Ibu hamil dengan risiko tinggi

Apakah yang dimaksud Ibu hamil dengan risiko tinggi ?

Yaitu Ibu Hamil yang mengalami risiko atau bahaya yang lebih besar pada waktu kehamilan maupun persalinan, bila dibandingkan dengan Ibu Hamil yang normal.

Siapakah yang termasuk Ibu Hamil dengan Risiko Tinggi ?

– Ibu dengan tinggi badan kurang dari 145 cm.

– Bentuk panggul ibu yang tidak normal.

– Badan Ibu kurus pucat.

– Umur Ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun

– Jumlah anak lebih dari 4 orang.

– Jarak kelahiran anak kurang dari 2 tahun.

– Adanya kesulitan pada kehamilan atau persalinan yang lalu.

– Sering terjadi keguguran sebelumnya.

– Kepala pusing hebat.

– Kaki bengkak.

– Perdarahan pada waktu hamil.

– Keluar air ketuban pada waktu hamil.

– Batuk-batuk lama.

Bahaya apa saja yang dapat ditimbulkan akibat Ibu hamil dengan risiko tinggi ?

– Bayi lahir belum cukup bulan.

– Bayi lahir dengan berat kahir rendah (BBLR).

– Keguguran (abortus).

– Persalinan tidak lancar / macet.

– Perdarahan sebelum dan sesudah persalinan.

– Janin mati dalam kandungan.

– Ibu hamil / bersalin meninggal dunia.

– Keracunan kehamilan/kejang-kejang.

Apakah kehamilan risiko tinggi dapat dicegah ?

Kehamilan risiko tinggi dapat dicegah bila gejalanya ditemukan sedini mungkin sehingga dapat dilakukan tindakan perbaikinya.

Bagaimana pencegahan kehamilan risiko tinggi dapat dilakukan ?

– Dengan memeriksakan kehamilan sedini mungkin dan teratur ke Posyandu, Puskesmas, Rumah Sakit, paling sedikit 4 kali selama masa kehamilan.

– Dengan mendapatkan imunisasi TT 2X.

– Bila ditemukan kelainan risiko tinggi pemeriksaan harus lebih sering dan lebih intensif.

– Makan makanan yang bergizi yaitu memenuhi 4 sehat 5 sempurna.

Apa yang dapat dilakukan seorang Ibu untuk menghindari bahaya kehamilan risiko tinggi ?

– Dengan mengenal tanda-tanda kehamilan risiko tinggi.

– Segera ke Posyandu, Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat bila ditemukan tanda-tanda kehamilan risiko tinggi.

Iklan

PLUS-MINUS HAMIL DI USIA TUA

sumber: http://yuwielueninet.wordpress.com

Benarkah hamil anak pertama tak boleh lebih dari usia 35 tahun? Apa saja bahayanya? Bagaimana peran pasangan dalam hal ini?

“Saya sering ditanya saudara dan kenalan, apa enggak takut melahirkan di usia menjelang 40 tahun? Habis, mau bagaimana lagi? Menikahnya juga baru ‘kemarin’. Ya, dijalani saja sambil terus berdoa supaya selamat,” tutur seorang calon ibu berusia 37 tahun.

Memang, kebanyakan wanita diliputi kekhawatiran kala kehamilan baru dialami setelah usia meninggi. Tapi jika itu yang terjadi pada Anda, tak perlu cemas. Sekarang ini makin banyak wanita melahirkan di atas usia 35 tahun. Bahkan, tak jarang melahirkan bayi pertama di usia empat puluhan.

Menurut dr. Agustinus Gatot, Sp.OG, dari RS Mitra Keluarga, siap-tidaknya seorang ibu yang hamil di usia tua, lebih karena faktor si ibu sendiri. “Adakalanya justru ibu yang memulai kehamilan di usia ini, jauh lebih mantap. Sebab, biasanya telah mempersiapkan segalanya dengan matang sejak memulai pernikahan,” terang Gatot. Sebaliknya, ibu yang tak siap mental, lebih disebabkan ia merasa tak percaya diri menghadapi kehamilannya. “Ia merasa sudah tua sehingga menganggap dirinya tak mampu.”

BERISIKO TINGGI

Dalam ilmu kedokteran, terang Gatot, usia reproduksi sehat untuk hamil antara 25-30 tahun. Sehingga, dari segi kesehatan reproduksi, sebetulnya risiko pertama dari usia ini adalah tak dapat hamil karena telah berkurangnya kesuburan. Jadi, bila si wanita usianya telah melewati usia reproduksi sehat untuk hamil ternyata kemudian hamil, berarti risiko itu telah terlewati.

Hanya saja, seperti diakui Gatot, usia ini memang tergolong berisiko tinggi dalam kehamilan. Yakni, melahirkan bayi dengan sindroma down, yang berciri khas berbagai tingkat keterbelakangan mental, ciri wajah tertentu, berkurangnya tonus otot, dan sebagainya. “Risiko ini akan meningkat sesuai dengan usia ibu, yakni 6-8 per mil untuk usia 35 sampai 39 tahun dan 10-15 per mil untuk usia di atas 40 tahun,” jelas Gatot.

Kelainan kromoson dan lainnya yang diperkirakan karena sel telur sudah berusia lanjut, terkena radiasi, terpengaruh obat-obatan, infeksi, dan sebagainya, diduga merupakan penyebab sindroma down.

Untuk mencermati adanya sindroma ini, dapat dilakukan pemeriksaan amniosentesis. Pada pemeriksaan ini cairan ketuban diambil melalui alat semacam jarum yang dimasukkan melalui perut ibu. Bisa juga dilakukan dengan cara kordosentesis. “Bedanya, jika amniosentesis mengambil cairan ketuban, pada kordosentesis diambil sampel darah janin dari tali pusat,” jelas Gatot.

Pemeriksaan itu sendiri bisa dilakukan setelah kehamilan memasuki usia 16-20 minggu. Jika ditemukan kelainan, dokter akan menyerahkan keputusan pada pasangan suami-istri. Apakah akan meneruskan kehamilan atau menggugurkannya. “Pemeriksaan ini jarang dilakukan mengingat biayanya yang masih cukup tinggi,” ujar Gatot. Umumnya ibu memasrahkan segalanya pada Yang Kuasa.

Kecuali melahirkan bayi dengan sindroma down, makin tinggi usia ibu main tinggi pula risiko untuk melahirkan. Hal ini dapat berisiko bagi kesehatan ibu sendiri. Bahkan, risiko kematian pun meningkat.

Ada beberapa hal yang perlu diwaspadai oleh ibu hamil usia ini, seperti perdarahan postpartum (sesudah melahirkan), hipertensi, dan eklampsia.

PERAWATAN TERBAIK

Kendati demikian, pada dasarnya menjalani kehamilan pada usia di atas 35 tahun, tak berbeda dengan usia lain. Yang terpenting dan pertama ialah kesiapan ibu menjalani kehamilan itu. Nah, dengan perawatan pralahir yang baik, maka ibu hamil berisiko pun bisa mengurangi risiko tersebut.

Apa saja perawatan pralahir itu? “Salah satunya tentu dengan pemeriksaan rutin oleh dokter atau bidan,” ujar Gatot. Dengan demikian, jika ada gangguan atau kelainan akan bisa segera diketahui dan ditangani. Bahkan, menjelang kehamilan, calon ibu harus menyiapkan diri dengan pemeriksaan untuk berbagai infeksi, seperti TORCH (toksoplasmosis, rubella, citomegalovirus, dan sebagainya).

Juga amat perlu senantiasa menjaga menu makanan. “Ibu harus melakukan diet yang baik. Artinya, mengkonsumi makanan cukup gizi. Bukan cuma untuk si ibu, tapi juga demi si janin.” Dengan menjalani diet, lanjut Gatot, si ibu sekaligus bisa mencapai berat badan ideal (tak lebih dan tak kurang) sehingga ibu bisa terhindar dari berbagai komplikasi seperti sakit gula, tekanan darah tinggi, varises, wasir, berat lahir bayi yang rendah, atau kesulitan persalinan karena ukuran bayi yang terlalu besar.

Selain itu, bergaya pola hidup sehat seperti menjauhi rokok, alkohol, dan obat-obatan yang tak perlu, juga akan sangat membantu. Dengan demikian risiko calon ibu menjadi berkurang dan si ibu pun bisa menjalani kehamilan serta persalinan dengan lancar. Jadi, tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.

Riesnawiati Soelaeman

Menghadapi Kehamilan Beresiko Tinggi

Kehamilan adalah proses normal untuk dialami, bukan penyakit yang harus diobati. Tapi jika kehamilan Anda berisiko tinggi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pasangan suami-istri di mana istri menghadapi kehamilan dengan risiko tinggi.

* Rasa Cemas

Anda berdua mungkin akan dipenuhi rasa cemas setelah mengetahui risiko yang mungkin dialami. Yang lebih parah, Anda berdua mungkin tak berharap terlalu banyak terhadap kondisi janin.

Tapi Anda berdua tak boleh larut dalam kecemasan. Apalagi kehamilan yang disertai kecemasan sangat tak baik pengaruhnya bagi si ibu maupun janin.

* Marah

Kemarahan juga kerap melanda wanita yang menjalani kehamilan berisiko. Misalnya ketika harus bed rest, ia merasa dibelenggu oleh aturan yang tak biasanya karena sebelumnya ia termasuk tipe wanita enerjik. Jadi, aturan itu terasa begitu menyiksanya.

Tak perlu berkecil hati. Jalani saja dengan santai. Ingat, semua itu demi Anda dan janin di kandungan.

* Merasa Tertekan

Karena banyak anjuran dan larangan, si ibu akan terus-menerus mengingatnya. Ia takut untuk berbuat sesuatu di luar itu. Sehingga tiap kali akan berbuat sesuatu, selalu dimulai dengan pertanyaan, “Bolehkah saya melakukan ini? Apakah ini tak akan bertambah membahayakan bayi saya?”

Menghilangkan sama sekali rasa tertekan itu memang agak mustahil. Berbagilah dengan pasangan, agar perasaan itu sedikit berkurang.

* Merasa Bersalah

Di sisi lain, wanita dengan kehamilan berisiko tinggi juga bisa merasa bersalah, karena ia tak bisa menjalani kehamilan seperti kebanyakan wanita lain. Misalnya, dokter banyak memberi obat-obatan, larangan, dan anjuran.

Ia merasa, dirinyalah yang menyebabkan semua itu. Padahal, tentu saja bukan. Pasangannya pun akan diliputi rasa bersalah, karena ia menganggap dirinya yang menyebabkan istrinya “menderita”. Padahal, kenyataannya tidaklah demikian.

* Menganggap Diri Kurang

Seorang wanita yang tak memiliki kehamilan “normal” juga bisa menganggap dirinya tak mampu atau kurang. Harus diingat, ada banyak hal yang di luar kekuatan dan kemampuan kita. Tapi, percayalah, jika kita menjalaninya dengan ikhlas, segalanya akan berjalan lancar.

Riesnawiati

Pengalaman Berharga

Lily, seorang karyawati bank swasta hamil untuk pertama kalinya ketika usianya sudah memasuki 38 tahun. “Saya memang menikah di usia yang sudah enggak muda lagi, 36 tahun,” akunya. Karena itu, Lily dan suaminya sudah tahu bahwa mereka tergolong pasangan yang “terlambat” untuk hamil.

“Tapi sebelum hamil, saya berkonsultasi dulu dengan dokter,” tutur Lily. Ia pun melakukan pemeriksaan cukup lengkap, termasuk TORCH. “Saya ingin menjalani kehamilan dengan tenang. Apalagi saya sudah tahu bahwa kehamilan saya berisiko karena usia saya,” lanjutnya. Bahkan, ia mengaku sampai melakukan pemeriksaan rutin ke dokter tiap dua minggu sekali. “Sebetulnya, sih, dokter enggak meminta demikian. Saya sendiri yang menginginkannya, agar bisa lebih yakin,” terangnya.

Dalam menjalani kehamilannya, Lily merasa tak berbeda seperti wanita lain yang kehamilannya tak berisiko. Misalnya, pada trimester pertama, ia mengalami mual-mual hebat, yang lalu menghilang di trimester kedua. “Cuma, saya sering kesemutan,” katanya.

Kendati demikian, ia tak mengurangi kegiatannya. Ia tetap bekerja seperti biasa. Ia pun sangat menjaga mutu makanannya. Hanya makanan terbaik buat janin di rahimnya yang boleh masuk ke mulutnya. “Sampai-sampai saya diledekin teman-teman, tapi saya enggak peduli. Pokoknya, yang boleh masuk ke mulut saya hanyalah makanan sehat penuh gizi. Bahkan, saya sama sekali tidak makan makanan instan,” tuturnya.

Ketika kehamilannya mencapai usia 17 minggu, dokter menyarankannya untuk menjalani tes amniosentesis. “Saya berdiskusi cukup lama tentang hal itu. Saya menimbang baik buruknya. Saya pun berdoa memohon petunjuk,” katanya. Akhirnya, ia bersama suami memutuskan untuk meneruskan kehamilan tanpa menjalani tes itu. “Saya pasrah pada Yang Kuasa. Saya yakin kehamilan ini yang terbaik buat saya,” katanya lagi.

Hasilnya, memang sesuai harapan. Lily melahirkan normal, seorang bayi laki-laki yang sehat dengan berat 3,45 kg dan panjang 51 cm. “Cukup satu saja. Usia saya sekarang sudah di atas 40,” katanya, mantap

Risiko hamil pada usia tua



DUA faktor utama perlu diberi perhatian, usia anda dan jarak kelahiran anda. Usia anda memasuki 40 tahun dikaitkan dengan peningkatan risiko berikut (berbanding kehamilan anda terdahulu):

– Risiko penyakit berkaitan usia seperti kencing manis dan darah tinggi.

– Risiko berkaitan kehamilan seperti uri bawah (plasenta previa), uri lekang (plasenta abruptio) dan anemia (kekurangan darah).

– Risiko berkaitan janin seperti sindrom down serta sindrom ketidaknormalan kromosom lain

Selain itu, anda juga mungkin lebih mudah berasa letih sejak kehamilan. Anda mungkin memerlukan lebih banyak rehat. Tahap pemakanan lazimnya tidak berkaitan dengan usia.

Jarak kelahiran yang jauh membolehkan tubuh anda kembali pulih selepas kelahiran terdahulu dan mengurangkan kejadian anemia. Namun, jarak kelahiran jauh mungkin menyebabkan anda berasa seolah-olah sama seperti kehamilan anak pertama, malah anda mungkin berasa ia seperti pengalaman pertama hamil.

Teruskanlah pengambilan pil asid folik sebanyak lima miligram setiap malam. Pengambilan pil vitamin pula seeloknya jenis yang khusus untuk wanita hamil.

Saya harap anda memulakan antenatal bagi pemeriksaan tekanan darah, berat badan, ujian air kencing, ultrabunyi mengesahkan tarikh dan usia kandungan, bilangan janin (wanita berusia lebih berisiko mendapat kehamilan kembar), pengukuran nuchal translucency janin dan menjalani ujian saringan darah (paras hemoglobin, hepatitis, VDRL dan HIV).

Berbincanglah lebih lanjut dengan doktor anda mengenai masalah di atas. Doktor anda mungkin menawarkan ujian darah saringan risiko sindrom down atau terus kepada ujian kepastian melalui ujian chorionic villous sampling atau CVS bagi mengetahui DNA janin. Ujian saringan darah bagi penyakit kencing manis juga mungkin turut dilakukan.

sumber:http://wmelayu.blogspot.com/2008/04/risiko-hamil-pada-usia-tua.html

Hamil Usia Tua

Menurut *dr. Agustinus Gatot, Sp.OG*, dari RS Mitra Keluarga, siap-tidaknya
seorang ibu yang hamil di usia tua, lebih karena faktor si ibu sendiri.
"Adakalanya justru ibu yang memulai kehamilan di usia ini, jauh lebih
mantap. Sebab, biasanya telah mempersiapkan segalanya dengan matang sejak
memulai pernikahan," terang Gatot. Sebaliknya, ibu yang tak siap mental,
lebih disebabkan ia merasa tak percaya diri menghadapi kehamilannya. "Ia
merasa sudah tua sehingga menganggap dirinya tak mampu."

BERISIKO TINGGI

Dalam ilmu kedokteran, terang Gatot, usia reproduksi sehat untuk hamil
antara 25-30 tahun. Sehingga, dari segi kesehatan reproduksi, sebetulnya
risiko pertama dari usia ini adalah tak dapat hamil karena telah
berkurangnya kesuburan. Jadi, bila si wanita usianya telah melewati usia
reproduksi sehat untuk hamil ternyata kemudian hamil, berarti risiko itu
telah terlewati.

Hanya saja, seperti diakui Gatot, usia ini memang tergolong berisiko tinggi
dalam kehamilan. Yakni, melahirkan bayi dengan sindroma *down*, yang berciri
khas berbagai tingkat keterbelakangan mental, ciri wajah tertentu,
berkurangnya tonus otot, dan sebagainya. "Risiko ini akan meningkat sesuai
dengan usia ibu, yakni 6-8 per mil untuk usia 35 sampai 39 tahun dan 10-15
per mil untuk usia di atas 40 tahun," jelas Gatot.

Kelainan kromoson dan lainnya yang diperkirakan karena sel telur sudah
berusia lanjut, terkena radiasi, terpengaruh obat-obatan, infeksi, dan
sebagainya, diduga merupakan penyebab sindroma down.

Untuk mencermati adanya sindroma ini, dapat dilakukan pemeriksaan
amniosentesis. Pada pemeriksaan ini cairan ketuban diambil melalui alat
semacam jarum yang dimasukkan melalui perut ibu. Bisa juga dilakukan dengan
cara kordosentesis. "Bedanya, jika amniosentesis mengambil cairan ketuban,
pada kordosentesis diambil sampel darah janin dari tali pusat," jelas Gatot.

Pemeriksaan itu sendiri bisa dilakukan setelah kehamilan memasuki usia 16-20
minggu. Jika ditemukan kelainan, dokter akan menyerahkan keputusan pada
pasangan suami-istri. Apakah akan meneruskan kehamilan atau menggugurkannya.
"Pemeriksaan ini jarang dilakukan mengingat biayanya yang masih cukup
tinggi," ujar Gatot. Umumnya ibu memasrahkan segalanya pada Yang Kuasa.

Kecuali melahirkan bayi dengan sindroma down, makin tinggi usia ibu main
tinggi pula risiko untuk melahirkan. Hal ini dapat berisiko bagi kesehatan
ibu sendiri. Bahkan, risiko kematian pun meningkat.

Ada beberapa hal yang perlu diwaspadai oleh ibu hamil usia ini, seperti
perdarahan *postpartum* (sesudah melahirkan), hipertensi, dan eklampsia.

PERAWATAN TERBAIK

Kendati demikian, pada dasarnya menjalani kehamilan pada usia di atas 35
tahun, tak berbeda dengan usia lain. Yang terpenting dan pertama ialah
kesiapan ibu menjalani kehamilan itu. Nah, dengan perawatan pralahir yang
baik, maka ibu hamil berisiko pun bisa mengurangi risiko tersebut.

Apa saja perawatan pralahir itu? "Salah satunya tentu dengan pemeriksaan
rutin oleh dokter atau bidan," ujar Gatot. Dengan demikian, jika ada
gangguan atau kelainan akan bisa segera diketahui dan ditangani. Bahkan,
menjelang kehamilan, calon ibu harus menyiapkan diri dengan pemeriksaan
untuk berbagai infeksi, seperti TORCH (toksoplasmosis, rubella,
citomegalovirus, dan sebagainya).

Juga amat perlu senantiasa menjaga menu makanan. "Ibu harus melakukan diet
yang baik. Artinya, mengkonsumi makanan cukup gizi. Bukan cuma untuk si ibu,
tapi juga demi si janin." Dengan menjalani diet, lanjut Gatot, si ibu
sekaligus bisa mencapai berat badan ideal (tak lebih dan tak kurang)
sehingga ibu bisa terhindar dari berbagai komplikasi seperti sakit gula,
tekanan darah tinggi, varises, wasir, berat lahir bayi yang rendah, atau
kesulitan persalinan karena ukuran bayi yang terlalu besar.

Selain itu, bergaya pola hidup sehat seperti menjauhi rokok, alkohol, dan
obat-obatan yang tak perlu, juga akan sangat membantu. Dengan demikian
risiko calon ibu menjadi berkurang dan si ibu pun bisa menjalani kehamilan
serta persalinan dengan lancar. Jadi, tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.

*Menghadapi Kehamilan Beresiko Tinggi*

**

Kehamilan adalah proses normal untuk dialami, bukan penyakit yang harus
diobati. Tapi jika kehamilan Anda berisiko tinggi, ada beberapa hal yang
perlu diperhatikan pasangan suami-istri di mana istri menghadapi kehamilan
dengan risiko tinggi.

** Rasa Cemas*

Anda berdua mungkin akan dipenuhi rasa cemas setelah mengetahui risiko yang
mungkin dialami. Yang lebih parah, Anda berdua mungkin tak berharap terlalu
banyak terhadap kondisi janin.

Tapi Anda berdua tak boleh larut dalam kecemasan. Apalagi kehamilan yang
disertai kecemasan sangat tak baik pengaruhnya bagi si ibu maupun janin.

** Marah*

Kemarahan juga kerap melanda wanita yang menjalani kehamilan berisiko.
Misalnya ketika harus bed rest, ia merasa dibelenggu oleh aturan yang tak
biasanya karena sebelumnya ia termasuk tipe wanita enerjik. Jadi, aturan itu
terasa begitu menyiksanya.

Tak perlu berkecil hati. Jalani saja dengan santai. Ingat, semua itu demi
Anda dan janin di kandungan.

** Merasa Tertekan*

Karena banyak anjuran dan larangan, si ibu akan terus-menerus mengingatnya.
Ia takut untuk berbuat sesuatu di luar itu. Sehingga tiap kali akan berbuat
sesuatu, selalu dimulai dengan pertanyaan, "Bolehkah saya melakukan ini?
Apakah ini tak akan bertambah membahayakan bayi saya?"

Menghilangkan sama sekali rasa tertekan itu memang agak mustahil. Berbagilah
dengan pasangan, agar perasaan itu sedikit berkurang.

** Merasa Bersalah*

Di sisi lain, wanita dengan kehamilan berisiko tinggi juga bisa merasa
bersalah, karena ia tak bisa menjalani kehamilan seperti kebanyakan wanita
lain. Misalnya, dokter banyak memberi obat-obatan, larangan, dan anjuran.

Ia merasa, dirinyalah yang menyebabkan semua itu. Padahal, tentu saja bukan.
Pasangannya pun akan diliputi rasa bersalah, karena ia menganggap dirinya
yang menyebabkan istrinya "menderita". Padahal, kenyataannya tidaklah
demikian.

** Menganggap Diri Kurang*

Seorang wanita yang tak memiliki kehamilan "normal" juga bisa menganggap
dirinya tak mampu atau kurang. Harus diingat, ada banyak hal yang di luar
kekuatan dan kemampuan kita. Tapi, percayalah, jika kita menjalaninya dengan
ikhlas, segalanya akan berjalan lancar.

*Pengalaman Berharga*

**

Lily, seorang karyawati bank swasta hamil untuk pertama kalinya ketika
usianya sudah memasuki 38 tahun. "Saya memang menikah di usia yang sudah
enggak muda lagi, 36 tahun," akunya. Karena itu, Lily dan suaminya sudah
tahu bahwa mereka tergolong pasangan yang "terlambat" untuk hamil.

"Tapi sebelum hamil, saya berkonsultasi dulu dengan dokter," tutur Lily. Ia
pun melakukan pemeriksaan cukup lengkap, termasuk TORCH. "Saya ingin
menjalani kehamilan dengan tenang. Apalagi saya sudah tahu bahwa kehamilan
saya berisiko karena usia saya," lanjutnya. Bahkan, ia mengaku sampai
melakukan pemeriksaan rutin ke dokter tiap dua minggu sekali. "Sebetulnya,
sih, dokter enggak meminta demikian. Saya sendiri yang menginginkannya, agar
bisa lebih yakin," terangnya.

Dalam menjalani kehamilannya, Lily merasa tak berbeda seperti wanita lain
yang kehamilannya tak berisiko. Misalnya, pada trimester pertama, ia
mengalami mual-mual hebat, yang lalu menghilang di trimester kedua. "Cuma,
saya sering kesemutan," katanya.

Kendati demikian, ia tak mengurangi kegiatannya. Ia tetap bekerja seperti
biasa. Ia pun sangat menjaga mutu makanannya. Hanya makanan terbaik buat
janin di rahimnya yang boleh masuk ke mulutnya. "Sampai-sampai saya
diledekin teman-teman, tapi saya enggak peduli. Pokoknya, yang boleh masuk
ke mulut saya hanyalah makanan sehat penuh gizi. Bahkan, saya sama sekali
tidak makan makanan instan," tuturnya.

Ketika kehamilannya mencapai usia 17 minggu, dokter menyarankannya untuk
menjalani tes amniosentesis. "Saya berdiskusi cukup lama tentang hal itu.
Saya menimbang baik buruknya. Saya pun berdoa memohon petunjuk," katanya.
Akhirnya, ia bersama suami memutuskan untuk meneruskan kehamilan tanpa
menjalani tes itu. "Saya pasrah pada Yang Kuasa. Saya yakin kehamilan ini
yang terbaik buat saya," katanya lagi.

Hasilnya, memang sesuai harapan. Lily melahirkan normal, seorang bayi
laki-laki yang sehat dengan berat 3,45 kg dan panjang 51 cm. "Cukup satu
saja. Usia saya sekarang sudah di atas 40," katanya, mantap.