Hypnobirthing, Melahirkan Tanpa Rasa sakit

Melahirkan dengan cara terapi hipnotis? Kenapa nggak? Konon melahirkan dengan teknik ini banyak memberi manfaat bagi calon ibu, antara lain rasa nyaman, berkurangnya rasa sakit (bahkan ada yang tidak merasakan sakit sama sekali) hingga rasa bahagia. Wah, jadi penasaran…

HypnoBirthing merupakan sebuah paradigma baru dalam pengajaran melahirkan secara alami. Teknik ini mudah dipelajari, melibatkan relaksasi yang mendalam, pola pernapasan lambat dan petunjuk cara melepaskan endorfin dari dalam tubuh (relaksan alami tubuh) yang memungkinkan calon ibu menikmati proses kelahiran yang aman, lembut, cepat dan tanpa proses pembedahan.

HypnoBirthing dicetuskan berdasarkan buku yang ditulis oleh pakar ginekologi Dr. Grantly Dick-Read, yang memublikasikan buku Childbirth Without Fear pada 1944. Terapi HypnoBirthing selanjutnya dikembangkan oleh Marie Mongan, pendiri HypnoBirthing Institute.

Terapi ini mengajarkan para ibu untuk memahami dan melepaskan Fear-Tension-Pain Syndrome yang seringkali menjadi penyebab kesakitan dan ketidaknyamanan selama proses kelahiran.

Saat kita merasa takut, tubuh mengalihkan darah dan oksigen dari organ pertahanan non esensial menuju kelompok otot besar di wilayah kaki dan tangan. Akibatnya, area wajah ‘ditinggalkan’, makanya ada ungkapan “pucat karena ketakutan”. Dalam situasi yang menakutkan, tubuh mempertimbangkan bahwa uterus atau rahim dipandang sebagai organ ‘tidak penting’ . Menurut Dr. Dick-Read, rahim pada perempuan yang ketakutan secara kasat mata memang tampak putih. Wah.

HypnoBirthing mengeksplorasi mitos bahwa memang rasa sakit adalah hal yang wajar dan dibutuhkan saat melahirkan normal. Saat perempuan yang melahirkan terbebas dari rasa takut, otot-otot di tubuhnya termasuk otot rahim akan mengalami relaksasi, yang akan membuahkan proses kelahiran yang lebih mudah dan bebas stres.

Dalam beberapa kasus, tahapan proses kelahiran juga menjadi lebih pendek, mengurangi kelelahan selama perjuangan melahirkan bayi dan ibu akan tetap segar, penuh energi setelah melahirkan.

“Bisa dikatakan HypnoBirthing membuat Anda melahirkan bebas dari rasa takut, tidak bebas dari rasa sakit, meskipun beberapa perempuan mengalami proses melahirkan tanpa rasa sakit sama sekali,” ujar Mongan. “Mengurangi ketakutan akan membuat tubuh ibu bekerja seperti yang seharusnya.”

Memelajari sevuah bahasa baru melahirkan merupakan kesatuan dalam pelatihan HypnoBirthing. Misalnya, ketimbang fokus pada kontraksi, seorang ibu yang mendalami HypnoBirthing mengalami sebuah ‘gelora’. Saat alam bawah sadar ibu menerima kata ‘gelora’, tubuhnya menciptakan jawaban fisiologis seketika, sebuah respon yang amat berbeda dari kata ‘kontraksi’.

Dengan memahami betapa efektifnya jawaban tubuh terhadap proses melahirkan yang lebih lembut, seorang ibu HypnoBirthing memiliki keahlian secara lisan dan visual mengenai kemampuan alaminya dalam mengikuti cara alami ideal melahirkan.

Secara cepat ibu akan belajar mempercayai insting melahirkan pada tubuhnya, bahwa tubuhnya diciptakan untuk bekerja dalam irama yang selaras saat mengeluarkan bayi ke dunia.

“Ada perbedaan besar antara HypnoBirthing dan kelas pendidikan melahirkan lainnya, dan ini bukanlah hanya potongan hipnotis. HypnoBirthing lebih menekankan melahirkan dengan cara positif, lembut, aman dan bagaimana mencapainya denganmudah,” ujar Mongan.

Pada 1958, the American Medical Association menyetujui terapi dengan menggunakan hipnotis, meski sejuah ini terapi hipnotis yang dipakai untuk memudahkan proses kelahiran bayi belum banyak diketahui publik.

sumber : hanyawanita.com,http://rinie.info

Iklan

anak dengan autisme sama dengan sekuncup bunga melati

Kemaren saat saya sedang melaksanakan tugas saya sebagai bidan, datang seorang wanita untuk memeriksakan kehamilannya, dan Ia  tampak sedang menggandeng seorang anak yang lucu dan ganteng, tetapi ada sesuatu pada anak itu yang membuatnya seolah berbeda dengan anak yang lain. Ia tak berani menatap dan ada tingkah laku yang spesial seolah berkata Ia mengalami suatu trauma batin saat Ia berada di rahim Ibunya.

Anak autisme bagai bunga kuncup bunga melati di pinggir jalan, karena tidak spesial seperti adenium atau euphorbia, maka Ia diacuhkan begitu saja oleh dunia ini, tapi sebenarnya, seperti bunga melati yang tumbuh cantik, saat bunga melati itu dipakai untuk perhiasan pengantin, pasti harganya melonjak tinggi… seperti itulah anak yang menderita autis. Dunia melihat Ia tak berharga dan tak berguna, tetapi sebenarnya Ia adalah anugerah tak terkatakan bagi setiap keluarga, nilai yang melebihi segalanya karena Ia adalah titipan langsung dari Tuhan.

Penyebab Autis sampai saat ini masih sumbang, tetapi ada beberapa orang tua yang memiliki anak yang autis, pada waktu masa kehamilannya, si Ibu merasakan gejolak dan beban batin yang mendalam. Ibu tidak nyaman dengan kehamilannya, atau mungkin ada peristiwa yang membuat Batin dan Jiwa si Ibu agak tergoncang. Padahal bayi saat di dalam kandungan sudah mulai memiliki unsur sederhana dari jiwa yaitu rasa, jadi dibutuhkan keadaan yang stabil pada hubungan antara suami-istri dan antara suami-istri-dan bayinya. Bayi tidak hanya memerlukan nutrisi jasmani tetapi juga nutrisi untuk batinnya.

So,, buat para ibu2 hamil, dan suami2 yang istrinya sedang hamil, tolong sekali jaga keadaan emosi istri anda, jangan biarkan istri anda merasakan stress, khawatir, atau trauma batin yang berlebihan saat hamil, karena semua itu akan berdampak langsung pada bayi mungil anda. Setiap perasaan yang dirasakan Ibu, pasti akan dirasakan si bayi karena Ibu dan Bayi sesungguhnya hidup dalam satu kehidupan, satu nafas dan satu rasa.

Sekilas tentang AUTISME

Autisme Masa kanak ( Childhood Autism )
Autisme Masa Kanak adalah gangguan perkembangan pada anak yang gejalanya sudah tampak sebelum anak tersebut mencapai umur 3 tahun. Perkembangan yang terganggu adalah dalam bidang :

1. Komunikasi : kualitas komunikasinya yang tidak normal, seperti ditunjukkan dibawah ini :

  • Perkembangan bicaranya terlambat, atau samasekali tidak berkembang.
  • Tidak adanya usaha untuk berkomunikasi dengan gerak atau mimik muka untuk mengatasi kekurangan dalam kemampuan bicara.
  • Tidak mampu untuk memulai suatu pembicaraan atau memelihara suatu pembicaraan dua arah yang baik.
  • Bahasa yang tidak lazim yang diulang-ulang atau stereotipik.
  • Tidak mampu untuk bermain secara imajinatif, biasanya permainannya kurang variatif.

2. Interaksi sosial : adanya gangguan dalam kualitas interaksi social :

  • Kegagalan untuk bertatap mata, menunjukkan ekspresi fasial, maupun postur dan gerak tubuh, untuk berinteraksi secara layak.
  • Kegagalan untuk membina hubungan sosial dengan teman sebaya, dimana mereka bisa berbagi emosi, aktivitas, dan  interes bersama.
  • Ketidak mampuan untuk berempati, untuk membaca emosi orang lain.
  • Ketidak mampuan untuk secara spontan mencari teman untuk berbagi kesenangan dan melakukan sesuatu bersama-sama.

3. Perilaku : aktivitas, perilaku dan interesnya sangat terbatas, diulang-ulang dan
stereotipik seperti  dibawah ini :

  • Adanya suatu preokupasi yang sangat terbatas pada suatu pola perilaku yang tidak normal, misalnya duduk dipojok sambil menghamburkan pasir seperti air hujan, yang bisa dilakukannya berjam-jam.
  • Adanya suatu kelekatan pada suatu rutin atau ritual yang tidak berguna, misalnya kalau mau tidur harus cuci kaki dulu, sikat gigi, pakai piyama, menggosokkan kaki dikeset, baru naik ketempat tidur. Bila ada satu diatas yang terlewat atau terbalik urutannya, maka ia akan sangat terganggu dan nangis teriak-teriak minta diulang.
  • Adanya gerakan-gerakan motorik aneh yang diulang-ulang, seperti misalnya mengepak-ngepak lengan, menggerak-gerakan jari dengan cara tertentu dan mengetok-ngetokkan sesuatu.
  • Adanya preokupasi dengan bagian benda/mainan tertentu yang tak berguna, seperti roda sepeda yang diputar-putar, benda dengan bentuk dan rabaan tertentu yang terus diraba-rabanya, suara-suara tertentu.

Anak-anak ini sering juga menunjukkan emosi yang tak wajar, temper tantrum (ngamuk tak terkendali), tertawa dan menangis tanpa sebab, ada juga rasa takut yang tak wajar.
Kecuali gangguan emosi sering pula anak-anak ini menunjukkan gangguan sensoris, seperti adanya kebutuhan untuk mencium-cium/menggigit-gigit benda, tak suka kalau dipeluk atau dielus.
Autisme Masa Kanak lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan dengan perbandingan 3 : 1.

Keputusan Menteri Tentang Bidan

LAMPIRAN

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN

NOMOR : 369/MENKES/SK/III/2007

TANGGAL : 27 Maret 2007

A. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Pembangunan kesehatan pada hakekatnya diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang, menyangkut fisik, mental, maupun sosial budaya dan ekonomi. Untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal dilakukan berbagai upaya pelayanan kesehatan yang menyeluruh, terarah dan berkesinambungan. Masalah reproduksi di Indonesia mempunyai dua dimensi. Pertama: yang laten yaitu kematian ibu dan kematian bayi yang masih tinggi akibat bebagai faktor termasuk pelayanan kesehatan yang relatif kurang baik. Kedua ialah timbulnya penyakit degeneratif yaitu menopause dan kanker.

Dalam globalisasi ekonomi kita diperhadapkan pada persaingan global yang semakin ketat yang menuntut kita semua untuk menyiapkan manusia Indonesia yang berkualitas tinggi sebagai generasi penerus bangsa yang harus disiapkan sebaik mungkin secara terencana, terpadu dan berkesinambungan. Upaya tersebut haruslah secara konsisten dilakukan sejak dini yakni sejak janin dalam kandungan, masa bayi dan balita, masa remaja hingga dewasa bahkan sampai usia lanjut.

Bidan merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki posisi penting dan strategis terutama dalam penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan angka kesakitan dan kematian Bayi (AKB). Bidan memberikan pelayanan kebidanan yang berkesinambungan dan paripurna, berfokus pada aspek pencegahan, promosi dengan berlandaskan kemitraan dan pemberdayaan masyarakat bersama-sama dengan tenaga kesehatan lainnya untuk senantiasa siap melayani siapa saja yang membutuhkannya, kapan dan dimanapun dia berada. Untuk menjamin kualitas tersebut diperlukan suatu standar profesi sebagai acuan untuk melakukan segala tindakan dan asuhan yang diberikan dalam seluruh aspek pengabdian profesinya kepada individu, keluarga dan masyarakat, baik dari aspek input, proses dan output.

2. Tujuan

a. Menjamin pelayanan yang aman dan berkualitas.

b. Sebagai landasan untuk standarisasi dan perkembangan profesi.

3. Pengertian

a. Definisi bidan

Ikatan Bidan Indonesia telah menjadi anggota ICM sejak tahun 1956, dengan demikian seluruh kebijakan dan pengembangan profesi kebidanan di Indonesia merujuk dan mempertimbangkan kebijakan ICM.

Definisi bidan menurut International Confederation Of Midwives (ICM) yang dianut dan diadopsi oleh seluruh organisasi bidan di seluruh dunia, dan diakui oleh WHO dan Federation of International Gynecologist Obstetrition (FIGO). Definisi tersebut secara berkala di review dalam pertemuan Internasional / Kongres ICM. Definisi terakhir disusun melalui konggres ICM ke 27, pada bulan Juli tahun 2005 di Brisbane Australia ditetapkan sebagai berikut: Bidan adalah seseorang yang telah mengikuti program pendidikan bidan yang diakui di negaranya, telah lulus dari pendidikan tersebut, serta memenuhi kualifikasi untuk didaftar (register) dan atau memiliki izin yang sah (lisensi) untuk melakukan praktik bidan.

Bidan diakui sebagai tenaga professional yang bertanggung-jawab dan akuntabel, yang bekerja sebagai mitra perempuan untuk memberikan dukungan, asuhan dan nasehat selama masa hamil, masa persalinan dan masa nifas, memimpin persalinan atas tanggung jawab sendiri dan memberikan asuhan kepada bayi baru lahir, dan bayi. Asuhan ini mencakup upaya pencegahan, promosi persalinan normal, deteksi komplikasi pada ibu dan anak, dan akses bantuan medis atau bantuan lain yang sesuai, serta melaksanakan tindakan kegawat-daruratan.

Bidan mempunyai tugas penting dalam konseling dan pendidikan kesehatan, tidak hanya kepada perempuan, tetapi juga kepada keluarga dan masyarakat. Kegiatan ini harus mencakup pendidikan antenatal dan persiapan menjadi orang tua serta dapat meluas pada kesehatan perempuan, kesehatan seksual atau kesehatan reproduksi dan asuhan anak.

Bidan dapat praktik diberbagai tatanan pelayanan, termasuk di rumah, masyarakat, Rumah Sakit, klinik atau unit kesehatan lainnya.

b. Pengertian Bidan Indonesia

Dengan memperhatikan aspek sosial budaya dan kondisi masyarakat Indonesia, maka Ikatan Bidan Indonesia (IBI) menetapkan bahwa bidan Indonesia adalah: seorang perempuan yang lulus dari pendidikan Bidan yang diakui pemerintah dan organisasi profesi di wilayah Negara Republik Indonesia serta memiliki kompetensi dan kualifikasi untuk diregister, sertifikasi dan atau secara sah mendapat lisensi untuk menjalankan praktik kebidanan.

Bidan diakui sebagai tenaga professional yang bertanggung-jawab dan akuntabel, yang bekerja sebagai mitra perempuan untuk memberikan dukungan, asuhan dan nasehat selama masa hamil, masa persalinan dan masa nifas, memimpin persalinan atas tanggung jawab sendiri dan memberikan asuhan kepada bayi baru lahir, dan bayi. Asuhan ini mencakup upaya pencegahan, promosi persalinan normal, deteksi komplikasi pada ibu dan anak, dan akses bantuan medis atau bantuan lain yang sesuai, serta melaksanakan tindakan kegawat-daruratan.

Bidan mempunyai tugas penting dalam konseling dan pendidikan kesehatan, tidak hanya kepada perempuan, tetapi juga kepada keluarga dan masyarakat. Kegiatan ini harus mencakup pendidikan antenatal dan persiapan menjadi orang tua serta dapat meluas pada kesehatan perempuan, kesehatan seksual atau kesehatan reproduksi dan asuhan anak.

Bidan dapat praktik diberbagai tatanan pelayanan, termasuk di rumah, masyarakat, Rumah Sakit, klinik atau unit kesehatan lainnya.

c. Kebidanan/Midwifery

Kebidanan adalah satu bidang ilmu yang mempelajari keilmuan dan seni yang mempersiapkan kehamilan, menolong persalinan, nifas dan menyusui, masa interval dan pengaturan kesuburan, klimakterium dan menopause, bayi baru lahir dan balita, fungsi–fungsi reproduksi manusia serta memberikan bantuan/dukungan pada perempuan, keluarga dan komunitasnya

d. Pelayanan Kebidanan (Midwifery Service)

Pelayanan kebidanan adalah bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan yang diberikan oleh bidan yang telah terdaftar (teregister) yang dapat dilakukan secara mandiri, kolaborasi atau rujukan.

e. Praktik Kebidanan

Praktik Kebidanan adalah implementasi dari ilmu kebidanan oleh bidan yang bersifat otonom, kepada perempuan, keluarga dan komunitasnya, didasari etika dan kode etik bidan.

f. Manajemen Asuhan Kebidanan

Manajemen Asuhan Kebidanan adalah pendekatan dan kerangka pikir yang digunakan oleh bidan dalam menerapkan metode pemecahan masalah secara sistematis mulai dari pengumpulan data, analisa data, diagnosa kebidanan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

g. Asuhan Kebidanan (PR lihat buku)

Asuhan kebidanan adalah proses pengambilan keputusan dan tindakan yang dilakukan oleh bidan sesuai dengan wewenang dan ruang lingkup praktiknya berdasarkan ilmu dan kiat kebidanan

Adalah penerapan fungsi dan kegiatan yang menjadi tanggung jawab dalam memberikan pelayanan kepada klien yang mempunyai kebutuhan/masalah dalam bidang kesehatan ibu masa hamil, masa persalinan, nifas, bayi setelah lahir serta keluarga berencana.

Materi lengkap dapat di download 14-rkm-std-profesi-bidan

Bidan Juga Manusia

Profesi bidan hingga kini tetap dibutuhkan walaupun terus tak diacuhkan. Ironis, memang. Padahal, peran bidan bagi negara amatlah besar, terutama di desa-desa, setidaknya untuk memberikan layanan kesehatan serta mengurangi angka kematian ibu dan bayi kala persalinan.

Sebagai catatan, angka kematian ibu (AKI) di Indonesia cukup tinggi. Malah, AKI di Indonesia adalah yang tertinggi dibandingkan dengan negara-negara di

ASEAN, yaitu 373 setiap 100.000 kelahiran pada tahun 1997, dan terus meningkat menjadi 391 setiap 100.000 kelahiran pada tahun 2002. Berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 1997, angka kematian bayi (AKB) adalah 52,2 per 1.000 kelahiran hidup. Di Jawa Barat, AKB yang tercatat adalah 43 kematian per 1.000 kelahiran. Selain itu, AKI pada saat melahirkan juga tinggi, yaitu 321 kematian per 100.000 kelahiran (Kompas, 9 juni 2005). Khusus di Kabupaten Bandung, AKB selama Januari 2006 sebanyak 14 dari 4.598 persalinan.

Menurut Kasubdin Kesehatan Keluarga Dinkes Kabupaten Bandung dr Hj Etty L Purnama, dibandingkan dengan AKB selama tahun 2004 dan 2005, jumlah 14 bayi meninggal termasuk tinggi. Selama tahun 2004, AKB hanya 101 dari 61.911 persalinan, sedangkan tahun 2005 ada 105 bayi meninggal dari 61.590 persalinan. Hal ini menyebabkan derajat kesehatan masyarakat Jawa Barat tidak pernah menempati peringkat sepuluh besar di antara provinsi-provinsi lainnya. Tahun 2005, peringkat derajat kesehatan Jawa Barat menempati posisi ke-17 dari 33 provinsi di Indonesia. Adapun penyebab utama AKI dan AKB, selain faktor medis yang meliputi pendarahan, eklamsia, dan infeksi, juga faktor manusia yang menangani kelahiran, dalam hal ini pasien dan keluarganya, dokter kandungan, bidan, dan dukun beranak (paraji, ma beurang, atau indung beurang). Khusus dalam dunia persalinan, peran bidan bisa dibilang paling penting.

Sebab, bidan-terutama di desa-desa-selain bertugas utama membantu ibu-ibu yang hendak melahirkan, juga menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan. Pelayanan bidan pun terasa lebih humanis ketimbang dokter kandungan karena melalui pendekatan kekeluargaan. Untuk masyarakat perkotaan, lepas dari faktor ekonomi, ibu-ibu hamil kiranya tidak terlalu mendapat kendala yang berarti. Sebab, di kota- kota terbilang banyak bidan yang siap siaga menangani pada masa dan pascapersalinan. Sementara itu, di desa-desa, apalagi di desa-desa yang terpencil, untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik susahnya bukan main. Belum memiliki Di Kabupaten Bandung, umpamanya, sebanyak 30 desa hingga kini belum memiliki bidan desa. Desa-desa itu tersebar di Kecamatan Rongga, Gununghalu, dan Cipongkor.

Untuk Cipongkor, dari delapan desa, baru ada tiga desa yang memiliki bidan desa. Seorang ibu hamil yang akan melahirkan, apalagi mengalami komplikasi, maka pertolongannya terbilang jauh, misalnya di RSU Soreang. Karena kurangnya keberadaan bidan di desa-desa, terlebih di desa- desa yang jauh dari kota kecamatan atau kota kabupaten, maka ketika masa hamil, persalinan, dan perawatan pascapersalinan, tak ada pilihan lain bagi para ibu kecuali meneruskan tradisi leluhurnya, yakni memercayakan sepenuhnya kepada jasa dukun beranak atau yang lebih dikenal dengan paraji, ma beurang, indung beurang atau apa pun namanya. Yang jelas sistem yang dikembangkan oleh paraji hingga kini umumnya menggunakan metode-metode tradisional. Bukan saya sangsi akan kualitas paraji, tapi dari segi kesehatan dan kehatian-kehatian kala menangani ibu hamil, umumnya mereka menggunakan metode yang sama atau sesuai dengan yang mereka dapatkan dari leluhurnya, walaupun kendala atau jenis penyakit dari tahun ke tahun tentu beragam dan bertambah. Kita tentu masih ingat akan kasus aborsi yang terjadi tahun lalu.

Lia Yulianti, warga Desa/Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, tewas seketika saat ditangani seorang paraji. Menurut pengakuan tersangka, proses mengeluarkan janin dari tubuh korban diawali dengan memijat bagian dada dan perut korban. Tak berselang lama, korban terkulai lemas dan akhirnya meningal dunia seketika. Itu hanya sepenggal kisah nyata salah satu akibat kurangnya keberadaan bidan di desa. Padahal, kesadaran masyarakat desa akan pentingnya kesehatan kini sudah meningkat. Masyarakat sudah lebih mengetahui pentingnya perawatan yang baik selama masa hamil, persalinan, dan pascapersalinan. Mereka pun sudah menyadari kurang baiknya pelayanan kesehatan dengan cara-cara lama yang dipraktikkan paraji. Kesadaran masyarakat itu bukan tak mungkin merupakan hasil sosialisai para pelaku kesehatan di negeri ini, termasuk kaum bidan dan kalangan mahasiswa.

Fasilitas minim Lalu, mengapa para bidan enggan turun ke desa-desa? Untuk menjawab pertanyaan ini tentu dibutuhkan penelitian yang sistematis dan persiapan ekstra khusus. Namun, diakui atau tidak, seperti profesi lainnya, guru umpamanya, kurangnya minat bidan turun ke desa salah satunya dikarenakan minimnya fasilitas yang diberikan pemerintah. Sebab, bidan juga manusia. Mereka butuh kesejahteraan yang mencukupi. Alumnus sekolah kebidanan tidak lantas bisa diterima menjadi pegawai negeri karena untuk menjadi PNS mereka mesti melanjutkan kuliah lagi. Dalam catatan Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia (PP IBI) Wastidar Mubir, bidan di desa sering mengalami keterlambatan gaji.

Tingkat kemampuan warga desa pun tak cukup untuk membayar para bidan. Selain itu, bidan di desa-desa pun kerap berhadapan dengan paraji. Mereka seolah merasa tersaingi. Lahan usaha menjadi lebih sempit sehingga terjadilah persaingan yang tidak sehat. Alhasil, keberadaan bidan di desa harus ekstra prihatin. Makanya, alumnus sekolah kebidanan pun mesti berpikir beberapa kali jika akan terjun ke desa. Padahal, bila pemerintah memberi perhatian lebih pada bidan dan para bidan rukun gawe dengan paraji, bukan tak mungkin baik AKB maupun AKI bisa diminimalisasi.

PROFESI BIDAN DI INDONESIA

Profesi Bidan di Indonesia
Dibutuhkan, tapi Diacuhkan

JAKARTA – Berbahagialah ibu hamil yang tinggal di kota besar, sebab cukup banyak bidan yang beroperasi di sana. Asal tahu saja, 90 persen kelahiran di kota-kota besar lebih banyak ditangani bidan daripada dokter kandungan. Sebab, di samping tarifnya lebih murah, pendekatan yang dilakukan para bidan terhadap pasien biasanya lebih bersifat kekeluargaan ketimbang dokter.

Namun jangan salah, di daerah pedesaan, di mana peran bidan sangat dibutuhkan, jumlah mereka justru minim sekali. ”Di Papua misalnya, dalam empat desa hanya ada satu bidan. Padahal idealnya setiap desa harus ada satu bidan,” papar Wastidar Musbir, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia (PP IBI) kepada SH di Jakarta, Selasa(2/9).
Tidak heran kalau di sana para ibu hamil malas memeriksakan kandungan ke bidan. Bukan karena biayanya mahal atau bagaimana, namun transportasi menjadi kendala utama. ”Tarif periksa bidan di Puskesmas cuma Rp1.000, tapi ongkos transpornya bisa Rp20.000,” tambah Wastidar.
Padahal 80 persen penduduk Indonesia bermukim di sekitar 69.061 desa (Profil Kesehatan Indonesia 2000). Yang memprihatinkan, jumlah tenaga bidan di desa kian lama kian berkurang. Sejak diadakan program Bidan di Desa (BDD) tahun 1989, jumlah BDD justru terus menyusut. Dari 62.812 BDD di tahun 2000 menjadi 39.906 di tahun 2003. Hari ini ada sekitar 22.906 desa yang tidak lagi memiliki bidan.
Dengan kondisi ini dikhawatirkan masyarakat pedesaan harus merogoh kocek lebih dalam untuk mendapat akses pelayanan kesehatan. Namun yang jelas mereka akan kembali pada dukun bayi, pihak yang sejak dulu dipercaya sebagai penanganan prosedur kelahiran. Repotnya, masih banyak dukun bayi yang belum mahfum betul soal kebersihan, sehingga tak jarang kelahiran berakhir dengan kematian atau gangguan kesehatan pada bayi.
Salah satu upaya adalah dengan mengadakan pendampingan dukun bayi oleh para bidan agar mereka paham aspek-aspek kebersihan dan kesehatan.
Dengan fakta sedemikian minimnya tenaga bidan di pedesaan, tak heran kalau Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia cukup tinggi. Bahkan AKI di Indonesia merupakan yang tertinggi di antara negara ASEAN, yakni 373 setiap 100.000 pada tahun 1997 dan terus meningkat menjadi 391 setiap 100.000 kelahitan pada 2002. Sementara berdasar Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 1997 menunjukkan Angka Kematian Bayi (AKB) adalah 52,2 per 1.000 kelahiran hidup.
Penyebab utama dari AKI dan AKB adalah pendarahan, eklamsia dan infeksi yang sebenarnya dapat cepat tertangani. Tentu saja angka-angka tersebut tidak akan sebanyak itu kalau saja jumlah bidan di pedesaan tercukupi. Walau di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Medan atau Surabaya mayoritas kelahiran bisa ditangani oleh bidan, tidak demikian halnya di daerah pedesaan. Ini terlihat dari data yang dirangkum Survei Ekonomi dan Sosial Nasional (Susenas) tahun 2001 yang memperlihatkan bahwa di pedesaan hanya 45,83 persen saja yang ditolong bidan. Sisanya persalinan lebih banyak dibantu oleh dukun atau bahkan tanpa bantuan siapa pun yang tentu saja akan sangat memungkinkan terjadinya AKI atau AKB.

Minim Fasilitas
Bagaimana Indonesia tidak kekurangan tenaga bidan kalau memang fasilitas yang diberikan pemerintah bagi profesi ini sangat minim sekali. Lulusan akademi kebidanan tidak bisa begitu saja diangkat menjadi pegawai negeri sehingga mereka harus melanjutkan kuliah lagi.
”Para bidan yang sudah lulus akademi sekarang lebih suka mengambil kuliah lagi, sebab dengan begitu bisa diterima menjadi pegawai negeri dengan gaji memuaskan,” tutur Wastidar. Maka itu sangat sedikit bidan yang selulus akademi sudi ditempatkan di desa terpencil. Selain mereka sering mengalami keterlambatan gaji, seringkali kesejahteraan warga desa juga tak mencukupi untuk membayar tarif bidan. Alhasil, bidan di desa terpencil harus ekstraprihatin. Apalagi sudah sejak tahun 2000 pemerintah menghapus program pemilihan bidan teladan. Otomatis tenaga bidan sekarang tidak lagi terlalu ”bersemangat” untuk berlaku teladan seperti masa lalu.
Wastidar juga menekankan, kendala lain yang membuat profesi bidan kurang diminati awam. Jenjang pendidikan untuk para bidan kini amat terbatas. Sampai sekarang strata pendidikan bidan belum ada yang mencapai S1. Pilihan bagi bidan hanya mencakup D3 atau D4. Sementara untuk meneruskan pendidikan ke luar negeri tentu butuh biaya besar. Jumlah Akademi kebidanan di seluruh Indonesia hanya 120 buah untuk jenjang D3 dan hanya empat untuk D4. Wastidar sangat berharap pemerintah mau sedikit memberi perhatian pada masalah pendidikan bidan ini demi meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.
Bukan hanya masalah pendidikan saja yang membuat orang urung menjadi bidan. Mendung juga menerpa profesi ini setelah ditiadakannya penerimaan pegawai negeri sipil (PNS). Namun itu semua tidak menyurutkan semangat para bidan yang kini ada untuk terus mengemban tugasnya. Ini terbukti dari akan diselenggarakannya Kongres IBI yang ke-13 pada 7-11 September mendatang di Jakarta. Kongres ini akan diikuti oleh 1.600 perwakilan IBI di seantero Indonesia yang beranggotakan 76.000 orang di 30 provinsi. Kongres ini antara lain akan mensosialisasikan program Bidan Delima kepada anggotanya dan masyarakat luas.
Wastidar menjelaskan bahwa program ini merupakan upaya peningkatan kualitas para bidan. Program Bidan Delima mempunyai standar kualitas tersendiri yang proses manajemennya bertumpu pada kemandirian dan kemampuan sendiri. Ini bukan sekadar program biasa di mana para bidan yang mencalonkan diri akan mendapat fasilitas khusus dari IBI.(mer)