HOME CARE (PERAWATAN DIRUMAH)

1. TIPE RUJUKAN DAN TUJUAN PERAWATAN DIRUMAH

Lama perawatan di rumah sakit telah menurun secara dramatis dalam era peningkatan biaya perawatan kesehatan, potongan anggaran yang besar, managed care, perkembangan teknologi yang cepat, dan pemberian pelayanan yang maju. Karena penyebab langsung atau efek langsung variabel ini, industri perawatan kesehatan-di-rumah menjadi alat untuk menurunkan biaya dan lama perawatan. Akibatnya, industri perawatan-di-rumah berkembang menjadi masalah yang kompleks dan harus diatasi dengan perhatian yang besar bila salah satu tujuannya adalah memberi hasil yang terbaik pada setiap individu.

Peran Perencana Perawatan Dirumah.

Perencana perawatan-di-rumah harus memiliki kemampuan untuk mengantisipasi dan memenuhi kebutuhan perawatan klien yang kompleks. Perawat tidak hanya harus sangat terlatih dalam praktik keperawatan, tetapi juga harus mengetahui dengan baik tentang pembiayaan perawatan kesehatan, regulasi yang mendasari praktik, dan sumber di komunitas serta teknologi yang tersedia.

Tanggung jawab perencana perawatan-di-rumah adalah menjamin semua kebutuhan klien di rumah terpenuhi dengan aman dan dengan pembiayaan yang efektif. Peranan ini melibatkan kolaborasi dengan profesional kesehatan lain saat pertemuan tentang rencana pemulangan klien, guna memastikan keberhasilan transisi ke rumah. Perawat perencana perawatan-di-rumah menyediakan informasi tentang sumber komunitas yang akan membantu dokter dan klien dalam membuat rencana pulang yang tepat. Perawat juga harus menggunakan keterampilan klinis untuk mengkaji kerusakan fisik klien, status psikologis, kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari yang sederhana, dan prosedur perawatan terampil.

Pengkajian di Rumah Sakit

Pengkajian di rumah sakit merupakan langkah penting yang membawa klien sepanjang proses perawatan dan rumah sakit ke rumah sampai akhirnya ia mencapai tingkat kemandirian yang optimal. Keberhasilan proses perencanaan bergantung kepada koordinasi antara rumah sakit dan pemberi perawatan kesehatan di rumah. Setelah klien dirujuk ke lembaga perawatan-di-rumah, perencana perawatan-di-rumah harus mengkaji kebutuhan medis, kebutuhan sosial, kebutuhan keperawatan, dan kebutuhan rehabilitasi klien untuk menetapkan apakah klien memenuhi syarat atau layak untuk menerima pelayanan.

Kriteria persyaratan ditentukan, baik oleh tipe program maupun oleh tanggungan asuransi. Jika klien ternyata memenuhi syarat untuk program yang dirujuk, perencana perawatan-di-rumah harus memulai pengkajian dan harus menggabungkan hal-hal berikut mi untuk mencapai kontinuitas perawatan dan hasil yang positif:

  • Tinjauan Ulang Catatan Rumah sakit, memungkinkan perawat untuk mengidentifikasi diagnosis primer dan Sekunder, riwayat medis klien, nilai-nilai laboratorium terkait, program pengobatan, penyuluhan yang diberikan, peralatan yang dibutuhkan, dan modalitas terapi.
  • Wawancara dengan K1ien/Keluarga, Saatnya untuk mendiskusikart aspek sosial dan lingkungan perawatan klien di rumah. Selama wawancara, perawat diharapkan mampu mengevaluasi keadekuatan sistem pendukung klien, dinamika keluarga, pemahaman mereka tentang penyakit, dan kemampuan mereka dalam mempelajari dan melaksanakan perawatan atau terapi yang dibutuhkan.

Bagian yang penting dalam wawancara adalah membahas tujuan program. Klien harus diberi kesempatan untuk mengemukakan harapan tentang transisinya ke rumah dan tujuan sasaran program. Perencana juga harus membahas sifat program dan pentingnya partisipasi klien dalam perencanaan asuhan. Klien harus setuju bahwa program tersebut dapat memenuhi kebutuhannya secara efektif.

  • Pengkajian Fisik. Pengkajian fisik merupakan langkah kunci dalam proses pengkajian. Pengkajian fisik mi menetapkan data dasar, yang berkaitan dengan tinjauan catatan rumah sakit dan wawancara klien, untuk mempertahankan kontinuitas asuhan.
  • Konferensi Kasus Setelah melengkapi pengkajian, perencana perawatan di-rumah harus berkolaborasi dengan dokter, perencana pemulangan, atau pekerja sosial untuk mengembangkan rencana perawatan. Kontinuitas perawatan bergantung pada komunikasi di antara semua staf yang terlibat didalamnya.

Rujukan di Komunitas

Proses rujukan mencakup hal-hal berikut:

  1. Demografik terkait dan informasi asuransi diperoleh dari sumber rujukan.
  2. Diagnosis dan riwayat medis klien diperoleh melalui diskusi dengan dokter. Dokter harus memberi program secara verbal tentang obat, diet, aktivitas, dan terapi.
  3. Dokter dan perawat membahas sasaran program dan hasil yang dicapai. Dokter harus setuju bahwa kebutuhan klien dapat dipenuhi dengan aman di rumah. Konfirmasi tertulis program dokter dapat dikirim melalui surat.
  4. Kontak dengan klien dan keluarga dimulai untuk menguraikan program perawatan-di-rumah dan pelayanan yang akan diberikan serta untuk rnendapatkan persetujuan verbal tentang pelayanan. Informasi keuangan dari tanggungan asuransi harus diuraikan.
  5. Klien didaftarkan untuk mengikuti program setelah melakukan pengkajian pada saat kunjungan rumah. Pada kesempatan ini, format pendaftaran dan persetujuan ditandatangani klien.

Rujukan berasal dari rumah sakit atau dibuat saat klien di komunitas dan keputusan untuk menerima klien dalam program perawatan-di-rumah disusun berdasarkan kasus per kasus melalui kolaborasi dengan perawat, dokter, perencana pemulangan, dan anggota tim kesehatan yang lain.

Rencana Pulang

  1. Evaluasi di Rumah

Alat pengkajian memberi informasi tentang tipe struktur tempat tinggal klien. Perawat yang melengkapi formulir tersebut harus menetapkan apakah tempat tinggal klien merupakan rumah pribadi atau rumah yang ditinggali bersama. Informasi mengenai jalan masuk ke rumah harus jelas. Misalnya, apakah terdapat bel listnik? Apakah memerlukan sebuah kunci? Apakah terdapat pintu masuk yang terbuka? Apakah klien harus menaiki tangga, atau apakah tempat tinggal merupakan bangunan bertingkat? Jika terdapat tangga, jumlah tangga sebaiknya didokumentasikan, karena semua itu akan terhadap proses perawatan klien selanjutnya.

  1. Tinjauan Ulang Klien Rujukan Instrumen

Instrumen Tinjauan Ulang Klien (Patient Review Instrument / PRI) dan skrining. PRI mengkaji kondisi medis dan kapabilitas klien dalam melakukan aktivitas sehari-hari yang mendasar seperti makan, pindah posisi, toileting, dan mobilisasi. Tingkat keparahan masing-masing gangguan tersebut terhadap setiap pola kapabilitas dan pola perilaku dalam melakukan ADL ditetapkan berdasarkan kriteria yang didefinisikan secara khusus dalam pengkajian. Bagian kedua pengkajian, yakni “Skrining,” mempunyai dua tujuan. Pertama, mengkaji kemungkinan klien mengalami penyakit mental, retardasi mental, atau ketidakmampuan untuk berkembang. Tujuan yang kedua adalah mengevaluasi kemungkinan bagi klien untuk dirawat dalam lingkungan komunitas.

Home Health Care Provider (HCCP) / Pemberi Perawatan Kesehatan di Rumah

Ada tiga cara utama pemberian pelayanan perawatan kesehatan dirumah: lembaga kesehatan-di-rumah bersertifikat (certified home health agency / CHHA), program perawatan kesehatan-di-rumah jangka-panjang (the long-term home health care program (LTHHCP), dan lembaga berlisensi. Tujuan setiap program ini adalah mempertahankan individu di rumah masing-masing. Tidak ada metode perawatan terbaik. Metode harus didasarkan pada sumber di komunitas, mampuan mengembangkan sumber melalui hubungan dan jaringan kerja serta kebutuhan klien.

  1. Lembaga Kesehatan di Rumah Bersertifikat (CHHA)

Dasar pemikiran CHHA adalah untuk memberikan kesempatan bagi individu yang mengalami penyakit akut untuk menerima perawatan terampil yang dibutuhkan di rumah mereka sendiri. CHHA memenuhi kebutuhan individu dengan memberi berbagai jenis pelayanan, termasuk pelayanan keperawatan terampil, terapi wicara, terapi fisik dan terapi okupasi, pelayanan sosial medis, asisten perawatan kesehatan di rumah (HHA), konseling nutrisi, transportasi, peralatan, dan terapi pernapasan. Selain itu, CHHA memiliki program khusus, seperti pelayanan kesehatan mental, pelayanan pediatrik, program untuk anak dan ibu, dan program AIDS, terdapat juga pelayanan berteknologi tinggi seperti terapi intravena, kemoterapi-di-rumah, dan penatalaksanaan nyeri. CHHA juga dikenal sebagai program jangka-pendek karena pelayanan yang diberikan biasanya singkat.

  1. Program Perawatan Kesehatan di-Rumah Jangka Panjang (LTHHCP)

Program Perawatan Kesehatan-di-Rumah Jangka-Panjang atau “rumah perawatan tanpa dinding,” dibentuk untuk memenuhi kebutuhan individu yang menderita penyakit kronis di rumah. Program Perawatan Kesehatan di-Rumah Jangka Panjang adalah suatu program yang memberikan pelayanan sosial dan kesehatan kepada masyarakat yang membutuhkan perawatan kesehatan-di-rumah dalam waktu yang lama. Biaya pelayanan kesehatan klien tidak boleh lebih dan 75% dan biaya rata-rata perawatan institusional jangka panjang di wilayah setempat. Program Perawatan Kesehatan-di-Rumah Jangka-Panjang memberikan pelayanan keperawatan terampil minimal dua minggu sekali, meliputi terapi fisik, okupasi, dan wicara, pelayanan sosial medis, dukungan nutrisi serta pelayanan perawatan personal.

  1. Lembaga Berlisensi

Lembaga perawatan-di-rumah berlisensi menawarkan berbagai pelayanan yang mencerminkan pelayanan yang diberikan oleh CHHA. Kriteria pendaftaran, pembagian pelayanan terampil, dan proses rujukan pada hakikatnya sama. Namun, ada juga perbedaan yang nyata. Lembaga berlisensi bukan merupakan lembaga Medicare bersertifikat. Lembaga berlisensi dapat memiliki komponen pelayanan professional yang menyediakan pelayanan terampil yang diberikan CHHA. Lembaga ini juga dapat meniru banyak program khusus CHHA. Bagian perawatan

terbesar yang diberikan berasal dan pelayanan perawatan personal. Lembaga berlisensi menyediakan pelayanan profesional, termasuk pengaturan rumah, ibu rumah tangga, pegawai perawatan personal (Personal Care Workers /PCW), dan perawatan seperti yang diberikan HHA.

2. Pendaftaran untuk Mengikuti Sistem Perawatan-di Rumah

Kriteria Pendaftaran Perawatan di Rumah

Di suatu lembaga bersertifikat, terdapat beberapa kualitas kriteria yang menentukan apakah klien cocok untuk menerima pelayanan perawatan dirumah. Kriteria penerimaan yang unik di setiap lembaga dan setiap manual kebijakan lembaga menentukan kriteria yang spesifik. Kriteria yang umum digunakan adalah:

  • Homebound, yaitu Klien harus berada di rumahnya sendiri (homebound). Klien sebaiknya berada di luar rumah dalam waktu yang singkat, tidak sering, dan ber- hubungan dengan keperluan medis.
  • Kebutuhan akan Pelayanan Terampil, Perawat harus menetapkan jenis pelayanan yang memenuhi kualifikasi kebutuhan kilen Kebutuhan klien harus didasarkan pada diagnosis dan kondisi klien. Klien membutuhkan minimal satu pelayanan terampil yang disediakan oleh lembaga penyelenggara perawatan-di-rumah. Pelayanan profesional yang terampil membutuhkan pelatihan dan keahlian profesi masing-masing sehingga pelayanan yang diberikan aman dan efektif. Contoh keperawatan terampil meliputi:
    • Observasi dan pengkajian
    • Penyuluhan klien
    • Administrasi medikasi
    • Perawatan ostomi baru
    • Perawatan rehabilitasi
    • Pungsi vena
    • Terapi dan evaluasi psikiatrik

Terapi fisik terampil dapat mencakup:

o Pengkajian

o Latihan terapeutik

o Pelatihan cara berjalan

o Rentang pergerakan sendi (Range of Motion /ROM)

o Hot packs

o Mandi parafin

o Berendam untuk klien yang mengalami komplikasi

Terapi wicara yang terampil mencakup:

o Pengkajian

o Bicara dan produksi suara

o Perbäikan aktivitas sehari-hari yang komunikatif

o Bantuan afasia

o Terapi disfasia

· Rencana Penanganan. Klien harus berada di bawah penanganan seorang dokter yang bersedia mempersiapkan program pengobatan. Perawat dan dokter bekerja sama dengan klien, mengembangkan suatu rencana perawatan yang berhubungan dengan diagnosis primer klien dan kebutuhan perawatan kesehatan yang prioritas. Rencana keperawatan meliputi semua diagnosis, pelayanan, dan peralatan yang dibutuhkan klien. Rencana perawatan juga mencakup pengobatan dan terapi, aktivitas klien yang diperbolehkan, frekuensi kunjungan, tindakan keamanan untuk melindungi klien dan cedera, sasaran perawatan yang spesifik dan dapat diukur, potensial rehabilitasi, dan rencana pulang.

· Masuk Akal dan Diperlukan. Penerimaan klien untuk mengikuti program perawatan-di-rumah didasarkan pada suatu harapan yang masuk akal bahwa kebutuhan klien dapat dipenuhioleh lembaga di lingkungan tempat tinggalnya. Saat pertama kali perawat melakukan kunjungan untuk memulai pengkajian, ia bertanggimg jawab untuk menentukan mampu/tidaknya staf perawatan di lingkungan rumah merawat klien dengan aman dan adekuat.

3. PENATALAKSANAAN WAKTU

Penetapan Frekwensi Kunjungan.

Frekuensi kunjungan ditetapkan lebih banyak dalam minggu- minggu awal dan menurun seiring dengan peningkatan keterampilan pemberi perawatan atau klien dalam menangani

kondisi kliennya. Perubahan jumlah kunjungan ini disebut penurunan (tapering). Sebagai contoh, jadwal berikut mengilustrasikan penurunan: kunjungan harian selama seminggu, tiga kali seminggu (TKS) selama tiga minggu, dua kali seminggu (DKS) dan satu kali seminggu (SKS) selama seminggu. Frekwensi kunjungan dapat juga ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi klien.

Waktu yang Diluangkan Klien Saat Kunjungan dan Prioritas Kebutuhan

Waktu yang diluangkan selama kunjungan ditetapkan berdasarkan prioritas kebutuhan yang ditemukan. Untuk itu, diharapkan perawat memiliki kemampuan komunikasi yang terampil. Sikap perawat saat berkomunikasi dengan klien atau keluarga juga mempengaruhi durasi kunjungan. Perawat sebaiknya menyampaikan lama kunjungan pada klien. Dengan demikian, klien diberi kesempatan untuk memikirkan dan memastikan, mereka mengungkapkan masalahnya yang terpenting. Perawat dapat mengusulkan kepada klien untuk menuliskan setiap pertanyaan yang muncul di setiap kunjungan. Perawat juga harus mengetahui kapan pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup diajukan. Pertanyaan tertutup sangat tepat digunakan untuk memperoleh informasi dengan cepat.

4. Hak Legal Klien dan Kerahasiaan

Hak dan Tanggung Jawab Klien

Hak klien yang dilindungi oleh hukum meliputi beberapa hal berikut ini :

· Klien berhak atas perawatan yang lengkap, dilakukan dengan kompeten, dan memiliki kualitas tertinggi.

· Klien harus mendapat respons yang cepat saat membutuhkan bantuan.

· Klien harus diperlakukan sama dan tanpa membedakan ras, keyakinan, jenis kelamin, umur, suku, kebangsaan, ketidakmampuan, atau sumber asuransi.

· Klien memiliki hak untuk mengetahui masalah, rencana perawatan, dan pengobatannya.

· Klien memiliki hak supaya property/perabotan-nya di rumah diperlakukan dengan hormat.

· Klien memiliki hak supaya informasi medisnya dirahasiakan.

· Klien memiliki hak untuk mengungkapkan duka cita atau keberatan tanpa suatu rasa takut bahwa ia akan dibalas.

· Klien berhak mendapat informasi dari perawat jika ia akan dipulangkan.

· Klien berhak untuk memformulasikan dokumen tertulis (advance directive)

Tanggung jawab yang klien miliki dikomunikasikan oleh perawat pada saat kunjungan pertama. Tanggung jawab ini meliputi:

· Memberi tahu perawat atau dokter jika klien mengalami perubahan status fungsi, sosial atau fisik

· Memberi tahu perawat atau dokter jika terdapat masalah atau perubahan yang akan mempengaruhi rencana perawatan

· Bekerja sama seluas mungkin dengan perawat pelaksana perawatan dirumah, ahli terapi, asisten, dan pemberi perawatan yang lain.

· Mengikuti rencana perawatan yang disusun berdasarkan pemahaman, perselujuan, dan kerja samanya sendiri.

Kerahasiaan Klien.

Ada beberapa langkah yang sangat mendasar yang harus diikuti perawat dalam melindungi kerahasiaan klien, diantaranya:

  • Perawat tidak boleh meninggalkan catatan medis klien sembarangan, seperti di dalam mobil atau di dalam tas.
  • .Perawat tidak boleh menulis catatan klinis di tempat umum yang memungkinkan orang lain memperoleh akses untuk mendapatkan informasi medis klien.
  • Jika seorang perawat menggunakan pelayanan pengetikan untuk mengetik catatan diktatnya, identitas klien harus dihapus. Gunakan inisial klien atau nomor registrasi untuk mengidentifikasi klien.
  • Selalu lindungi catatan klinis dan akses yang tidak memiliki wewenang, misalnya dengan menutup catatan klinis atau membalik catatan saat meninggalkan ruangan atau meja tulis seseorang untuk sementara.

Kerahasiaan didalam Rumah Klien.

Pada perawatan di-rumah, anggota keluarga sangat sering dilibatkan dengan perawatan klien. Terkadang, klien mungkin membagi informasi dengan perawat, sedangkan anggota keluarga tidak diberitahu. Perawat, sebagai advokat klien, harus melindungi dan menghormati hak klien untuk merahasiakannya. Akibatnya, perawat tidak boleh secara terbuka membagi rahasia pribadi klien dengan anggota keluarga tanpa diketahui atau tanpa persetujuan klien. Hal ini khususnya berlaku pada kerahasiaan kasus HIV, atau diskusi tentang faktor gaya hidup, seperti perilaku seksual, penggunaan obat-obatan intravena. Kerahasiaan adalah isu yang sangat penting dalam peninjauan terhadap kunjungan rumah. Perawat tidak boleh membahas klien di luar lingkungan rumah, dan harus membatasi diskusi dengan anggota keluarga di lokasi yang sepi.

5. Tindakan Pencegahan Universal dari Penularan Penyakit

Karena prevalensi penyakit infeksi terus meningkat, perawat harus memiliki pengetahuan tentang cara yang dibutuhkan untuk melindungi dirinya dan pemberi perawatan-di-rumah.

· Mencuci Tangan

Mencuci tangan ditetapkan sebagai metode yang paling efektif untuk mencegah penyebaran penyakit.

· Instrument

Sedapat mungkin, gunakan peralatan milik klien. Instrumen, seperti gunting dan jepitan dan tas keperawatan harus dibersihkan dengan saksama setelah dipakai.

· Peralatan untuk Proteksi.

Saat memberikan resusitasi mulut-ke-mulut, sedapat mungkin gunakan pelindung wajah sekali pakai. Pelindung wajah dapat disediakan oleh lembaga penyelenggara perawatan kesehatan-di-rumah. Namun, kantong resusitasi yang dilengkapi dengan katup satu-arah adalah peralatan kedaruratan jenis lain yang digunakan untuk tujuan proteksi yang dapat disediakan perawat di dalam tasnya. Umumnya, katup dan filter harus dibuang setiap kali selesai digunakan pada klien.

· Linen/Alat Tenun

Linen yang terkontaminasi harus dijaga supaya tidak bersentuhan dengan linen yang bersih dan pakaian lain atau dengan permukaan benda-benda lain. Linen harus diganti setiap hari dan sesering mungkin atau sesuai kebutuhan.

· Alat-alat Tajam

Pada beberapa kasus, klien membeli dan menyediakan sendiri di rumah, wadah alat-alat tajam anti bocor yang akan dipakai sebagai tempat pembuangan jarum, spuit, dan alat-alat tajam lain yang sekali pakai, seperti lanset dan silet. Alat-alat ini harus dibuang segera setelah digunakan.

· Tumpahan Darah atau Cairan Tubuh

Tumpahan darah atau bahan lain yang memiliki potensi untuk terinfeksi harus dibersihkan segera dengan menggunakan larutan pemutih dengan perbandingan 1:10. Area yang terkena harus dibersihkan dengan saksama. Tumpahan yang mengenai kulit harus segera dibersihkan dengan sabun cair dan air yang mengalir.

· Pembuangan sampah Infeksius

Sarung tangan sekali pakai harus dikenakan saat membuang sampah. Tangan harus dicuci segera setelah memegang sampah.

· Tindakan pencegahan lain.

Lebih baik menggunakan sabun cair daripada menggunakan sabun batangan untuk mandi klien. Klien dan keluarga/pemberi perawatan harus diinstruksikan untuk mengganti handuk dan pakaian setiap hari.

6. Peran Perawat

Perawat adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dan proses lahirnya penyelenggaraan perawatan kesehatan di rumah dan keberhasilan proses tersebut. Perawat mengkaji kebutuhan klien di rumah dan mengintegrasikan klien serta sistem pendukungnya ke dalam rencana perawatan. Pengomunikasian temuan hasil kunjungan rumah meningkatkan proses perawatan di-rumah dan meningkatkan kemampuan semua anggota tim dalam menyusuri rencana yang efektif untuk dapat memberikan pelayanan yang dibutuhkan. Pelayanan yang dapat diberikan secara keseluruhan mencakup terapi medis, terapi keperawatan, terapi fisik, terapi wicara, dan terapi okupasi, pekerja sosial, nutrisi, asisten keperawatan-di-rumah, laboratorium, suplai medis, dan peralatan medis yang tahan lama. Pendekatan kolaboratif perawatan kesehatan ini menjamin penanganan klien secara holistik/keseluruhan.

Dokumentasi.

Dokumentasi yang jelas dan komprehensif pada pengkajian awal perawat dan rencana perawatan, diperlukan untuk memformulasikan tujuan dan kerangka waktu yang realistik. Kunjungan ulang pada klien akan memfokuskan pada masalah yang teridentifikasi sejak awal, penyuluhan yang dibutuhkan, dan beberapa perubahan signifikan yang muncul selama kunjungan keperawatan. Semua dokumentasi perawat harus menginformasikan tentang tindakan klinis klien dan respons Klien terhadap rencana perawatan dan program medis. Faktor ini akan menetapkan frekuensi kunjungan keperawatan yang sesuai dengan durasinya.

7. KUNJUNGAN PERTAMA

Persiapan Untuk Kunjungan Pertama.

Sebelum bertemu klien, penting untuk membawa semua formulir pengkajian awal yang harus diisi atau dilengkapi. Tipe format-format ini diperlukan di pelbagai lembaga. Format kunjungan awal tambahan harus selalu tersedia bila terjadi kesalahan dalam penulisannya. Kunjungan awal adalah pertemuan antara perawat dan klien pertama kali. Klien mungkin telah mengikuti program sebelumnya, tetapi jika klien kembali menjalani

perawatan di rumah sakit untuk beberapa waktu tertentu maka diperlukan rujukan yang baru. Saat Anda bertemu klien, kenalkan diri Anda dan lembaga yang Anda wakili. Hal yang penting adalah mengetahui siapa yang membuka pintu dan siapa yang berada di rumah. Cara ini membantu Anda untuk mengetahui bagaimana keterlibatan individu pada saat kunjungan dan keterlibatannya di dalam rencana perawatan, termasuk privasi dan kerahasiaan klien.

Pelaksanaan Kunjungan.

Pada kunjungan pertama, perawat melakukan pengkajian fisik secara lengkap dan menggali riwayat klien secara rinci. Pemeriksaan fisik biasanya dilakukan di ruang tidur klien. Praktik pengontrolan infeksi diterapkan setiap saat. Tanyakan pada klien tempat yang dapat Anda gunakan untuk meletakkan tas keperawatan dan tempatkan tas tersebut di atas sebuah alas. Tanyakan pada klien tempat mencuci tangan dan gunakan sabun serta lap kertas yang Anda miliki. Keluarkan semua peralatan yang dibutuhkan dalam kunjungan tersebut dan letakkan di atas alas yang telah disiapkan. Pada pengkajian fisik, kaji setiap sistem tubuh dan bagaimana setiap sistem tersebut mempengaruhi kondisi klien.

8. PENGKAJIAN FISIK.

Walaupun keterampilan pengkajian fisik yang baik sangat dibutuhkan dalam menetapkan diagnosis, namun hal ini tidak dilakukan tanpa pengkajian riwayat klien yang teliti. Perawat perlu menanyakan masalah atau kekhawatiran utama yang klien alami saat ini. Hal ini mungkin tidak berhubungan dengan diagnosis. Dengan mengetahui masalah utama klien, anda dapat berfokus untuk mempersiapkan keterampilan yang diperlukan dalam melakukan pengkajian. Pengkajian fisik meliputi beberapa pemeriksaan:

· Penampilan umum

· Tanda Vital

· Jantung

· System saraf

· Status mental dan wicara

· Penglihatan

· Pendengaran

· System peredaran darah perifer

· Kulit

· System Muskuloskeletal

· Eliminasi

· System pencernaan dan nutrisi

9. Kunjungan ulang

Kunjungan ulang ini merupakan tindak lanjut kunjungan pertama atau tindak lanjut kunjungan ulang yang lain. Kunjungan ulang dilakukan oleh perawat yang mengoordinasi atau menangani kasus tersebut, tetapi terkadang kunjungan ulang dilakukan oleh perawat lepas yang kebetulan diminta untuk menangani klien pada kunjungan tersebut. Bagian ini berfokus pada hal-hal yang berkenaan dengan kunjungan ulang tersebut dan contoh catatan kunjungan yang termasuk ke dalam dokumentasi yang benar.

Penggunaan Temuan Pada Kunjungan Pertama

Sebelum mempersiapkan kunjungan ulang, perawat harus memahami format pengkajian pertama yang telah dilengkapi. Format ini membantu perawat untuk mengetahui riwayat klien, tanda-tanda vital, dan data lain yang bermakna. Format ini juga mengarahkan perawat dalam merencanakan pencapaian tujuan.

Pelaksanaan Kunjungan Ulang.

Perawat yang telah bertemu klien sebelumnya, juga akan merasa lebih nyaman karena ia telah mengenal baik klien dan lingkungannya. Selama kunjungan pertama, perawat telah mampu menggali riwayat klien dan melakukan pemeriksaan fisik yang lengkap. Perawat telah mampu memeriksa setiap sistem, memperoleh tanda vital dasar, dan mencatat kelainan yang ditemukan pada klien. Fokus kunjungan ulang ialah mengkaji cara klien berespons terhadap terapi, cara klien berfungsi di rumah, dan apakah tujuan perawatan yang direncanakan pada kunjungan pertama realistis dan dapat dicapai.

10. Penghentian Perawatan di Rumah

Penghentian pelayanan perawatan-di-rumah sangat berbeda dalam beberapa hal. Walaupun terdapat aspek tertentu yang berhubungan dengan penghentian perawatan yang fundamental terhadap proses penghentian itu sendiri, tanpa memperhatikan lingkungan perawatan klien.

Perencanaan Penghentian Perawatan.

Rencana penghentian perawatan harus dilakukan melalui diskusi dengan klien dan keluarga. Ajukan pertanyaan dan perhatikan ide mereka dalam melakukan perawatan, hasil akhir perawatan yang diharapkan, dan akan atau telah terjadi sesuatu yang merintangi partisipasi mereka, memungkinkan perawat menyusun rencana perawatan yang dapat diterima dan mengunturigkan kedua belah pihak

Kriteria Penghentian Perawatan.

Secara ideal, perawatan klien dihentikan saat tujuan atau hasil akhir perawatan dicapai. Ada saat perawatan klien-di-rumah dihentikan jika tujuan atau hasil akhir tersebut tidak tercapai. Beberapa alasan dapat melatarbelakangi hal ini, alasan yang tidak berhubungan dengan kemampuan perawat dalam mengembangkan atau mengimplementasikan rencana perawatan. Misalnya, klien menolak perawatan atau pindah ke lokasi lain, atau dokter yang menangani klien tidak setuju kalau pelayanan perawatan dirumah klien dilanjutkan.

  • Klien yang Stabil Secara Medis

Kestabilan kondisi medis klien merupakan alasan yang sangat sering muncul dalam penghentian perawatan klien-di-rumah dan merupakan hasil akhir yang diharapkan dan diinginkan untuk semua klien. Sebagai hasil akhir yang diharapkan, hal ini berarti bahwa jika klien stabil dan tidak membutuhan asuhan keperawatan lebih jauh maka alasan penghentian perawatan tidak perlu dipertanyakan lagi.

  • Keluarga Klien dapat Melakukan Perawatan

Kriteria ini dapat merupakan alasan dan sekaligus solusi yang mungkin supaya perawatan klien-di-rumah dihentikan. Seorang klien mungkin tidak mampu melakukan seluruh perawatannya di rumah. Keluarga mungkin memutuskan untuk berpartisipasi dalam perawatan sehingga klien dapat tetap tinggal di rumah. Perawat kemudian akan mengajar anggota keluarga atau orang terdekat lain untuk membantu memenuhi kebutuhan klien. Perawatan dapat dihentikan jika keluarga klien atau orang terdekat lainnya dapat melakukan perawatan klien.

  • Klien tidak Bersedia untuk Berpartisipasi dalam Rencana Perawatan

Hal ini dapat diketahui melalui beberapa bentuk penolakan yang aktif, seperti klien secara terbuka menyatakan tidak ingiri mempelajari atau melakukan tindakan tertentu. Penolakan ini juga dapat dinyatakan secara pasif, seperti klien mengatakan setuju dengan rencana perawatan yang ditetapkan, tetapi tidak mengikuti terapi yang telah direncanakan, lupa meminum obatnya, atau tidak mau terlibat dalam penyusunan rencana perawatan medis. Perawat tidak perlu frustasi karena klien tidak bersedia berpartisipasi dalam perawatannya. Akan tetapi, hal ini harus menjadi alasan dasar penghentian perawatan. Kegagalan untuk menggali alasan partisipasi klien dan kegagalan dalam menerapkan metode pengganti dalam memotivasi kerja sama klien, dapat dianggap sebagai kelalaian perawat. Jika semua usaha untuk membuat klien terlibat tidak berhasil, perawat harus mengomunikasikan pada klien tentang kemungkinan penghentian perawatan. Klien harus diberitahu tentang konsekuensi terhadap kesehatannya bila perawatannya tidak adekuat. Perawat juga harus menawarkan bantuan kepada klien jika klien menginginkan perawat untuk mengatur penghentian perawatan klien di-rumah.

  • Alasan Penghentian Perawatan yang Lain

Contoh alasan di atas meliputi: klien tidak stabil (dirawat), klien menolak pelayanan lebih lanjut, klien pindah ke tingkat perawatan lain (panti jompo/hospice care/pusat rehabilitasi), klien pindah (tidak dapat ditemukan), dokter tidak mau menandatangani surat persetujuan, atau klien meninggal. Seperti yang telah dicatat sebelumnya, lembaga penyelenggara perawatan di-rumah memiliki kebijakan dan prosedur yang berbeda-beda sehubungan dengan alasan penghentian perawatan klien atau pemindahan posisi klien pada saat penghentian tersebut. Perawat harus mengetahui masalah khusus dalam lembaga penyelenggara perawatan-di-rumah tempat ia bekerja.

  • Pendokumentasian Penghentian Perawatan

Setelah perawatan klien dihentikan, perawatan tidaklah lengkap sebelum pendokumentasian yang tepat selesai. Isi dokumentasi penghentian perawatan klien diperiksa oleh badan berwenang yang menilik penyelenggaraan perawatan di-rumah, juga oleh kebijakan serta prosedur lembaga penyelenggara perawatan-di-rumah yang khusus. Pada dasarnya, surat kerja terdiri dan ringkasan penghentian perawatan dan dokumentasi tujuan atau hasil akhir perawatan yang dicapai klien sebagai hasil klien mendapat perawatan-di-rumah.

11. Penyuluhan dan Pembelajaran Klien

Prioritas penyuluhan harus berfokus pada pengkajian klien sebagai individu yang sedang belajar, perencanaan dan pengimplementasian penyuluhan, cara untuk melakukan intervensi saat berbagai tipe masalah pembelajaran muncul, dan pengevaluasian keberhasilan klien dalam pembelajaran.

Penyuluhan dan Pembelajaran

Dalam merencanakan penyuluhan untuk klien di rumah, sangat penting untuk mempertimbangkan diagnosis klien yang terbaru, riwayat medis, obat yang sedang diminum klien saat ini, tingkat orientasi klien, dan dukungan keluarga. Akan tetapi, pertama-tama kita perlu menetapkan peran penyuluh dan individu yang belajar.

Salah satu aspek yang paling penting dalam kunjungan keperawatan adalah menetapkan topik apa yang perlu disuluhkan dan dipelajari klien, klien, dan kebutuhan klien untuk mempelajari topik ini. Perawat perlu mengevaluasi klien dengan melakukan pengkajian mental dan pengkajian fisik secara keseluruhan, untuk melihat seberapa jauh klien mampu terlibat dalam perencanaan perawatan. Apabila perawat menilai bahwa tidak ada seorang pun yang mampu mempelajari prosedur atau teknik dalam perawatan klien, ia perlu melakukan kunjungan sampai semua kebutuhan klien akan perawatan yang terampil dipenuhi. Penyuluhan harus tetap mencakup klien dan anggota keluarga dalam setiap aspek perencanaan perawatan..

Lingkungan merupakan faktor lain yang sangat penting untuk keberhasilan penyuluhan. Klien perlu dilibatkan dalam memutuskan tempat terbaik untuk menyelenggarakan proses penyuluhan. Tempat yang terang dengan lantai yang bersih dan sebuah meja sebagai tempat untuk meletakkan bahan yang akan didemonstrasikan, akan sangat membantu proses pembelajaran. Keterampilan khusus, seperti perawatan luka, pemberian insulin, dan penyuluhan tentang medikasi, menuntut lingkungan yang menawarkan kenyamanan bagi klien dan perawat sehingga mereka dapat bekerja sama dengan baik.

Kolaborasi antara Perawat dengan Klien.

Apabila proses kolaborasi berlangsung dengan baik, baik bagi klien maupun bagi perawat pada kunjungan pertama, kemungkinan penyuluhan dan proses pembelajaran dapat dicapai. Akan sangat membantu jika anggota keluarga dilbatkan, yakni jika mereka memiliki komitmen untuk terlibat dalam perawatan kesehatan klien. Sementara itu, Anda juga perlu memberi tahu bahwa kadang-kadang jadwal keluarga atau pekerjaan menghambat keikutsertaan mereka dalam perawatan klien. Penggunaan alat tulis merupakan salah satu cara untuk berkomunikasi dengan anggota keluarga yang mempunyai komitmen untuk turut berpartisipasi, tetapi tidak dapat hadir selama pelaksanaan kunjungan rumah. Kunjungan rumah yang pertama memungkinkan perawat untuk melakukan pengkajian keluarga sambil mulai mengoordinasi penyuluhan klien. Evaluasi dinamika keluarga, ketersediaan sumber di komunitas dan di rumah, dan kebutuhan penyuluhan di antara anggota keluarga sangat penting untuk mencapai keberhasilan penyuluhan di rumah.

Penetapan Tujuan dalam Penyuluhan Klien

Setelah kunjungan pertama, perawat, klien, dan setiap anggota keluarga yang terlibat harus menyetujui tujuan pembelajaran yang ditetapkan disertai dengan langkah yang dapat dicapai dan dapat diukur (sasaran perilaku) pada kunjungan rumah berikutnya Apabila klien, perawat, dan keluarga tidak menyetujuinya dibutuhkan diskusi tambahan yang diselenggarakan oleh perawat untuk mengklarifikasi harapan dan fokus pada tujuan. Negosiasi dengan semua orang yang terlibat (perawat, kilen, dan keluarga) sangat penting dalam upaya untuk mencapai tujuan.

Penetapan Tujuan dalam Penyuluhan dan Pembelajaran

Pada akhir kunjungan pertama, perawat, klien, dan anggota keluarga harus mencapai kesepakatan tentang tujuan pembelajaran dan tujuan yang disertai langkah yang dapat dicapai secara spesifik dan dapat diukur pada kunjungan rumah berikutnya. Sering kali kontrak pembelajaran dipersiapkan oleh perawat dan klien, yakni berupa kontrak tertulis yang berisi langkah spesifik untuk mencapai tujuan. Walaupun kontrak pembelajaran tidak perlu ditulis, sering kali formulir tertulis sangat membantu untuk mengidentifikasi tujuan spesifik dan pencapaian tujuan. Kerangka waktu yang spesifik untuk pencapaian tujuan juga dapat ditulis sehingga terbentuk suatu kesadaran kapan tujuan akan dicapai.

Kontrak Pembelajaran

Persiapan kontrak pembelajaran dapat mempermudah penyuluhan di lingkungan perawatan di-rumah, baik bagi perawat maupun klien. Proses yang dilakukan dalam menyiapkan kontrak pembelajaran tersebut harus diuraikan dengan jelas sebagai suatu kontrak antara perawat dan klien. Pertama-tama, tujuan khusus harus dituliskan dengan detail, kemudian langkah atau sasaran untuk mencapai tujuan tersebut harus dirinci. Perawat dan klien harus membuat suatu kesepakatan tentang tanggal target pencapaian sasaran dan tujuan perawatan. Setiap intervensi khusus yang harus dicapai perawat dan klien, harus dituliskan secara garis besar di dalam kontrak. Perawat dan klien harus menandatangani kontrak pembelajaran kemudian menyiapkan suatu media supaya perawat dan klien dapat merencanakan setiap kunjungan, dapat mengkaji langkah untuk mencapai tujuan, dan dapat mengevaluasi kemajuan upaya pencapaian tujuan tersebut. Kontrak tersebut berfokus pada setiap kunjungan dan disertai langkah yang dapat diukur untuk mencapai tujuan akhir perawatan. Langkah terakhir ialah mengidentifikasi kerangka waktu yang realistis dalam mencapai tujuan.

PRO KONTRA DI INDONESIA

Di awal perjalanannya home care nursing sesungguhnya merupakan bentuk pelayanan yang sangat sederhana, yaitu kunjungan perawat kepada pasien tua atau lemah yang tidak mampu berjalan menuju rumah sakit atau yang tidak memiliki biaya untuk membayar dokter di rumah sakit atau yang tidak memiliki akses kepada pelayanan kesehatan karena strata sosial yang dimilikinya. Pelaksanaannya juga merupakan inisiatif pemuka agama yang care terhadap merebaknya kasus gangguan kesehatan. Perawat yang melakukannya dikenal dengan istilah perawat kunjung (visiting nurse). Bentuk intervensi yang diberikan berupa kuratif dan rehabilitatif.

Pada saat klien dan keluarga memutuskan untuk menggunakan sistem pelayanan keperawatan dirumah (home care nursing), maka klien dan keluarga berharap mendapatkan sesuatu yang tidak didapatkannya dari pelayanan keperawatan dirumah sakit.adapun klien dan keluarga memutuskan untuk tidak menggunakan sistem ini, mungkin saja ada pertimbangan-pertimbangan yang menjadikan home care bukan pilihan yang tepat.dibawah ini terdapat tentang pro dan kontra home care di Indonesia.

Pro home care berpendapat :

  1. home care memberikan perasaan aman karena berada dilingkungan yang dikenal oleh klien dan keluarga, sedangkan bila di rumah sakit klien akan merasa asing dan perlu adaptasi.
  2. home care merupakan satu cara dimana perawatan 24 jam dapat diberikan secara focus pada satu klien, sedangkan dirumah sakit perawatan terbagi pada beberapa pasien.
  3. home care memberi keyakinan akan mutu pelayanan keperawatan bagi klien, dimana pelayanan keperawatan dapat diberikan secara komprehensif (biopsikososiospiritual).
  4. home care menjaga privacy klien dan keluarga, dimana semua tindakan yang berikan hanya keluarga dan tim kesehatan yang tahu.
  5. home care memberikan pelayanan keperawatan dengan biaya relatif lebih rendah daripada biaya pelayanan kesehatan dirumah sakit.
  6. home care memberikan kemudahan kepada keluarga dan care giver dalam memonitor kebiasaan klien seperti makan, minum, dan pola tidur dimana berguna memahami perubahan pola dan perawatan klien.
  7. home care memberikan perasaan tenang dalam pikiran, dimana keluarga dapat sambil melakukan kegiatan lain dengan tidak meninggalkan klien.
  8. home care memberikan pelayanan yang lebih efisien dibandingkan dengan pelayanan dirumah sakit, dimana pasien dengan komplikasi dapat diberikan pelayanan sekaligus dalam home care.
  9. pelayanan home care lebih memastikan keberhasilan pendidikan kesehatan yang diberikan, perawat dapat memberi penguatan atau perbaikan dalam pelaksanaan perawatan yang dilakukan keluarga.

Kontra home care berpendapat :

  1. home care tidak termanaged dengan baik, contohnya jika menggunakan agency yang belum ada hubungannya dengan tim kesehatan lain seperti :
    • dokter spesialis.
    • Petugas laboratorium.
    • Petugas ahli gizi.
    • Petugas fisioterafi.
    • Psikolog dan lain-lain.
  2. home care membutuhkan dana yang tidak sedikit jika dibandingkan dengan menggunakan tenaga kesehatan secara individu.
  3. klien home care membutuhkan waktu yang relatif lebih banyak untuk mencapai unit-unit yang terdapat dirumah sakit, misalnya :
    • Unit diagnostik rontgen
    • Unit diagnostik CT scan.
    • Unit diagnostik MRI.
    • Laboratorium dan lain-lain.
  4. pelayanan home care tidak dapat diberikan pada klien dengan tingkat ketergantungan total, misalnya: klien dengan koma.
  5. tingkat keterlibatan anggota keluarga rendah dalam kegiatan perawatan, dimana keluarga merasa bahwa semua kebutuhan klien sudah dapat terlayani dengan adanya home care.
  6. pelayanan home care memiliki keterbatasan fasilitas emergency, misalnya :
    • fasilitas resusitasi
    • fasilitas defibrilator
  7. jika tidak berhasil, pelayanan home care berdampak tingginya tingkat ketergantungan klien dan keluarga pada perawat

PRO DAN KONTRA HOME CARE DI INDONESIA

Pro berpendapat :

1. home care memberikan perasaan aman.

2. home care memberikan pelayanan focus.

3. home care memberikan keyakinan akan mutu pelayanan.

4. menjaga privasi klien dan keluarga.

5. home care lebih hemat.

6. memberikan kemudahan dalam memonitor.

7. home care memberikan rasa tenang kepada keluarga.

8. home care lebih efisien.

9. lebih berhasil dalam pendidikan kesehatan.

Kontra berpendapat :

1. home care tidak termanaged dengan baik.

2. home care lebih mahal.

3. membutuhkan waktu lebih banyak untuk mencapai unit penunjang yang ada dirumah sakit.

4. tidak bisa pada klien dengan ketergantungan total.

5. tingkat keterlibatan keluarga rendah.

6. memiliki keterbatasan fasilitas.

7. tingkat ketergantungan tinggi.

REFERENSI

MANUAL PERAWATAN DIRUMAH ( HOME Care Manual), Sheryl Mara Zang & Nellie C. Bailey, EGC JAKARTA,2004.

Komunikasi Umum

Pendahuluan.

Sebagaimana diketahui, manusia adalah makhluk sosial, yaitu makhluk yang selalu membutuhkan sesamanya dalam kehidupannya sehari-hari. Oleh karena itu tidak dapat dihindari bahwa manusia harus selalu berhubungan dengan manusia lainnya. Hubungan manusia dengan manusia lainnya, atau hubungan manusia dengan kelompok, atau hubungan kelompok dengan kelompok inilah yang disebut sebagai interàksi sosial.

Banyak pakar menilai bahwa komunikasi adalah suatu kebutuhan yang

sangat fundamental bagi seseorang dalam hidup bermasyarakat. Profesor Wilbur Schramm menyebutnya bahwa komunikasi dan masyarakat adalah dua kata kembar yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Sebab tanpa komunikasi tidak mungkin masyarakat terbentuk, sebaliknya tanpa masyarakat maka manusia tidak mungkin dapat mengembangkan komunikasi (Schramm; 1982)

Apa yang mendorong manusia sehingga ingin berkomunikasi dengan manusia lainnya. Teori dasar Biologi menyebut adanya dua kebutuhan, yakni kebutuhanuntük mempertahankan kelangsungan hidupnya dan kebutuhan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Narold D. Lasswell salah seorang peletak dasar ilmu komunikasi lewat ilmu politik menyebut tiga fungsi dasar yang menjadi penyebab, mengapa manusia perlu berkomunikasi:

Pertama, adalah hasrat manusia untuk mengontrol lingkungannya. Melalui komunikasi manusia dapat mengetahui peluang-peluang yang ada untuk dimanfaatkan, dipelihara dan menghindar pada hal-hal yang mengancam alam sekitamya. Melalui komunikasi manusia dapat mengetahui suatu kejadian atau peristiwa. Bahkan melalui komunikasi manusia dapat mengembangkan pengetahuannya, yakni belajar dan pengalamannya, maupun melalui informasi yang mereka terima dari lingkungan sekitarnya.

Kedua, adalah upaya manusia untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Proses kelanjutan suatu masyarakat Sesungguhnya tergantung bagaimana masyarakat itu bisa beradaptasi dengan lingkungannya. Penyesuaian di sini bukan saja terletak pada kemampuan manusia memberi tanggapan terhadap gejala alam seperti banjir, gempa bumi dan musim yang mempengaruhi perilaku manusia, tetapi juga lingkungan masyarakat tempat manusia hidup dalam tantangan. Dalam lingkungan seperti ini diperlukan penyesuaian, agar manusia dapat hidup dalam suasana yang harmonis.

Ketiga, adalah upaya untuk melakukan transformasi warisan sosialisasi. Suatu masyarakat yang ingin mempertahankan keberadaannya, maka anggota masyarakatnya dituntut untuk melakukan pertukaran nilai, perilaku, dan peranan. Misalnya bagaimana orang tua mengajarkan tatakrama bermasyarakat yang baik kepada anak-anaknya. Bagaimana sekolah difungsikan untuk mendidik warga negara Bagaimana media massa menyalurkan hati nurani khalayaknya, dan bagaimana pemerintah dengan kebijaksanaan yang dibuatnya untuk mengayomi kepentingan anggota masyarakat yang dilayaninya.

Ketiga fungsi ini menjadi patokan dasar bagi setiap individu dalam berhubungan dengan sesama anggota masyarakat. Profesor David K. Berlo dari Michigan State University menyebut secara ringkas bahwa komunikasi sebagai instrumen dan interaksi sosial berguna untuk mengetahui dan memprediksi sikap orang lain, juga untuk mengetahui keberadaan diri sendin dalam menciptakan keseimbangan dengan masyarakat (Byrnes, 1965).

Jadi komunikasi jelas tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan umat manusia, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Ia diperlukan untuk mengatur tatakrama pergaulan antarmanusia, sebab berkomunikasi dengan baik akan memberi pengaruh langsung pada struktur keseimbangan seseorang dalam bermasyarakat, apakah ia seorang dokter, dosen, manajer, pedagang, pramugari, pemuka agama, penyuluh lapangan, pramuniaga dan lain sebagainya. Pendek kata, sekarang ini keberhasilan dan kegagalan seseorang dalam mencapai sesuatu yang diinginkan termasuk karir mereka, banyak ditentukan oleh kemampuannya berkomunikasi..

B. Pengertian.

Salah satu persoalan di dalam memberi pengertian komunikasi, yakni banyaknya definisi yang telah dibuat oleh para pakar menurut bidang ilmunya. Hal ini disebabkan karena banyaknya disiplin ilmu yang telah memberi masukan terhadap perkembangan ilmu komunikasi, misalnya psikologi, sosiologi, antropologi, ilmu politik, ilmu manajemen, linguistik, matematika, ilmu elektronika, dan lain sebagainya.

Carl I. Hovland dari Universitas Yale misalnya mempelajari komunikasi dalam hubungannya dengan perubahan sikap manusia. Charles F. Osgood di Universitas Illinois mempelajari audi empirik arti pesan. Paul F. Lazarsfeld dengan teman-temannya di Universitas Columbia mempelajari komunikasi antar pribadi (personal) dalam kaitannya dengan komunikasi massa. L Festinger, Elihu Katz, McGuire mempelajari teori ketidakcocokan (dissonance theory), teori konsistensi dan faktor-faktor psikoIogis lainnya yang erat hubungannya dengan komunikasi. Ithiel de Sola Pool, Deutsch, Davidson dan lain-lainnya mempelajari komunikasi internasional. Newcomb, Asch, Muzafir Sherif, Leavitt, Baveas dan kawan-kawannya mempelajari proses kelompok dalam kaitannya dengan komunikasi. G.A. Miller, Cohn Cherry menerapkan teori matematik dari Claude E. Shannon dan Warren Weaver terhadap persoalan-persoalan komunikasi antarmanusia. B. Barelson, 0. Hosti dan lain-lainnya mempelajari analisis isi pesan (content analysis). Miller mempelajani teori sistem, Carter mempelajari studi orientasi. N. Chomsky mempelajari komunikasi dari segi bahasa, dan M.A. May, A.A. Lumsdaine dan lainnya mempelajari proses belajar melalui komunikasi massa (Schramm, 1971).

Sebuah definisi yang dibuat oleh kelompok sarjana komunikasi yang mengkhususkan din pada studi komunikasi antarmanusia (human communication) bahwa:

‘Komunikasi adalah suatu transaksi proses simbolik yang menghendaki orang-orang mengatur lingkungannya dengan :

* membangun hubungan antarsesama manusia

* melalui pertukaran informasi

* untuk menguatkan sikap dan tingkah laku orang lain

* serta berusaha mengubah sikap dan tingkah laku itu’.

(Book, 1980).

Everett M. Rogers seorang pakar Sosiologi Pedesaan Amerika yang telah banyak memberi perhatian pada studi riset komunikasi, khususnya dalam hal penyebaran inovasi membuat definisi bahwa:

‘Komunikasi adalah proses di mana suatu ide dialihkan dari sumber kepada satu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka’.

Definisi ini kemudian dikembangkan oleh Rogers bersama D. Lawrence Kincaid (1981) sehingga melahirkan suatu definisi baru yang menyatakan bahwa:

“Komunikasi adalah suatu proses di mana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya, yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam”.

C. Elemen-elemen komunikasi.

Aristoteles, ahli filsafat Yunani Kuno dalam bukunya Rhetorica menyebut bahwa suatu proses komunikasi memerlukan tiga unsur yang mendukungnya, yakni siapa yang berbicara, apa yang dibicarakan dan siapa yang mendengarkan. Pandangan Aristoteles ini oleh sebagian besar pakar komunikasi dinilai lebih tepat untuk mendukung suatu proses komunikasi publik dalam bentuk pidato atau retorika. Hal ini bisa dimengerti, karena pada zaman Aristoteles retorika menjadi bentuk komunikasi yang sangat populer bagi masyarakat Yunani.

Claude E. Shannon dan Warren Weaver (1949), dua orang insinyur listrik menyatakan bahwa terjadinya proses komunikasi memerlukan lima unsur yang mendukungnya, yakni pengirim, transmitter, signal, penerima dan tujuan. Kesimpulan ini didasarkan atas hasil studi yang mereka lakukan mengenai pengiriman pesan melalui radio dan telepon.

Meski pandangan Shannon dan Weaver pada dasarnya berasal dan pemikiran proses komunikasi elektronika tetapi para sarjana yang muncul di belakangnya mencoba menerapkannya dalam proses komunikasi antarmanusia seperti yang dilakukan oleh Miller dan Cherry (Schramm; 1971).

Perkembangan terakhir adalah munculnya pandangan dari Joseph de Vito, K. Sereno dan Erika Vora yang menilai faktor lingkungan merupakan unsur yang tidak kalah pentingnya dalam mendukung terjadinya proses komunikasi. Elemen-elemen komunikasi :

a. Sumber

Semua peristiwa komunikasi akan melibatkan sumber sebagai pembuat atau pengirim informasi. Dalam komunikasi antarmanusia, sumber bisa terdiri dan satu orang, tetapi bisa juga dalam bentuk kelompok misalnya partai, organisasi atau lembaga. Sumber sering disebut pengirim, komunikator atau dalam bahasa Inggrisnya disebut source, sender atau encoder.

Seringkali dalam berkomunikasi, komunikator itu dipandang bukan isi pesannya yang diperhatikan oleh masyarakat, tapi “siapa dia” atau “sebagai apa” dia yang menyampaikan pesan tersebut. Ini berkaitan erat dengan kredibilitas (credibility) yang melekat pada diri seseorang.

Hovland dan Weiss menyebutkan bahwa kredibilitas dari seseorang terdiri dari dua unsur:

* expertise (keahlian)

* trustworthiness (dapat dipercaya)

Tapi kita tidak bisa melupakan faktor lain yang selalu mengikuti kredibilitas sehingga lebih efektif yailu faktor atraksi komunikator (Source attractiveness) dan kekuasaan (source power).

Menurut Herbert C, Kelman, komuinikasi yang kita lakukan akan mempengaruhi tiga hal pada orang lain: internalisasi (intemalization) karena sesuai dengan sistem nilai yang dimilikinya, identifikasi (identification) karena berhubungan dengan sesuatu yang memberikan kepuasan sehingga memperjelas konsep dirinya, dan ketundukan / kepatuhan (compliance) karena herharap mendapatkan reaksi yang menyenangkan dari kornunikasi tersebut.

Oleh karena itu penting bagi seorang komunikator untuk bisa “menunjukkan” dirinya terlebih dahulu sebelum melakukan komunikasi. Untuk dapat menunjukkan diri perlu persiapan yang sangat matang terutama persiapan secara inteligensia dan pengetahuan yang amat matang

b. Pesan

Pesan yang dimaksud dalam proses komunikasi adalah Sesuatu yang disampaikan pengirim kepada penerima. Pesan dapat disampaikan dengan cara tatap muka atau melalui media komunikasi. Isinya bisa berupa ilmu pengetahuan, hiburan, informasi, nasihat atau propaganda. Dalam bahasa Inggnis pesan biasanya diterjemahkan dengan kata message, content atau information.

Supaya komunikasi sesuai dengan yang diharapkan,maka materi pesan harus jelas terutama dari segi bahasanya, agar terdapat kesamaan persepsi, kesamaan arti sehingga memudahkan terjadinya proses komunikasi.

c. Media

Media yang dimaksud di sini ialah alat yang digunakan untuk memindahkan pesan dan sumber kepada penerima. Terdapat beberapa pendapat mengenai saluran atau media. Ada yang menilai bahwa media bisa bermacam-macam bentuknya, misalnya dalam komunikasi antarpribadi pancaindera dianggap sebagai media komunikasi.

Selain indera manusia, ada juga saluran- komunikasi seperti telepon, surat, telegram yang digolongkan sebagai media komunikasi antarpribadi.

Dalam komunikasi massa, media adalah alat yang dapat menghubungkan antara sumber dan penerima yang sifatnya terbuka, di mana setiap orang dapat melihat, membaca dan mendeñgarnya. Media dalam komunikasi massa dapat dibedakan atas dua macam, yakni media cetak dan media elektronik.

Media cetak seperti halnya surat kabar, majalah, buku, leaflet, brosur, stiker, buletin, hand out, poster, spanduk, dan sebagainya. Sedangkan media elektronik antara lain: radio, film, televisi, video recording, komputer, electronic board, audio cassette dan semacamnya.

Berkat perkembangan teknologi komunikasi khususnya di bidang komunikasi massa elektronik yang begitu cepat, maka media massa elektronik makin banyak bentuknya, dan makin mengaburkan batas-batas untuk membedakan antara media komunikasi massa dan komunikasi antarpribadi. Hal ini disebabkan karena makin canggihnya media komunikasi itu sendiri yang bisa dikombinasikan (multi-media) antara satu sama lainnya

d. Penerima

Penerima adalah pihak yang menjadi sasaran pesan yang dikirim oleh sumber. Penerima bisa terdiri satu orang atau lebih, bisa dalam bentuk kelompok, partai atau negara.

Penerima biasa disebut dengan berbagai macam istilah, seperti khalayak, sasaran, komunikan, atau dalam bahasa Inggris disebut audience atau receiver. Dalam proses komunikasi telah dipahami bahwa keberadaan penerima adalah akibat karena adanya sumber. Tidak ada penerima jika tidak ada sumber.

Penerima adalah elemen penting dalam proses komunikasi, karena dialah yang menjadi sasaran dari komunikasi. Jika suatu pesan tidak ditenima oleh penerima, akan menimbulkan berbagai macam masalah yang seringkali menuntut perubahan, apakah pada sumber, pesan atau saluran.

Kenalilah khalayakmu adalah prinsip dasar dalam berkomunikasi. Karena mengetahui dan memahami karakteristik penerima (khalayak), berarti suatu peluang untuk mencapai keberhasilan. komunikasi.

e. Pengaruh

Pengaruh atau efek adalah perbedaan antara apa yang dipikirkan, dirasakan dan dilakukan oleh penerima sebelum dan sesudah menenima pesan. Pengaruh ini bisa terjadi pada pengetahuan, sikap dan tingkah laku seseorang (De Fleur, 1982). Karena itu, pengaruh bisa juga diartikan perubahan atau penguatan keyakinan pada pengetahuan, sikap dan tindakan seseorang sebagai akibat penerimaan pesan.

f. Tanggapan Balik

Ada yang beranggapan bahwa umpan balik sebenarnya adalah salah satu bentuk daripada pengaruh yang berasal dan penerima. Akan tetapi sebenarnya umpan balik bisa juga berasal dari unsur lain seperti pesan dan media, meski pesan belum sampai pada penerima. Misalnya sebuah konsep surat yang memerlukan perubahan sebelum dikirim, atau alat yang digunakan untuk menyampaikan pesan itu mengalami gangguan sebelum sampai ke tujuan. Hal-hal seperti itu menjadi tanggapan balik yang diterima oleh sumber.

g. Lingkungan

Lingkungan atau situasi ialah faktor-faktor tertentu yang dapat mempengaruhi jalannya komunikasi. Faktor ini dapat digolongkan atas empat macam, yakni:

* lingkungan fisik,

* lingkungan sosial budaya,

* lingkungan psikongis, dan

* dimensi waktu.

Lingkungan fisik menunjukkan bahwa suatu proses komunikasi hanya bisa terjadi kalau tidak terdapat rintangan fisik, misalnya geografis. Komunikasi seringkali sulit dilakukan karena faktor jarak yang begitu jauh, di mana tidak tersedia fasilitas komunikasi seperti telepon, kantor pos atau jalan raya.

Lingkungan sosial menunjukkan faktor sosial budaya, ekonomi dan pohtik yang bisa menjadi kendala terjadinya komunikasi misalnya kesamaan bahasa kepercayaan, adat istiadat dan status sosial.

D. Tipe Komunikasi

Secara umum tipe-tipe komunikasi adalah :

* Komunikasi Intrapersona.

* Komunikasi Antarpersona

* Komunikasi Publik

* Komunikasi Massa

1. Komunikasi Intrapersona.

Komunikasi yang dilakukan oleh individu terhadap dirinya sendiri, dimana dia menerima, mengolah. menyimpan dan menghasilkan kernbali informasi yang didapatnya.

Tahap-tahap komunikasi intra persona,

* Sensasi

Proses penangkapan stimuli atau rangsangan oleh panca indra manusia

* Persepsi

Proses pemberian makna stimuli atau rangsangan yang didapat dan sensasi, persepsi dipengaruhi oleh kebutuhan, pengalaman masa lalu dan factor personal dari tiap individu.

* Memori

Memori adalah proses menyimpan informasi dan memanggilnya kembali. Yaitu suatu sistem yg sangat berstruktur yang menyebabkan individu sanggup rnerekam fakta tentang dunia dan menggunakan pengetahuannya untuk membimbing perilakunya.

Memori mencakup tiga proses:

* perekaman (encoding); pencatatan informasi

* penyimpanan (storage); menentukan berapa lama informasi tsb ada didalam diri kita. dalam bentuk apa dan dimana. Penyimpanan ini bisa bersifat aktif maupun pasif:

* Pemanggilan kembali (retrieval) penggunaan informasi yg disimpan

Dalam tahap ini terdapat 4 tahap:

* pengingatan (recall)

* pengenalan (recognition)

* belajar kembali (relearning)

* redintegrasi (redintegration); merekontruksi masa lalu melalui satu petunjuk kecil

* Berfikir

Berpikir adalah merupakan aktivitas psikis yang intensional, dan terjadi apabila seseorang menjumpai problema (masalah) yang harus dipecahkan. Dengan demikian bahwa dalam berpikir itu seseorang menghubungkan pengertian satu dengan pengertian lainnya dalam rangka mendapatkan pemecahan persoalan yang dihadapi. Dengan mana, pengertian-pengertian itu merupakan bahan atau materi yang digunakan dalam proses berpikir. Dalam pemecahan persoalan individu membeda-bedakan, mempersatukan dan berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan : mengapa, untuk apa, bagaimana, di mana dan lain sebagainya.

Berpikir juga berarti memahami realita dalam rangka rnengambil keputusan (decision making), memecahkan persoalan (problem solving), dan menghasilkan sesuatu yang baru (creativity).

Salah satu yang mempengaruhi penafsiran kita terhadap suatu stimuli adalah berfikir, dimana didalamnya juga terdapat proses sensasi, persepsi, dan memori. Proses berfikir itu melibatkan penggunaan lambang-lambang, visual dan grafis.

Orang berflkir itu untuk:

* memahami realita atau kenyataan yang ada dalam rangka pengambilan keputusan (decision making), pemecahan masalah (problem solving), dan untuk rnenghasilkan sesuatu yang baru (creativity).

* memahami realita berarti menarik kesimpulan, meneliti berhagai kemungkinan penjelasan dan realitas secara eksternal dan internal.

Tiga macam berfikir:

1. Berfikir Deduktif

* mengambil kesimpulan dari dua pernyataan, jika A benar, dan B benar, maka akan terjadi C, semua mahkluk pasti akan mati, anjing adalah rnahkluk, maka sernua anjing pasti akan mati

2. Berfikir Induktif

* dimulai dan yg khusus, ambil kesimpulan umum lalu digeneralisasikan . Contoh : pejabat A melakukan korupsi, pejabat B juga terlibat korupsi, pejabat C di propinsi X pun tersandung korupsi, jadi kesimpulannya semua pejabat korupsi. Apakàh demikian ?

3. Bertikir Evaluatif

* berfikir kritis, menilai baik buruknya sesuatu, tepat tidaknya suatu hal.

2. Komunikasi Antarpersona

Pada komunikasi antar persona terdapat pengaruh konsep diri pada perilaku manusia. Maksudnya adalah bagaimana anda memandang diri anda dan bagaimana orang lain memandang diri anda. Kesemuanya ini akan dipengaruhi pola interaksi anda dengan orang lain. Istilah komunikasi antarpersona disebut juga komunikasi sosial karena merujuk pada komunikasi yang dilakukan antar manusia atau antar individu atau terkait erat dengan hubungan antar manusia.

Komunikasi antapersona inenggunakan:

* Bahasa baik secara lisan maupun tertulis

* Isyarat -isyarat tubuh yang keluar pada waktu berkomunikasi

* Tanda-tanda atau signal seperti bendera, sandi morse, lampu, dll

* Gambar-gambar seperti grafik, peta, skema dll

Definisi:

“Antarpersona communication as the sending of message by one person and receiving of message by another person, of small group of persons with some effect and some immediate feedback”. (Joseph A. De Vito)

Komunikasi antarpersona melibatkan paling sedikit dua orang dalam pelaksanaannya. Maka komunikasi antarpersona juga disebut komunikasi diadik.

Perlu diingatkan dan ditekankan bahwa komunikasi intrapersona adalah dasar dari komunikasi antarpersona, karena tidak mungkin seseorang berbicara dengan orang lain tanpa dia terlebih dahu!u mengetahui dan mempertanyakan pada diri sendiri apa sebetulnya yang akan disampaikan kepada orang lain.

Kontek dari komunikasi :

* konteks fisik

* konteks sosial

* konteks psikologis

* konteks waktu

* konteks budaya (tambahan)

Keefektifan dari komunikasi antarpersona terjadi apabila tujuan untuk mengubah pendapat, sikap dan tingkah laku komunikan dapat tercapai.

Hal-hal yang dapat membantu menciptakan komunikasi antar persona yang efektif :

* Terimalah orang lain sebagaimana adanya, meskipun anda suka atau tidak. Dengan pertimbangan bahwa anda tidak dapat merubah nilai, tujuan, pendapat, dan perasaannya pada saat itu juga.

* Harapkan dan undang orang lain untuk mengekspresikan perasaannya, tujuannya, nilai2 nya, keraguannya dll.

* Ekspresikan reaksi anda sendiri dalam sikap dan tingkah laku

* Jaga hubungan perasaan anda masing-masing dan buatlah komunikasi itu hanya berdasarkan atas rasa berkawan dan keramahan.

* Jangan menilai secara kritis (jangan mengkritik) pandangan orang lain yang berbeda dan bertentangan dengan pandangan anda

* Pandanglah secara keseluruhan sebagai suatu proses bersama untuk mencapai tingkat kebijaksanaan yang lebih tinggi dan mandiri.

De Vito juga mengemukakan bahwa ada lima karakteristik untuk komunikasi antarpersona yang efektif:

1. Keterbukaan (Openess)

2. Empati (Emphaty)

3. Dukungan (Supportiveness)

4. Rasa Positif (Positiveness)

5. Kesamaan (Equality.)

Makin tertarik kita kepada seseorang maka makin besar kecenderungan kita berkomunikasi dengan orang tersebut.

Faktor situasional yang mempengaruhi atraksi antarpersona:

* daya tarik fisik (physical attractiveness)

* ganjaran/penghargaan (reward)

* tidak asing (familiarity)

* kedekatan (proximity)

* kemampuan (competence)

3. Komunikasi Publik

Komunikasi publik biasa disebut komunikasi pidato, komunikasi kolektif, komunikasi retorika, public speaking dan komunikasi khalayak (audience communication). Apa pun namanya, komunikasi publik menunjukkan suatu proses komunikasi di mana pesan-pesan disampaikan oleh pembicara dalam situasi tatap muka di depan khalayak yang lebih besar.

Komunikasi publik memiliki ciri komunikasi interpersonal (pribadi), karena berlangsung secara tatap muka, tetapi terdapat beberapa perbedaan yang cukup mendasar sehingga memiliki ciri masing-masing.

Dalam komunikasi publik penyampaian pesan berlangsung secara kontinu. Dapat diidentifikasi siapa yang berbicara (sumber) dan siapa pendengarnya. Interaksi antara sumber dan penerima sangat terbatas, sehingga tanggapan balik juga terbatas. Hal ini disebabkan karena waktu yang digunakan sangat terbatas, dan jumlah khalayak relatif besar. Sumber seringkali tidak dapat mengidentifikasi satu-per satu pendengamya.

Ciri lain yang dimiliki komunikasi publik bahwa pesan yang disampaikan itu tidak berlangsung secara spontanitas, tetapi terencana dan dipersiapkan lebih awal. Tipe komunikasi publik biasanya ditemui dalam berbagai aktivitas seperti kuliah umum, khotbah, rapat akbar, pengarahan, ceramah, dan semacamnya.

Ada kalangan tertentu menilai bahwa komunikasi publik bisa digolongkan komunikasi massa bila dilihat pesannya yang terbuka. Tetapi terdapat beberapa kasus tertentu di mana pesan yang disampaikan itu terbatas pada segmen khalayak tertentu, misalnya pengarahan, sentiaji, diskusi panel, seminar, dan rapat anggota. Karena itu komunikasi publik bisa juga disebut komunikasi kelompok bila dilihat dan segi tempat dan situasi.

4. Komunikasi Massa

Terdapat berbagai macam pendapat tentang pengertian komunikasi massa. Ada yang menilai dan segmen khalayaknya, dan segi medianya dan ada pula dan sifat pesannya.. Komunikasi massa dapat didefinisikan sebagai proses komunikasi yang berlangsung di mana pesannya dikirim dan sumber yang melembaga kepada khalayak yang sifatnya missal melalui alat-alat yang bersifat mekanis seperti radio, televisi, surat kabar dan film.

Dibandingkan dengan bentuk-bentuk komunikasi sebelumnya, maka komunikasi massa memiliki ciri tersendiri. Sifat pesannya terbuka dengan khalayak yang variatif, baik dan segi usia, agama, suku, pekerjaan maupun dan segi kebutuhan.

Ciri lain yang dimiliki komunikasi massa, ialah sumber dan penerima dihubungkan oleh saluran yang telah diproses secara mekanik. Sumber juga merupakan suatu lembaga atau institusi yang terdiri dan banyak orang, misalnya reporter, penyiar, editor, teknisi dan sebagainya. Karena itu proses penyampaian pesannya lebih formal, terencana dan lebih rumit.

Pesan komunikasi massa berlangsung satu arah dan tanggapan baliknya lambat (tertunda) dan sangat terbatas. Tetapi dengan perkembangan teknologi komunikasi yang begitu cepat, khususnya media massa elektronik seperti radio dan televisi maka umpan balik dan khalayak bisa dilakukan dengan cepat kepada penyiar.

Selain dan itu, sifat penyebaran pesan melalui media massa berlangsung begitu cepat, serempak dan luas. Ia mampu mengatasi jarak dan waktu, serta tahan lama bila didokumentasikan. Dari segi ekonomi, biaya produksi komunikasi massa cukup mahal dan memerlukan dukungan tenaga kerja relatif banyak untuk mengelolanya.

Jenis komunikasi yang ditujukan pada sejumlah khalayak yang tersebar heterogen, dan anonim melalui media massa (cetak maupun elektronik) sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat.

Komunikasi massa komunikatornya lebih banyak, terorganisasikan dan terlembagakan.

Ditujukan pada orang banyak yang bersifat anonim dan heterogen – Wilbur Schramm

Karakteristik komunikasi massa menurut Charles Wright:

* Kornunikasi massa itu ditujukan kepada audience yang relatif besar atau luas, bersifat heterogen, dan anonirn. Kegiatannya dilakukan secara cepat datam waktu tertentu.

* Pesan-pesan disiarkan secara umum (publicity), sering ditentukan waktunya untuk mencapai sebagian besar audiens nya secara simultan / serempak

* Komunikatornya dikerjakan oleh suatu bentuk organisasi yang nienggunakan pembiayaan sangat besar.

Pesan-pesan dalam komunikasi massa adalah komunikasi yang disalurkan melalui media massa, bersifat masalitas, dan ditujukan kepada audiens yang luas. Penyampaian pesan bersifat umum, disampaikan secara cepat, dan terbuka untuk semua orang.

Media massa modern mempunyai peranan penting sebagai sarana penerangan., pendidikan, dan sarana hiburan. Bahkan juga dipandang sebagai sarana perubahan dan pembaharuan pada masyarakat.

E. Tujuan umum dari komunikasi.

Secara umum tujuan komunikasi adalah :

* Perubahan sikap (attitude change)

* Perubahan pendapat (opinion change)

* Perubahan perilaku (behavior change)

* Perubahan secara sosial (social change)

F. Kegagalan dalam komunikasi.

Kegagalan dalam komunikasi, biasanya terjadi karena komunikasi yang tidak sempurna. Penerima tidak mengerti sama sekali apa yang dimaksud oleh pengirim berita, atau mengerti hanya sebagian atau salah mengerti. Gangguan atau rintangan yang bisa menyebabkan kegagalan komunikasi pada dasarnya dapat dibedakan atas tujuh macam, yaitu:

* Gangguan Teknis

* Gangguan semantik

* Gangguan psikologis

* Rintangan fisik atau organik

* Rintangan status

* Rintangan kerangka berpikir

* Rintangan budaya

Daftar pustaka :

Pengantar Ilmu Komunikasi …………. Prof.Dr.H.Hafield Cangara, MSc.

Pengantar Umum Psikologi …………..… DR. Sarlito Wirawan Sarwono.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN CEDERA KEPALA

sumber: http://maidun-gleekapay.blogspot.com

Pengertian

Suatu gangguan traumatic dari fungsi otak yang disertai / tanpa disertai perdarahan interstitial dalam substansi otak, tanpa diikuti terputusnya kontinuitas jaringan otak

Penyebab : Trauma

Akselerasi : terjadi jika benda yang sedang bergerak membentur kepala yang diam

Deselerasi : terjadi jika kepala membentur obyek yang diam

Kompresi atau penekanan

Image of a head hitting a wall

Akibat :

1. Cedera local

Hanya pada jaringan fibrosa padat di atas tengkorak (galeaapponeurotika) yang menyerap kekuatan eksternal

2. Cedera otak (kerusakan kup dan kontra kup)

Klasifikasi cedera kepala

A. Berdasar mekanisme :

1. Tertutup.

2. Penetrans.

B. Berdasar beratnya menurut The Traumatic Coma Data Bank :

1. Skor Skala Koma Glasgow (GCS).

b Ringan

GCS 13 – 15

Dapat terjadi kehilangan kesadaran atau amnesia (kurang dari 30 menit)

Tidak ada fraktur tengkorak

Tidak ada kontusio serebral dan hematoma

c Sedang

GCS 9 – 12

Kehilangan kesadaran dan atau amnesia lebih dari 30 menit tapi kurang dari 24 jam

Dapat mengalami fraktur tengkorak

d Berat

GCS 3 – 8

Kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia lebih dari 24 jam

Juga meliputi kontusio serebral, laserasi atau hematoma intracranial

C. Berdasar morfologi :

1. Fraktura tengkorak.

a. Kalvaria

1. Linier atau stelata.

2. Depressed atau non depressed.

b. Basiler

1. Anterior

2. Media

3. Posterior

fraktur tulang tengkorak

2. Lesi intracranial (Fokal dan difus).

a. Fokal

1. Perdarahan Meningeal

§ Epidural.

Hematoma epidural

      • Berasal dari perdarahan di arteri yang terletak diantara meningens dan tulang tengkorak.
      • Terjadi karena patah tulang tengkorak telah merobek arteri. Darah di dalam arteri memiliki tekanan lebih tinggi sehingga lebih cepat memancar.
      • Gejala berupa sakit kepala hebat bisa segera timbul tetapi bisa juga baru muncul beberapa jam kemudian. Sakit kepala kadang menghilang, tetapi beberapa jam kemudian muncul lagi dan lebih parah dari sebelumnya. selanjutnya bisa terjadi peningkatan kebingungan, rasa ngantuk, kelumpuhan, pingsan dan koma
      • Diagnosis dini sangat penting dan biasanya tergantung kepada ct scan darurat.
      • Hematoma epidural diatasi sesegera mungkin dengan membuat lubang di dalam tulang tengkorak untuk mengalirkan kelebihan darah, juga dilakukan pencarian dan penyumbatan sumber perdarahan.

Image of a blood clot in the brain

§ Subdural.

Hematoma subdural

· Berasal dari perdarahan pada vena di sekeliling otak.

· Perdarahan bisa terjadi segera setelah terjadinya cedera kepala berat atau beberapa saat kemudian setelah terjadinya cedera kepala yang lebih ringan.

· Hematoma subdural yang bertambah luas secara perlahan paling sering terjadi pada usia lanjut (karena venanya rapuh) dan pada alkoholik.

· Hematoma subdural pada bayi bisa menyebabkan kepala bertambah besar karena tulang tengkoraknya masih lembut dan lunak.

· Hematoma subdural yang kecil pada dewasa seringkali diserap secara spontan. Hematoma subdural yang besar, yang menyebabkan gejala-gejala intracranial biasanya dikeluarkan melalui pembedahan.

Image of a subdural hematoma

§ Sub-arakhnoid.

Perdarahan sub arachnoid

Perdarahan pada ruang sub arachnoid


2. Perdarahan dan laserasi otak :

§ Perdarahan intraserebral dan atau kontusi.

Image of an intracerebral hemorrhage

Pengumpulan darah > 25 ml pada parenkimotak

Akibat infressi fraktur, gerakanakselerasi, deselarasi tiba-tiba dan lanjutan kontusio serebri

b. Difusa :

1. Konkusi ringan.

2. Konkusi klasik.

3. Cedera aksonal difusa

KOMPLIKASI

1. Edema pulmonal

2. Bocornya LCS

3. Gangguan mobilisasi

4. Hipovolemia

5. Kejang

6. Hiperthermia

7. Infeksi

8. SIADH


PENGKAJIAN

  1. Identitas
  2. Keluhan utama : Cederakepala denganpenurunan kesadaran
  3. Riwayat kesehatan
    1. Sakit kepala
    2. Pusing
    3. Kehilangan memori
    4. Bingung
    5. Kelelahan
    6. Kehilangan visual
    7. Kehilangan sensasi
    8. Muntah proyektil
    9. GCS menurun
    10. Tanda rangsangan meningeal

  1. Pemeriksaan fisik

a. Bingung / disorientasi

b. Penurunan kesadaran

c. Perubahan status mental

d. Gelisah

e. Perubahan motorik (hemiplegi)

f. Kejang

g. Dilatasi pupil

Disebabkan oleh penekanan pada syaraf cranial III (okulomotorius)

Edema papil

Bila TIK meningkat, CSS didesak sepanjang selaput sub arahnoid saraf optic, tekanan ini dihantarkan pada vena sentral retina yang menyilang pada rongga sub arahnoid. Edema head saraf terjadi dan vena retina menjadi terbendung

Bila trejadi fraktur basis cranii :

    1. Otorea
    2. Rinorea
    3. Racoon eye

    1. Batle sign

    1. Penurunan nadi tetapi tekanan sistolik meningkat (Peningkatan ICP)

Disebabkan oleh distorsi atau iskemik batang otak dan tidak berhubungan dengan tingkat tertentu dari peninggian TIK. Ini biasanya lambat terjadi dan merupakan tanda berbahaya dalam perjalanan dan perluasan lesi desak ruang.

    1. Peningkatan tekanan darah
    2. Perubahan frekuensi, kedalaman dan irama nafas

Beberapa lokasi pada hemisfer serebral mengatur control volunteer terhadap otot yang digunakan pada pernafasan, pada sinkronisasi dan koordinasi serebelum pada upaya otot. Serebrum juga mempunyai beberapa control pada frekuensi dan irama pernafasan. Nucleus pada pons dan area otak tengah dari batang otak mengatur automatisasi dari pernafasan.

    1. Cheyne’s stoke

Adalah pernafasan periodic dimana setiap pernafasan meningkat sampai puncak dan kemudian menurun sampai keadaan apneu. Fase hiperpneu biasanya lebih panjang dari fase apneu. Pola nafas ini terjadi pada lesi bilateral yang terletak pada hemisfer serebral.

    1. suara nafas melemah atau hilang
    2. Tanda rangsangan meningeal
    3. Refleks patologis
    4. Gangguan nervus cranialis
    5. Gangguan sirkulasi
    6. Gangguan respirasi
    7. Gangguan eliminasi
  1. Istirahat/ aktivitas
  2. makanan / cairan
  3. Psikologis, integritas ego
  4. Interaksi social
  5. Pemeriksaan penunjang / Pemeriksaan Diagnostik

Ø Foto Rontgen à mendeteksi adanya perubahan struktur tulang (fraktur), pergeseran struktur dari garis tengah (karena perdarahan, edema), adanya fragmen tulang.

Ø CT Scan à mengidentifikasi adanya SOL, haemoragi, menentukan ukuran ventrikel, pergeseran jaringan otak.

Ø MRI (penjelasan sama dengan CT Scan)

Ø EEG à untuk memperlihatkan keberadaan atau berkembangnya gelombang patologis

Ø PET (Positron Emission Tomografi) à menunjukkan perubahan aktivitas metabolisme pada otak.

Ø Pungsi Lumbal, CSS à dapat menduga kemungkinan adanya perdarahan sub arachnoid

MASALAH KEPERAWATAN :

1. Nyeri kepala

2. Bersihan jalan nafas tidak efektif

3. Perubahan perfusi serebral

4. Resiko terjadinya peningkatan TIK

5. Pola nafas tidak efektif

6. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit

7. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi : kurang darikebutuhan

8. Gangguan mobilitas fisik

9. dll

PRIORITAS TINDAKAN KEPERAWATAN

  1. Pernafasan
    1. Menjaga kepatenan jalan nafas
    2. Pengisapan secret (dibatasi bila peningkatan TIK)
    3. Pemberian O2
    4. Monitoring tanda vital, AGD dan distress pernafasan
    5. Perawatan trakeostomi
  2. Kardiovaskuler dan respirasi
    1. Monitoring tanda vital
    2. Monitoring status hemodinamik
    3. Monitoring frekwensi dan kualitas denyut jantung
    4. Monitoring EKG
  3. Memaksimalkan fungsiserebral / perfusi
    1. Pengaturan posisi anatomis
    2. Mengatasi demam
    3. Meningkatkan sirkulasi serebral
    4. Pembatasn aktivitas
    5. Mengurangi stimulasi eksternal
    6. Mencegah peningkatan TIK (muntah, batuk, mengedan dan bersin)
  4. Meminimalkan komplikasi
  5. Mengoptimalkan fungsi otak
  6. Menyokong proses pemulihan dan koping

Courtesy by : Ns. Hendri Budi, S.Kep

PENGKAJIAN POST PARTUM

sumber: http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2008_05_01_archive.html

A. BIODATA KLIEN
Biodata klien berisi tentang : Nama, Umur, Pendidikan, Pekerjaan, Suku, Agama, Alamat, No. Medical Record, Nama Suami, Umur, Pendidikan, Pekerjaan , Suku, Agama, Alamat, Tanggal Pengkajian.

B. KELUHAN UTAMA : hal-hal yang dikeluhkan saat ini dan alasan meminta pertolongan.

C. RIWAYAT HAID
Umur Menarche pertama kali, Lama haid, jumlah darah yang keluar, konsistensi, siklus haid, hari pertama haid terakhir, perkiraan tanggal partus.

D. RIWAYAT PERKAWINAN
Kehamilan ini merupakan hasil pernikahan ke berapa ? Apakah perkawinan sah atau tidak, atau tidak direstui orang tua ?

E. RIWAYAT OBSTETRI
1. Riwayat kehamilan
Berapa kali dilakukan pemeriksaan ANC, Hasil Laboratorium : USG, Darah, Urine, keluhan selama kehamilan termasuk situasi emosional dan impresi, upaya mengatasi keluhan, tindakan dan pengobatan yang diperoleh.
2. Riwayat persalinan
· Riwayat persalinan lalu : Jumlah Gravida, jumlah partal, dan jumlah abortus, umur kehamilan saat bersalin, jenis persalinan, penolong persalinan, BB bayi, kelainan fisik, kondisi anak saat ini.
· Riwayat nifas pada persalinan lalu : Pernah mengalami demam, keadaan lochia, kondisi perdarahan selama nifas, tingkat aktifitas setelah melahirkan, keadaan perineal, abdominal, nyeri pada payudara, kesulitan eliminasi, keberhasilan pemberian ASI, respon dan support keluarga.
· Riwayat persalinan saat ini : Kapan mulai timbulnya his, pembukaan, bloody show, kondisi ketuban, lama persalinan, dengan episiotomi atau tidak, kondisi perineum dan jaringan sekitar vagina, dilakukan anastesi atau tidak, panjang tali pusat, lama pengeluaran placenta, kelengkapan placenta, jumlah perdarahan.
· Riwayat New Born : apakah bayi lahir spontan atau dengan induksi/tindakan khusus, kondisi bayi saat lahir (langsung menangis atau tidak), apakah membutuhkan resusitasi, nilai APGAR skor, Jenis kelamin Bayi, BB, panjang badan, kelainan kongnital, apakah dilakukan bonding attatchment secara dini dengan ibunya, apakah langsung diberikan ASI atau susu formula.

F. RIWAYAT KB & PERENCANAAN KELUARGA
Kaji pengetahuan klien dan pasangannya tentang kontrasepsi, jenis kontrasepsi yang pernah digunakan, kebutuhan kontrasepsi yang akan datang atau rencana penambahan anggota keluarga dimasa mendatang.

G. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Penyakit yang pernah diderita pada masa lalu, bagaimana cara pengobatan yang dijalani, dimana mendapat pertolongan. Apakah penyakit tersebut diderita sampai saat ini atau kambuh berulang-ulang ?

H. RIWAYAT PSIKOSOSIAL-KULTURAL
Adaptasi psikologi ibu setelah melahirkan, pengalaman tentang melahirkan, apakah ibu pasif atau cerewet, atau sangat kalm. Pola koping, hubungan dengan suami, hubungan dengan bayi, hubungan dengan anggota keluarga lain, dukungan social dan pola komunikasi termasuk potensi keluarga untuk memberikan perawatan kepada klien. Adakah masalah perkawinan, ketidak mampuan merawat bayi baru lahir, krisis keluarga.
Blues : Perasaan sedih, kelelahan, kecemasan, bingung dan mudah menangis.
Depresi : Konsentrasi, minat, perasaan kesepian, ketidakamanan, berpikir obsesif, rendahnya emosi yang positif, perasaan tidak berguna, kecemasan yang berlebihan pada dirinya atau bayinya, sering cemas saat hamil, bayi rewel, perkawinan yang tidak bahagia, suasana hati yang tidak bahagia, kehilangan kontrol, perasaan bersalah, merenungkan tentang kematian, kesedihan yang berlebihan, kehilangan nafsu makan, insomnia, sulit berkonsentrasi.
Kultur yang dianut termasuk kegiatan ritual yang berhubungan dengan budaya pada perawatan post partum, makanan atau minuman, menyendiri bila menyusui, pola seksual, kepercayaan dan keyakinan, harapan dan cita-cita.

I. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA
Adakah anggota keluarga yang menderita penyakit yang diturunkan secara genetic, menular, kelainan congenital atau gangguan kejiwaan yang pernah diderita oleh keluarga.

J. PROFIL KELUARGA
Kebutuhan informasi pada keluarga, dukungan orang terdekat, sibling, type rumah, community seeting, penghasilan keluarga, hubungan social dan keterlibatan dalam kegiatan masyarakat.

K. KEBIASAAN SEHARI-HARI
a. Pola nutrisi : pola menu makanan yang dikonsumsi, jumlah, jenis makanan (Kalori, protein, vitamin, tinggi serat), freguensi, konsumsi snack (makanan ringan), nafsu makan, pola minum, jumlah, freguensi,.
b. Pola istirahat dan tidur : Lamanya, kapan (malam, siang), rasa tidak nyaman yang mengganggu istirahat, penggunaan selimut, lampu atau remang-remang atau gelap, apakah mudah terganggu dengan suara-suara, posisi saat tidur (penekanan pada perineum).
c. Pola eliminasi : Apakah terjadi diuresis, setelah melahirkan, adakah inkontinensia (hilangnya infolunter pengeluaran urin), hilangnya kontrol blas, terjadi over distensi blass atau tidak atau retensi urine karena rasa talut luka episiotomi, apakah perlu bantuan saat BAK. Pola BAB, freguensi, konsistensi, rasa takut BAB karena luka perineum, kebiasaan penggunaan toilet.
d. Personal Hygiene : Pola mandi, kebersihan mulut dan gigi, penggunaan pembalut dan kebersihan genitalia, pola berpakaian, tatarias rambut dan wajah
e. Aktifitas : Kemampuan mobilisasi beberapa saat setelah melahirkan, kemampuan merawat diri dan melakukan eliminasi, kemampuan bekerja dan menyusui.
f. Rekreasi dan hiburan : Situasi atau tempat yang menyenangkan, kegiatan yang membuat fresh dan relaks.

J. SEXUAL
Bagaimana pola interaksi dan hubungan dengan pasangan meliputi freguensi koitus atau hubungan intim, pengetahuan pasangan tentang seks, keyakinan, kesulitan melakukan seks, continuitas hubungan seksual. Pengetahuan pasangan kapan dimulai hubungan intercourse pasca partum (dapat dilakukan setelah luka episiotomy membaik dan lochia terhenti, biasanya pada akhir minggu ke 3). Bagaimana cara memulai hubungan seksual berdasarkan pengalamannya, nilai yang dianut, fantasi dan emosi, apakah dimulai dengan bercumbu, berciuman, ketawa, gestures, mannerism, dress, suara. Pada saat hubungan seks apakah menggunakan lubrikasi untuk kenyamanan. Posisi saat koitus, kedalaman penetrasi penis. Perasaan ibu saat menyusui apakah memberikan kepuasan seksual. Faktor-faktor pengganggu ekspresi seksual : bayi menangis, perubahan mood ibu, gangguan tidur, frustasi yang disebabkan penurunan libido.

K. KONSEP DIRI
Sikap penerimaan ibu terhadap tubuhnya, keinginan ibu menyusui, persepsi ibu tentang tubuhnya terutama perubahan-perubahan selama kehamilan, perasaan klien bila mengalami opresi SC karena CPD atau karena bentuk tubuh yang pendek.

L. PERAN
Pengetahuan ibu dan keluarga tentang peran menjadi orangtua dan tugas-tugas perkembangan kesehatan keluarga, pengetahuan perubahan involusi uterus, perubahan fungsi blass dan bowel. Pengetahan tentang keadaan umum bayi, tanda vital bayi, perubahan karakteristik faces bayi, kebutuhan emosional dan kenyamanan, kebutuhan minum, perubahan kulit.
Ketrampilan melakukan perawatan diri sendiri (nutrisi dan personal hyhiene, payu dara) dan kemampuan melakukan perawatan bayi (perawatan tali pusat, menyusui, memandikan dan mengganti baju/popok bayi, membina hubungan tali kasih, cara memfasilitasi hubungan bayi dengan ayah, dengan sibling dan kakak/nenek). Keamanan bayi saat tidur, diperjalanan, mengeluarkan secret dan perawatan saat tersedak atau mengalami gangguan ringan. Pencegahan infeksi dan jadwal imunisasi.

M. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum : Tingkat energi, self esteem, tingkat kesadaran.
2. BB, TB, LLA, Tanda Vital normal (RR konsisten, Nadi cenderung bradi cardy, suhu 36,2-38, Respirasi 16-24)
3. Kepala : Rambut, Wajah, Mata (conjunctiva), hidung, Mulut, Fungsi pengecapan; pendengaran, dan leher.
4. Breast : Pembesaran, simetris, pigmentasi, warna kulit, keadaan areola dan puting susu, stimulation nepple erexi. Kepenuhan atau pembengkakan, benjolan, nyeri, produksi laktasi/kolostrum. Perabaan pembesaran kelenjar getah bening diketiak.
5. Abdomen : teraba lembut , tekstur Doughy (kenyal), musculus rectus abdominal utuh (intact) atau terdapat diastasis, distensi, striae. Tinggi fundus uterus, konsistensi (keras, lunak, boggy), lokasi, kontraksi uterus, nyeri, perabaan distensi blas.
6. Anogenital
Lihat struktur, regangan, udema vagina, keadaan liang vagina (licin, kendur/lemah) adakah hematom, nyeri, tegang. Perineum : Keadaan luka episiotomy, echimosis, edema, kemerahan, eritema, drainage. Lochia (warna, jumlah, bau, bekuan darah atau konsistensi , 1-3 hr rubra, 4-10 hr serosa, > 10 hr alba), Anus : hemoroid dan trombosis pada anus.
9. Muskoloskeletal : Tanda Homan, edema, tekstur kulit, nyeri bila dipalpasi, kekuatan otot.

N. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
1. Darah : Hemoglobin dan Hematokrit 12-24 jam post partum (jika Hb < 10 g% dibutuhkan suplemen FE), eritrosit, leukosit, Trombosit.
2. Klien dengan Dower Kateter diperlukan culture urine.

DAFTAR PUSTAKA

1. Gilly Andrews, 1998, Women’s Sexual Health, Bailliere Tindall.
2. Gorrie, McKinney, Murray, 1998, Foundation of Maternal-Newborn Nursing, Second edition, W.B. Saunders Company.
3. Lesley Ann Page, Patricia Percival, Sheila Kitzinger, 2000, The New Midwifery, Science and Sensitivity in Practice, Churchill Livingstone, Sidney Toronto.
4. Lowdermilk, Perry, Bobak, 2000, Maternity Woman’s Healht Care, Seventh Edition, Mosby.
5. Mary Ann Lumsden, Martha Hickey, 2000, Complete Women’s Health, Royal College of Obstetricians & Gynaecologist, Thorsons, London.
6. Pillitteri, 1999, Maternal & Child Health Nursing, Care of the childbearing & childbearing family, thid edition, Lippincott. Philadelphia.
7. Sally B, Marcia, Patricia Ladewig, 2000, Maternal Newborn Nursing, A family and community – based approach, Sixth edition, Upper Saddle River, New Jersey 07458.
8. Susan Mattson, Judi E Smith, 2000, Core Curriculum for Maternal-Newborn Nursing, Second Edition, W.B. Saundes Company.

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN SINDROM PUTUS ZAT (NAPZA)

A. Pendahuluan

Penyalahgunaan dan ketergantungan zat yang termasuk dalam katagori NAPZA pada akhir-akhir ini makin marak dapat disaksikan dari media cetak koran dan majalah serta media elektrolit seperti TV dan radio. Kecenderungannya semakin makin banyak masyarakat yang memakai zat tergolong kelompok NAPZA tersebut, khususnya anak remaja (15-24 tahun) sepertinya menjadi suatu model perilaku baru bagi kalangan remaja (DepKes, 2001).

Penyebab banyaknya pemakaian zat tersebut antara lain karena kurangnya pengetahuan masyarakat akan dampak pemakaian zat tersebut serta kemudahan untuk mendapatkannya. Kurangnya pengetahuan masyarakat bukan karena pendidikan yang rendah tetapi kadangkala disebabkan karena faktor individu, faktor keluarga dan faktor lingkungan.

Faktor individu yang tampak lebih pada kepribadian individu tersebut; faktor keluarga lebih pada hubungan individu dengan keluarga misalnya kurang perhatian keluarga terhadap individu, kesibukan keluarga dan lainnya; faktor lingkungan lebih pada kurang positif sikap masyarakat terhadap masalah tersebut misalnya ketidakpedulian masyarakat tentang NAPZA (Hawari, 2000).

Dampak yang terjadi dari faktor-faktor di atas adalah individu mulai melakukan penyalahgunaan dan ketergantungan akan zat. Hal ini ditunjukkan dengan makin banyaknya individu yang dirawat di rumah sakit karena penyalahgunaan dan ketergantungan zat yaitu mengalami intoksikasi zat dan withdrawal.

Peran penting tenaga kesehatan dalam upaya menanggulangi penyalahgunaan dan ketergantungan NAPZA di rumah sakit khususnya upaya terapi dan rehabilitasi sering tidak disadari, kecuali mereka yang berminat pada penanggulangan NAPZA (DepKes, 2001).

Berdasarkan permasalahan yang terjadi di atas, maka perlunya peran serta tenaga kesehatan khususnya tenaga keperawatan dalam membantu masyarakat yang di rawat di rumah sakit untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat. Untuk itu dirasakan perlu perawat meningkatkan kemampuan merawat klien dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan yaitu asuhan keperawatan klien penyalahgunaan dan ketergantungan NAPZA (sindrom putus zat).

Tujuan

a) Perawat dapat mengetahui pengertian klien penyalahgunaan dan ketergantungan NAPZA.

b) Perawat dapat mengetahui proses terjadinya masalah klien NAPZA.

c) Perawat dapat melakukan asuhan keperawatan klien NAPZA.

B. Pengertian

Penyalahgunaan zat adalah penggunaan zat secara terus menerus bahkan sampai setelah terjadi masalah. Ketergantungan zat menunjukkan kondisi yang parah dan sering dianggap sebagai penyakit. Adiksi umumnya merujuk pada perilaku psikososial yang berhubungan dengan ketergantungan zat. Gejala putus zat terjadi karena kebutuhan biologik terhadap obat. Toleransi adalah peningkatan jumlah zat untuk memperoleh efek yang diharapkan. Gejala putus zat dan toleransi merupakan tanda ketergantungan fisik (Stuart dan Sundeen, 1995).

Rehabilitasi adalah upaya kesehatan yang dilakukan secara utuh dan terpadu melalui pendekatan non medis, psikologis, sosial dan religi agar pengguna NAPZA yang menderita sindroma ketergantungan dapat mencapai kemampuan fungsional seoptimal mungkin. Tujuannya pemulihan dan pengembangan pasien baik fisik, mental, sosial dan spiritual. Sarana rehabilitasi yang disediakan harus memiliki tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan (DepKes., 2002).

Sesudah klien penyalahgunaan/ketergantungan NAZA menjalani program terapi (detoksifikasi) dan komplikasi medik selama 1 (satu) minggu dan dilanjutkan dengan program pemantapan (pasca detoksifikasi) selama 2 (dua) minggu, maka yang bersangkutan dapat melanjutkan ke program berikutnya yaitu rehabilitasi (Hawari, 2000).

Lama rawat di unit rehabilitasi untuk setiap rumah sakit tidak sama karena tergantung pada jumlah dan kemampuan sumber daya, fasilitas dan sarana penunjang kegiatan yang tersedia di rumah sakit.

Menurut Hawari (2000) bahwa setelah klien mengalami perawatan selama 1 minggu menjalani program terapi dan dilanjutkan dengan pemantapan terapi selama 2 minggu maka klien tersebut akan dirawat di unit rehabilitasi (rumah sakit, pusat rehabilitasi dan unit lainnya) selama 3-6 bulan. Sedangkan lama rawat di unit rehabilitasi berdasarkan parameter sembuh menurut medis bisa beragam 6 bulan dan 1 tahun, mungkin saja bisa sampai 2 tahun (Wiguna, 2003).

Berdasarkan pengertian dan lama rawat di atas, maka perawatan di ruang rehabilitasi tidak terlepas dari perawatan sebelumnya yaitu di ruang detoksifikasi.

Kenyataan menunjukkan bahwa mereka yang telah selesai menjalani detoksifikasi sebagian besar akan mengulangi kebiasaan menggunakan NAPZA, oleh karena rasa rindu (craving) terhadap NAPZA yang selalu terjadi (DepKes, 2001). Dengan rehabilitasi diharapkan pengguna NAPZA dapat:

1. Mempunyai motivasi kuat untuk tidak menyalahgunakan NAPZA lagi

2. Mampu menolak tawaran penyalahgunaan NAPZA

3. Pulih kepercayaan dirinya, hilang rasa rendah dirinya

4. Mampu mengelola waktu dan berubah perilaku sehari-hari dengan baik

5. Dapat berkonsentrasi untuk belajar atau bekerja

6. Dapat diterima dan dapat membawa diri dengan baik dalam pergaulan dengan lingkungannya

C. Proses terjadinya masalah

Proses terjadinya masalah penyalahgunaan dan ketergantungan zat memfokuskan pada zat yang sering disalahgunakan individu yaitu: opiat, amfetamin, canabis dan alkohol.

1) Rentang Respons Kimiawi

Perlu diingat bahwa pada rentang respons tidak semua individu yang menggunakan zat akan menjadi penyalahgunaan dan ketergantungan zat. Hanya individu yang menggunakan zat berlebihan dapat mengakibatkan penyalahgunaan dan ketergantungan zat.

Penyalahgunaan zat merujuk pada penggunaan zat secara terus menerus bahkan sampai setelah terjadi masalah. Ketergantungan zat menunjukkan kondisi yang parah dan sering dianggap sebagai penyakit. Gejala putus zat terjadi karena kebutuhan biologik terhadap obat. Toleransi berarti bahwa memerlukan peningkatan jumlah zat untuk memperoleh efek yang diharapkan (Stuart dan Sundeen, 1995; Stuart dan Laraia, 1998).

2) Perilaku

3) Faktor penyebab.

Faktor penyebab pada klien dengan penyalahgunaan dan ketergantungan NAPZA meliputi:

a. Faktor biologic

· Kecenderungan keluarga, terutama penyalahgunaan alcohol

· Perubahan metabolisme alkohol yang mengakibatkan respon fisiologik yang tidak nyaman

b. Faktor psikologik

· Tipe kepribadian ketergantungan

· Harga diri rendah biasanya sering berhub. dengan penganiayaan waktu masa kanak kanak

· Perilaku maladaptif yang diperlajari secara berlebihan

· Mencari kesenangan dan menghindari rasa sakit

· Sifat keluarga, termasuk tidak stabil, tidak ada contoh peran yang positif, kurang percaya diri, tidak mampu memperlakukan anak sebagai individu, dan orang tua yang adiksi

c. Faktor sosiokultural

· Ketersediaan dan penerimaan sosial terhadap pengguna obat

· Ambivalens sosial tentang penggunaan dan penyalahgunaan berbagai zat seperti tembakau, alkohol dan mariyuana

· Sikap, nilai, norma dan sanksi cultural

· Kemiskinan dengan keluarga yang tidak stabil dan keterbatasan kesempatan

4) Diagnosis medis

DSM-III-R (American Psychiatric Association, 1987) membagi menjadi dua katagori yaitu psikoaktif zat yang menyebabkan gangguan mental organik dan gangguan psikoaktif pengguna zat. Psikoaktif zat yang menyebabkan gangguan mental organik mengakibatkan intoksikasi, withdrawal, delirium, halusinasi dan gangguan delusi, dan lainnya. Gangguan psikoaktif pengguna zat mengakibatkan ketergantungan atau penyalahgunaan (Wilson dan Kneisl, 1992).

Sedangkan DepKes (2001) menyatakan bahwa gejala psikiatri yang timbul adalah cemas, depresi dan halusinasi. Penelitian yang dilakukan di USA menunjukkan > 50% penyalahgunaan NAPZA non alkohol mengidap paling tidak satu gangguan psikiatri antara lain:

1) 26% mengalami gangguan alam perasaan seperti depresi, mania

2) 26% gangguan ansietas

3) 18% gangguan kepribadian antisocial

4) 7% skizofrenia

Mereka dengan penyalahgunaan alkohol sebanyak 37% mengalami komorbiditas psikiatri.

Diagnosis medis dan keperawatan yang berhubungan dengan penyalahgunaan dan penggunaan zat. Kurang dari 27 diagnosa keperawatan yang umumnya digunakan dalam memberikan asuhan keperawatan yang dibagi menjadi 4 katagori yaitu: biologik, kognitif, psikososial dan spiritual. (Stuart dan Laraia, 1998).

Diagnosis NANDA(berhubungan dengan diagnosis keperawatan) yang utama adalah perubahan sensori persepsi, perubahan proses pikir, koping individu tidak efektif dan perubahan proses keluarga (Stuart dan Sundeen, 1995).

Gangguan yang berhubungan penyalahgunaan zat yang termasuk DSM-III ada 2 cara. Pertama, diagnosis utama yang berhubungan dengan penggunaan alkohol atau obat dikatagorikan juga sebagai gangguan yang berhubungan dengan zat. Klien gangguan yang berhubungan dengan zat juga didiagnosis sebagai gangguan psikiatrik axis I yang disebut dual diagnosis. Kedua, intoksikasi atau withdrawal penggunaan zat sangat berhubungan dengan salah satu tipe gangguan mental, dimana diagnosis tergantung pada katagori yang menjadi lokasi penyalahgunaan zat.

Contoh: seseorang yang mengalami depresi berhubungan dengan withdrawal alkohol, diagnosis medik adalah gangguan mood karena penggunaan (withdarawal) zat. Katagori yang termasuk dalam diagnosis karena penggunaan zat adalah delirium, demensia, psikotik, mood, kecemasan, sex dan tidur (Stuart dan Laraia, 1998).

D. Asuhan Keperawatan Klien dengan Penyalahgunaan dan Ketergantungan NAPZA

1. Pengkajian

Prinsip pengkajian yang dilakukan dapat menggunakan format pengkajian di ruang psikiatri atau sesuai dengan pedoman yang ada di masing-masing ruangan tergantung pada kebijaksanaan rumah sakit dan format pengkajian yang tersedia. Adapun pengkajian yang dilakukan meliputi :

a. Perilaku

b. Faktor penyebab dan faktor pencetus

c. Mekanisme koping yang digunakan oleh penyalahguna zat meliputi:

· penyangkalan (denial) terhadap masalah

· rasionalisasi

· memproyeksikan tanggung jawab terhadap perilakunya

· mengurangi jumlah alkohol atau obat yang dipakainya

d. Sumber-sumber koping (support system) yang digunakan oleh klien

2. Diagnosa Keperawatan

Perlu diingat bahwa diagnosa keperawatan di ruang detoksifikasi bisa berulang di ruang rehabilitasi karena timbul masalah yang sama saat dirawat di ruang rehabilitasi. Salah satu penyebab muncul masalah yang sama adalah kurangnya motivasi klien untuk tidak melakukan penyalahgunaan dan ketergantungan zat. Hal lain yang juga berperan timbulnya masalah pada klien adalah kurangnya dukungan keluarga dalam membantu mengurangi penyalahgunaan dan penggunaan zat.

Masalah keperawatan yang sering terjadi di ruang detoksifikasi adalah selain masalah keperawatan yang berkaitan dengan fisik juga masalah keperawatan seperti:

a. Koping individu tidak efektif: ketidakmampuan menahan sugesti

b. Gangguan konsep diri: harga diri rendah

c. Risiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan, dan seterusnya

Sedangkan masalah keperawatan di ruang rehabilitasi bisa sama dengan di ruang detoksifikasi, maka fokus utama diagnosa keperawatan NANDA di ruang rehabilitasi adalah:

a. Koping keluarga tidak efektif: ketidakmampuan

b. Kurang aktivitas hiburan, dan seterusnya

Contoh pohon masalah:

Risiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan

Perencanaan keperawatan (rencana tindakan keperawatan) secara jelas dapat dilihat pada lampiran. Implementasi keperawatan yang dilakukan mengacu pada perencanaan keperawatan (rencana tindakan keperawatan) yang disesuaikan dengan kebutuhan dan prioritas masalah klien.

Berikut ini beberapa bentuk implementasi yang dilakukan pada klien dengan penyalahgunaan dan ketergantungan zat yaitu (Wilson dan Kneisl, 1992):

a. Program intervensi.

Peran perawat adalah menentukan program yang cocok untuk klien sesuai dengan tingkat ketergantungan klien terhadap sakit dan gejala yang tampak. Untuk program di ruang rehabilitasi dibagi menjadi 2 yaitu: 1) rehabilitasi sewaktu-waktu dimana perawat berperan sebagai fasilitator bukan melakukan penanganan masalah fisik maupun psikiatri tetapi pada perawatan diri klien. Tujuannya untuk meningkatkan kemampuan klien dalam melakukan perawatan diri secara mandiri; 2) perawatan lanjutan, bertujuan untuk memberikan pemulihan kembali bagi klien yang mengalami ketergantungan alkohol dan zat atau penolakan keluarga terhadap klien.

b. Individu

Pendidikan untuk klien, misalnya menganjurkan klien untuk mengikuti sesi-sesi yang diadakan perawat secara individu sesuai kebutuhan klien, tujuannya untuk meningkatkan pengetahuan klien dalam membantu memulihkan ketergantungan akan zat.

· Perubahan gaya hidup, yaitu mengajarkan klien dengan cara mendiskusikan koping yang biasa digunakan. Diharapkan klien dapat mengubah penggunaan koping dari destruktif menjadi koping yang konstruktif.

· Meningkatkan kesadaran diri klien, dengan cara mengidentifikasi hal-hal positif yang dimiliki klien dan bisa dikembangkan secara positif serta mengurangi hal-hal yang negatif dalam diri klien.

c. Keluarga

· Pendidikan kesehatan bagi keluarga yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan keluarga dalam merawat anggota keluarga yang mengalami penyalahgunaan dan ketergantungan zat.

d. Kelompok

· Program twelve step : AA dan NA

· Terapi modalitas disesuaikan dengan kriteria dan kondisi klien yang akan diikutkan dalam terapi tersebut.

3. Intervensi Keperawatan

a) Resiko tinggi terhadap cedera: jatuh berhubungan dengan kesulitan keseimbangan. Kriteria hasil:

· mendemonstrasikan hilangnya efek-efek penarikan diri yang memburuk

· tidak mengalami cedera fisik

Intervensi:

Mandiri

1) Identifikasi tingkat gejala putus alkohol, misalnya tahap I diasosiasikan dengan tanda/gejala hiperaktivitas (misalnya tremor, tidak dapat beristirahat, mual/muntah,diaforesis, takhikardi, hipertensi); tahap II dimanifestasikan dengan peningkatan hiperaktivitas ditambah dengan halusinogen; tingkat III gejala meliputi DTs dan hiperaktifitas autonomik yang berlebihan dengan kekacauan mental berat, ansietas, insomnia, demam.

2) Pantau aktivitas kejang. Pertahankan ketepatan aliran udara. Berikan keamanan lingkungan misalnya bantalan pada pagar tempat tidur.

3) Periksa refleks tenton dalam. Kaji cara berjalan, jika memungkinkan

4) Bantu dengan ambulasi dan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan

Kolaborasi

1) Berikan cairan IV/PO dengan hati-hati sesuai petunjuk

2) Berikan obat-obat sesuai petunjuk: benzodiazepin, oksazepam, fenobarbital, magnesium sulfat.

Rasional:

1) Pengenalan dan intervensi yang tepat dapat menghalangi terjadinya gejala-gejala dan mempercepat kesembuhan. Selain itu perkembangan gejala mengindikasikan perlunya perubahan pada terapi obat-obatan yang lebih intensif untuk mencegah kematian.

2) kejang grand mal paling umum terjadi dan dihubungkan dengan penurunana kadar Mg, hipoglikemia, peningkatan alkohol darah atau riwayat kejang.

3) Refleksi tertekan, hilang, atau hiperaktif. Nauropati perifer umum terjadi terutama pada pasien neuropati

4) mencegah jatuh dengan cedera

5) mungkin dibutuhkan pada waktu ekuilibrium, terjadinya masalah koordinasi tangan/mata.

6) Penggantian yang berhati-hati akan memperbaiki dehidrasi dan meningkatkan pembersihan renal dari toksin sambil mengurangi resiko kelebihan hidrasi.

4. Evaluasi

Evaluasi penyalahgunaan dan ketergantungan zat tergantung pada penanganan yang dilakukan perawat terhadap klien dengan mengacu kepada tujuan khusus yang ingin dicapai. Sebaiknya perawat dan klien bersama-sama melakukan evaluasi terhadap keberhasilan yang telah dicapai dan tindak lanjut yang diharapkan untuk dilakukan selanjutnya.

Jika penanganan yang dilakukan tidak berhasil maka perlu dilakukan evaluasi kembali terhadap tujuan yang dicapai dan prioritas penyelesaian masalah apakah sudah sesuai dengan kebutuhan klien.

Klien relaps tidak bisa disamakan dengan klien yang mengalami kegagalan pada sistem tubuh. Tujuan penanganan pada klien relaps adalah meningkatkan kemampuan untuk hidup lebih lama bebas dari penyalahgunaan dan ketergantungan zat. Perlunya evaluasi yang dilakukan disesuaikan dengan tujuan yang diharapkan, akan lebih baik perawat bersama-sama klien dalam menentukan tujuan ke arah perencanaan pencegahan relaps.

Daftar Kepustakaan

· http://mentalnursingunpad.multiply.com/journal/item/7

· http://mustikanurse.blogspot.com/2007/02/asuhan-keperawatan-klien-dengan-sindrom.html

Sub Literatur:

1. Carpenito, L.J. (1995). Buku saku diagnosa keperawatan. Edisi 6. (terjemahan). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

2. Depkes. (2002). Keputusan Menteri kesehatan RI tentang pedoman penyelenggaraan sarana pelayanan rehabilitasi penyalahgunaan dan ketergantungan narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA). Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

3. (2001). Buku pedoman tentang masalah medis yang dapat terjadi di tempat rehabilitasi pada pasien ketergantungan NAPZA. Jakarta: Direktorat Kesehatan Jiwa Masyarakat Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI.

4. (2001). Buku pedoman praktis bagi petugas kesehatan (puskesmas) mengenai penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA). Jakarta: Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat.

5. Hawari, D. (2000). Penyalahgunaan dan ketergantungan NAZA (narkotik, alkohol dan zat adiktif). Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

6. Rawlins, R.P., Williams, S.R., and Beck, C.K. (1993). Mental health-psychiatric nursing a holistic life-cycle approach. Third edition. St. Louis: Mosby Year Book.

7. Stuart, G.W., and Laraia, M. T. (1998). Principles and practice of psychiatric nursing. Sixth edition. St. Louis: Mosby Year Book.

8. Stuart, G.W., and Sundeen, S.J. (1995). Principles and practice of psychiatric nursing. Fifth edition. St. Louis: Mosby Year Book.

9. Stuart, G.W., and Sundeen, S.J. (1995). Buku saku keperawatan jiwa. Edisi 3. (terjemahan). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

10.

Wilson, H.S., and Kneisl, C.R. (1992). Psychiatric nursing. California: Addison-Wesley.Wiguna, T. (2003).

Sumber: http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2008/07/asuhan-keperawatan-klien-dengan-sindrom.html