INDUKSI PERSALINAN

Induksi persalinan adalah suatu upaya stimulasi mulainya proses persalinan.
(dari tidak ada tanda-tanda persalinan, distimulasi menjadi ada)

Bedakan dengan akselerasi persalinan, suatu upaya mempercepat proses persalinan.
(sudah ada tanda-tanda persalinan, namun kemajuannya lambat, sehingga diakselerasi menjadi cepat)

TANDA-TANDA PERSALINAN NORMAL

Pasien biasanya melaporkan rasa mules / sakit perut hilang-timbul, akibat his, yang makin lama, makin kuat dan makin sering.
Bisa dengan atau tanpa disertai keluar darah lendir atau cairan ketuban.

INDIKASI POKOK UNTUK INDUKSI PERSALINAN

1. untuk janin yang masih dalam kandungan, pertimbangannya adalah kondisi ekstrauterin akan lebih baik daripada intrauterin, atau kondisi intrauterin lebih tidak baik atau mungkin membahayakan.
2. untuk ibu, pertimbangannya adalah menghindari / mencegah / mengatasi rasa sakit atau masalah2 lain yang dapat membahayakan nyawa ibu.

Indikasi janin, misalnya : kehamilan lewat waktu (postmaturitas), inkompatibilitas Rh
Pada usia kehamilan postmatur, di atas 10 hari lebih dari saat perkiraan partus, terjadi penurunan fungsi plasenta yang bermakna, yang dapat membahayakan kehidupan janin (gangguan sirkulasi uteroplasenta, gangguan oksigenasi janin)
Indikasi ibu, misalnya : kematian janin intrauterin
Indikasi janin dan ibu, misalnya : pre-eklampsia berat

METODE INDUKSI PERSALINAN

Surgikal

Dengan cara :
1. melepaskan / memisahkan selaput kantong ketuban dari segmen bawah uterus (stripping), atau
2. memecahkan selaput kantong ketuban (amniotomi)

Stripping, dapat dengan cara :
1. manual (dengan jari tengah / telunjuk dimasukkan dalam kanalis servikalis)
2. dengan balon kateter Foley yang dipasang di dalam segmen bawah uterus melalui kanalis servikalis, diisi cairan (dapat sampai 100 cc pada Foley no.24), diharapkan akan mendorong selaput ketuban di daerah segmen bawah uterus sampai terlepas (BUKAN untuk dilatasi serviks).
Amniotomi, selaput ketuban dilukai / dirobek dengan menggunakan separuh klem Kocher (ujung yang bergigi tajam), steril, dimasukkan ke kanalis servikalis dengan perlindungan jari-jari tangan.

Medisinal

Dengan menggunakan obat-obat untuk stimulasi aktifitas uterus, misalnya spartein sulfat, prostaglandin (misoprostol-derivat prostaglandin) atau oksitosin.
Sedang dalam penelitian : penggunaan preprarat prostaglandin tablet misoprostol intravaginal (dipasang di ruang fornix).
Pada beberapa kepustakaan, induksi prostaglandin intravaginal disebutkan dapat dilakukan bersamaan dengan pemakaian balon kateter Foley (gambar).

Di FKUI/RSCM : digunakan juga oksitosin.
Dalam kolf 500 cc dextrose 5%, dicampurkan 5 IU oksitosin sintetik. Cairan oksitosin dialirkan melalui infus dengan dosis 0.5 mIU sampai 1.0 mIU per menit, sampai diperoleh respons berupa aktifitas kontraksi dan relaksasi uterus yang cukup baik.
Hati-hati, Kontraksi uterus yang terlalu kuat dan relaksasi yang kurang akan dapat berakibat buruk terhadap janin karena gangguan sirkulasi uteroplasental.
Evaluasi :
dapat diulang sampai dengan 3 kali. Jika persalinan belum maju, dinyatakan refrakter / induksi gagal.

Jika sudah terdapat aktifitas kontraksi uterus sebelumnya tetapi tidak baik (misalnya pada incoordinated uterine action), aktifitas tersebut dieliminasi lebih dahulu misalnya dengan pethidine 50 mg, baru dilakukan induksi.

TANDA-TANDA INDUKSI BAIK

1. respons uterus berupa aktifitas kontraksi miometrium baik
2. kontraksi simetris, dominasi fundus, relaksasi baik (sesuai dengan tanda-tanda his yang baik / adekuat)
3. nilai pelvik menurut Bishop (tabel)

PRINSIP !!

1. penting : monitor keadaan bayi, keadaan ibu, awasi tanda-tanda ruptura uteri
2. penting : harus memahami farmakokinetik, farmakodinamik, dosis dan cara pemberian obat yang digunakan untuk stimulasi uterus.

KONTRAINDIKASI INDUKSI PERSALINAN

1. kontraindikasi / faktor penyulit untuk partus pervaginam pada umumnya : adanya disproporsi sefalopelvik, plasenta previa, kelainan letak / presentasi janin.
2. riwayat sectio cesarea (risiko ruptura uteri lebih tinggi)
3. ada hal2 lain yang dapat memperbesar risiko jika tetap dilakukan partus pervaginam, atau jika sectio cesarea elektif merupakan pilihan yang terbaik.

PERDARAHAN PASCA PERSALINAN (HEMORAGIA POSTPARTUM – HPP)

Adalah perdarahan lebih dari 500 cc yang terjadi setelah anak lahir.

Perdarahan primer : terjadi dalam waktu 24 jam pascapersalinan.
Perdarahan sekunder : terjadi dalam waktu sesudah 24 jam pertama pascapersalinan itu.

Masalah di Indonesia
Sebagian besar persalinan terjadi tidak di rumah sakit, sehingga sering pasien yang bersalin di luar kemudian terjadi HPP terlambat datang di rumah sakit, waktu tiba keadaan umum / hemodinamiknya sudah memburuk.
Akibatnya mortalitas tinggi.

KEMUNGKINAN PENYEBAB

1. atonia uteri
2. perlukaan jalan lahir
3. pelepasan plasenta dari uterus
4. tertinggalnya sebagian plasenta dalam uterus (retensio, akreta, suksenturiata..)
5. kelainan proses pembekuan darah akibat hipofibrinogenemia
6. iatrogenik – tindakan yang salah untuk mempercepat kala 3 : penarikan tali pusat, penekanan uterus ke arah bawah untuk mengeluarkan plasenta dengan cepat, dan sebagainya.

DIAGNOSIS

Prinsip :
1. bila seorang ibu bersalin mengalami perdarahan setelah anak lahir, pertama-tama dipikirkan bahwa perdarahan tersebut berasal dari retensio plasenta atau plasenta lahir tidak lengkap.
2. Bila plasenta telah lahir lengkap dan kontraksi uterus baik, dapat dipastikan bahwa perdarahan tersebut berasal dari perlukaan pada jalan lahir.

Jika perdarahan masif, diagnosis relatif lebih mudah.
HATI-HATI pada perdarahan lambat, sedikit-sedikit tapi terus-menerus, dapat tidak terdeteksi / terdiagnosis.
Sehingga pada perawatan pascapersalinan perlu observasi klinis dan laboratorium serial.

PRINSIP !!
Perdarahan hanyalah GEJALA !! Harus diketahui dan ditatalaksana penyebabnya !!!
Bukan sekedar memperbaiki Hb !!
(misalnya dengan transfusi, obat2an hematinik, begitu..)

Bedakan :
Perdarahan karena perlukaan jalan lahir, kontraksi uterus baik.
Perdarahan karena atonia uteri atau sisa plasenta, kontraksi uterus kurang baik.

PENATALAKSANAAN

Terapi terbaik adalah PENCEGAHAN sejak masa antenatal. Tatalaksana anemia dengan nutrisi / gizi dan obat hematinik, vitamin, mineral. Jika ada faktor risiko, dapat dilakukan autotransfusi / transfusi homologus (pasien menabung darahnya sendiri untuk digunakan waktu persalinan).

Pada waktu persalinan, siapkan keperluan untuk resusitasi dan transfusi.

Segera sesudah bayi lahir, injeksi intramuskular ergometrin dan / atau oksitosin untuk meningkatkan kontraksi uterus (dilakukan juga pada persalinan normal biasa)

HATI-HATI pada kehamilan gemelli / kembar yang tidak diketahui sebelumnya, pemberian uterotonik setelah bayi lahir dapat menyebabkan terjepit / terperangkapnya bayi kedua yang masih berada di dalam.

URUTAN / SISTEMATIKA TINDAKAN PADA KASUS
PERDARAHAN PASCAPERSALINAN

1. segera sesudah bayi lahir, injeksi intramuskular ergometrin dan / atau oksitosin untuk meningkatkan kontraksi uterus (dilakukan juga pada persalinan normal biasa)

2. jika terjadi perdarahan, sementara plasenta belum lahir (paling lama 30 menit sesudah bayi lahir), lakukan manuver aktif untuk mengeluarkan plasenta (dianjurkan cara Brandt-Andrews atau manual – lihat kuliah pimpinan persalinan normal)

3. jika terdapat sisa plasenta yang sulit dikeluarkan (retensio / inkreta / akreta / perkreta dsb), sementara perdarahan berjalan terus, mulai dipikirkan pertimbangan untuk laparotomi / histerektomi.

4. usaha untuk menghentikan perdarahan sementara, dapat dengan kompresi bimanual dan massage (Eastman / Dickinson).

5. Dapat juga dilakukan pemasangan tampon uterovaginal, dengan kasa gulung panjang yang dipasang padat memenuhi uterus sampai vagina, dipertahankan selama 12-24 jam.

6. jika akhirnya diputuskan tindakan laparotomi, lakukan ikatan arterii hipogastrika kanan dan kiri, serta, alternatif terakhir, histerektomi

Untuk histerektomi, HARUS diyakini benar bahwa perdarahan berasal dari sisa implantasi plasenta atau dari dinding uterus, bukan dari robekan / perlukaan jalan lahir lainnya atau dari gangguan hematologi lainnya.

Persalinan dengan Teknik ILA

Ibu hamil selalu menantikan saat-saat membahagiakan melahirkan seorang bayi, akan tetapi rasa senang itu dapat mendadak menjadi saat-saat yang mengerikan karena terbayang kesakitan yang sangat saat melahirkan. Hal ini memerlukan pengertian, bantuan dan dukungan bagi ibu hamil yang akan melahirkan tersebut. Dan berbagai cara dilakukan agar ibu melahirkan dalam keadaan yang tidak terlalu sakit dan nyaman. Salah satu yang dikembangkan saat ini adalah Suntikan Analgesia Epidural ( Intrathecal Labour Analgesia ) atau Persalinan Tanpa Rasa Sakit ( Painless Labor ).

Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks , dan janin turun ke dalam jalan lahir. Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18-24 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin.

Persalinan dibagi dalam 4 kala, yaitu :

Kala I : dimulai dari saat persalinan mulai sampai pembukaan lengkap (10 cm) . Proses ini berlangsung antara 18-24 jam terbagi dalam 2 fase, fase laten ( ± 8 jam) serviks membuka sampai 3 cm dan fase aktif ( ± 7jam) serviks membuka dari 3 sampai 10 cm dengan kecepatan ± 1 cm perjam. Kontraksi lebih kuat dan sering selama fase aktif.

Kala II : dimulai dari pembukaan lengkap (10 cm) sampai bayi lahir. Proses ini biasanya berlangsung 2 jam pada primi dan 1 jam pada multi.

Kala III : dimulai segera setelah bayi lahir sampai lahir sampai lahirnya plasenta , yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit.

Kala IV : dimulai pada saat lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama postpartum.

Persalinan Tanpa Rasa Sakit

Tiga hal penting dan perlu diperhatikan untuk menghilangkan rasa sakit persalinan adalah : Keamanan, kemudahan dan jaminan terhadap homeostasis janin.

Ibu bersalin yang diberikan analgesia harus dimonitor dengan baik. Menurut Read ( 1944 ) intensitas nyeri persalinan berhubungan dengan tingkat emosional. Beberapa faktor yang berhubungan dengan meningkatnya intensitas nyeri persalinan dan kelahiran adalah : Nuliparitas, Induksi Persalinan, Usia Ibu yang masih muda, Riwayat ‘Low Back Pain’ yang menyertai menstruasi dan peningkatan berat badan ibu ataupun janin. Dari semua ini, prediktor yang paling penting adalah nuliparitas dan induksi persalinan ( Pacuan ). Nyeri persalinan ini dapat diantisipasi dengan latihan / senam hamil.

NYERI PERSALINAN & I L A

Kontraksi ritmik uterus dan dilatasi servik yang progresif pada kala I menyebabkan sensasi nyeri selama kala I persalinan. Impuls saraf aferen dari servik dan uterus ditransmisikan ke medula spinalis melalui segmen Thorakal 10 – Lumbal 1. Hal ini biasanya akan menyebabkan nyeri pada daerah perut bagian bawah dan daerah pinggang serta sakrum. Berbeda dengan kala I, pada kala II transmisi melalui segmen Sakral 2 – 4, dan nyeri disebabkan oleh regangan pada vulva/vagina dan perineum yang juga bertumpang tindih dengan nyeri akibat kontraksi uterus.

Keuntungan I L A :

1. Efektif menghilangkan nyeri persalinan selama kala I dan II persalinan.

2. Memfasilitasi kooperasi ( Kerjasama ) pasien selama persalinan dan kelahiran.

3. Anestesi untuk tindakan episiotomi atau Persalinan Pervagina dengan Tindakan Operatif ( PPTO ).

4. Dapat untuk anestesi operasi sesar ( Time Related ).

5. Tidak menyebabkan depresi napas baik pada janin maupun ibu yang disebabkan oleh opioid.

Tindakan I L A ini seharusnya hanya dilakukan oleh seorang yang ahli dan ditempat yang memiliki fasilitas, alat dan obat-obatan untuk resusitasi. Termasuk didalamnya adalah oksigen, suction dan alat-alat / obat-obatan resusitasi kardioplulmonar. Dan tindakan I L A dilakukan setelah dilakukan pemeriksaan terhadap ibu dan janin serta kemajuan persalinannya. I L A tidak diberikan sebelum diagnosa persalinan sudah ditegakkan dan sebelum ibu bersalin meminta untuk meredakan nyeri persalinannya.

kontraindikasi dari I L A

Ada beberapa kontraindikasi dari I L A yaitu :

1. Persangkaan Disproporsi Kepala Panggul ( Resiko Ruptura Uteri ).

2. Penolakan oleh pasien.

3. Perdarahan Aktif

4. ‘Maternal Septicemia’

5. Infeksi disekitar lokasi suntikan.

6. Kelainan Pembekuan darah.

Efek I L A pada persalinan diantaranya adalah dapat memperpanjang kala I dan II persalinan, dan meningkatkan penggunaan oksitosin untuk akselerasi persalinan serta penggunaan instrumentasi pada kelahiran dengan menggunakan tarikan vakum atau forsep. I L A tidak signifikan meningkatkan angka operasi sesar.

Yang perlu disadari disini bahwa penggunaan I L A untuk ‘Painless Labor’ adalah untuk mengatasi nyeri persalinan, sedangkan perjalanan proses persalinan itu sendiri adalah tetap. Jadi tidak berarti bahwa dengan I L A akan pasti dapat lahir pervaginam. Tindakan sesar adalah atas dasar indikasi Obstetri.

Tindakan ILA ini dilakukan setelah pembukaan serviks 3-5 cm , kecuali bila dilakukan induksi dengan oksitosi tindakan dapat diakukan lebih awal. Akan tetapi secara umum tindakan ILA dilakukan setelah diagnosa persalinan telah ditegakkan dan pasien telah meminta untuk meredakan nyeri persalinannya .

KOMPLIKASI ILA

Komplikasi dari tindakan ILA yang paling sering adalah hipotensi. Untuk itu diperlukan pemberian cairan elektrolit isotolus sebelum tindakan . Komplikasi yang lain adalah sakit kepala, retensio urin ,meningitis ,kejang ,akan tetapi ini adalah komplikasi yang jarang terjadi. Dua komplikasi yang umum terjadi adalah Hipotensi dan sakit kepala.

Crawford ( 1985) dari Birmingham Maternity Hospital, Inggris melaporkan mulai dari 1968 –1985 lebih dari 26.000 pasien mendapatkan ILA dan tidak ditemukan adanya kematian., jadi tindakan ini cukup aman.

PEMANTAUAN PERSALINAN

Persalinan harus dipantau baik dari status umum maupun kemajuan persalinannya. Yang perlu dievaluasi adalah : Denyut Jantung Janin, His ( Kontraksi Uterus ), Penurunan bagian terendah janin, Lingkaran retraksi Bandl. Kemajuan persalinan dievaluasi sesuai dengan pembukaan servik dengan penurunan bagian terendah janin ( kepala ) sesuai partograf atau kurva Friedman.

Penting juga untuk diketahui bahwa karena nyeri persalinan telah hilang, maka reflek ingin mengejan pada kala II pun akan berkurang sensasinya, sehingga diperlukan edukasi pada ibu dan diberitahu kapan harus mengejan.

Kesimpulan

1. I L A adalah tindakan untuk meredakan nyeri persalinan, dan proses persalinan berjalan seperti biasa.

2. Tindakan hanya dilakukan bila diagnosis persalinan telah ditegakkan dan pasien telah meminta untuk dilakukan prosedur meredakan nyeri persalinan.

3. Pemantauan status umum dan kemajuan persalinan harus dilakukan dengan baik selama tindakan I L A dilakukan.

4. Komunikasi, informasi dan Edukasi untik pasien sangat penting terutama dalam kerjasama pimpinan persalinan.

5. Walaupun memiliki beberapa resiko tampaknya Intrathecal Labour Analgesia untuk Persalinan tanpa Rasa Sakit memiliki banyak keuntungan dan membawa kenyamanan tersendiri bagi ibu melahirkan dengan keamanan yang cukup.

DAFTAR PUSTAKA

1. Cunningham FG et al, Analgesia and Anesthesia in : Williams Obstetrics, 21st edition, Mc.GrawHill, 1997, p. 361 – 383.

2. Baskett PJF et al, Epidural Anesthesia and Analgesia in : Practical Procedures in Anesthesia and Critical Care, Mosby, 1995, p. 240-251.

3. Vincent RD, Chestnut DH, Epidural Analgesia During Labor, The American Academy of Family Physicians, November, 15,1998.

4. Leslie NG , Intrathecal narcotics for labour analgesia:the poor man’s epidural CJRM 2000;5(4):226-9.

5. King B, Fung P, Continous Epidural Analgesia for Painless Labor Does Not Increase the Incidence of Cesarian Delivery, Acta Anaesthesiol Sin, 38:79-84, 2000.

6. Persalinan Normal; dalam Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, 2000, Hal. 100-121.

sumber: pkusolo

from: rumahkusorgaku.wordpress.com

Kardiotokografi dalam Persalinan

Kardiotokografi. Adalah suatu metoda elektronik untuk memantau kesejahteraan janin dalam kehamilan dan atau dalam persalinan.

Pemeriksaan KTG biasanya dilakukan pada kehamilan resiko tinggi, dan indikasinya terdiri dari :

1. IBU

a. Pre-eklampsia-eklampsia

b. Ketuban pecah

c. Diabetes melitus

d. Kehamilan ³ 40 minggu

e. Vitium cordis

f. Asthma bronkhiale

g. Inkompatibilitas Rhesus atau ABO

h. Infeksi TORCH

i. Bekas SC

j. Induksi atau akselerasi persalinan

k. Persalinan preterm

l. Hipotensi

m. Perdarahan antepartum

n. Ibu perokok

o. Ibu berusia lanjut

p. Lain-lain : sickle cell, penyakit kolagen, anemia, penyakit ginjal, penyakit paru, penyakit jantung, dan penyakit tiroid.

2. JANIN

a. Pertumbuhan janin terhambat (PJT)

b. Gerakan janin berkurang

c. Suspek lilitan tali pusat

d. Aritmia, bradikardi, atau takikardi janin

e. Hidrops fetalis

f. Kelainan presentasi, termasuk pasca versi luar.

g. Mekoneum dalam cairan ketuban

h. Riwayat lahir mati

i. Kehamilan ganda

j. Dan lain-lain

SYARAT PEMERIKSAAN KTG

1. Usia kehamilan ³ 28 minggu.

2. Ada persetujuan tindak medik dari pasien (secara lisan).

3. Punktum maksimum denyut jantung janin (DJJ) diketahui.

4. Prosedur pemasangan alat dan pengisian data pada komputer (pada KTG terkomputerisasi) sesuai buku petunjuk dari pabrik.

INDIKASI KONTRA KTG

Sampai saat ini belum ditemukan kontra-indikasi pemeriksaan KTG terhadap ibu maupun janin.


PERSIAPAN PASIEN1

a. Persetujuan tindak medik (Informed Consent) : menjelaskan indikasi, cara pemeriksaan dan kemungkinan hasil yang akan didapat. Persetujuan tindak medik ini dilakukan oleh dokter penanggung jawab pasien (cukup persetujuan lisan).

b. Kosongkan kandung kencing.

c. Periksa kesadaran dan tanda vital ibu.

d. Ibu tidur terlentang, bila ada tanda-tanda insufisiensi utero-plasenter atau gawat janin, ibu tidur miring ke kiri dan diberi oksigen 4 liter / menit.

e. Lakukan pemeriksaan Leopold untuk menentukan letak, presentasi dan punktum maksimum DJJ

f. Hitung DJJ selama satu menit; bila ada his, dihitung sebelum dan segera setelah kontraksi berakhir..

g. Pasang transduser untuk tokometri di daerah fundus uteri dan DJJ di daerah punktum maksimum.

h. Setelah transduser terpasang baik, beri tahu ibu bila janin terasa bergerak, pencet bel yang telah disediakan dan hitung berapa gerakan bayi yang dirasakan oleh ibu selama perekaman KTG.

i. Hidupkan komputer dan Kardiotokograf.

j. Lama perekaman adalah 30 menit (tergantung keadaan janin dan hasil yang ingin dicapai).

k. Lakukan pencetakkan hasil rekaman KTG.

l. Lakukan dokumentasi data pada disket komputer (data untuk rumah sakit).

m. Matikan komputer dan mesin kardiotokograf. Bersihkan dan rapikan kembali alat pada tempatnya.

n. Beri tahu pada pasien bahwa pemeriksaan telah selesai.

o. Berikan hasil rekaman KTG kepada dokter penanggung jawab atau paramedik membantu membacakan hasi interpretasi komputer secara lengkap kepada dokter. PARAMEDIK (BIDAN) DILARANG MEMBERIKAN INTERPRETASI HASIL CTG KEPADA PASIEN

Tips Menghindari Robekan Jalan Lahir pada Persalinan Normal

Haluu bu, posting sesaat saya ini akan berbicara tentang penjahitan pada Jalan Lahir wanita yang mengalami Persalinan NOrmal.

Apa kalau mau bersalin Normal bagian kewanitaan kita harus dijahit?? aw aw…. denger kata Jahit aja uda serem,, apalagi kalau yang dijahit bagian… Hmmm.. itu tuhh,, hehehe…..

Sebenernya, tidak semua Ibu yang melahirkan dengan Persalinan Normal terutama pada anak Pertama mengalami robekan pada jalan lahirnya. Jadi tidak semua Ibu yang melahirkan normal harus dijahit pada bagian kewanitaannya. Penjahitan dilakukan pada Ibu yang mengalami robekan jalan lahir saja.

Yang mengalami penjahitan jalan lahir, ga hanya Ibu2 dengan anak pertama, tapi anak kedua dan ketiga-pun kalau liang vaginanya kaku, kurang rileks atau bayinya terlalu besar, juga bisa mengalami penjahitan jalan lahir. Tapi banyak juga, pasien saya Ibu bersalin anak pertama dengan vagina utuh tanpa lecet sedikitpun, kalu yang ini kelenturan vagina sangat mendukung. Emang sendiri2 sih,, manusia kan gak diciptakan sama semua yah??

TIPS Menghindari robekan jalan Lahir :

  • Sering2 latihan KEGEL biar liang vagina lebih lentur dan lunak.
  • Sering jongkok, agar paha, panggul serta bagian kewanitaan lebih terlatih.
  • Bayi tidak terlalu besar
  • Sabar dan ga keburu-buru mengejan saat persalinan berlangsung, biarkan kepala bayi turun dengan santai, pasti dan tidak membuat robekan pada jalan lahir.
  • Saat Persalinan, rileks, tidak tegang, tersenyum dan melemaskan rahang mulut bagian bawah, karena ada hubungan antara rahang bawah dengan vagina.
  • Yang paling penting !!! Saat persalinan, jangan angkat pantat anda ke kanan dan kekiri, letakkan saja pantat anda di tempat tidur. Tetap tenang dan terkendali, mintapada penolong persalinan anda agar mengingatkan anda.
  • terakhir  dari pihak penolong persalinan, bila si penolong sabar, dan menahan perineum (bag,kewanitaan anda) dengan kuat dan terkendali, sangat dmungkinkan anda tidak mengalami robekan. Keterampilan sangat dibutuhkan disini.

Bila ternyata anda mengalami penjahitan,perhatikan kebersihan bagian kewanitaan anda. Jangan JOROK!!  Agar tidak terjadi Infeksi, selain itu sekedar TIPS aja, Agar jahitan cepat jadi dan kering juga hasilnya bagus+indah (wew?)  makanlah protein nabati yang banyak agar jaringan yang robek cepat menyatu. Bisa dicoba dengan Diit Telur makan 6 butir telur/ hari, niscaya dalam waktu 1-2mg jahitan anda sudah kering. Tapi hindari untuk anda yang alergi telur..

Biasanya, klinik jaman sekarang, langsung menggunakan benang yang langsung jadi daging (catgut), jadi anda tidak usah angkat2 jahitan kek jaman baheula ituu..huhuhu….

Sudah lebih paham?????????????

Pengalaman Persalinan

Ervita Damayanti, ibu dari Alif (2 tahun)

Jalan Pintas

Ada dua pilihan untuk melakukan persalinan, normal atau caesar. Saat ini melahirkan dengan cara normal lebih banyak diminati. Alasannya, biaya lebih murah, pemulihan pasca persalinan lebih cepat, dan lebih terasa jadi “ibu”-nya, karena merasakan sakitnya kontraksi…..Hal inilah yg paling sering aku temui, pandangan negatif yg seolah-olah menuduh aku mengambil jalan pintas untuk menjadi Ibu, karena aku melahirkan Alif lewat operasi caesar…..Dibalik semua alasan itu, apakah mereka yang melahirkan secara normal merasa lebih “pantas” menyandang predikat sebagai Ibu?  Minggu terakhir kehamilan, DSOG-ku menyatakan aku harus menjalani operasi untuk “bertemu” buah hatiku. Alasannya karena posisi anakku sungsang, bayi tidak bisa berputar ke jalan lahir karena lehernya terlilit tali pusar. Kami sebagai orang tua baru, panik mendengar hal itu……Terbayang jeratan tali pusar di lehernya yg membuat gerakan bayi kami jadi terbatas…..pasti dia gak nyaman……akhirnya kami menuruti anjuran dokter demi keselamatan ibu dan bayi…..Rasa takut langsung melanda….duuuuh “operasi” gitu looh……

Meleset dari waktu yg disepakati, ternyata anakku dah buru-buru ingin melihat dunia….jadwal yg tadinya tgl 17 Februari maju karena aku mengalami pecah ketuban tanggal 9 Februari……

Ternyata, Tuhan memberikan kesempatan bagiku untuk “merasakan menjadi ibu”…..aku merasakan kontraksi dari jam 2 pagi sampai waktu operasi jam 8 pagi tiba…..Tetapi sekali lagi, Tuhan menunjukkan kuasanya sebagai penguasa rencana…….Manusia boleh punya jadwal operasi, Tuhan juga yang menentukan…..Jadwal operasiku yg jam 08.00 pagi, harus diundur karena ada seorang ibu yang akan melahirkan, namun detak jantung sang bayi mengkhawatirkan. Sehingga DSOG-ku minta ijin untuk menangani ibu tersebut lebih dulu. Duuuh…si Dokter, gak tau kali ya….dah jungkir balik gini nahan sakitnya. Tapi, mungkin inilah rencana Tuhan supaya aku bisa merasakan nikmatnya kontraksi lebih lama…..Jam 10.30, tiba waktunya aku masuk ruang operasi……saat itu aku merasa Tuhan sangat sayang sama aku…sama sekali gak diberikan rasa takut sedikitpun ……yg aku pikirkan saat itu hanyalah bayiku dan rasa sakit dari kontraksi yg aku alami. Aku berdoa semoga semua ini cepat selesai.

Operasi berjalan dengan lancar dan cepat, cuma 17 menit, anakku dah keluar……lahir dengan selamat tanpa kurang suatu apapun…..Akhirnya setelah sembilan bulan penantian, kami berdua dapat bertatap muka untuk pertama kalinya……..Tanda kebesaranNya…anugrah terbesar dariNya untukku…hadiah ulang tahun terbaik yg pernah diterima suamiku (Alif lahir tanggal 10 feb, suamiku ultah tgl 13 feb)…..Hanya syukur alhamdulillah yg dapat kami panjatkan atas kebahagiaan yang kami terima saat itu…… Saat ini, masih sering kudengar omongan negatif tentang operasi caesar, yang bilang “Mau jadi Ibu, kok, gak mau sakit”……Well…..semua itu hak mereka untuk menilai “perjuangan” seorang wanita untuk menjadi Ibu…tapi bila aku mengenang kembali detik-detik “perjuanganku”, pertama kali menatap mata malaikat kecilku, binar bahagia suamiku saat mengumandangkan azan pertama untuk bayi kami, rasanya bisa kutepis rasa “rendah diri” akibat omongan negatif mereka…..Tapi….apakah benar “perjuanganku” berkurang hanya karena melahirkan lewat operasi caesar?

Witaradyasari (31 tahun), ibu dari Hanifa Putri (2 tahun 6 bulan) dan Imam Fakhri (3 bulan)

Kebetulan sebulan setelah menikah saya langsung dinyatakan hamil… Pertama lihat hasil test pack positif saya agak kaget, gak nyangka secepat itu, tapi berhubung belum pengalaman, pas belanja pun saya tetap angkat yg berat-berat, tetap pake sepatu hak tinggi.. walhasil besok paginya ada flek darah… lagi-lagi dengan begonya saya hanya mengira, “oohh berarti saya gak jadi hamil kali ya??” Sedih banget, namun setelah 2 hari berturut-turut pendarahan, saya disarankan teman untuk periksa ke dokter. Akhirnya saya segera menemui dokter yang praktek di RSB terdekat. Dokternya cuek banget, dia sama sekali gak nyuruh istirahat bahkan tidak memantang untuk “berhubungan”.

Ternyata besoknya tetap terjadi pendarahan. Karena kecewa dengan dokter pertama, saya disarankan untk menelpon dokter kandungan yang masih kenalan orang tua saya. Saya disarankan untuk langsung periksa di RSB tempat dia praktek. Langsung aja saya diberi suntikan penguat dan bed rest selama 1 minggu, alhamdulillah kandungan saya dapat dipertahankan…

Semua berjalan mulus sejak itu, selama kehamilan sama sekali tidak merasakan mual dan muntah-muntah… hamil kebo ceritanya… menjelang due date, malam tahun baru 2004 keluar flek tapi tanpa diikuti dengan kontraksi. Tanggal 1 Januari 2004 pagi-pagi saya periksa ke RSB ternyata baru bukaan 1, saya disuruh pulang dan banyak jalan tetapi tidak kontraksi juga. Sorenya saat jalan-jalan, baru terasa kontraksinya.. awal-awal 10 menit sekali, 7 menit sekali, jadi kami memutuskan untuk balik ke RSB. Tapi karena belum makan malam saya memaksa untuk makan dulu di depan RSB sebelum memeriksakan kandungan saya (nekat ya??). Eh, mertuaku menelpon, katanya udah nyampe di RSB dan dia kaget banget kok yg mau melahirkan masih cuek aja makan malam, sop kaki kambing pula… hahahahaaa…

Sehabis makan barulah kami ke RSB tapi ternyata baru bukaan 3, walaupun setiap kontraksi udah sakiiittt banget…. 2 jam berlalu masih bukaan 5. Di sebelahku ada pasien yang ditangani dokter yang sama denganku, tapi akhirnya melahirkan duluan. Mungkin biar dokternya gak bolak balik ke RS dia menyarankan saya untuk di induksi. waduh… tambah sakit… Saya pegangan terus sama suami, diapun sampe gak tega melihat saya kesakitan begitu. Setelah bukaan 10 saya disuruh mengejan… lupa semua ajaran sewaktu senam hamil… tapi sampe saya kecapean dan disuruh istirahat bayinya gak juga keluar. Rasa sakitnya udah ampun-ampun deh… Akhirnya pukul 00.30 lahirlah putri pertama kami… ternyata bayiku terlilit tali pusar, pantas susah bener… Kami namakan Hanifa Putri Prayogo, lahir dengan panjang 50cm dan berat 2.95kg.

Setelah 1,5 tahun ternyata saya hamil lagi. Kebetulan saya dan suami sudah berencana untuk pergi umrah, jadilah dengan membawa janin umur 2 bulan dalam kandungan, saya menjalankan ibadah umrah. Alhamdulillah saya kembali tidak mengalami mual-mual selama kehamilan bahkan saya juga masih bisa naik ke Jabal Rahmah yang tangganya tinggi banget, ya… pelan-pelan sih, tapi seneng deh bisa nyampe kesana… Di Mekah kami memanjatkan doa supaya anak ke 2 kami laki-laki (hehe biar sepasang…) dan menjadi anak yang sholeh, sehat dan cerdas… amien…

Cobaan saat hamil ada aja, yang BS gak balik lagi, suami dan pembantu kena demam berdarah sampe masuk RS duh… tapi ya dinikmati aja deh.

Menjelang due date saya sudah keluar flek, berdasarkan pengalaman pertama saya cuek aja, nanti kalo udah ada rasa kontraksi baru mau ke RSB. Karena belum terasa kontraksi, saya jalan-jalan aja, bahkan sempet harus gendong Putri. Tetapi karena dekat dengan lokasi RSB akhirnya saya mutusin untuk periksa aja deh, kalo disuruh pulang ya udah gak papa… Ternyata pas periksa dalam udah bukaan 3 jadi gak boleh pulang lagi. Putri dijemput oleh adik saya, sedangkan suami langsung nungguin di RSB.

Herannya saya sama sekali tidak merasa sakit sewaktu kontraksi, dateng jam 8 malam akhirnya disuruh tidur aja. Saya terbangun jam 12 malam gara-gara ada pasien yang baru masuk tau-tau udah bukaan 8…. waduh, keduluan lagi nih, kaya kasus melahirkan pertama… Ternyata dokter yang menangani kelahiran pun sama. Sewaktu dokternya datang untuk proses kelahiran pasien di sebelah, dokternya bilang,”Wita, kamu diinduksi aja ya biar cepet”. Saya sih pasrah aja deh, padahal saat itu saya udah bukaan 7 lho… dan tanpa sakit sama sekali !!! Akhirnya saya tetap diinduksi, beda dengan kelahiran pertama sampai bukaan ke 10 saya sama sekali tidak mengeluh sakit, saya hanya mengontrol napas seperti yang diajarkan susternya sambil nunggu dokternya selesai dengan pasien di sebelah. Kata-kata „aduh“ maupun „sakit“ sama sekali tidak keluar dari mulutku… Sejam kemudian bayinya lahir, Imam Fakhri Prayogo panjang 50cm berat 3.25kg.

Bedanya dengan anak pertama, waktu melahirkan pertama kali saya didampingi oleh banyak orang, suami, mamah, papah, tante, tapi anak ke 2 saya hanya ditemani oleh suami. Tapi karena sudah pengalaman, ya… kami PD aja … malah lebih bisa tenang menghadapi masa-masa genting…

Dua sudah anak kami, perempuan dan laki-laki… untuk sementara tutup buku dulu deh dengan memakai KB, gak tau deh kalo nanti beberapa tahun lagi masih pengen nambah, hehehe… Mudah-mudahan anak kami menjadi anak yang baik-baik, sehat, cerdas, gak susah makannya (ini yang suka jadi penyebab stress mamanya..)

Lea Harumi K (31 tahun), ibu dari Jasmine Gabriel Winoto (3 tahun 10 bulan)

Tanggal 9 Agustus 2002, seharusnya menjadi hari terakhirku bekerja sebelum cuti melahirkan. Kata DSOG-ku, bayi kami diperkirakan lahir tanggal 24 Agustus 2002. Jadi tanggal 12 Agustus aku baru ambil cuti. Niatnya, pada awal-awal cuti, aku ingin melakukan senam hamil,yang sudah aku ikuti setiap Sabtu, setelah usia kehamilan memasuki trimester ketiga.

Tapi….ternyata bayi kami lahir pada hari tersebut. Pagi sekitar pukul 5 pagi, aku terbangun akibat ngompol. Wah, malu deh rasanya… saat itu aku berpikir, kalau orang hamil kan memang sering sekali buang air kecil, mungkin saat ini gak ketahan aja, jadi ngompol gitu…(masih belum tahu kalau saat itu sebetulnya air ketuban sudah mulai pecah). Perut agak mulas, sehingga kuputuskan untuk tidak pergi ke kantor, istirahat di rumah aja.Sampai dengan makan siang, aku masih belum merasakan tanda-tanda kelahiran yang ‘heboh’ itu. Perut juga tidak terasa mulas atau sakit berkala, tapi ‘air seni’ kok terus-terusan keluar ya… Sekitar jam 3 siang, wah, tanda-tanda nih, mulas sudah terasa agak sering, sekitar 15 – 20 menit sekali. Kutelpon suamiku, mengabarkan tanda-tanda kelahiran si kecil, eh suami malah tenang-tenang saja. Dia bilang, ok tunggu dia pulang, baru kita berangkat ke rumah sakit.

Akhirnya, kami tiba di rumah sakit pukul 7 malam. Aku langsung masuk ke ruang bersalin untuk siap-siap melahirkan. Setelah diperiksa dalam, kata suster jaga, baru bukaan satu. Maka aku diminta pindah ruangan untuk menunggu bukaan selanjutnya.Sekitar jam 9 malam, orangtuaku datang. Aku diberi makan roti, karena sejak makan siang aku belum makan apa-apa lagi. Rasa sakit pada perut semakin menghebat sampai jam 10 malam. Saat itu, rasanya sudah tidak tahan lagi… ! Suamiku,yang menemaniku, sampai bingung mau berbuat apa.Aku teriak-teriak memanggil suster jaga. Kata suster jaga, sebaiknya aku disuntik epidural, untuk mengurangi rasa sakit saat melahirkan – DSOG-ku juga memperbolehkan suntikan tersebut. Aku setuju-setuju saja, tergantung suamiku yang akhirnya setuju juga. Saat suamiku akan menandatangani surat pernyataan setuju, suster jaga berkata proses kelahiran sang bayi sudah sangat dekat… sudah lebar sekali bukaannya. Wuih, saat itu rasanya, seperti ditonjok-tonjok dari dalam, si bayi gak sabar mau keluar…. Perjalanan menuju ruang bersalin harus kujalani dengan berjalan kaki. Apa gak hebat tuh, bisa jalan kaki sendiri ke ruang bersalin, dalam kondisi si bayi mau keluar ?

Akhirnya, proses melahirkan berlangsung dengan cepat. Thanks God ! Pukul 11.55 malam (5 menit menjelang tanggal 10 Agustus 2002), Jasmine kecil lahir… Wah, leganya.. Langsung saat itu, aku serasa pingsan. Gak sadar apa-apa sampai pagi. Kata suamiku, aku ‘teler’ berat – mungkin pengaruh obat bius dan kecapaian.Yang pasti sih kecapaian banget.. soalnya cuma dengan energi sepotong roti, aku melahirkan Jasmine. Suamiku yang setia menunggu walaupun berkali-kali kuusir karena merasa sangat kesakitan, sangat gembirakan melihat senyuman manis Jasmine, dengan lesung pipit di sebelah kirinya. Itulah hadiah pertama Jasmine untuk suamiku…

Jurike Armanto (34 tahun), ibu dari Kemal (7 tahun) dan Kayla (2 tahun 10 bulan) Kehamilan pertamaku sebenarnya merupakan pengalaman kedua dengan dokter ginekologi. Yang pertama adalah waktu aku harus dioperasi karena ditemukan kista sebesar buah mangga (yes, mangga indramayu!) di ovarium kiri. Operasi berjalan sukses dan aku disarankan untuk segera mencoba hamil. Enam bulan kemudian memang aku hamil, tapi aku memutuskan untuk pindah dokter karena si dokter pertama kurang komunikatif menurutku. Mungkin karena beliau adalah teman mertuaku dan mertuaku lupa mengundangnya waktu perkawinan kami. Entahlah. Dokter kedua ini juga kenalan mertuaku, namun orangnya sangat ramah dan suka ngobrol. Bahkan pernah waktu aku kontrol ke beliau, kita ngobrol sampai lupa bahwa ada pasien yang menunggu di luar. Satu hal yang membuatku ragu adalah beliau terkenal gemar operasi caesar. Konon, yang tidak perlu operasi caesar pun akan dibuatkan alasan untuk operasi. Jadi sejak awal aku udah memberi sinyal secara halus bahwa aku pengen melahirkan secara normal, dan sejauh ini penerimaan si dokter baik-baik saja.

Waktu kontrol bulan ketujuh dan dilakukan pemeriksaan dalam, beliau bilang bahwa lubang panggulku sempit sekali. Saat itu, ukuran kepala bayi dan ukuran lubang panggulku sudah hampir sama besar. Artinya pada saat melahirkan nanti ada kemungkinan tidak muat. Wah, kupikir dokternya pasti hanya mencari alasan saja supaya aku harus operasi, jadi aku ngotot untuk tetap mencoba melahirkan normal. Beliau sih oke saja, kita lihat saja nanti, demikian katanya.Â

Berhubung selama hamil aku tidak mengalami keluhan apa-apa kecuali sempat flek di bulan kedua (kantorku pindahan, jadi capek gotong-gotong), biar gak rugi aku bertekad untuk masuk sampai detik-detik terakhir. Perkiraan tanggal melahirkan jatuh di hari Sabtu. Semua teman menyarankan untuk ambil cuti, cuma dasar nekad, aku bilang kalo perlu aku berangkat ke rumah sakit dari kantor saja, kebetulan memang letaknya berdekatan.

Sampai Sabtu malam, tidak ada tanda-tanda sama sekali. Hari Minggu juga berjalan seperti biasa, namun di gereja aku terpaksa berdiri kurang lebih 1 jam. Sorenya keluar flek. Buru-buru baca buku, katanya itu merupakan tanda-tanda akan melahirkan, tapi kapan? Maka esoknya selain berencana untuk kontrol ke dokter jam 10, aku masih berencana ke kantor. Suami setuju jadi semua ok.Â

Kira-kira jam 3 malam itu aku terbangun karena perutku sakit. Wah, ini sakit perut mau ke belakang atau kontraksi ya? Aku mencoba tidur lagi, tetapi 20 menit kemudian, rasa sakit itu datang lagi. Begitu terus sampai jam 5.30 pagi jaraknya sudah 15 menit sekali. Aku bangunkan suamiku, dan jam 6 pagi saat jalan masih sepi kita berangkat ke rumah sakit. Duh, sakitnya astaga deh… dan mulai menjalar ke pinggang bagian belakang sampai kayak mau patah.

Sesampai di rumah sakit, bidan yang memeriksa bertanya apakah aku mau melahirkan normal atau operasi. Aku jawab normal, memangnya kenapa? Ia berkata, ukuran kepala bayi dan ukuran lubang panggulku kurang lebih sama, jadi bisa menyebabkan stress pada bayi karena terlalu dipaksa. Istilah kedokterannya CPD = Cephalo Pelvic Disproportion. Kupikir, coba saja dulu deh, kepalang udah merasakan kontraksi. J

am 7 dokter memeriksa, sambil senyum dia bilang, ”Wah, ini sih masih lama. Mungkin baru nanti sore atau malam.” Waks! Ini aja sakitnya udah bikin pengen nonjok, gimana nanti? Jam 9 baru pembukaan 3 dan kepala bayi tidak turun-turun. Jam 11 pembukaan 5 dan kepala bayi masih belum turun juga. Mulai deh terpikir untuk operasi saja. Tanya lagi ke suster, apakah dalam kasus sepertiku ini masih bisa persalinan normal? ”Bisa sih”, katanya, ”Cuma mungkin harus dibantu alat seperti tang atau vakum. Atau kalau memang benar-benar tidak muat, ya akhirnya dioperasi juga”. Haa? Tau gitu minta operasi dari tadi dong. Langsung suamiku lari ke lantai 6 tempat si dokter praktek sambil berdoa mudah-mudahan dia belum pulang.Â

Tuhan masih sayang sama aku, si dokter masih ada, dan didoronglah aku masuk ke kamar operasi. Habis suntik epidural, aku muntah. Mungkin karena gak puasa ya (lha, wong mau normal kan). Jadilah obat biusnya terpaksa ditambah, dan entah jadinya kebanyakan atau gimana, aku malah langsung terbius. Bahkan gak sadar waktu Kemal disodorkan setelah keluar dari perut. Aku baru sadar waktu berada di ruang pemulihan. Hal pertama yang nyangkut di otak adalah perutku, kok kempes, mana bayinya? Ternyata sudah aman di ruang bayi kata suamiku (berhubung operasi, dia gak boleh masuk sama dokter).

Malam harinya, suster datang ke ruanganku dan aku disuruh jalan. Hah? Yang benar saja. Perintah dokter, katanya. Jadilah sambil terhuyung-huyung masih pakai infus aku jalan-jalan keliling kamar. Namun mungkin ada benarnya ya. Keesokan harinya, aku sudah bisa berjalan-jalan sendiri dengan santai ke ruang bayi untuk belajar menyusui sampai-sampai aku dikira melahirkan minggu lalu. Hari Rabunya aku sudah diperbolehkan pulang sama dokternya. ”Ngapain di RS lama-lama?” katanya sambil tersenyum, ”Mahal…” .

Waktu melahirkan Kayla, situasinya jauuhhhh berbeda. Mungkin juga karena anak kedua sehingga sudah lebih santai. Karena kelahiran pertama melalui operasi Caesar, makan yang kedua sudahlah, aku putuskan operasi lagi. Semua berjalan sama seperti waktu operasi Caesar saat melahirkan Kemal, kecuali kali ini aku masih sadar dan bisa melihat Kayla disodorkan padaku sesaat sesudah lahir (walaupun agak buram juga karena tidak pakai kacamata, hahaha). Seminggu setelah melahirkan, aku sudah menyetir mobil antar jemput Kemal ke sekolah. Kalau memang bisa, kenapa tidak ?

Devita Umardin (31 tahun), ibu dari Alya Inanta (3 tahun 10 bulan)Desember 2001 adalah saat yang paling menyenangkan. Aku dinyatakan positif hamil 5 minggu oleh DSOG. Karena baru menikah dan belum punya bekal pengetahuan apa-apa, aku memilih berkonsultasi di RSIA yang direkomendasikan baik oleh keluarga dan teman-teman. Untuk DSOG, kupilih DSOG kakakku, karena berdasarkan sharing pengalamannya, DSOG tersebut cukup kooperatif dan informatif.Â

Sebagai persiapan untuk membekali diri, mulailah aku ‘berburu’ buku-buku serial kehamilan. Menyenangkan sekali, aku jadi tahu tahap-tahap perkembangan janinku dari bulan ke bulan, makanan apa saja yang baik untuk dikonsumsi dan dihindari, juga masalah-masalah apa saja yang terjadi selama kehamilan dan bagaimana cara mengatasinya.Â

Aku mulai mengambil cuti hamil, tiga hari sebelum tanggal kelahiran yang diperkirakan DSOG. Sehari sebelum tanggal yang diperkirakan, aku pun mulai mulas. Jam 2 pagi, saat aku BAK, keluar flek. Sehabis shalat subuh, kami langsung ke RSIA dan proses melelahkan itu pun dimulai.

Setelah menerima 2 kali induksi di pembukaan 1 (per vaginal) dan pembukaan 8 (lewat infus), akhirnya Alya pun lahir, setelah hampir 22 jam lamanya aku harus berjuang.Anehnya, setelah melahirkan aku tidak bisa bergerak. Tubuhku seperti lumpuh mulai dari panggul hingga kaki. Jika kakiku tersentuh, aku menjerit-jerit kesakitan. Rasa nyeri yang maha hebat juga sangat terasa di atas vaginaku. Berhari-hari aku tidak dapat turun dari tempat tidur apalagi berjalan. Setelah dimassage oleh seorang teraphyst, barulah aku bisa turun dari tempat tidur di hari ke 5 setelah kelahiran Alya. Tentu saja butuh waktu yang lebih lama lagi hingga aku bisa berjalan, itu pun dengan tertatih-tatih pincang.

Akhirnya, setelah berkonsultasi ke RS yang lain, aku tahu nama penyakit yang aku derita, yaitu Symphis Pubic Dysfunction/Symphisiolysis, peregangan sendi tulang panggul yg terjadi karena proses persalinan. Menurut literature, keadaan ini sangat jarang terjadi, mungkin kurang dari 1%. Biasanya terjadi pada proses persalinan dengan penyulit. Misalnya bayi besar, atau karena adanya kelainan posisi kepala bayi pada saat masuk rongga panggul ibu. Dan karena aku baru mengetahui penyakit ini satu bulan setelah melahirkan, aku terpaksa menjalani terapi (berbaring di tempat tidur selama 24 jam dengan keadaan panggul hingga hampir lutut terikat stagen) yang lebih lama dari yang seharusnya (bahkan bisa dikatakan terapi yang kujalani sudah terlambat). Hampir habis masa cuti hamilku, terapi masih saja kujalani. Bahkan saat kembali bekerja, jalanku masih pincang dan belum sempurna.

Yang kusesalkan, DSOGku tidak menceritakan apa-apa dan tidak memberitahukan penyakit apa yang aku derita. Dia hanya menginformasikan beberapa hari setelah aku melahirkan, bahwa posisi kepala bayi saat dilahirkan miring ke kanan sehingga sulit bagiku untuk melahirkan normal, seharusnya aku melahirkan secara sectio (operasi caesar). Jika saat itu aku diinformasikan masalah yang terjadi, tentu saja aku tidak akan berkeras untuk melahirkan normal, saat DSOG menawarkan alternatif untuk melahirkan secara sectio. Ah, kalau ingat dulu, betapa mendapatkan seorang Alya, harus kubayar mahal…

Dini Rustandi (29 tahun), ibu dari Danisha (3 tahun) dan Dhafina (20 hari) Saat hamil anak pertama, aku merasa masih takut-takut dan belum tahu banyak. Karena itu aku memilih DSOG kenalan ibuku. Keuntungannya, dokter sangat mudah dihubungi, asyiknya lagi saat perlu konsultasi, aku tidak perlu antri. Kerugiannya, entah karena memang beliau yang kurang komunikatif atau mungkin karena aku adalah pasien “titipan”, seringkali penjelasan beliau sangat singkat dan seperlunya sehingga aku merasa kurang puas. Untuk tempat persalinan, aku memilih RSB yang letaknya dekat dengan rumah orang tua.

Aku sengaja mengambil cuti 3 minggu sebelum due date karena ingin cukup punya waktu untuk persiapan persalinan. Menuruti saran teman-temanku, aku rajin jalan pagi dan hampir setiap hari melakukan senam hamil di rumah.

Ternyata persalinan terjadi 10 hari lebih cepat dari due date. Aku berangkat ke RSB setelah siangnya keluar flek. Saat itu jam 3.30 sore. Suster yang memeriksa berkata baru pembukaan 2, dan diperkirakan paling cepat bayi lahir jam 9 malam. Tapi ketika suster memeriksaku sekitar jam 6.30, dia kaget karena sudah pembukaan ke 8 ! Padahal aku masih tenang-tenang saja. “Gak terasa sakit, Bu?” heran suster. Aku langsung disuruh masuk ke ruang bersalin. Untung dokter juga sudah datang. Pembukaan dari 8 ke 10 berlangsung kira-kira hanya 10 menit. Saat itu aku merasa mau mengejan, tapi dilarang karena pembukaan belum lengkap. Duh, baru deh terasa sakit luar biasa, sampai ingin loncat dari tempat tidur. Sampai aku merasa setengah tidak sadar, hanya bisa mendengar suara suamiku yang meneruskan perintah dokter. Alhamdulillah, sekitar jam 7 malam, lahirlah Danisha. “Wah, kalo lahirnya gampang begini, tahun depan bakalan ada adenya nih…” ledek dokter.

Aku baru hamil lagi ketika Danis berusia hampir 3 tahun. Kali ini, karena merasa sudah lebih pede, aku memilih DSOG perempuan di RSIA dekat rumah. Apa daya, memasuki usia kehamilan minggu ke 20, dokter menyatakan ada plasenta yang menutupi jalan lahir. Aku disuruh berhati-hati, jangan terlalu capek dan terlalu banyak jalan. Aku sempat panik juga. Akhirnya aku mencari second opinion pada DSOG sub spesialis perinatologi. Bertolak belakang dengan pendapat dokter pertama, dokter ini menyatakan bahwa plasenta jauh dari jalan lahir, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Setelah menimbang banyak hal, juga melakukan shalat istikharah, akhirnya kuputuskan untuk memilih DSOG kedua yang memang lebih senior. Walaupun tempat praktek dan pilihan RSB letaknya cukup jauh dari rumah, mau bagaimana lagi, terpaksalah dijalani.

Aku merasa persiapan fisik saat kehamilan kali ini sangat kurang dibandingkan yang pertama. Akibatnya aku merasa kurang pede saat due date semakin dekat. Apalagi, seminggu sebelum due date, dokter pergi seminar ke luar negeri. Aku sempat stress, muntah-muntah. Takut saat melahirkan nanti tidak bisa ditangani oleh dokter. Tapi dokter menenangkanku, katanya melihat volume air ketuban yang masih banyak, kelihatannya bayi baru akan lahir sesuai due date. Kepala bayi juga belum masuk panggul, tapi kata dokter, untuk anak ke 2 hal ini biasa, nanti juga turun sendiri. Namun untuk berjaga-jaga, dokter sempat membuat surat rujukan untuk dokter pengganti.

Tapi ternyata kejadian juga… Hari Jumat siang aku merasa sangat tidak enak badan. Malamnya sekitar jam 10, aku merasakan kontraksi, tapi kupikir ini kontraksi palsu karena sakitnya kok hanya di perut bagian bawah. Aku mencoba tidur. Tapi makin malam, rasanya makin sakit. Berhubung sangat lelah, aku malah tertidur lagi. Sampai akhirnya Sabtu pagi sekitar jam 3, rasa sakit itu datang makin teratur. Aku lihat jam, lho kok sudah 10 menit sekali ? Dan ternyata sudah keluar flek. Aku panik. Melihat riwayat kelahiran pertama yang sangat cepat, karena katanya jalan lahirku sangat tipis, aku pikir bisa-bisa bayiku lahir di jalan, apalagi jarak dari rumah ke RSB cukup jauh.

Jam 4.30 pagi sesampai di RSB, aku diperiksa oleh suster dan ternyata sudah pembukaan 5. Aku sempat ge-er, mengingat proses persalinan Danis yang sangat cepat, kupikir yang ini pasti lebih cepat, paling-paling jam 7 pagi bayi sudah lahir. Ternyata, sampai sekitar jam 8.30 baru pembukaan 8, dan kepala bayi masih belum turun juga. Padahal rasa sakitnya sudah luar biasa, aku lelah dan sempat muntah-muntah. Suster bilang paling cepat baru lahir 2 jam lagi. Duh, aku sempat mewek, dan berpikir minta dioperasi caesar saja…. Untung semua orang menenangkan dan memberi support kepadaku. Tanpa sepengetahuanku, dokter pengganti yang waktu itu sudah datang, bicara dengan ibuku tentang kemungkinan bayi terlilit tali pusar dan harus dilakukan operasi caesar.

Alhamdulillah, setengah jam kemudian pembukaan lengkap. Aku dipandu suster mulai mengejan untuk menurunkan kepala bayi. Beda dengan persalinan pertama, kali ini aku sadar sepenuhnya. Dua kali kontraksi dipergunakan untuk menurunkan kepala bayi. “Dok, kepala bayi sudah turun!” seru suster, dan dokter masuk ruang bersalin untuk membantu. Kontraksi datang, 3x mengejan, tapi kepala bayi masih belum keluar. Kontraksi lagi, 3x mengejan, baru kepala bayi keluar, dan..”Oh, terlilit tali pusar, pantas tidak turun-turun” kata dokter seraya memotong tali pusar. Baru setelah aku mengejan lagi, bayi meluncur mulus sampai ke bahu, dan dokter membantu mengeluarkan. Lahirlah putri keduaku, Dhafina. Untung lilitan tidak kencang, dan tali pusar cukup panjang, jadi masih bisa lahir normal. Tapi persalinan ke 2 ini cukup membuatku kapok. Jadi kalau ditanya kapan mau punya anak lagi berhubung kedua anakku perempuan, kujawab,”Enggak deh, kalo boleh berencana, insya Allah dua anak aja…”

Persalinan Normal

  • partus normalDibuat status penderita, perderita diletakan di ruang persalinan.
  • Lakukan anamnesa lengkap.
  • Lakukan pemeriksaan umum: TB, BB, Vital sign (Tensi, Respirasi, dan Suhu), dan LLA. Apabila didapatkan kelainan dari hasil pemeriksaan, konsultasikan ke Bidan Senior / Dokter jaga / Kepala puskesmas.
  • Lakukan pemeriksaan luar: tentukan letak, presentasi dan sikap janin, DJJ. Jika didapatkan kelainan, konsul Dokter.
  • Lakukan pemeriksaan dalam : bagaimana keadaan vagina, dinding vagina, ada tumor / tidak / penyempitan ? Bagaimana kadaan sertviks uteri, pembukaan atau kelainan-kelainan lain, keadaan ketuban +/- , Apabila ada kelainan, konsul Dokter / Bidan senior.
  • Apabila pembukaan pada primipara antara 1-7 cm, Penderita diminta untuk berjalan-jalan, membersihkan, BABdan BAK ; apabila belum bisa BAB Lakukan lavement. Untuk multipara jika pembukaan 1-5 cm lakukan hal yang sama seperti pada primipara.
  • Apabila dari pemeriksaan ketuban ( – ), periksa dalam harus lebih 4 jam kemudian, dan beri injeksi PPC 4 cc (lakukan test sensitisasi) sehari 2x. Apabila ketuban (+), PD setiap 2 jam.
  • Jika ibu dan janin normal, kepala sudsh masuk panggul, ketuban (+), pembukaan < 7 cm, ibu boleh jalan-jalan atau tiduran miring ke kiri / kanan.
  • Tunggu pembukaan lengkap:
  • Observasi HIS dan DJJ tiap 15 menit.
  • Evaluasi PD tiap 2 jam.
  • Pasien diajak ngobrol, dihibur, diajari cara menarik nafas dan cara mengejan dan motivasi ASI eksklusif.
  • Anjuran banyak minum.
  • Kosongkan kandung kencing tiap 4 jam.

Bila ada tanda-tanda keluar lendir, darah banyak, pasien ingin muntah dan ingin mengejan/ berak/ anus terbuka/ ketuban pecah spontan, periksa dalam: jika pembukaan lengkap, kosongkan kandung kencing dengan kateter Nelaton.
Bila ketuban (+) -> pecahan
Bila ketuban (-) -> pastikan tidak ada bagian kecil janin / tali pusat menumbung.

Setiap ada HIS, pimpin mengejan:

  • Pada primipara, lakukan episiotomi. Apabila kala II 1-2 jam tidak lahir, konsul bidan senior / dokter.
  • Pada multipara, tergantung kondisi Perineum, kala II ½-1 jam tidak lahir, konsul bidan senior / dokter.

Setelah kepala lahir, bersihkan mulut dan hidung dengan kasa steril, hisap lendir hidung dan mulut secara hati-hati:

  • Bila ada lilitan tali pusat, longgarkan dan lepaskan melalui leher.
  • Bila lilitan ketat -> potong tali pusat saat itu juga

Pada kondisi normal, potong tali pusat setelah semua bagian bayi lahir, beri Betadin dan ikat:

  • Prematur: tali pusat langsung dipotong tanpa diurut.
  • Cukup Umur: sebelum dipotong , urut dulu tali pusat ke arah bayi.

Kalau terjadi asphexya, lakukan:

  • Pembersihan jalan nafas, diberi kain penghangat, rangsang refleks pernafasan dengan refleks nyeri.
  • Jika asfeksia sedang / berat, beri oksigenasi, pijat jantung dan koreksi asidosis, beri meylon 7,5 % + glukosa 40 % dan akuabides (3 ml:3 ml:6 ml) melalui vena umbilical, aminopilin 2 mg iv untuk merangsang pernafasan. Jika 15 menit tidak membaik dirujuk, dan jika membaik masukkan couvis.

Cek keadaan bayi : lubang anus, telinga, adakah cacat anggota tubuh lain. Jika tidak ada kelainan, bayi diserahkan kepada pembantu untuk dimandikan dan di-room mingin. Ukur TB, BB,dan LK. Jika ada kelainan, konsultasikan ke dokter.
Kosongkan kandung kencing ibu dengan kateter logan:

  • Jika tidak ada pendarahan -> tunggu plasenta lepas sendiri.
  • Jika ada pendarahan banyak -> evaluasi manual.

Setelah plasenta lahir, pastikan bahwa semua kotiledon dan selaput ketuban lengkap. Kalau ada yang tertinggal -> evaluasi manual.

Palpasi uterus:

  • Jika kontraksi baik, tak apa-apa -> beri injeksi neuroboran.
  • Jika kontraksi jelek:
  1. Yakin plasenta lahir lengkap -> beri injeksi ergometrin 1-2 amp iv /im
  2. Bila tidak yakin plasenta lahir lengkap -> beri injeksi oxytosin 1 amp. 1 ml. sambil masage uterus dari luar sampai kontraksi baik. Jika tetap jelek, kompresi bimanual 15 -30 menit, pasang infus NaCI 0,9% konsul Dokter dan atau rujuk ke RSUD.

Luka episiotomi / ruptur per inci jahit dengan cat gut, jahit luar degan silk, tutup dengan kain kasa stiril betadin ; kemudian mandikan ibu dan bersihkan. Dekatkan bayi dan segera susui.
Awasi pasien 2 jam di ruang bersalin. Lihat pendarahan yang terjadi : normal / tidak,periksa fundus dan kontraksi uteri, dan cek vital sign. Jika tidak terjadi apa-apa, pindahkan ibu ke bansal post partum dan rawat gabung dengan bayinya.

Terapi di Ruang Perawatan :
Ibu :

  • Beri Vit. A dosis tinggi 1 x.
  • Roborantia dan tablet Besi
  • Jika ada episiotomi / ruptur / KPD / manual / VE, tambah Antibiotika PPC / ampisilin 500 mg 4×1.

Bayi :

  • ASI Ekslusif.
  • Mata tetesi dengan cairan Ag Nitrat 2 tetes 1 x.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 113 pengikut lainnya.