Mengapa Masalah Osteoporosis Pasca Menopause Akhir-Akhir Ini Menjadi Masalah ?

Mengapa Masalah Osteoporosis Pasca Menopause Akhir-Akhir Ini Menjadi Masalah ?

  • Menghadapi tahun 2010-an terjadi peningkatan harapan hidup wanita sampai usia 70 tahun dan
  • Pada usia 2000- an peningkatan penduduk indonesia diatas usia 65 tahunan 15,75 % dibandingkan dengan negara tetangga Singapura 23,67% , Korea selatan 13,32%, Cina 18,17% , Jepang 30,22 % , Thailand 19,04 %, Vietnam 14,58 % dan Philipina 21,05 %

Jelas meningkatnya usia dan osteoporosis merupakan suatu yang akan terjadi, sedangkan bahaya fraktur osteoporosis jelas akan meningkat yang sangat merugikan kualitas kehidupan ibu dalam usia-usia lanjut ini. Terjadinya fraktur osteoporosis yang terjadi di daerah pangkal paha, tulang belakang, dan lengan. Walaupun fraktur osteoporosis dapat diatasi dengan operasi tetapi apabila tidak diobati untuk osteoporosis terjadi lagi patah tulang kedua dan bahaya perawatan post operasi pada wanita tua meningkatnya kejadian “stroke”.

Osteoporosis

Tulang adalah jaringan yang kuat dan tangguh yang memberi bentuk pada tubuh , menunjang berat badan, melindungi organ-organ vital serta dapat menyebabkan pergerakan tubuh karena sebagai tempat melekat otot-otot.
Pada wanita pertumbuhan tulang mencapai puncaknya pada usia 30 tahunan, tulang terdiri dari matriks kolagen tulang, bahan-bahan organik dan mineral tulang.

Mineral tulang berfungsi merekatnya serat-serat kolagen matriks tulang satu dengan lainnya dan juga sebagai cadangan isi calsium di tubuh. Selain itu tulang mengalami metabolik aktif berupa proses remodelling yaitu proses perusakan osteoclast dan proses pembentukkan osteoblast tulang yang terutama terjadi pada tulang yang sudah tua diganti dengan jaringan yang baru. Menurunnya hormon estrogen menyebabkan penurunan aktivitas osteoblast dan osteoclast meningkat sehingga terjadi osteoporosis primer, bukan osteoporosis sekunder yang disebabkan oleh penyakit-penyakit lain. Kejadian osteoporosis primer pada wanita selain pengaruh penurunan hormon esterogen, juga dipengaruhi asupan kalsium, aktivitas, paparan UV singkat dan matahari, gaya hidup ( merokok + alkohol) dan obat-obat lain yang menurunkan massa tulang. Pada penurunan hormon estrogen menyebabkan meningkatnya resiko osteoporosis karena ibu jadi pemalas, asupan kalsium menurun, paparan matahari menurun, aktivitas menurun.

Pada pria lebih cenderung terjadi osteoporosis sekunder, oleh sebab penyakit diabetes melitus dll. Pada usia 70 –75 tahun pada laki-laki kadar testoteron menurun demikian juga dengan kadar estrogen menurun (testis juga membentuk estrogen), densitas tulang mulai menurun pada masa andropause.
Dengan ditemukannya reseptor estrogen pada osteoblast maka laki-laki hormon estrogen yang ada dan perubahan hormon testoteron ke 17 Beta estrogen yang berpengaruh pada tulang. Penurunan dan rendahnya massa tulang disebut osteopenia. Apabila mencapai ambang patah tulang dan penurunan kekuatan tulang disebut osteoporosis. Osteoporosis primer ini lebih sering pada wanita ( 6-8 kali lebih banyak ) kejadiannya daripada pria. Hal ini dihubungkan dengan kelainan hormonal secara biologik dan diteruskan ke masa presenium dan senium.

Diperkirakan 75 juta manusia di USA , eropa dan jepang menderiata osteoporosis. Patah tulang lumbal berhubungan dengan rasa sakit dan berkurangnya tinggi, sedangkan patah tulang femur (tungkai) berhubungan dengan ketidakmampuan atau berhubungan dengan immobilisasi yang sangat panjang samapi kematian.

Christiansen menyatakan:

  • Satu dari dua wabita pada usia 70 tahun mengalami patah tulang.
  • Dua dari tiga wanita usia 80 tahun mengalami patah tulang.

Disimpulkan osteoporosis dapat dinyatakan sebagai penyakit yang mempunyai karakteristik:

  • Massa tulang yang sangat berkurang
  • Perubahan mikro arsitektur tulang yang sebabkan kerapuhan tulang.
  • Meningkatkan resiko terjadinya patah tulang dan penurunan kekuatan tulang.

Diagnosis Osteoporosis

Diagnosis osteoporosis umumnya secara klinis sulit dinilai, karena tidak ada rasa nyeri pada tulang saat osteoporosis terjadi walau osteoporosis lanjut. Khususnya pada wanita-wanita menopause dan pasca menopause, rasa nyeri di daerah tulang dan sendi dihubungkan dengan adanya nyeri akibat defisiensi estrogen. Masalah rasa nyeri jaringan lunak (wallaca tahun1981) yang menyatakan rasa nyeri timbul setelah bekerja, memakai baju, pekerjaan rumah tangga, taman dll. Jadi secara anamnesa mendiagnosis osteoporosis hanya dari tanda sekunder yang menunjang terjadinya osteoporosis seperti :

  • Tinggi badan yang makin menurun.
  • Obat-obatan yang diminum.
  • Penyakit-penyakit yang diderita selama masa reproduksi, klimakterium.
  • Jumlah kehamilan dan menyusui.
  • Bagaimana keadaan haid selama masa reproduksi.
  • Apakah sering beraktivitas di luar rumah , sering mendapat paparan matahari cukup.
  • Apakah sering minum susu? Asupan kalsium lainnya.
  • Apakah sering merokok, minum alkohol?

Diagnosis atau penegakan diagnosis saat ini adalah

  • Densitometer (luncr)
  • Densitometer – USG
  • Laboratorium pemeriksaan:
    – Osteokalsin
    – Dioksipiridinolin

Dari pengalaman klinis, setelah memasyarakatkan keilmuan klimakterium dan menopause serta osteoporosis pasca menopause ini banyak pasien yang datang dengan keluhan gejolak panas, nyeri otot dan pinggang yang sebelumnya pasien hanya datang berobat karena gangguan haid.
Penilaian pengobatan hormonal pengganti (estrogen + progesteron) telah banyak memberikan hasil yang baik pada wanita menopause. Adanya laporan WHI (Woman Health Interative) mengenai peningkatan keganasan payudara 26 % , stroke 38 %, masalah kardiologi 23 % masih meragukan banyak pihak, karena masalah merokok, alkohol dan pemakaian pil KB lama yang tinggi tidak disingkirkan. Penelitian di Indonesia pemberian hormon pengganti TSH (Terapi Sulih Hormon ) sangat meningkatkan kualitas hisup wanita pasca menopause.

Pencegahan Dan Pengobatan Osteoporosis

Tujuan pengobatan : perbaiki massa tulang yang akan mencegah patah tulang.
Pencegahan :

  1. pencegahan pertama ditujukan agar jangan terjadi kehilangan massa tulang yang tinggi dibantu dengan diet, kegiatan olahraga beban, kerja.
  2. Pencegahan kedua ditujukan untuk mencegah kehilangan massa tulang sesudah menopause dengan cara-cara:
    • TSH (Terapi Sulih Hormon) dengan memberikan hormon estrogen alamiah dosis rendah dengan progesteron alamiah dosis rendah. Memberikan hasil yang baik dalam menghilangkan keluhan defisiensi estrogen, sehingga kualitas hidup wanita meningkat serta densitas tulang meningkat ( 5 %).
    • Biphosphonat, obat-obat yang menghambat penyerapan tulang terbukti memberikan hasil yang sangat baik seperti golongan Actonel, yang menghasilkan tulang selama 1 tahun pengobatan sampai 5-6 % serta menormalkan HDL dan LDL 40 %.
    • Gabungan TSH + Biphosphonat , sangat bermanfaat karena terjadi peningkatan kualitas hidup ibu serta peningkatan densitas tulang sampai 7-7.5 % pertahun dan normalnya kadar HDL dan LDL yang mencapai 70-80 % sehingga ancaman terjadinya gangguan jantung menurun.
    • Gabungan SERM (Selective Estrogen Receptor Modulator) bukan hormon, bekerja pada reseptor estrogen beta, meningkatkan kekuatan tulang sangat bermanfaat untuk pasien-pasien dengan keganasan payudara.
    • Golongan Fitoestrogen : Estrogen dari tumbuh-tumbuhan. Saat ini sedang diteliti bermanfaat untuk atasi keluhan-keluhan menopause, tidak menyebabkan perdarahan pervaginam serta keganasan payudara.

Pengobatan bukan obat-obatan

  • Kalsium
  • Vitamin D (Vitamin D3 dari kulit dan vitamin D 2 dari makanan adalah bahan dasar kalsitriol)
  • Senam beban (senam pencegahan osteoporosis dan senam Osteoporosis)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: