EPISIOTOMI

EPISIOTOMI
Oleh : dr. Amiruddin Rauf & dr. HER Moeljono, Sp.OG.

Episiotomi adalah insisi perineum yang dimulai dari cincin vulva ke bawah, menghindari anus dan muskulus spingter serta memotong fasia pervis, muskulus konstrikter vagina, muskulus transversus perinei dan terkadang ikut terpotong serat dari muskulus levator ani. (1)

Teknik episiotomi : (1,2,3,4)
1. Episiotomi mediolateral
Insisi pada garis tengah dekat spingter ani diperluas ke samping.
2. Episiotomi medialis
Insisi dilakukan pada garis tengah.
3. Episiotomi lateralis (jarang dilakukan)

Indikasi episiotomi : (1,5)
1. Perineum kaku
2. Memerlukan peregangan yang berlebihan dari perineum (forsep & vakum)
3. Mengurangi tekanan pada kepala bayi (prematur).

Kontraindikasi episiotomi : (1)
1. Bukan persalinan pervaginam
2. Kecenderungan perdarahan yang tidak terkontrol
3. Pasien menolak dilakukan intervensi operatif.

Saat episiotomi : (1,2)
1. Kepala sudah kelihatan 3-4 cm waktu ibu mengedan
2. Saat pemasangan forsep
3. Sebelum melakukan ekstraksi pada letak sungsang.

Penanganan luka episiotomi : (1,2,3,4,5)
1. Prinsip : Hemostasis dan perbaikan anatomi.
2. Cara :
– Mukosa dan submukosa dijahit jelujur dengan cutgut kromik 00.
– Otot dan fascia dijahit jelujur dengan cutgut kromik 00.
– Kulit dan subkutis dijahit terputus dengan seide / sutera 30.
3. Obat-obatan :
– Analgetik / antiinflamasi
– Antibiotik bila perlu
4. Perawatan luka : Kompres dengan povidone iodine.
5. Informed consent : tidak perlu.

Daftar Pustaka
______________

1. Carter FB, Wolber PGH. Episiotomy in : Sciarra J. Gerbie AB eds. Gynecology and
Obstetrics. Philadelphia : Harper & Row Publisher. 1979. 1-40.
2. Cunningham FG, McDonald PC, Gant NF. Williams Obstetrics. 19 th ed.
Connecticut : Appletonand Lange. 1992. 388-393.
3. Husodo L. Pembedahan dalam Persalinan Kala III dalam Winknysastro H,
Sumapraja S., Saifuddin AB. Ilmu Kebidanan ed. 3. Jakarta : Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 1993. 882-884.
4. Mac. Donald PC. Conduct of Normal Labor and Delivery in Gant NF. Cunningham
FG. Basic Gynecology and Obstetric, 1 st ed. USA : Appleton and Lange. 1993.
346-350.
5. O’Brien WF, Cefalo RC, Labor and Delivery in Gabbe SG, Niebyl JR, Simpson JL,
Obstetrics Normal & Problem Pregnancies. USA : Churchill Livingstone Inc. 1991.
431-432.

Update : 28 Januari 2006

Sumber :

Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstetri dan Ginekologi, dr. I.M.S. Murah Manoe, Sp.OG., dr. Syahrul Rauf, Sp.OG., dr. Hendrie Usmany, Sp.OG. (editors). Bagian / SMF Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Rumah Sakit Umum Pusat, dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar, 1999.

3 Tanggapan

  1. setau saya episotomie kan mencegah terjadi nya robekan tg lbi parah
    namun ada saya jumpai di sla stu RS
    epis tu ngk di gunakan
    tu knpa?
    dan apa manfaat nya bila ngk di akukan episiotomie.
    dan apa kerugi an nya?????????/

  2. iya karena episiotomi bisa menyebabkan muskulus spinktepani tidak berfungsi.

  3. trUs yang berhak melakukan itu sP?
    blh gk di lakukan oleh bidan,yang ibuna gak mau di epis walaupun sudah gawat janin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: