Bayi ASI Eksklusif=Bayi Dengan Gold Medal

BAYI ASI EKSKLUSIF = BAYI DENGAN GOLD MEDAL

Berikan bayi Anda hanya makanan dengan “standar emas”

Setiap tahun, tepatnya tanggal 1-7 Agustus, kita merayakan Pekan ASI Dunia. Tahun ini, karena bersamaan dengan pelaksanaan Olimpiade Beijing 2008, maka Dewan World Breastfeeding Week mengangkat tema dengan semangat olimpiade tersebut, yakni Mother Support: Going for The Gold.

Ibu menyusui dianggap sebagai seorang atlet. Bila seorang atlet ingin memenangkan pertandingan dan mendapatkan medali emas, maka harus ada tim yang mendukungnya, dari pelatih, promotor, bagian konsumsi, dan sebagainya. Begitu pula dengan ibu menyusui bila hendak mendapatkan “medali emas” dalam artian standar emas makanan bagi bayinya.

Nah, “medali emas” tersebut akan diperoleh apabila ibu melakukan 3 hal berikut:

1. Pemberian ASI eksklusif pada bayinya selama 6 bulan. Didahului dengan melakukan inisiasi menyusu dini, yaitu memberikan ASI sesegera mungkin setelah bayi lahir.

2. Pemberian makanan pendamping ASI, yaitu makanan keluarga secara bertahap, setelah bayi berusia 6 bulan.

3. Disamping pemberian makanan keluarga, ASI tetap diberikan sampai anak berusia 2 tahun atau lebih.

DUKUNGAN SEMUA PIHAK

Dengan ibu memberikan “standar emas” makanan pada anak, akan menghasilkan anak-anak yang memiliki potensi kecerdasan inteligensi, emosional dan spiritual yang baik. Nah, untuk itu Ibu tentu perlu dukungan dari semua pihak, antara lain:

* Pusat pelayanan kesehatan.

Hendaknya memungkinkan seorang ibu melahirkan melakukan inisiasi dini, rawat gabung antara bayi dengan ibunya dan tidak memisahkannya. Dokter atau bidan yang menanganinya pun turut mendukung ibu memberikan ASI eksklusif.

* Peran masyarakat.

Lingkungan keluarga yang mendukung pemberian ASI eksklusif, seperti peran suami, orangtua dan orang-orang di sekitar ibu menyusui. Selain itu, organisasi kemasyarakatan, lembaga-lembaga swadaya, peran media massa dan sebagainya dengan penyelenggaraan kampanye, promosi atau event-event yang terkait dengan ibu menyusui.

* Perusahaan/tempat bekerja.

Hendaknya perusahaan memiliki kebijakan bagi ibu menyusui. Apakah dengan memberi kesempatan pada Ibu untuk memerah ASI di sela-sela jam kerja, memberikan cuti yang memadai (misal, begitu ibu melahirkan maka masa cuti menyusuinya berlaku), dan lainnya.

* Pemerintah.

Dapat memberi dukungan pada ibu menyusui lewat kebijakan peraturan-peraturan yang memberikan perlindungan bagi ibu menyusui, serta turut membantu mempromosikan pemberian ASI eksklusif pada bayi.

Tentunya, semua pihak juga harus tetap memberikan dukungan pada ibu menyusui saat kondisi darurat, semisal bencana alam. Janganlah memberikan susu formula kepada bayi-bayi di daerah bencana tersebut. Tanpa pengetahuan yang betul, pemberian susu formula tersebut malah akan membahayakan. Jadi, berilah bantuan pada ibunya agar ia bisa tetap memberikan ASI eksklusifnya.

Narasumber:

dr. Utami Roesli, SpA., MBA., IBCLC.,

Ketua Klinik Laktasi Indonesia

AWALNYA INISIASI MENYUSU DINI

Inisiasi menyusu dini (IMD) meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif 6 bulan dan lama menyusu sampai dua tahun.

IMD adalah bagian dari proses persalinan dimana bayi-bayi yang lahir dalam 1 jam pertama kehidupannya (tanpa dimandikan) langsung ditengkurapkan di atas perut ibunya dan dibiarkan berjuang mencari puting sang ibu untuk menyusu. Jadi, setelah tali pusat bayi dipotong, ia akan dikeringkan, lalu ditaruh di dada ibu untuk mengisap puting (kontak dini). Bayi akan merangkak ke arah payudara dan menyusu sendiri (the breast crawl).

Umumnya, pada usia 50 menit dan tanpa bantuan, bayi berhasil menemukan payudara (dengan insting penciumannya) dan mengisap puting. Setelah itu, proses IMD masih berlanjut dengan membiarkan bayi menyusu minimal selama setengah jam. Barulah kemudian bayi dipisahkan dari ibunya untuk ditimbang, dicap, dan dibersihkan.

Pada dasarnya, setiap ibu yang melahirkan normal dengan kondisi bayi normal (tidak prematur atau berat lahirnya tidak rendah) dapat melakukan IMD. Bahkan, pada bayi yang lahir sesar pun IMD bisa dilakukan, tapi memang teorinya 50% yang akan berhasil. Yang penting ibu harus percaya diri. Ayah juga harus mendukung sehingga memungkinkan ibu sukses menjalaninya.

Langkah-Langkah IMD

1. Begitu lahir, bayi diletakkan di perut ibu yang sudah dialasi kain kering.

2. Keringkan seluruh tubuh bayi termasuk kepala secepatnya kecuali kedua tangannya.

3. Tali pusat dipotong lalu diikat.

4. Vernix (zat lemak putih) yang melekat di tubuh bayi sebaiknya tidak dibersihkan karena zat ini membuat nyaman kulit bayi.

5. Tanpa dibedong, bayi langsung ditengkurapkan di dada atau perut ibu dengan kontak kulit bayi dan kulit ibu. Ibu dan bayi diselimuti bersama-sama. Jika perlu, bayi diberi topi untuk mengurangi pengeluaran panas dari kepalanya. Usah khawatir bayi akan kedinginan karena kulit ibu bersifat termoregulator atau thermal sinchrony bagi suhu bayi. Jika bayinya kedinginan, suhu kulit ibu otomatis naik dua derajat untuk menghangatkan bayi. Sebaliknya jika bayi kepanasan, suhu kulit ibu otomatis turun satu derajat untuk mendinginkan bayinya.

KOMPOSISI ASI

Produksi ASI disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing bayi.

BERBEDA DARI HARI KE HARI

ASI adalah cairan “hidup” yang komposisinya lengkap dan menyesuaikan dengan kebutuhan bayi dari hari ke hari. Pada hari ke-1 sampai kurang lebih hari ke-4 disebut susu jolong atau kolostrum, banyak mengandung protein untuk daya tahan tubuh. Pada hari ke-3 hingga kurang lebih hari ke-10 disebut ASI transisi, kadar proteinnya berkurang sementara kadar karbohidrat dan lemak meningkat. Volumenya pun makin banyak sesuai kebutuhan menyusu bayi yang semakin tinggi. Kemudian di hari ke-10 dan selanjutnya disebut ASI mature, yaitu susu padat untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembang bayi.

FOREMILK & HINDMILK

Komposisi ASI juga berbeda dari setiap semburan yang keluar. Semburan pertama, yang keluar pada 5-10 menit pertama, disebut foremilk. Susu ini lebih cair/encer dengan kadar lemak lebih rendah. Semburan berikutnya (di atas 10 menit) disebut hindmilk, adalah adalah susu yang komposisinya lebih kental dengan kandungan protein, lemak dan karbohidrat lebih padat. Jadi, secara alamiah memang sudah disiapkan, semburan pertama berkomposisi lebih ringan untuk menyiapkan pencernaan bayi sebelum menerima ASI dengan lemak yang lebih tinggi.

BERSIFAT INDIVIDUAL

ASI diproduksi sesuai dengan kebutuhan bayi yang dilahirkan pada masing-masing usia kehamilan. Jadi, ASI pada ibu yang melahirkan cukup bulan memang diperuntukkan bagi kebutuhan bayi yang lahir di usia kehamilan tersebut. Begitu pun ASI pada ibu yang melahirkan di usia kurang bulan, diperuntukkan hanya bagi bayinya. Bahkan, meski dua ibu melahirkan pada hari, tanggal, dan jam yang sama serta di usia kehamilan yang sama pula, produksi ASI-nya juga akan berbeda sesuai dengan kebutuhan bayi masing-masing. Selain itu, bakteri yang terdapat di dalam ASI berbeda-beda.

Misal, ibu A pernah kena demam berdarah selagi hamil, maka bayinya sudah terlindung dari virus demam berdarah setelah mendapatkan ASI. Tapi bila bayi ibu A disusui oleh ibu B yang belum pernah kena demam berdarah, maka bayi ibu A tidak terlindungi dari virus tersebut.

Keunggulan ASI Tak Tersaingi

Bagaimanapun, tak ada susu yang dapat melebihi keunggulan ASI. Banyak sekali keunggulan ASI, di antaranya adalah:

1. Terdiri lebih dari 200 biofactors system (nutrisi yang terintegrasi dalam jumlah dan perbandingan yang tepat, sehingga menghasilkan nutrisi tumbuh kembang dan perlindungan/daya tahan tubuh yang optimal. Bandingkan dengan susu formula yang hanya berkisar 30-40 biofactors.

2. Mencegah kekurangan suplai imunitas terbaik, karena di dalam ASI terkandung imunitas yang sangat diperlukan bayi untuk melawan banyak penyakit.

3. Terbukti dapat menurunkan risiko terserang penyakit akut dan kronis, seperti meningitis bakterialis (peradangan selaput otak yang disebabkan bakteri), infeksi saluran urogenitalis (infeksi pada organ reproduksi dan saluran kemih), otitis media (peradangan telinga), sepsis (infeksi dalam darah), botulism (keracunan akibat makanan/minuman yang diawetkan secara tidak benar), diare, serangan alergi, diabetes di usia dini, penyakit pembuluh darah koroner (coronary artery disease), serangan radang paru-paru, dan ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas), limphoma maligna (salah satu penyakit ganas di organ limfa).

4. Dari berbagai penelitian terbukti, anak yang mendapatkan ASI umumnya memiliki kecerdasan lebih dibanding anak yang tak diberi ASI eksklusif.

BREASTFEEDING FATHER

Bukan ayah yang menyusui, tapi ayah yang sangat mendukung

Sebetulnya proses menyusui bukan hanya antara ibu dan bayi, tetapi ayah juga memiliki peran yang sangat penting dan dituntut keterlibatannya. Sayangnya, dalam benak masyarakat luas, yang namanya menyusui dan mengasuh bayi adalah urusan ibu saja. Padahal sebenarnya tidaklah demikian. Keberhasilan menyusui dan mengasuh anak merupakan hasil kerja sama antara ibu, bayi, dan ayah.

Jadi, agar proses menyusui lancar, diperlukan breastfeeding father yaitu ayah membantu ibu agar bisa menyusui dengan nyaman sehingga ASI yang dihasilkan maksimal. Ada banyak hal praktis yang dapat dilakukan seorang breastfeeding father dalam mengasuh bayinya sehari-hari. Di antaranya membantu menggendong bayi dan memberikannya kepada ibu saat ingin menyusu, kemudian membantu bayi bersendawa setelahnya. Ayah membantu memandikan, mengganti popok, dan memijat bayi setiap hari, serta mengajaknya bermain. Ayah juga diharapkan membantu pekerjaan rumah tangga.

Dengan demikian, ibu bisa beristirahat cukup karena hatinya senang dan pikirannya pun tenang, yang akhirnya berdampak pada produksi ASI jadi lebih banyak. Ketahuilah, produksi ASI 80-90%-nya ditentukan oleh bagaimana keadaan emosi sang ibu. Di sinilah posisi ayah yang besar peranannya sebagai breastfeeding father. Nah, agar ayah semakin paham bagaimana memberikan dukungan kepada ibu, dianjurkan untuk aktif belajar tentang ASI.

Dengan pola asuh yang juga melibatkan peran ayah ini, akan memberikan jalinan kasih yang sangat baik antara ibu, ayah, dan bayi. Si kecil pun akan tumbuh sehat, kuat, dan cerdas.

PERSIAPAN MENYUSUI

Persiapan mental dan fisik yang cukup membuat proses menyusui menjadi mudah dan menyenangkan.

Selain mengonsumsi makanan bergizi dan menjalani pola hidup sehat, ada 3 hal penting yang perlu dilakukan ibu agar sukses menyusui, yaitu:

1. Tumbuhkan Niat

Niat adalah kunci sukses untuk memberikan ASI eksklusif bagi sang buah hati. Niat ini harusnya sudah tertanam kuat jauh hari sebelumnya, yakni sejak si kecil masih berada dalam kandungan ibu. Ibu harus bertekad akan memberikan makanan yang terbaik bagi bayinya. Dengan niat bulat, ibu akan berpikir optimis. Dari situ terbentuk energi positif yang akan memengaruhi kesiapan semua organ-organ menyusui sehingga ASI pun mengalir lancar. Jika ibu yakin bisa menyusui, ASI yang keluar pasti banyak.

2. Hilangkah Stres

Buang jauh-jauh semua pikiran negatif tentang ASI dan menyusui. Yakinlah, setiap ibu pasti bisa menyusui dan bayi tak akan pernah kekurangan ASI. Di sisi lain, ibu juga tak boleh terlalu bersemangat untuk memberikan ASI, karena sikap berlebihan ini (euforia) akan mengganggu sistem metabolisme produksi susu sehingga ASI yang keluar justru jadi sedikit. Bila ada masalah, ibu dianjurkan berkonsultasi ke klinik laktasi.

3. Lakukan Pijat Payudara

Pemijatan pada payudara dapat meningkatkan volume ASI, lakukan dua kali sehari saat mandi pagi dan sore. Berikut panduannya:

a. Cuci tangan sampai bersih, keringkan, lalu tuangkan minyak ke telapak tangan. Sokong payudara kiri dengan tangan kiri. Buatlah gerakan melingkar kecil-kecil dengan dua atau tiga jari tangan kanan, dari pangkal payudara dan berakhir di daerah puting susu dengan gerakan spiral. Puting tak perlu dipijat karena tak berkelenjar. Kemudian, buat gerakan memutar sambil menekan dari pangkal payudara dan berakhir pada puting susu di seluruh bagian payudara. Lakukan hal sama untuk payudara kanan.

b. Letakkan kedua telapak tangan di antara dua payudara. Urut dari tengah ke atas sambil mengangkat kedua payudara dan lepaskan kedua payudara secara perlahan-lahan. Lakukan gerakan ini kurang lebih 30 kali.

c. Sangga payudara kiri dengan kedua tangan, ibu jari di atas dan empat jari lain di bawah. Peras dengan lembut payudara sambil meluncurkan kedua tangan ke depan ke arah puting susu. Lakukan hal yang sama pada payudara kanan.

d. Kemudian lakukan gerakan tangan dengan posisi paralel. Sangga payudara dengan satu tangan, sedangkan tangan lain mengurut payudara dengan sisi kelingking dari arah pangkal payudara ke arah puting susu. Lakukan gerakan ini kurang lebih 30 kali.

e. Letakkan satu tangan di sebelah atas dan satu lagi di bawah payudara. Luncurkan kedua tangan secara bersamaan ke arah puting susu dengan cara memutar tangan. Ulangi gerakan ini sampai semua bagian payudara terkena urutan.

f. Selanjutnya puting dibersihkan dengan menggunakan kapas dan minyak. Minyak berguna untuk melenturkan dan melembapkan puting agar saat menyusui puting tak gampang lecet. Bersihkan dengan kapas bersih yang dicelup ke dalam air hangat.

g. Usai pemijatan, lakukan pengompresan. Sediakan dua baskom sedang yang masing-masing berisi air hangat dan air dingin. Dengan menggunakan waslap, kompres kedua payudara bergantian dengan air dingin, masing-masing selama satu menit. Selanjutnya, kompres bergantian selama 3 kali berturut-turut dan akhiri dengan kompres air hangat. Bersihkan dengan handuk hingga kering.

h. Usai dipijat, ketuk-ketuklah payudara memakai ujung jari atau ujung ruas jari. Gunanya agar sirkulasi darah bekerja lebih baik.

POSISI MENYUSUI

Saat menyusui, perhatikan benar posisinya agar hasilnya maksimal.

1. Ambil posisi menyusui yang nyaman dan serelaks mungkin agar tak melelahkan. Caranya, duduklah tegak dengan punggung tersangga baik. Peluk bayi dengan seluruh badannya menghadap payudara. Posisinya harus lurus searah, dari kuping, hidung, dan badannya. Perut bayi menempel pada perut ibu atau payudara bagian bawah. Dagunya menempel di payudara ibu.

2. Jika bayi menyusu pada payudara kiri, letakkan kepalanya di siku lengan kiri ibu, sementara lengan kanan bayi memeluk belakang punggung ibu. Lengan kiri bayi ke arah bebas ke payudara. Pundak bayi dan kaki dalam posisi segaris.

3. Letakkan ibu jari tangan Anda di atas puting dan keempat jari di bawah puting untuk menopang payudara. Jangan meletakkan jemari dalam posisi “menggunting” karena akan menghambat keluarnya ASI.

4. Posisi tubuh ibu yang paling tepat adalah duduk dan tidur. Ibu yang menjalani persalinan dengan operasi dan perutnya masih luka, bisa memegang bayi dengan posisi badan bayi agak ke atas dan kepalanya ke arah payudara.

Tip Penting

* Sebelum menyusui, oleskan puting dengan susu pertama yang keluar agar aromanya mengundang selera bayi untuk menyusu.

* Susui bayi setiap kali ia menginginkannya dan selama yang ia mau.

* Usai menyusui, lepaskan puting dengan memasukkan jari kelingking ibu ke mulut bayi melalui sudut mulut atau menekan dagu bayi ke bawah. Jangan langsung menariknya selagi masih berada di dalam mulut bayi karena akan membuat puting lecet.

* Bila puting lecet, lakukan kompres es di payudara dan tetaplah menyusuinya. Usai menyusui, keringkan, lalu usapkan tetesan ASI untuk perlindungan. Jika ada obat dari dokter bisa digunakan asal dibersihkan kembali kala akan menyusui.

BILA ASI SEDIKIT

Secara teoritis, ASI sebenarnya tak pernah kurang, karena produksinya akan disesuaikan dengan kebutuhan bayi. Apa sebab dan solusinya?

FAKTOR PSIKOLOGIS

Ibu selalu berpikir negatif tentang ASI, semisal ASI tak cukup, repot memberikan ASI karena harus bekerja, takut bentuk payudara berubah gara-gara ASI, atau badan jadi gemuk, dan lainnya, akan memberi pengaruh psikologis yang sangat besar terhadap produksi ASI. Pikiran-pikiran “jelek” ini sering kali membuat proses menyusui tidak berhasil, padahal mungkin tadinya ibu yakin dirinya dapat menyusui. Begitu pun bila ibu mengalami post-partum blues atau kesedihan pascapersalinan.

Solusi:

Ibu mesti berpikir positif dan tenang. Ketahuilah, saat bayi mengisap ASI, terjadi dua refleks, yaitu refleks prolaktin (refleks pembentukan ASI) dan refleks oksitosin untuk mengalirkan ASI. Nah, pikiran yang positif dan tenang akan meningkatkan “kerja” refleks oksitosin, sehingga ASI dapat dialirkan sesuai dengan kebutuhan bayi. Dukungan keluarga, terutama pasangan, sangat dibutuhkan untuk membuat ibu selalu berpikir positif dan berada dalam kondisi senang/bahagia.

POSISI MENYUSUI KURANG TEPAT

Bila mulut dan dagu bayi tidak menempel pada payudara ibu dan perut bayi juga tidak menempel sehingga lehernya berputar, maka areolanya juga tidak akan masuk ke dalam atau hanya di bibir bawah bayi. Akibatnya, bayi mengisap susu hanya sebentar-sebentar, gelisah atau malah menolak menyusu karena ia tidak mendapat ASI yang cukup. Kalau sudah begitu, bayi gampang rewel karena kurang kenyang.

Solusi:

Perhatikan posisi menyusui yang benar (lihat h.11). Pastikan aerola ibu masuk ke mulut bayi, sementara dagu bayi menempel pada payudara dan perut bayi menempel pada perut ibu. Bila posisinya tepat, bayi akan terlihat santai dan senang mengisap ASI secara perlahan, sementara ibu tidak merasakan nyeri pada putingnya.

KURANG RANGSANGAN

Pada dasarnya, produksi ASI sudah disesuaikan dengan kebutuhan. Dalam hal ini refleks oksitosin yang membuat ASI lancar mengalir dari “gudang susu” yang terdapat pada areola. Refleks ini bekerja

sebelum dan saat menyusui. Isapan bayi akan menghasilkan rangsangan sensorik dari puting yang selanjutnya menghasilkan hormon oksitosin dalam darah. Pada saat yang sama terjadi pula rangsang sensorik dari puting yang menghasilkan hormon prolaktin dalam darah. Prolaktin inilah yang bertugas memberi perintah langsung kepada “pabrik susu” untuk kembali memproduksi ASI. Jadi, ASI akan berkurang bila tidak langsung diisap atau diperah. Jika payudara tetap penuh akan terbentuk PIF (Prolactin Inhibiting Factor), yakni zat yang menghentikan pembentukan ASI.

Solusi:

Susui bayi setiap kali bayi menginginkannya dan tanpa kenal waktu (on demand). Pada ibu bekerja, susui bayi langsung dari payudara setelah ibu kembali ke rumah, jangan berikan lagi ASI perah. Semakin sering bayi menyusu, maka produksi ASI pun akan semakin berlimpah.

Tip Agar ASI Lancar

Ibu pun perlu melakukan hal-hal berikut ini agar produksi ASI-nya lancar:

* Konsumsi makanan bergizi seimbang, beragam, dan bervariasi.

* Cukup istirahat.

* Pijat payudara secara rutin. Lakukan minimal satu kali sehari untuk menjaga agar “pabrik” susu tetap berfungsi baik.

* Lakukan pijat bayi. Sentuhan pada kulit bayi berupa pijatan lembut mampu meningkatkan nafsu makan bayi, sehingga bayi jadi sering menyusu.

Bila ASI Banjir

Bila ASI ibu banyak dan berlimpah, ini pertanda ibu sangat sehat. Tentu bagus jika produksi ASI banyak apalagi sampai berlimpah. Hanya saja, bila pancarannya terlalu deras, bayi jadi gelagapan sehingga membuatnya tersedak. Akibatnya, bayi jadi enggan menyusu,

Solusi:

* Sebelum menyusui, pompa/perah dulu beberapa cc fore milk-nya. Dengan begitu, saat bayi menyusu tidak terlalu penuh lagi sehingga ASI tidak memancar terlalu deras. Nantinya foremilk yang dikeluarkan tersebut tetap diberikan pada bayi dengan cara disendokkan agar bayi tidak kurang cairan.

* Bila ASI memancar deras karena pengaruh gravitasi bumi, hindari menyusui bayi dalam posisi duduk karena akan membuat bayi “gelagapan”, lalu batuk, tersedak, perutnya menjadi kembung, dan sering gumoh. Sebaiknya ambil posisi tidur sehingga secara tak langsung payudara akan rata pada permukaan.

* Bisa juga ibu tidur telentang dengan posisi bayi di atas badan ibu. Dengan begitu, ASI ditarik oleh gravitasi bumi hingga ia tidak keluar memancar.

BILA IBU SAKIT

Tetaplah menyusui, kecuali penyakitnya tergolong berat.

Ibu yang sakit tetap bisa menyusui anaknya, karena dalam ASI terkandung antibodi untuk melawan penyakit yang bersangkutan. Jadi, berhenti menyusui saat sakit karena takut menulari bayi adalah tindakan yang salah. Justru risiko tertular akan lebih besar bila ibu malah buru-buru mengganti ASI dengan susu dan makanan/minuman lain dibandingkan bila bayi terus menyusu ASI meski ibu sedang sakit.

Jadi, kalau hanya sekadar sakit batuk-pilek dan diare, pemberian ASI tak jadi masalah. Lagi pula, jenis penyakit ini ditularkan bukan lewat ASI, melainkan udara atau anggota tubuh yang tak bersih. Karenanya, pemberian ASI tak perlu dihentikan, asal saat menyusui ibu menggunakan masker dan sebelum memegang bayi agar cuci tangan dulu hingga bersih. Ibu juga tak perlu berhenti menyusui hanya karena sedang minum obat-obatan flu, batuk, atau diare ringan. Bukankah obat-obatan yang dijual bebas dengan berbagai merek banyak yang aman untuk ibu menyusui? Tapi bila ibu ragu-ragu, sebaiknya hubungi ahli kebidanan atau dokter anak langganan agar ibu lebih mantap sebelum mengonsumsi obat.

Lain hal bila penyakitnya tergolong berat semisal ibu harus menjalani pengobatan kanker, disarankan menghentikan pemberian ASI. Obat-obatan antikanker bersifat sitostatik yang prinsipnya mematikan sel. Jika obat-obatan ini sampai terserap ASI lalu diminumkan ke bayi, dikhawatirkan mengganggu pertumbuhan sel-sel bayi. Padahal, bayi tengah berada dalam masa pertumbuhan yang sangat cepat. Begitu pun dengan ibu penderita sakit jantung yang berat, hepatitis yang parah, maupun pengidap positif HIV/AIDS, sebaiknya tidak menyusui bayinya.

Bagaimana dengan ibu pengidap TBC aktif? Tetap boleh menyusui karena kuman TBC tak ditularkan melalui ASI. Tapi tentu ibu harus berobat secara benar dan saat menyusui harus menggunakan masker untuk mencegah penularan. Selain itu, bayi jangan diberi imunisasi BCG dulu. Setelah masa pengobatan ibu selesai dan ibu sudah tidak menularkan lagi, maka bayi diuji lewat tes Mantoux. Bila hasilnya negatif, bayi dapat diberi vaksinasi BCG.

RELAKTASI

Jika pemberian ASI sempat terputus, ibu dapat melakukan relaktasi sehingga si kecil bisa mendapatkan ASI-nya kembali.

Tidak sedikit ibu ingin kembali memberikan ASI kepada bayinya setelah sempat terputus selama beberapa waktu. Hal ini tetap dimungkinkan kok. Namun tentunya dibutuhkan semangat yang tinggi dari ibu, disamping dukungan dari semua pihak dan teknik menyusui yang benar. Pasalnya, selama masa “istirahat” dari kegiatan menyusui, produksi ASI akan jauh berkurang atau bahkan terhenti.

LANGKAH-LANGKAH RELAKTASI

Nah, agar ibu dapat memberikan ASI-nya kembali kepada si buah hati, berikut yang perlu dilakukan:

* Berkonsultasilah ke klinik laktasi karena ibu tentu membutuhkan arahan dan dukungan dari ahlinya.

* Di awal menyusui biasanya ibu membutuhkan alat bantu berupa lactation aid yang terdiri atas botol plastik berisi ASI donor atau susu formula. Botol plastik ini diposisikan dengan mulut terbalik, lalu dari tutup botol dialiri 2 buah selang kecil yang ditempelkan pada kedua puting ibu. Dengan demikian, sewaktu bayi mengisap payudara layaknya menyusu, ia akan mendapat asupan susu dari botol. Atau modifikasi berupa spuit dan selang nasogastric tube yang halus. Dengan cara ini, selain bayi mendapatkan nutrisi dari ASI donasi atau susu formula, isapan bayi pada puting akan memberi manfaat berupa stimulasi pada organ produksi ASI yang berada di bawah puting dan aerola.

* Dalam tenggang waktu yang bersamaan, ibu juga dianjurkan mengonsumsi obat-obatan yang mengandung oksitosin guna merangsang produksi ASI-nya. Disamping, meningkatkan konsumsi makanan bergizi seimbang, beragam, dan bervariasi.

* Stimulasikan payudara dan organ-organ produksi ASI dengan cara dipompa/diperah dan pemijatan.

* Ajarkan kembali si kecil bagaimana cara menyusu di payudara ibu. Susui bayi secara teratur dan sesering mungkin.

* Usahakan ibu relaks saat menyusui dan jangan pernah memaksa anak menyusu. Jika si kecil menolak atau kelelahan tentu akan mengganggu proses jalannya relaktasi. Jika terus dipaksakan bisa-bisa anak trauma sementara ibu frustrasi.

ASI “BAGUS” BERKAT MAKANAN BERGIZI

Makanan yang dikonsumsi ibu di masa menyusui sangat berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas ASI.

Kebutuhan gizi ibu menyusui lebih besar dari kebutuhan ibu hamil, terutama pada 6 bulan pertama pascapersalinan. Selain karena ibu perlu energi ekstra untuk memulihkan kondisi kesehatannya setelah persalinan, juga untuk aktivitasnya sehari-hari dan terlebih lagi untuk produksi pembentukan ASI-nya, baik dalam hal kualitas maupun kuantitas. Nah, berikut ini adalah zat-zat gizi yang harus menjadi asupan ibu setiap hari. Semua zat gizi itu penting, tak ada yang lebih diutamakan, karena masing-masing memiliki fungsi berbeda-beda. Jadi, semua zat gizi di bawah ini harus ada dalam makanan ibu menyusui.

KARBOHIDRAT

Kekurangan karbohidrat takkan berpengaruh pada produksi ASI, karena ASI akan terus diproduksi dengan mengambil cadangan si ibu sehingga ibu akan kekurangan tenaga. Namun kalau kelebihan akan menyebabkan kegemukan pada ibu karena kelebihannya disimpan jadi lemak. Makanan sumber karbohidrat atau sumber tenaga antara lain: nasi, kentang, roti, ubi, mi atau jagung.

PROTEIN

Pada 6 bulan pascapersalinan, ibu butuh tambahan protein sebesar 16 gram dari keadaan normal sebesar 51 gram, dan 6 bulan selanjutnya sebesar 12 gram. Protein bisa diperoleh dari tempe, tahu dan jenis kacang-kacangan untuk protein nabati. Untuk protein hewani didapat dari daging, telur, hati, dan ikan. Bila tubuh kelebihan protein akan diubah jadi lemak dalam tubuh. Sedangkan bila kekurangan, dalam batas-batas tertentu, akan berpengaruh pada produksi ASI yang sedikit serta kualitas ASI yang rendah. Tentunya akan berpengaruh pula pada perkembangan otak dan pertumbuhan bayi.

LEMAK

ASI yang berkualitas membutuhkan zat-zat lemak tak jenuh ganda untuk perkembangan otak dan retina mata bayi. Asam lemak tak jenuh ganda dalam ASI akan terbentuk bila ibu mengonsumsi bahan makanan seperti minyak jagung atau minyak biji kapas dan ikan dari perairan laut dalam, seperti haring atau salmon yang mengandung asam lemak tak jenuh. Lemak berfungsi untuk daya tahan tubuh, selain sebagai pelumas (semisal pelumas kulit, sendi-sendi, dan lainnya), dan bahan pembuat hormon-hormon. Sebagai sumber energi, lemak kalau dibakar dalam tubuh akan jadi karbohidrat. Bila ibu menyusui kekurangan lemak, bisa membuat kurus, daya tahan turun, kulit keriput, dan produksi hormon terganggu. Bila kelebihan, dapat menyebabkan kegemukan.

VITAMIN & MINERAL

Meski yang dibutuhkan hanya sedikit sekali sehingga pertambahannya pun bagi ibu menyusui tak begitu menonjol, namun bukan berarti boleh diabaikan mengingat fungsinya untuk melancarkan metabolisme tubuh. Vitamin dan mineral dapat diperoleh dari aneka sayur dan buah.

Kalori/Energi

Kebutuhan kalori per hari terdiri atas 60-70% karbohidrat, 10-20% protein, dan 20-30% lemak. Pada 6 bulan pascapersalinan, ibu butuh tambahan 700 kalori dari keadaan normal sebesar 2.200 kalori, dan 6 bulan selanjutnya sebesar 500 kalori. Sebagai sumber energi, kalori berguna untuk metabolisme tubuh, kerja organ tubuh seperti untuk aktivitas fisik sehari-hari, dan proses pembentukan ASI. Kelebihan kalori menyebabkan kegemukan pada ibu, bila kekurangan menyebabkan kurang gizi. Dalam batas-batas tertentu, kekurangan gizi pada ibu akan berpengaruh pada kualitas dan kuantitas ASI, yang tentunya akan berdampak pula pada bayi.

Cairan

Cairan berfungsi sebagai pelarut zat gizi dalam proses metabolisme tubuh. Kebutuhan cairan pada ibu menyusui setiap harinya minimal 2 liter, lebih banyak lebih baik. Kelebihan cairan tak bermasalah karena tubuh punya mekanisme untuk pembuangannya. Namun bila kekurangan bisa menyebabkan ibu mengalami dehidrasi. Dianjurkan mengonsumsi juga cairan yang mengandung gizi, semisal air sayuran, air kacang-kacangan, sari buah-buahan, atau susu terutama susu khusus ibu menyusui dengan kandungan AA & DHA (penting untuk perkembangan otak bayi), kolin (dibutuhkan untuk pertumbuhan organ, terutama sels-sel otak bayi), serta omega 3 dan omega 6 (untuk perkembangan otak bayi).

PERSIAPAN IBU BEKERJA

Meski bekerja, ibu tetap dapat memberikan ASI eksklusif pada bayinya. Solusinya adalah ASI peras/perah.

KAPAN MULAI MENYETOK ASI?

Jawabannya tergantung dari ketersediaan tempat penyimpanan ASI yang ada. Jika ibu memiliki lemari es, maka bisa dilakukan penyetokan dua minggu sebelum bekerja. Bila lemari esnya memiliki freezer, maka bisa menyetok ASI sejak dari ibu melahirkan, karena ASI bisa bertahan sampai 3 bulan. ASI perah yang disimpan dapat diberikan pada bayi ketika ibu tidak berada di rumah.

PERSIAPAN MEMERAH

Waktu yang paling tepat untuk memerah ASI ketika payudara sedang penuh, bisa diulang kembali sekitar 3-4 jam. Sebelumnya, minumlah satu gelas air/sari buah/susu/secangkir sup atau kacang hijau. Jangan lupa, alat-alat yang akan digunakan untuk memerah harus disetrilisasi lebih dulu.

Ibu pun harus mencuci tangannya dengan sabun dan air tiap kali hendak mulai memerah, sedangkan payudara cukup dicuci dengan air. Jangan gunakan sabun atau apa pun pada puting.

TEKNIK MEMERAH

Ibu bisa memerah dengan tangan/jari ataupun menggunakan alat bantu perah, seperti pompa ASI elektrik. Ibu tinggal pilih, manakah yang lebih nyaman. Bila menggunakan alat bantu, ikuti petunjuk yang tertera di kemasannya.

Bila ibu memilih memerah dengan tangan, berikut panduannya:

1. Duduklah dengan nyaman dan santai. Perah sedikit ASI, lalu oleskan ASI tersebut ke puting susu dan sekitarnya sebelum memerah.

2. Letakkan wadah untuk menampung ASI yang telah disiapkan di depan puting.

3. Letakkan jari telunjuk dan jari tengah di posisi pukul 06.00, serta ibu jari di posisi pukul 12.00 pada aerola. Kemudian lakukan penekanan ke arah dada ibu tegak lurus dan pijat ke arah luar tanpa mengubah posisi jari. Ulangi gerakan seperti ini sampai selesai, kemudian ganti posisi ibu jari pada pukul 09.00, dan jari telunjuk serta jari tengah pada posisi pukul 03.00. Kedua posisi yang berbeda perlu dilakukan untuk memastikan bahwa ASI terperah dari semua segmen.

Dengan cara yang tepat, selain tidak menimbulkan rasa nyeri/sakit, jumlah ASI yang diperah pun bisa banyak dan kesterilannya juga tetap terjaga. Prosedur persiapan dan pemerahan ASI dengan tangan membutuhkan waktu kurang lebih 20-30 menit. Bila pasokan ASI sudah baik, patokan waktu dapat diabaikan. Batasan waktu bermanfaat bila ASI hanya keluar sedikit atau bahkan belum keluar sama sekali.

MENYIMPAN ASI PERAH

ASI perah harus disimpan dengan baik agar dapat bertahan lama. Caranya, simpan dalam wadah penyimpan khusus ASI atau gunakan botol steril, plastik higienis, lalu tutup rapat-rapat. Cantumkan jam dan tanggal ASI ketika diperah pada label, rekatkan ke wadah ASI. Bila disimpan di udara terbuka, ASI perah bisa tahan 6-8 jam, tapi dimasukkan ke dalam termos dan diberi es batu, akan tahan kira-kira 1×24 jam. Sedangkan bila dimasukan di lemari es, bisa tahan 2×24 jam, dan akan tahan lebih lama lagi yaitu 3 bulan bila bila dimasukkan dalam freezer. Hanya saja, bila dimasukkan ke dalam freezer, ASI akan mengalami perubahan dalam hal jumlah imunoglobulin (protein molekul yang berfungsi sebagai daya tahan tubuh) karena ada yang mati akibat kedinginan.

MENGHANGATKAN ASI

Bila ASI disimpan dalam freezer, sehari sebelum diminumkan, keluarkan ASI dan simpan di kulkas pendingin agar mencair. Sebelum diberikan pada bayi hangatkan ASI lebih dulu dengan meletakkan botol berisi ASI ke dalam mangkuk yang telah diisi air hangat suhu kamar (26-27°C), tidak boleh panas mendidih karena dapat merusak zat kekebalan tubuh yangter kandung dalam ASI. Jangan panaskan ASI langsung di atas api/microwave sebab dapat merusak komposisi dan kandungan gizinya.

BERIKAN ASI PAKAI SENDOK

Suapkan ASI suam-suam kuku dengan menggunakan sendok atau pipet plastik agar bayi tidak mengalami “bingung puting” (kesulitan untuk kembali menyusu dengan benar pada payudara ibu). Mengenai pemberian ASI pakai sendok/pipet plastik ini, boleh saja ibu melatihnya lebih dahulu sebelum masa cuti berakhir, akan tetapi tidak perlu dijadwalkan waktunya dan bisa dilakukan kapan saja. Satu hal yang pasti, pemberian ASI pakai sendok/pipet plastik hanya pada saat ibu bekerja atau ketika tidak bersama bayi. Jadi, setelah ibu kembali ke rumah, bayi harus tetap diberikan ASI secara langsung.

PANDUAN MEMILIH POMPA ASI

Pompa ASI bisa menjadi alternatif karena praktis dan hemat waktu.

* Bila sering bepergian, pilih pompa yang ringan atau berukuran kecil dan memiliki wadah yang praktis untuk dibawa-bawa.

* Bila waktu Anda terbatas karena aktivitas kantor yang padat, pilihlah pompa elektrik. Bila perlu, pilihlah yang memiliki 2 corong sekaligus agar lebih praktis.

* Alat pompa harus dapat dicuci semua bagiannya, kecuali tempat baterai/listriknya. Juga mudah dibongkar pasang, mengingat setiap bagian pompa harus disterilisasi setiap usai digunakan.

* Hendaknya pompa tidak mengeluarkan suara terlalu bising yang dapat memengaruhi konsentrasi saat memerah dan pada akhirnya memengaruhi jumlah perahan ASI.

* Pilih pompa yang memiliki pengaturan kekuatan menyedot sehingga dapat disetel sesuai keinginan dan kenyamanan Anda. Bahkan beberapa pompa ASI manual memiliki setelan kekuatan memompa.

* Pastikan corong pompa memiliki ukuran yang sesuai dengan ukuran payudara Anda.

* Beberapa pompa ASI dilengkapi sistem pengoperasian ganda.

Maksudnya, dapat digunakan secara manual sekaligus elektrik. Bahkan beberapa pompa dilengkapi pula dengan baterai cadangan sehingga bila sewaktu-waktu listrik mati atau ingin memompa di tempat yang tidak ada listrik, pompa ASI tetap dapat digunakan.

PLUS-MINUS

Pompa Manual

Pompa Elektrik

Plus Lebih praktis, karena tidak perlu baterai atau listrik sehingga dapat dibawa ke mana pun ibu pergi dan umumnya lebih tahan lama dibandingkan dengan yang elektrik. Tenaga listrik/baterai memungkinkan pemerahan dilakukan dengan konstan sehingga dapat lebih memaksimalkan pengosongan ASI pada payudara dan membuat produksi ASI tetap maksimal.
Minus “Tenaga” untuk memerahnya tidak konstan. Ketika tangan mulai lelah, tekanan pada pompa pun berkurang sehingga berdampak pada ASI yang dikeluarkan. Dapat rusak jika perangkatnya dipaksa bekerja terus karena kemungkinan menjadi aus pada komponen peralatannya lebih besar dan perlu tersedia baterai/listrik.

PERLENGKAPAN MENYUSUI

Agar aktivitas menyusui bisa berlangsung lancar dan nyaman, tentu ibu membutuhkan perlengkapan pendukungnya. Beberapa di antaranya adalah:

Harmony BreastpumpHarga: Rp519.000 Koleksi: B&A Mother & Babycare, Perkantoran Plaza Pacific Blok B2 No. 25, Kelapa Gading, Jakarta Timur, Telp.(021) 452 2249 Sterilisasi botolHarga: Rp382.000 Koleksi: Lavie Baby House, Pertokoan Puri Indah Blok 1/38, Jakarta Barat, Telp. (021) 581 8341). Cooling BagUntuk menyimpan ASI perah. Harga: Rp140.000 Koleksi: http://www.babyonstore.com, telp. (021) 914 73782 – 0815 8844056 Baby WarmerUntuk menghangatkan ASI perah. Harga: Rp145.000

JANGAN PERCAYA MITOS

Ketahuilah, salah satu kendala bagi ibu menyusui adalah kepercayaannya pada mitos. Padahal, yang namanya mitos tak dapat dibuktikan kebenarannya. Jadi, jangan percaya mitos ya, Bu! Nah, berikut ini sejumlah mitos yang kerap “menghantui” para ibu menyusui.

* ASI hari pertama harus dibuang.

Justru tak boleh dibuang, karena ASI yang keluar pada hari pertama sampai hari ke-7 (disebut kolostrum/susu jolong) mengandung zat putih telur (protein) yang kadarnya tinggi, terutama kandungan zat antiinfeksi/daya tahan tubuh (imunoglobulin). Sedangkan kadar laktosa (hidrat arang) dan lemaknya rendah sehingga mudah dicerna. Jadi, jika kolostrum yang berwarna jernih kekuningan ini dibuang, bayi tidak atau kurang mendapatkan zat-zat yang melindunginya dari infeksi.

* ASI belum keluar pada hari pertama sehingga perlu ditambah cairan lain.

Banyak ibu mengalami kesulitan menyusui di hari pertama dan mengeluhkan ASI-nya tidak bisa keluar. Namun tak perlu cemas karena di hari pertama, sebenarnya bayi belum memerlukan cairan sehingga tidak perlu diberikan cairan lain sebelum ASI “keluar”.

* Tiap kali hendak menyusui di waktu pagi (setelah bangun tidur), semburan pertama harus dibuang karena dianggap basi.

Tak ada istilah ASI basi selama ASI ada di payudara ibu. Cairan ASI sama halnya seperti darah yang mengandung mikroorganisme hidup. Lain hal bila berada di udara terbuka lebih dari 8 jam, makhluk hidup ini akan mati, yang menyebabkan ASI menjadi basi dan tak layak lagi dikonsumsi. Tapi selama masih ada di payudara ibu, kapan pun ibu akan memberikan, ASI selalu tetap steril dan segar.

* ASI semburan pertama harus dibuang seusai bepergian ke luar rumah.

ASI selalu bersih dan steril, sekalipun ibu baru selesai melakukan kegiatan membersihkan rumah atau berjalan-jalan di mal, misal. ASI terus memperbarui dirinya sendiri sehingga jika ASI tak terminum, akan terserap oleh tubuh dan akan terbentuk ASI baru yang diberikan pada si kecil.

* Banyak istirahat bisa menambah produksi ASI.

Yang betul, makin sering ASI diberikan, makin banyak pula ASI dihasilkan. Produksi ASI meningkat seiring dengan gerakan mengisap. Sebaliknya, jika dihentikan, lambat laun produksi ASI pun berkurang. Itulah mengapa, berikan ASI atau pompalah secara teratur.

* ASI yang seperti santan lebih bagus.

Soal warna dan kejernihan, jangan harapkan ASI sama putih dan bagusnya seperti susu kaleng. Jadi, bila ASI encer, keruh dan kuning, bukan berarti kualitasnya jelek. Warna ASI tergantung pula dari apa yang dimakan ibu. Jika ibu banyak makan protein, maka warnanya agak sedikit keruh, tapi tak apa-apa.

* ASI membuat bayi jadi obesitas.

Memang, bayi yang mendapatkan ASI dengan benar, umumnya lebih besar, terutama pada 6 bulan pertama, tapi bukan berarti ia mengalami kegemukan atau malah obesitas. Jadi, tetaplah memberikan ASI eksklusif sampai usia 6 bulan. Pemberian ASI dapat diteruskan hingga anak berusia 2 tahun. Ketahuilah, memberikan ASI sampai usia anak 2 tahun mampu memenuhi 1/3 kebutuhan kalori, 1/3 kebutuhan protein, 45% kebutuhan vitamin A dan 90% kebutuhan vitamin C.

* Susui bayi pada masing-masing payudara selama 15-30 menit secara bergantian.

Seperti sudah dijelaskan di atas, tak masalah jika bayi maunya hanya menyusu pada satu payudara. Namun boleh saja jika ibu ingin menawarkan bayi menyusu pada payudara yang belum diisapnya, asalkan tidak dengan memaksa.

Dalam hal waktu, juga tak ada batasannya. Biarkan bayi yang menentukan berapa lama ia menyusu. Usah khawatir si kecil tak akan terpenuhi kebutuhannya lantaran hanya menyusu sebentar. Bisa saja bayi haus dan tidak lapar. Bukankah yang tahu lapar atau haus hanya ia sendiri? Jika haus ia akan menyedot sebentar, tapi kalau memang lapar ia akan menyusu sampai mendapatkan hindmilk yang lebih banyak kandungan lemak dan karbohidratnya sehingga mengenyangkan.

* ASI bisa merusak kulit bayi.

Pada bayi memang ada penyakit kulit atopik dermatitis atau sering disebut milk dermatitis. Biasanya menyerang daerah pipi, tapi penyebabnya bukanlah ASI atau hasil kontak kulit dengan cairan susu, melainkan memang sudah ada kelainan kulit pada si bayi tersebut. Kelainan kulit ini berkaitan dengan kepekaan bawaan bayi yang disebut atopi. Biasanya terjadi pada anak yang berasal dari keluarga yang memiliki riwayat eksim dan alergi di hidung yang ditandai sering bersin (rinitis). Bila tak segera diobati, kulit akan menghitam dan mengeras.

* Tetesan ASI pada penis bayi dapat menyebabkan impoten.

Hal ini sama sekali tak benar, karena ASI adalah cairan yang sangat berharga untuk bayi dan tetap yang paling baik. ASI tak akan menimbulkan penyakit atau kendala apa pun bagi si bayi. Di negara-negara maju, pada saat menyusui, bayi justru dianjurkan bertelanjang supaya kulitnya dapat bersentuhan langsung dengan kulit ibu. Ibu dianjurkan mengelus-elus seluruh tubuh bayi, terutama panca indranya untuk melatih sensitivitas indra-indra tersebut. Penelitian menunjukkan, ibu yang menyusui sambil mengelus-elus tubuh bayinya, tanpa disambi mengerjakan hal lain, hanya terfokus pada bayi, dapat meningkatkan antibodi si kecil sampai 80%.

* ASI tak bisa memuaskan bayi “rakus’’.

ASI bisa mencukupi semua kebutuhan asupan makanan dan minuman bayi hingga bayi berusia 6 bulan. Rata-rata kebutuhan cairan bayi pada minggu pertama sekitar 80-100 ml/kg per hari, dan meningkat menjadi 140-160 ml/kg pada usia 3-6 bulan. Semua itu cukup dipenuhi hanya dengan ASI. Bahkan bagi bayi superrakus sekalipun.

* Bayi harus disusui pada kedua payudara.

Sebetulnya tak masalah jika bayi hanya mengisap satu payudara. Malah, umumnya bayi memilih salah satu payudara. Hanya saja, buat si ibu, secara kosmetik jadi enggak bagus karena payudara yang sering diisap akan menjadi lebih besar. Untuk mengatasinya, payudara yang jarang diisap bayi harus diperas dengan baik sehingga keduanya jadi sama-sama bekerja atau digunakan

sumber :http://www.tabloid-nakita.com/Khasanah/khasanah10488-03.htm

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: