Undangan untuk Jadi Penulis

Setelah hampir enam bulan kuliahbidan online dan sangat dibutuhkannya eksistensi kuliahbidan di jagat maya, maka kami mengundang kepada netter (pengunjung) untuk memberikan kontribusi tulisan di kuliahbidan, dengan tujuan satu bahwa kuliahbidan ditujukan untuk meningkatkan profesionalis bidan serta untuk mencari materi kebidanan, untuk itu bagi para penulis yang ingin bergabung kirim email anda ke erlina.mustika@gmail.com subject: Konstribusi artikel / penulis, nanti artikel anda akan kami muat dengan menyebutkan penulis

biodata penulis: Nama: Pendidikan: pekerjaan: alamat:

sebelumnya kami ucapkan terimakasih

erlina.

Nb. bagi Penulis yang mengirimkan lebih dari 10 artikel akan mendapatkan nametag kuliahbidan

Transplantasi Organ dalam Pandangan Islam

Di antara banyak pertanyaan etis terkait dengan pencangkokan organ seperti yang sedang hangat – hangat saat ini, ada penekanan yang berbeda di antara komunitas yang berbeda-beda dari sisi sosial-ekonomi maupun keagamaan. Di AS, misalnya, isu-isu utama yang dibahas terutama berkisar pada kelompok pertanyaan kedua, mengenai perolehan dan distribusi organ. Di negara berkembang, sementara penggunaan teknologi ini jauh di belakang negara maju, banyak isu muncul terkait dengan organ trafficking , sementara distribusi organ tak menjadi isu.

Pada bagian ini akan dibahas satu contoh respon terhadap pencangkokan organ dari para pemikir Muslim. Terkait dengan karakter agama Islam maupun konteks sosial Muslim, tak mengherankan jika tak semua pertanyaan di atas tidak mendapatkan penekanan yang sama. Secara umum, kelompok-kelompok kegamaan, khususnya Islam, memberikan soratan cukup mendasar pada persoalan boleh tidaknya—dari sudut pandang nilai-nilai keagamaan—melakukan pencangkokan organ.

Literatur Islam mengenai isu ini didominasi oleh pendekatan fikih (hukum/ jurisprudensi). Dan persoalan utama yang mendominasi fikih biasanya terbatas pada masalah halal-haram , meskipun tidak selalu demikian. Dalam Islam, pertanyaan penting mengenai apakah pencangkokan organ diperbolehkan oleh agama dijawab dengan merujuk pada sumber tekstual utama (Qur’an dan hadis) maupun kitab-kitab hukum fikih.

Dari segi metodologi, untuk menjawab masalah-masalah kontemporer ulama mencari kasus-kasus yang dibahas dalam kitab-kitab lama itu, atau kasus-kasus yang analog dengannya. Pengambilan keputusan seperti ini dibimbing oleh seperangkat prinsip umum, yang disebut usul fikih (prinsip-prinsip fikih). Di antaranya, ada prinsip pertimbangan manfaat dan mudarat (keburukan) dari suatu keputusan; prinsip mendahulukan menghindari keburukan; prinsip bahwa manfaat yang amat besar dapat mengatasi keburukan-keburukan inheren yang lebih kecil; prinsip darurat (sesuatu yang dalam keadaan normal tak diperbolehkan, tapi dalam keadaan darurat diperbolehkan); prinsip maslahah atau kesejahteraan publik; dan sebagainya.

Dalam hal pencangkokan organ, keputusan-keputusan legal-etis bisa dicari dengan melihat bagaimana kitab-kitab klasik itu memandang penggunaan bagian-bagian tubuh manusia untuk tujuan penyembuhan. Kadang-kadang, seperti akan ditunjukkan contohnya di bawah, upaya ini dilakukan dengan tak memperhatikan konteksnya dengan baik, tapi hanya melihat kasus dimana organ tubuh manusia diperlakukan meski dalam konteks yang amat jauh berbeda dengan konteks pencangkokan. Meskipun pendekatan ahistoris semacam ini telah sering dikritik, tapi masih juga kerap digunakan.

Sebagaimana halnya dalam kasus-kasus lain, karena karakter fikih dalam Islam, pendapat yang muncul tak hanya satu, tapi beragam, dan satu dengan lainnya bahkan terkadang saling bertolak belakang, meski menggunakan sumber-sumber yang identik. Di sini akan disampaikan beberapa pandangan yang cukup populer mengenai isu ini.

Pandangan yang menentang pencangkokan organ diajukan atas dasar setidaknya tiga alasan:

1. Kesucian hidup/tubuh manusia : setiap bentuk agresi terhadap tubuh manusia dilarang, karena ada beberapa perintah yang jelas mengenai ini dalam Al-Qur’an. Dalam kaitan ini ada satu hadis (ucapan) Nabi Muhammad yang terkenal yang sering dikutip untuk menunjukkan dilarangnya manipulasi atas tubuh manusia, meskipun sudah menjadi mayat: “Mematahkan tulang mayat seseorang adalah sama berdosa dan melanggarnya dengan mematahkan tulang orang itu ketika ia masih hidup.”

2. Tubuh manusia adalah amanah : hidup, diri, dan tubuh manusia pada dasarnya adalah bukan miliknya sendiri, tapi pinjaman dari Tuhan dengan syarat untuk dijaga, karena itu manusia tak memiliki hak mendonorkannya pada orang lain.

3. Tubuh tak boleh diperlakukan sebagai benda material semata: pencangkokan dilakukan dengan mengerat organ tubuh seseorang untuk dicangkokkan pada tubuh orang lain; di sini tubuh dianggap sebagai benda material semata yang bagian-bagiannya bisa dipindah-pindah tanpa mengurangi ke-tubuh-an seseorang.

Sedangkan pandangan yang mendukung pencangkokan organ memiliki beberapa dasar, sebagai berikut

1. Kesejahteraan publik (maslahah) : pada dasarnya manipulasi organ memang tak diperkenankan, meski demikian ada beberapa pertimbangan lain yang bisa mengalahkan larangan itu, yaitu potensinya untuk menyelamatkan hidup manusia, yang mendapat bobot amat tinggi dalam hukum Islam. Dengan alasan ini pun, ada beberapa kualifikasi yang mesti diperhatikan: Pencangkokan organ boleh dilakukan jika tak ada alternatif lain untuk menyelamatkan nyawa; derajat keberhasilannya cukup tinggi ada persetujuan dari pemilik organ asli (atau ahli warisnya); penerima organ sudah tahu persis segala implikasi pencangkokan ( informed consent )

2. Altruisme : ada kewajiban yang amat kuat bagi Muslim untuk membantu manusia lain, khususnya sesama Muslim; pendonoran organ secara sukarela merupakan bentuk altruisme yang amat tinggi (tentu ini dengan anggapan bahwa si donor tak menerima uang untuk tindakannya), dan karenanya dianjurkan. Sekali lagi, untuk ini pun ada beberapa syarat:

¨ Ada persetujuan dari donor;

¨ Nyawa donor tak terancam dengan pengambilan organ dari tubuhnya;

¨ Pencangkokan yang akan dilakukan berpeluang berhasil amat tinggi.

¨ organ tak diperoleh melalui transaksi jual-beli,

Ada satu implikasi yang menarik dari sini. Jika syarat ini dikombinasikan dengan kebolehan (dan dalam kasus tertentu kewajiban) melakukan pencangkokan organ, maka mendonorkan organ bagi Muslim hukumnya adalah wajib-sosial ( fardh kifayah ), yaitu, dalam suatu komunitas Muslim, adalah kewajiban bagi salah seorang Muslim untuk mendonorkan organnya jika ada orang lain yang membutuhkan! (Sekali lagi, tentu dengan memenuhi pembatasan-pembatasan di atas.)

Belakangan ini, di antara lembaga-lembaga pemberi fatwa di dunia Muslim, pandangan yang dominan adalah pandangan yang mendukung bolehnya pencangkokan organ. Di antara lembaga semacam itu yang mendukung pencangkokan organ adalah Akademi Fikih Islam (lembaga di bawah Liga Muslim Se-Dunia, yang berpusat di Arab Saudi) pada fatwa-fatwanya pada tahun 1985 dan 1988; Akademi Fikih Islam India (1989); dan Dar al-Ifta’ (lembaga otonom semcam MUI, di bawah Departemen Agama, Mesir, yang biasanya diketuai oleh ulama dari Universitas al-Azhar). Pencangkokan yang diperbolehkan mencakup autotransplantasi, allotransplantasi, dan juga heterotransplantasi—dalam urutan keterdesakan (situasi darurat) yang lebih tinggi. Meski demikian, diperbolehkannya pencangkokan organ ini selalu diikuti syarat-syarat sebagaimana disebutkan di atas.

Kasus pencangkokan organ ini termasuk kasus yang agak langka, dimana ada konsensus yang cukup luas. Meski demikian, ada dua catatan lain yang perlu diberikan. Pertama , di samping konsensus umum itu, ada beberapa variasi mengenai beberapa hal yang lebih terinci dan mengenai tingkat keterdesakan (yang paling tinggi menyatakan bahwa prosedur ini boleh dilakukan hanya dalam kondisi dimana nyawa seseorang benar-benar terancam dan tak ada jalan lain sama sekali kalau ia masih mau dipertahankan tetap hidup). Satu contoh dari hal yang spesifik itu adalah adanya fatwa yang menyatakan bahwa pencangkokan organ hanya boleh diambil dari donor hidup, dan tak boleh membahayakan nyawa donor—artinya, donor ginjal diperbolehkan, sementara jantung tidak.

Kedua, perlu dicatat bahwa tetap saja ada fatwa-fatwa yang berbeda, meski tak sepopuler fatwa-fatwa di atas.Yang cukup terkenal di antara penentang pencangkokan organ adalah mazhab Deoband di Pakistan (dengan ulamanya yang terkenal cukup konservatif, Mufti Muhammad Syafi’).

Dalam pandangan yang lebih moderat/liberal, keberatan ulama konservatif itu tak terlalu sulit dijawab. Keberatan utama mereka terkait dengan status tubuh manusia: bahwa tubuh adalah suci dan tak boleh dihinakan; dan bahwa tubuh bukanlah milik manusia (lihat tiga alasan yang dibahas di atas). Mengenai yang pertama, argumen yang diambil dari hadis mengenai larangan mematahkan tulang dapat segera ditolak setelah kita melihat konteks ucapan Nabi Muhammad itu. Konteksnya adalah peristiwa di mana seorang penggali kubur yang kasar mematahkan tulang mayat karena kuburan yang sudah digali ternyata terlalu sempit. Ini jelas perbuatan yang tak menghormati mayat. Sementara dalam pencangkokan organ, ada tujuan yang jelas, dan tujuan itu amat mulia. Demikian pula, mengambil organ dengan alasan mulia yang jelas bukanlah tindakan yang melanggar amanah, tapi justru upaya memenuhi perintah lain Tuhan untuk menyelamatkan hidup sesama manusia.

Tiga catatan kritis atas wacana fikih yang dominan:

Pembahasan terakhir membawa kita ke persoalan yang lebih jauh mengenai apa yang disebut oleh Moosa (2002) sebagai “kosmologi tubuh”. Moosa menganalisis bahwa perbedaan-perbedaan fatwa tersebut bersumber dari pandangan mengenai tubuh yang berbeda. Kosmologi tubuh konservatif nyaris menutup hak manusia untuk memperlakukan tubuhnya sendiri untuk tujuan apapun. Ujung-ujungnya adalah pandangan mengenai takdir yang deterministik. Dalam konteks lain, kosmologi tubuh ini juga mempengaruhi, misalnya, pandangan negatif terhadap perempuan, karena, di antaranya, darah menstruasi dipandang sebagai sesuatu yang najis. Padahal, darah menstruasi dapat sepenuhnya dijelaskan sebagai peristiwa biologis/alamiah sepenuhnya, tanpa perlu diberi signifikansi spiritual. Dalam kasus yang kedua ini lebih tampak jelas adanya inkoherensi antara pandangan konservatif atas tubuh dengan pandangan mengenai tubuh yang disampaikan sains. Inilah yang dikeluhkan oleh Moosa: tak adanya koherensi epistemik antara fikih dengan sains di masa ini, sementara di masa yang lebih awal, pemahaman fikih selalu dilandasi oleh pemahaman ilmiah yang up to date .

Ditarik lebih jauh, jika kosmologi tubuh modern diterima, maka mungkin tak perlu ada pembedaan sama sekali antara organ yang diperoleh dari manusia hidup, manusia mati, atau bahkan dari binatang, kecuali pembedaan yang sifatnya biologis semata. Demikian pula, pembedaan antara tubuh Muslim dengan non-muslim juga menjadi sesuatu yang tak relevan.

Sebagai catatan terakhir, bisa kita lihat bahwa di antara tiga kelompok persoalan etis menyangkut pencangkokan organ (yang dibahas pada bagian I di atas), fikih Islam terlalu condong pada kelompok pertama, mengenai kebolehan prosedur ini dari sudut pandang pemahaman keagamaan yang kurang luas. Kelompok masalah etis kedua (perolehan dan distribusi organ) hanya sedikit tersentuh, itu pun sejauh ada hubungannya dengan kelompok masalah pertama. Benar bahwa, seperti diungkapkan di atas, kelompok masalah kedua memang terasa jauh lebih urgen di tempat-tempat dimana pencangkokan organ menjadi prosedur yang amat sering dilakukan, seperti di AS. Meski demikian, jenis-jenis pencangkokan organ tertentu, khususnya ginjal, sudah cukup lazim pula dilakukan dalam komunitas Muslim; namun persoalan etika perolehan dan distribusi organ belum cukup mendapat perhatian.

Demikian pula, ketakbolehan memperjualbelikan organ diajukan semata-mata dengan alasan bahwa tubuh seseorang bukan miliknya sendiri. Di luar alasan teologis itu, sebenarnya ada alasan sosial-ekonomis yang pada saat ini terasa jauh lebih mendesak menyangkut terjadinya organ trafficking yang terjadi di negara-negara Dunia Ketiga. Yang nyaris absen dari literatur Islam adalah pembahasan mengenai isu keadilan distributif. Memandang bahwa keadilan adalah salah satu nilai etis terpenting Islam, nyaris tak adanya pembahasan ini tentu patut disesalkan. Perhatian yang lebih serius pada aspek keadilan sosial-ekonomi kiranya akan mengubah wacana pemfatwaan masalah pencangkokan organ.

Situasi ini terjadi kemungkinan besar karena secara umum tradisi etika dalam Islam kontemporer tak cukup berkembang, terdominasi oleh wacana fikih yang mau tak mau lebih berkutat pada persoalan-persoalan legal mengenai halal-haram secara intrinsik. Di sisi lain, jika dalam kasus pelarangan jual beli organ yang muncul terutama adalah alasan teologis, ini karena pembuat fatwa pada masa kini pun terlalu terpaku pada wacana di masa yang lebih awal dan kurang memberikan perhatian pada konteks sosial-ekonomi saat ini. Upaya-upaya me(re-) konstruksi suatu sistem etika Islam telah dilakukan, namun kita belum melihat munculnya ragam mazhab-mazhab etika yang cukup kuat untuk mendukung perdebatan etis mengenai masalah-masalah kontemporer. Ini adalah suatu kelemahan yang banyak dikeluhkan pemikir Muslim, dan sedang diperbaiki, namun kiranya masih membutuhkan waktu yang cukup lama.

Sebab Sunsang

Jika kondisi ini terjadi pada kehamilan Anda, maka jangan buru-buru panik. Asalkan usia kandungan masih di bawah 32 minggu maka si kecil dalam perut masih bisa dikembalikan pada posisi normal kok.

Posisi sungsang, posisi janin memanjang dengan kepala di bagian atas rahim dan bokongnya ada di bagian bawah, tergolong sebagai kelainan letak janin. Kondisi ini biasanya sudah terdekteksi saat kehamilan memasuki trimester kedua. Biasanya Anda akan merasakan kandungan terasa penuh di bagian atas dengan gerakan janin terasa lebih banyak di bagian bawah.

Mengapa bisa sungsang?

  1. Bobot janin relatif rendah. Hal ini mengakibatkan janin bebas bergerak. Ketika menginjak usia 28-34 minggu kehamilan, berat janin makin membesar, sehingga tidak bebas lagi bergerak. Pada usia tersebut, umumnya janin sudah menetap pada satu posisi. Kalau posisinya salah, maka disebut sungsang.
  2. Rahim yang sangat elastis. Hal ini biasanya terjadi karena ibu telah melahirkan beberapa anak sebelumnya, sehingga rahim sangat elastis dan membuat janin berpeluang besar untuk berputar hingga minggu ke-37 dan seterusnya.
  3. Hamil kembar. Adanya lebih dari satu janin dalam rahim menyebabkan terjadinya perebutan tempat. Setiap janin berusaha mencari tempat yang nyaman, sehingga ada kemungkinan bagian tubuh yang lebih besar (yakni bokong janin) berada di bagian bawah rahim.
  4. Hidramnion (kembar air). Volume air ketuban yang melebihi normal menyebabkan janin lebih leluasa bergerak walau sudah memasuki trimester ketiga.
  5. Hidrosefalus. Besarnya ukuran kepala akibat kelebihan cairan (hidrosefalus) membuat janin mencari tempat yang lebih luas, yakni di bagian atas rahim.
  6. Plasenta previa. Plasenta yang menutupi jalan lahir dapat mengurangi luas ruangan dalam rahim. Akibatnya, janin berusaha mencari tempat yang lebih luas yakni di bagian atas rahim.
  7. Panggul sempit. Sempitnya ruang panggul mendorong janin mengubah posisinya menjadi sungsang.
  8. Kelainan bawaan. Jika bagian bawah rahim lebih besar daripada bagian atasnya, maka janin cenderung mengubah posisinya menjadi sungsang.

Bagaimana cara mendeteksi sungsang?

  1. Melakukan perabaan perut bagian luar. Cara ini dilakukan oleh dokter atau bidan. Janin akan diduga sungsang bila bagian yang paling keras dan besar berada di kutub atas perut. Perlu diketahui bahwa kepala merupakan bagian terbesar dan terkeras dari janin.
  2. Melalui pemeriksaan bagian dalam menggunakan jari. Cara ini pun hanya bisa dilakukan oleh dokter atau bidan. Bila di bagian panggul ibu lunak dan bagian atas keras, berarti bayinya sungsang.
  3. Cara lain adalah dengan ultrasonografi (USG).

Tindakan apa yang harus dilakukan?
Selain upaya yang dilakukan dokter, maka Andapun bisa mengupayakan sendiri agar janin kembali ke posisi semula.

  1. Anda dianjurkan untuk melakukan posisi bersujud (knee chest position), dengan posisi perut seakan-akan menggantung ke bawah. Cara ini harus rutin dilakukan setiap hari sebanyak 2 kali, misalnya pagi dan sore. Masing-masing selama 10 menit. Bila posisi ini dilakukan dengan baik dan teratur, kemungkinan besar bayi yang sungsang dapat kembali ke posisi normal. Kemungkinan janin akan kembali ke posisi normal, berkisar sekitar 92 persen. Dan posisi bersujud ini tidak berbahaya karena secara alamiah memberi ruangan pada bayi untuk berputar kembali ke posisi normal.
  2. Usaha lain yang dapat dilakukan oleh dokter adalah mengubah letak janin sungsang menjadi normal dengan cara externalcephalic versin/ECV. Metode ini adalah mengubah posisi janin dari luar tubuh sang ibu. Cara ini dilakukan saat kandungan mulai memasuki usia 34 minggu. Sayangnya, cara ini menimbulkan rasa sakit bahkan kematian janin, akibat kekurangan suplai oksigen ke otaknya.

Apa yang terjadi saat persalinan?
Posisi janin sungsang tentunya dapat memengaruhi proses persalinan. Proses persalinan yang salah, jelas menimbulkan risiko, seperti janin mengalami pundak patah atau saraf di bagian pundak tertarik (akibat salah posisi saat menarik bagian tangannya ke luar), perdarahan otak (akibat kepalanya terjepit dalam waktu yang lama), patah paha (akibat salah saat menarik paha ke luar), dan lain-lain. Untuk itu biasanya dokter menggunakan partograf, alat untuk memantau kemajuan persalinan. Jika persalinan dinilai berjalan lambat, maka harus segera dilakukan operasi bedah sesar.

sumber: conectique.com

Varises Vagina Saat Hamil

Pada ibu hamil, varises tak hanya menyerang bagian kaki tapi juga vagina dan anus. Jika tidak diwaspadai, kondisi ini bisa menjadi berbahaya karena dapat menghambat proses persalinan secara normal atau pervaginam.

Agar lebih waspada terhadap varises sebaiknya kenali gejala dan cara menghindarinya

Apakah varises itu?
Varises adalah pembuluh darah balik di bawah kulit atau selaput lendir (mukosa) yang melebar dan berkelok atau melingkar akibat kelainan katup dalam pembuluh darah tersebut. Biasanya varises terjadi pada tangan dan kaki, namun pada beberapa orang dapat terjadi di tempat-tempat lain seperti pada lambung, rektum (usus besar dekat anus), vagina, skrotum, dan vulva (bibir kemaluan). Gatal-gatal atau perubahan warna kulit menjadi kebiruan adalah ciri-ciri varises yang paling mudah dikenali.

Gejala varises vagina

  • Biasanya si ibu atau dokter mendeteksi dengan cara meraba vagina, jika terasa ada tonjolan maka bisa dipastikan ibu hamil mengalai varises vagina.
  • Ibu hamil mengeluh cepat lelah dan pucat.

Mengapa ibu hamil mengalaminya?
Sekitar 20-30% ibu hamil mengalami varises. Umumnya varises terjadi di daerah panggul dan anggota gerak bagian bawah. Hal ini karena pembuluh-pembuluh darah di daerah inilah yang berhubungan erat dengan rahim. Selain itu, kehamilan menyebabkan perempuan mengalami perubahan hormonal, terutama peningkatan hormon progesteron. Nah, perubahan hormonal inilah yang membuat elastisitas dinding pembuluh darah makin bertambah, sehingga dinding pembuluh darah (baik arteri maupun vena) makin lentur. Akibatnya, pembuluh darah jadi tambah besar dan melebar.

Pelebaran pembuluh darah ini perlu untuk memenuhi kebutuhan janin, agar aliran darah dan volume darah yang memang makin meningkat pada wanita hamil dapat tersuplai dengan baik, hingga pertumbuhan janin pun berlangsung normal.

Faktor risiko
Ada banyak faktor risiko (bukan penyebab) yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya varises selama kehamilan yaitu faktor keturunan, kegemukan (obesitas), sikap tubuh yang salah misalnya terlalu lama duduk atau lama berdiri, penggunaan pil KB atau pengobatan dengan estrogen, pemilihan pakaian hamil yang salah, misalnya terlalu ketat. Hamil lebih dari dua kali serta kehamilan di atas usia 40 tahun.

Pengaruh pada proses persalinan
Ibu hamil yang mengalami varises vagina, masih dapat melalui persalinan normal. Namun apabila varises pada vagina yang diderita cukup berat, biasanya dokter menyarankan tindakan operasi sesar untuk meminimalisasikan risiko pecahnya dinding pembuluh darah akibat trauma/laserasi jalan pada saat bayi lahir. Varises vagina jika lambat terdekteksi dapat mengakibatkan perdarahan yang menyebabkan kematian si ibu.

Tindakan pencegahan
Hingga saat ini belum ada alat khusus untuk mencegah varises vagina pada ibu hamil. Namun bila ibu hamil rajin mengangkat kaki dengan cara menaruhnya di atas bantal kala tidur-tiduran atau membaca buku, sedikit banyak bisa membantu melancarkan aliran darah. Cara ini terbukti dapat mengurangi beban yang harus ditopang kaki. Hindari penggunaan sepatu, sebaiknya dengan hak maksimal 2 cm agar aliran darah tak terhambat. Kemudian saat tidur, usahakan jangan berbaring hanya dalam satu posisi untuk menghindari tekanan pada pembuluh darah di satu tempat.

conectique.com

ASUHAN KEBIDANAN

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan nasional dibidang kesehatan bertujuan untuk mencapai kemampuan untuk hidup sehat, bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal.

Untuk mewujudkan kesehatan masyarakat secara optimal diperlukan peran serta masyarakat dan sumber daya masyarakat sebagai modal dasar dalam pembangunan nasioal, termasuk keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat.

Dalam upaya mewujudkan kesehatan masyarakat terutama dalam mencegah angka kematian ibu dan anak pemerintah mencanangkan program safe methorhood yang berupa 6 pilar sebagai realisasi kerja, antara lain :

1. Pelayanan keluarga berencana

2. Asuhan antenatal

3. Persalinan bersih dan aman

4. Pelayanan obsetrik neonatal

5. Pelayanan kesehatan dasar

6. Pelayanan kesehatan primer dengan pemberdayaan wanita

Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarkat dimana masalah kesehatan dapat timbul, berupa masalah KIA/KB, KELING.


Dalam hal ini penulis mengambil kasus pada keluarga Tn. S pada RT. 01 RW. 02 Desa Kemanggungan Kecamatan Tarub Kabupaten Tegal sebagai bukti pelaksanaan praktek kebidanan komunitas dan melaksanakan implementasi sesuai dengan prioritas masalah.

B. Tujuan

1. Tujuan Umum

Membantu masyarakat dalam mengupayakan hidup sehat sehingga mencapai derajat kesehatan yang optimal.

2. Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi masalah kesehatan yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak pada keluarga.

b. Menemukan masalah yang ada dan memprioritaskannya

c. Merumuskan berbagai alternatif pemecahan maasalah

d. Implementasi hasil rumusan alternatif pemecahan masalah

e. Mendorong dan meningkatkan kesadaran serta partisipasi keluarga dalam upaya mendorong dirinya sendiri dalam bidang kesehatan, serta menanamkan perilaku hidup sehat

C. Metode

Dalam penyusunan laporan ini penulis menggunakan metode deskriptif analitik yang menggunakan metode wawancara dan pendataan.

D. Sistematika Penulisan

Dalam penyusunan laporan ini terdiri dari 5 Bab, adapun sistematika penulisan dari masing-masing Bab, sebagai berikut :

1. BAB I : PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

B. Tujuan Penulisan

C. Metode

D. Sistematika Penulisan

2. BAB II : LANDASAN TEORI

A. Konsep Komunitas

B. Konsep Keluarga

C. Masalah Utama

3. BAB III : TINJUAN KASUS

A. Pengkajian

B. Intervensi

4. BAB IV : PEMBAHASAN

5. BAB V : PENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Konsep Kebidanan Komunitas

Konsep adalah kerangka ide yang mengandung suatu pengertian tertentu. Kebidanan berasal dari kata “Bidan” yang artinya adalah seseorang yang telah mengikuti pendidikan tersebut dan lulus serta terdaftar atau mendapat ijin melakukan praktek kebidanan.

Sedangkan kebidanan sendiri mencakup pengetahuan yang dimiliki bidan dan kegiatan pelayanan yang dilakukan untuk menyelamatkan ibu dan bayi yang dilahirkan (J.H. Syahlan, 1996).

Komunitas adalah kelompok orang yang berada di suatu lokasi tertentu. Sarana kebidanan komunitas adalah ibu dan anak balita yang berada dalam keluarga dan masyarakat. Pelayanan kebidanan komunitas dilakukan diluar rumah sakit. Kebidanan komunitas dapat juga merupakan bagian atau kelanjutan pelayanan kebidanan yang diberikan di rumah sakit. Pelayanan kesehatan ibu dan anak di lingkungan keluarga merupakan kegiatan kebidanan komunitas.

Kelompok komunitas terkecil adalah keluarga individu yang dilayani adalah bagian dari keluarga atau komunitas. Oleh karena itu, bidan tidak memandang pasiennya dari sudut biologis. Akan tetapi juga sebagai unsur sosial yang memiliki budaya tertentu dan dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan lingkungan disekelilingnya.

Dapat ditemukan disini bahwa unsur-unsur yang tercakup didalam kebidanan komunitas adalah bidan, pelayanan kebidanan, sasaran pelayanan, lingkungan dan pengetahuan serta teknologi.

Asuhan kebidanan komunitas adalah merupakan bagian integral dari system pelayanan kesehatan, khususnya dalam pelayanan kesehatan ibu, anak dan Keluarga Berencana.

B. Manajemen Kebidanan Komunitas

Dalam memecahkan masalah pasiennya, bidan menggunakan pendekatan manajemen kebidanan.

Manajemen kebidananan adalah metode yang digunakan oleh bidan dalam menentukan dan mencari langkah-langkah pemecahan masalah serta melakukan tindakan untuk menyelematkan pasiennya dari gangguan kesehatan.

Penerapan manajemen kebidanan melalui proses yang secara berurutan yaitu identifikasi masalah, analisis dan perumusan masalah, rencana dan tindakan pelaksanaan serta evaluasi hasil tindakan. Manajemen kebidanan juga digunakan oleh bidan dalam menangani kesehatan ibu, anak dan KB di komuniti, penerapan manajemen kebidanan komuniti (J.H. Syahlan, 1996).

1. Identifikasi masalah

Bidan yang berada di desa memberikan pelayanan KIA dan KB di masyarakat melalui identifikasi, ini untuk mengatasi keadaan dan masalah kesehatan di desanya terutama yang ditujukan pada kesehatan ibu dan anak. Untuk itu bidan melakukan pengumpulan data dilaksanakan sccara langsung ke masyarakat (data subyektif) dan data tidak langsung ke masyarkaat (data obyektif)

a. Data Subyektif

Data subyektif diperoleh dari informasi langsung yang diterima dai masyarakat. Pengumpulan data subyektif dilakukan melalui wawancara. Untuk mengetahui keadaan dan masalah kesehatan masyarakat dilakukan wawancara terhadap individu atau kelompok yang mewakili masyarakat.

b. Data Obyektif

Data obyektif adalah data yang diperoleh dari observasi pemeriksaan dan penelaahan catatan keluarga, masyarakat dan lingkungan. Kegiatan dilakukan oleh bidan dalam pengumpulan data obyektif ini ialah pengumpulan data atau catatan tentang keadaan kesehatan desa dan pencatatan data keluarga sebagai sasaran pemeriksaan.

2. Analisa dan perumusan masalah

Setelah data dikumpulkan dan dicatat maka dilakukan analisis. Hasil analisis tersebut dirumuskan sebagai syarat dapat ditetapkan masalah kesehatan ibu dan anak di komuniti.

Dari data yang dikumpulkan, dilakukan analisis yang dapat ditemukan jawaban tentang :

a. Hubungan antara penyakit atau status kesehatan dengan lingkungan keadaan sosial budaya atau perilaku, pelayanan kesehatan yang ada serta faktor-faktor keturunan yang berpengaruh terhadap kesehatan. (H.L. Blum).

b. Masalah-masalah kesehatan, termasuk penyakit ibu, anak dan balita

c. Masalah-masalah utama ibu dan anak serta penyebabnya

d. Faktor-faktor pendukung dan penghambat

Rumusan masalah dapat ditentukan berdasarkan hasil analisa yang mencakup masalah utama dan penyebabnya serta masalah potensial.

3. Diagnosa potensial

Diagnosa yang mungkin terjadi

4. Antisipasi penanganan segera

Penanganan segera masalah yang timbul

5. Rencana (intervensi)

Rencana untuk pemecahan masalah dibagi menjadi tujuan, rencana pelaksanaan dan evaluasi.

6. Tindakan (implementasi)

Kegiatan yang dilakukan bidan di komunitas mencakup rencana pelaksanaan yang sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.

7. Evaluasi

Untuk mengetahui ketepatan atau kesempurnaan antara hasil yang dicapai dengan tujuan yang ditetapkan.

C. Konsep Dasar Keluarga

1. Pengertian keluarga

Keluarga adalah unit terkecil masyarakat, terdiri atas 2 orang atau lebih adanya ikatan perkawinan dan pertalian darah, hidup dalam satu rumah tangga dibawah asuhan seorang kepala rumah tangga berinteraksi diantara sesama anggota keluarga, setiap anggota keluarga mempunyai peran masing-masing, menciptakan, mempertahankan suatu kebudayaan. (Depkes. RI. 1998 dan Salvicion G Bailon dan Aracelis Maglaya, 1989).

2. Struktur keluarga

a. Patrilineal

Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara, seadarah dalam beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ayah.

b. Matrilineal

Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara dalam beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu.

c. Matrilokal

Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah istri.

d. Patrilokal

Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah suami.

e. Keluarga kawinan

Adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena adanya hubungan dengan suami atau istri.

3. Ciri-ciri struktur keluarga

a. Terorganisasi

b. Ada keterbatasan

c. Ada perbedaan dan kekhususan

4. Ciri-ciri keluarga

a. Diikat dalam suatu tali perkawinan

b. Ada hubungan darah

c. Ada ikatan batin

d. Ada tanggung jawab masing-masing anggotnya

e. Ada pengambilan keputusan

f. Kerjasama diantara anggota keluarga

g. Komunikasi interaksi antar anggota keluarga

h. Tinggal dalam satu rumah

5. Ciri-ciri keluarga Indonesia

a. Suami sebagai pengambil keputusan

b. Merupakan suatu kesatuan yang utuh

c. Berbentuk monogram

d. Bertanggung jawab

e. Pengambil keputusan

f. Meneruskan nilai-nilai budaya bangsa

g. Ikatan kekeluargaan sangat erat

h. Mempunyai semangat gotong royong

6. Tipe/bentuk keluarga

a. Keluarga inti (nuclear family)

Adalah keluarga terdiri dari satu ayah, ibu dan anak-anak.

b. Keluarga besar (exended family)

Adalah keluarga inti ditambah dengan sanak saudara misalnya nenek, kakek, keponakan, saudara sepupu, paman, bibi dan sebagainya.

c. Keluarga berantai (sereal family)

Adalah keluarga yang terdiri dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu keluarga inti.

d. Keluarga duda/ janda (single family)

Adalah keluarga yang terjadi karena perceraian atau kematian.

e. Keluarga berkomposisi (composite)

Adalah keluarga yang perkawinannya berpoligami yang hidup secara bersama.

f. Keluarga kabitas (cahabitation)

Adalah dua orang menjadi satu tanpa pernikahan tetapi membentuk suatu keluarga.

Tipe keluarga Indonesia umumnya menganut tipe keluarga besar (extended family) karena masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku hidup dalam suatu komuniti dengan adat istiadat yang sangat kuat.

7. Perawatan kesehatan keluarga

Adalah tingkat perawatan kesehatan masyarakat yang ditujukan atau dipusatkan pada keluarga sebagai unit atau satu kesatuan yang dirawat dengan sehat sebagai tujuan dan melalui perawatan sebagai sasaran.

D. Masalah Utama (Diare)

1. Pengertian

a. Diare adalah bentuk kotoran anak yang semula padat berubah menjadi lembek atau cair dan buang air besar 3 kali atau lebih 24 jam (Buku KIA)

b. Diare adalah buang air besar (DEFEKASI) dengan jumlah tinja yang lebih banyak dari biasanya (normal 100 – 200 ml/ jam tinja dengan tinja berbentuk cairan atau setengah cair (setengah padat) dapat pula disertai frekuensi defkasi yang meningkat (Kapita Selecta Kedokteran Jilid 1 : 501)

c. Diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari 3 kali sehari (WHO, 1980)

2. Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala anak mederita penyakit diare adalah

a. Buang air besar encer atau cair 3 kali atau lebih dalam 24 jam

b. Tidak ada darah dalam BAB

3. Cara Pencegahan dan Penanganan Diare

a. Cara Pencegahan Diare

1) Pemberian hanya ASI saja pada bayi sampai usia 4 – 6 bulan

2) Mencuci tangan dengan sabun setelah berak dan sebelum memberi makan anak

3) Menggunakan jamban dan menjaga kebersihannya

4) Pembuangan tinja anak ditempat yang benar

5) Makanan dan minuman menggunakan air matang

b. Cara Penanganan Diare

1) Perbanyak pemberian minuman misalnya ASI, air matang, air syur, oralit

Cara pemberian oralit dan takarannya

Masukkan 1 bungkus oralit kedalam 1 gelas air (200 cc) yang sudah dimasuk atau air minum dan aduk sampai rata

2) ASI tetap diberikanterutamapada bayi untuk anak yang tidak menetek. Pemberian makanan lunak tetap diteruskan

3) Segera dibawa ke petugas kesehatan bila anak tidak membaik dalam 3 hari atau bila ada tanda-tanda :

a} Buang air besar encer berkali-kali

b} Muntah berulang-ulang

c} Rasa haus yang nyata

d} Demam

e} Makan / minum sedikit

f} Darah dalam tinja

ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS PADA KELUARGA TN. S

Tanggal : 15 Februari 2008

Waktu : 16.00 WIB

Tempat : Rumah Tn. S

I. Pengkajian

A. Data Umum

1. Identitas Kepala Keluarga

Nama : Tn. S

Umur : 33 tahun

Agama : Islam

Suku Bangsa : Jawa/ Indonesia

Jenis Kelamin : Laki-laki

Pendidikan : SMP

Pekerjaan : Wiraswasta

Status perkawinan : Kawin

Alamat : RT. 01 RW. 02 Desa Kemanggungan Kecamatan Tarub Kabupaten Tegal

2. Susunan Keluarga

Nama

Umur

L/P

Status

Penddkn

Pekerjaan

Agama

Keadaan

Herlina

Syahril

Aji Nur Ismail

25 th

5 th

1 th

P

L

L

Istri

Anak

Anak

SMA

TK

-

IRT

-

-

Islam

Islam

Islam

Sehat

Sehat

Diare

Genogram

Keterangan :

: Laki-laki

: Perempuan

: Anak yang dikaji

Tipe keluarga ini adalah keluarga inti, yang paling dominan dalam mengambil keputusan adalah ayah sebagai kepala keluarga. Hubungan dalam keluarga harmonis.

3. Kegiatan Sehari-hari

a. Kebiasaan tidur/ istirahat

1) Ayah tidak pernah tidur siang karena bekerja, malam dapat istirahat cukup

2) Ibu tidak pernah siang, malam dapat istirahat cukup

3) Anak-anak siang mesti tidur, malam istirahat cukup

b. Kebiasaan makan dan minum

Seluruh anggota keluarga makan 3 kali/hari dengan makanan pokok nasi ditambah lauk pauk (tahu, tempe, kadang-kadang telur dan ikan) serta sayur sayuran jarang diselang-seling dengan buah-buahan, anak-anak sudah diberikan makan pengganti ASI yaitu pisang.

c. Penggunaan waktu senggang

Penggunaan waktu senggang oleh ibu digunakan untuk membersihkan rumah dan mengurus keluarganya. Ibu kurang aktif mengikuti kegiatan pengajian ataupun yang lainnya.

4. Situasi sosial budaya dan ekonomi

a. Penghasilan suami tiap bulan tidak tetap tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Keperluan belanja keluarga menjadi tanggung jawab ibu dan istri.

b. Hubungan keluarga dengan masyarakat sekitar baik.

5. Situasi lingkungan

a. Perumahan

Rumah milik sendiri. Jenis rumah permanen, atap dari genting lantainya ubin. Kebersihan rumah kurang, ventilasi cukup, pencahayaan cukup, penerangan rumah pada malam hari menggunakan listrik dan tidak ada cerobong asap.

b. Sumber air minum

Menggunakan sumur gali, keadaan air jernih, tidak berbau dan tidak berasa.

c. Tempat pembuangan tinja

Keluarga mempunyai jamban pribadi, namun kondisi jamban tidak terpelihara.

d. Pembuangan sampah

Sampah dibuang di tempat yang terbuka, di pinggir sungai.

6. Status kesehatan keluarga

a. Bila ada anggota keluarga yang sakit dibawa ke puskesmas

b. Imunisasi kurang lengkap

c. KB : Ibu ikut KB suntik

d. Riwayat persalinan

Anak yang pertama dan kedua ditolong oleh bidan

e. Keadaan gizi keluarga

Pertumbuhan fisik keluarga Tn. S cukup, berat badan umumnya sesuai dengan usia anak, secara sepintas anak tampak sehat.

f. Penyakit yang pernah diderita

Untuk sebelumnya anaknya Tn. S juga menderita diare

g. Pengetahuan ibu

Ibu mengerti cara mengobati diare dengan obat tradisional

i. Analisa Data

Dari analisa data masalah kesehatan yang dialami keluarga adalah lingkungan yang kurang bersih (tidak adanya cerobong asap) didukung oleh sosial ekonomi yang masih rendah dan kurangnya pengetahuan tentang kesehatan. Faktor ini dapat berpengaruh terhadap status kesehatan keluarga itu. Hal ini bisa dilihat pada anaknya yang menderita diare.

Dalam hal ini bidan perlu memberikan perawatan dan penyuluhan tentang diare maupun kesehatan lingkungannya.

ii. Perumusan Masalah

Dari hasil analisa data timbul masalah pada keluarga yang disebabkan ketidaktahuan keluarga dalam masalah kesehatan adalah sebagai berikut :

1. Kebersihan lingkungan

2. Diare

iii. Prioritas Masalah

Untuk mengatasi masalah yang dihadapi oleh keluarga Tn. S maka perlu dilakukan prioritas masalah yang ada sesuai dengan metode Hanlon kualitatif dengan USG (Urgency/mendesak, Seriuousness/kegawatan, Growth/ perkembangan).

1. Kesehatan lingkungan (kebersihan)

No

Kriteria

Perhitungan

Skor

Pembenaran

1.

Sifat Masalah

2/3 x 1

2/3

Ancaman kesehatan

2.

Kemungkinan masalah dapat dirubah

½ x 2

1

Adanya kemuan dari keluarga untuk menciptakan lingkungna yang bersih

3.

Potensi pencegahan

1/3 x 1

1/3

Dengan penyuluhan tidak menjamin dapat merubah perilaku tersebut

4.

Penonjolan masalah

0/2 x 1

0

Keluarga tidak menyadari bahwa kebersihan lingkungan berpengaruh terhadap status kesehatan keluarga

Total skor

2

2. Diare

U S G

M

1

2

TH

M

1

2

TH

M

1

2

TH

1

-

0

1

-

0

1

-

0

2

0

2

0

2

0

TV

0

1

TV

0

1

TV

0

1

TH

0

0

TH

0

0

TH

0

0

T

0

1

T

0

1

T

0

1

Diare Diare Diare

Dari perhitungan diatas maka prioritas masalah yang harus diintervensi adalah :

2. Diare

3. Kebersihan lingkungan

ASUHAN KEBIDANAN PADA AN. A

DENGAN DIARE DEHIDRASI RINGAN

Tanggal : 17 Februari 2008

Waktu : 19.00 WIB

Tempat : di Rumah Tn. S

I. PENGUMPULAN DATA

B. Data Subyektif

1. Biodata

Nama anak : An. A

Umur : 1 bln

Jenis kelamin : perempuan

Nama Ibu : Ny. H Nama Bapak : Tn. S

Umur : 25 Th Umur : 32 Th

Agama : Islam Agama : Islam

Suku bangsa : Jawa Suku bangsa : Jawa

Pendidikan : SMA Pendidikan : SMP

Penghasilan : – Penghasilan : tidak tetap

Status perkawinan : Syah perkawinan ke : 1

Lama perkawinan : 7 Th

Alamat : Kemanggungan RT.01 RW. 02 Kecamatan Tarub Kabupaten Tegal

2. Keluhan Utama

Ibu mengatakan anaknya BAB 3x sehari dengan konsistensi cair sejak 1 hari yang lalu.

3. Riwayat kesehatan sekarang

- Ibu mengatakan anaknya tidak menderita penyakit kelainan darah seperti hemofilia

- Ibu mengatakan anaknya tidak menderita penyakit kelainan congenital

- Ibu mengatakan anaknya tidak menderita penyakit infeksi kronis seperti TBC

- Ibu mengatakan anaknya tidak menderita penyakit keturunan seperti Diabetes Mellitus

- Ibu mengatakan anaknya tidak menderita retradasi mental.

4. Imunisasi yang didapat

- BCG : 1 kali – Polio : 4 kali

- Hepatitis : 3 kali – Campak : belum

- DPT : 3 kali

5. Pola kebutuhan sehari-hari

Sebelum Sakit

Selama Sakit

§ Pola Nutrisi

Makan : 3x/ hari

Porsi : 1 porsi kecil habis

Jenis : ASI + makanan tambahan

Gangguan : tidak ada

Minum :

Jenis : ASI, air putih

Gangguan : tidak ada

§ Pola Nutrisi

Makan : 3 x/ hari

Porsi : 1 porsi kecil tidak habis

Jenis : ASI, bubur

Gangguan : sulit makan

Minum :

Jenis : ASI, air putih

Gangguan : tidak ada

§ Pola eliminasi

BAB : 1 kali/ hari

Konsitensi : lunak

Warna : kuning kecoklatan

Gangguan : tidak ada

BAK : 5 x/ hari

Warna : kuning jernih

Gangguan : tidak ada

§ Pola eliminasi

BAB : > 3 x/ hari

Konsitensi : cair

Warna : kuning

Gangguan : Diare

BAK : 4 – 5x/ hari

Warna : kuning jernih

Gangguan : tidak ada

§ Pola Istirahat

Tidur siang : + 1 jam

Tidur malam : + 9 jam

Gangguan : tidak ada

§ Pola Istirahat

Tidur siang : : + 1 jam

Tidur malam : 8 jam

Gangguan : anak rewel

6. Faktor sosial budaya

Ibu mengatakan tidak menganut adat istiadat setempat yang mempengaruhi perkembangan anak

7. Kemampuan anak

Motorik Kasar : Berjalan sendiri tanpa jatuh

Motorik Halus : Mencoret-coret dengan alat tulis

Bahasa : Mengungkapkan keinginan secara sederhana

Perilaku Sosial : Menunjuk bagian tubuh dan menyebut namanya

C. Data Obyektif

1. Pemeriksaan fisik

a. Kesadaran : composmentis

b. Keadaan umum : sedang

- Tanda-tanda vital

Suhu : 37 oC

Nadi : 92 x/ menit

Respirasi : 30 x/ menit

c. Pemeriksaan antopometri

BB : 9,5 kg LIKA : 40 cm

PB : 70 cm LILA : 10 cm

d. Kepala-leher

Kepala : mesochepal

Muka : simetris, tidak oedema

Mata : simetris

Mulut : simetris, mulut/bibir kering, tidak ada stomatitis, gigi susu sudah tumbuh 1 buah

Hidung : simetris, tidak ada polip, tidak ada secret dan epitaksis

Telinga : simetris, tidak ada pembesaran kelenjar limfe, tidak ada secret

Kulit : kering, turgor baik

Leher : tidak ada pembesaran pada kelenjar tyroid

Aksila : tidak ada pembesaran pada kelenjar limfe

e. Thorax anterior

Simetris, tidak ada retraksi sternal

f. Abdomen anterior

Tidak ada pembesaran hati dan limpa

g. Genetalia

Sesuai dengan jenis kelamin laki-laki festis sudah turun

h. Anus

Berlubang, kemerahan, BAB > 3x/hari dengan konsistensi cair

i. Ekstermitas atas dan bawah

Simetris, tidak ada oedema, dapat digerakkan bebas

2. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan laboratorium : tidak dilakukan

Rontgen : tidak dilakukan

USG : tidak dilakukan

II. INTERPRETASI DATA

a. Diagnosa Nomenklatur

An. A umur 1 tahun jenis kelamin laki-laki dengan DIARE

Data dasar:

Data S:

· Ibu mengatakan anaknya bernama “A” umur 1 tahun, jenis kelamin laki-laki.

· Ibu mengatakan anaknya batuk, pilek, sulit makan dan disertai demam (kadang-kadang)

Data O

· Keadaan umum : sedang

· Kesadaran : composmentis

· Tanda-tanda vital :

Suhu : 37 0C

Nadi : 92 x/ menit

Respirasi : 30 x / menit

· Bibir : kering

· Anus : kemerahan, BAB > 3x/hari dengan konsistensi cair

b. Diagnosa Masalah

Gangguan eliminasi dengan adanya keluhan BAB > 3x/hari dengan konsistensi cair.

c. Diagnosa Kebutuhan

Penyuluhan tentang diare dan support mental pada keluarga.

III. DIAGNOSA POTENSIAL

Potensial terjadi diare dengan dehidrasi berat.

IV. ANTISIPASI PENANGANAN SEGERA

Amati tanda bahaya terjadinya dehidrasi berat.

1. Mata cekung

2. Demam

3. Anak tidak mampu minum, turgor kulit kurang

4. Sakit anak menjadi parah

V. INTERVENSI

1. Beritahu ibu dan keluarga tentang keadaan anaknya sekarang

2. Beritahu ibu dan keluarga agar tidak memberikan obat-obatan dari warung

3. Beritahu ibu dan keluarga untuk memberikan obat dari Nakes pada anaknya apabila demam/kompres air hangat

4. Beritahu ibu dan keluarga agar tidak memberikan makanan pendamping ASI sampai bayinya berumur 6 bulan

5. Beritahu ibu dan keluarga tanda diare dan dehidrasi berat

6. Anjurkan ibu dan keluarga memeriksakan anaknya ke puskesmas

VI. IMPLEMENTASI

1. Memberitahu ibu dan keluarga bahwa anaknya menderita diare jadi ibu tidak perlu khawatir tapi harus segera diberikan penanganan

2. Memberitahu ibu dan keluarga agar tidak memberikan obat-obatan dari warung karena diare akan sembuh

3. Memberitahu ibu dan keluarga untuk memberikan obat dari Nakes apabila anaknya demam/mengompres dengan air hangat

4. Memberitahu ibu dan keluarga agar tidak memberikan makanan pendamping ASI seperti pisang sampai anaknya berumur 6 bulan, cukup diberikan ASI saja secara on demand

5. Memberitahu ibu dan keluarga agar anaknya banyak minum air putih agar tidak dehidrasi.

6. Memberitahu ibu dan keluarga bahaya diare.

- penderita akan kehilangan cairan tubuh

- penderita tersebut menjadi lesu dan lemas

- penderita dapat meninggal bila kehilangan cairan tubuh lebih banyak lagi

7. Menganjurkan ibu dan keluarga untuk memeriksakan anaknya ke puskesmas untuk mendapatkan penanganan segera.

VII. EVALUASI

1. Ibu dan keluarga mengerti penjelasan yang sudah disampaikan.

2. Ibu dan keluarga mengatakan tidak memberikan obat warung.

3. Ibu dan keluarga mengatakan mau memberikan obat pada anaknya, obat yang diberikan oleh Nakes saja.

4. Ibu dan keluarga bersedia untuk tidak memberikan makanan pendamping ASI sampai bayinya berumur 6 bulan.

5. Ibu dan keluarga tahu bahaya diare.

6. Ibu dan keluarga mau membawa anaknya ke puskesmas untuk memeriksakan kondisi anaknya.

BAB IV

PEMBAHASAN

Setelah dilakukan studi kasus asuhan kebudanan komunitas keluarga Tn. S pada An. A dengan keluhan utama BAB cair lebih dari 3x sehari di RT. 01 RW. 02 Desa Kemanggungan Kecamatan Tarub Kabupaten Tegal antara teori yang telah didapat dengan praktik ada kesenjangan.

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Setelah penulis melakukan studi kasus asuhan kebidanan komunitas dan mengadakan pembinaan kesehatan pada keluarga Tn. S dapat ditarik kesimpulan bahwa status kesehatan keluarga Tn. S kurang baik dan kesehatan atau kebersihan lingkungannya belum tercapai.

B. Saran

  1. Diharapkan ada peningkatan kemampuan keluarga dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap anggota keluarga yang sakit dan dalam mengatasi masalah kesehatan anggota keluarganya.
  2. Dapat meningkatkan kemampuan keluarga dalam menanggulangi masalah kesehatan dasar dalam keluarga.
  3. Diadakan kebersihan lingkungan 1 minggu sekali untuk meningkatkan kesehatan lingkungan

DAFTAR PUSTAKA

Effendy Nasrul. 1998. Dasar-dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta : EGC.

Depkes RI. 2000. Standar Pelayanan Kebidanan. Jakarta.

Soekidjo, Notoatmodjo. 1997. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta.

dokumentasi asuhan kebidanan

Teknik dan Model Pendokumentasian

Data subyektif : data yang diperoleh dari keterangan keluarga dan pasien

Data obyektif : data yang diperoleh dari hasil pelaksanaan

TEKNIK DOKUMENTASI

Narative

Þ Pendekatan tradisional

Þ Cara penulisan ini mengikuti dengan ketat urutan kejadian/kronologi

Yang perlu diperhatikan

1. Pakai terminologi yang sudah lazim dipakai

(ex. Pengkajian, perencanaan, diganosa, evaluasi dll)

2. Dalam pencatatan perhatian langkah-langkah kumpulan data subjektif –objektif. Kaji kebutuhan pasien dan tentukan diagnosa dan prognosa kemudian buat rencana asuhan/tindakan dengan memberi batasan waktu untuk mencapai hasil yang diprediksi.

3. Tulis prediksi/sempurnakan dan rencana asuhan sebagai bagian dari catatan anda.

4. Buat penilaian anda secara periodik dan monitor kondisi fisik dan psikologis pasien.

5. Catat semua pernyataan/evaluasi.

Flow Sheet ¦ berupa tabel

Flow sheet dapat digunakan untuk mendokumentasikan

1. Activity of Daily Living (ADL) ¦ kebiasaan sehari-hari

2. Vital sign

3. Keseimbangan cairan

4. Observasi

5. Pemberian obat-obatan

Keuntungan :

1. Meningkatkan kualitas yang

2. Mudah dibaca

3. Pendokumentasian kebidanan > tepat

4. Perbandingan data dari beberapa kkt dapat ditingkatkan

5. Membatasi tulisan secara narasi yang lama

Kerugian :

1. Kemungkinan terjadi duplikasi dari dokumentasi

2. Medical record menjadi lebih luas

3. Design formal ¦ mungkin ada form yang tidak diinginkan

Prognosa : perkiraan

Design follow sheet/check list

- Tidak ada standar peraturan dalam pembuatan formal

- Design yang baik harus ada instruksi/kunci

Element pada flow sheet/check list

1. Kolom dengan ruang untuk menempatkan tanda dan inisial orang yang melaksanakan.

2. Ada ruang untuk nama pasien, hari, bulan, tahun, tanda tangan.

3. Ada judul

4. Penggunaannya biasa pada pengkajian

Petunjuk penggunaan flow sheet

1. Lengkap format gunakan check (Ö) atau cross (x)/lingkaran.

2. Pertahankan agar letak flow sheet pada kondisi yang tepat.

3. Bubuhkan tanda tangan.

4. Tulis tanggal, waktu pemasukan data

MODEL DOKUMENTASI

1. Model Narative

- Catatan dalam bentuk cerita untuk menggambarkan keadaan pasien

Keuntungan :

- Sudah dikenal oleh semua bidan/nakes.

- Mudah dikombinasikan dengan cara dokumentasi lainnya.

- Bila ditulis dengan tepat dapat mencakup seluruh keadaan pasien

- Mudah ditulis.

2. Model Orientasi Masalah

- POR (Problem Orientasi Record)

- Diperkenalkan oleh dr. Lowrence (1969)

Berisi dokumen masalah pasien dan intervensi pemecahannya

- Digunakan oleh para dokter dikembangkan di dunia keperawatan/kebidanan dalam bentuk POR yang merupakan dokumentasi multidisuplimer

Setelah 20 tahun sistem ini dikembangkan langsung menjadi sistem SOAP Nakes

S Subjektif : data dari pasien (riwayat, biodata)

O Objektif : hasil pemeriksaan fisik

A Analisis/Assesment/Diagnosa

P Planning : pelaksanaan intervensi craluasi implemen

Adapun yang menggunakan sistem SOAP PIE

S : Subjetif

O : Objektif R : Reassasment/Reevaluasi

A : Analisa D : Dokumentasi ¦ kesimpulan

P : Perencanaan

I : Implementasi

E : Evaluasi

Keuntungan :

- Terstruktur karena informasi konsisten

- Mencakup semua proses perawatan

- Merupakan catatan terintegrasi dengan medik

- Mudah dipakai untuk mengendalikan mutu

Kekurangan :

- Menekankan pada masalah dan ketidakstabian dapat menghasilkan suatu pendekatan secara negatif terhadap pengobatan/tindakan.

- Sistem ini setelah digunakan apabila dapftar tidak dimulai/tidak berkesinambungan/diperbarui terus menerus belum disetujui/tidak ada batas waktu untuk evaluasi dan strategi untuk follow up belum disepakati.

- Perawatan mungkin tidak tercatat bila tidak ada flow sheet.

- Bentuk SOAPIER mungkin mengulang pencatatan yang lain apabila perkembangan itu lambat dan sering ada evaluasi

Komponen Metode POR :

1. Data dasar

- Identitas

- Keluhan utama

- Riwayat penyakit

- Riwayat kesehatan

- Pemeriksaan fisik

- Pemeriksaan lab

2. Daftar masalah

Dapat berupa sebuah tanda gehala hasil lab yang abnormal masalah psikologis dll.

3. Rencana

Disesuaikan dengan prioritas masalah

4. Ditatar perkembangan pasien

- Secara berkesinambungan

- Berupa uraian

5. Catatan setelah pulang (Discharge Note)

- Pengobatan yang diberikan

- Kebiasaan perawatan

- Tindakan keperawatan

- Kebiasaan perawatan diri

- Jarang/fasilitas pendukung

- Pola hidup dan dukungan religius

Kelemahan Model naratif :

- Tidak berstruktur, data simpang siur

- Memerlukan banyak waktu

- Terbatas pada kemampuan perawat mengungkapkannya

- Informasi sulit untuk pengendalian mutu

Seorang ibu PP 3 hari yang lalu mengeluh sakit dan berat pada payudara, badan menggigil, bayi belum menyusu. Hasil pemeriksaan TD 110/70 mmHg, S : 38 oC, N : 86 x/mnt, k : 24 x/mnt

· Langkah I

Ibu PP 3 hari

Dt S : mengeluh sakit dan berat pada payudara, badan menggigil, bayi belum menyusu.

Dt O : TD 110/70 mmHg, S : 38 oC, N : 86 x/mnt, R : 23 x/mnt

Px khusus : palpasi payudara

· Langkah II

Ibu PP 3 hari, mastitis, abses -

· Langkah III

Abses payudara, antisipasi : breastcare, kompres hangat, pemberian parasetamol 500 mg, penggunaan BH yang menyangga payudara.

· Langkah IV

Kolaborasi dengan dokter

· Langkah V

  1. Menjelaskan keadaan kesehatan dan akibat mastitis
  2. Menjelaskan cara dan keuntungan breast care
  3. Menjelaskan terapi pada mastitis
  4. Menjelaskan pencegahan masitis
  5. Menjelaskan cara menyusui bayi dengan benar
  6. Membuat perjanjian untuk kunjungan ulang berikut

· Langkah VI

  1. Memantau tanda abses payudara setelah kunjungan.
  2. Kolaborasi dengan dr. obgyn
  3. Berikan kloksasilin 500 mg setiap 6 jam selama 10 hari
  4. Menjelaskan tindakan yang harus dilakukan
  5. Menjelaskan cara dan keuntungan breat care
  6. Menjelaskan cara mencegah mastitis
  7. Menjelaskan cara menyusui bayi dengan benar
  8. Mendorong ibu untuk terus menyusui bayinya
  9. Merencanakan kunjungan ulang

· Langkah VII

  1. Ibu mendapat pengobatan dari dokter
  2. Ibu dan keluarganya memahami kondisinya
  3. Ibu dan keluarganya memahami tanda/bahaya abses payudara
  4. Ibu dan keluarganya mengetahui cara menyusui bayi dengan benar
  5. Ibu dan keluarganya mengetahui perlunya breast care

* Bu Heni

PRINSIP PENDOKUMENTASIAN KEBIDANAN

A. Proses Penatalaksanaan Kebidanan

Penatalaksanaan kebidanan yaitu proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode, untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan ketrampilan, dalam rangkaian/tahapan yang logis untuk pengambilan keputusan yang berfokus pada klien (Varney, 1997).

Penatalaksanaan kebidanan terdiri beberapa langkah yang berurutan yang dimulai dengan pengumpulan data dasar dan berakhir dengan evaluasi, langkah tersebut membutuhkan kerangka yang lengkap bisa diaplikasikan dalam situasi.

Alur pikir bidan Š Pencatatan Askeb

Œ Œ

Proses manajemen kebidanan Pendokumentasian Askeb

Œ Œ

7 langkah data SOAP NATES

Subjektif

Objektif

Proses tersebut terdiri 7 langkah :

  1. Mengumpulkan semua data yang diperlukan untuk menilai keadaan klien secara keseluruhan.
  2. Menginterpretasikan data untuk identifikasi diagnosa/masalah.
  3. Mengidentifikasikan dx/masalah potensial dan mengantisipasi penanganannya.
  4. Menetapkan kebutuhan klien/terhadap tindakan segera, konsultasi, kolaborasi dengan nakes lain dirujukan.
  5. Menyusun rencana asuhan secara menyeluruh dengan tepat dan rasional. Berdasarkan keputusan yang dibuat pada langkah-langkah sebelumnya.
  6. Mengevaluasi asuhan yang diberikan dengan mengulang kembali pelaksanaan proses untuk aspek-aspek asuhan yang efektif.

Meskipun proses tersebut 7 langkah, namun bersambungan dan berulang ¦ hubungan yang dinamis.

B. Medode Pendok, SOAP

Merupakan intisari dari proses penatalaksanaan kebidanan digunakan dalam dokumen pasien dalam rekam medis sebagai catatan kemajuan.

S : Subjektif, apa yang dikatakan klien

O : Objektif, apa yang dilihat dan dirasakan oleh bidan dalam pelaksanaan

A : Analisa kesimpulan apa yang disebut dari data S dan O

P : Planning apa yang dilakukan berdasarkan hasil evaluasi

WHY disebut sistem pendokumentasian :

  1. Pendokumentasian SOAP merupakan kemajuan informasi yang mengorganisir penemuan dan kesimpulan menjadi suatu rencana asuhan.
  2. Merupakan intisari dari proses penatalaksanaan kebid dengan tujuan menyediaan dan dokumen asuhan.
  3. Merupakan urut-urutan yang dapat membantu mengorganisir pikiran dan memberikan asuhan yang menyeluruh.

SOAP

Adalah catatan sederhana, jelas, logis dan tertulis, antepartum, 1 x SOAP dalam 1 kunjungan intra partum 7 SOAP.

Untuk menggambarkan keterkaitan antar manajemen kebidanan sebagai pola pikir dan pendok sebagai catatan

Alur pikir bidan Š Pencatatan Askeb

Œ Œ

Proses manajemen kebidanan Pendokumentasian Askeb

Œ Œ

7 langkah data SOAP NATES

Subjektif

Objektif

Masalah Dx

Antisipasi masalah pot Assesment

Kebutuhan segera

Implementasi Plan

Evaluasi

Proses penatalaksanaan kebidanan Varney 7 langkah :

Þ Sebagai kerangka pikir bidan dalam proses pemecahan masalah berdasarkan teori ilmiah tahapan yang logis untuk pengambilan keputusan

Mengumpulkan data

Evaluasi Asuhan Interpretasi data

Dx/masalah

Pelaksanaan Asuhan Ident Dx/masalah potensial

Menyusun rencana Menetapkan keb, konsul, kolaborasi asuhan dengan nakes lain

METODE DOKUMENTASI SOAP

S : Apa yang dikatakan klien

O : Apa yang dilihat dan dirasakan oleh bidan saat px

A : Assement/analisa : kesimpulan apa yang dibuat dari data S dan O

P : Plan apa yang dilakukan berdasarkan hasil evaluasi tersebut

Konsul, tes dx rujukan, konseling follow up

Contoh Kasus I :

Ibu A usia 22 tahun hamil 1 datang ke klinik karena hamil merasakan terlambat haid ± 3 bulan, ia mengatakan sangat letih, mual dan muntah sesekali, sering BAK mengaku sudah imunisasi TT

S : tidak haid ± 8 bulan terakhir, mengeluh sakit kepala, muntah sesekali, sering kencing, sudah imunisasi TT.

O : belum ada px lab, px fisik normal, tidak ada tanda-tanda dehidrasi perkiraan haid terakhir 3 bulan.

A : umur 22 tahun G1 dengan anggapan sudah hamil selama 12 minggu, rasa mual, muntah telah diimunisasi TT

P : - Asuhan rutin yi untuk kunjungan antenatal I px lab, zat besi, konseling

- Kaji ulang tanda-tanda bahaya

- Kontrol 8 minggu lagi

Contoh kasus II

Ibu x datang ke klinik untuk kunjungan antenatal I. Bagaimana penatalaksanaan kebidanan ?

· Langkah I

Umur 20 tahun G1 hamil 30 mh HPHT 22-3-2004

HPL : 29-12-2004

Data S : mengeluh keluar cairan <<<>

O : Px fisik, TD : 140/90 kaki oedem prot (+)

Px khusus : Leopold

· Langkah II

G1 Po Ao kehamilan 30 minggu janin hidup dengan PER

· Langkah III

PEB, antisipasi : pemantauan TD, oedem, gejala pusing berat dan menetap nyeri epigastrium

· Langkah IV

Kolaborasi dengan dokter

· Langkah V

1. Menjelaskan tentang keadaan kesehatan dan akibat PER

2. Menjelaskan cara mengontrol gerakan janin

3. Menjelaskan kebutuhan nutrisi (TKTP)

4. Menjelaskan tanda-tanda bahaya yang akan timbul

5. Menjelaskan tanda-tanda persalinan dan persiapan

6. Menjelaskan PH

7. Membuat perjanjian untuk kunjungan ulang berikut

· Langkah VI

1. Memantau tanda PEB pada setiap kunjungan

2. Kolaborasi dengan dr. obgyn

3. Menjelaskan tentang keadaan kesehatan

4. Menjelaskan bahaya PEB terhadap ibu dan janin

5. Menerangkan cara menghitung gerakan-gerakan janin

6. Menjelaskan kebutuhan nutrisi

7. Menjelaskan tanda-tanda bahaya dan menjelaskan

8. Merencanakan kunjungan ulang

9. Menjelaskan tanda persalinan dan persiapan

· Langkah VII

1. Ibu mendapat pengobatan dari dokter

2. Ibu dan keluarga memahami kondisinya

3. Ibu dan keluarga memahami bahaya PEB

Kasus IV

So ibu 45 tahun hamil 9 bulan, anak ke-8 merasakan mules sejak ± 2 jam yang lalu. Ibu menyatakan lemes, hasil px fiisk : TD 90/60 mmHg, N : 82 x/menit, R : 18 x/menit, DJJ + 136 x/mnt, his lemah 2 x/10’, TFU : 30 cm, preskep, kcp msk PAP H II Æ 2 cm.

· Langkah I

Ibu umur 45 taun G8 P7 Ao hamil 36 minggu HPHT 6-12-2003

HPL 23-9-2004

Data S : merasa mules sak ± 2 jam, lemes

O : Px fisik : TD fisik : TD 90/60, N : 82 x/mnt, R 18 x/mnt, DJJ + 136 x/mnt, his lemah 2x/10’, TFU 30 cm, preskep, kpl msk PAP H II Æ 2 cm.

Px khusus : Leopold

· Langkah II

G8 P7 Ao hamil 36 minggu janin 1 hidup intra uterin dengan inersia uteri

· Langkah III

Perdarahan, antisipasi : pemantauan TD, kontraksi uterus

· Langkah IV

Kolaborasi dengan dokter

· Langkah V

1. Menjelaskan tentang keadaan kesehatan ibu dan janin

2. Menjelaskan tentang tanda-tanda bahaya yang akan timbul

3. Menjelaskan akibat inersia uteri

4. Menjelaskan persiapan persalinan yang harus dilakukan

5. Menjelaskan perlunya ibu melahirka di RS

· Langkah VI

1. Memantau TD dan kontraksi uterus

2. Menjelaskan keadaan kesehatan

3. Menjelaskan bahaya perdarahan terhadap ibu dan janin

4. Menjelaskan tanda-tanda bahaya yang akan timbul

5. Baringkan ibu miring ke kiri, jika mungkin naikkan kedua kaki ibu

6. Pasang infus

7. Rujuk ibu ke RS dan dampingi ibu ke tempat rujukan

8. Kolaborasi dengan dr. Obgyn

· Langkah VII

1. Ibu mendapat pengobatan dari dokter

2. Ibu + keluarga memahami kondisinya

3. Ibu + keluarga memahami bahaya dan tanda perdarahan

4. Ibu dan bayi yang dilahirkan selamat

PENDEKATAN TRADISIONAL/SOR (Source Oriented Record)

Adalalah suatu cara mendokumentasikan dalam bentuk narasi mengenai keadaan pasien secara singkat dan jelas

Keuntungan :

- Lebih mudah dilakukan

- Waktu yang digunakan lebih singkat

Kekurangan :

- Sulit menemukan spesifikasi masalah

- Tidak tampak respon pasien/klien

- Kadang-kadang tidak relevan/tepat

- Kadang-kadangpun tidak si dengan kerangka

Komponen-komponen dalam SOR :

1. Adminission sheet/kartu masuk

- nama no cm, jenis kelamin

- umur, status, pekerjaan

2. Lembar instruksi dokter

- Catat tentang perintah-perintah dokter, tanggal, waktu, terapi-terapi khusus dan tanda tangan

3. Kartu grafik/pencatatan

- Pengamatan yang berulang dan pengukuran

4. Lembar riwayat medik

- Semua pengamatan, observasi tentang kondisi pasien yang dibuat oleh dokter

5. Catatan perawatan

- Narasi tentang perawatan

6. Catatan pengobatan

- Semua pengobatan, tanggal, jam dan tanda tangan

7. Lembar khusus/lap lainnya

- Catatan dari semua disiplin kesehatan, radiologi, konsultasi, lab, inform consent

Charting By Exception (CBE)

Dimulai sejak tahun 1983 di St. Luke Medikal Center in Milkwankee

Format CBE

1. Data dasar (riwayat dan px fisik)

2. Intervensi flow sheet

3. Grafik record

4. Catatan bimbingan pasien

5. Catatan pasien plg

6. Format catatan perawatan (menggunakan format SOAPIER)

7. Daftar diagnosa

8. Diagnosa dengan standar rencana tindakan perawatan dasar

9. Profil perawatan dasar dengan sistem kardeks

KARDEKS

Merupakan pendokumentasian tradisional dipergunakan diberbagai sumber mengenai informasi pasien yang disusun dalam suatu buku.

Informasi yang terdapat dalam kordeks :

1. Data pasien

2. Diagnosa kebidanan

3. Pengobatan sekarang/yang sedang dilakukan

Kelemahan :

1. Diisi tidak lengkap

2. Tidak cukup tempat/ruang dalam memasukan data yang diperlukan

3. Tidak up to date

KOMPUTERISASI

Keuntungan :

- Lebih mudah dibaca

- Kemungkinan salah/kelupaan lebih sedikit dengan kata lain ketepatan pencatatan lebih tinggi karena secara otomatis komputer memanggil semua data yang ada bila ada hal yang tidak sji dengan yang terprogram

- Hemat waktu dan biaya (bila sistem itu sudah berjalan)

- Pelayanan pasien bisa lebih cepat karena banyak pesanan dapat disampaikan lewat komputer dan komunikasi antar unit bisa dipantau lewat sarana komputer

- Meningkatkan komunikasi antar tim petugas kesehatan

- Lebih memudahkan untuk kepentingan pendidikan, penelitian dan peningkatan mutu

Kekurangan :

- Kurang terjaminnya kerahasian pasien

- Tidak semua institusi dan petugas siap untuk komputerisasi dan perlu latihan khusus untuk sistem komputerisasi

- Modal awal sangat tinggi dan menuntut keahlian khusus untuk menciptakan programnya dan perangkat komputer yang dibutuhkan

- Ketergantungan kepada alat/teknolohi tinggi

- Ada perbandingan khusus untuk keperluan alat/unit komputer dan jumlah pasien (10-15 bed/terminal komputer)

Metode Pendokumentasian

- SOAPIER

- SOAPIE

- SOAPIED

- SOAP NOTES

Metode Pendokumentasian SOAPIE

Konsep SOAPIER

S : Data subjektif

- Catatan ini berhubungan masalah dengan sudut pandang pasien

- Ekspresi pasien mengenai kekhawatiran dan keluhannya dicatat sehingga kutipan langsung/ringkasan yang berhubungan dengan dx (data primer)

- Pada bayi/anak kecil data subjektif ini dapat diperoleh dari orang tuanya (data sekunder)

- Data subjektif menguatkan dx yang akan dibuat

O : Data objektif

- Data ini memberi bukti gejala klinis pasien dan fakta yang berhubungan dengan dx

- Data yang digolongkan dalam kategori ini, antara lain

- Data psikologik

- Hasil observasi yang jujur

- Informasi kajian teknologi (hasil px lab, Ro, CTG, USG dll)

- Ada pendapat yang memasukan laporan dari keluarga juga masuk kategori ini

- Apa yang dapat diobservasi oleh bidan/perawat akan menjadi komponen penting dari dx yang akan ditegakan

A : Analisa/Assesment

- Masalah/dx yang ditegakan berdasarkan data/informasi subjektif maupun data/informasi subjektif maupun objektif yang dikumpulkan dan disimpulkan

- Karena keadaan pasien terus berubah dan selalu ada informasi baru baik subjektif maupun objektif dan sering diungkapkan secara terpisah-pisah, maka proses analisa adalah segala proses yang dinamik

- Sering menganalisa Š penting !

Mengikuti perkembangan pasien dan menjamin segala perubahan baru dapat diketahui dan dapat diikuti sehingga dapat diambil tindakan yang tepat.

P : Planning : perencanaan

- Membuat perencanaan tindakan saat itu/yang akan datang untuk mengusahakan mencapai kondisi pasien sebaik mungkin/menjaga/mempertahankan kesejahteraannya

- Proses ini termasuk kriteria tujuan terdiri dari kebutuhan pasien yang harus dicapai dalam batas waktu tertentu

- Tindakn yang diambil harus membantu pasien mencapai kemajuan dalam kesehatannya x/ proses pslnnya dan harus mendukung rencana dokter bila itu dalam manajemen kolaborasi/rujukan

I : Implementasi

- Pelaksanaan rencana tindakan untuk mengatasi masalah keluhan/mencapai tujuan pasien

- Tindkaan ini harus disetujui oleh pasien kecuali bila tidak dilaksanakan akan membahayakan keselamatan pasien

Œ

Pilihan pasien harus sebanyak mungkin menjadi bagian dari proses ini

- Apabila kondisi pasien berubah, implementasi mungkin juga harus berubah/disesuaikan

E = Evaluasi

- Tafsiran dari hasil tindakan yang telah diambil adalah penting untuk menilai keefektifan asuhan yang diberikan

- Analisa dari hasil yang dicapai menjadi fokus dari penilaian ketepatan tindakan

- Kalau kriteria tujuan tidak tercapai, proses evaluasi dapat menjadi dasar untuk mengembangkan tindakan alternatif sehingga dapat mencapai tujuan

R = Revisi = Re-essesment = perbaikan

- Komponen evaluasi dapat menjadi petunjuk perlunya perbaikan dari perubahan intervensi dan tindakan/menunjukan perubahan dari rencana awal/perlu /kolaborasi baru/rujukan

III Mengidentifikais Dx/masala potensial dan mengantisipasi penanganan

Þ Mengidentifikasi masalah potensial berdasarka dx/masalah yang sudah diidentifikasi

Þ Langkah ini membutuhkan antisipasi jika memungkinkan dilakukan pencegahan

Þ Bidan harus waspada dan bersiap-siap mencegah Dx/masalah potensial agar tidak benar-benar terjadi.

Pada langja 3 ini bidan dituntut untuk mampu mengantisipasi masalah potensial tidak hanya merumuskam masalah/dx potensial tetapi juga harus bisa merumuskan tindakan antisipasi agar masalah/dx potensial tidak terjadi

Merupakan langkah yang bersifat antisipasi yang rasional/logis

IV Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera

Þ Untuk melakukan konsultasi, kolaborasi dengan nakes lain berdasarkan kondisi klien

Beberapa data mungkin mengidentifikasi yang gawat Š tindakan segera

Contoh : perdarahan kala III, distorsi bahu, asfiksia berat dsb

Contoh keadaan yang membutuhkan konsultasi/kolaborasi dengan dokter

- Tanda-tanda awal

- Kelainan panggul

- Penyakit atg dl kehamilan

- Diabetes kehamilan

V Menyusun Rencana Asuhan

Þ Direncanakan asuhan yang menyeluruh ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya

Þ Merupakan kelanjutan penatalaksanaan terhadap masalah/dx yang telah diidentifikasi/diantisipasi

Þ Informasi daya yang tidak lengkap dapat dilengkapi

Setiap rencana asuhan harus disetujui oleh kedua belah pihak yaitu bidan dan klien

Tugas bidan adalah merumuskan rencana asuhan s/i dengan hasil pembahasan rencana asuhan dengan klien kemudian membuat kesepakatan bersama sebelum melaksanakannya

VI Pelaksanaan asuhan

Þ Rencana asuhan menyeluruh (langkah kelima) dilaksanakan secara efisien dan aman

Þ Bisa dlakukan seluruhnya oleh bidan/sebagian lagi oleh klien/anggota tim kesehatan lain

Þ Dalam situasi dimana bidan berkolaborasi dengan dokter maka keterlibatan bidan dalam penatalaksanaan asuhan bagi klien adalah tetap bertanggung jawab terhadap terlaksananya rencana asuhan bersama yang menyeluruh tersebut

Penatalaksanaan yang efisien menyakut waktu dan biaya serta meningkatkann dan asuhan klien

VII Evaluasi

Þ Dilaksanakan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi s/i dengan kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi didalam dx dan masalah

Þ Rencana tesebut dianggap efektif jika memang benar efektif dalam pelaksanaanya

Þ Rencana yang belum efektif Š mengulang kembali di awal

Proses penatalaksanaan kebidanan merupakan langkah sistematik yang merupakan pola pikir bidan

Format Pendokumentasian

1. Ibu Hamil

Subjektif :

- Biodata (nama, umur, dsb) Š nama, umur dan pendidikan

- Paritas Š G P A

- HPHT

- Riwayat obstetri Š riwayat persalinan, haid, riwayat kesehatan

- Riwayat kesehatan keluarga

- Data psikologis

- Riwayat kehamilan sekarang Š ANC berapa kali, obat-obatan apa yang didapat

- Kebiasan sehari-hari objektif

- Px fisik Š kepala-kaki

- Px pelvic/obstetri Š px panggul, px dalam, palpasi leopold

- Px lab Š Hb, protein uri, gula darah

- Px penunjang lain Š rontgen, USG

Penatalaksanaan

Kunjungan I (sebelum 14 minggu/trimester I)

- Membangun hubungan selagi percaya antara petugas kesehatan dan bumil

- Melakukan tindakan pencegahan seperti TT, pemberian fe, mencegah praktek tradisional yang –

- Memulai persiapan kelahiran bayi dan kesiapan untuk menghadapi komplikasi

- Mendorong perilaku kesehatan (gizi, latihan/senam hamil > 24 minggu dan kebersihan, istirahat dsb)

Kunjungan II (trimester II/sebelum minggu ke-28)

- Sama seperti kunjungan I + dengan kewaspadaan khusus mengenai PE (tanya ibu tentang gejala-gejala PE) Š pusing, pandangan kabur

Kunjungan III (trimester III/minggu ke-28-36)

- Sama seperti kunjungan I dan II di+ dengan palpasi abdominal untuk mengetahui apakah ada kehamilan ganda

Kunjungan IV (trimester III/> 36 minggu)

- Sama seperti kunjungan I, II, III ditambah dengan deteksi bayi yang tidak normal/kondisi lain yang memerlukan kelahiran di RS

Sebelum 36 minggu bayi masih mobile :

- Pada tiap kunjungan lakukan konseling khusus untuk kebutuhan ibu s/i dengan masalahnya

- Kehamilan dengan masalah/komplikasi Š rujuk

Menolong ibu untuk menentukan pilihan tepat untuk konsultasi (dokter, pusk, DSOG)

Kebiasaan yang tidak perlu dilakukan :

  1. Mengurangi garam untuk mencegah PE

- Hipertensi bukan karena retensi garam

  1. Membatasi hubungan seksual untuk mencegah abortus dan kelahiran prematur

- Dianjurkan untuk memakai kondom agar semen (mengandung prostaglandin) tidak merangsang kontraksi uterus.

  1. Pemberian kalsium untuk mencegah kram pada kaki

- Kram pada kaki buka semata-mata disebabkan oleh kekurangan kalsium

  1. Membatasi makan dan minum untuk mencegah bayi besar

- Bayi besar disebabkan oleh metabolisme pada ibu

2 Ibu Bersalin

Subjekktif

- Umur

- Gravida dan para untuk Š untuk deteksi dini komplikasi, pengawasan

- Kontraksi uterus (frekuensi, durasi, intensitas)

- Lokasi rasa sakit

- Riwayat persalinan yang lalu (lama, penolong, BBLR, jarak persalinan tindakan persalinan)

- HPHT

- Bloody show

- Pengeluaran air Š KPD

Objektif

- Px fisik

· Vital sign

· BB

· Djj

· Kontraks uterus

· Engagement

· TBJ (TFU – 12/11) x 155

· Palpasi (Leopold)

· Edema

· Refleks

- Px Pelvix (obstetri)

· Effacement dan dilatasi cx

· Posisi cx

· Bloody show

· Station Š Hodge

· Kulit ketuban

CDP tidak ada kesesuaian antara kepala bayi dengan panggul (jalan lahir)

Penanganan

Kala I

1. Membantu ibu dalam persalinan jika ia tampak gelisah, ketakutan dan kesakitan

2. Jika ibu merasa kesakitan

- Lakukan perubahan posisi

- Posisi sesuai dengan keinginan ibu

- Sarankan ibu untuk berjalan

- Ajak orang yang menemaninya (ibu/suami) untuk memijat/menggosok punggung/membasuh mukanya diantara kontraksi

- Ibu diperbolehkan melakukan aktivitas sesuai keinginannya

- Anjurkan teknik relaksasi

3. Menjelaskan kemajuan persalinan dan perubahan yang terjadi serta prosedur yang akan dilaksanakan dan hasil px

4. Berikan cukup minum

5. Sarankan ibu untuk berkemih sesering mungkin

Kala II

- Memberi dukungan terus menerus

- Menjaga kebersihan diri

- Menjaga kenyamanan ibu

- Memberi dukungan mental untuk menurunkan kecemasan/ketakutan ibu

- Mengatur posisi ibu

- Menjaga kk tetap kosong

- Memberi cukup minum

- Menolong kelahiran janin

Kala III

Melakukan manajemen aktif kala III

Kala IV

- Observasi perdarahan, TTV, kontraksi uterus + kk

- Membersihkan ibu

- Anjurkan ibu untuk istirahat

- Membiarkan bayi pada ibu untuk disusui

- Mengajarkan ibu + keluarga tentang :

Memeriksakan fundus dan masase

3 Ibu Nifas

Yang harus dikaji :

1. Catat ANC dan INC

2. Waktu persalinan Š sudah berapa hari, janin

3. TTV PP Š demam/tidak

4. Hasil px lab Š trombosit, leukosit

5. Catatan medis pasien Š riwayat persalinan lalu

6. Ambulasi

7. Ketidaknyamanan ibu (nyeri)

8. Keadaan ibu + janin

9. Perasaan ibu tentang persalinan + prosesnya

10. Perasaan ibu tentang bayinya

11. Kemauan menyusui bayinya

12. Px fisik

- TTV

- Tanda-tanda iritasi/infeksi

- Payudara

- Px adomen (kk, uterus involusi)

- Lochea (warna, jumlah, bau)

- Haemorrhold

- Ekstrimitas (varises, edema, hormonis sign, reflek)

Tromboflebilitis Š kemerahan pada betis

Penatalaksanaan

1. Kebersihan diri

2. Istirahat

3. Latihan

4. Gizi

5. Menyusui

6. Perawatan payudara

7. Pola seksual Š bu hamil boleh melakukan seks setelah luka sembuh

8. KB

Bayi Baru Lahir

Yang harus dikaji :

1. Riwayat persalinan

2. Proses menyusui

3. Antropometri

4. Px fisik

5. Imunisasi

6. Pola tidur

7. Refleks

Penatalaksanaan

1. Identitas bayi

2. Jaga bayi agar tetap hangat

3. Kontak dini dengan ibu

4. Riwayat BB rutin BBL

TUMBANG

Yang harus dikaji :

1. Identitas anak

2. Riwayat persalinan Š vacum (kel otak)

3. Px antropometrik

- BB - Lk - L leher

- TB - LD

- LLA - L perut

4. Px fisik

5. Px laboratorium

6. Penilaian terhadap perkembangan anak Š berdasarkan umur

Penatalaksanaan :

1. Dilakukan penanganan sesuai dengan permasalahan anak

2. Konseling dengan keluarga tentang tumbang anak

3. Menlanjutkan kunjungan bila ada kelainan

Kesehatan Reproduksi

Yang harus dikaji :

1. Identitas (umur paritas)

2. Status perkembangan

- Berapa lama menikah

- Berapa kali ganti pasangan

- Umur saat menikah Š kurang 20 tahun (tidak sehat)

3. Riwayat K Š H. estrogen (tumor)

4. Perdarahan

5. Masa (uterus, ovarium, vag)

6. Luka/inveksi (vaginitis, erosi, porsio psb)

7. Fistula

8. Riwayat PMS

Penatalaksanaan

1. Konseling tentang penyakitnya (penyebab, jenis)

2. PAP smear

3. Merujuk ke dr. Obsgyn

4. Memberi dukungan kepada klien

Keluarga Berencana

Yang dikaji :

1. Identitas

- Agama

- Umur

- Ras

2. Status ekonomi

3. Status pernikahan

4. Pola seksual

5. Riwayat kesehatan Š tidak boleh hamil Š penyaki jantung stadium IV

6. Px fisik

7. Px obstetri

Penatalaksanaan

1. Memberikan alternatif metode yang dibutuhkan

2. Menjelaskan efek samping dan k I masing-masing metode

3. Melibatkan suami dalam penentuan metode yang digunakan

Latihan !

1. Ibu Sofi melakukan kunjungan antenatal ketiga pada usia 31 tahun G3 P2 Ao terakhir datang 11 minggu yang lalu. Ketika ia sudah hamil (21 minggu) bayinya yang kedua lahir dengan prematur persis 1 tahun yang lalu, tetapi keadaannya baik-baik saja.

Ia mengeluh pergelangan kakinya yang bengkak dan merasa terganggu dengan rasa sakit dibagian belakang dan panas dalam TD 110/60 mmHg, Djj 140 x/menit, TFU : 31,5 cm, edema kaki positif dua-duanya. Px lab Hb : 11,5 gr %

Jawab

S : Ny. Sofi 31 tahun kunjungan ANC II

- ANC 11 minggu yang lalu

- Bayi yang kedua lahir prematur 1 tahun lalu, keadaannya baik-baik saja

- Ia mengeluh pergelangan kakinya bengkak, rasa sakit dibagian belakang dan panas dalam

O : G3 P2 Ao hamil 32 minggu

Djj 140 x

TD 110/60 mmHg

TFU 31,5 cm

Edema kaki + dua-duanya

Px lab Hb 11,5 gr %

A : Ny. Sofi umur 31 tahun G3 P2 Ao hamil 32 minggu janin 1 hidup intra uterin dengan rasa ketidaknyamanan biasa pada kehamilan

P : Menjelaskan pada ibu bahwa ibu menderita ketidaknyamanan biasa pada kehamilan konselin gizi, higiene tubuh dan vulva

- Asuhan rutin pemberian Fe 30-50 mg/hari, vitamin C dan asam folat 50 mg/hari

- Anjurkan ibu berbaring meninggikan kaki untuk menghilangkan bengkak pada pergelangan kaki

- Anjurkan ibu berbaring miring ke kiri untuk mengurangi rasa sakit dibagian belakang

Ny. Anna usia 26 tahun melakukan kunjungan ANC kedua hamil kedua melahirkan 1 kali 2 kali tidak pernah abortus. Dia sudah pernah melakukan kunjungan ANC I 3 bulan yang lalu usia kehamilan pada saat itu 12 minggu ia mengatakan bahwa ia baik-baik saja pembesaran perut sesuai kehamilan. Ia mengeluh sering merasa letih, pernah operasi usus buntu pada usia 17 tahun ia mengalami konstipasi dan gusi berdarah Djj 140 x/mnt, tekanan darah 160/100, 37 oC, nadi 84 x/mnt, pernafasan 16/mnt, TFU 23 cm, Hb 12 gr %, kaki eodem

Jawab

S : Ny. Anna 26 tahun mengeluh sering letih, pernah operasi usus buntu saat 17 tahun, konstipasi dan gusi berdarah, merasa baik-baik saja, ANC I 3 bulan yang lalu, hamil 2 melahirkan 1 x tidak pernah gbr

O : G2 P1 Ao hamil 24 minggu. Px fisik Djj 140 x/mnt, TD 160/100 mmHg, suhu 37 oC, N : 84 x/mnt, R : 16 x/mnt, TFU 23 cm. Px lab 12 gr %, kaki oedem, perbesarn perut sesuai untuk

A : Umur 26 tahun G2 P1 Ao hamil 24 minggu janin 1 hidup intrauterin dengan PER, konstipasi dan gusi bedarah

P : - Kaji tanda-tanda bahaya kejang, perdarahan

- Diit vitamin

- Pemeriksaan lab : proteiniuri

- Asuhan rutin, pemberian tablet fe 30-50 mg/hari, asam folat 50 mg/hari

- Perencanaan kunjungan ulang

- Konseling gizi, higiene

Konstipasi dan gusi berdarah Š dx nomenklatur Š RS ketidaknyamanan biasa pada kehamilan

Ny. Anna 26 tahun Š dx kebidanan

Janin 1 hidup Š dx masalah

- Menjelaskan pada ibu bahwa ibu menderita PEB

- Kolaborasi

- Diet TKTP

Proses Penatalaksanaan Kebidanan

Proses penatalaksanaan kebidanan ada 7 langkah :

1. Pengumpulan data dasar

Þ Dikumpulkan informasi yang akurat dan lengkap dari sumber yang berkaitan dengan kondisi pasien

Œ

- Anmnesia

- Px fisik sesuai kebutuhan dan px TTV

- Px khusus

- Px penunjang

Langkah I merupakan langkah awal yang menentukan langkah berikutnya

Kelengkapan data Š menentukan proses interpretasi

Œ

Valid, lengkap dan akurar

2. Interpretasi data

Þ Untuk mengidentifikasi dx/masalah

Data dasar yang dikumpulkan Š diinterpretasikan Š menemukan dx dan masalah yang spesifik

Dx Š dapat didefinisikan

Masalah Š tidak dapat didefinisikan, berkaitan dengan hal-hal yang sedang dialami orang yang diidentifikasi bidan sesuai dengan hasil pengkajian

Þ Masalah selagi menyertai dx

Dx kebidanan adalah dx yang ditegakkan bidan dalam lingkup praktik kebidanan memenuhi standar nomenklatur dx kebidanan

  1. Diakui dan telah disahkan oleh profesi
  2. Berhubungan langsung dengan praktik kebidanan
  3. Memiliki ciri khas kebidanaan
  4. Didukung oleh clinical judgement dalam praktik kebidanan
  5. Dapat diselesaikan dengan pendekatan penatalaksanaan kebidanan

Ibu Sofi melakukan kunjungan antenatal ketiga. Usia 31 tahun G3 P2 Ao, terakhir datang 11 minggu yang lalu yaitu ketika ia sudha hamil 5 bulan (21 minggu). Bayinya yang kedua lahir dengan prematur persis 1 tahun yang lalu, tetapi keadaannya baik-baik saja. Ia mengeluh pergelangan kaki yang bengkak dan merasa terganggu dengan rasa sakit dibagian belakang dan panas dalam.

TD : 110/60 mmHg

Djj : 140 x/mnt

TFU : 31,5 cm

Oedema kaki + dua-duanya

Px lab Hb 11,5 gr %

Proteinuri –

Jawab

S : Ny. Sofi 31 tahun kunjungan ANC II

Hamil ketiga, melahirkan dua kali dan tidak pernah abortus

ANC II 11 minggu yang lalu

Bayi yang kedua lahir prematur 1 tahun lalu tetapi keadaanya baik saja

Ia mengeluh pergelangan kaki yang bengkak dan merasa terganggu dengan rasa sakit dibagian belakang dan panas dalam

O : G3 P2 Ao hamil 32 minggu

Djj 140 x/mnt

TD 110/60 mmHg

TFU 31,5 cm

Oedema kaki + dua-duanya

Px lab Hb 11,5 gr %

Proteinuri –

A : Ny. Sofi umur 31 tahun G3 P2 Ao hamil 32 minggu jani 1 hidup intra uterin dengan rasa ketidaknyamanan biasa pada kehamilan

P : - Menjelaskan pada ibu bahwa ibu menderita ketidaknyamanan biasa pada kehamilan

- Konseling gizi, higiene tubuh dan vulva serta diet TKTP

- Asuhan rutin pemberian fe 30-50 mg/hari, vitamin C dan asam folat 50 mg/hari

- Anjurkan ibu berbaring meninggikan kaki untuk menghilangkan bengkak pada pergelangan kaki

- Anjurkan ibu berbaring miring ke kiri dan minta keluarga memijat punggung ibu untuk mengurangi rasa sakit dibagian belakang

- Ajurkan ibu minum air putih 8-10 gelas/hari untuk mengatasi panas dalam

- Perencanaan kunjungan ulang

REKAM MEDIS

I. Pengertian

Þ Berkas yang berisikan catatan dan dokumentasi tentang identitas, anamnesa, px, diagnosis, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang diberikan kepada pasien selama dirawat baik di rawat inap, rawat jalan, UGD dan klinik bersalin

Informasi harus lengkap perihal proses pelayanan medis di klinik bersalin/RS yang terjadi di masa lampau, masa kini dan diperkirakan akan terjadi di masa yang akan datang.

Þ Kelalaian dan kekeliruan dalam pengisian lembar RM Š sanksi hukum

II. Tujuan RM

Þ Untuk menunjang tercapainya tertib administrasi dalam rangka upaya peningkatan pelayanan kesehatan

Tertib administrasi merupakan fx yang menentukan dalam upaya pelayanan kesehatan dalam pendokumentasian kebidanan.

III. Kegunaan RM

Þ Dilihat dari berbagai aspek

1. Aspek administrasi

- Isinya menyangkut nilai tindakan berdasarkan wewenang dan tanggungjawab sebagai tenaga medis dan paramedis dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan.

2. Aspek medis

- Catatan yang ada dipergunakan sebagai dasar untuk merencanakan pengobatan/perawatan yang harus diberikan kepada pasien.

3. Aspek hukum

- Isinya menyangkut masalah adanya jaminan kepastian hukum atas dasar keadaan, dalam rangka usaha menegakan hukum serta tanda bukti untuk menegakan keadilan.

4. Aspek keuangan/ekonomi

- Isinya dapat dijadikan bahan untuk menetapkan biaya

Pembayaran pelayanan di klinik/RS

Œ

Tanpa adanya bukti catatn tindakan/pelayanan, maka pembayaran tidak dapat dipertanggunjawabkan.

5. Aspek penelitian

- Berisi data/informasi yang dapat dipergunakan sebagai aspek penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dibidnag kesehatan.

6. Aspek pendidikan

- Isinya menyangkut data/informasi tentang perkembangan kronologis dari kegiatan pelayanan medis yang diberikan kepada pasien.

Informasi tersebut dapat digunakan sebagai bahan/referensi pengajaran dibidnag profesi sebagai pemakai.

7. Aspek dokumentasi

- Isinya menjadi sumber ingatan yang harus didokumentasikan dan dipakai sebagai bahann pertanggung jawaban laporan kebidanan

Kegunaan RM secara umum

1. Sebagai alat komunikasi antara dokter dan tenaga ahli lainnya yang tidak ikut ambil bagian didalam memberikan pelayanan, pengobatan, perawatan kebidanan.

2. Sebagai dasar untuk merencanakan

Pengobatan/perawatan yang harus diberikan kepada pasien

3. Sebagai bukti tertulis atas segala tindakan pelayanan, perkembangan penyakit dan pengobatan selama pasien berkunjung/dirawat diklinik maupun RS

4. Sebagai bahan yang berguna untuk analisa penelitian dan evaluasi terhadap kualitas pelayanan yang diberikan kepada pasien

5. Melindungi kepentingan hukum bagi pasien, klinik/RS maupu nakes lainnua dan dokter

6. Menyediakan data-data khusus yang sangat berguna untuk keperluan penelitian dan pendidikan

7. Sebagai sumber didalam penghitungan biaya pembayaran pelayanan medis pasien

8. Menjadi sumber ingatan yang harus didokumentasikan, serta sebagai bahan pertanggungjawaban dan laporan

IV. Penyimpanan dokumentasi medis

USA Š 5 tahun Š rata-rata Š berkas/file Š RS, isi dokumen Š pasien

7 tahun Š cacat mental, napza

20 tahun Š kebidanan

UK Š 25 tahun Š kebidanan

Indonesia 5 tahun Š semua kasus, tidak terkecuali

Di bagian kebidanan hal penting yang harus disimpan antara lain :

Catatan tentang asuhan ibu dan bayi selama kehamilan, persalinan dan nifas termasuk semua hasil px, resep obat dan pemberiannya

Dalam lingkup RS catatan pasien dibuka untuk

  1. Meningkatkan mutu pelayanan
  2. Jaminan kesehatan/sosial (asuransi)
  3. Penagihan rekenig Š ex. Pasien melarikan diri
  4. Menjamin mutu pelayanan (quality assurance)
  5. Penelitian

Pada pemakaian RM hal-hal yang perlu diperhatikan :

  1. Pemakaian harus tepat
  2. Waktu harus tepat
  3. Relevansi bagian-bagian tertentu harus relevan
  4. Bersifat segera
  5. Informasi harus tepat

Jangka waktu izin yang diberikan

Sistem Dokumentasi Pelayanan

1. Rawat jalan

Memuat 3 kategori informasi

1) Data dasar :

· Anamnesa

· Keluhan

· Px fisik

2) Diagnosa, tindakan pengobatan, pemantauan yang diberikan

3) Pernyataan dokter

· Advis dokter seperti : istirahat, tidak boleh bekerja berat, banyak minum dll

2. Rawat Inap :

1) Data dasar

2) Diagnosa, tindakan pengobatan dan pemantauan yang dilakukan

3) Pernyataan dokter

· Waktu, tanggal

· Kondisi pasien

· Follow up

· Tanda tangan dokter

3. Kegawatdarutan

Þ Pencatatan harus teliti/akurat, singkat dan merefleksikan seluruh informasi pasien dari menit ke menit

Œ

Digunakan sebagai alat komunikasi yang utama tentang dx, pengobatan dlaam suatu lingkungan yang rumit bagi nakes.

Karena di UGD mempunyai atmosfir yang gerak cepat dan tingginya kegawatdaruratan, maka di UGD mempunyai keterbatasan waktu yang serius untuk pencatatan.

Þ Setiap petuhas kesehatan harus mencatat setiap aktivitas dan observasi seketika itu juga.

Standar UGD : semua aspek dan asuhan di UGD harus tercatat direkma medik pada waktu yang tepat

Pedoman untuk Dokumentasi di UGD

  1. Menetapkan prioritas untuk dokumentasi situasi di UGD (waktu masuk, triage, survei primer dan sekunder, situasi resti, penyuluhan kepada pasien dan catatan pulang)
  2. Mencatat aktivitas triage dan evaluasi awal intervensi terapi, dokumentasi yang terfokus pada pasien, mulai dengan kesinambungan asuhan, mencatat akivitas termasuk evaluasi dan keluhan utama, klasifikasi pasien dan format pengkajian di triage.
  3. Melakukan dan mencatat px primer (kesadaran, TTV)
  4. Melakukan survey sekunder, pengkajian dari kepala ke kaki (head to toe)

Informasi yang dibutuhkan pada situasi risiko tinggi :

Disampng berurusan dengan pasien dan keluarga dalam memberikan asuhan dan pengobatan, petugas kesehatan juga dapat berurusan dengan penegak hukum dan lembaga pelayanan sosial misalnya dalam hal :

- Pemerkosaan

- Luka tembak/tusuk

- Pasien dalam pengawasan polisi

- Gigitan binatang (peliharaan/liar)

- Px an tertentu yang diwajibkan menurut hukum (misal kadar alkohol dalam darah, tes urin pada kasus tertentu).

Catatan observasi dalam px umum secara sistematis

- Kondisi umum dan status gizi

- Cara berpakaian, higiene/kebersihan

- Tanda jelas adanya stress yang termanifestasi dari perilaku dan ekspresi wajah

- Kesadaran, mood dan perilaku

- Postur tubuh, aktivitas motorik dan cara berjalan

- Kejelasan bicara

- Bau : alkohol, urine, kimiawi, keton, obat-obatan dan ramu-ramuan

OPERATING BUDGET DALAM MANAGEMENT KEPERAWATAN

Pengertian Umum Budgeting

Pengertian Budget
Budget (Anggaran) adalah suatu rencana yang disusun secara sistematis, yang meliputi seluruh kegiatan perusahaan yang dinyatakan dalam unit (kesatuan) moneter dan berlaku untuk jangka waktu (periode) tertentu yang akan datang.

Dari pengertian di atas nampaknya bahwa suatu Budget mempunyai empat unsur, yaitu:
• Rencana
• Meliputi seluruh kegiatan perusahaan
• Dinyatakan dalam unit moneter
• Jangka waktu tertentu yang akan datang

Manfaat Budget
Manfaat Budget terdiri dari tiga pokok, yaitu :
• Sebagai pedoman kerja
• Yang mana berfungsi sebagai pedoman kerja dan memberikan arahan serta sekaligus memberikan target-target yang harus dicapai oleh kegiatan-kegiatan perusahaan diwaktu yang akan datang.
• Sebagai alat pengawasan kerja
Budget berfungsi pula sebagai tolok ukur, sebagai alat pembanding untuk mengevaluasi realisasi kegiatan perusahaan nanti. Dengan membandingkan apa yang tertuang di dalam Budget dengan apa yang dicapai oleh realisasi kerja perusahaan, dapatlah dinilai apakah perusahaan telah sukses bekerja atau kah kurang sukses bekerja.


Sebagai alat pengkoordinasian kerja
Budget berfungsi sebagai alat untuk mengkoordinasikan kerja agar semua bagian-bagian yang terdapat didalam perusahaan dapat saling menunjang, saling bekerja sama dengan baik untuk menuju ke sasaran yang telah ditetapkan. Dengan demikian kelancaran jalannya perusahaan akan lebih terjamin.

Proses Penyusunan Budget
Sebagaiman telah dijelaskan di atas, suatu Budget dapat berfungsi dengan baik bilamana tafsiran-tafsiran (forecast) yang termuat didalamnya cukup akurat, sehingga tidak jauh berbeda dengan realisasinya nanti. Untuk bisa melakukan penafsiran secara lebih akurat, diperlakukan sebagai data, informasi dan pengalaman, yang merupakan faktor-faktor yang harus dipertimbangkan didalam menyusun Budget. Adapaun faktor-faktor tersebut secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua kelompok, ialah :

Faktor-faktor intern, yaitu data, informasi dan pengalaman yang terdapat di dalam perusahaan sendiri. Faktor-faktor tersebut antara lain berupa :
• Kebijaksanaan perusahaan yang berhubungan dengan masalah harga jual, syarat pembayaran barang yang dijual, pemilihan saluran distribusi dan sebagainya.
• Kapasitas produksi yang dimiliki perusahaan.
• Tenaga kerja yang dimiliki peruahaan, baik jumlahnya (kuantitatif) maupun ketrampilan dan keahliannya (kualitatif).
• Modal kerja yang dimiliki perusahaan.
• Fasilitas-fasilitas lain yang dimiliki perusahaan.
• Kebijaksanaan-kebijaksanaan perusahaan yang berkaitan dengan pelaksanaan fungsi-fungsi perusahaan, baik di bidang pemasaran, dibidang produksi, dibidang pembelanjaan, dibidang administrasi maupun dibidang personalia.

Sampai batas-batas tertentu, perusahaan masih dapat mengatur dan menyesuaikan faktor-faktor intern ini dengan apa yang diinginkan untuk masa yang akan datang. Misalnya Modal Kerja yang sekarang dimiliki dirasakan kurang untuk periode Budget yang akan datang, maka perusahaan dalam batas-batas tertentu masih bisa menambahnya, misalnya dengan meminta kredit ke Bank. Demikian pula halnya dengan mesin-mesin, peralatan-peralatan, tenaga kerja serta fasilitas-fasilitas lain, dalam batas-batas tertentu masih disesuaikan dengan apa yang diinginkan untuk periode budget yang akan datang, baik ditambah maupun dikurangi. Oleh karena itu faktor-faktor intern ini sering disebut sebagai faktor yang controlable (dapat diukur), yaitu faktor-faktor yang dalam batas-batas tertentu masih bisa disesuaikan dengan keinginan atau kebutuhan untuk periode Budget yang akan datang.

Faktor-faktor ekstern, yaitu data, informasi dan pengalaman yang terdapat di luar perusahaan, tetapi dirasa mempunyai pengaruh terhadap kehidupan perusahaan. Faktor-faktor tersebut antara lain berupa :
• Keadaan persaingan
• Tingkat pertumbuhan penduduk
• Tingkat penghasilan masyarakat
• Tingkat pendidikan masyarakat
• Tingkat penyebaran penduduk
• Agama, adat-istiadat dan kebiasaan masyarakat.
• Berbagai kebijakan pemerintah, baik dibidang politik, ekonomi, sosial, budaya, maupun keamanan.
• Keadaan perekonomian nasional maupun internasional, kemajuan tehnologi dan sebagainya.

Terhadap faktor-faktor ekstern ini, perusahaan tidak mampu utnuk mengaturnya sesuai dengan apa yang diinginkanya dalam periode Budget yang akan datang. Oleh karena itu faktor-faktor ekstern ini sering disebut sebagai faktor yang un-controlabel (tidak dapat diukur), yaitu faktor-faktor yang tidak dapat diukur dan tidak dapat disesuaikan dengan keinginan perusahaan. Akibatnya perusahaanlah yang harus menyesuaiakan dirinya, menyesuaikan kebijaksanaan-kebijaksanaannya dengan faktor-faktor tersebut.

PENGERTIAN BUDGETING
Dalam pengertian Budget yang telah diuraikan di atas dapatlah diketahui bahwa Budget merupakan hasil kerja (out-put) yang terutama berupa tafsira-tafsiran yang akan dilaksanakan diwaktu yang akan datang. Karena suatu Budget merupakan hasil kerja (out-put), maka Budget dituangkan dalam suatu naskah tulisan yang disusun secara teratur dan sistematis. Sedangkan yang dimaksudka dengan Budgeting adalah proses kegiatan yang menghasilakan Budget tersebut sebagai hasil kerja (out-put), serta proses kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan fungsi-fungsi Budget, yaitu fungsi-fungsi pedoman kerja, alat pengkoordinasian kerja dan alat pengawasan kerja. Secara lebih terperinci, proses kegiatan yang tercakup dalam Budgeting tersebut antara lain:
• Pengumpulan data dan informasi yang diperlukan untuk menyusun Budget
• Pengolahan dan penganalisaan data dan informasi tersebut untuk mengadakan tafsiran-tafsiran dalam rangka menyusun Budget.
• Menyusun Budget serta menyajikannya secara teratur dan sistematis.
• Pengkoordinasian pelaksanaan Budget
• Pengumpulan data dan informasi untuk keperluan pengawasan, yaitu untuk mengadakan penilaian (evaluasi) terhadap pelaksanaan Budget.
• Pengolahan dan penganalisaan data tersebut untuk mengadakan interpretasi dan memperoleh kesimpulan-kesimpulan dalam rangka mengadakan penilaian (evaluasi) terhadap kerja yang telah dilaksanakan, serta menyusun kebijaksanaan-kebijaksanaan sebagai tindak lanjut (follow-up) dari kesimpulan-kesimpulan tersebut.

Prosedur Penyususnan Budget
Pada dasarnya yang berwenang dan bertanggung jawab atau menyusun Budget serta pelaksanaan kegiatan Budgeting lainnya, ada ditangan pimpinan tertinggi perusahaan. Hal ini disebabkan karena pimpinan tertinggi perusahaanlah yang paling berwewenang dan paling bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan perusahaan secara keseluruhan. Namun demikian tugas menyiapkan dan menyusun Budget serta kegiatan-kegiatan Budgeting lainnya tidak harus ditangani sendiri oleh pimpinan tertinggi perusahaan, melainkan dapat didelegasikan kepada bagian lain dalam perusahaan. Adapaun siapa-siapa atau bagian apa yang diserahi tugas memprsiapkan dan menyusun Budget tersebut sangat tergantung pada struktur organisasi dari masing-masing perusahaan. Akan tetapi pada garis besarnya tugas mempersiapkan dan menyususn Budget ini dapat didelegasikan kepada :

1. Bagian administrasi, bagian perusahan yang kecil. Hal ini disebabkan karena bagi perusahaan yang kecil, kegiatan-kegiatan perusahaan tidak terlalu kompleks, sederhana, dengan ruang lingkup yang terbatas, sehingga tugas penyusunan Budget dapat diserahkan kepada salah satu bagian saja dari perusahaan yang bersangkutan, dan tidak perlu banyak melibatkan secara aktif seluruh bagian-bagian yang ada dalam perusahaan.

2. Panitia Budget, bagian perusahan yang besar. Hal ini disebabkan karena bagi perusahaan besar, kegiatan-kegiatan perusahaan cukup kompleks, beraneka ragam dengan ruang lingkup yang cukup luas, sehingga Bagian Administrasi tidak mungkin dan tidak mampu lagi untuk menyusun Budget sendiri tanpa partisipasi aktif bagian-bagian lain dalam perusahaan. Oleh sebab itu tugas menyusun Budget perlu melibatkan semua unsur yang mewakili semua bagian yang ada di dalam perusahaan, yang duduk dalam Panitia Budget. Tim penyusunan Budget ini biasanya diketuai oleh pimpinan perusahaan (misalnya Wakil Direktur) dengan anggota-anggota yang mewakili Bagian Pemasaran, Bagian Produksi, Bagian Pembelanjaan, serta Bgaian Personalia. Di dalam Panitia Budget inilah dilakukan pembahasan-pembahasan tentang rencana-rencana kegiatan yang akan datang, sehingga Budget yang tersusun nanti merupakan kesepakatan bersama, sesuai dengan kondisi, fasilitas serta kemampuan masing-masing bagian secara terpadu. Kesepakatan bersama ini penting agar pelaksanaan Budget nanti benar-benar didukung oleh seluruh bagian yang ada dalam perusahaan, sehingga memudahkan terciptanya kerja sama yang saling menunjang dan terkoordinasikan dengan baik.

Baik Budget yang disusun oleh Bagian Administrasi (perusahaan kecil), maupun yang disusun oleh Panitia Budget (perusahaan besar), barulah merupakan Rancangan Budget atau Draft Budget (tentative budget). Rancangan Budget inilah yang diserahkan kepada pimpinan tertinggi untuk disahkan serta ditetapkan sebagai Budget yang defenitif. Sebelum disahkan oleh pimpinan tertinggi perusahaan, masih dimungkinkan untuk diadakan perubahan-perubahan terhadap rancangan tersebut, dan dimungkinkan pula untuk diadakannya pembahsan-pembahasan antara pimpinan tertinggi perusahaan dengan pihak yang diserahi tugas menyusun Rancangan Budget tersebut.
Setelah disahkan oleh pimpinan tertinggi perusahaan, maka Rancangan Budget tersebut telah menjadi Budget yang defenitif, yang akan dijadikan sebagai pedoman kerja, sebagai alat pengkooordinasian kerja dan sebagai alat pengawasan kerja.

Isi Budget
Sebagaimana telah diutarakan di atas, suatu Budget yang baik haruslah mencakup seluruh kegiatan perusahaan, sehingga fungsi-fungsi Budget (pedoman kerja, alat pengkoordinasian kerja dan alat pengawasan kerja) benar-benar dapat berjalan dengan baik pula. Budget yang menyeluruh semacam itu sering dinamakan Budget Komprehensif (Comprehensif Budget).
Adapun isi dari Budget Komprehensif secara garis besar terdiri dari :
1. Forecasting Budget (Budget Tafsiran), yaitu Budget yang berisi tafsiran-tafsiran (forecast) tentang kegiatan-kegiatan perusahaan dalam jangka waktu (periode) tertentu yang akan datang, serta tafsiran-tafsiran (forecast) tentang keadaan atau posisi finansial perusahaan pada suatu saat tertentu yang akan datang.

2. Variabel Budget (Budget Variabel), yaitu Budget yang berisi tentang tingkat perubahan beaya atau tingkat variabilitas beaya, khususnya beaya-beaya yang termasuk kelompok beaya “semi variabel”, sehubungan dengan adanya perubahan produktivitas perusahaan.

3. Analisa statistik dan matematika pembantu, yaitu analisa-analisa statistik dan matematika yang dipergunakan untuk membuat tafsiran-tafsiran (forecast) serta yang dipergunakan untuk mengadakan penilaian (evaluasi) dalam rangka mengadakan pengawasan kerja. Semua analisa-analisa tersebut perlu dimuat (dilampirkan) di dalam Budget yang disusun, agar setiap waktu dapat diketahui, dapat diperiksa kembali dan dapat dinilai apakah metode dan analisa yang dipergunakan tersebut memang sudah tepat ataukah perlu direvisi sehubungan dengan adanya perubahan faktor-faktor tertentu di waktu yang akan datang nanti.

4. Laporan Budget (Budget Report), yaitu laporan tentang realisasi pelaksanan Budget, yang dilengkapi dengan berbagai analisa perbandingan antara Budget dengan realisasinya itu, sehingga dapat diketahui penyimpangan-penyimpangan yang bersifat positif (menguntungkan) maupun yang bersifat negatif (merugikan), dapat diketahui sebab-sebab terjadinya penyimpangan-penyimpangan tersebut, sehingga dapat ditarik beberapa kesimpulan dan beberapa tindak lanjut (follow-up) yang segera perlu dilakukan. Dengan demikian dari Laporan Budget sekaligus dapat diadakan penilaian (evaluasi) tentang sukses atau tidaknya kerja perusahaan selama jangka waktu (periode) yang bersangkutan.


OPERATING BUDGET
Seperti yang telah diuraikan di atas, bahwa salah satu isi Budget adalah Forecasting Budget, yang diartikan sebagai Budget yang berisi tafsira-tafsiran (forecast) tentang kegiatan-kegiatan perusahan dalam jangka waktu (periode) tertentu yang akan datang, serta berisi tafsira-tafsiran (forecast) tentang keadaan atau kondisi finansial perusahaan pada suatu saat yang akan datang.

Dari pengertian terebut nampaknya bahwa Forecasting Budget terdiri dari dua kelompok Budget, yaitu :
• Operating Budget (Budget Operasional)
• Finansial Budget (Budget Finansial)

Pengertian Operating Budget
Operating Budget adalah Budget yang berisi tafsiran-tafsiran tentang kegiatan-kegiatan perusahaan dalam jangka waktu (periode) tertentu yang akan datang.

Operating Budget merencanakan tentang kegiatan-kegiatan perusahaan selama periode tertentu yang akan datang. Pada dasarnya kegiatan-kegiatan perusahaan selama periode tertentu itu meliputi dua sektor, yaitu :

Sektor Penghasilan ( revenues), ialah pertambahan Aktiva perusahaan yang mengakibatkan bertambahnya Modal Sendiri, tetapi bukan karena penambahan setoran modal baru dari para pemiliknya, dan bukan pula merupakan pertambahan Aktiva perusahaan yang disebabkan karena bertambah Utang. Sering pula dikatakan bahwa Penghasilan adalah suatu kondisi prestasi yang diterima oleh perusahaan atas “sesuatu” yang diberikan kepada pihak lain, atau atas jasa-jasa yang diberikan kepada pihak lain.

Dipandang dari sudut hubungannya dengan usaha utama perusahaan, penghasilan dapat dibedakan menjadi dua sub sektor, yaitu :
• Sub-sektor Penghasilan Utama (Operating Revenues), ialah penghasilan yang diterima perusahaan, yang berasal dan berhubungan erat dengan usaha pokok perusahaan.

• Sub-sektor Penghasilan Bukan Utama (Non-Operating Revenues), ialah penghasilan yang diterima perusahaan, yang tidak berasal dan tidak berhubungan erat dengan usaha pokok perusahaan, melainkan dari usaha sampingan perusahaan.

Sektor Beaya (Expenses), ialah pengurangan Aktiva perusahaan yang mengakibatkan berkurangnya Modal Sendiri, tetapi bukan karena pengurangan (pengambilan) modal oleh para pemiliknya, dan bukan pula merupakan pengurangan Aktiva perusahaan yang disebabkan karena berkurangnya utang. Sering pula dikatakan bahwa Beaya adalah suatu kontra pretasi yang diberikan oleh perusahaan atas “ sesuatu” yang diterima dari pihak lain, atau jasa-jasa yang diterima dari pihak lain.

Dipandang dari sudut hubungannya dengan usaha utama perusahaan, beaya dapat dibedakan menjadi dua sub-sektor, yaitu :

(a) Sub-sektor Beaya Utama (Operating Expenses), ialah beaya yang menjadi beban tanggungan perusahaan, yang berhubungan erat dengan usaha pokok perusahaan.
Dalam perusahaan industri, Beaya Utama dibedakan lagi ke dalam tiga kelompok beaya, yaitu :

Beaya Pabrik (Factory Cost), ialah semua beaya yang terjadi serta terdapat di dalam lingkungan tempat dimana proses produksi berlangsung. Beaya-beaya Pabrik ini dibedakan lagi dalam tiga kelompok, yaitu:
• Beaya Bahan Mentah (Direct Materials), ialah beaya yang terdiri dari semua bahan-bahan yang dikerjakan di dalam proses produksi, untuk diubah menjadi barang lain yang nantinya akan dijual.
• Upah Tenaga Kerja Langsung (Direct Labour), ialah upah yang dibayarkan perusahaan kepada para tenaga kerja yang secara langsung memproses bahan mentah, untuk diubah menjadi barang lain yang nantinya akan dijual.
• Beaya Pabrik Tidak Langsung (Factory Overhead), ialah semua beaya yang terdapat di dalam lingkungan pabrik, tetapi tidak secara langsung berhubungan dengan kegiatan proses produksi, yaitu proses mengubah bahan mentah menjadi bahan lain yang nantinya akan dijual. Termasuk dalam kelompok Beaya Pabrik Tidak Langsung ini antara lain Beaya Bahan Pembantu (Indirect Materials), Upah Tenaga Kerja Tidak Langsung (Indirect Labour), Beaya Pemeliharaan Pabrik (Factory Maintenance) Beaya Reparasi Pabrik (Factory Repair), Depresiasi Gedung Pabrik (Depreciation of Factory Equipment), Beaya Listrik Pabrik (Factory Heat and Light) dan sebagainya.

Beaya Administrasi (Administration Expenses), ialah semua beaya yang terjadi serta terdapat di dalam lingkungan kantor administrasi perusahaan, serta beaya-beaya lain yang sifatnya untuk keperluan perusahaan secara keseluruhan. Termasuk dalam kelompok Beaya Administrasi ini antara lain :
• Gaji Karyawan Kantor (Office Salaries), ialah gaji yang dibayarkan kepada para karyawandi kantor administrasi.
• Gaji Pemeliharaan Kantor (Office Manintenance), ialah beaya untuk pemeliharaan ruangan dan peralatan kantor administrasi.
• Beaya Perbaikan Kantor (Office Repair), ialah beaya untuk perbaikan ruangan dan peralatan kantor administrasi.
• Depresiasi Peralatan Kantor (Depreciation of Office Furniture), ialah beban depresiasi terhadap peralatan-peralatan di kantor administrasi.
• Depresiasi Gedung Kantor (Depreciation of Office Building), ialah beban depresiasi terhadap bangunan (gedung) kantor administrasi.
• Beaya Listrik Kantor (Office Heat and Light), ialah beaya listrik untuk keperluan kantor administrasi.
• Beaya Telepon Kantor (Office Telephone), ialah beaya telepon untuk keperluan kantor administrasi.
• Beaya Asuransi Kantor (Office Insurance), ialah biaya asuransi terhadap bagunan serta peralatan kantor administrasi.
• Beaya Supplies Kantor (Office Supplies), ialah biaya untuk keperluan-keperluan tulis-menulis serta keperluan-keperluan kecil lainnya di kantor administrasi, seperti kertas, karbon, lem, tinta, matera, perangko, dan sebagainya.

Beaya Penjualan (Selling Expenses), ialah semua biaya yang terjadi serta terdapat di dalam lingkungan Bagian Penjualan, serta beaya-beaya lain yang berhubungan dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Bagian Penjualan. Termasuk dalam kelompok Beaya Penjualan ini antara lain:
• Gaji Karyawan Penjualan : (Store Salaries), ialah gaji yang dibayarkan kepada para karyawan di Bagian Penjualan.
• Beaya Pemeliharaan Bagian Penjualan (Store Maintanance), ialah beaya untuk pemeliharaan ruangan dan peralatan Bagian Penjualan.
• Beaya Perbaikan Bagian Penjualan (Store Repair), ialah beaya untuk perbaikan ruangan dan peralatan Bagian Penjualan.
• Depresiasi Peralatan Bagian Penjualan (Depreciation of Store Furnitures), ialah beban depresiasi terhadap peralatan-peralatan Bagian Penjualan.
• Depresiasi Gedung Bagian Penjualan (Depreciation of Store Building), ialah beban depresiasi terhadap bangunan (gedung) Bagian Penjualan.
• Beaya Listrik Bagian Penjualan (Store Heat and Light), ialah beaya listrik untuk keperluan Bagian Penjualan.
• Beaya Telpon Bagian Penjualan (Store Telephone), ialah beaya telepon untuk keperluan Bagian Penjualan.
• Beaya Asuransi Bagian Penjualan (Store Insurance), ialah beaya asuransi terhadap bangunan serta peralatan Bagian Penjualan.
• Beaya Supplies Bagian Penjualan (Store Suplieses), ialah beaya untuk keperluan-keperluan kecil lainnya di Bagian Penjualan, seperti kertas, karbon, tinta, tali, dan sebagainya.
• Beaya Advertensi (Advertising), ialah beaya pemasangan iklan diberbagai media massa untuk keperluan meningkatkan penjualan.


(a).Sektor-sektor Beaya Buka Utama (Non-Operating Expenses), ialah beaya yang menjadi beban tanggungan perusahaan, yang tidak berhubungan erat dengan usaha pokok prusahaan.

Dari uraian serta pembahsan di atas telah diketahui bahwa Operating Budget merencanakan tentang kegiatan-kegiatan perusahaan selama periode tertentu yang akan datang, baik kegiatan yang berhubungan dengan sektor penghasilan maupun kegiatan yang berhubungan dengan sektor beaya.
Di dalam akutansi, kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan sektor penghasilan berhubungan dengan sektor beaya ini pada akhir periode dituangkan dalam Laporan Rugi-Laba (Income Statement) perusahaan. Bilamana selama bekerja dalam periode yang bersangkutan, penghasilan lebih besar dari beban beayayang harus ditanggung, berarti perusahaan memperoleh keuntungan, sedangkan bilamana selama bekerja dalam periode yang bersangkutan, penghasilan yang diterima lebih kecil daripada beban beaya yang harus ditanggung, berarti perusahaan menderita kerugian. Oleh karena itu Operating Budget sering pula disebut sebagai Income Statement Budget (Budget Rugi-Laba).

Atas dasar kelengkapan isinya, Income Statement Budget dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu :

(1) . Master Income Statement Budget (Budget Induk Rugi-Laba), ialah Budget tentang penghasilan dan beaya perusahaan, yang berisi tafsiran-tafsiran secara garis besar (global) dan kurang dijabarkan secara lebih terperinci, seperti misalnya tafsiran-tafsiran semesteran, tahunan dan sebagainya.

(2) . Income Statement Supporting Budget (Budget Penunjang Rugi-Laba), ialah Budget tentang penghasilan dan beaya perusahaan, yang berisi tafsiran-tafsiran yang lebih terperinci, seperti misalnya terperinci dari waktu ke waktu (bulanan), terperinci menurut bagian (departemen) yang ada dan sebagainya. Dengan demikian Income Statement Supporting Budget ini merupakan penjabaran serta perincian lebih lanjut dari Master Income Statement Budget yang hanya memuat tafsiran-tafsiran secara garis besar saja, masih belum memungkinkan Budget tersebut menjalankan fungsinya. Agar supaya Budget dapat berfungsi sebagai pedoman kerja, sebagai alat koordinasi kerja dan sebagai alat pengawas kerja, maka Budget harus disusun secara jelas dan terperinci.

Tahap-tahap Penyusunan Operating Budget
Operating Budget secara terperinci disusun dalam Income Statement Supporting Budget, yang pada dasarnya berisi Budget tentang penghasilan, yaitu tentang Budget penjualan, dan Budget-Budget tentang beaya, yaitu Budget Produksi serta Budget Beaya Administrasi dan Budget Beaya Penjualan.
Antara Budget tentang penghasilan dengan Budget-Budget tentang Beaya tersebut mempunyai hubungan timbal balik yang sangat erat. Di satu pihak, besar kecilnya penjualan (penghasilan) mungkin ditentukan (dipengaruhi) oleh besar kecilnya produksi (beaya), tetapi di pihak lain, besarnya produksi (beaya) mungkin justru ditentukan (dipengaruhi) oleh besarnya penjualan. Dengan perkataan lain, ada dua alternatif kemungkinan tentang hubungan timbal balik antara produksi dengan penjualam tersebut, yaitu :


(a) Alternatif Pertama
Besarnya penjualan ditentukan oleh besarnya produksi. Ini berarti bahwa berapa jumlah penjualan perusahaan selama periode yang akan datang ditentukan oleh berapa jumlah barang yang mampu diproduksi perusahaan selama periode tersebut. Dengan demikian jika selama periode yang akan datang, perusahaan mampu memproduksi barang dalam jumlah yang besar, maka sebesar itu pulalah jumlah penjualan yang akan dilakukan perusahaan dalam periode tersebut. Sebaliknya jika selama periode yang akan datang, perusahaan hanya mampu memproduksikan barang dalam jumlah sedikit, maka sejumlah sedikit pulalah penjualan yang akan dilakukan perusahaan selama periode tersebut.

(b). Alternatif kedua
Besarnya produksi justru ditentukan oleh besarnya penjualan. Ini berarti bahwa jumlah barang yang akan diproduksi perusahaan selama periode yang akan datang ditentukan oleh berapa jumlah barang yang mampu dijual (dipasarkan) oleh perusahaan selama periode tersebut. Dengan demikian, jika selama periode yang akan datang, perusahaan mampu menjual (memasarkan) barang dalam jumlah yang besar, maka sebesar itu pulalah produksi yang yang akan dilakukan perusahaan, dalam periode tersebut. Sebaliknya jika selama periode yang akan datang perusahaan hanya mampu menjual (memasarkan) barang dalam jumlah yang sedikit, maka sejumlah sedikit itu pulalah produksi yang akan dilakukan perusahaan dalam periode yang akan datang.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 109 pengikut lainnya.