja, biasanya tanda lahir tidaklah berbahaya dan umumnya bisa hilang dengan sendirinya dalam beberapa hari meski ada yang baru menghilang dalam hitungan bulan atau tahun. Hingga kini memang belum ada penjelasan lebih lanjut perihal penyebab kemunculan tanda lahir ini dan mengenai perbedaan rentang waktu menghilangnya.

Lebih lengkapnya, kali ini dr. Anies Nuringtyas, Sp.A., dari RSIA Dokter Adam Talib, Cibitung menjabarkan mengenai berbagai jenis tanda lahir pada bayi untuk menjawab keingintahuan orangtua.

Selamat membaca.

Utami Sri Rahayu. DIPERAGAKAN MODEL, FOTO: IMAN/nakita

1. Hemangioma

Hemangioma adalah sekelompok pembuluh darah yang tidak ikut aktif dalam peredaran darah umum dan ia muncul di permukaan kulit. Meski bisa tumbuh membesar, hemangioma bukanlah tumor. Tanda lahir ini dapat membesar dua kali ukuran semula, tetapi setelah itu ukurannya akan stabil, lalu warnanya menipis (tampak lebih muda), akhirnya menghilang dengan sendirinya.

Kelainan pembuluh darah yang tidak berbahaya ini umumnya hanya timbul di satu tempat, seperti di wilayah leher atau kepala. Namun pada beberapa kasus (yang jarang terjadi) dapat pula timbul di beberapa bagian tubuh sekaligus.

Hemangioma sendiri dikenal dalam berbagai bentuk:

* Strawberry Hemangioma

Tanda lahir yang tampak di permukaan kulit ini memiliki aneka bentuk. Ada yang berukuran kecil mirip buah ceri atau stroberi sehingga akrab disebut cherry angioma, ada juga yang berukuran lebih kecil sekecil titik dan lebih besar hingga seukuran alas gelas.

Warnanya merah cerah, menonjol serta lunak dan umumnya muncul di minggu pertama pascalahir. Tanda stroberi ini awalnya memang akan membesar, tapi akhirnya akan memudar menjadi keabu-abuan hingga hilang sama sekali ketika anak memasuki usia sekolah.

Tanda lahir yang begitu umum ini (kemungkinan 1 dari 10 bayi memilikinya) biasanya akan dibiarkan saja oleh dokter. Tindakan koreksi hanya diperlukan bila hemangioma sudah mengganggu—seperti mengganggu fungsi mulut dan pencernaan atau mengganggu keindahan penampilan—yakni dengan obat-obatan yang disuntikkan atau dengan laser bahkan bila diperlukan lewat bedah plastik jika meninggalkan jaringan parut. Mengenai kapan tindakan itu bisa dilakukan amat tergantung pada kasus karena perkembangan hemangioma pada setiap bayi tidak sama. Ada yang setahun sudah membesar, tapi ada juga yang malah tidak membesar. Hal lain yang perlu diketahui, tanda lahir ini dapat mengalami perdarahan bila tergores atau terbentur. Namun ini tak perlu dikhawatirkan. Untuk menghentikannya, tekanlah dengan kasa steril bagian yang berdarah tersebut.

* Cavernous Hemangioma

Tanda lahir yang kerap muncul bersama strawberry hemangioma ini terbentuk dari pembuluh darah yang lebih besar dan lebih matang, serta menyangkut lapisan kulit yang lebih dalam. Ada yang tampak rata, ada juga yang menonjol, berwarna kebiruan atau merah kebiruan, dengan pinggiran yang kurang nyata dibandingkan jenis stroberi. Tanda lahir jenis ini bisa tampak sejak lahir dan akan menghilang ketika memasuki masa pubertas, tanpa meninggalkan bekas. Bila dirasa mengganggu, cara pengobatan dan terapinya sama dengan strawberry hemangioma.



Salmon Patches

Bentuknya berupa bercak berwarna merah muda yang tidak menonjol pada permukaan kulit (biasanya terdapat di wajah di antara mata atau di leher). Ketika menangis, tanda lahir ini akan terlihat lebih jelas dan merah. Hemangioma ini tidak berbahaya dan akan menghilang dalam hitungan bulan meski ada yang tahunan. Khusus di bagian leher umumnya bertahan lebih lama.

2. Mongolian Spots

Tanda lahir yang tergolong normal dan tidak berbahaya ini dialami hampir semua bayi, terutama anak Asia Timur. Bercak mongol adalah terperangkapnya sel melanosit (pigmen) di bagian belakang tubuh bayi pada saat pembentukan sistem saraf.

Bercak ini ada yang berwarna biru, biru hitam, atau abu-abu dengan batas tegas, mirip tanda lebam. Ukurannya bervariasi dari kecil atau dapat pula sangat besar. Umumnya terdapat pada sisi punggung bawah, juga paha belakang, kaki, punggung atas dan bahu. Bercak ini biasanya memudar pada tahun pertama walaupun sering juga menetap hingga dewasa.

3. Bercak cafe’ au lait

Bintik berwarna cokelat muda atau tua seperti kopi susu. Bentuknya tidak teratur, mendatar pada kulit dengan ukuran sekitar 3-5 mm. Lokasinya bisa terdapat di seluruh tubuh. Bila hanya satu bercak, umumnya tidak memerlukan penanganan khusus. Yang patut diwaspadai jika terdapat 5 atau lebih tanda lahir ini dengan diameter lebih dari 5 mm. Segera konsultasikan pada dokter karena kehadirannya bisa menjadi pertanda suatu penyakit genetik.

4. Nevus congenital

Berupa tahi lalat di kepala atau di bagian badan yang muncul semenjak lahir. Ukurannya paling kecil sekitar 1 cm hingga lebih dari 20 cm. Berwarna kecokelatan sampai hitam dan sebagian ada yang berambut. Bila semakin membesar patut diwaspadai sebagai pertanda awal keganasan. Untuk itu segera konsultasikan pada dokter.

5. Akrosianosis

Tanda lahir yang ditemui pada bagian jari tangan dan kaki ini terlihat di permukaan kulit berupa bercak kemerahan. Paling sering terjadi pada bayi perempuan. Bila dicermati, ketika bayi menangis atau sedang kedinginan, warna bercak kemerahan tersebut akan berubah menjadi kebiruan dan tampak lebih jelas. Tanda lahir ini tergolong tidak berbahaya dan akan hilang dengan sendirinya dalam hitungan bulan.

6. Kutis Marmorata

Tampak seperti jaring laba-laba berwarna kemerahan di permukaan kulit. Umumnya terdapat di bagian kaki.

Source : http://www.tabloid-nakita.com/

TANDA LAHIR

Umumnya para ibu khawatir dengan tanda lahir atau toh yang tampak pada bayinya.
Benarkah membahayakan? “Waktu lahir, saya lihat ada noda kecoklatan berbentuk
lingkaran kecil di paha anak saya. Saya takut, noda itu akan melebar dan tak
akan hilang sampai ia besar. Kasihan, kan. Soalnya, dia anak perempuan. Nanti
kalau dia pakai bikini, bagaimana? Kan, malu, kelihatan nodanya,” tutur Susi
yang baru sebulan melahirkan anak pertamanya. Kekhawatiran para ibu akan tanda
lahir ini, memang bisa dipahami. Bukan semata soal keindahan, tapi juga karena
takut tanda lahir ini bisa membahayakan.

Menurut dr. A.D. Pasaribu, Sp.A dari RS Hermina Podomoro, kemunculan tanda lahir
disebabkan ada hal-hal tertentu yang terjadi dalam proses jalan lahir, semisal
trauma lahir atau terjadi pembuluh darah melebar.

Soal bahaya atau tidak, menurutnya, harus dilihat dulu dari perkembangan tanda
lahir ini. Misalnya ada tanda kemerahan. Bila karena jalan lahir, biasanya
sehari juga akan hilang. Tapi kalau setelah seminggu masih tetap ada, maka harus
dipantau lagi perkembangannya. “Umumnya, sih, tanda lahir ini tak membahayakan,”
tukasnya.

Juga tak ada kaitannya dengan penyakit kulit. Jikapun ada yang bisa menjadi
kanker, terangnya, biasanya berupa tahi lalat yang membesar. “Tapi untuk
menentukan
kanker-tidaknya, harus dilakukan biopsi lebih dulu,” katanya.

Dalam dunia kedokteran, lanjutnya, tanda lahir ini tak terlalu dipersoalkan.
Sebab, jelas lulusan Fakultas Kedokteran Unpad ini, “Begitu bayi lahir, yang
lebih kita perhatikan adalah hal-hal yang akan membahayakan nyawanya. Misalnya,
fungsi paru, jantung, dan sebagainya.”

Kendati demikian, ia dapat memahami kekhawatiran para ibu tersebut. “Jika ibu
merasa terganggu dengan adanya tanda lahir ini, sebaiknya konsultasikan ke
dokter anak. Misalnya, terjadi gatal-gatal yang mengganggu di tanda lahir,”
anjur dokter yang kerap dipanggil sesuai singkatan nama depannya ini, A.D.

….
….
….

*Noda Mongol
Ia berwarna biru atau abu-abu seperti batu tulis, mirip tanda lebam. Dapat
muncul di bagian bokong atau punggung, dan kadang-kadang pada tungkai dan
pundak, pada 9 dari 10 anak berkulit hitam, Timur dan keturunan Indian.

Noda yang tampak nyeri ini, juga sering terdapat pada bayi keturunan
Mediterania, tapi jarang terjadi pada bayi berambut pirang dan bermata biru.
Meski seringkali tampak pada saat lahir dan hilang dalam tahun pertama, tapi
kadang-kadang tak muncul sampai beberapa waktu setelah lahir dan atau bertahan
sampai dewasa.

definisi ga ada yang jelas… dia cuma berupa bercak kehitaman, biasa terdapat
di punggung atau bokong..
etiologi juga tidak diketahui, ada yang bilang terkait dengan faktor keturunan..
penatalaksanaan tidak ada, dibiarkan saja nanti akan hilang sendiri
keturunana atau tidak masih kontroversi
Tidak setiap anak punya bercak mongol..
dan harus dibedakan, tidak setiap bayi juga punya ikterus…
dan jika terjadi ikiterus pun harus dibedakan apakah patologis, atau fisiologis.
ya, bercak itu dapat hilang setelah dewasa.
jika terjadi pada saat dewasa, ia bukan bercak mongol

Bercak Mongolian yang anda tanyakan memang sering ditemukan pada daerah
punggung dan pantat / pangkal paha bagian atas bayi-bayi kulit hitam
(80-90%), bayi asia/oriental (75%) dan bayi kulit putih (10%)
Meskipun namanya bercak Mongolian, namun tidak terdapat korealsi secara
antropologis. Bercak ini sebagian besar cenderung menghilang dan tertutup
oleh pigmentasi normal dalam usia 1 tahun pertama, sebagian dalam usia 3-5
tahun.

Mongolian spot suatu hal yang normal, nantinya akan hilang sendiri
perlahan-lahan. Memang bercak kebiruan ini banyak ditemukan pada orang
Asia, yang termasuk ras atau keturunan Mongol. Jadi termasuk juga orang
Indonesia, bukan hanya orang Mongol.

Bercak Mongol merupakan bercak kebiruan, kehitaman atau
kecoklatan yang lebar, terdapat di daerah bokong. Bercak ini
timbul pada umur kehamilan
38 minggu. Bercak ini dapat menghilang setelah beberapa bulan
atau sekitar satu tahun.Tempat timbul lainnya dapat pada daerah
mata dan pipi.
Untuk mengatasi bercak mongol ini, tidak memerlukan obat-obatan,
namun bila penderita telah dewasa, pengobatan dapat dilakukan
dengan alasan
estetik, antara lain dengan penggunaan sinar laser.Klinik Anakku
http://www.anakku.net/

PERTEMUAN PERTAMA IBU DAN BAYI

Setelah 9 bulan dikandung, tentulah ibu sangat menanti-nantikan pertemuan pertamanya dengan sang bayi. Tapi jangan kaget, lo, melihat tampilan si kecil tak “seindah” yang dibayangkan.

Biasanya, setelah suhu bayi stabil dan kondisinya pun baik, ia akan secepatnya dipertemukan dengan sang bunda. Yang dimaksud kondisi baik, terang dr. Eric Gultom, “bayi tak mengalami kelainan apapun, entah kelainan pernapasan dan sebagainya.” Kalau tidak, pertemuan pun ditunda. Namun “keterlambatan” pertemuan pertama yang sering terjadi justru bukan disebabkan kondisi bayi, melainkan si ibu. Misal, ibu mau beristirahat dulu karena lelah setelah menjalani operasi sesar. “Jadi kadang malah ibunya yang menolak,” lanjut spesialis anak dari bagian Perinatologi RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta, ini.

Tapi jangan kaget atau malah bingung, ya, Bu, setelah berjumpa sang buah hati. Pasalnya, kebanyakan bayi baru lahir akan mengalami sembab hampir di seluruh tubuhnya. Hal ini disebabkan, dalam tubuhnya masih banyak mengandung air pada rongga ketiga di bawah kulit, tepatnya di ekstra vaskular (di luar pembuluh darah) dan ekstra selular (di luar sel-sel). Tapi tak usah cemas, “dengan bayi banyak mengeluarkan keringat, BAK, dan BAB, maka tubuhnya akan proporsional dan enggak sembab lagi.”

Kecuali pada bayi yang dari rahimnya sudah mengalami kekurangan makanan atau dikenal dengan PJT (pertumbuhan janin terhambat) dan bayi lebih bulan. “Bayi PJT akan tampak keriput, sedangkan bayi lebih bulan kulitnya seringkali terkelupas.” Lain hal dengan bayi normal, umumnya cuma sembab dan berangsur-angsur akan pulih. “Setelah usia satu atau dua minggu akan terlihat bentuk aslinya.” Pada saat itulah Anda bisa melihat, “Oh, ternyata buah hatiku cantik sekali, mirip denganku,” atau ganteng seperti bapaknya.

SENSITIF TERHADAP BAU DAN SUARA

Nah, kini sang buah hati yang dinanti-nantikan telah berada bersama Anda. Inilah saat paling berharga bagi Anda dan bayi untuk saling mengenal lewat kontak mata dan kulit. Jadi, dekaplah ia dengan lembut dan penuh kasih, pandangi wajahnya dan elus lembut pipinya dengan penuh cinta.

Perlu diketahui, bayi sangat sensitif terhadap bau. Ia bisa mengenali bau ibunya, lo. Hal ini terjadi karena tubuh Anda sebagaimana juga orang lain- akan mengeluarkan hormon feromon lewat kulit. Hormon ini mempunyai bau sangat kuat. Nah, bayi baru lahir sangat sensitif terhadap bau hormon ini pada beberapa hari dan minggu pertama kehidupannya. Jadi, ia bisa membedakan bau Anda dengan bau orang lain.

Selain bau, bayi juga sangat sensitif terhadap suara. Jadi, ajaklah ia bicara kala Anda mendekapnya. Tak usah bingung untuk mencari topik pembicaraan karena Anda bisa memulainya dari mana saja; dari kebahagiaan Anda atas kelahirannya yang sangat Anda nanti-nantikan sampai kegiatan yang tengah Anda lakukan dan sebagainya. Jangan lupa, selama Anda berbicara, tataplah matanya. Wajah Anda dan wajahnya berjarak sekitar 20-25 cm karena baru sepanjang itulah jangkauan pandangan bayi baru lahir.

Penelitian membuktikan, kontak fisik atau sentuhan kulit, bau, dan suara ibu amat penting pada hari-hari dan minggu pertama kehidupan bayi untuk membentuk ikatan dengan ibu. Baik bau maupun suara ibu akan membuatnya merasa tenang dan aman. Jadi, sering-seringlah bersentuhan dan berbicara dengannya maupun bersenandung untuknya, ya, Bu.

Tentu saja, pertemuan pertama Anda dengannya hanya merupakan langkah awal dalam membentuk ikatan, sehingga perlu ditindaklanjuti. Tapi bila setelah kembali ke rumah, Anda lebih menyerahkan perawatan sang buah hati kepada babysitter, maka ikatan yang telah Anda jalin selama berada di rumah bersalin akan berkurang.

Bagi para ibu yang oleh suatu sebab harus “dipisah” dengan bayinya, tak usah cemas akan kehilangan kesempatan untuk membentuk ikatan dengan sang buah hati. Toh, pertemuan pertama tak hanya berlangsung di rumah bersalin, tapi juga bisa di rumah. Disamping, Anda pun masih punya banyak kesempatan untuk membentuk ikatan tersebut. Bukankah setelah Anda dan bayi boleh “disatukan”, maka hari-hari selanjutnya menjadi milik Anda berdua?

BELAJAR MENYUSUI ASI

Biasanya, Anda akan diminta menyusui bayi. Tentunya pada kesempatan pertama menyusui, Anda tak bisa berharap ASI akan langsung mengalir deras karena umumnya ASI baru keluar setelah 3-4 hari. Tak usah cemas bayi akan kelaparan karena pada hari-hari pertama ia belum perlu banyak cairan. Sejumlah kecil kolostrum yang Anda produksi sudah cukup untuk memenuhi kebutuhannya.

Lagi pula, menyusui pada pertemuan pertama bertujuan bukan untuk memberi makan bayi, melainkan untuk bayi belajar menyusu karena proses menyusui bukan bersifat instingtif. Cara menyusui yang benar adalah puting ibu harus masuk ke dalam mulut bayi. Jadi, bantulah bayi untuk menemukan puting Anda. Setelah beberapa hari, tanpa perlu dibantu lagi ia akan langsung mencari puting begitu didekatkan pada payudara Anda.

Bila puting Anda bermasalah, entah karena bentuknya yang rata, kecil, atau melesak ke dalam, jangan jadikan alasan untuk tak menyusuinya. Justru dengan seringnya Anda menyusui, masalah ini bisa diatasi, yakni melalui isapan bayi pada puting. Disamping tentunya Anda pun harus rajin menarik-narik puting tersebut hingga keluar. Tapi menariknya jangan keras-keras, ya, Bu, supaya enggak lecet.

Isapan bayi pada puting juga akan meningkatkan produksi ASI. Seperti diketahui, dalam payudara ibu ada “pabrik” untuk memproduksi ASI (terletak di daerah payudara yang berwarna putih), yang lalu dialirkan ke “gudang” ASI (di daerah payudara yang berwarna cokelat). Namun produksi ASI sangat tergantung dari pengosongan di “gudang”nya. Nah, dengan bayi menyusu, otomatis ASI di “gudang”nya akan kosong, sehingga mendorong “pabrik” untuk memproduksi ASI lagi. Itulah mengapa, banyak-sedikitnya ASI yang keluar tergantung dari rangsangan bayi.

Dalam bahasa lain, ASI sebenarnya tak akan pernah habis. Nyaris tak ada seorang ibu yang tak bisa menghasilkan ASI. Merujuk data penelitian, dari 100 ibu yang mengatakan tak bisa menyusui, hanya 2 orang yang betul-betul bermasalah; 98 orang lainnya sebenarnya hanya tak tahu cara menyusui yang benar.

Jadi, tak ada alasan apapun untuk tak memberikan ASI kepada sang buah hati, ya, Bu. Apalagi, mendapatkan ASI merupakan hak bayi. Bila Anda sampai tak memberikan ASI berarti Anda mengabaikan hak si kecil untuk mendapatkan makanan yang terbaik bagi tumbuh-kembangnya.

Julie/Faras Handayani

Caput succedaneum

Definition of Caput succedaneum:

Caput succedaneum is a diffuse swelling of the scalp in a newborn caused by pressure from the uterus or vaginal wall during a head-first (vertex) delivery.

Causes, incidence, and risk factors:

A caput succedaneum is caused by the mechanical trauma of the initial portion of scalp pushing through a narrowed cervix. The swelling may be on any portion of the scalp, may cross the midline (as opposed to a cephalhematoma), and may be discolored because of slight bleeding in the area. There may also be molding of the head, which is common in association with a caput succedaneum.

Symptoms:

  • Soft, puffy swelling of the scalp in a newborn infant
  • Swelling may or may not have some degree of bruising
  • Swelling may extend over the midline of the scalp
  • Most often seen on the portion of the head which presented first
  • May be associated with increased molding of the head

Signs and tests:

Physical examination confirms that the swelling is a caput succedaneum. No testing is necessary.

Treatment:

No treatment is necessary, and it usually heals spontaneously within a few days.

Expectations (prognosis):

Complete recovery can be expected, with the scalp regaining its normal contour.

Complications:

Jaundice can result as the bruise breaks down into bilirubin.

Calling your health care provider:

This condition is usually noticed immediately after delivery of the child, so no call is necessary — unless you have additional questions.

Prevention:

A caput succedaneum is more likely to form during a prolonged or difficult delivery. This is especially true after the membranes have ruptured, thus removing the protective cushion of the amniotic sac. Vacuum extraction can also increase the chances of a caput succedaneum.

However, a caput succedaneum is sometimes identified by prenatal ultrasound even before labor or delivery begins. It has been found as early as 31 weeks of gestation. More often than not, this is associated with either premature rupture of the membranes or too little amniotic fluid (oligohydramnios). All other things being equal, the longer the membranes are intact, the less likely a caput is to form.

Nevertheless, a caput succedaneum can form before or during birth even in the absence of any identifiable risk factor. Good prenatal care and management of labor and delivery can reduce the chances of this minor problem, but the formation of a caput succedaneum is often unpredictable and unavoidable.

  • Reviewed last on: 5/1/2007
  • Rachel A. Lewis, MD, FAAP, Columbia University Pediatric Faculty Practice, New York, NY. Review provided by VeriMed Healthcare Network. Also reviewed by Alan Greene, M.D., F.A.A.P., Department of Pediatrics, Stanford School of Medicine; Lucile Packard Children’s Hospital; Chief Medical Officer, A.D.A.M., Inc.

References

Stoll, BJ, Kliegman, RM. Nervous System Disorders. In: Behrman, RE., Kliegman, RM, Jenson, HB, eds. Nelson Textbook of Pediatrics. 17th ed., Philadelphia, PA: Saunders; 2004:562

source from http://www.umm.edu/ency/article/001587all.htm

Terjemah bebas

Caput succedaneum

definisi caput succedaneum:

caput succedaneum memencarkan bengkak kulit dan rambut kepala di disebabkan oleh tekanan dari rahim baru lahir atau vaginal dinding selama head-first (pengiriman puncak).

menyebabkan, berjangkit, dan faktor resiko:

caput succedaneum dilantaran oleh mekanis trauma bagian awal kulit dan rambut kepala meneruskan membatasi tengkuk. bengkak mungkin di beberapa bagian kulit dan rambut kepala, mungkin arungi midline sebagai lawan cephalhematoma, dan mungkin menycolored karena pendarahan tipis di daerah. di sana mungkin juga membentuk kepala, yang biasa bersama-sama caput succedaneum.

gejala:

” halus, kulit dan rambut kepala di bayi baru lahir

” bengkak mungkin atau mungkin tidak punya derajat dari bruising

” bengkak mungkin memperluas melalui midline kulit dan rambut kepala

” paling sering melihat di bagian kepala yang menyajikan pertama

” mungkin berasosiasi dengan meningkat membentuk kepala

tanda dan percobaan:

ujian fisik menegaskan bahwa bengkak caput succedaneum. tidak ujian perlu.

pengurusan:

tidak pengurusan perlu, dan ini biasanya sembuh secara spontan dalam beberapa hari.

harapan (ramalan):

genapkan pemulihan dapat menyangka, dengan kulit dan rambut kepala mendapat kembali garis bentuk normal nya.

keruwetan:

penyakit kuning dapat hasil memar sebagai memerinci ke bilirubin.

memanggil pelayanan kesehatan kamu provider:

kondisi ini biasanya mencatat segera setelah pengiriman anak, tidak memanggil perlu – kalau kamu punya pertanyaan tambahan.

cegahan:

caput succedaneum banyak mungkin ke bentuk selama berlangsung lama atau pengiriman sulit. ini adalah khususnya benar setelah membran telah memecahkan, jadi memindahkan bantal alas duduk protektif amniotic kantung. keturunan hampa udara dapat juga menambah kesempatan dari caput succedaneum.

akan tetapi, caput succedaneum kadang-kadang mengenali oleh sebelum melahirkan ultrasound bahkan sebelum buruh atau pengiriman mulai. ini telah menemukan sejak dulu 31 minggu kehamilan. banyak sering daripada tidak, ini adalah berasosiasi dengan salah satu perpecahan prematur membran atau terlalu kecil amniotic cair (oligohydramnio. semua yang lain tetap sama, lebih panjang membran utuh, semakin sedikit mungkin caput ke bentuk.

meskipun demikian, caput succedaneum dapat bentuk sebelum atau selama kelahiran bahkan di absen faktor resiko bisa diidentifikasi. sebelum melahirkan baik merawat dan manajemen buruh dan pengiriman dapat mereduksi kesempatan dari persoalan kecil ini, tetapi pembentukan caput succedaneum sering tak dapat diramalkan dan tak terelakkan.

Caput succedaneum

  • Reviewed last on: 5/1/2007
  • Rachel A. Lewis, MD, FAAP, Columbia University Pediatric Faculty Practice, New York, NY. Review provided by VeriMed Healthcare Network. Also reviewed by Alan Greene, M.D., F.A.A.P., Department of Pediatrics, Stanford School of Medicine; Lucile Packard Children’s Hospital; Chief Medical Officer, A.D.A.M., Inc.

References

Stoll, BJ, Kliegman, RM. Nervous System Disorders. In: Behrman, RE., Kliegman, RM, Jenson, HB, eds. Nelson Textbook of Pediatrics. 17th ed., Philadelphia, PA: Saunders; 2004:562

source from http://www.umm.edu/ency/article/001587all.htm

caput succedaneum

Caput succedaneum is a serosanguineous, subcutaneous, extraperiosteal fluid collection with poorly defined margins caused by the pressure of the presenting part against the dilating cervix [tourniquet effect of the cervix].

Newborn Scalp bleeds

Enlarge

Newborn Scalp bleeds

Symptoms

Caput succedaneum extends across the midline and over suture lines and is associated with head moulding. Caput succedaneum does not usually cause complications and usually resolves over the first few days. A caput succedaneum does cross the suction line.

Management

Management consists of observation only. A complete and fast recovery will normally occur with caput succedaneum. If the baby’s scalp contour has changed, a normal contour should be regained.

The baby will often be (understandably) irritable so may require analgesia for it’s headache and handling should be kept to a minimum for the first few days.

Caput Succedaneum

Definition

Caput succedaneum is a diffuse swelling of the scalp in a newborn caused by pressure from the uterus or vaginal wall during a head-first (vertex) delivery.

Images:

Alternative Names

Caput

Causes, incidence, and risk factors

A caput succedaneum is caused by the mechanical trauma of the initial portion of scalp pushing through a narrowed cervix. The swelling may be on any portion of the scalp, may cross the midline (as opposed to a cephalhematoma), and may be discolored because of slight bleeding in the area. There may also be molding of the head, which is common in association with a caput succedaneum.

Symptoms

  • Soft, puffy swelling of the scalp in a newborn infant
  • Swelling may or may not have some degree of bruising
  • Swelling may extend over the midline of the scalp
  • Most often seen on the portion of the head which presented first
  • May be associated with increased molding of the head

Signs and tests

Physical examination confirms that the swelling is a caput succedaneum. No testing is necessary.

Treatment

No treatment is necessary, and it usually heals spontaneously within a few days.

Expectations (prognosis)

Complete recovery can be expected, with the scalp regaining its normal contour.

Complications

Jaundice can result as the bruise breaks down into bilirubin.

Calling your health care provider

This condition is usually noticed immediately after delivery of the child, so no call is necessary — unless you have additional questions.

Prevention

A caput succedaneum is more likely to form during a prolonged or difficult delivery. This is especially true after the membranes have ruptured, thus removing the protective cushion of the amniotic sac. Vacuum extraction can also increase the chances of a caput succedaneum.

However, a caput succedaneum is sometimes identified by prenatal ultrasound even before labor or delivery begins. It has been found as early as 31 weeks of gestation. More often than not, this is associated with either premature rupture of the membranes or too little amniotic fluid (oligohydramnios). All other things being equal, the longer the membranes are intact, the less likely a caput is to form.

Nevertheless, a caput succedaneum can form before or during birth even in the absence of any identifiable risk factor. Good prenatal care and management of labor and delivery can reduce the chances of this minor problem, but the formation of a caput succedaneum is often unpredictable and unavoidable.

References

Stoll, BJ, Kliegman, RM. Nervous System Disorders. In: Behrman, RE., Kliegman, RM, Jenson, HB, eds. Nelson Textbook of Pediatrics. 17th ed., Philadelphia, PA: Saunders; 2004:562

terjemah bebas:

definisi

caput succedaneum memencarkan bengkak kulit dan rambut kepala di disebabkan oleh tekanan dari rahim baru lahir atau vaginal dinding selama head-first (pengiriman puncak).

nama alternatif

caput

menyebabkan, berjangkit, dan faktor resiko

caput succedaneum dilantaran oleh mekanis trauma bagian awal kulit dan rambut kepala meneruskan membatasi tengkuk. bengkak mungkin di beberapa bagian kulit dan rambut kepala, mungkin arungi midline sebagai lawan cephalhematoma, dan mungkin menycolored karena pendarahan tipis di daerah. di sana mungkin juga membentuk kepala, yang biasa bersama-sama caput succedaneum.

gejala

” halus, kulit dan rambut kepala di bayi baru lahir

” bengkak mungkin atau mungkin tidak punya derajat dari bruising

” bengkak mungkin memperluas melalui midline kulit dan rambut kepala

” paling sering melihat di bagian kepala yang menyajikan pertama

” mungkin berasosiasi dengan meningkat membentuk kepala

tanda dan percobaan

ujian fisik menegaskan bahwa bengkak caput succedaneum. tidak ujian perlu.

pengurusan

tidak pengurusan perlu, dan ini biasanya sembuh secara spontan dalam beberapa hari.

harapan (ramalan)

genapkan pemulihan dapat menyangka, dengan kulit dan rambut kepala mendapat kembali garis bentuk normal nya.

keruwetan

penyakit kuning dapat hasil memar sebagai memerinci ke bilirubin.

memanggil pelayanan kesehatan kamu provider

kondisi ini biasanya mencatat segera setelah pengiriman anak, tidak memanggil perlu – kalau kamu punya pertanyaan tambahan.

cegahan

caput succedaneum banyak mungkin ke bentuk selama berlangsung lama atau pengiriman sulit. ini adalah khususnya benar setelah membran telah memecahkan, jadi memindahkan bantal alas duduk protektif amniotic kantung. keturunan hampa udara dapat juga menambah kesempatan dari caput succedaneum.

akan tetapi, caput succedaneum kadang-kadang mengenali oleh sebelum melahirkan ultrasound bahkan sebelum buruh atau pengiriman mulai. ini telah menemukan sejak dulu 31 minggu kehamilan. banyak sering daripada tidak, ini adalah berasosiasi dengan salah satu perpecahan prematur membran atau terlalu kecil amniotic cair (oligohydramnio. semua yang lain tetap sama, lebih panjang membran utuh, semakin sedikit mungkin caput ke bentuk.

meskipun demikian, caput succedaneum dapat bentuk sebelum atau selama kelahiran bahkan di absen faktor resiko bisa diidentifikasi. sebelum melahirkan baik merawat dan manajemen buruh dan pengiriman dapat mereduksi kesempatan dari persoalan kecil ini, tetapi pembentukan caput succedaneum sering tak dapat diramalkan dan tak terelakkan.

acuan

Stoll, BJ, Kliegman, RM. Nervous System Disorders. In: Behrman, RE., Kliegman, RM, Jenson, HB, eds. Nelson Textbook of Pediatrics. 17th ed., Philadelphia, PA: Saunders; 2004:562

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 113 pengikut lainnya.