Tumor Kandungan

•Metaplasi: perubahan suatu jenis jaringan dewasa menjadi jaringan lain yang juga dewasa
• Displasi: perubahan kearah kemunduruan pada sel dewasa
• Regularitas inti menghilang
• Besarnya sel tak beraturan
• Inti sel membesar
• Kadang-kadang mitosis
• Anaplasi: sel dewasa berubah menjadi sel yang lebih primitif
• Ciri tumor ganas
• Perubahan tidak reversibel
• Bentuk, ukuran, kwalitas kromatin, jumlah mitosis berubah

Tumor ovarium
• Tumor non neoplastik : Tumor akibat radang, Tumor lain (kista follikel, kista korpus luteum, Stein Levental/polikistik ovarii)
• Tumor neoplastik : jinak/ganas
• Kistik/solid

• Tumor jinak kistik:
• Kistoma ovarii simpleks
• Kistoma ovarii serosum
• Kistoma ovarii musinosum
• Kistoma dermoid

• Tumor jinak padat
– Fibroma ovarii
– Tumor sisa adrenal

Gejala dan tanda
• Sebagian besar akibat pertumbuhan, aktifitas endokrin atau komplikasi tumor tersebut.
• Akibat pertumbuhan:
• Benjolan perut, tekanan akibat tumor pada vesika urinaria (gangguan miksi), gastrointestinal (tak nafsu makan, rasa sesak, obstipasi), edema pada tungkai.
• Akibat aktifitas hormonal jarang pada tumor jinak. Tumor sel granulosa hipermenorea.
• Akibat komplikasi: Perdarahan kedalam kista, Torsi (putaran tangkai), Infeksi tumor (bersumber appendisitis, salfingitis), Robekan dinding kista (torsi, trauma), Perubahan keganasan (Kista sebelum menarche / > 40 tahun), Sindroma Meigs fibroma ovarii, ascites dan hidrotoraks

Kista non neoplastik
• Kista follikel
• Berasal dari follikel de Graaf yang tak berovulasi
• Kista korpus luteum
• Normal: corpus luteum corpus albicans
• Kadang-kadang mempertahankan diri (sering terjadi perdarahan).
• Dapat menimbulkan gangguan haid (amenorea, perdarahan tak teratur)

• Kista teka lutein pada mola, koriokarsinoma
• Kista Stein Leventhal (PCO)
• Infertilitas, amenorea/oligomenorea sekunder, kadang-kadang obesitas, hirsuitisme 95%) dan kedua ovarium membesar
• Tomor ovarium neoplastik jinak
• Kistoma ovarii
• Kista bedinding, berisi cairan, dapat monolokuler atau multilokular, dapat bertangkai.

Gejala:
• Pertumbuhan
• Akibat hormonal
• (maskulinovoblastoma)
• Keganasan(pertumbuhan papiller, proliferasi dan stratifikasi epithel, anaplasi dan mitosisi pada sel)

Kista dermoid
• Teratoma kistik yang jinak (adanya rambut, epithel kulit, gigi, lemak tulang rawan, jaringan ikat dsb)
• Dapat berubah ganas berasal dari element terutama ektodermal (struma ovarium, kistadenoma ovarii, koriokarsinoma)

Tumor padat ovarii
• Fibroma ovarii
• Permukaan tidak rata, konsistensi keras.
• Terdiri jaringan ikat, jaringan kolagen dan kadang ada degenerasi hialin.
• Sering ditemukan sindrom Meigs (tumor padat ovarii, ascites dan hidrothorax)
• Penanganan
• Pengangkatan tumor

Mioma uteri
• Neoplasma jinak
• Asal dari miometrium dan jaringan ikat fibromioma, leiomioma, fibroid
• Insidensi: 2-11% deari kasus ginekolog

Berdasar letaknya:
• Mioma submukosa__> bertangkai menjadi polip keluar serviks mioma geburt
• Mioma intramural
• Mioma subserosa

Pengaruh Mioma uteri dan kehamilan
• Infertilitas
• Abortus meningkat
• Gangguan letak
• Gangguan kemajuan persalinan
• Gangguan kontraksi inersia, perdarahan post partum
• Gangguan involusi

Pengaruh Kehamilan terhadap mioma

• membesar lebih cepat
Torsi: Degenerasi merah ok nekrosis gangguan vaskularisasi

Therapi:tanpa pengobatan  evaluasi tiap 3-6 bulan
• Operatif:Mioma geburt ekstirpasi
• Miomektomi
• Histerektomi

Komplikasi
Degenerasi ganas Leiomiomasarkoma(0,3 – 0,6% dari mioma)
• Curiga jika: Cepat membesar, Saat menopause tetap terjadi pembesaran, Torsi, Mioma bertangkai, Sindroma akut abdomen
Gejala:
• 50% tak bergejala
• Perdarahan abnormal
• Hipermenorea
• Menoragia
• Metroragia
 hiperplasi endometrii. Permukaan endometrium menjadi luas, kontraksi tak optimal
• Nyeri
• Ok. Gangguan sirkulasi, nekrosis, peradangan, distensi jaringan sekitar
• Gejala penekanan
• Vesika urinaria poliuria, retensi urine, rektum obstipasi
• Infertilitas dan abortus

Tumor ganas wanita

TUMOR JINAK TUMOR GANAS
Ekspansif
Tak menyebar
Tak residif
Pertumbuhan lambat Infiltratif
Metastasis
Residif
Pertumbuhan cepat

Efek tumor pada penderita
• Karena posisi tumor menekan jaringan sekitar destruksi jaringan
• Komplikasi: Perdarahan, Torsi
• Produksi hormon

Faktor prognostik
 Derajat/stadium tumor
 Penyebaran tumor
 Patologi anatomi
 Keterlibatan limfonodi

Carcinoma cervix uteri
• Urutan pertama di Indonesia
• Usia terbanyak 45-50 tahun
• Faktor risiko
• Coitarche <= 16 tahun ( 5x dibanding 24 th)
• Tingginya paritas
• Jarak persalinan pendek
• Aktifitas seksual berganti pasangan
• Suami tak disunat
• HPV 16 dan 18
• Merokok
• Sosek rendah

Deteksi dini/Prevensi: Pap smear atau IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat Serviks)
• Patologi
• 90% jenis squamosa dan 10% adenocarcinoma
• Metaplasia squamosa pada columnar juction atypia (nucleus berbeda dg sel normal, sitoplasma mengecil)–. Displasia carcinoma insitu carcinoma

Cara pemeriksaan IVA
• Posisi litotomi
• Pasang spekulum cocor bebek kering tanpa pelumas
• Sumber cahaya lampu sorot 100 watt, kearah liang vagina
• Membasahi permukaan serviks dengan larutan asam asetat 5% selanjutnya dengan mata telanjang dilihat perubahan yang terjadi pada serviks:
• Negatif: tidak terdapat epithel putih pada daerah transformasi
• Positf: terdapat epithel putih pada daerah transformasi

Gejala dan tanda
• Keputihan berbau busuk (vaginal discharge)
• Contact bleeding
• Perdarahan spontan
• Anemia
• Penyebaran jauh  gagal ginjal, obstruksi usus, obstruksi traktus urinaria

Penanganan
• Operatif
• Radiotherapi
• Kemoterapi

CARCINOMA OVARII
• 20 % keganasan alat treproduksi
• Deteksi dini sangat sulit
• Faktor risiko; Diet, Pemakaian talk, familial

Gejala dan tanda
• Akibat pertumbuhan tumor:
• Benjolan, nafsu makan menurun, menekan kandung kencing, rasa penuh diperut, mual muntah, nyeri perut, acsites dan perdarahan
• Akibat aktifitas hormonal
• Akibat komplikasi: Perdarahan, Torsi, Infeksi

Penanganan
• Pengangakatan massa tumor dan alat genital
• Kemoterapi
• Radioterapi

CARCINOMA CORPUS UTERI
Faktor risiko: DM, Hipertensi, Obesitas, Nullipariti/ infertility, Early menarche dan late menopause, Estrogen pada menopause

Gejala
 Perdarahan perimenopause
 Rasa nyeri dan kontraksi rahim
 Penekanan karena pembesaran rahim

disalin dari : http://rofiqahmad.wordpress.com

Penderita Infertilitas Juga bisa Punya Keturunan

disunting dari http://neisha-diva.blogspot.com

*Hanya 10 Persen tak Diketahui Penyebabnya

*Jangan Malas Jalani Terapi
KEHADIRAN buah hati sudah pasti menjadi dambaan setiap pasangan suami istri. Sebab, keberadaan anak bukan saja hanya akan berperan sebagai penerus garis keturunan tetapi juga bakal menjadi pengisi hari-hari agar menjadi lebih ceria.
Hanya saja, setelah terjadinya pernikahan, tidak semua pasangan akan langsung mendapatkan anugerah berupa kehadiran buah hati. Karenanya tak mengherankan bila rasa resah akan langsung mendera pasangan yang tak kunjung dikaruniai anak meskipun sudah menikah lebih dari satu tahun dan selalu melakukan hubungan intim secara intens.
Munculnya gangguan mendapatkan keturunan pada pasangan yang telah menikah satu tahun atau lebih itu biasa disebut infertilitas atau kekurangmampuan pasangan untuk menghasilkan keturunan.
Infertilitas itu sendiri sebenarnya masih terbagi menjadi dua jenis yaitu infertilitas primer dan infertilitas sekunder. Infertilitas primer adalah suatu keadaan di mana pasangan yang telah lama menikah belum memiliki anak. Sedangkan infertilitas sekunder adalah keadaan di mana pasangan telah memiliki anak namun tak lagi dikaruniai anak dalam waktu yang lama.
“Pasangan suami istri yang telah lama menikah tapi belum dikaruniai keturunan bukan berarti mutlak tidak akan bisa menghasilkan keturunan. Karena sebenarnya hanya 10 persen saja infertilitas yang tidak diketahui penyebabnya. Sementara 90 persen lainnya hampir pasti diketahui penyebabnya,” ungkap dr Tjahja Sanggara SpOG, dokter spesialis kebidanan dan kandungan Rumah Sakit Awal Bros Batam.
Hanya saja, belakangan ini pasangan suami istri yang masih belum dikaruniai anak, terutama suami, enggan memeriksakan diri. Selain itu, pasangan suami istri kurang membekali diri dengan pengetahuan dan informasi mengenai penanganan kasus infertilitas. Kondisi tersebut akhirnya menimbulkan depresi dan putus asa yang akhirnya justru memperkecil kemungkinan untuk hamil. (*)

Obati Berdasarkan Penyebabnya
MENGENAI penyebab munculnya infertilitas itu sendiri sebenarnya dapat dibedakan menjadi beberapa jenis yang berbeda. Yakni 40 persen disebabkan kelainan suami, 40 persen disebabkan kelainan pada istri, 10 persen karena kelainan suami istri dan sisanya tidak diketahui penyebabnya.
Pada istri ada beberapa pencetus terjadinya infertilitas. Di antaranya hostile cervik yakni kondisi mulut rahim yang menyebabkan sperma hancur atau tidak masuk ke dalam rahim, tumor rahim seperti mioma dan polip endometrium, endomitrosis dan adenomiosis, kelainan pada saluran telur, dan kelainan ovulasi.
Sementara pencetus infertilitas pada suami adalah disfungsi seksual, kelainan bentuk penis, dan muara saluran, varises pada buah zakar, hormonal, kelainan sperma atau kelainan analisis sperma.
“Pencetus infertilitas pada suami juga bisa disebabkan oleh infeksi testis, saluran sperma tersumbat serta adanya folikel, jelas dr Syamsuhadi Alamsyah SpU, dokter spesialis urologi RS Awal Bros Batam.
Karenanya untuk memastikan penyebab infertilitas pada pasangan suami istri harus dilakukan sejumlah pemeriksaan. Hal ini penting guna menentukan terapi dan metode pengobatan yang paling tepat. Sehingga, pasangan tersebut bisa langsung mendapatkan keturunan sesuai keinginannya.
Pemeriksaan yang dimaksud adalah dengan melakukan analisa sperma, hormonal dan laboratorium serta kromosom suami. Sementara pemeriksaan pada istri bisa dilakukan melalui USG Abdomen atau transvaginal, HSG (histero salvingonrafi), laparoskopi diagnostik, hormonal dan laboratorium serta pemeriksaan kromosom.
Jika penyebab munculnya infertilitas diketahui, penanganan serta pengobatan akan lebih mudah dilakukan. Selain itu, penanganan yang dilakukan sesuai dengan penyebabnya diyakini hasil yang bakal diperoleh juga bisa tepat sasaran.
Selain disebabkan secara medis, kesulitan memiliki anak bisa juga disebabkan oleh faktor-faktor psikologis. Misalnya, stres pada suami atau pun istri. Pada suami, stres bisa menyebabkan ereksi pria tidak maksimal. Begitu pula jika terjadi tekanan dari lingkungan terhadap salah satu pasangan, baik istri maupun suami.
Apalagi terkadang keluarga pasangan yang belum punya anak ini ikut menekan, misalnya dengan menyuruh sang suami menikah lagi dan membebankan kesalahan hanya pada istri. Tak hanya itu, kondisi lingkungan pun ikut membebani, misalnya dengan pertanyaan-pertanyaan, kapan mereka akan punya momongan dan sebagainya. (*)

Atasi dengan Inseminasi
UNTUK mengatasi masalah infertilitas ada beberapa hal yang harus dilakukan. Pertama, segera periksakan diri ke dokter. Ini tak cuma dilakukan istri, tapi juga suami. Jika telah diketahui penyebabnya, segera lakukan pengobatan atau tindakan yang disarankan dokter.
Secara medis, ada beberapa cara yang bisa ditempuh untuk mengatasi infertilitas. Misalnya saja penanganan pada istri bisa dilakukan melalui operasi koreksi pada mulut rahim, saluran telur, dan indung telur.
Pelaksanaan operasi itu sendiri dapat dilakukan melalui operasi biasa atau laparotomi atau dengan operasi melalui alat teropong yang biasa disebut laparoskopi. Selain pelaksanaan operasi, penanganan kasus infertilitas juga akan dilakukan dengan memberikan obat-obatan. Sementara, penanganan infertilitas pada suami dapat dilakukan juga melalui operasi korerksi serta pengobatan.
Untuk beberapa kasus kesulitan pembuahan, harus dibantu dengan inseminasi ke dalam rahim. Inseminasi atau upaya memasukkan sperma ke dalam mulut rahim dapat dilakukan dengan menyuntikkan sperma ke dalam mulut rahim menggunakan suntikan kecil.
Menurut dr Tjahja Sanggara SpOG, inseminasi pertama dalam rahim bisa dilakukan dengan tingkat keberhasilan 15 persen pada wanita berusia di bawah 30 tahun, 12 persen pada wanita usia 30 hingga 35 tahun, 7 hingga 8 persen pada wanita usia 35 hingga 39 tahun.
Program inseminasi buatan itu sendiri bisa dilakukan jika terjadi infeksi pada leher rahim istri atau sperma suami kurang misalnya hanya berjumlah 1-5 juta. Ada pula cara lain untuk mendapatkan keturunan yakni melalui terapi hormon.
Sebenarnya, terapi hormon merupakan salah satu cara untuk mengobati endometriosis. Di sini, yang dilakukan adalah memberikan obat GnRH analog (agonis/antagonis). Namun, pemberian obat GnRH analog ini dapat menimbulkan efek samping yaitu muncul keringat dingin, sakit kepala, gangguan tidur, nyeri tulang, jantung berdebar-debar, serta vagina kering.
Cara lain yang cukup dikenal adalah program bayi tabung. Dalam program ini, sperma suami dan sel telur istri dipertemukan dalam tabung. Setelah benihnya hampir matang, barulah ditanamkan ke rahim istri. (*)