Mengajak pria ber-KB

Mengajak pria ber-KB, wuaaalah…. sulitnya.” Ini diakui sendiri oleh jajaran pelaksana progrm KB nasional. Betapa tidak, meski terbilang tidak susah-susah amat mengikuti cara ini, rata-rata peserta KB pria di setiap kelurahan di DKI Jakarta hanya mencapai puluhan orang.

Ironisnya, di Kabupaten Kepulauan Seribu, yang masuk wilayah DKI, pesertanya justru hanya segelintir orang. Selebihnya, melepaskan urusan KB sebagai tanggungjawab istri, baik dengan metode suntik, pil KB, spiral, implan ataupun tubektomi.

Memang, hanya ada dua metode kontrasepsi bagi pria yang digunakan saat ini. Yakni, metode vasektomi dan metode kondom. Sayangnya, untuk menghitung akseptor kondom sulit dilakukan. Pasalnya, pemakaian kondom sulit terdekteksi, dan hanya dilakukan pada saat-saat tertentu. Karena itu, metode ini dianggap kurang efektif.

Dan memang sangat jarang pasangan usia subur memakai metode ini secara berkesinambungan dalam rentang waktu panjang. Kondom, sejauh ini, agak “dijauhi” peserta KB pria lantaran tak praktis dan mengurangi kenikmatan dalam berhubungan, baik itu dirasakan oleh pria bersangkutan maupun lawan jenisnya. Kondom lebih cenderung digunakan guna mengantisipasi penyakit kelamin, termasuk dari serangan mematikan HIV/AIDS. Maka, tak mengherankan manakala sejumlah LSM mulai “mengkampanyekan” secara diam-diam penggunan kondom di sarang-sarang prostitusi.

Meski demikian, tampaknya grup band kesohor SLANK merasa perlu juga untuk memvisualisasikan kondom dalam cover album mereka ke-11. “Ini untuk membuktikan kepedulian kami terhadap program KB dan pencegahan HIV/AIDS,” ujar Koko, vokalis grup band tersebut.

Lantaran dianggap tidak begitu ampuh, kondom memang tidak menjadi pilihan terbaik bagi pria dalam ber-KB ketimbang metode vasektomi. Sebagian besar peserta KB pria menggunakan metode vasektomi (atau dikenal juga dengan istilah kontap-kontrasepsi mantap) lantaran dianggap paling ampuh sementara ini, di tengah upaya para ahli mengembangkan metode KB suntik bagi pria.

Makassar di Jakarta Timur adalah satu dari sedikit kelurahan yang berbeda dari yang ada di DKI Jakarta. Peserta vasektominya “meluber”. Kalau di kelurahan lain rata-rata pesertanya mencapai puluhan orang, bahkan kebanyakan di bawah itu, di Makassar saat ini lebih dari 100 orang. Bukan main! Ini tentu satu permulaan yang baik. Soal KB sudah tidak diserahkan sepenuhnya kepada perempuan.

Kenapa semakin banyak pria mulai “kesengsem” dengan cara vasektomi? Ini karena mereka mulai menyadari bahwa vasektomi berbeda dengan kebiri. Ia memiliki peringkat yang cukup tinggi, baik dari sisi kesehatan bagi pesertanya maupun sisi keampuhan dalam mencegah kehamilan.

Tidak Impotensi

Di tengok dari sisi medis, vasektomi hanyalah satu tindakan penutupan saluran benih atau air mani. Saluran ini terletak persis di bawah permukaan kulit, dan tidak terlalu dalam karena dapat diraba dari luar. Sementara kebiri adalah tindakan membuang testis (buah sakar), pabrik pembuat sperma.

Dalam kebiri dipastikan tak akan ada lagi hubungan seks lantaran kemampuan untuk melakukannya sudah punah. Sedangkan vasektomi, selain aman dari kegagalan dengan tingkat keberhasilan 79 persen, menurut Kasmiyati, juga mampu menaikkan libido seks. Ini berarti, vasektomi sama sekali tak menimbulkan impotensi atau ketidak jantanan.

Lasimnya, pria dengan vasektomi akan merasa lebih aman dalam berhubungan intim. Kenapa? Karena mereka tak khawatir ‘bocor’, meski dilakukan berulang-ulang.

Mudah dilakukan. Itulah metode vasektomi. Operasi penutupan saluran benih cukup dilakukan dalam kondisi akseptor sadar. Pembiusan secara lokal pada kulit di bawah saluran benih, tidak membuat pasien “bermimpi buruk dalam gelap”. Setelah kulit dibuka sedikit, saluran sepanjang 1 cm diikat atau dipotong. Lalu, bekas luka cukup ditutup plester. Dan selesai. Akseptor bisa langsung pulang. Pelaksanaan operasi kecil itu hanya memakan waktu kurang dari 15 menit.

Sehabis operasi, peserta vasektomi baru boleh melakukan hubungan intim dengan pasangannya setelah enam hari. Itupun harus wajib menggunakan kondom selama 12 kali hubungan demi pengamanan.

Bila akseptor ingin mengembalikan ke kondisi semula, hal itu bisa dilakukan lewat tindakan ‘rekanalisasi’. Namun sangat jarang dilakukan. Ini karena setiap peserta vasektomi sudah berumur di atas 35-40 tahun, dan memiliki anak minimal dua, serta sehat Sehingga kesertaan ber-KB secara vasektomi bersifat kekal, kecuali semua anak-anak mereka meninggal dunia.
Kurang Peminat

Secara nasional, KB pria memang kurang diminati. Kenapa? Secara psikologis, mengikuti program KB bagi sebagian besar pria dinilai sebagai tindakan aneh dan asing, pun pula lucu. Maklum, bukankah pria tidak pernah hamil. Jadi, tidak ada alasan bagi pria untuk ber-KB. Apalagi alat/obat kontrasepsi yang tersedia kebanyakan untuk perempuan. “Jadi, cukuplah perempuan saja yang ber-KB,” ujar seorang pria beranak dua dari Bekasi.

Akibatnya, bisa ditebak, tak cukup banyak peserta KB pria hingga saat ini. Sedikitnya peserta memang dipicu oleh banyak sebab: rumor medis, agama, budaya dan biaya, utaman lainnya adalah kampanye dan sosialisasi yang minim. (Sara)

Satu Tanggapan

  1. Bagaimana sejarah Kb itu sebenarnya? sejak kapan dan apa alasannya? bagaimana dengan tinjauan agama? postingkan di webku ya!?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: