Banyak Jalan Mendapatkan Si Buah Hati

Setiap pasangan yang sudah menikah tentu mendambakan hadirnya si buah hati. Namun tidak semua orang dapat dengan mudah mendapatkannya, ada yang sampai bertahun-tahun harus menunggu. Jika Anda termasuk di dalamnya, jangan berkecil hati, pesatnya teknologi kedokteran telah memberikan harapan bagi setiap pasutri untuk menimang si buah hati.
Dahulu, pasangan yang belum juga diberi keturunan sering disebut mandul. Padahal vonis mandul itu sebenarnya kurang tepat karena seolah-olah pasangan tersebut tidak akan mendapatkan anak seumur hidup.
“Kami tidak pernah memakai istilah mandul karena pengertiaannya tidak ada harapan. kami selalu memakai istilah infertilitas, yang berarti tidak berhasil hamil, karenanya perlu dibantu untuk menjadi hamil,” kata dr.Andon Hestiantoro, Sp.OG (K) dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Seorang pasutri dianggap infertil jika mereka tak juga mendapatkan keturunan meskipun sudah melakukan hubungan suami istri secara teratur (tiga kali seminggu) selama setahun tanpa kontrasepsi. Kondisi ini disebut juga dengan infertilitas primer.

Sedangkan infertilitas sekunder adalah kondisi suatu pasangan di mana istri pernah hamil, tapi tidak berhasil hamil lagi meskipun telah melakukan aktivitas hubungan biologis secara teratur selama 12 bulan.
Pemeriksaan menyeluruh
Saat ini semakin banyak klinik yang memiliki spesialisasi khusus untuk membantu pasangan yang ingin memiliki anak. Mulai dari proses konsultasi hingga program bayi tabung. Biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mencari tahu apakah ada kelainan, mulai dari organ reproduksi sampai hormonnya.
“Pemeriksaan yang dilakukan antara lain pemeriksaan organ dalam mulai dari vagina misalnya ada keputihan atau tidak, lalu pemeriksaan rahim lewat USG untuk melihat bentuk rahim dan lapisan dalam rahim. Jika semua normal, dokter akan melakukan rontgen saluran telurnya,” papar Andon.
Masalah yang umum terjadi pada organ reproduksi adalah infeksi jamur atau bakteri, kanker mulut rahim, polip, hingga sumbatan saluran telur (tuba falopi ). “Kalau ada benjolan atau polip maka akan dioperasi pengangkatan, jika organnya tersumbat maka diperbaiki dan dibuka sumbatannya,” katanya.
Penyebab infertil lain adalah masalah yang terkait dengan hormon, seperti kegemukan atau tingginya kadar insulin dalam darah. Kondisi ini menurut Andon bisa menyebabkan kantung telur (folikel) tidak berkembang sehingga tidak terjadi ovulasi atau pecahnya sel telur.
Biasanya dokter akan menyarankan pasien untuk menurunkan berat badan sebanyak 5-10 persen. “Penurunan berat bisa memperbaiki kesuburan hingga 70 persen,” ujar Andon. Namun Andon tidak menyarankan memakai obat pelangsing karena justru akan mengganggu kesuburan.
Pada beberapa kasus pasien sulit hamil karena masalah ada pada sel telur, yakni tidak bisa berkembang. “Cara yang efektif untuk menaikkan ovulasi adalah dengan memberikan obat penyubur klomifen sitrat, cukup efektif menaikkan angka ovulasi sampai 70 persen, namun angka kehamilannya 30-40 persen,” tambah Andon.
Jika cara-cara tersebut gagal, maka pasien dianjurkan untuk melakukan terapi hormon, yakni pemberian hormon gonadotropin untuk merangsang aktivitas indung telur sehingga makin banyak kantung telur yang tumbuh.
“Kalau kita sudah masuk dalam tahapan sejauh ini, maka harus diakhiri dengan inseminasi atau bayi tabung. Kalau hanya dengan berhubungan biasa angka kehamilannya rendah,” paparnya.
Selalu ada harapan
Menurut Andon, hampir 90 persen pasangan yang sudah menikah selama setahun pasti akan hamil. “Dari 10 persen sisanya, 5 persen akan hamil di tahun berikutnya dan dari jumlah ini hanya sedikit sekali yang tidak hamil,” katanya optimis.
Tak sedikit pula pasangan yang sudah memeriksakan diri dan dinyatakan normal namun tetap tidak hamil juga. Kondisi tersebut menurut Andon disebut dengan unexplained infertility atau ketidaksuburan yang belum diketahui penyebabnya. “Keterbatasan alat dan keterbatasan pengetahuan dokter bisa mempengaruhi diagnosis,” ujarnya.
Yang tak kalah penting untuk meningkatkan peluang hamil adalah memeriksakan diri ke dokter sedini mungkin karena faktor usia memegang peranan penting dalam organ reproduksi.
Selain masalah pada organ reproduksi, faktor lain yang mempengaruhi kesuburan adalah gaya hidup. Stres, kurang olahraga, kegemukan dan penyakit kelamin yang disebabkan seks bebas termasuk dalam faktor yang menyebabkan seseorang infertil. “Di Jakarta semakin banyak kasus-kasus ini,” kata Andon.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: